
"Kenapa... kenapa hatiku terasa sakit?" gumam Naomi yang masih terdiam di balik pintu perpustakaan menguping percakapan antara Jester dan Selena, Naomi meremas dress bagian dadanya seakan dirinya sedang merasa cemburu pada Jester dan Selena.
Pada siang yang cerah, dilingkungan kampus terlihat mahasiswa dan mahasiswi sedang menjalani kehidupan kampus mereka masing masing. Diruang perpustakaan kampus yang terletak di lantai tiga terlihat Jester dan Selena sedang mengobrol berdua dan Naomi terlihat menguping pembicaraan mereka dari balik pintu masuk ruang perpustakaan, Naomi tiba tiba berlari menuju toilet wanita yang berada di lantai tiga dan langsung menatap kaca wastafel. Terdiam beberapa saat sembari menatap wajahnya, Naomi melepaskan kacamatanya lalu membasuh wajahnya beberapa kali sembari terus menata pikirannya yang tiba tiba kalut.
"Apa yang terjadi padaku? kenapa hatiku sakit? aku tidak mungkin cemburu kan?" Naomi bergumam dan memandangi wajahnya lagi didepan cermin, Naomi memejamkan mata sesaat sembari terus berfikir tentang apa yang terjadi pada dirinya. Namun tidak lama terdengar suara pintu terbuka dari belakang Naomi yang mengagetkannya, Naomi dan orang itu bertatapan mata dicermin.
"Eeeh... kamu... Naomi Scott kan?!" tanya Camilla dengan wajah yang terkejut, Naomi berbalik menatap Camilla yang berada dibelakangnya. Keduanya saling bertatapan mata namun wajah panik Naomi tidak dapat ia sembunyikan, Camilla lalu tersenyum manis menatap Naomi.
"Jadi Naomi kuliah disini juga ya? aaa~ senangnya punya adik angkatan terkenal sepertimu" ucap Camilla dengan ramah, Camilla masih tersenyum berjalan mendekati Naomi dan menuju kesalah satu wastafel untuk mencuci tangannya. Naomi hanya terdiam dan terus memperhatikan apa yang akan Camilla lakukan ditempat itu, Naomi akhirnya memberanikan diri untuk berbicara pada Camilla ditengah kebisuan diantara mereka.
"Bisa tolong rahasiakan? aku tidak ingin orang orang tahu aku ada dikampus ini" pinta Naomi, Camilla menatap Naomi yang berada disebelahnya dengan senyuman.
"Ooh tentu tentu... orang terkenal memang agak sulit ya dapat privasi..." masih dengan nada ramah Camilla mengatakannya, lalu kembali berkaca memperbaiki penampilannya.
"Terima kasih" Naomi mengambil kaca matanya yang dia letakkan di wastafel sebelah Camilla lalu segera berjalan hendak meninggalkan tempat itu, Camilla tiba - tiba berbalik menatap Naomi yang memunggunginya.
"Jadi..." Camilla menggantungkan perkataannya dan membuat Naomi berhenti melangkah lalu berbalik menatap Camilla yang sudah tidak tersenyum lagi.
"Kamu benar pacaran sama Jester? apa karena itu kamu juga kuliah disini Naomi?" tanya Camilla namun kali ini nada ramahnya menghilang berganti dengan penuh kecurigaan, Naomi tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya saat itu dan hanya terdiam menatap mata Camilla.
"Ooh apa aku terlalu sinis padamu? maaf... tapi sejujurnya aku curiga pada kalian" ucap Camilla yang kembali ramah seperti awal pertemuan mereka, dengan sedikit tertawa Camilla mengakhiri kalimatnya. Naomi heran dengan perubahan sikap Camilla, mencoba memberanikan diri Naomi akhirnya memutuskan untuk terus berbicara pada Camilla.
"Curiga?" tanya Naomi penasaran pada perkataan Camilla, agak bersandar pada wastafel dibelakangnya Camillla menunjukkan ketenangannya berhadapan dengan Naomi.
"Didepan orang yang dia sukai, Jester tidak akan bisa bersikap tenang seperti di vidio itu. Jadi apa benar kalian berpacaran? atau Jester sedang memanfaatkanmu untuk kepentingannya?" tanya Camilla dengan nada yang tenang dan tersenyum menatap Naomi
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" Naomi balik bertanya, dengan senyum menyindir Camilla menatap Naomi.
