Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Tiga Belas Hari


__ADS_3

Disebuah kampus swasta terkenal dipusat kota, pada pagi hari menjelang siang yang cerah dan cukup panas saat itu. Nampak banyak mahasiswa dan mahasiswi yang beraktifitas diarea kampus dan disibukkan dengan kegiatan mereka masing - masing, tidak jauh berbeda dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang terlihat berkumpul di ruang musik kampus. Jester, Naomi, Justin dan Grece sedang mengobrol dengan pembahasan yang terlihat cukup serius. Obrolan serius itu dapat terlihat dari raut wajah mereka masing - masing, yaah... jarang mereka melakukan pembicaraan dengan wajah yang terlihat serius.


"Aku sempat menjagokannya untuk memenangkan ajang pencarian bakat itu, namun ditengah pentas dia meminta maaf pada para penggemarnya untuk mengundurkan diri" ucap Grece melanjutkan kata - katanya, raut wajah Jester dan Naomi pun terlihat tidak percaya dengan apa yang Grece katakan.


"Benarkah? aku kok gak pernah tahu ada kejadian seperti itu?" tanya Jester heran


"Itu benar, perolehan point Luna dengan lawannya dulu terpaut cukup signifikan. Enam puluh delapan persen banding tiga puluh dua persen, dia hanya perlu menyanyikan lagu terakhirnya dan akan keluar jadi juara tanpa halangan. Beritanya di akun gosip juga sempat meledak, sampai beberapa akun - akun gosip mengatakan Luna diancam agar mengalah" jawab Grece mencoba meyakinkan Jester dengan ceritanya, Jester dan Naomi pun saling menatap.


"Kamu kan aktif didunia maya, kenapa kamu gak tahu berita itu?" tanya Jester kepada Naomi


"Kalau tidak salah aku pernah dengar cerita itu dan jika aku benar... dulu nama panggungnya adalah Lunar, benar gak?" jawab Naomi mencoba memastikan, dia hanya tahu berita tentang mundurnya finalis ajang pencarian bakat yang pasti akan dinyatakan menjadi pemenang namun tiba - tiba mundur begitu saja. Namun Naomi tidak menyadari jika Luna adalah Lunar yang dia tahu, masih mencoba mengingat namun suara Grece memecahkan konsentrasinya.


"Iya, nama panggung dia Lunar.... sayang video pengunduran dirinya telah di takedown jadi aku tidak bisa menunjukkan secara langsung" jawab Grece, Jester pun semakin bingung saat itu.


"Kenapa di takedown?" tanya Jester penasaran


"Berita tentang Luna yang tiba - tiba mengundurkan diri sangat menghebohkan, bagaimana pun tetap ada yang bertaruh disitus - situs judi online. Dengan mundurnya Luna saat itu, bagaimana mungkin gak menimbulkan masalah didunia bawah seperti akun - akun judi" jawab Grece


"Mundurnya Luna saat itu membuat marah tuan Werner, dia memboikot semua yang berhubungan dengan Luna. Tapi entah kebetulan atau memang sudah Luna rencanakan, bagai dayung bersambut Luna pun hilang dari peredaran dunia maya" timpal Justin melanjutkan jawaban Grece, sejenak Jester dan Naomi pun terdiam saling menatap


"Ngomongin akun Luna, aku bahkan tidak memiliki nomor handphonenya atau alamat rumahnya sampai detik ini" celetuk Jester seakan tersadar akan hilangnya identitas Luna selain namanya, Naomi pun ikut tersadar saat itu setelah mendengar celetukan Jester.


"Ya ampun... aku juga, kenapa kita melewatkan bertanya tentang dia? bahkan nomor handphone pun aku tidak punya" terdengar menyesal Naomi mengatakannya


"Apa dia masih ada dirumah kalian?" tanya Justin penasaran


"Tidak, dia dan Selena sudah dua hari ini pergi dan tidak kembali... kata Selena mereka ada urusan yang harus diselesaikan" jawab Naomi terdengar sedih, mendengar jawaban Naomi saat itu membuat Justin terdiam beberapa saat sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya


"Lunar... dulu Luna pernah bilang dia memakai nama panggung itu karena mengibaratkan dirinya seperti bulan" celetuk Grece saat mereka terdiam beberapa saat, Naomi dan Jester pun terlihat penasaran.


