Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Masa Lalu Naomi (2)


__ADS_3

*** EPISODE INI MASIH MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI NAOMI ***


Pagi itu aku berangkat sekolah masih seperti biasanya, namun kali ini entah mengapa aku melihat Edwin terlihat sering menatapku dari spion dalam mobil dengan sorot mata yang iba. Sesekali saat kedua mata kami bertemu, aku bertanya ada apa namun dia hanya menjawab "Tidak ada apa - apa nona Naomi, anda tampak manis pagi ini" namun aku tahu itu hanyalah basa - basi untuk menutupi sesuatu dariku.


Beberapa menit berlalu aku pun tiba disekolah, Edwin membukakan pintu untukku dan aku pun segera turun dari mobil. Semua normal ketika teman - teman sekolah melihatku turun dari mobil, mereka meneriaki namaku dan mengajakku untuk segera berkumpul dengan mereka. Namun kaki ini berat untuk melangkah dan sesaat aku menoleh kembali menatap Edwin dan lagi - lagi tatapan mata itu... aku merasa sedang dikasihani oleh Edwin, dalam hatiku bertanya - tanya ada apa dengan Nancy dan Edwin pagi ini.


"Teman - teman anda sudah menunggu nona Naomi, ayo lari temui mereka" itu kalimat Edwin ketika itu, aku pun tersenyum dan tidak ragu lagi kemudian berlari menemui teman - temanku. Seharian itu aku berada disekolah dan teman - temanku membuat aku lupa kejadian yang telah terjadi di rumah, seakan tidak ada kejadian apapun yang sedang menungguku. Saat sekolah usai pun aku bertemu Edwin kembali, dia mengantarkan aku menuju sekolah kepribadian dan ditempat itu pun semua berjalan normal.


Aku terbiasa dengan jadwal yang padat, jadi aku berada diluar rumah dari pukul delapan pagi sampai pukul enam sore. Ketika les terakhirku itu aku tidak melihat Edwin menjemputku kembali, meski terheran aku tetap menunggunya di dalam ruangan. Sampai beberapa menit berlalu akhirnya Edwin datang menjemputku dengan nafas yang terengah - engah, guruku ketika itu langsung bertanya ada apa namun Edwin hanya menjawab "Maaf, saya terlambat menjemput Nona" walau aku dan guruku terheran bagaimana mungkin seseorang yang menggunakan mobil bisa terengah - engah seperti itu. Namun semua terjawab ketika aku melihat Edwin menjemputku dengan sebuah sepeda pedal kala itu.


Aku pun bertanya kemana mobil ku, namun Edwin hanya tersenyum sembari berkata "Nona Naomi maafkan Edwin, mobil nona Naomi sedang bermasalah. Jadi Edwin terpaksa menjemput nona dengan sepeda ini, ini milik pemilik bengkel dan semoga Nona berkenan" jujur saja saat itu aku marah, namun ketika melihat perjuangan Edwin membuat aku tidak dapat marah padanya. Sebuah pengalam pertama bagiku, dijemput oleh supir pribadi namun menggunakan sebuah sepeda pedal.


Entah butuh waktu berapa lama ketika itu untuk sampai ke rumah, namun mungkin karena aku begitu menikmatinya sehingga hanya terasa lelah dibagian belakang tubuhku. Edwin menurunkan ku didepan pintu pagar rumah dan tidak seperti biasanya, "Nona, Edwin harus kembali menjemput mobil. Edwin harap nona tidak keberatan berjalan masuk kedalam sendiri" Edwin mengatakannya padaku dengan nada yang terlihat ingin menangis, aku tidak yakin namun saat itu aku sempat melihatnya mengusap air mata. Aku hanya mengangguk dan berjalan masuk kedalam pagar, namun lagi - lagi langkahku terhenti lalu kembali menatap Edwin yang masih terdiam sembari menatapku.


