
Keesokan harinya di pagi yang indah, langit tampak cerah dan matahari bersinar terang. Di sebuah rumah yang mewah dan besar, terlihat beberapa asisten rumah beraktifitas membersihkan taman, beberapa mobil, pelataran rumah, kolam, dan lain lain.
Masuk lebih dalam lagi di salah satu kamar terlihat Jester masih tertidur di dalam kamarnya yang nyaman, tapi kenyamanan itu tidak berlangsung lama ketika secara tiba - tiba William membuka pintu dan melompat kearah Jester lalu menindihnya dengan keras dengan gerakan ala smack down. Sudah menjadi kebiasaan William setiap pagi untuk membangunkan Jester dengan cara yang unik.
"Guuuaaahhh!!!" teriak Jester kesakitan, William berdiri di kasur Jester dan menatap Jester dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Pagi anakku!!! Papa sedang bahagia pagi ini!!" ucap William dengan penuh semangat, Jester menatap wajah William dengan kesal.
"Haruskah setiap pagi seperti ini Papa?!" Jester dan William akhirnya bergulat lagi seperti biasa di kasur itu, pergulatan yang seru dan sengit terjadi antara anak dan ayah.
"Yeey... Ayo Jess, mama mendukungmu!!" ucap Marrie sambil menonton dan tepuk tangan dengan sangat antusias
Namun hari ini pun Jester terlihat kalah lagi dan menyerah karena kaki Jester dikunci dengan kaki William dan leher diapit oleh lengan William, Jester menepuk nepuk lantai tanda menyerah
"Hah! aku memang masih terlalu kuat untukmu" William berdiri dan dengan bangga menunjukkan otot kedua tangannya yang kekar itu dihadapan Marrie, Marrie tepuk tangan dan wajahnya terlihat bahagia dan bangga.
"Arrhhh... aku akan balas suatu saat nanti! lagi pula kenapa aku selalu seperti ini sih tiap pagi?" Jester mengatakannya sembari duduk dilantai itu dan menggaruk - garuk kepalanya.
"Ingat Jester, sebagai pria kamu harus kuat. Karena diluar sana adalah dunia yang kejam" dengan gaya William mengatakan itu didepan Jester, Jester menatap William dengan raut wajah kesal.
"Aku gak mengerti yang papa katakan, lalu hal apa yang membuat papa bahagia itu?" tanya Jester sembari mulai merapihkan kamarnya yang berantakan karena ulah William dan Jester, William dan Marrie saling menatap dan sedikit tertawa.
"Mama dan papa sudah melihat vidio itu..." belum selesai Marrie berbicara Jester menatap kedua orangtuanya itu dengan wajah terkejut dan perasaan malu, seakan tidak percaya kedua orangtuanya pun aktif di media sosial.
"Aa.. apa?! mama dan papa juga?!" tanya Jester sambil menatap kedua orang tuanya itu
"Aku bangga padamu nak!! kamu dengan gagahnya membela pacarmu itu!!" ucap William sembari berlari mendekati Jester dan memeluknya sambil menepuk nepuk punggung Jester, Namun Jester mendadak membatu seperti dunia sudah runtuh dan tidak ada lagi tempat aman untuk bersembunyi dari perasaan malu.
"Hihihihi.... itu memalukan memang, jika mama jadi kamu mama gak akan pernah keluar lagi dari rumah selama - lamanya" ucap Marrie dengan nada menyindir, Jester yang masih dipeluk oleh William terlihat marah untuk menyembunyikan perasaan malunya.
"Mama!!! tinggalkan aku sendiri, aku baru sadar itu memalukan setelah melihat vidio itu!!" bentak Jester, Marrie tertawa dengan keras saat Jester berkata seperti itu namun tidak untuk William yang malah terlihat begitu bangga pada anak lelakinya itu.
"Kenapa? itu baru tindakan pria sejati Jester!" William melepaskan pelukannya dan memberi jempol tepat di hidung Jester yang terlihat bangga pada anaknya, namun bagi Jester saat itu William sedang mengejeknya.
