
Minggu malam ditemani hujan yang deras disebuah rumah sakit dipinggiran kota, Naomi, Blenda, dan Liam terlihat didalam salah satu kamar perawatan sedang duduk dekat dengan Becca yang terbaring dikasur rumah sakit. Mereka asyik mengobrol penuh canda tawa seperti sedang menghibur Becca yang dirawat disana, sedangkan dilorong rumah sakit depan kamar Becca nampak Jester dan Daniel duduk bersebelahan disebuah kursi yang tersedia terlihat saling terdiam satu sama lain.
Disaat bersamaan namun ditempat yang berbeda, tepatnya disalah satu sudut restoran hotel Gates. Marrie dan Naoko sedang duduk berhadapan pada malam itu, ditemani sebuah wine dan beberapa makanan kecil sebagai sajian menu pembuka keduanya. Beberapa saat kemudian datang waitress untuk menyajikan hidangan selanjutnya yang mereka pesan, hingga semua sudah dipastikan tersaji diatas meja waitress pun meninggalkan keduanya. Naoko dan Marrie tetap berhadapan namun masih saling terdiam, Naoko terlihat bingung dengan sikap Marrie malam itu.
"Bagaimana kesehatan Evans?" tanya Marrie membuka obrolan, Naoko menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Agak buruk, kadang dia tiba - tiba merasa pusing. Kesehatannya sedang naik turun, aku sangat mengkhawatirkannya akhir - akhir ini" jawab Naoko terdengar sedih, Marrie pun ikut prihatin mendengarnya.
"Aku turut sedih, apa tidak ada cara agar Evans sembuh?" tanya Marrie lagi, Naoko heran menatap Marrie yang tiba - tiba membicarakan kesehatan Evans.
"Ada apa? kamu mengundangku cuma untuk membicarakan kesehatan Evans?" tanya Naoko dengan nada yang terdengar heran, Marrie pun tersentak mendengar pertanyaan Naoko.
"Hohoho... tidak bukan untuk itu aku mengundangmu secara khusus malam - malam seperti ini, kamu tahu kan aku sedang mengajakmu untuk mereview kembali rencana kita" jawab Marrie sedikit panik, Naoko meneguk wine nya lalu kembali menatap Marrie
"Bukankah semua sudah berjalan sesuai rencana?" tanya Naoko
"Iya sih..." jawab Marrie singkat
"Setelah memaksa Naomi dan Jester tinggal dalam satu rumah, menarik mobil mereka agar mereka selalu bersama, sedikit mengancam mereka dengan mengatakan kalau kita tahu tentang kebohongan mereka, menghentikan Camilla dan Selena yang terlalu mengganggu rencana kita dengan mengirim sebuah flashdisk berisi foto Camilla kepada Luke dan Harry. Selain menunggu pernikahan mereka sebelas bulan lagi, Apa ada yang terlewatkan Marrie chan?" tanya Naoko, Marrie pun terpaksa tertawa mendengar penjelasan panjang lebar Naoko saat itu.
"Naoko... aku sebelumnya minta maaf, aku ingin bertanya padamu secara pribadi. Sebagai sesama ibu, aku perlu tahu sesuatu darimu" tanya Marrie dengan nada yang terdengar sedih, mendengar ucapan Marrie saat itu membuat Naoko penasaran. Naoko melipat kedua tangannya diatas meja dan memajukan badannya siap mendengarkan Marrie, keduanya pun saling bertatapan mata dengan tatapan yang serius.
"Apa yang kamu lakukan pada Naomi selama ini?" tanya Marrie dengan tegas, Naoko terkejut dengan pertanyaan Marrie namun berusaha untuk tetap tenang. Garis senyum nampak di bibir Naoko, dengan tawa ringan Naoko merespon pertanyaan Marrie.
"Apa maksudmu? aku tidak paham pertanyaanmu" jawab Naoko tenang, Marrie menundukkan pandangannya menatap meja.
