
Pagi hari di salah satu universitas swasta terkenal dipusat kota yang terlihat sepi dari aktifitas mahasiswa dan mahasiswi yang menuntut ilmu di universitas itu karena masih dalam suasana libur semester ganjil, tidak terkecuali fakultas ekonomi dimana menjadi jurusan yang dipilih oleh Jester dan Naomi. Sebuah Ferrari 458 melaju lambat menuju parkiran kampus, disana sebuah Mercedes Benz E300 sudah terparkir dan menjadi satu - satunya mobil yang ada.
Di atas kap Mercedes Benz E300 itu terlihat Selena yang mengenakan celana overall jeans dan kaos berwarna putih dengan rambut pendek potongan bob nya duduk sembari memeluk beberapa buku seperti sedang menunggu seseorang, melihat kehadiran Ferarri 458 dengan sigap Selena pun sedikit melompat dari kap dan menunggu Jester memarkiran mobilnya dengan sempurna. Tidak lama Jester dan Naomi turun dari mobil lalu langsung menghampiri Selena yang berdiri disebelah mobilnya, Naomi dan Selena saling menatap dengan tajam.
"Pagi indah seperti ini kenapa aura permusuhannya kuat banget" celetuk Jester saat melihat Naomi dan Selena saling tatap dengan penuh kebencian
"Kenapa ranking bawah ini ikut? memang dia bisa apa?" tanya Selena dengan sindiran
"Aku bisa membuat kamu tidak bersikap gatal pada Jess ku!" jawab Naomi membalas sindiran Selena dengan ketus
Dua orang yang pernah saling menjaga karena ikatan persahabatan yang terjalin berubah seperti tikus dan kucing yang sulit untuk akur sejak polemik yang terjadi diantara keduanya karena seorang Jester yang menjadi rebutan, si kutu buku yang mendapat predikat jomblo abadi berhasil merebut perhatian dua sahabat yang begitu dekat sejak kecil. Belum lagi hasutan Camilla pada Selena yang semakin menjauhkan Naomi dengan Selena, benar - benar hubungan persahabatan yang kompleks.
"Mulai lagi donk!! stop! kita gak punya banyak waktu, oke?" terdengar kesal Jester mengatakannya, serentak Naomi dan Selena memandang Jester.
"Naomi.... jadi kamu lebih suka aku pergi dengan Selena atau Camilla?" tanya Jester dengan suara yang terdengar lembut
"Kenapa kamu tanya seperti itu Jess?" tanya balik Naomi dengan nada yang terdengar sebal, Jester menghela nafasnya saat mendengar pertanyaan Naomi.
"Begini... Camilla itu wanita yang pintar, mungkin Selena akan kalah dari dia... jadi kalau kamu membuang waktu untuk bertengkar seperti ini, usahaku untuk menjadi mentor Selena akan sia - sia. Lebih baik kita sudahi sekarang saja daripada kita semua membuang waktu" jawab Jester berusaha menjelaskan situasinya, walau Jester paham sebenarnya Naomi sangat memahami apa yang menjadi kekhawatiran Jester.
"Aku... mengerti...." timpal Naomi dengan suara yang terdengar menyesal, Jester membelai lembut rambut Naomi.
"Aku juga tidak ingin pergi dengan siapapun selain kamu, tapi aku juga tidak punya pilihan... aku butuh pengertian mu saat ini karena aku juga sulit untuk menerimanya" ucap Jester terdengar lembut, Naomi tersenyum menatap mata Jester.
"Bisa kita hentikan ini? kalian membuat perasaanku tidak nyaman" celetuk Selena dengan nada yang terdengar marah, Jester tertawa lalu meminta buku - buku yang Selena pegang saat itu.
"Buku apa yang kamu bawa?" tanya Jester, Selena memberikan buku - buku yang dia pegang kepada Jester.
