
Di ujung tebing pinggiran kota pada sore hari menjelang senja, terlihat dua sejoli yang berciuman bibir pada saat itu. Jester hanya terdiam saat Naomi mencium bibirnya, wajah keduanya terlihat memerah. Setelah beberapa saat Naomi mulai melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Jester kemudian berjalan mundur beberapa langkah menjauhi Jester, Jester terlihat membatu sedangkan Naomi masih menunduk tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah Jester secara langsung.
"Naa...." Jester berusaha memecah keheningan dan perasaan canggung mereka namun Naomi memberi gestur dengan tangannya agar Jester berhenti berbicara dan diam, dengan wajah yang masih tertunduk Naomi mulai berusaha menggerakkan bibirnya yang terlihat bergemetar.
"Boleh aku berbicara?" tanya Naomi dan tangan Naomi masih menyuruh Jester untuk diam, Jester membatu beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Naomi.
"Ii...ya... Silahkan" dengan perasaan yang campur aduk antara malu, kaget, senang, dan gugup Jester menjawabnya, jantung Jester berdegup kencang dan membuat pengelihatannya semakin kabur.
"Aku.... Mungkin.... Aku tidak begitu yakin... tapi..." belum selesai Naomi berbicara, Handphonenya kembali berdering. Naomi langsung melemparkan Handphone miliknya kejurang tanpa keraguan sedikitpun bahkan tanpa melihat siapa yang meneleponnya saat itu, setelah membuang handphone itu Naomi kembali menatap Jester.
"Waaa!! kenapa kamu buang handphone itu?!" Jester panik sembari melihat kearah mana Handphone itu terlempar
"Tolong!! dengarkan saja aku!! tolong..." pinta Naomi dengan sedikit bentakan, Jester kembali menatap Naomi dan mendapati wajah Naomi yang sangat memerah. Jester memahami usaha keras Naomi menahan perasaan malunya ketika akan berbicara saat ini, Jester menatap Naomi dengan wajah yang serius.
"Saat ini aku tidak yakin dengan perasaanku, tapi satu hal yang pasti... aku hanya ingin meminta izinmu" ucap Naomi meneruskan perkataannya, Jester terheran dengan perkataan Naomi.
"Izinku?" tanya Jester dengan nada yang keheranan, tubuh Naomi terlihat bergemetar ketika mendengar pertanyaan Jester.
"Izinkan aku... izinkan aku untuk mencintaimu" jawab Naomi sambil menatap mata Jester, wajah Naomi benar - benar memerah.
"Haah?!! tidak! aku tidak bisa lakukan itu, Naomi bercandamu gak lucu!!" panik bercampur malu Jester mengatakannya, seketika lutut Jester menjadi lemas dan kesulitan untuk terus berdiri tegak.
"Aku tahu... aku tahu aku milik Daniel, aku akan jadi wanita paling tidak tahu diri karena berani mengatakan hal ini padamu" ucap Naomi, keduanya terdiam beberapa saat dan saling memandang. Naomi mengambil nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan sedangkan Jester masih membatu seakan tidak percaya dia akan ditembak oleh dua wanita dalam waktu yang berdekatan, antara senang, sedih, panik, bingung semua bercampur dalam pikiran Jester.
"Aku akan menjauh dari Daniel secepat mungkin yang aku mampu, kamu boleh menganggap aku sebagai wanita murahan atau apapun kalimat hina mu padaku. Aku akan terima Jester, asal kamu mengizinkan aku untuk bisa mengejar cintamu" ucap Naomi ditengah kebisuan diantara keduanya
"Aku tidak akan mengatakan hal hina apa pun kepadamu dan permintaanmu itu tidak bisa aku terima, ini tidak adil untukmu dan juga tidak masuk akal bagiku!" timpal Jester dengan suara yang terdengar sangat panik
"Anggap saja... Anggap saja aku meminjamkan hatiku untukmu, kita terikat kontrak kan? aku akan berusaha tetap membantumu mengejar cinta Camilla tapi tolong disisi lain kamu ijinkan aku untuk mengejar cintamu" Naomi menimpali perkataan Jester dengan paksaan, mendengar perkataan Naomi membuat Jester marah.
"Aku tidak bisa Naomi! tolong jangan sakiti dirimu lebih dari ini!!" Jester sedikit membentak Naomi, namun Naomi bergeming. Naomi menggeleng - gelengkan kepalanya, tangannya terlihat mengepal dan menatap Jester dengan tatapan tajam walau matanya mulai berkaca - kaca
"Aku akan ambil resiko itu jika memang itu akan melukaiku lebih parah!! bahkan ketika akhirnya kamu tidak menjadi milikku, aku tidak apa!! aku tidak apa - apa Jester... aku paham resiko yang akan aku ambil...." air mata Naomi pecah saat mengatakannya, tatapan marah Jester berganti menjadi iba saat Naomi mulai meneteskan air matanya.
"Tidak... aku tidak bisa dan tidak akan tega melakukan itu padamu. Maaf aku menolaknya" tegas Jester katakan itu walau nadanya terdengar lembut, Naomi menundukkan kepalanya sejenak dan terdiam beberapa saat sembari mengumpulkan keberanian untuk kembali berbicara.
