
Siang hari yang cerah bersamaan dengan berangkatnya Jester dan Selena menuju luar kota untuk memenuhi tugas mewakili kampus mengikuti lomba antar universitas, disalah satu cafe pusat kota yang terlihat cukup ramai dengan pengunjung. Terlihat Daniel sedang duduk di kursi paling pojok, tidak lama Camilla terlihat berjalan mendekati Daniel dan duduk didepan Daniel membawa sebuah koran. Camilla langsung memberikan koran itu pada Daniel, dengan segera Daniel membaca koran itu dengan seksama.
Sebuah koran dengan headline tentang rencana pernikahan Jester dan Naomi yang mulai terpublish oleh media dibaca oleh Daniel dan membuatnya bingung harus merespon apa karena Daniel merasa berita itu tidak ada artinya, tanpa atau dengan adanya berita itupun Daniel merasa sudah mengetahui tentang kenyataan itu.
"Ya... lalu?" tanya Daniel setelah membaca berita dari koran yang dibawa oleh Camilla
"Kamu tidak bisa menarik kesimpulan?" tanya Camilla dengan heran
"Kamu orang kuno yang masih mencari berita dari koran aku rasa" jawab Daniel, mendengar jawaban itu membuat Camilla tertawa.
"Dasar bodoh, pantas saja Naomi dengan senang hati meninggalkanmu. Kamu memang tidak bisa dibandingkan dengan Jester, maaf aku harus berkata jujur" timpal Camilla dengan suara tawa yang dia tahan, Daniel mengembalikan koran itu pada Camilla.
"Aku tidak mengerti, kamu memintaku untuk membaca hal yang memang sudah aku tahu" terdengar bingung Daniel mengatakannya pada Camilla, tidak lama Camilla menghela nafasnya lalu menopang kepala dengan tangan dan tersenyum manis menatap Daniel.
"Pernikahan mereka akan dilaksanakan empat bulan lagi dan kamu harusnya sadar jika memang mereka ingin media tahu, seharusnya sejak awal Jester dan Naomi sudah mem blow up berita pernikahan mereka sejak dulu" ucap Camilla mencoba memancing logika Daniel, namun perkataan Camilla membuat Daniel semakin bingung.
"Tidak ada masalahkan, kapanpun mereka ingin hubungan mereka diketahui publik itu urusan mereka. Ada hubungan apa dengan rencana kita?" tanya Daniel dengan nada yang terdengar bingung
Camilla yang cerdik dan licik bukanlah wanita yang gegabah, dengan penuh perhitungan dia sudah menyiapkan semuanya untuk melancarkan apa yang sudah dia rencanakan bersama Daniel, namun melihat respon Daniel yang seperti tidak memahami maksud dari tujuan Camilla membuatnya sedikit kesal karena harus menjelaskan semuanya dari awal kepada Daniel.
"Ada sesuatu yang terjadi pada Jester dan Naomi dan itu berhubungan dengan berita ekonomi yang mengatakan bahwa presiden direktur dari Gates Family Grup akan diganti oleh Jester Gates, menurut sumber yang aku tahu katanya Arthur Gates masih mempunyai tiga anak yang aktif dalam dunia bisnis namun anehnya yang menggantikan Arthur adalah cucunya dari anak kedua Arthur yaitu William Gates" jawab Camilla menjelaskan pada Daniel
"Lalu?" tanya Daniel lagi masih terlihat bingung
"Aku menduga pernikahan Jester dan Naomi mendapat tentangan dari Arthur Gates" jawab Camilla lagi dengan tegas, mendengar jawaban itu membuat Daniel terkejut namun raut wajahnya masih terlihat bingung.
"Kalau begitu mengapa mereka mengumumkan hal seperti ini?" tanya Daniel lagi, Camilla menghela nafasnya seakan tidak percaya Daniel tidak juga terpancing logikanya.
"Aduh... aduuh Daniel~ kamu sebodoh apa sih sekarang?" tanya Camilla terdengar kesal, mendapat ejekan itu membuat Daniel merasa malu dan membuang muka.
"Jester dengan sengaja meminta media untuk mengangkat berita ini agar Arthur tidak memiliki pilihan lain selain memberi izin pada Jester dan Naomi untuk menikah, dengan berita seperti ini maka akan sangat merugikan Gates Family Grup jika pernikahan antara Jester dan Naomi yang sudah ter blow up ini kandas" ucap Camilla lagi meneruskan perkataannya, Daniel pun akhirnya memahami apa yang Camilla coba katakan pada Daniel.