"Arrgghh papa gak tau betapa memalukannya itu! pergilah kalian!!" Jester berbalik dan melompat ke kasurnya lalu telungkup, menyembunyikan wajahnya dengan bantal - bantal dan menutup tubuhnya dengan selimut
"Aku tahu itu memalukan, tapi..." Marrie mendekati Jester dan membuka tumpukan bantal yang menutupi kepala Jester, Marrie mengelus - elus kepala Jester dengan lembut dan penuh kehangatan.
"Kamu bergerak atas keinginan hatimu untuk melindungi seseorang tanpa mempedulikan dirimu sendiri, anak mama sudah menjadi pria sejati sekarang ya" dengan nada lembut dan senyuman Marrie katakan itu, Jester memandang Marrie yang berada disebelahnya sembari menikmati lembutnya tangan seorang ibu mengelus kepala anaknya
"Begitu ya? terima kasih mama..." Jester tersenyum seakan mendapatkan kembali semangat dan melunturkan perasaan malunya
"Itu adalah hasil kerja kerasku mendidik anak bodoh ini, Hahaha..." William mengatakannya dengan penuh kebanggaan sembari meninggalkan kamar Jester dan di ikuti oleh Marrie.
Untuk beberapa saat Jester terlihat masih telungkup dan tidak beberapa lama Handphone milik Jester berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk, Jester membukanya dan dilayar handphone itu tertulis ada nomor baru yang mengirim pesan singkat.
***
"Heii kamu tidak lupa janjimu kan? ini Naomi" diterima
"Lah, kamu tahu darimana nomorku?" Dikirim
"Aku tahu nomormu dari profil klub kampus, jangan alihkan pembicaraan" diterima
"Ya Ya Ya, ini masih jam 7. aku akan ada disana lebih dulu dari kamu" dikirim
"Bagus" diterima
__ADS_1
***
"Haah... merepotkan, aku masih ingin tidur. Cewek itu maunya apa sih" gumam Jester sembari melempar ponselnya ke kasur dan segera beranjak mandi lalu sarapan, Jester pun bersiap untuk menuju kampus.
Memakai baju rapih yang dipadu padankan jas almamater dengan kacamata dan rambut poni depan, si kutu buku itu bersiap membawa porsche 911 merahnya menuju kampus, benar - benar seperti gaya Harry Potter sang idola. Di kampus, Jester terkenal dengan mahasiswa seribu club. Bagaimana tidak, Jester mengikuti semua club mahasiswa yang ada di kampusnya dan menjadi brand ambasador bagi setiap club karena kemampuannya yang diatas rata rata.
Libur akhir semester memang baru dimulai, namun di setiap penerimaan mahasiswa baru beberapa mahasiswa senior yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler melaksanakan kegiatan di kampus demi menarik mahasiswa dan mahasiswi baru untuk bergabung.
Setelah beberapa menit perjalanan Jester pun sampai di kampusnya, dia memarkirkan mobilnya di area parkir kampus lalu berjalan menuju pintu masuk utama ke gedung kampus dan disana terlihat beberapa ketua club berbaris sedang menunggu Jester dengan wajah seakan ingin mengincar dan menerkamnya.
"Apa ini?" tanya Jester dengan tatapan takut menatap para ketua club, terjadi keributan dan semuanya berlari mendekati Jester lalu menempelkan, memberi, dan mengalungkan iklan dari semua club yang ada di kampus pada tubuh Jester
"Jester, bawa anggota yang banyak ya!!" ucap ketua club seni lukis yang tersenyum menatap Jester
"Aku percayakan padamu Jester!!" ketua club olimpiade ekonomi ikut menimpali memberi jempol kepada Jester
"Kamu tahukan club basket membutuhkan anggota cewek, aku harap kamu membawanya yang banyak bro" ucap ketua club basket kemudian pergi begitu saja
"Kamu adalah brand ambasador dari klub drama, jadi mohon bantuannya ya Jester" datang lagi ketua club drama menyerahkan tugas pada Jester dan setelah semuanya telah tertempel, nampak kini Jester seperti sebuah mading berjalan.
