Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Pemutusan Kontrak


__ADS_3

Rabu pagi yang cerah dicluster perumahan, disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang dimana menjadi rumah Jester dan Naomi. Terlihat Jester, Naomi, Luna dan Selena duduk bersama diruang makan untuk sarapan, ditengah aktifitas mereka sarapan bersama ketika itu Jester dan Selena nampak salah tingkah seakan menghindari kontak mata. Tingkah aneh mereka berdua membuat Naomi heran, namun saat itu Luna malah terlihat menahan tawanya.


"Apa... yang terjadi dengan kalian?" tanya Naomi terdengar penasaran, pertanyaan Naomi saat itu membuat Luna tidak dapat menahan tawanya lagi.


"Kak Jester tadi..." belum selesai Luna menjawab, Selena pun memotong dengan penuh amarah


"Luna!!!" bentak Selena dengan wajah yang memerah, Jester pun semakin tidak nafsu untuk makan saat itu dan dengan lemas berjalan hendak keluar dari ruang makan.


"Hahaha... ya ampun, iya iya maaf... gak ada yang terjadi kok" timpal Luna setelah puas tertawa, namun Naomi terlihat masih penasaran.


Tidak lama terdengar suara ketukan di pintu utama rumah, Jester yang saat itu berjalan dengan lemas menuju ruang keluarga akhirnya mengalihkan langkahnya untuk membukakan pintu. Marrie dan Naoko terlihat berdiri dibalik pintu dan tersenyum menatap Jester, kedatangan yang tidak diharapkan oleh Jester mengingat kondisi Naomi saat ini.


"Pagi Jess, sudah siap untuk fitting baju?" tanya Marrie dengan semangat


"Mana Naomi? bukankah aku memintanya yang membukakan pintu setiap ada tamu?" tanya Naoko terdengar sedikit marah


"Pagi Mama... Ibu... pertanyaan pertama aku belum siap dan pertanyaan kedua Naomi sedang sarapan diruang makan dan kebetulan aku dekat dengan pintu jadi aku membuka pintu atas keinginanku" jawab Jester terdengar tidak memiliki semangat sama sekali, Marrie dan Naoko menatap Jester dengan heran.


"Kamu kenapa Jess? lemes banget kayak puding" tanya Marrie penasaran


"Ada kejadian yang bikin canggung banget hari ini dan aku berharap tidak mengingatnya" jawab Jester dengan bulu kuduk yang berdiri, Marrie dan Naoko pun serentak menghela nafasnya lalu berjalan masuk kedalam rumah. Dilorong mereka berdua disambut Naomi, Luna dan Selena.


"Pagi mama... ibu..." sapa Naomi saat menatap Marrie dan Naoko, serentak Selena dan Luna yang berdiri dibelakang Naomi pun menunduk untuk memberi hormat pada Marrie dan Naoko.


"Hai anak - anak... apa kalian bersenang - senang?" tanya Marrie dengan suara yang terdengar bahagia, Luna dan Selena pun hanya tertawa kecil merespon perkataan Marrie saat itu.


"Apa Sarah sudah merespon chating mu, Marrie?" tanya Naoko, mendengar pertanyaan itu membuat Marrie mengeluarkan handphonenya dan melihat chating masuk di aplikasi ChatMe.


"Sarah bilang dia masih dalam perjalanan bisnis dan akan segera menemui kita di kantornya, kita diminta kesana lebih dulu karena divisinya sudah siap menyambut kita" jawab Marrie, lalu perhatiannya kembali tertuju Jester dan Naomi.


"Kalian sudah siap?" tanya Marrie, Jester dan Naomi saat itu saling menatap.


"Aku sih sudah..." jawab Jester menggantung, Naomi menghela nafasnya sejenak.


"Aku... siap...." terbata Naomi mengatakannya, Marrie langsung menarik tangan Naoko menuju mobil Marrie yang terparkir tepat didepan rumah Jester dan Naomi.


"Ayoo berangkat~!!" dengan penuh semangat Marrie mengatakannya, saat itu Naomi masih membatu seakan tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri. Jester berjalan mendekati Naomi lalu menggenggam tangannya dengan lembut, senyum Jester pun menyambut ketika Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester.