"Dengan begitu sebenarnya kesempatan kita untuk mengacau pernikahan itu akan.... terbuka lebar" gumam Daniel sembari kembali menatap Camilla yang masih tersenyum menatap Daniel, dengan anggukan kepala Camilla merespon perkataan Daniel dengan senyum penuh kelicikan yang tampak dari wajahnya.
"Jester dan Naomi sulit untuk dipisahkan karena kuatnya akar pohon cinta mereka berdua, namun dengan adanya berita seperti ini maka angin kecil saja akan menumbangkan pohon cinta itu. Bayangkan rencana kita akan berjalan dengan lancar, mungkin mereka berdua tidak akan lagi bersama karena angin yang akan kita buat adalah angin ribut" dengan sedikit tertawa Camilla mengatakannya, Daniel tersenyum menatap Camilla yang sangat percaya diri rencananya akan berhasil.
__ADS_1
Seperti sudah mendapatkan kesempatan dan celah dari kesepakatan yang mereka buat, keduanya begitu terlihat bersemangat untuk melacarkan serangan yang akan mereka tujukan untuk menghancurkan hubungan antara Jester dan Naomi. Mengakhiri pertemuan dengan penuh tawa kelicikan keduanya terlihat begitu kompak dan bersemangat saat itu.
Disaat bersamaan, disebuah perumahan yang terlihat ramai dengan berbagai aktifitas para warganya. Suara anak kecil tertawa, ibu - ibu komplek yang saling bergosip, bapak - bapak yang terlihat berkumpul bersama, dan juga seorang anak muda yang melatih otot - ototnya di teras depan rumahnya. Luke terlihat dengan giat berlatih sampai membuatnya penuh keringat, tangan kekar dan perut yang terlihat six pack membuat Luke terlihat seperti binaragawan.
"Latihan terus, gak capek?" tanya Sarah yang muncul tiba - tiba dari belakang Luke, mendengar suara Sarah membuat Luke menoleh menatap Sarah yang berdiri sembari bersandar pada pintu masuk utama rumah.
"Jika tidak seperti ini maka otot - ototku akan mengendur dan aku akan menjadi gemuk" jawab Luke dengan senyum menatap Sarah, mendengar jawaban itu membuat Sarah tertawa.
"Kenapa tertawa?" tanya Luke heran sembari terus mengangkat barbel lima puluh kilo dikedua tangannya
"Karena aku baru saja membayangkan kamu menjadi gemuk" jawab Sarah dengan tawanya, Luke pun kesal lalu kembali fokus untuk latihan. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, namun baik Luke dan Sarah terlihat ingin memulai pembicaraan tapi bingung harus dimulai dari mana.
"Eee.." ucap Sarah dan Luke bersamaan, sejenak mereka terdiam bersama dan Luke langsung membalikkan badan menatap Sarah.
"Kamu dulu..." ucap Sarah dan Luke lagi - lagi bersamaan
"Tidak kamu saja dulu..." ucap Sarah dan Luke lagi secara bersamaan, hal itu membuat Luke dan Sarah menjadi kesal.
"Wanita lebih dulu" celetuk Luke dengan nada yang terdengar kesal, Sarah membuang muka.
Luke yang selalu meletup - letup saat emosi ketika berhadapan dengan para sahabatnya menjadi sosok yang bisa mengalah ketika berhadapan dengan Sarah yang menjadi kekasihnya. Luke menjalankan tugasnya dengan baik sesuai permintaan Jester agar menjadi penenang bagi Sarah. Kedua sahabat itu seakan menjadi ciut dan bucin akut jika berhadapan dengan kekasih masing - masing.
"Baik... aku dulu, Sarah... kapan kamu akan pulang?" tanya Luke dengan menekan, mendengar pertanyaan Luke membuat Sarah terkejut lalu perlahan pandangannya beralih menatap Luke.
"Kamu... mengusirku?" tanya Sarah lagi masih dengan suara yang terkejut
"Tidak, aku tidak mengusir mu. Aku senang kamu ada disini dan jujur saja aku katakan.... aku... bahagia saat kamu terus bersamaku disini" jawab Luke dengan wajah yang terlihat sedikit memerah, Sarah pun bernafas lega mendengar jawaban Luke.