Aku tidak menyangka itu adalah senyum terakhir Edwin padaku, seketika itu Edwin kembali memedal sepedanya dan meninggalkanku disana sendirian. Aku terus berjalan hingga sampailah dipelataran rumah, semua perubahan dimulai ketika itu. Aaah... tidak, itu bermula sejak didepan pagar aku rasa. Rumah kami terlihat begitu gelap tanpa ada satu pun cahaya lampu, aku cuma berfikir sedang ada gangguan kelistrikan di rumah. Dengan penuh ketakutan aku langkahkan kaki ku masuk kedalam rumah yang gelap itu, dengan meneriaki nama Nancy aku berharap dia segera datang menemuiku dan memberikan rasa aman dan menenangkan ku yang ketakutan karena kegelapan dirumah itu.


Tidak ada satu pun seseorang yang datang menyambutku saat itu, dengan penuh keheranan aku terus berjalan sembari menghidupkan lampu - lampu rumah. Aku baru saja menyadari ternyata rumah itu memang dengan sengaja tidak dinyalakan lampunya, entah mengapa hal itu malah membuat aku semakin panik dan bertanya - tanya ada apa sebenarnya.


Aku pun mulai berlari mencari - cari semua orang yang biasanya ada dirumah itu dan disemua ruangan sudah aku datangi namun percuma rumah itu benar - benar sudah tidak berpenghuni. Saat itu ada satu ruangan yang aku berharap tidak perlu kesana, sebuah ruangan yang sangat disukai ibuku. Entah mengapa dalam hati kecilku mengatakan didalam ruangan itu adalah satu - satunya ruangan yang terdapat seseorang, tapi otakku berkata bahwa didalam itu adalah ibu. Mungkin itu sebabnya aku tidak berharap itu akan menjadi ruangan terakhirku menemukan seseorang dirumahku, aku masih takut ibu memarahiku setelah kejadian itu.

__ADS_1


Ruangan perawatan bonsai milik ibu, sebuah ruangan yang tidak pernah aku masuki karena ibu melarangku. Seorang anak perempuan dengan perilaku yang bar - bar tentu saja akan sangat berbahaya ketika harus berada diruangan itu, entah akan berapa pot bonsai yang akan aku hancurkan jika satu jam saja aku dibiarkan berada disana. Tapi itu dulu, berbeda dengan hari ini. Perlahan tangan ini membuka pintu masuk ruangan dan didalam sana aku mendapati sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, semua bonsai milik ibu sudah hancur.


Tidak ingin melangkah lebih dalam lagi, kaki ku terasa membatu dan pemandangan itu adalah bencana bagiku. Aku sangat memahami seberapa kuat keinginan ibu untuk merawat bonsai - bonsai itu dengan baik, namun kali ini melihat semua koleksi bonsai ibu hancur membuat hatiku bertanya siapa yang berani melakukan hal ini. Dikegelapan saat itu aku melihat sosok bayangan dan entah mengapa aku langsung tahu bahwa itu adalah ibu, aku pun mulai melangkahkan kakiku masuk lebih dalam sembari terus menatap sosok bayangan itu.


"Ibu?" ucapku ketika itu berusaha membuat sosok itu menoleh padaku yang berada tepat dibelakangnya, namun tidak... sosok itu terus menatap sebuah bonsai terakhir. Saat aku sudah dekat sekali dengan sosok itu, aku memang melihat ibu yang menatap bonsai itu. "Ibu... aku pulang..." ucapku lagi untuk menarik perhatian ibu namun usahaku sia - sia, ibu tidak menoleh sedikit pun. Ketika itu aku melihat ibu memegang sebuah gunting bonsai ditangan kanannya dan sebuah handphone ditangan kirinya, aku pun terus mencoba memanggilnya.