"Brand ambasador? Brand ambasador apa jika diperlakukan seperti ini?!! jangan seenaknya kalian?!!" bentak Jester dengan teriakan dan terlihat sangat marah, namun ketika itu para ketua club memandangi Jester dengan tatapan ingin menghajarnya beramai ramai.
"Terima kasih telah menjadikanku brand ambasador... terima kasih kakak - kakak angkatanku... aku sangat terhormat menerima ini" gumam Jester yang nyalinya mendadak menciut, para ketua club berbalik memunggungi Jester serentak
"Terima kasih Jester!! semangat yaaa!!!" serentak semua ketua club mengatakannya dan meninggalkan Jester di pintu masuk kampus sendirian.
"Gusar... Geram...Jengkel... terhina..." Gumam Jester saat itu namun dirinya tidak berdaya,
Tidak lama mahasiswa dan mahasiswi baru pun mulai memasuki gedung utama kampus, kerumunan mahasiswa dan mahasiswi baru itu mendekati Jester yang terlihat seperti pusat informasi bagi mereka.
Namun diantara semua mahasiswa mahasiswi itu ada dua orang yang terlihat terdiam sembari menahan tawa saat melihat Jester, Naomi yang sedang menyamar berdiri agak jauh bersebelahan dengan temannya menyaksikan Jester diperlakukan seperti korban bully di lingkungan kampus. Setelah kerumunan di dekat Jester berangsur - angsur berkurang, Naomi dan temannya mulai berjalan mendekati Jester.
"Kamu korban bully ya?" tanya Naomi saat dekat dengan Jester, namun temannya terlihat terpaku menatap Jester dari belakang Naomi.
"Ooh jelas tidak, aku sedang menjalankan tugasku sebagai brand ambasador dari setiap club yang aku ikuti. silahkan pilih selebaran yang ada di tubuhku ini dan tanyakan semua yang ingin kalian ketahui" jawab Jester yang terlihat bangga sambil terus menjalankan tugasnya, Naomi menahan tawanya mendengar jawaban Jester.
"Tapi bagiku kamu terlihat seperti korban bully" timpal Naomi sembari mengambil satu satu dari setiap selebaran yang menggantung mengeliling ditubuh Jester, wajah bangga Jester mendadak berubah menjadi wajah yang terlihat kesal.
"Yah... agak seperti itu sih, ini dimulai saat aku ikuti semua club kampus. Lalu semua club itu menembus lomba tahunan antar kampus dan menang, jadi aku ditarik sana sini hingga akhirnya jadwal ku terpecah dan gak bisa fokus. Mereka menginginkan aku memilih satu club namun aku tidak memilih satu pun dan pada akhirnya serentak mereka menjadikan aku brand ambasador tapi lebih kearah mereka ingin membalas dendam atas pilihanku" jelas Jester kepada Naomi dengan penuh penyesalan, Naomi tertawa kecil mendengar penjelasan Jester.
"Kamu kan berhak menolak, hah.... terserah aja sih... aku gak mau ikut campur, kamu mau ikutan club apa Selena?" Naomi berbalik memberikan beberapa selebaran yang dia pegang kepada Selena, namun Selena terlihat masih tertegun memandang Jester.
"Heii, kok bengong?" tanya Naomi sambil menepuk lembut pipi Selena, Selena terlihat agak tersentak seperti tersadar dari lamunannya.
"Aaah iya maaf... apa aku mengenalmu?" tanya Selena kepada Jester, tatapan mata Jester beralih melihat Selena dan berusaha mengingatnya
"Hmm... aku ragu, jangan bilang karena vidio itu" jawab Jester mengatakannya menahan perasaan malu dan teringat tentang vidio viral yang melibatkannya.
"Ooh iya... kamu jadi terkenal karena vidio itu ya" ledek Naomi, Jester terlihat kesal menatap Naomi
"Aaah aku ingat... kamu kan Kak Jester Gates yang satu SMA denganku!" mendadak Selena agak berteriak sambil mendekat dan menempelkan kedua tangannya ke pipi Jester lalu mendekatkan wajah Jester ke wajahnya.
