
Siang cerah disebuah mall ujung kota yang nampak ramai dengan pengunjung, terlihat Jester, William dan Andrews berjalan secara bersama - sama keluar dari sebuah toko bunga yang berada didalam area mall. Andrews yang memeluk buket bunga mawar medium pink nampak tersenyum sembari berjalan dibelakang Jester dan William, perasaan Andrews campur aduk saat itu dan membuat Andrews sendiri bingung antara harus senang, bingung, tegang, dan sedih.
Pertemuan mendadak yang direncanakan Jester untuk dirinya dan Sarah membuatnya merasa kurang persiapan untuk menemui putrinya yang sama sekali belum dia temui. Sepanjang perjalanan menuju tempat yang sudah dijanjikan membuat Andrews membayangkan ekspresi Sarah nantinya ketika akan bertemu dirinya. Rasa was - was dan bahagia juga bersemangat begitu kuat dia rasakan, menyiapkan mental akan apapun yang terjadi nanti juga telah Andrews lakukan.
Tidak lama, mereka bertiga pun masuk disalah satu cafe dalam mall pilihan William. Duduk dimeja paling pojok, terlihat Jester dan William memesan beberapa menu makan siang untuk mereka. Namun Andrews seakan tidak tertarik untuk memesan apapun dan hanya menatap terus buket mawar medium pink ditangannya, senyumnya yang merekah membuat Jester dan William sangat memahami perasaan yang sedang diemban oleh Andrews.
Setelah pesanan tercatat semua, waitres pun meninggalkan mereka bertiga. Diantara Jester dan William pun terjadi percakapan cukup serius untuk membicarakan langkah - langkah selanjutnya dari rencana Jester untuk mengambil alih Arielle Corp, sedangkan Andrews terlihat sibuk sendiri menoleh kanan kiri mencari keberadaan Sarah. Tiga puluh menit berlalu dan Sarah tidak juga kunjung datang, Andrews terlihat mulai gelisah dan sesekali dirinya berdiri lalu keluar cafe untuk mencoba mencari Sarah namun semua usahanya sia - sia karena Sarah memang belum datang ketika itu.
Melihat kegelisahan Andrews membuat Jester merasa tidak enak, sembari menikmati hidangan yang Jester dan William pesan saat itu Jester mengirimkan pesan beberapa kali kepada Sarah untuk menanyakan posisinya saat ini. Sarah terlihat membaca chating dari Jester namun Sarah tidak juga kunjung membalasnya, perasaan Jester mulai tidak nyaman dengan kondisi itu.
"Ada apa nak?" tanya William pada Jester, dahi Jester yang mengerut sambil menatap layar handphone membuat William penasaran.
"Sarah tidak membalas pesanku walau dia sudah membacanya, apa akhirnya dia berubah pikiran?" jawab Jester dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
"Mungkin dia masih dijalan" timpal William dengan santai dan mencoba menenangkan Jester, namun perkataan William semakin membuat Jester meyakini kesimpulannya sendiri jika Sarah berubah pikiran ditengah jalan.
"Papa... ini sudah lebih dari satu jam kita berada didalam mall, sedangkan perjalanan kita saja sudah menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit. Gimana ceritanya Sarah belum juga sampai disini?" tanya Jester dengan nada yang terdengar kesal, perkataan Jester didengar oleh Andrews yang berjalan mendekati Jester dan William.
"Kamu benar, sangat besar kemungkinan Sarah tidak jadi datang kemari" terdengar sedih Andrews menimpali perkataan Jester, perlahan dan terlihat lesu Andrews duduk di kursi berhadapan dengan Jester dan William.
"Tenang dulu kalian, Sarah pasti punya alasan" William masih berusaha untuk menenangkan Jester dan Andrews, namun Jester seakan tidak suka dengan situasi itu. Tangannya kembali mengambil handphone lalu segera melakukan panggilan kepada Sarah, berkali - kali Jester menelepon namun Sarah tidak juga kunjung mengangkat teleponnya.