Entah itu sudah panggilan keberapa kalinya namun akhirnya ibu menoleh padaku, tatapannya kosong seakan ibu sudah putus asa akan sesuatu. "Rumah sakit meneleponku pagi ini dan mengatakan keadaan Evans sedang kritis" itu kalimat pertama ibu ketika akhirnya menatapku, perasaanku panik seakan ayah akan meninggalkan aku dan ibu ketika itu. "Kenapa kita masih disini? ayo kita temui ayah" ucapku ketika itu dengan air mata yang mulai membasahi pipiku.


"Semua pekerja dirumah ini sudah aku pecat, kamu bisa gunakan sisa harta keluarga untuk kepentinganmu" ibu mengatakan itu ketika aku menangis ingin bertemu ayah, kalimat itu membuat aku membatu dan tidak paham apa yang sebenarnya ingin ibu sampaikan padaku. Aku pun hanya terdiam menatap sorot mata ibu yang kosong itu, namun entah mengapa aku merasa itu juga adalah hari terakhirku dapat bertemu dengan ibu.


"Saat aku menerima telepon lagi bahwa Evans sudah meninggal, aku harap kamu dapat meneruskan hidupmu walau harus sendiri" itu kalimat terakhir ibu sebelum akhirnya pandangannya mengarah pada bonsai terakhir, akhirnya aku mengetahui kalau itu artinya ibu akan bunuh diri ketika mengetahui ayah meninggal. Perasaanku begitu campur aduk, aku takut dengan ibu namun disisi lain aku merasa bahwa ibu adalah satu - satunya orang yang dapat menemaniku ketika ayah sudah tidak ada.


"Aayaaah!!!" dengan teriakan aku ucapkan itu ditengah sulitnya aku berbicara karena saat itu aku menangis sangat pilu, sebuah kata yang bagaikan sihir bagiku. Entah mungkin didalam koma nya ayah mendengar teriakanku atau saat itu ayah benar - benar telah diselamatkan oleh tim dokter yang menanganinya. Handphone ibu berdering setelah aku berteriak memanggil ayah, perlahan ibu mengangkat teleponnya dan meletakkan ditelinga. Aku pun menangis semakin menjadi - jadi ketika itu, takut, gusar, sedih, dan panik menjadi satu didalam pikiranku ketika itu, aku tidak terlalu mendengar apa yang di ucapkan ibu didalam telepon itu.


Ibu menutup teleponnya dan tiba - tiba berbalik kembali menatapku, "Itu telepon dari rumah sakit, dokter bilang Evans membaik dan berhasil melewati masa kritisnya. Sebuah mukjizat karena itu adalah masa yang tidak mungkin bisa dilewati tanpa keinginan kuat untuk tetap hidup" itu kalimat ibu ketika kembali menatapku. Aku hanya terdiam dan masih terus menangis, jujur saja luka di tubuhku saat itu tidak terlalu menggangguku namun berbeda dengan rasa sakit dihatiku... itu begitu.... sakit.


"Aku sangat mencintai Evans lebih dari aku mencintai diriku bahkan kamu" kalimat kedua yang aku ingat malam itu, sebuah kalimat yang membuat aku terkejut. Secara umum yang aku ketahui, kehadiran anak akan mengalihkan dunia kedua orangtuanya namun sepertinya cinta ibu pada ayah terlalu besar untuk dialihkan oleh kehadiranku. Saat itu pun aku hanya bisa terus menatap ibu yang menatapku dengan tatapan kosongnya, air mataku semakin deras mengalir di pipiku. Sebuah cinta adalah kalimat yang asing bagiku yang masih berumur dua belas tahun, namun sekarang aku sedikit memahami arti kata mencintai seseorang melebihi diri sendiri. Ya... aku pun pernah dalam posisi itu saat ini.