"Aku dengar dari Jester, Naomi yang sekarang bukanlah sosok Naomi yang sesungguhnya. Apa yang membuatmu menginginkan Naomi bersikap seperti sekarang? kenapa kamu harus melakukan itu dan satu lagi, aku sadar sebagai ibu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun yang aku lihat dan dengar sangat membuatku syok. Apa yang sebenarnya terjadi?" Marrie menjelaskan maksud dari pertanyaannya, dengan helaan nafas Naoko bersiap untuk menjawab pertanyaan Marrie.
"Sejauh apa yang sudah kamu dengar?" tanya Naoko masih dengan nada yang terdengar tenang, mendengar pertanyaan Naoko yang tidak terdengar marah itu membuat Marrie kembali menatap Naoko dengan heran.
__ADS_1
"Aku pikir kamu akan marah karena aku menanyakan hal ini" jawab Marrie terdengar heran, namun Naoko malah tertawa mendengar ucapan Marrie.
"Tidak, aku gak marah hanya karena sebuah pertanyaan seperti itu. Memang benar, Naomi yang sebenarnya tidak seperti itu, cepat atau lambat kamu pun akan menyadarinya" timpal Naoko dengan sedikit tawa, namun Marrie tetap heran melihat respon Naoko.
"Naoko, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu melakukan itu pada Naomi?" tanya Marrie dengan penuh perasaan heran dan bingung, Naoko mengalihkan pandangannya menatap langit - langit restoran seperti sedang mengingat sesuatu.
"Semua aku lakukan untuk Evans, semua bermula saat Evans mengetahui anakmu adalah seorang laki - laki. Saat itu Evans terobsesi ingin memiliki anak perempuan yang kemudian akan dijodohkan dengan anakmu, namun mengingat hubungan permusuhan kita dulu... aku yakin kamu pun pasti memiliki pikiran yang sama denganku, tidak sudi berbesanan denganku kan? jadi aku berharap anak dalam kandunganku adalah laki - laki" sedikit tertawa Naoko saat menjelaskannya, Marrie pun tersenyum mendengar Naoko yang tertawa saat itu.
"Aku mengejar Evans saat kita masih SMA dan bahkan ketika dimasa perkuliahan pun aku terus mengejarnya, aku begitu mencintainya apapun yang telah Evans lakukan untuk menyakitiku dan menjauhkan aku darinya. Namun pada akhirnya Evans berhasil aku dapatkan, saat itulah aku bertekad agar Evans selalu bahagia saat bersamaku" Naoko kembali melanjutkan ceritanya dan kali ini senyuman Naoko menghilang, tatapan matanya menjadi sedih menatap Marrie.
"Naomi lahir satu tahun setelah Jester lahir, semakin tumbuh besar Naomi tidak menunjukkan sisi feminimnya seperti yang Evans inginkan dari seorang anak perempuan... aku sangat kecewa melihat anak perempuanku yang begitu liar dan bertingkah seperti seorang anak laki - laki, sehingga saat itu aku mulai mendidiknya agar dirinya menjadi sosok perempuan yang selayaknya" Naoko meneruskan ceritanya dengan nada yang terdengar sedih, Marrie pun menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk merespon cerita Naoko.
"Tapi aku melihat kamu terlalu kejam pada Naomi, dia sampai menjadi sosok yang bukan dirinya. Apa tidak ada..." ucapan Marrie dipotong oleh Naoko
"Apa Jester sudah menceritakan tentang Naomi yang dulu?" tanya Naoko tenang
"Sebagian, Jester mengatakan Naomi sering berantem dengan anak laki - laki dan memanjat pohon adalah hobinya" jawab Marrie, Naoko pun tertawa mendengar jawaban Marrie.