Rasa pesimis muncul pada diri Andrews saat mengetahui Sarah tidak mengangkat telepon Jester untuk beberapa kali, saat itu Andrews merasa bahwa kesempatan yang dia tunggu mulai hilang. Momen pertemuan ini adalah kesempatan bagi Andrews, karena tanpa bantuan Jester dia merasa akan kesulitan untuk bertemu Sarah.
"Sudahlah Jester... tidak perlu diteruskan, aku memahami kenapa Sarah tidak datang kemari" celetuk Andrews yang semakin terlihat sedih ketika telepon Jester tidak juga kunjung diangkat, Jester meremas rambutnya cukup keras seakan sedang melampiaskan kekesalannya.
"Aku pamit dulu" ucap Andrews lalu berdiri dari duduknya hendak meninggalkan tempat itu, namun dengan sigap William menahan Andrews agar tidak pergi.
"Kakak pertama, tunggu dulu. Mungkin Sarah masih terjebak macet" timpal William dengan tegas, disaat itu Jester masih terus berusaha menelepon Sarah.
"Tidak perlu menghiburku Will, aku juga paham bagaimana kondisi jalanan. Kamu tidak bisa membujukku dengan alasan mengada - ada seperti itu" ucap Andrews kepada William, namun tangan William semakin erat menahan Andrews agar tidak pergi.
"Tunggu dulu, sabarlah sebentar lagi!" agak membentak William mengatakannya, tidak lama telepon Jester pun diangkat oleh Sarah.
***
"Halo! Kamu dimana?!" tanya Jester dengan sedikit emosi, mengetahui Sarah mengangkat telepon membuat William dan Andrews mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Hai Jester.... aku... masih tidak yakin... untuk bertemu dengannya..." terbata Sarah mengatakannya, mendengar perkataan Sarah saat itu membuat Jester menjadi emosi.
"Apa katamu?!" tanya Jester dengan sedikit emosi
"Aku masih tidak yakin ingin bertemu dengannya" jawab Sarah dengan tegas
"Ayahmu sudah menunggumu sangat lama dan kamu melakukan ini padanya?!" tanya Jester lagi dengan emosi
"Aku tidak ingin bertemu dengannya!!!" jawab Sarah dengan bentakan, sejenak mereka berdua pun saling terdiam.
"Aku.... tidak ingin bertemu dengannya... hatiku tidak siap, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya saat bertemu..." terdengar Sarah menangis saat mengatakannya, Jester menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan untuk meredam emosinya.
"Aku mengerti" timpal Jester dengan nada yang terdengar tenang, keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat dan Jester hanya mendengar suara sesenggukan Sarah.
__ADS_1
"Sarah, apa ada Luke disana?" tanya Jester
"Hu'um" jawab Sarah singkat
"Bisa berikan handphonemu padanya?" pinta Jester
"Ya Jester?" tanya Luke pada Jester
"Luke, gimana kondisi Sarah?" tanya Jester dengan nada yang terdengar khawatir, Luke menghela nafasnya sejenak.
"Tidak baik, sejak kamu mengatakan dia akan bertemu dengan ayahnya saat itu juga dia sering melamun sepanjang perjalanan" jawab Luke, Jester berjalan menjauhi William dan Andrews.
"Kalian ada diparkiran kan?" tanya Jester pada Luke
"Hah?! bagaimana kamu bisa tahu?!" terkejut Luke mendengar pertanyaan Jester
"Karena kebodohanmu bilang Sarah melamun sepanjang perjalanan" jawab Jester dengan suara tawa kecil yang terdengar.
"Sial! kau menjebak ku!!" bentak Luke terdengar begitu emosi.
"Kamu paham kan ini adalah kesempatan Sarah untuk bertemu dengan ayahnya?" tanya Jester menekan Luke
"Aku mengerti, tapi..." belum selesai Luke menjawab, Jester memotong.