"Apa kamu puas membantah kami? sudah puas membuat Evans seperti itu?!" sebuah tanya dengan bentakan... ya, kalimat ketiga yang aku ingat pada malam itu. Entah mengapa aku tiba - tiba pingsan, mungkin karena aku dehidrasi, aku juga lapar saat itu, suasana yang mencekam juga yang mungkin membuatku pingsan namun aku tidak yakin karena... tatapan ibu saat bertanya membuat aku sangat ketakutan. Pagi pun tiba aku terbangun entah karena pingsanku atau karena memang aku tertidur sampai pagi, dimana aku tertidur? aku sudah berada dikamarku saat itu, mungkin ibu yang menggendongku. Eeh tidak... bukan mungkin, tapi tentu saja ibu yang menggendongku. Siapa lagi yang ada dirumah sebesar itu selain aku dan ibuku saat itu.

__ADS_1


Masih dengan seragam sekolahku aku tertidur, perutku langsung keroncongan karena aku tidak makan seharian kemarin. Beranjak dari kamar aku menuju dapur namun tidak ada apa - apa disana, tentu saja... karena tidak ada yang bekerja didapur ketika itu. Aku berjalan kembali menuju kamar dan membongkar celenganku, berharap aku akan sarapan disekolah tidak seperti biasanya. Semua tidak seperti biasanya... semua berubah dihari itu, aku menyiapkan baju sekolahku sendiri, berangkat sendiri, dan menyiapkan makan ku sendiri. Ibu? aku tidak pernah melihatnya, tapi sesekali aku mendengar suara tangisnya dari dalam kamar ayah dan ibu.


Delapan bulan aku tidak pernah melihat ibu beraktifitas dirumah itu dan hanya mengurung diri dikamar namun sesekali keluar untuk menjenguk ayah, aku pun mulai terbiasa melakukan semuanya sendiri untuk mengurus diriku dan membersihkan rumah agar tetap terlihat masih terawat. Namun untuk rumah... maaf, aku hanyalah anak dua belas tahun dan membersihkan rumah dan halaman yang hampir satu hektar luasnya bukan lah perkara yang mudah. Kebun ayah banyak yang mati, taman yang indah menjadi taman tidak terurus dengan ilalang yang menghalangi air mancur yang juga penuh dengan lumut, mobil - mobil ayah pun berdebu, kaca - kaca rumah juga penuh dengan debu.


Ooh iya... tentang ibu yang menjenguk ayah dirumah sakit, aku tidak pernah bertemu ayah selama delapan bulan itu. Kenapa? bukan aku tidak ingin namun ibu tidak pernah mengajakku, aku juga tidak berani mendekati ibu kala itu dan hanya menatapnya dari kejauhan ketika aku melihat ibu berjalan menuju garasi rumah untuk pergi menemui ayah dirumah sakit. Aku sangat merindukan ayah... tapi, aku yakin ayah akan sangat marah padaku dan mungkin itu adalah alasan ibu tidak mengajakku untuk bertemu ayah. Jadi aku berinisiatif jika ayah pulang, ayah akan bangga padaku karena aku mampu mengurus rumah ini sendirian. mengurus.... rumah.... sendirian.... hihihi... tidak, aku tidak akan mampu.... tapi aku berusaha sebaik mungkin.


Delapan bulan sudah berlalu, uang tabungan ku pun semakin menipis dan mungkin aku sudah tidak akan bertahan lagi. Namun ketika aku sedang memberanikan diri untuk menemui ibu, aku melihat ibu bergegas pergi. Sungguh kali itu aku menatap sebuah pemandangan yang tidak aku lihat sebelumnya, sebuah pemandangan yang menggetarkan hatiku. Sebuah senyum.... ya, ketika itu aku melihat ibu tersenyum dan berlari menuju garasi. "Ayah akan pulang..." gumamku ketika berlari mengikuti ibu menuju garasi, namun lagi - lagi ibu meninggalkan ku begitu saja. Tapi apa peduliku? toh ayah akan pulang kan? jadi aku pun bersiap, aku menyapu dan mengepel rumah agar ayah senang melihat rumah yang bersih.