"Pelajaran tanpa pengorbanan tidak akan menghasilkan sesuatu, sayang sekali pengorbanan yang Naomi ciptakan sangat berat dan besar. Mengorbankan kesehatan Evans dan membuat luka abadi dihati Naomi, menjadikannya seperti yang saat ini kamu kenal" ucap Naoko meneruskan perkataannya, Marrie pun mulai memahami apa yang sebenarnya telah terjadi pada Naomi dan Naoko.
"Tapi sampai kapan kamu akan melakukan ini pada Naomi? awalnya aku pikir dia memang seperti dirimu dengan keanggunanmu, tapi setelah tahu kalau dia hanyalah refleksi dari yang kamu dan Evans inginkan... aku iba padanya" tanya Marrie terlihat sedih, namun Naoko tersenyum mendengar ucapan Marrie.
"Bukankah kewajiban orangtua pada anak akan terlepas saat anaknya sudah menikah?" tanya Naoko dengan senyuman, Marrie seperti tersadar akan sesuatu saat mendengar pertanyaan Naoko.
"Aku merasa sangat tenang calon suami Naomi adalah Jester, seorang pria baik yang peka atas perasaan orang lain. Biarkan Jester yang menuntun Naomi untuk melepaskan belenggu yang sudah aku berikan padanya, jika saat itu tiba aku tidak akan melakukan apapun karena aku percaya, Jester akan lebih baik dalam hal mendidik Naomi daripada aku" jawab Naoko terdengar senang, Marrie pun tertawa malu mendengar ucapan Naoko saat itu.
"Aku merasa kalah sebagai seorang ibu denganmu, bagaimana pun aku sempat salah paham dan menganggapmu sebagai ibu yang jahat" celetuk Marrie dengan nada yang terdengar menyesal, namun Naoko malah tertawa mendengar celetukan Marrie saat itu.
"Aku yang merasa kalah darimu, Jester tumbuh menjadi pria yang baik. Kesetiaannya, prinsipnya, pola pikirnya dan berani berkorban demi orang lain adalah sesuatu yang lebih berharga dari apapun didunia yang sudah penuh dengan pengkhianatan ini, seorang anak dari keluarga kaya raya tapi tidak menjadikannya seorang playboy... bukankah itu luar biasa? dan kamu tahu, Jester sampai detik ini belum menyentuh Naomi sama sekali" dengan nada yang terdengar antusias Naoko mengatakannya, Marrie pun terkejut seakan tidak mempercayai yang Naoko katakan.
__ADS_1
"Benarkah? bagaimana kamu tahu?" tanya Marrie yang juga terdengar antusias, Naoko tertawa terbahak - bahak sebelum menjawab pertanyaan Marrie.
"Aku melihat sebuah kasur lipat yang ada di ruang keluarga, sepertinya setiap hari Jester dan Naomi tidak berada disatu kamar. Padahal kita sudah susah - susah mencari rumah dengan satu kamar, tapi mereka terlalu keras kepala" jawab Naoko terdengar semangat menceritakannya, Marrie mendadak kesal mendengar cerita Naoko.
"Dasar anak bodoh, Naomi begitu cantik dan anggun... apa lagi yang ditunggu Jester kan? jika itu William atau Evans, mungkin pernikahan mereka akan lebih cepat" celetuk Marrie dengan nada yang terdengar kesal, Naoko pun tertawa merespon celetukan Marrie.
Obrolan antar ibu pada malam hari itu pun terasa hangat, dua orang yang telah lama bermusuhan namun pada akhirnya menjadi teman yang akrab karena perjodohan anak mereka. Pertemuan mereka pun diakhiri dengan penuh canda tawa pada malam itu.
