Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Alasan


__ADS_3

Rabu pagi yang mendung dengan rintik air hujan yang turun, disebuah cluster perumahan tampak sepi dari aktifitas warganya. Disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang, terlihat Mercedes Benz C200 terparkir. Dengan pintu utama rumah yang masih terbuka, terlihat Jester berjalan dilorong utama rumah menuju ruang makan diikuti oleh Naomi. Diruang makan itu, seperti akan ada pertemuan yang tidak pernah diduga oleh Jester. Bertemu dengan cinta pertamanya yang juga telah memberikan luka begitu dalam pada hatinya, disana Jester pun membatu menatap Luna.


"Pagi kak" sapa Luna yang sedang duduk disalah satu kursi meja makan. Suara yang bahkan ingin Jester hindari untuk mendengarnya lagi tapi kali ini begitu jelas Jester dengar dan bahkan sosok pemilik suara itu ada dihadapannya.


Jester hanya terdiam dengan raut wajah yang menampakkan kesedihan lalu menundukkan pandangannya karena kenangan tentang Luna seakan terputar kembali di dalam pikirannya, dengan ragu Jester melangkahkan kaki menuju salah satu kursi makan yang berhadapan langsung dengan Selena lalu duduk disana. Saat itu Naomi yang mengikuti Jester dibelakangnya duduk disebelah Jester berhadapan dengan Luna, mereka pun terdiam beberapa saat.


"Maaf, aku bingung harus mulai darimana. Aku yang bertamu tapi malah kesulitan untuk berbicara" ucap Luna memecah keheningan, namun Jester sama sekali tidak bereaksi dan tetap terdiam. Mereka berempat dalam kondisi yang canggung, tidak ada satu pun yang mampu mencairkan suasana.


"Kamu.... katakan saja alasanmu, aku akan menerima apapun yang kamu katakan dan kamu segera pergi jauh - jauh dari hidupku" celetuk Jester dengan suara yang terdengar sedih dan sedikit bergemetar


"Kak jangan keras seperti itu padanya, dengarkan dulu alasannya dan terima dia ada disisimu la..." belum selesai kalimat Selena yang menyulut emosi Jester, Jester pun memotong.


"Terima dia disisiku? tidak ada tempat lagi untuknya, aku sudah punya Naomi disisiku!!" bentak Jester dengan gebrakan tangan dimeja, Naomi mengelus punggung Jester untuk meredakan emosinya.


"Aku juga tidak akan membiarkanmu berada disisinya" timpal Naomi tegas, mendengar ucapan itu Luna pun tersenyum.


"Tidak bukan seperti itu, kalian salah menangkap perkataan Selena" terdengar tenang Luna mengatakannya, perlahan Luna menepuk pundak Selena dan membuat Selena menoleh menatap Luna dengan tatapan yang terlihat sedih.


"Selena, ini adalah tugasku. Aku tahu kamu ingin membantu, tapi semakin banyak orang yang ikut campur maka akan semakin banyak juga kekacauan yang akan timbul. Serahkan padaku sampai sini, oke?" pinta Luna dengan lembut, mendengar permintaan Luna saat itu hanya membuat Selena membuang muka tanpa berkata apapun. Luna pun kembali menatap Jester dan Naomi dengan senyumnya


"Aku hanya punya waktu satu bulan lagi sebelum aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah bisa bertemu dengan kalian lagi" ucap Luna dengan helaan nafas


"Bagus, pergilah sekarang juga dan jangan kembali lagi" celetuk Jester, celetukan itu membuat Selena menggebrak meja terlihat begitu emosi. Suasana pagi yang mendung itu menjadi terasa kelam, emosi dari masing - masing yang ada disana bercampur menjadi satu. Terlebih Jester yang membawa luka hatinya harus dihadapkan dengan hal yang membuatnya kesulitan berfikir jernih, sikapnya pun membuat Naomi, Luna dan Selena cukup tidak tenang.


"Kak! kamu..." belum selesai kalimat selena, Luna segera menepuk punggung Selena dan menyuruhnya untuk diam


"Sayangnya jadwal keberangkatanku sudah ditentukan kak, jadi maaf aku tidak bisa segera pergi" timpal Luna dengan sedikit tertawa


"Kamu mau kemana?" tanya Naomi penasaran, Luna tersenyum menatap Naomi.