"Itu buku materi yang dosen minta aku untuk membacanya dan..." belum selesai Selena berkata, Jester memotong.
"Kita tidak memerlukan materi ini, aku akan buat kamu belajar secara efektif untuk khusus untuk perlombaan" timpal Jester dengan percaya diri
"Hah? kamu mau membuat contekan untuk Selena?" tanya Naomi dengan heran
"Pada dasarnya kamu akan belajar saat membuat contekan, hanya saja ketika kamu lupa kamu bisa langsung mengingatnya saat membuka contekan itu" jawab Jester dengan senyum sinis
"Tapi kak... ini hanya akan menjadi seleksi yang akan dilakukan dua orang, aku takut tidak punya kesempatan untuk..." belum selesai Selena berkata, Jester menyela lagi.
"Kamu tidak memerlukan contekan itu, aku hanya ingin kamu menulis materi disebuah kertas yang anggap saja kamu sedang merangkum sebuah contekan... daya ingat kita akan lebih kuat saat kita mendengarkan sambil menulis apa yang kita dengar, cara seperti itu akan sangat efektif untuk seseorang dengan prinsip sistim kebut semalam" timpal Jester, Selena menghela nafasnya.
"Sepertinya akan melelahkan.... tapi aku juga tidak punya pilihan" ucap Selena terdengar capek
"Kamu bisa melakukannya, kamu punya modal untuk itu" puji Jester kepada Selena sembari menyentuh dahi Selena dengan jari telunjuk, dengan senyum manis Selena tersipu malu mendengar pujian Jester. Sebuah sentuhan yang tentu saja membuat Naomi cemburu.
"Ehem!!" deham Naomi dengan keras sampai membuat Jester berkeringat dingin
"Ayo kita segera ke perpustakaan kampus!!" ucap Jester dengan suara yang terdengar panik
Pagi yang cerah berganti Sore, matahari sudah memberikan tanda - tanda akan segera terbenam, di perpustakaan kampus terlihat Jester dan Selena yang sedang belajar dengan serius bersama sedangkan Naomi asyik membaca beberapa buku yang ada di perpustakaan itu.
"Yak cukup sampai disini dulu, besok kamu akan berhadapan langsung dengan Camilla. Rangkuman yang kamu buat itu jangan lupa untuk dibaca ulang, itu akan memperkuat ingatanmu" ucap Jester menutup sesi belajar bersama diantara Jester dan Selena
"Terima kasih kak" ucap Selena sembari merapihkan buku - buku miliknya yang berserakan di atas meja
__ADS_1
"Aku yang berterima kasih padamu, aku berharap kamu bisa mengalahkan Camilla kali ini" ucap Jester, Selena hanya tersenyum lalu pergi dari perpustakaan itu begitu saja.
"Naomi, ayo kita pulang" ajak Jester kepada Naomi, saat itu Naomi hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon ajakan Jester.
Mereka berdua berjalan bersama sampai diparkiran kampus dan meninggalkan Selena yang masih sibuk membereskan beberapa buku disana, belum juga masuk ke dalam mobil suara dering handphone Jester pun terdengar. Dengan segera Jester mengambil handphone miliknya yang dia letakkan didalam saku celana panjangnya, tertulis nama "Si Gorila" yang menelepon Jester.
***
"Ya Luke, ada apa?" tanya Jester begitu mengangkat telepon itu
"Hei, apa yang terjadi pada Sarah? dia terlihat frustasi dan sangat sedih" jawab Luke dengan suara yang terdengar begitu mengkhawatirkan Sarah, Jester menghela nafasnya sejenak.
"Kamu mungkin sudah tahu kalau Sarah itu gak tahu siapa ayahnya, saat ini selain dia tahu siapa ayahnya dia juga mengetahui kalau dia berdarah Gates dan lebih dari itu, kakek ku ingin aku menghancurkan Arielle Corp" jawab Jester
"Hah?!! ada apa ini? kamu punya kakek?" tanya Luke terdengar kaget
"Ya tentu saja aku punya, memangnya papa lahir dengan cara dibawa oleh burung bangau?" ucap Jester menyindir Luke, Naomi tertawa disebelah Jester karena sebelumnya Jester juga bertanya hal yang sama pada William.