"Kalau begitu, berhenti bertanya tentang kapan..." belum selesai Sarah berkata, Luke memotong perkataan Sarah.
"Tidak, aku tidak akan berhenti menanyakan kapan kamu akan pulang" timpal Luke dengan tegas, perkataan Luke membuat Sarah pun menjadi emosi.
"Apa sih mau mu?!! sejenak kamu bilang senang aku ada disini dan sejenak lagi kamu seakan memintaku untuk segera meninggalkan rumah ini!! sebenarnya kamu suka atau tidak aku berada disini!!" bentak Sarah penuh emosi
"Aku senang kamu ada disini tapi aku tidak senang dengan caramu kabur dari masalah" tegas Luke mengatakannya dan membuat Sarah terdiam namun matanya masih terus menatap Luke, segera Luke berjalan menaruh dua barbel yang sejak tadi dia pegang ditempatnya.
__ADS_1
"Aku senang saat malam itu kamu tiba - tiba datang kerumah ku dan meminta izin agar aku memberikan tempat tinggal untukmu disini, kamu juga begitu terbuka padaku dengan semua masalahmu walau aku tidak bisa membantu apapun selain berusaha menenangkan mu, aku bahkan tidak keberatan harus terus tidur diruang tamu untuk memberikanmu kamar yang layak padamu... tapi satu yang tidak bisa abaikan, aku tidak ingin kamu terus lari dari masalahmu" ucap Luke lagi dengan suara yang tenang agar Sarah tidak berfikiran aneh - aneh tentangnya, Luke kembali menatap Sarah dengan tatapan mata yang terlihat iba.
"Kamu memiliki ibu dan ayah yang masih bisa kamu temui, walau hatimu terluka karena kenyataan masa lalu diantara ibu dan ayahmu namun kamu juga harus sadar jika mereka berdua tidak benar - benar membuang mu. Apakah cinta nyonya Jessica terasa tidak nyata bagimu selama ini? apa cerita tentang pengorbanan tuan Andrews agar Arielle Corp menjadi nomor satu juga terasa tidak ada artinya bagimu?" ucap Luke mencoba menyadarkan Sarah, perlahan tangan Luke menyentuh pipi Sarah dan membelainya dengan lembut.
"Diam... berisik.... kamu yang sejak awal memang hanya hidup sendiri di panti asuhan tahu apa tentangku?" terdengar emosi Sarah menanyakannya, Luke pun terlihat terkejut mendengar perkataan Sarah.
"Kamu yang sejak awal memang tidak memiliki ikatan apapun dengan siapapun memang mengerti apa tentang aku?!! karena memiliki ikatan itulah yang membuat aku merasa sakit, apa kamu tahu rasanya menjadi anak yang tidak diharapkan?!!! Apa orang sepertimu bisa mengerti?!!" bentak Sarah begitu emosi sembari menepis tangan Luke dengan begitu kasar, dengan segera Sarah kembali masuk kedalam rumah namun Luke berusaha mengejar Sarah untuk menghentikan langkahnya.
"Sarah! berhenti dulu!" ucap Luke sembari menarik lengan Sarah agar Sarah berhenti melangkah, namun Sarah dengan kerasnya terus menepis dan melepaskan genggaman tangan Luke. Didalam kamar Sarah mengambil kunci mobilnya lalu berusaha untuk keluar dari kamar, namun Luke dengan tubuhnya menghalangi Sarah untuk pergi.
"Minggir!!" bentak Sarah masih penuh emosi
"Dengarkan aku dulu!! setelah itu aku izinkan kamu untuk pergi dari rumah ini!!" bentak Luke, Sarah pun akhirnya terdiam dan terus menatap Luke dengan wajah yang terlihat sangat marah.
"Kamu benar... aku memang tidak memiliki ikatan apapun sejak aku masih kecil. Bahkan aku juga tidak tahu siapa ayah dan ibuku, wajah merekapun aku tidak tahu apa lagi keadaan mereka entah hidup atau sudah meninggal. Kamu juga benar karena aku yang sejak lahir tidak memiliki ikatan apapun ini mana bisa mengerti perasaanmu setelah semua kebenaran tentangmu terungkap, aku cuma asal bicara di depanmu seakan aku tahu tentang beban hatimu. Aku akui kamu benar tentang itu" ucap Luke dengan suara yang rendah agar Sarah dapat mendengarkan perkataan Luke dengan baik, perlahan Luke menggeser tubuhnya yang sedari tadi menghalangi pintu keluar kamar untuk memberi celah agar Sarah dapat pergi.