Malam yang ditemani hujan deras pun berganti pagi yang cerah pada hari senin, Jester dan Naomi mengawali pagi mereka dengan keributan kecil yang mereka ciptakan berdua seusai sarapan. Ya.... Naomi masih saja terobsesi dan memaksakan kehendaknya untuk merubah penampilan Jester agar mengikuti style yang dia inginkan, namun lagi dan lagi Jester selalu pasrah akan tindakan Naomi itu. Lalu mereka pun bergegas berangkat bersama menuju kampus dengan senyuman merekah penuh semangat, melewati padatnya jalanan perkotaan dan diselingi dengan obrolan ringan.
Parkiran kampus selalu menjadi tujuan utama keduanya saat berada disana, berpisah dan menuju kelas masing - masing adalah ritual yang biasa bagi mereka. Sampai di salah satu lorong kampus Jester berpapasan dengan Selena yang terlihat baru keluar dari ruang tata usaha, saat berbalik Selena bertatapan mata dengan Jester. Dengan senyuman Jester hendak menyapa Selena, namun Selena menundukkan kepalanya dan melewati Jester begitu saja tanpa sepatah katapun.
Terkejut Jester melihat Selena yang tiba - tiba menjauhinya seperti itu, sontak Jester berbalik dan menarik lengan Selena agar berhenti berjalan. Namun saat itu Selena langsung menarik lengannya dengan keras agar terlepas dari genggaman tangan Jester, tidak ingin menyerah Jester pun terus berusaha untuk menghentikan langkah Selena.
"Heii.... kamu menghindariku? atau kamu tidak ingin berbicara denganku karena kejadian dicafetaria?" tanya Jester berusaha menghentikan Selena, namun Selena tidak menghiraukan dan terus berjalan menjauhi Jester.
"Selena.... heii!!" Jester kembali menarik lengan Selena yang membuatnya menghentikan langkah, Jester sedikit berlari memutari dan langsung berhadapan dengan Selena namun Selena masih menundukkan kepalanya menghindari kontak mata dengan Jester.
"Selena, aku tidak marah padamu kalau kejadian di cafetaria yang membuatmu seperti ini. Tapi jika kamu marah padaku tolong katakan saja, dimana salahku dan aku minta maaf untuk itu. Aku akan memberikan alasan yang mungkin bisa kamu terima" ucap Jester dengan nada yang terdengar panik, Selena tetap menundukkan kepalanya dan tidak menatap Jester sama sekali.
"Menjauhlah dariku, aku tidak ingin lagi melihatmu!!" dengan bentakan terdengar marah Selena mengatakannya, Selena pun kembali akan berjalan meninggalkan tempat itu namun Jester terus menghalangi langkah Selena.
"Tapi kenapa? aku tidak ingin kita seperti ini, ayolah Selena" ucap Jester memohon pada Selena, Selena mendorong Jester dengan keras sampai Jester mundur beberapa langkah.
"Minggir!! menjauh dariku!!" Selena hendak berlari saat itu namun lagi - lagi lengan kanan Selena digenggam oleh Jester, dengan agak kasar Jester menarik Selena agar dirinya menatap mata Jester. Saat itu wajah Selena menatap Jester dengan air mata yang mengalir deras melewati pipinya, Jester terkejut melihat Selena yang menangis.
"Ka... kamu kenapa? siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Jester dengan nada yang terbata penuh kekhawatiran, Selena kembali mendorong Jester dengan keras menggunakan tangan kirinya namun Jester bergeming. Tangisan Selena semakin menjadi, perlahan Jester melepaskan tangannya dari lengan kanan Selena.
"Aku ya.... aku yang sudah membuatmu seperti ini.... bodohnya aku masih bertanya..." tangan Jester pun terlihat bergemetar
__ADS_1
"Tolong jangan ganggu aku lagi kak.... pergilah dariku dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku.... aku juga akan pergi dari hidupmu.... maaf selama ini aku begitu keras kepala mengejarmu... kini semuanya sudah semakin jelas untukku... aku sudah tidak sanggup lagi..." dengan tangisannya yang semakin pilu Selena mengucapkannya, Jester pun tersentak mendengar perkataan Selena.