"Kenapa seperti itu?" tanya Naomi penasaran


"Kata Luna pada dasarnya bulan tidak memiliki sinarnya sendiri namun mendapatkan cahaya yang mampu menerangi bumi dari pantulan sinar matahari dan dia bilang kalau dia sudah kehilangan sinar mataharinya sehingga saat itu dia mengibaratkan diri sebagai bulan sabit yang akan segera tertelan cahayanya" jawab Grece, lalu sejenak dia terdiam sambil menatap Jendela dan menghela nafasnya.


"Dia juga bilang ingin memanfaatkan seluruh sisa cahaya matahari yang masih menyinarinya agar penduduk bumi masih ingat bahwa bulan itu masih ada walau suatu saat tidak terlihat lagi digelapnya langit malam" terdengar berusaha mengingat saat Grece mengatakannya


"Aku juga sempat bertanya, kemana sinar mataharimu dan dia tertawa sebelum menjawabnya.... tapi saat itu tawanya sangat terdengar pilu ditelingaku" ucap Grece melanjutkan perkataannya lalu menatap Jester, sempat terdiam beberapa saat Grece pun menghela nafas kembali.


"Aku sudah membuat matahariku padam dan tidak lagi dapat menyinari aku, dia berkata seperti itu sambil tersenyum" terdengar sedih Grece mengatakannya, Jester dan Naomi pun tertegun mendengarkan cerita Grece.


"Apa kata - kata itu.... untuk Jester?" tanya Naomi mencoba menarik kesimpulan


"Setelah aku mendengar semua ceritanya dari Justin... aku pun berfikir seperti itu. Sepertinya dia sangat mencintaimu ya Jester" jawab Grece lalu mengalihkan pandangannya menatap Jester, saat itu Jester hanya mengangkat bahunya sekejab merespon perkataan Grece.


"Kamu gak peduli dengan cerita ini?" tanya Grece heran, Jester pun bersandar santai di sofa itu sambil menatap langit - langit.


"Jika ini dua tahu lalu, mungkin aku masih peduli... tapi sekarang aku sudah tidak peduli, bagaimana pun aku sudah memiliki wanitaku sendiri dan hatinya harus aku jaga sebaik mungkin" jawab Jester dengan nada yang datar, seakan dia tidak tertarik sama sekali dengan cerita Grece


"Tapi... kamu seperti orang yang tidak berperasaan Jess" timpal Naomi terdengar sedih, Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi.

__ADS_1


"Tidak, aku bukan tidak berperasaan. Hanya saja setelah apa yang terjadi antara aku dan Luna hingga sekarang, aku sudah melupakannya tanpa membencinya dan mengingatnya tanpa melibatkan perasaanku" dengan tegas Jester mengatakannya, perkataan Jester membuat Grece dan Naomi pun tertegun.


"Aku tidak paham apa yang sebenarnya Luna inginkan sampai sekarang, dia memang bagaikan bulan yang datang dan pergi begitu saja. Sebagian orang yang pernah terlibat dengannya mungkin mencintai kehadirannya, namun sebagian lagi mulai bosan dengan sikapnya yang tiba - tiba menghilang" dengan datar Jester mengatakannya sambil kembali bersandar disofa


"Lalu apa yang kamu pikirkan ketika dia benar - benar tidak akan hadir lagi dihidupmu?" tanya Justin sedikit menekan, pertanyaan dan nada bicara Justin saat itu menarik perhatian Jester, Naomi dan Grece. Sejenak Jester pun terdiam sambil menatap Justin, suasana canggung tiba - tiba terasa diruang musik itu setelah pertanyaan Justin yang seakan menekan Jester.