"Kamu dan Sarah adalah keluarga? lalu kamu mau menghancurkan Arielle Corp? apa yang sebenarnya terjadi?!" begitu banyak pertanyaan yang diucapkan oleh Luke sampai Jester terlihat bingung harus memulai darimana.
"Aku akan ceritakan padamu saat waktunya telah tiba, aku juga membutuhkan bantuan mu agar aku bisa membuat perusahaan dibawah Gates mengalahkan Arielle Corp tanpa harus menghancurkannya. Semua sudah tertata rapih dan aku akan jelaskan jika waktunya tiba, sangat berbahaya jika rencana ini sampai terdengar oleh kakekku" jawab Jester dengan tenang
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku harus menemani Sarah dulu, dia menangis seharian penuh bahkan untuk makan saja dia tidak mau" ucap Luke dengan nada yang terdengar khawatir
"Dimana dia sekarang?" tanya Jester penasaran
"Dia ada di kontrakanku, seharian penuh mengurung diri didalam kamar. Apa kamu bisa membantuku?" pinta Luke pada Jester
"Aku mengerti, aku tunggu kabar selanjutnya darimu Jester" ucap Luke lalu menutup teleponnya
***
"Apa yang terjadi dengan Sarah?" tanya Naomi penasaran, Jester menghela nafasnya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
"Sarah sangat terpukul dengan fakta kalau dia masih punya ayah yang selama ini dia anggap sudah tidak ada, terlebih sepertinya nyonya Jessica sudah memberitahu semuanya sampai keinginan Gates yang tidak lain adalah keluarga dari ayahnya ingin menghancurkan satu - satunya yang menjadi kebanggan bagi Sarah" jawab Jester terdengar sedih, Naomi pun dapat merasakan seberapa sakitnya hati Sarah saat ini.
"Aku meminta Luke untuk membangkitkan Sarah kembali, bagaimana pun rencana ku akan sangat bergantung dengan seberapa kooperatifnya nyonya Jessica dan Sarah" ucap Jester melanjutkan perkataannya
"Jess... perlukah aku membantu Luke untuk menemani Sarah? aku rasa Sarah membutuhkan peran wanita disini" tanya Naomi dengan suara yang terdengar sedih, Jester mengelus kepala Naomi sembari tersenyum.
"Luke akan mengatasi Sarah dengan sangat baik, kalau memang Sarah membutuhkan peran seorang wanita tentu saja nyonya Jessica yang menjadi ibunya dan sangat menyayangi Sarah akan menjadi sosok yang paling tepat. Yang Sarah butuhkan adalah sosok pria yang dia yakini tidak akan menyakitinya, agar dimatanya tidak memandang semua pria buruk" jawab Jester, Naomi sempat tertegun memandangi wajah Jester lalu Naomi tersenyum lebar.
"Seperti aku... tapi untung saja aku masih punya sosok ayah yang menyayangiku sampai akhirnya aku bertemu denganmu... terima kasih Jess" ucap Naomi terdengar bahagia saat mengatakannya, mereka berdua pun saling balas tawa kecil.
Jester dan Naomi kembali melakukan perjalanan mereka dengan Ferarri 458 menuju kedai ice cream terdekat, sesuai janji pagi ini saat Jester menggoda Naomi sampai membuatnya kesal padanya. Kencan mereka berdua mereka lalui sampai menjelang malam, keduanya pun memutuskan untuk kembali ke kediaman besar Gates setelah merasa puas bersenang - senang.