Jester terkejut menatap wajah Selena yang sangat dekat dengan wajahnya seakan keduanya akan berciuman, wajah Jester pun mulai memerah.
"Waa!! apa ini? hei hei..." ucap Jester panik dan kaget dengan kelakuan Selena yang tiba - tiba itu, namun Selena terlihat sangat senang dan hanya menatap Jester yang ada didepannya dengan penuh kebahagiaan juga mata berbinar.
"Selena!!" bentak Naomi, Selena tersadar atas perbuatannya dan menatap Naomi dengan senyum malu
__ADS_1
"Eeh maaf, iya... aku hanya terkejut bisa bertemu denganmu lagi kak" ucap Selena sembari melepaskan tangannya dan menatap kearah Jester dengan tatapan malu - malu, Jester masih membatu beberapa saat menatap Selena yang tersenyum kepadanya.
"Aku yang lebih terkejut" Jester mundur beberapa langkah menjauhi Naomi dan Selena, melihat wajah merah Jester saat itu membuat Naomi menatap Jester dengan wajah marahnya.
"Kamu pasti mikir yang tidak- tidak kan?" tanya Naomi dengan nada sinis, Jester hanya membuang muka sambil bersiul berpura - pura tidak mendengarkan pertanyaan Naomi. Melihat tingkah Jester itu, Naomi menjadi semakin kesal lalu menatap Selena yang masih terpaku menatap Jester.
"Kamu darimana kenal orang aneh ini Selena?" tanya Naomi penasaran dengan sedikit bentakan, Selena mendadak tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan Naomi.
"Dia kakak kelasku di SMA, yang paling aku ingat dari dia adalah saat kak Jester nembak teman sekelas ku waktu di SMA dulu dengan membawa bucket bunga mawar putih ditengah pentas seni sekolah yang sedang berlangsung, hihihi" Jawab Selena dengan sedikit tawa, hal itu membuat Naomi dan Jester terkejut.
"Kamu ini memang gak tahu malu ya?! apa - apaan itu?!!" Naomi meneriaki Jester dengan penuh amarah, wajah Jester mendadak merah merona menahan perasaan malunya
"Waaa... apa - apaan ini?!! kenapa aku dipermalukan berturut - turut sejak bertemu denganmu!!" dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya, mendengar perkataan Jester yang terkesan menyalahkan Naomi membuat Naomi semakin emosi.
"Kan kamu yang mempermalukan dirimu sendiri!!!" bentak Naomi lagi sembari berjalan mendekati Jester, Naomi meremas kedua bahu Jester dengan kedua tangannya dan mengguncang - guncang tubuh Jester berkali - kali.
Naomi merasa marah karena mempermalukan diri sendiri adalah kebiasaan Jester yang baru Naomi sadari, Jester terlihat hanya bisa pasrah.
"Menurutku tidak... itu tindakan gentle dan keren sebagai seorang pria untuk mengajar cintanya" celetuk Selena nampak tersenyum dan tersipu malu saat mengatakannya, Naomi dan Jester menatap Selena yang terlihat tersipu malu itu.
"Kamu serius mengatakan itu Selena?" tanya Naomi sembari menatap Selena dengan wajah heran
"Waaa Waa!! sudah, ayo aku ajak kalian berkeliling!!" Jester menaruh semua selebaran itu di lantai dan segera beranjak dari tempatnya berada demi mengalihkan pembicaraan yang mempermalukannya sejak tadi, Naomi dan Selena berjalan dibelakang Jester untuk berkeliling kampus.
Jester memberikan penjelasan untuk tiap ruangan yang mereka bertiga lewati, disaat itu Selena terlihat menempel pada Jester dan jalan bersebelahan meninggalkan Naomi sendirian di belakang mereka. Wajah Naomi terlihat kesal melihat keduanya mendadak akrab, tidak lama Naomi terhenti saat melihat salah satu ruangan yang mereka lewati lalu masuk kedalam ruangan itu.