"Tentu saja karena aku kasihan padamu jika dimanfaatkan olehnya, seorang selebgram terkenal sepertimu dimanfaatkan oleh pecundang sepertinya, Hihihihi.... penggemarmu tidak akan senang jika tahu siapa sosok Jester yang sebenarnya" jawab Camilla merendahkan Jester, Naomi terlihat tersinggung saat Camilla mengucapkannya.
"Tapi dia tidak seperti itu" timpal Naomi dengan sedikit menekan, Camilla menatap rendah Naomi sebelum menimpali perkataan Naomi.
"Ooh iya? benarkah? dia selalu menatapku seakan ingin menyerangku, matanya tidak pernah bisa fokus pada wajah, dia selalu mengarah kebagian sensitif kita kan? seperti predator ya" tanya Camilla dan lagi - lagi Camilla seperti menunjukkan keburukan Jester
"Tidak... dia tidak seperti itu... kamu salah menilainya" jawab Naomi terbata, Naomi bimbang saat itu untuk merespon Camilla. Dalam pikirannya dia tidak ingin Camilla menjauhi Jester karena dirinya namun disisi lain Camilla terlihat sangat tidak senang dengan keberadaan Jester yang mencintainya, tangan Naomi terlihat bergemetar menahan emosi.
"Haah? benarkah? setiap aku bertemu dengannya dia selalu seperti itu, dia juga selalu melakukan hal yang memalukan, aku tidak tahan berada didekatnya dalam waktu yang lama. Kamu hebat ya bisa tahan dengannya" sedikit tertawa Camilla mengucapkannya, gigi Naomi bergemeretak saat Camilla semakin menjelek - jelekkan Jester didepannya
"Cukup!!" Naomi membentak sampai membuat Camilla tersentak, sorot mata Camilla menunjukkan seberapa terkejutnya dia saat tiba - tiba Naomi membentaknya.
"Cukup, jangan mengatakan hal jelek tentang Jester!" bentak Naomi lagi, Camilla mendadak tersadar lalu dia tersenyum malu menatap Naomi
"Aaah maaf... duuh aku lupa kamu adalah pacarnya, maaf ya... aku gak maksut..." belum selesai Camilla berkata Naomi memotong
"Kamu Camilla kan?" tanya Naomi, mendengar pertanyaan Naomi saat itu membuat Camilla sedikit tertawa
"Heee~ darimana kamu tahu namaku? aku kan belum memperkenalkan diri" jawab Camilla yang terlihat menyindir Naomi saat itu, namun Naomi tidak merespon sama sekali sindirian Camilla dan hanya terdiam menatap Camilla
"Jadi Jester sudah cerita ya? Hihihi... benar benar pria yang tidak baik, bisa bisanya berbicara tentang wanita lain didepan pacarnya" timpal Camilla lagi saat melihat Naomi hanya terdiam menatapnya, Naomi menunundukkan kepalanya.
"Kamu tahu Jester sangat mencintaimu kan? katakan padaku, bagaimana perasaanmu padanya" tanya Naomi, kali ini Camilla yang terdiam mendengar pertanyaan Naomi.
"Jester itu tipe pria yang akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan pasangannya, dia bahkan tidak mempedulikan dirinya hanya untuk menyelamatkan kita dari situasi yang tidak kita sukai, dia juga... dia juga perhatian pada hati kita, tipe pria yang peka... Jester itu... masih memikirkanmu walau saat ini dia bersamaku" dengan terbata Naomi mengatakannya, Camila terlihat sebal ketika Naomi mengatakannya dan masih terdiam untuk beberapa saat.
"Kamu sendiri bagaimana? kenapa kamu katakan itu didepanku? apa benar kamu pacarnya?" tanya Camilla kembali menekan Naomi ditengah keheningan sesaat mereka, Naomi mengangkat kepalanya dan menatap Camilla namun penuh dengan keraguan yang terpancar dari tatapan matanya.
__ADS_1
"Ten... Tentu saja aku pacarnya!" jawab Naomi dengan terbata, Camilla tersenyum manis mendengar jawaban Naomi.
"Aku masih berfikir kamu dan Jester hanya berpura - pura berpacaran" sindir Camilla, mendengar perkataan Camilla membuat Naomi menjadi emosi.