Jester melajukan Ferarri 458 dengan kecepatan rendah agar mereka berdua tidak cepat sampai dirumah yang penuh ketegangan dan aura - aura yang menakutkan, perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu satu jam lebih lima belas menit namun malam itu Jester dan Naomi menempuhnya hampir dua jam lebih untuk sampai didepan pagar kediaman besar Gates.
Didepan pagar kediaman itu Jester melihat Porsche Taycan milik William pun baru sampai dikediaman besar Gates, Jester beberapa kali memberi lampu dim untuk memberitahu keberadaan Jester dibelakang mobil Porsche Taycan William. Tangan William keluar dari Jendela dan melambai lalu keduanya beriringan masuk kedalam rumah sampai ke depan pelataran, begitu berhenti hampir bersamaan Jester, Naomi dan William turun dari mobil dan mereka jalan mendekat.
"Papa, bagaimana urusan hari ini?" tanya Jester penasaran, William memberikan gestur jempol pada Jester
"Turner akan melakukan tugasnya dengan baik, aku sangat mengenalnya" jawab William begitu semangat
__ADS_1
"Bagus, berarti sekarang tinggal menunggu kabar dari ayah dan ibu" ucap Jester dengan senang karena kabar baik yang dibawa William, mendengar perkataan Jester membuat Naomi heran.
Mendengar Jester menyebut ayah dan ibu membuat Naomi sedikit kaget, Naomi yang tidak mengetahui bahwa Jester meminta bantuan kedua orang tuanya pun mencoba mencari tahu apa yang Jester rencanakan dan mengapa dirinya tidak diberi tahu akan hal itu.
"Kamu juga meminta bantuan ayah? kok kamu gak bilang sam aku?" tanya Naomi heran, Jester pun menoleh menatap Naomi dengan senyuman.
"Semakin sedikit orang yang mengetahui rencana maka semakin baik Naomi, kamu akan segera mengetahuinya dengan segera" dengan penuh semangat Jester mengatakannya, walau terlihat sebal namun Naomi memahami apa yang coba Jester jaga.
"Huuh~ baiklah, aku mengerti..." celetuk Naomi sebal dan wajahnya pun mendadak menjadi jutek, Jester dan William pun tertawa bersama. Namun tawa mereka terhenti ketika pintu utama terbuka, Julius keluar dari rumah dan berjalan mendekati Jester, Naomi dan William dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Apa apa pak Julius?" tanya Jester saat Julius sudah dekat dengannya
"Julius saja tuan muda Jester" jawab Julius dengan datar, mendadak Jester terdiam menatap Julius dengan kesal namun Julius membalas tatapan kesal Jester dengan sebuah senyuman.
Julius sering kali menginterupsi setiap Jester memanggilnya dengan sebutan pak membuat Jester kesal, pasti menjadi perdebatan kecil diantara mereka. Jester yang selalu menghargai orang yang lebih tua dengan sebutan yang sepantasnya benar - benar tidak terbiasa dengan permintaan Julius untuk memanggilnya hanya dengan sebuah nama. Didikan yang diberikan oleh William dan Marrie jauh berbeda dengan cara hidup Arthur dan itu membuat Jester menjadi sosok pemuda kaya yang sederhana dan selalu menghormati siapapun yang dia temui.
"Serius kita harus kembali membahas tentang ini?" tanya Jester terdengar kesal, Julius pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Jester.
"Tuan William... anda memiliki anak yang begitu menarik, Julius benar - benar berharap tuan muda Jester akan membawa perubahan di keluarga ini" dengan sedikit suara tawa yang terdengar dari setiap kata saat Julius mengatakannya, William pun tertawa keras mendengar perkataan Julius.
"Lalu ada apa Julius? tadi aku melihatmu sangat khawatir" tanya Naomi penasaran
"Ini tentang nyonya Marrie... tadi dia sempat dipanggil oleh tuan besar Arthur dan sejak saat itu nyonya Marrie tidak mau lagi keluar kamar, nyonya Marrie juga tidak makan sejak tadi pagi" jawab Julius terdengar sedih dengan sikap yang ditunjukkan oleh Marrie pasca kejadiannya dengan Arthur.