"Karena itu aku berusaha mencoba mengikatkan diriku dengan banyak orang... Jester, Harry, Naomi, tuan William, nyonya Marrie, Luna, Selena, Justin dan Grece... aku mencoba untuk mengikatkan diriku pada mereka. Bukan tanpa sebab aku melakukan itu, semua aku lakukan karena aku sangat memahami jika... kesepian itu lebih menyakitkan daripada terluka" ucap Luke dengan datar, Sarah pun tertegun menatap Luke.
"Kamu yang akhirnya mengetahui siapa ayahmu sebenarnya memiliki kesempatan untuk bertanya langsung padanya, apa kamu memang tidak diharapkan olehnya atau malah justru sebaliknya. Sedangkan aku? aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada kedua orangtuaku" terdengar sedih dan penuh penyesalan saat Luke mengatakannya, Sarah pun menundukkan kepalanya.
"Tapi itu tidak menghalangiku untuk terus berusaha mencari ikatan ku sendiri, aku tidak ingin terus hidup dalam penyesalan mengapa aku dilahirkan di dunia itu. Terutama setelah aku bertemu denganmu... aku semakin merasa... beruntung sudah dilahirkan di dunia ini" ucap Luke meneruskan kalimatnya, dengan helaan nafas Luke seakan ingin mengakhiri pembicaraan diantara mereka.
"Buruk tidaknya sesuatu tergantung dari sudut mana kita melihat, bagiku... tidak masalah apa aku diharapkan atau tidak oleh orangtuaku karena dilahirkan di dunia dari keluarga manapun itu bukalah keputusan dan pilihanku. Tapi... menjadi seperti apa aku saat mati nanti dan ditangisi oleh siapa diriku ini... itu baru keputusan dan pilihanku... Sarah, aku harap kamu melihat masalahmu dari sudut pandang yang lain" ucap Luke lagi menutup nasihatnya, perlahan Sarah melangkahkan kakinya melewati Luke untuk meninggalkan rumah itu.
Mengetahui Sarah akan pergi membuat Luke merasa sedih, namun Luke tahu jika Sarah bukanlah tipe wanita yang bisa dipaksa untuk menentukan pilihannya. Dengan berat hati Luke tidak ingin kembali menghalangi Sarah untuk pergi, langkah kaki Sarah pun semakin mendekati pintu keluar rumah dan Luke hanya menatap punggung Sarah yang terlihat bergemetar itu karena menangis.
"Aku... tidak tahu... aku harus melihat dari sudut pandang mana... mengetahui seorang ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama bagi anak perempuan ternyata membuang ku begitu saja.... aku tidak mengerti harus bagaimana...." ucap Sarah terdengar begitu pilu sembari menghentikan langkah kakinya tepat didepan pintu keluar utama rumah
"Kamu harus hadapi dan tanyakan pada ayahmu itu... apa benar pandanganmu atau jangan - jangan persepsi mu tentang ayahmu salah" tegas Luke mengatakannya
"Aku takut.... aku takut akan menerima kenyataan lagi jika ternyata.... persepsi ku yang benar... aku..." belum selesai Sarah berkata, Luke memotong.
"Kamu masih punya nyonya Jessica yang nyata mencintaimu sepenuh hati, kamu punya aku yang siap mendampingi mu seumur hidupku, kamu punya Jester, Naomi, Harry, Justin, Grece, dan Selena yang pasti akan menemanimu dalam keadaan apapun... ketakutan mu... hanya ada didalam kepalamu" timpal Luke dengan suara yang terdengar tegas, perkataan Luke membuat Sarah tersadar.
"Maaf.... maafkan aku Luke telah berkata kasar padamu..." tangisan Sarah pun semakin menjadi - jadi, Luke berjalan mendekati Sarah lalu memeluknya dari belakang dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Tidak apa, aku paham kamu dalam keadaan tidak baik - baik saja" dengan lembut Luke mengatakannya dan tangisan Sarah semakin keras seperti sosok anak kecil yang meluapkan segala emosinya dengan sebuah tangisan.