"Jester adalah pacarku!" Naomi kembali menegaskan jawabannya dengan bentakan, senyuman Camilla hilang saat Naomi mengatakannya.
"Wow.... begitu kerasnya kamu berbohong" dengan sinis Camilla mengatakannya sembari berjalan melewati Naomi menuju pintu keluar, namun Naomi menggenggam lengan Camilla agar dia berhenti berjalan sembari berbalik menatap punggung Camilla.
"Aku mohon untuk pertimbangakan!! mencari orang yang tulus cinta pada kita itu sangat sulit untuk ditemukan, Jester sangat serius denganmu! apa kamu pernah menganggap serius dirinya?!" tanya Naomi sembari menahan tangisannya, Camilla menarik dengan kasar lengannya agar terlepas dari genggaman Naomi.
"Apa kamu pernah membiarkan dia menunjukkan cintanya padamu? apa kamu pernah berfikir jangan jangan Jester lah yang mampu menjadi cinta sejatimu dan membuatmu bahagia? tolong pertimbangkan lagi" Naomi terus menekan Camilla saat itu dan tidak terasa air matanya keluar bersamaan dengan akhir kalimatnya, Sesaat keduanya terdiam lalu Camilla menoleh menatap Naomi yang berada dibelakangnya.
"Kamu memang menyebalkan" dengan tatapan dan suara yang datar Camilla mengatakannya, Camilla kembali berjalan meninggalkan Naomi yang masih membatu karena kalimat terakhir Camilla.
Naomi terdiam beberapa saat didalam toilet itu, lalu berjalan kembali menatap cermin, merapihkan penampilannya dan segera keluar dari toilet. Baru beberapa langkah keluar dari toilet, Naomi berpapasan dengan Selena dan Jester, saat itu Selena dan Naomi nampak hampir bertabrakan dan mereka saling bertatapan tanpa sepatah katapun.
"Selena..." ucap Naomi memecahkan keheningan diantara mereka, Selena langsung memeluk Naomi dan air matanya mendadak pecah.
"Aku minta maaf... aku tidak sepantasnya marah padamu" ucap Selena dengan tangisannya, Air mata Naomi pun menetes bersamaan dengan tangisan Selena namun tatapan Naomi tertuju pada Jester dan membuat Jester heran.
"Ada apa?" tiba tiba Jester bertanya saat Naomi terus menerus menatapnya tanpa berkata apapun, Naomi seperti tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Jester.
"Hah? apa?" tanya Naomi heran sembari menatap Jester, dengan wajah kesal Jester kembali bertanya pada Naomi.
"Tatapanmu tadi... kamu mengkhasihaniku?" tanya Jester lagi, Selena melepaskan pelukannya dan menatap wajah Naomi yang masih meneteskan air matanya.
"Haah? tentu tidak... kenapa kamu berkata seperti itu? aku hanya terharu bisa berbaikan dengan Selena kembali" jawab Naomi sembari mengusap air matanya dan menepuk kedua pipinya beberapa kali, Jester memberikan tisu kepada Selena dan Naomi.
"Ooh gitu... aku merasa ada sesuatu yang terjadi padamu" celetuk Jester saat itu, Naomi sedikit terkejut saat Jester mengatakannya. Sembari terus mengusap air mata, Naomi menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Tentu..." jawab Selena manis, Naomi menarik tangan Selena dan menuju parkiran kampus meninggalkan Jester begitu saja. Jester masih terdiam menatap Naomi dan Selena yang semakin jauh meninggalkannya di tempat itu.
Di malam yang sejuk, disebuah taman dalam rumah keluarga Gates yang luas dengan hiasan lampu taman dan bunga - bunga yang indah berdampingan dengan sebuah kolam renang menjadikan suasana malam itu indah bagi Jester yang sedang duduk dipinggiran kolam. Langkah kaki seseorang terdengar dan memecah keheningan tempat Jester sedang menikmati sunyinya malam itu, Marrie datang dari arah belakang Jester mulai menyapa putra kesayangannya dengan lembut dan penuh kehangatan.
"Waah tumben anak mama termenung sendirian begini" celetuk Marrie sembari berjalan mendekati Jester, suaranya terdengar sangat hangat dan membuat Jester merasa senang.