"Aku akan pergi ke luar negeri dan menetap disana" jawab Luna, mendengar jawaban itu membuat Naomi sedikit tertawa.


"Kamu masih bisa kembali kan, lagian penerbangan kemana pun lancar tanpa hambatan" ucap Naomi sedikit mengejek alasan Luna, namun Luna menanggapi Naomi dengan tawa.


"Naomi, aku ini dari keluarga yang tidak kaya. Tiket pesawat terasa mahal untukku dan lagi saat kami pindah maka konsekuensinya aku kehilangan kewarganegaraan, setiap kembali aku membutuhkan paspor dan visa" Luna mengatakannya dengan ramah dan tenang membuat Naomi terdiam, sesaat Luna kembali mengalihkan pandangannya menatap Jester yang masih termenung.


"Luka itu sangat dalam, aku menyadari betapa jahatnya aku saat itu padamu. Aku sangat menyesalinya dan sekarang aku cuma ingin menyembuhkan luka itu" dengan penuh penyesalan Luna mengatakannya


"Untuk apa? tidak perlu, aku baik - baik saja saat kamu tidak pernah muncul" Jester menolaknya dengan tegas, Luna menghela nafas mendengar perkataan Jester.


"Ini tidak hanya tentangmu kak, tapi untukku juga. Penyesalan seumur hidupku adalah perbuatan jahatku padamu, jika kamu tidak memaafkanku maka aku akan membawa penyesalan ini seumur hidupku" jelas Luna, saat itu Naomi seperti mendapat titik terang kenapa Luna menolak Jester.


"Kamu dulu menolak Jester karena tahu kamu akan pindah keluar negeri?" tanya Naomi mencoba memperkuat analisanya, Luna tersenyum menatap Naomi.

__ADS_1


"Iya, bayangkan saat itu aku menerimanya... aku tahu aku tidak bisa menemaninya dalam waktu yang lama, bagaimana aku bisa menerima kenyataan kami akan dipisahkan oleh keadaan" jawab Luna terdengar sedih, Jester pun berdiri hendak meninggalkan tempat itu namun tangan Naomi menahan.


"Tidak masuk akal, jika memang seperti itu kamu masih tetap bisa berada dinegeri ini bersamaku" dengan emosi Jester mengatakannya


"Jester... ini berhubungan dengan orangtua Luna, apapun yang terjadi perpisahan dengan orangtua tidak bisa dianggap sepele seperti ucapanmu. Pertimbangan Luna juga berat" timpal Naomi berusaha menahan Jester disana dengan memberi pengertian.


"Aku bisa membelikannya tiket pulang pergi semau dia! tidak ada alasan untuk hal konyol seperti itu!!" bentak Jester membantah perkataan Naomi


"Kamu tahu aku tidak akan sampai hati merepotkanmu seperti itu kak..." belum selesai Luna berkata, emosi Jester kembali meluap.


"Lalu kamu sampai hati menghinaku seperti itu?!!" bentakan Jester saat itu membuat genggaman tangan Naomi semakin erat karena takut, Naomi berdiri dan memeluk Jester untuk menenangkannya.


"Dia tidak mengatakan seperti itu Jess... tenangkan dirimu dulu dan dengarkan alasannya, tujuan kamu berada disini adalah agar kamu berdamai dengan hatimu" ucap Naomi lembut mencoba menenangkan Jester, perlahan Naomi melepaskan pelukannya dan mengarahkan Jester agar kembali duduk.


"Saat aku menolakmu diatas panggung itu, Selena sudah memperingatkan kalau aku harus segera menjelaskan alasannya padamu. Tapi aku terlalu muda saat itu, aku tidak bisa berfikir jernih dan normal ketika aku dihadapkan antara memilihmu atau orangtuaku, aku memilih untuk menghinamu seperti itu dan berharap kamu akan membenciku seumur hidupmu agar kamu bisa melupakanku" jelas Luna terdengar menyesal, Jester pun tertawa mendengar penjelasan Luna.


"Kamu sudah dapatkan yang kamu harapkan" sindir Jester dengan ketus, Luna tersenyum mendengar sindiran itu.