"Dua tahun dia sudah serasa hilang dari hidupku dan apa yang kamu lihat dariku?" tanya balik Jester kembali menekan Justin


"Maaf aku ada urusan sebentar, kalian latihan lah dulu mengatur tempo. Harry dan Luke sedang dalam perjalanan kemari" ucap Justin lalu melangkahkan kakinya beranjak pergi dari ruang musik, saat itu Grece ingin menghentikan langkah Justin namun Grece bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan suasana canggung seperti ini.


"Kenapa dengan dia?" tanya Grece heran ketika Justin sudah keluar dari ruang musik, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Grece lalu kembali menatap Jester.


"Jess... apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Naomi, Jester pun menghela nafasnya sejenak.


"Aku pernah dengar katanya Justin dan Luna itu teman masa kecil ketika Luna masih tinggal dirumah lamanya, tapi aku gak tahu sejauh mana hubungan mereka berdua. Kamu tahu, kadang cinta tumbuh ketika kita terbiasa bersama dengan seseorang" jawab Jester datar, perkataan Jester saat itu membuat Naomi dan Grece terkejut.


"Maksutmu Justin juga suka sama Luna?" Grece bertanya dengan suara yang terdengar kaget, Jester mengangkat bahunya merespon pertanyaan Grece.


"Hanya dugaanku saja, ini bukan pertama kalinya dia terlihat marah padaku saat aku cuek sama Luna" jawab Jester lalu segera berjalan mendekati stand gitar, Jester mengambil gitar dan kemudian mengalungkan gitar itu dibahunya lalu segera bermain memetikkan beberapa nada. Sedangkan Naomi dan Grece terlihat saling menatap dan terdiam, jawaban Jester membuat keduanya tidak dapat berkata - kata lagi.


Beberapa saat kemudian disaat yang bersamaan dengan Jester, Naomi dan Grece berkumpul di ruang musik kampus, terlihat Justin dengan sepeda motornya berhenti disalah satu rumah sederhana yang terlihat asri. Dia turun dari sepeda motor itu lalu berjalan masuk kedalam pagar untuk menuju pelataran rumah, disana dia mengetuk pintu beberapa kali dan tidak lama seseorang membukakan pintu untuknya.


"Pagi tante.. apa Luna dirumah?" tanya Justin dengan senyuman, Lisa pun membalas senyum Justin


"Pagi Justin, Luna ada dikamarnya sama Selena... masuk dulu yuk, tante panggilkan Luna" jawab Lisa dengan ramah, Justin pun masuk kedalam rumah dan duduk disalah satu kursi dalam ruang tamu. Tidak beberapa lama Luna dan Selena keluar dari kamarnya dan langsung duduk berhadapan dengan Justin, disaat itu Luna tersenyum manis menatap Justin.


"Ada apa kak?" tanya Luna dengan ramah, Justin hanya terdiam dan terus menatap Luna datar.


"Luna... aku benar - benar ingin tahu apa rencanamu pada Jester" jawab Justin dengan sedikit tawa, namun pertanyaan itu membuat senyum Luna menghilang.


"Kenapa?" tanya Luna singkat, Justin pun menghela nafasnya sejenak


"Jester sangat mencintai Naomi, aku takut semua tidak sesuai dengan..." belum selesai Justin bicara, Luna memotong


"Aku tidak ingin merebut Jester dari Naomi, aku akan menjadi pendukung mereka" timpal Luna dengan tegas, Justin pun terdiam beberapa saat dan tetap menatap Luna.


"Kak... kalau kamu memang ingin menolongku, ada satu hal yang aku ingin kamu lakukan" ucap Luna terdengar sangat berharap Justin mau membantu, Justin dengan semangat mendekatkan badannya menunggu perintah Luna


"Luna! aku saja sudah cukup, gak usah libatkan banyak orang" agak menekan Selena mengatakannya


"Aku akan membantumu apapun dan aku tidak akan ragu, jadi biarkan aku menolong" timpal Justin mencoba mendapatkan kepercayaan Luna, namun Selena nampak marah saat itu lalu menatap Justin dengan tatapan tajamnya.