"Kadang hal berat tetap harus kita hadapi, kamu paham arti dari kataku ini" timpal Jester dengan tegas, sejenak mereka terdiam.
"Luke, mungkin ini adalah langkah awal untuk Sarah menentukan nasibnya. Dia mungkin bisa terus lari namun dia tidak bisa merubah takdirnya memiliki darah Gates, dia Sarah Gates dan bukan Sarah Arielle" tegas Jester mengatakannya
"Aku tidak paham apa artinya namun aku merasakan bebannya, aku akan mencoba untuk menenangkannya terlebih dahulu" timpal Luke, lalu telepon pun terputus
***
"Bagaimana nak?" tanya William dengan nada yang terdengar kesal
"Luke sedang berusaha untuk membujuk Sarah" jawab Jester datar, jawaban Jester menarik perhatian Andrews yang sejak tadi masih berdiri memandangi Jester makan.
"Luke? siapa Luke?" tanya Andrews
"Dia anak angkat ku, anggap saja begitu. Salah satu sahabat Jester" jawab William sembari mengalihkan perhatiannya menatap Andrews.
"Kenapa... dia yang mencoba untuk membujuk Sarah?" tanya Andrews lagi terdengar heran
"Karena Luke adalah pacar Sarah" jawab Jester tanpa beban, Andrews pun terkejut mendengar jawaban Jester. Dengan segera Andrews duduk didepan Jester bersebelahan dengan William, wajahnya terlihat antara marah dan penasaran akan sosok Luke pacar anaknya.
"Siapa anak itu? bagaimana kesehariannya? kerja apa dia dan dimana dia tinggal? apakah dia orang yang pantas untuk Sarah?" sedikit membentak Andrews bertanya, hal itu membuat Jester kesal lalu menatap Andrews.
Sebuah pertanyaan yang penuh dengan kecemasan dan rasa penasaran terlontar secara bertubi - tubi kepada Jester dari Andrews. Andrews memang tidak bisa hidup bersama Sarah karena dirinya yang pengecut dulu, namun sebagai seorang ayah yang begitu mencintai putrinya wajar saja ketika mulai cemas putrinya yang mulai dewasa telah memiliki pasangan. Apapun yang terjadi Andrews menginginkan yang terbaik untuk putrinya itu.
"Paman, lingkaran ku adalah orang - orang baik dan aku yakin Luke pantas untuk Sarah meski mungkin ada banyak hal yang tidak akan paman setujui" jawab Jester dengan nada terdengar kesal, jawaban Jester membuat Andrews terdiam namun sorot matanya masih terus menatap wajah Jester.
"Kita tunggu disini, sahabatku sedang berusaha membujuk Sarah untuk menemui paman hari ini" terdengar tenang Jester mengatakannya lalu kembali melanjutkan makannya
__ADS_1
Detik demi detik berlalu, menit pun berganti hingga siang itu berganti menjelang sore. Jester, William dan Andrews masih terlihat sabar menunggu kedatangan Sarah, disaat itu tiba - tiba Jester melihat Luke yang berjalan mendekati mereka bertiga. Jester pun melambaikan tangan agar Luke melihatnya, begitu Luke melihat Jester dengan segera Luke berjalan mendekati Jester.
"Selamat sore tuan William" dengan sopan Luke mengucapkannya sambil sedikit menundukkan kepalanya, sorot mata Andrews langsung menatap Luke dengan tajam.
"Sore Luke, dimana Sarah?" tanya William sembari menoleh kanan kiri mencari keberadaan Sarah, perlahan Luke menoleh kebelakang seakan sedang mencari keberadaan Sarah juga.