"Jangan jauh - jauh dariku, aku akan berusaha memberikan rasa aman untukmu" celetuk Jester terdengar lembut, Naomi pun tersenyum menyambut tatapan hangat Jester kepadanya. Dengan anggukan kepala Naomi merespon perkataan Jester, tatapan mata Jester pun beralih menatap Selena dan Luna.


"Kami tinggal dulu ya" ucap Jester


"Oke~ aku dan Selena juga akan pergi ngampus" timpal Luna, beberapa saat Naomi membalikkan kepalanya menatap Luna dengan senyuman.

__ADS_1


"Terima kasih sarannya semalam Luna... Ittekimasu" ucap Naomi, Luna pun tersenyum sembari melambaikan tangannya melepas kepergian Jester dan Naomi. Ketika Jester dan Naomi sudah keluar dari rumah dan pintu tertutup rapat, senyum Luna pun sirna.


"Kamu sudah memaksakan diri sejak tadi, apa gapapa?" tanya Selena, nafas Luna pun terengah - engah


"Tidak apa, yuk bersiap" jawab Luna sambil berjalan menuju kamar


Dipagi itu disaat bersamaan dengan kedatangan Marrie dan Naoko dirumah Jester dan Naomi, terlihat Sarah berjalan dilorong rumah sakit menuju salah satu kamar. Sarah pun langsung masuk kedalam kamar itu tanpa ragu, kemudian dia berjalan mendekati kasur dan menatap Daniel yang terbujur lemas dengan luka lebam diwajahnya, tangan kiri dan kaki kanan yang terpasang gips, dan infus yang terpasang ditangan.


"Menyedihkan sekali, apa yang kamu pikirkan sampai melakukan hal bejat seperti itu?" dengan sindiran Sarah mengatakannya, mendengar sindiran itu membuat Danile membuang muka.


"Aku sudah tidak punya cara apapun lagi untuk mendekatinya, setiap usaha yang aku lakukan malah membuatnya semakin menjauh. Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan?!" jawab Daniel dengan sedikit bentakan, suaranya pun terdengar sangat sedih ketika itu.


"Ck.... kau ini terlalu hina dan menjijikkan, kenapa kau bisa terlahir? apa kau ini produk gagal tuhan?" ejekan Sarah pun terdengar pedas ditelinga Daniel hingga membuatnya marah, Daniel menatap Sarah penuh amarah


"Habisnya gak ada lagi yang bisa aku lakukan!!" bentak Daniel saat itu, tatapan mata Sarah yang merendahkan Daniel pun berangsur - angsur sirna berganti dengan tatapan iba.


"Aku terlihat bodoh kan.... kamu berfikir aku ini bodoh kan? orang yang aku cintai... aku melukai orang yang aku cintai dan terlambat menyadari hatinya yang sudah lelah terhadap sikapku... aku tidak pernah meminta maaf padanya saat menyakitinya... tidak pernah sekalipun hingga akhirnya dia pun putus asa dengan cintanya terhadapku... aku bodohkan..." Daniel pun menangis saat mengatakannya


"Ya... kamu bodoh, kamu menghancurkan hidupmu sendiri. Apa kamu gak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Sarah terdengar iba terhadap nasib Daniel setelah ini, namun Daniel saat itu seakan tidak tertarik dengan pertanyaan Sarah.


"Dia Jester Gates loh dari keluarga Gates, apa kamu tidak takut dengan masa depanmu?" tanya Sarah lagi ketika Daniel hanya terdiam


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" tanya Daniel


"Lalu? aku harus bilang apa?" tanya Daniel meremehkan, Sarah pun menggelengkan kepalanya lalu memberikan sebuah map berisikan kontrak.


"Aku tidak ingin membahas kontrak perpanjangan kita sekarang" ucap Daniel menolak mengambil map yang disodorkan Sarah


"Berita buruk pertama, ini adalah kontrak pemutusan kerjasama dan ini adalah permintaan Jester" ucap Sarah datar, Daniel pun terkejut lalu menatap Sarah seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Sarah.