"Mama.... mau menikmati angin malam ini juga?" tanya Jester tanpa menoleh kebelakang dan terus menatap kolam renang itu, Marrie agak tertawa mendengar respon Jester saat itu.
"Engga, mama bawa kejutan buat kamu" jawab Marrie yang ternyata sedang menggandeng Naomi, mendengar jawaban Marrie akhirnya Jester menoleh dan menatap Naomi yang bersebelahan dengan Marrie.
"Kenapa kamu disini?!" tanya Jester terkejut melihat Naomi mengunjungi rumahnya pada malam hari, dengan tatapan kesal Naomi menatap Jester.
"Aku kan cuma berkunjung... kenapa kamu sekaget itu sih" jawab Naomi dengan kesal, Marrie melepaskan tangannya dari tangan Naomi.
"Hohoho.... Jess emang agak aneh Naomi, jadi biasakan dirimu ya" celetuk Marrie sembari meninggalkan mereka berdua, Naomi berjalan mendekati Jester dan duduk disebelah Jester menatap kolam.
"Ada apa?" tanya Jester singkat sembari memainkan air kolam dengan kakinya, Naomi menghembuskan nafas agak keras sebelum menjawab pertanyaan Jester.
"Bagaimana dengan Selena? dia menembakmu kan?" tanya Naomi, Jester menoleh menatap wajah Naomi yang masih menatap kolam.
"Eeeehh!! darimana kamu tahu?!" Jester terkejut dengan pertanyaan Naomi, namun Naomi tidak bereaksi apapun dan terus bersikap tenang
"Maaf, aku gak sengaja nguping saat itu di balik pintu perpustakaan" jawab Naomi datar, Jester kesal mendengar jawaban Naomi.
"Emang nguping tuh ada ya yang gak sengaja?" tanya Jester sembari menatap curiga Naomi, mendengar sindiran Jester saat itu membuat Naomi kesal lalu menatap Jester.
__ADS_1
"Sudahlah jangan pikirkan itu, jawab saja pertanyaanku!" agak membentak Naomi mengucapkannya, Jester kembali menatap kolam dan bermain air dengan kakinya.
"yah... dia mengatakan mencintaiku, menjelaskan alasan kenapa mencintaiku dan dia ingin aku jadi pacarnya, kamu tahu? itu pengalaman pertamaku di tembak oleh wanita secantik dia" jawab Jester, mendengar jawaban Jester membuat tangan Naomi meremas bagian rok dari dressnya
"Baguskan... aku rasa kamu dan dia itu cocok" ucap Naomi dengan tenang, Jester mengalihkan pandangannya ke langit dan terdiam beberapa saat sembari tersenyum.
"Tapi aku katakan padanya aku tidak bisa" dengan tegas Jester mangatakannya, Naomi terkejut saat tahu ternyata Jester menolak pernyataan cinta Selena.
"Dasar Bodoh!! kenapa kamu katakan itu padanya?!" Naomi membentak Jester, mendengar bentakan Naomi saat itu membuat Jester mengalihkan pandangannya menatap wajah Naomi yang terlihat marah padanya.
"Aku katakan padanya saat ini aku hanya ingin mencintai satu wanita, aku tidak bisa membagi hatiku dan memberikan perasaan palsuku padanya" jawab Jester sambil menatap Naomi, Jester tertawa sendiri lalu kembali memandangi langit malam itu.
"Mungkin banyak yang akan mengatakan aku bodoh, haah... tapi itulah aku, aku tidak bisa harus melakukan hal yang bertentangan dengan diriku sendiri" Jester kembali melanjutkan kalimatnya sembari menatap langit, Naomi tertegun memandangi Jester.
Agak lama tertegun, Naomi membuang muka dan mereka terdiam beberapa saat. Suasana hening mendadak muncul saat itu, ditengah keheningan itu Naomi meremat bagian rok dari dress nya dengan kedua tangannya. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang sejak tadi dia ingin katakan namun Naomi masih berusaha menyusun kata yang tepat, dengan satu tarikan nafas akhirnya Naomi berbicara.
"Camilla tahu aku Naomi" ucap Naomi mendadak ditengah kesunyian, Jester tertawa kecil mendengar ucapan Naomi.
"Ya siapa juga yang gak tau kamu itu Naomi" Jester menanggapi Naomi dengan santai tanpa beban, Naomi terlihat kesal karena Jester kembali menunjukkan kebodohannya.