"Kak Justin! gak usah ikut campur! aku bisa mengatasi ini sendiri!" bentak Selena


"Luna bilang dia butuh bantuanku, kamu tidak berhak untuk menghalangiku!" Justin pun membalas bentakan Selena


"Berhenti!! tolong..." ucap Luna dengan sedikit berteriak, Selena dan Justin pun berhenti berdebat lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke Luna yang terlihat bersandar sambil memegang kepalanya.


"Kalian berdua.... aku butuh kalian, jadi tolong bekerjasama lah..." ucap Luna terbata

__ADS_1


"Maaf... aku berfikir bisa melakukannya sendiri" terdengar menyesal Selena saat mengucapkannya, Justin pun hanya menundukkan kepalanya.


"Aku sedikit tidak enak badan, Selena tolong jelaskan pada kak Justin... dan kak Justin, aku benar - benar membutuhkan pertolonganmu. Maaf aku tinggal dulu, aku ingin istirahat" ucap Luna lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya, tersisalah Selena dan Justin diruang tamu itu.


"Katakan saja apa yang Luna inginkan, aku akan lakukan sebaik mungkin" tegas Justin mengatakannya, Selena pun menghela nafasnya lalu mulai mengatakan apa yang Luna rencanakan.


Jam demi jam pun berlalu, di ruang musik kampus Jester, Naomi, Luke, Harry dan Grece pun latihan band tanpa vokalis. Setelah menyelesaikan lagu yang sama untuk kesekian kalinya, mereka terlihat capek namun raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Nada - nada yang mereka mainkan pun semakin sempurna dan kompak, Grece adalah orang yang paling bangga saat itu karena dirinya yang bermain paling jelek saat pertama kali latihan kini sudah berkembang dan dapat mengimbangi kemampuan teman - temannya.


"Bagaimana permainanku? aku berkembang pesat kan?" tanya Grece dengan sombongnya


"Kamu hebat Grece" terdengar sangat senang Naomi mengatakannya, Jester dan Luke hanya merspon dengan tepukan tangan yang ditujukan pada Grece.


"Hebat, kamu latihan seperti apa bisa sepesat ini perkembangannya?" tanya Harry penasaran dengan senyum yang terlihat senang melihat perkembangan Grece.


"Aku mengundang guru les piano untuk kerumah dan berlatih delapan jam sehari" dengan bangga Grece mengatakannya


"Itu menunjukkan seberapa payahnya kamu bermain, sudah latihan delapan jam sehari masih juga tidak bisa mendekati performa Luke dan Harry" dengan ejekan Jester mengatakannya, Grece yang mendengar perkataan Jester pun marah. Dia melemparkan berbagai benda yang ada didekatnya kearah Jester, keributan terjadi diruang musik seperti biasa.


Setelah beberapa menit keributan antara Jester dan Grece yang dilerai oleh Naomi, Luke dan Harry, mereka pun membubarkan diri dengan pertanyaan kenapa Justin tidak juga kunjung kembali begitu lama. Tidak lupa sebelum pulang kerumah, Jester dan Naomi menyempatkan diri untuk berbelanja keperluan sehari - hari. Sebuah momen berbelanja bersama yang damai dan tenang, karena kali ini Jester dan Naomi melakukan penyamaran. Jester mengganti model rambut dan mengenakan kacamata besar untuk mengecoh para pengunjung, sedangkan Naomi tetap menggunakan penyamarannya saat berkuliah.


Setelah selesai berbelanja Jester dan Naomi pun memutuskan untuk langsung pulang, diperjalanan pulang mereka pun mengobrol ringan dengan canda tawa membahas beberapa hal - hal konyol yang pernah dialami Jester bersama Luke dan Harry. Mereka pun sempat membahas tentang kisah cinta Luke dan Sarah yang tidak pernah mereka sangka sebelum - sebelumnya, sedikit menyerempet bercerita tentang Daniel, dan membahas persiapan pernikahan mereka. Hingga empat puluh menit berlalu dan mereka pun sampai didepan rumah, Jester dengan cekatan langsung memasukkan Mercedes Benz V260 yang bongsor kedalam garasi rumah.