"Apa?! tidak bisa!! aku masih membutuhkan uang untuk pengobatan Becca!!" ucap Daniel terdengar kaget, Sarah menghela nafasnya.


"Berita buruk kedua, sepertinya yang diincar Jester tidak hanya dirimu... tapi juga nyawa Becca" celetuk Sarah dengan nada yang terdengar penuh penyesalan, Daniel pun terkejut sampai membuatnya membatu menatap Sarah.


"Itu benar, aku kenal dengan sahabatnya dan mengatakan kalau Jester adalah orang dengan tingkat pendendam yang tinggi. Katanya Jester sudah mengatakan padamu kalau dia akan menghancurkan hidupmu, jadi aku tarik kesimpulan aja kalau yang Jester incar itu tidak hanya dirimu" terdengar sedih saat Sarah mengatakannya, Daniel semakin terkejut.


"Tidak... tidak! dia tidak boleh melibatkan adikku!! Sarah, tolonglah aku!!" agak membentak Daniel mengatakannya, Sarah hanya menggelengkan kepalanya merespon perkataan Daniel.


"Sarah!! apa kamu juga tidak memiliki hati melibatkan seseorang yang tidak ada hubungannya?!!" tanya Danile dengan bentakan


"Daniel... Daniel.... aku ini bergerak atas dasar untung rugi, membantumu berarti menentang keluarga Gates dan jika mereka mau maka hanya butuh tidak lebih dari dua minggu untuk menghancurkan Arielle Corp. secara keseluruhan" jawab Sarah, jawaban itu membuat Daniel semakin marah.


"Aku tidak akan menandatangani kontrak ini!!" ancam Daniel, namun Sarah tersenyum sinis menatap Daniel.

__ADS_1


"Aku masih bisa memberikan beberapa dollar untukmu sebagai kompensasi pemutusan kontrak, tapi jika kamu tidak mau memutus kontrak maka aku akan menuntutmu karena kamu sudah merugikan perusahan dengan pelanggaran hukum yang sudah kamu lakukan" ancam Sarah, ancaman Sarah saat itu membuat Daniel tidak dapat membantah. Otaknya kini penuh dengan pikiran tentang operasi Becca yang akan segera dilaksanakan, tapi seakan sudah tidak memiliki hati lagi Sarah malah menyodorkan ballpoint kepada Daniel.


"Baik... aku akan tanda tangani ini, tapi aku minta tolong untuk terakhirnya padamu" ucap Daniel terdengar putus asa, Sarah menghela nafasnya lagi seakan keberatan terhadap permintaan Daniel.


"Baik, asal kamu tidak merepotkanku" dengan berat hati Sarah mengatakannya, Daniel pun menandatangani kontrak itu.


"Sampaikan pada Naomi maafku dan.... katakan padanya, Becca membutuhkan pertolongan" Daniel pun terlihat sangat menyesal sambil memberikan mapnya kembali pada Sarah


"Jangan dendam padaku, ini adalah buah dari kebodohanmu.... walau akhirnya jadi kacau begini, aku berterima kasih sudah menemaniku sampai sejauh ini, atas nama Arielle Corp. aku menyampaikan terima kasih" ucap Sarah lalu pergi begitu saja meninggalkan kamar Daniel, saat itu Danile pun menangis.


"Naomi.... terakhir kali ini saja... tolonglah aku dan Becca..." gumam Daniel dengan derai air mata yang menetes deras dari matanya.


Hari itu merupakan hari terburuk bagi Daniel, dia tidak menyangka perbuatannya akan berdampak pada keluarganya secara langsung dan juga pada karirnya. Penyesalannya pun begitu besar hinggadia hanya mampu menangis meratapi nasibnya, kondisinya saat ini pun membuatnya tidak dapat melakukan apa - apa. Hanya ada secercah harapan, Naomi masih memiliki belas kasih untuk Becca.


Kembali disisi Jester dan Naomi yang sedang berada disebuah kantor Arielle Wedding Planner bersama Marrie dan Naoko, beberapa petugas nampak mengukur tubuh Jester dan Naomi. Sedangkan Marrie dan Naoko ditemani beberapa manager sibuk memilihkan gaun untuk Naomi, seakan merekalah yang akan menikah sampai tidak melibatkan Naomi untuk menentukan model yang akan digunakan.