"Dia... ada dibelakang sana, tadi dia sudah melihat keberadaan Jester lebih dulu dariku lalu... dia memutuskan untuk berhenti berjalan dan dia ada disana mungkin beberapa meter dari sini" sambil menunjuk Luke menjawab pertanyaan William, serentak Jester, William dan Andrews menatap arah dimana Luke menunjuk namun mereka tidak ada satupun yang melihat Sarah.
"Kamu bercanda denganku Luke?" tanya Jester dengan nada yang terdengar kesal, Luke kembali mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Tidak, disaat seperti ini aku tidak mungkin mengajakmu bercanda" tegas Luke mengatakannya
"Lalu apa yang dia tunggu?" tanya Jester kepada Luke, dengan helaan nafas Luke mencoba menjelaskan kepada Jester namun belum juga Luke berkata tiba - tiba suara Sarah terdengar dari balik tubuh Luke.
"Hai..." terdengar sedih dan serak saat itu suara Sarah, sontak suara itu membuat Luke berbalik menatap Sarah dan tidak terkecuali Jester, William, dan Andrews yang langsung menatap Sarah.
Suara dan kehadiran dari seseorang yang membuat Andrews dengan badan yang sedikit bergemetar karena luapan perasaannya segera untuk berdiri dan menatap sosok yang begitu dia cintai namun belum pernah dia temui. Untuk pertama kalinya seorang ayah mendengar suara putri yang dia tinggalkan selama dua puluh tahun. Untuk pertama kalinya juga Andrews melihat sang putri secara langsung. Air mata yang berlinang nampak di pelupuk matanya seperti sulit terbendung, degup jantungnya terasa begitu kencang, nafasnya mulai tidak beraturan. Membawa rasa bersalah dan kerinduan yang mendalam Andrews menatap Sarah dengan penuh rasa sayang, kakinya ingin melangkah untuk memeluk Sarah namun terhenti karena takut akan penolakan Sarah.
"Sa... Sarah..." terbata Andrews mengatakannya, perlahan Sarah menatap wajah ayahnya itu dengan sorot mata yang terlihat sedih. Tidak lama, Sarah kembali menundukkan pandangannya dan tangannya meremas kuat tali sling bag miliknya.
"Kalian berdua berbicaralah disini berdua, kami akan sedikit menjauh agar kalian berdua nyaman untuk saling berbicara dari hati ke hati" celetuk William sembari berdiri dari duduknya diikuti oleh Jester, dengan segera Jester, William dan Luke mencari tempat duduk lain yang sedikit jauh dari posisi Andrews dan Sarah.
Sempat terdiam beberapa saat, perlahan Sarah melangkahkan kakinya mendekati kursi dan duduk berhadapan dengan Andrews walau tatapan matanya masih menunduk. Tangannya masih dengan kuat masih meremas tali sling bag seakan sedang menahan emosinya yang begitu menggebu - gebu didalam hatinya, mengetahui kemarahan Sarah saat itu membuat Andrews pun bingung harus memulai darimana.
"Ba.. bagaimana kabarmu?" tanya Andrews memecahkan keheningan diantara mereka
"Itu kata pertama yang ada di kepalamu ketika bertemu dengan anak yang selama ini kamu buang?" tanya balik Sarah dengan nada yang menekan, mendengarkan pertanyaan Sarah membuat Andrews sedikit tersentak dan kembali terdiam. Tangannya yang sejak tadi menggenggam buket bunga mawar medium pink itu pun Andrews arahkan kehadapan Sarah, melihat bunga itu Sarah sedikit mendongakkan kepalanya.
"Aku tidak tahu apa ini sesuai dengan selera mu... seseorang menyarankan warna ini kepadaku. Maukah kamu menerimanya?" tanya Andrews, perlahan Sarah menundukkan kepalanya lagi
"Kenapa...?" tanya Sarah singkat, mendengar pertanyaan Sarah membuat sorot mata Andrews menjadi sedih.