"Maksudku dia tahu aku ini kuliah di tempat yang sama denganmu!!" dengan sedikit bentakan Naomi katakan itu,
"Haaah?!! bagaimana bisa?!" tanya Jester dengan panik dan menatap Naomi yang masih membuang muka ditengah pembicaraan serius itu, Naomi menoleh dan menatap mata Jester dengan tatapan mata penuh kekhawatiran.
"Waktu di toilet aku melepaskan kacamataku dan kamu tahukan kemarin aku tidak menyamar dengan baik" jawab Naomi dengan penuh kekhawatiran, Jester memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan mendadak menjadi sangat panik
"Arrrggghh terus gimana? apa yang dia katakan?!" tanya Jester
"Dia..." Naomi terhenti beberapa saat sambil terus menatap mata Jester, melihat tiba - tiba Naomi terdiam Jester merasa heran.
"Ada apa?" tanya Jester memancing Naomi untuk terus berbicara, namun Naomi malah membuang muka lagi.
"Tidak... kamu harus terus berjuang, aku yakin dia akan paham suatu saat nanti" jawab Naomi, sejenak keduanya terdiam lagi. Jester menunjukkan ketenangannya sambil bermain air dengan kedua kakinya, Naomi masih terlihat gelisah dan berkali - kali meremas bagian rok dari dress yang dia kenakan hari itu.
"Huufft... kamu tahu Naomi, kamu itu nyaris sempurna jadi sosok wanita loh" celetuk Jester ditengah keheningan keduanya, mendengar itu wajah Naomi mendadak memerah.
"Haah?! kenapa kamu tiba tiba katakan hal itu?! dasar bodoh!" Naomi berbalik dan memukuli Jester bertubi - tubi dengan kedua tangannya dan Jester hanya menahan setiap pukulan Naomi, Wajah Naomi masih merona saat itu.
"Tapi ada satu hal yang kurang darimu dan itu membuatmu terlihat bodoh" perkataan Jester membuat Naomi terdiam memandangi Jester, Jester menatap Naomi dengan serius tanpa senyuman sedikit pun.
"Kamu itu gak pandai berbohong tapi kamu tetap berusaha sekuat tenaga untuk berbohong" sindir Jester, Naomi tertegun dan mulai membuang muka lagi dari tatapan Jester. Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang agak lama, Naomi kembali menatap Jester.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa... aku takut melukai hatimu jika kamu tahu akan kebenarannya, atau mungkin kamu akan...." ucapan Naomi terhenti, keduanya saling bertatapan mata. Naomi kembali membuang muka dan membuat Jester heran.
"...Mungkin saat aku katakan ini, kamu akan membenciku..." ucap Naomi melanjutkan kalimatnya, perlahan Naomi menatap mata Jester. Jester sedikit terkejut saat mengetahui Naomi akan menangis karena matanya yang mulai berkaca - kaca, Jester tersenyum menatap Naomi.
"Aku tidak peduli apa yang Camilla katakan padamu tentangku, tapi aku yakin suatu saat nanti aku pasti berhasil mendapatkannya dan satu lagi yang perlu kamu ketahui yaitu aku tidak akan membencimu apapun yang terjadi" sambil tersenyum Jester katakan itu, Naomi tertegun menatap Jester.
"Kamu pria paling bodoh yang pernah aku temui" Naomi tersenyum lalu berdiri hendak meninggalkan Jester ditempat itu, Jester mendadak kesal karena Naomi terus mengatainya bodoh
"Enak aja!! aku ini si nomor satu sejak TK sampai kuliah, kamu tahu?!" dengan bentakan yang penuh kesombongan Jester mengatakannya, Naomi berbalik dan tersenyum sembari terus berjalan meninggalkan Jester.
"Aku jadi sedikit paham yang dikatakan Selena tentangmu" gumam Naomi, Jester berusaha mendengar perkataan Naomi namun Jester tidak dapat mendengarnya.
"Hah? kamu tadi bicara apa?" Jester nampak bingung, Naomi terus berjalan meninggalkan Jester.
__ADS_1
"Aku bilang... aku mau pulang, sampai jumpa besok" Naomi tersenyum sambil menoleh menatap Jester lalu dia pergi dari tempat itu.