Saat Jester memarkirkan Mercedes Benz V260 nya kegarasi, sebuah mobil Mercedes Benz C200 terparkir didepan rumah. Naomi pun terlihat antusias melihat mobil Selena, didalam hatinya Naomi merasa rindu dengan Luna. Ketika mobil mereka terparkir sempurna, Naomi langsung keluar dan berlari mendekati mobil Selena. Namun saat itu senyum Naomi pun menghilang setelah mengetahui hanya Selena yang berada dimobil, tidak lama Selena pun turun dari mobil dan berjalan mendekati Naomi.


"Mana... Luna?" tanya Naomi terdengar sedih dan penasaran, Selena menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk merespon pertanyaan Naomi.


"Dia harus urus dokumen - dokumen khusus untuk kepindahannya, aku kesini mau menyampaikan pesan dia kepada kalian sekaligus mengambil beberapa barangku yang tertinggal" jawab Selena, mendengar perkataan Selena membuat Jester berjalan mendekati Naomi dan Selena karena penasaran.


"Apa katanya?" tanya Naomi, Selena menghela nafas sekaligus merapihkan rambutnya dan bergaya seperti Luna lalu tersenyum seperti Luna.


"Ehem... Hai kak Jester dan Naomi, aku lagi sibuk - sibuknya urus dokumen kepindahanku jadi aku harus fokus dulu beberapa hari ini karena jadwal keberangkatanku dimajukan dan tinggal tiga belas hari lagi. hari minggu, ayo kita liburan bersama, aku sangat menantikannya dan semoga kalian berkenan" ucap Selena dengan gaya bicara seakan dia adalah Luna, Naomi dan Jester pun tertawa melihat tingkah Selena saat itu.


"Yah begitu katanya, aku disuruh menirunya saat menyampaikan pesan ini kepada kalian" Selena pun mengatakannya dengan penuh kekesalan, namun Naomi dan Jester menanggapi kekesalan Selena dengan tawa.


"Kamu benar - benar mirip dengan Luna" dengan tawa Jester mengatakannya


"Aku sudah belajar cara jadi Luna selama dua tahun" timpal Selena juga dengan tawa, lalu cubitan Naomi pun mendarat diperut Jester begitu keras.


"AAAA!!! Naomi!! apa yang kamu lakukan?!!" teriak Jester sambil merintih kesakitan


"Kenapa kalau Selena seperti Luna? kamu senang ada dia didekatmu?" tanya Naomi terdengar marah karena cemburu, Selena pun tertawa melihat tingkah Jester dan Naomi.


"Yah pokoknya seperti itu, aku boleh masuk buat ambil barang?" dengan menahan tawa Selena bertanya, Naomi pun mempersilahkan Selena untuk masuk dengan gestur tangannya.


Didalam rumah Selena pun langsung menuju kamar sedangkan Jester dan Naomi berada didapur untuk mulai memasak makan malam mereka, seperti sudah menjadi kebiasaan mereka untuk masak bersama. Tidak lama Selena masuk kedalam ruang makan yang menyatu dengan dapur hendak berpamitan untuk pulang, dengan membawa beberapa tas miliknya dan Luna seakan mereka sudah tidak akan kembali lagi kerumah itu.


"Aku pulang dulu ya" ucap Selena berpamitan, raut wajah Naomi pun menjadi sedih mendengar perkataan Selena.


"Apa kalian tidak akan... tinggal disini lagi sampai waktunya tiba?" tanya Naomi dengan sedih

__ADS_1


"Mungkin tidak, Luna bilang... dia sudah sangat puas mengganggu kalian, sampai saatnya tiba untuk liburan... kita berpisah untuk beberapa saat" jawab Selena dengan senyum


Selena pun saat itu berpamitan untuk pulang, walau sudah ditawarin untuk makan bersama namun Selena tetap memilih untuk pulang. Dimalam yang indah itu, Jester dan Naomi kembali menikmati makan malam bersama dengan penuh canda tawa dan obrolan ringan. Jester dan Naomi terlihat bahagia dengan momen - momen mereka, seakan dunia milik mereka berdua yang lain ngontrak.


__ADS_2