Jester yang menyadari Naomi menghilang pun akhirnya berbalik mencari Naomi lalu ikut memasuki ruangan yang dimasukin oleh Naomi meninggalkan Selena yang saat itu tertarik dengan kegiatan di ruang club drama, di sebuah ruangan yang sepi itu Naomi seperti tertarik melihat salah satu gitar yang dipajang, Naomi mendekati gitar itu lalu memegangnya.
"Walau terlihat seperti ruangan tidak berpenghuni sebenarnya ini adalah club musik, jadi kamu tertarik dengan musik Naomi?" tanya Jester yang baru masuk kedalam ruangan itu melihat Naomi tertarik pada salah satu gitar, Naomi berbalik menatap Jester.
"Tidak... tapi ini jenis gitar Flying V kan? keren" jawab Naomi yang terlihat antusias, tidak lama Naomi mengalungkan gitar ke pundaknya dan mulai sedikit memainkan gitar itu. Nada - nada yang keluar dari setiap petikan jari Naomi terdengar indah dan lembut, Jester yang melihat Naomi merasa sedikit tertantang. Jester pun mengalungkan gitar lainnya dan mulai menantang Naomi untuk adu Skill gitar.
"Itu bukan permainan seorang pemula, tunjukkan dirimu sebenarnya Naomi!!" tantang Jester dengan antusias, Naomi menatap Jester dengan senyuman yang seakan menantang.
Mereka berdua beradu skill memainkan gitar dengan genre Rock, saling menunjukan skill secara bergantian itu membuat Naomi lupa diri. Sosok Naomi yang biasanya terlihat kalem dan anggun saat itu berubah menjadi seperti bintang rock, petikan demi petikan dan teknik yang diperlihatkan oleh Naomi benar - benar membuat Jester terkesan dan tidak percaya jika melihat penampilan luar Naomi. Hingga beberapa teknik sudah mereka mainkan, keduanya menutup duel itu dengan saling menatap dan tersenyum bersama.
"Waah aku tidak sangka kamu bisa bermain sebaik ini Naomi!! keren!!" ucap Jester dengan nada antusias, Naomi tersipu malu dengan pujian Jester.
"Aku belajar otodidak loh, kamu pasti tidak percaya..." dengan nada sedikit menyombongkan diri Naomi mengatakannya
"Naa...oomii? kamu Naomi Scott selebgram itu?" dengan terbata orang asing yang berada di depan Naomi dan Jester mengatakannya seakan tidak percaya dia sedang merekam Naomi seorang selebgram yang terkenal anggun itu bermain gitar layaknya bintang rock, orang asing itu menghentikan merekam dan menatap handphonenya.
"Aaa.. Eeh.. kamu tidak melakukan live stream kan?" tanya Naomi dengan nada terbata, Jester terdiam menatap Naomi yang terlihat ketakutan.
"Jadi... ini tidak boleh ter..." Orang tersebut tiba - tiba berlari keluar ruangan namun Selena berhasil menangkapnya dan menjatuhkannya ke lantai lalu mengunci leher dan kakinya
"Aaww... heii!! lepaskan!! sakit!!" Grece merintih kesakitan karena kuncian dari Selena. Dengan posisi masih mengunci, Selena berusaha menggapai handphone yang Grece pegang.
"Berikan handphone itu!! semakin kamu melawan aku akan semakin menyakitimu!" dengan bentakan Selena berusaha mengambil handphone milik Grece
Mendapatkan kesempatan untuk merebut handphone Grece saat itu Naomi berlari mendekati Grece, mengambil handphone tersebut dan berusaha membuka kuncinya dengan sidik jari milik Grece. Walau Grece tetap berusaha untuk memberontak namun Naomi berhasil membuka kunci layar handphone itu, lalu segera mengoperasikan handphone Grece.
"tolong... tolong jangan live...." Nada Naomi bergetar sangat ketakutan, hal itu membuat Jester heran dan berjalan mendekati ketiganya yang terlibat pergulatan seru.
"Ada masalah?" tanya Jester yang heran menatap reaksi Naomi dan Selena yang menurut Jester tidak wajar dan berlebihan.
"Jangan sampai vidio ini tersebar... aku akan... dalam masalah jika ibuku tahu...." suara Naomi seperti sedang menahan tangisannya.
__ADS_1