Tidak lama setelah aku menyapu beberapa pekerja yang asing bagiku datang kerumah itu, dengan cekatan mereka langsung membersihkan rumah dan pekerjaanku diambil alih begitu saja. Semua bekerja dengan baik sampai - sampai aku tidak memiliki tugas lagi, jadi aku kembali berinisiatif membuat toast coklat keju kesuakaan ayah. Tidak boleh terlalu gosong dan pinggiran rotinya harus dibuang.... aku sangat hafal kesuakaan ayah, dengan cekatan aku membuatkan roti itu untuk ayah di dapur.


Mungkin saat itu aku terlalu bersemangat membuatnya dan terlalu cepat sampai roti itu menjadi kering dan dingin namun ayah belum juga datang, Namun pada akhirnya aku mendengar suara deru mesin mobil berhenti tepat didepan pelataran rumah. Dengan semangat aku berdiri dan hendak berlari namun tiba - tiba aku teringat jika ayah seperti itu karena ulahku, bagaimana mungkin ayah akan memaafkanku, dan aku adalah anak yang nakal... ayah pasti membenciku. tentu saja.....


Aku berjalan dan bersembunyi disebuah tiang untuk menatap ayah dari kejauhan, disana aku melihat ayah duduk disebuah kursi roda dan ibu yang mendorongnya. Ibu dan ayah terlihat saling berbicara namun aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, aku pun meninggalkan mereka dan kembali menuju dapur. Tempat yang tidak pernah ayah injakkan kakinya dirumah itu, aku bersembunyi ditempat itu. Bersembunyi dari ayah... tidak bukan, aku bersembunyi dari kemarahan ayah dan ibu akibat dari kenakalanku sendiri. Sampai tiba - tiba ibu masuk kedalam dapur itu dan mencariku, tanganku langsung bergemetar ketika menatap ibu yang menatapku.


"Ayah mencarimu, dia dikamarnya sekarang" ucap ibuku ditengah keheningan, aku berdiri dari dudukku dan hendak berjalan menuju kamar namun ibu menarik lenganku ketika itu. "Berjanjilah untuk tidak membantah lagi" ibu mengatakannya dengan menatapku penuh rasa amarah, aku yang ketakutan saat itu hanya dapat menganggukkan kepala merespon perkataan ibu. Tidak lama ibu melepaskan tangannya dan kemudian menatap toast yang aku bikin untuk ayah, ibu berjalan mendekati meja dan mengambil toast itu lalu memberikannya padaku. "Kamu yang membuatnya kan? apa ini untuk ayah?" saat itu ibu sembari memberikan piring itu ditanganku, aku hanya mengangguk merespon pertanyaan ibu. "Berlarilah ke ayah dan berikan toast ini padanya" kalimat itu yang menggerakkan kakiku untuk segera berlari menuju kamar ayah dan ibu.


Sesampainya di depan pintu kamar yang tertutup itu jantungku berdegup kencang, ketakutan ku menguasai otak sampai membuatku bergemetar hebat, dan tanganku seakan menolak perintah untuk membuka kamar itu. Namun pada akhirnya aku tetap membuka pintu kamar itu, didalam aku melihat ayah sedang duduk dikursi rodanya sembari menatap jedela dikamar itu. Ayah yang menyadari kehadiranku langsung memutar kursinya agar berhadapan langsung denganku dan saat itu air mataku tiba - tiba pecah "Maaf...." kalimat pertama ku setelah delapan bulan aku tidak bertemu dengannya karena ulahku.


"Maaf.... maafkan aku...." aku terus membatu didepan pintu kamar itu sembari menatap mata ayahku yang menatapku, ayah memberi gestur agar aku mendekatinya. Perlahan aku berjalan mendekatinya dan ketika aku sudah sangat dekat dengannya air mata ku semakin deras dan mulutku sudah tidak mampu bergerak untuk mengucapkan kata "maaf", ketika itu ayah memelukku dengan erat sembari berkata "Syukurlah.... syukurlah kamu baik - baik saja.... ayah tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri kalau kamu terluka..." suara serak ayah karena menangis saat itu menambah rasa bersalahku pada ayah.

__ADS_1


__ADS_2