"Kamu benar kak, aku sangat merasakan kebencianmu padaku. Saat itu aku dihadapkan dua pilihan yang berat, pilihan pertama yang aku pilih waktu itu atau pilihan kedua yang Selena berikan padaku namun aku tidak memilihnya" dengan tenang Luna mencoba menjelaskan semuanya.


"Apa pilihan kedua itu?" tanya Naomi penasaran


"Selena bilang, kalau memang waktuku sudah ditentukan akan berpisah dengannya... kenapa aku tidak memberikan kenangan yang indah bersamanya, kenangan yang tidak akan kami sesali karena pernah saling mengenal, dan membahagiakannya sampai detik - detik terakhir" jawab Luna, perlahan Naomi menatap Selena dan keduanya saling bertatapan mata tanpa kata.


"Kamu pikir hatiku itu apa?!! apa kamu kira hati ini bisa kamu pakai untuk datang dan pergi sesukamu?!!" bentak Jester begitu marah


"Tidak begitu kak, kamu jangan berfikir aku menganggap hatimu..." ucapan Luna kembali dipotong oleh Jester dengan gebrakan meja.


"PERGI KAU!!" bentak Jester terdengar sangat emosional, amarahnya semakin tidak terkendali saat itu. Sontak Naomi berdiri dan memeluk kepala Jester untuk kembali menenangkannya.


"Jess... atur amarahmu, aku tahu kamu sangat kecewa. Jester yang aku kenal tidak seperti ini, dia tidak akan membentak - bentak wanita seperti ini... atur nafasmu seperti yang pernah kamu ajarkan untukku" penuh dengan kelembutan Naomi mengucapkannya, tidak terasa air mata Jester pun menetes begitu deras.


"Maaf.... maaf aku membentakmu... aku cuma ingin kamu pergi dan biarkan aku hidup damai dengan hatiku meski luka ini masih ada" terdengar pilu Jester mengatakannya


"Kalian bisa tinggalkan kami? kita akan bicarakan ini lagi nanti" usir Naomi namun dengan suara yang lembut


"Luna tidak punya..." ucapan Selena yang menggebu - gebu saat itu dipotong oleh Luna


"Kami mengerti, selamat pagi kak Jester... Naomi..." dengan senyuman Luna mengatakannya, Luna pun menarik tangan Selena dan segera meninggalkan rumah itu. Tersisalah Jester yang terdiam dan menangis berada didalam pelukan Naomi yang terlihat membelai rambutnya, dalam benak Naomi tidak menyangka Jester yang selama ini terlihat kuat diluar ternyata sangat rapuh didalam.


"Jester..." ucap Naomi memecahkan keheningan, namun Jester memotong.


"Aku tidak ingin menyakiti siapapun agar orang lain tidak menyakitiku, karena itulah aku tidak sembarangan ketika berpacaran dengan seseorang dan memberikan hatiku pada satu orang yang aku anggap tepat untukku" gumam Jester dengan suara yang terdengar serak, Naomi menganggukkan kepalanya beberapa kali merespon gumaman Jester.

__ADS_1


"Aku tahu dan aku sangat paham" timpal Naomi dengan suaranya yang lembut


"Aku selalu berpegang pada prinsipku untuk tetap setia pada pilihan hatiku walau aku sering kali dianggap aneh oleh teman - temanku, tapi aku tidak pernah peduli dan terus hidup memegang prinsip itu" gumam Jester lagi, mendengar gumaman itu membuat Naomi semakin erat memeluk kepala Jester.


"Jess dengarkan aku... tidak ada yang salah dengan prinsipmu, prinsipmu menjadikanmu sebagai pria yang baik dimata kami para wanita. Kita sudah mendengarkan alasan Luna kan? dia memiliki pilihan berat antara mempertahankan cintanya atau pergi bersama kedua orangtuanya, kamu tidak bisa menyalahkan dia akan pilihannya saat itu" jelas Naomi dengan suara yang lembut mencoba memberi pengertian kepada Jester, namun Jester seakan menolak penjelas Naomi dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali dalam pelukan Naomi.


"Itu bukan alasan, dia hanya mencari pembenaran atas sikap jahatnya kepadaku" terdengar lirih Jester mengatakannya, Naomi pun menghela nafas.