Sebagai putra yang begitu mencintai ibunya, Jester sangat khawatir akan keadaan Marrie. Dia cemas sesuatu terjadi pada ibunya, apalagi Julius menjelaskan hal itu terjadi setelah Marrie bertemu dengan sosok Arthur. Jester langsung saja berpikir bahwa sang kakek memberikan sebuah tekanan kepada Marrie dan hal itu membuat Jester marah besar kepada sang kakek.
"Apa kakek menekan mama?" tanya Jester yang terdengar marah saat mendengar jawaban Julius, dengan helaan nafas Julius sembari menggelengkan kepalanya.
"Terbalik tuan muda Jester, nyonya Marrie yang menekan tuan besar Arthur" jawab Julius dengan tenangnya, jawaban Julius membuat Jester, Naomi dan William terkejut sekaligus bangga namun lebih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar bersama dari Julius.
"Hah?!! gimana ceritanya?!!" tanya Jester, Naomi dan William bersamaan dengan sedikit berteriak
"Mu... mungkin nyonya Marrie akan menceritakannya secara langsung pada kalian" terkejut Julius ketika itu karena teriakan Jester, Naomi dan William bersamaan.
Tanpa basa basi lagi Jester, Naomi dan William berlari masuk kedalam rumah melewati banyak sekali penjaga dan pekerja kebersihan rumah. Hingga beberapa saat sampailah mereka didepan kamar William dan Marrie yang berada di kediaman besar Gates, William memutar ganggang pintu secara perlahan dan mendorong pintu juga dengan perlahan.
Didalam kamar yang terbuka itu Jester, Naomi dan William melihat Marrie berdiri menatap sebuah jendela besar yang langsung mengarah pada indahnya hutan di perbukitan. Mengetahui seseorang yang membuka pintu membuat Marrie menoleh menatap belakangnya, wajah Marrie terlihat sangat serius dan penuh emosi menatap Jester, William dan Naomi secara bergantian.
"Sa... Sayang.... kamu baik - baik... saja?" tanya William terbata, namun Marrie terlihat hanya diam saja
"Mama.... aku dengar kalau mama baru saja menekan kakek... apa benar?" tanya Jester karena Marrie hanya terdiam, Marrie pun membalik badannya agar tidak harus menoleh menatap Jester, William dan Naomi.
"Mama.... kenapa hanya diam?" tanya Naomi dengan paniknya menimpali pertanyaan William dan Jester.
"Tutup!" bentak Marrie, sontak bentakan Marrie membuat William, Jester dan Naomi tersentak. Dengan sigap William menutup pintu itu saat Jester dan Naomi sudah masuk didalam kamar, mengetahui pintunya sudah tertutup Marrie berjalan mendekati William dengan wajah penuh amarah.
"Sa.. sayang?!! kamu marah padaku?!!" tanya William ketakutan, Marrie tidak menghiraukan pertanyaan William sambil terus berjalan mendekat. Begitu sudah berdiri tepat didepan William, sejenak Marrie menatap tajam wajah William yang ketakutan itu.
"Aku takut!!!! huuaaa!!!!" ucap Marrie sembari menangis seperti anak kecil.
"Apa?!!!" sontak William, Jester dan Naomi mengatakan hal yang sama
Keributan pun terjadi karena Marrie menangis penuh emosi sembari memukul - mukuli William, tingkah Marrie yang tidak pernah Jester dan Naomi duga saat itu membuat mereka bingung harus berkata apa, belum lagi melihat William yang disiksa oleh Marrie membuat keduanya tidak tahu harus berbuat seperti apa dan hanya bisa pasrah melihat pemandangan tidak biasa yang ditunjukkan oleh Marrie dan William.
__ADS_1