Sebuah tanya yang tersimpan selama bertahun - tahun akhirnya terluapkan begitu saja dari Sarah kepada sosok yang dia kenal sebagai ayah. Pertemuan yang canggung terjadi diantara Andrews dan Sarah, dua orang yang memiliki ikatan darah untuk pertama kalinya bertemu dan saling meluapkan perasaan mereka masing - masing.
"Semua ini memang salahku. Karena beban nama Gates... dan ada sejarah yang sudah tertutup yang tidak bisa kamu ketahui, tapi saat ini aku hanya ingin kamu merasakan penyesalanku telah mengabaikan mu selama ini" jawab Andrews terdengar sangat menyesal
"Tahukah kamu seberapa sulitnya hidup dengan kenyataan seperti ini?!! mengapa kau harus membuangku dan mengabaikanku?!! apa salahku kepadamu?!!!" bentak Sarah saat itu begitu marah, William dan Jester yang merasa kondisi sudah tidak kondusif pun langsung meminta kepada kasir untuk bertemu dengan manajemen agar segera menutup tempat itu menjadi privat.
"Aku... aku tidak tahu harus merasa bagaimana setelah mengetahui aku ternyata punya seorang ayah ketika aku sudah terbiasa hidup tanpa ayah, terbiasa dengan ejekan teman - teman sekolahku dulu, terbiasa dengan tatapan sinis orang kepadaku.... entah aku harus senang, kecewa, marah atau malu..." ucap Sarah lagi meneruskan perkataannya, air mata Sarah mengalir deras dari kedua matanya dan itu membuat Andrews semakin merasa bersalah.
Andrews yang sejak awal memang menyiapkan hatinya dengan apapun respon yang akan Sarah berikan hanya bisa menerima semua luapan hati Sarah, kesalahannya di masa lalu pada Sarah membuatnya merasa pantas mendapatkan perlakuan apapun dari putrinya. Andrews bahkan menyiapkan dirinya jika Sarah akan menghajarnya habis - habisan karena telah membuat hidup Sarah penuh dengan beban hidup tanpa seorang ayah. Yaaah seorang ayah yang pengecut bahkan mungkin tidak pantas untuk disebut sebagai ayah.
"Sarah... berapa usiamu sekarang?" tanya Andrews
"Dua puluh tahun..." jawab Sarah dengan sesenggukan
"Dua puluh tahun? aah yah tentu saja... kenapa aku sebodoh itu masih bertanya... aku telah memberimu banyak penderitaan... aku hanya bisa berkata aku sangat menyesal karena hanya bisa memberikanmu penderitaan selama itu... sebagai ayah yang buruk aku hanya bisa berkata maaf..." timpal Andrews dengan nada yang terdengar sangat menyesal, perlahan Sarah menyeka air matanya yang tersisa di pipinya
"Tidak usah terlalu dipikirkan, aku sudah terbiasa dengan itu" terdengar pasrah Sarah saat mengatakannya, mendengar perkataan Sarah saat itu membuat Andrews tersenyum kecil.
"Dua puluh tahun yang lalu saat Jessica mengandung mu... banyak perubahan yang terjadi, tapi aku merasa kamu tidak perlu tahu tentang semua itu. Aku hanya akan menyampaikan sesuatu yang seharusnya aku ucapkan sebagai seorang ayah kepada anak gadisnya... semoga kedepannya kamu bisa bahagia, aku cuma ingin kamu bisa terus merasa bahagia dengan caramu sendiri" dengan lembut Andrews mengatakannya sembari memberikan kembali buket bunga mawar medium pink kepada Sarah, sejenak Sarah tertegun memandangi wajah Andrews yang tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Lalu aku.... harus memanggilmu apa?" tanya Sarah terbata dan terus menatap wajah Andrews
"Nak....kamu tidak harus memanggilku 'papa' karena aku adalah seorang ayah yang buruk untukmu... aku hanya ingin kamu tahu siapa sosok ayahmu dan hanya dengan itu saja sudah membuat aku senang" jawab Andrews