"Kalian masih sangat muda saat itu, kelas satu SMA bukanlah waktu yang tepat untuk terpisah dari orangtuanya. Kamu sudah dengar alasannya dan jangan egois" ucap Naomi


"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" tanya Jester terdengar lebih tenang, perlahan Naomi melepaskan pelukannya dan duduk kembali disebelah Jester.


"Dia punya waktu satu bulan lagi sebelum pergi, kenapa tidak mencoba untuk bersamanya? mungkin saat itu kamu dan hatimu akan berdamai" jawab Naomi, jawaban itu membuat Jester menatap Naomi dengan heran.


"Aku sudah punya..." belum selesai Jester mengatakannya, Naomi memotong.


"Kamu punya aku dan aku punya kamu... tidak akan ada yang bisa merubah itu, tapi saat ini hatimu meronta - ronta kesakitan... aku tidak akan tega untuk membiarkannya begitu saja. Jika memang itu bisa menyembuhkan lukamu, aku tidak keberatan" timpal Naomi dengan senyuman, Jester kembali membuang muka.


"Kenapa kamu..." belum selesai Jester meneruskan kalimatnya, lagi - lagi Naomi memotong seakan dia paham apa yang akan Jester katakan.


"Aku percaya padamu, hal seperti ini tidak akan pernah bisa membuatmu meninggalkanku. Aku bertaruh pada kemungkinan kamu akan meninggalkanku, tapi jika aku memenangkan taruhan ini maka aku akan melihat hatimu tersenyum bahagia karena luka itu sudah tersembuhkan" timpal Naomi, ucapan Naomi membuat Jester tertegun memandangi wajahnya.


"Dalam hidupku saat ini yang terpenting adalah menjaga hatimu agar tetap baik - baik saja, kalau memang ada obat yang bisa menyembuhkannya walau aku harus berkorban.... aku akan terima itu dengan lapang dada" ucap Naomi terdengar tenang dan tetap tersenyum menatap Jester yang tertegun memandanginya


"Tapi kenapa?" tanya Jester terdengar heran


"Karena aku mencintaimu" jawab Naomi dengan tulus dan dengan suara yang terdengar lembut, Jester pun tersipu malu dan membuatnya kembali membuang muka.


"Ba.... bagaimana kalau aku... tiba - tiba berpaling hati?" tanya Jester terbata, wajahnya pun memerah saat bertanya seakan mencoba mencari tahu apakah Naomi memiliki rasa cemburu padanya. Tiba -tiba Naomi pun mencubit perut Jester berkali - kali


"Aaw aw aaww!! Naomi!!" rintih Jester kesakitan sambil mengalihkan pandangannya menatap Naomi yang terlihat jutek, Naomi berhenti mencubit perut Jester namun wajah ngambeknya masih dia tunjukkan didepan Jester.


"Aku akan cubitin perutmu seratus kali lipat dari yang kau terima sekarang!" bentak Naomi saat itu, sontak Jester berdiri lalu memeluk Naomi begitu erat. Pelukan itu membuat Naomi terkejut, perlahan Naomi membalas pelukan Jester.


Setelah melewati hari yang berat karena kedatangan Luna yang membuat emosi Jester campur aduk, kini mulai mereda dengan kehadiran Naomi disisinya. Sikap lembut dan kalimat menenangkan dari Naomi mampu membuat Jester bertahan dengan kewarasannya.


"Terima kasih, selama ini tidak ada yang bisa memahami hatiku lebih baik dari aku sendiri... selama ini aku pikir ketidakhadiran Luna dalam hidupku adalah yang terbaik, tapi aku salah dan kalau aku merasakannya lebih dalam maka perkataanmu tentang hatiku yang meronta - ronta kesakitan ada benarnya...." ucap Jester terdengar sedih


"Jester..." celetuk Naomi dengan lembut


"Papa pernah bilang aku selalu tidak bisa membedakan mana yang aku butuhkan dan mana yang aku inginkan, semuanya selalu terbalik - balik. Aku akan mencoba mengikuti saranmu, temani aku untuk berdamai dengan hatiku" pinta Jester penuh harap, dengan anggukan kepala Naomi menerima permintaan Jester.


"Kita pernah terluka dimasa lalu, kamu menolongku dan aku juga akan menolongmu... semangat ya.." timpal Naomi

__ADS_1


__ADS_2