"Bagaimana perasaanmu Naomi?" tanya Jester pada Naomi yang berada disebelahnya, perasaan khawatir Jester meningkat seketika melihat tubuh Naomi bergemetar.


"Maaf nona Naomi, apa saya terlalu kasar?" tanya petugas yang mengukur tubuh Naomi


"Ti... tidak, aku yang sedang bermasalah... kalian teruskan saja tugas kalian" jawab naomi sedikit terbata, tidak lama setelahnya Sarah terlihat masuk kedalam ruangan itu, kedatangan Sarah membuat semua yang berada diruang itu mengalihkan perhatiannya.


"Maaf nyonya Gates dan nyonya Scott, aku datang terlambat" terdengar panik Sarah mengatakannya, senyuman Marrie dan Naoko menyambut Sarah ketika mereka bertatapan mata.


"Sungguh anak muda yang penuh semangat, apa kontrakmu berhasil?" tanya Naoko, mendengar pertanyaan itu membuat Sarah mengalihkan pandangannya menatap Jester.


"Berhasil nyonya Scott" terdengar senang Sarah mengatakannya sambil menunjukkan map kepada Jester yang masih sibuk diukur tubuhnya, melihat map itu membuat Jester berjalan mendekati Sarah meninggalkan petugas ukur. Dengan sigap Jester mengambil map itu lalu segera membacanya, senyum Jester pun menarik perhatian Naomi, Marrie dan Naoko.


"Good job" celetuk Jester saat itu sambil menutup map yang dia baca, Naomi yang sudah dekat dengan Jester pun memberi gestur ingin membaca kontrak apa yang sudah Jester dan Sarah kerjakan.


"Naomi, aku gak bisa menunjukkan padamu" tolak Jester dengan lembut, tapi penolakan Jester membuat Naomi marah yang tergambar jelas dari raut wajahnya saat menatap Jester. Walau tanpa kata, Jester sangat memahami kemarahan Naomi padanya.


"Naomi... bisakah kali ini aku memiliki pilihan?" tanya Jester masih terdengar lembut, Naomi bergeming dan terus menjulurkan tangannya meminta map yang dipegang oleh Jester. Dengan berat hati Jester memberikan map itu, lalu Naomi menerimanya dengan lembut dan tersenyum menatap Jester. Seketika senyum Naomi pun sirna ketika dia membaca surat perjanjian itu, perlahan tatapan mata Naomi menatap Sarah.


"Apa ini?" tanya Naomi sedikit menekan


"Sarah, kita bicarakan ini diruangan tertutup" timpal Jester, Sarah hanya mengangguk merespon permintaan Jester. Mereka bertiga pun berjalan menuju ruangan Sarah yang kedap suara meninggalkan Marrie dan Naoko saat itu dengan terburu - buru, melihat anak - anak muda yang terlihat bersemangat membahas kontrak membuat Marrie dan Naoko pun mengabaikan mereka. Diruangan itu Naomi kembali menekan Jester dan Sarah untuk menjelaskan semuanya, tanpa kata hanya dengan tatapan mata sudah mampu membuat Jester paham Naomi ingin segera mendapat penjelasan.


"Naomi... dengarkan aku, dia telah jahat kepadamu jadi setidaknya aku ingin membalaskan dendammu" celetuk Jester ditengah keheningan mereka, Sarah hanya terdiam menatap Naomi.


"Siapa yang memintamu untuk membalas dendamku?" tanya Naomi dengan suara yang terdengar sedih


"Tidak ada yang menyuruhku, itu hanya inisiatifku sendiri agar Daniel tidak berani mengusikmu lagi" jawab Jester dengan lembut, saat itu mereka pun terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Tolong hentikan apapun rencana dendammu padanya" tegas namun tersiratkan kesedihan disetiap kata yang Naomi ucapkan saat itu, hal itu membuat Jester dan Sarah pun terkejut.


__ADS_2