"Aku tahu kamu pasti akan mengatakan itu, tapi aku tidak akan menyerah. Walau akhirnya kamu tidak akan ijinkan aku, aku akan tetap terus mengejar cintamu bagaimanapun caranya" dengan nada yang terdengar bergemetar Naomi masih berusaha menunjukkan tekadnya dan terus memaksa Jester, saat itu Jester sampai terlihat kesal karena Naomi keras kepala.
"Kenapa?! untuk apa perjuangan sia - sia mu ini?!" tanya Jester yang mulai heran dengan sikap Naomi, nada bicara Jester pun terdengar membentak.
"Aku tidak tahu, Apakah... kita jodoh yang sudah ditakdirkan?" tanya Naomi menatap mata Jester dengan tatapan penuh harap, Jester bisa merasakan pernyataan Naomi itu serius dan tidak ada sedikit pun terlihat bercanda.
Jester terdiam untuk beberapa saat sambil terus menatap mata Naomi, keduanya bertatapan mata untuk waktu yang cukup lama. Sesaat Naomi mulai tidak kuat untuk terus saling bertatapan mata dengan Jester dan akhirnya memilih menundukkan kepalanya, sedangkan Jester mulai mengatur pernafasannya untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Aku sudah berusaha untuk tenang dan berpikir setenang mungkin, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku tidak sampai hati melihatmu berjuang untuk sesuatu yang sia - sia seperti ini, cukup Naomi aku tidak ingin meneruskan pembicaraan ini" ucap Jester memecahkan keheningan, Jester terlihat sangat marah menatap Naomi.
"Walau tidak kamu izinkan, aku tidak peduli!! Aku tetap akan tetap mengejarmu!!" jawab Naomi membalas bentakan Jester, mendengar perkataan tegas Naomi membuat Jester tersentak dan terkejut setengah mati. Membayangkan dirinya yang dikejar - kejar oleh wanita seperti Naomi benar - benar membuatnya merasa jadi pria yang tidak tahu diri.
Jester tiba - tiba berlutut lalu bersujud didepan Naomi dan sedikit membenturkan dahinya ditanah, Naomi terkejut dengan tindakan Jester yang tiba - tiba itu dan segera berlari mendekati Jester dan langsung bersimpuh sembari memaksa Jester untuk mengangkat kepalanya. Jester menahan badannya agar tetap bersujud dihadapan Naomi sekeras apapun Naomi memaksa Jester untuk mengangkat kepalanya, namun Naomi terus berusaha mengangkat kepala Jester.
__ADS_1
"Jester!! kenapa kamu lakukan ini?! angkat ke..." perkataan Naomi dipotong oleh Jester
"Maafkan aku Naomi!! semua ini adalah salahku, aku yang telah menarikmu kedalam situasi yang tidak menyenangkan ini dan sampai membuatmu seperti ini! maaf!!" ucap Jester sambil sujud didepan Naomi, kata - kata Jester terhenti beberapa saat
"Aku tidak pantas untuk kamu cintai dan kamu kejar - kejar seperti ini! aku cuma pria bodoh yang tiba - tiba menarikmu saat diparkiran kampus! aku tidak pantas untuk kamu cintai, jadi tolong maafkan aku dan berhentilah menyakiti dirimu sendiri!" Jester melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi, dengan nafas yang mulai berat Jester berusaha untuk menahan air matanya karena rasa bersalahnya terlalu menguasai diri dan pikirannya.
Namun Naomi hanya terdiam tanpa ada gerakan apapun darinya, Jester mengangkat kepalanya untuk melihat Naomi. Naomi menutup bibirnya dan matanya terpejam ditambah air mata yang mengalir sangat deras membasahi pipinya dan terus mengalir menetes ketanah, melihat hal itu Jester panik langsung bersimpuh dan menggenggam kedua lengan Naomi dengan lembut.
"Jangan menangis seperti itu Naomi, aku mohon!! maaf kalau kata - kataku kasar padamu!" ucap Jester berusaha menenangkan Naomi, Jester telihat sangat panik melihat Naomi yang menangis seperti itu.
"Apa aku sehina itu? apa aku benar - benar kamu anggap tidak pantas untukmu? apa kamu jijik terhadapku?" tanya Naomi ditengah tangisannya, Jester semakin bingung dan dirinya sudah dalam tahap tidak dapat berfikir dengan normal.
"Tidak bukan seperti itu Naomi, kamu salah paham!! bukan itu... kamu terlalu sempurna untukku, kamu cantik, terkenal, pintar dan banyak lagi. aku tidak..." ucapan Jester di potong oleh Naomi
"Izinkan aku... aku mohon padamu Jester..." Naomi menundukkan kepalanya memohon pada Jester, Jester semakin panik saat itu dan berusaha mengangkat kepala Naomi namun Naomi menolaknya
"Aku harus apa?! aku tidak pantas dapat perlakuan seperti ini darimu!" bentak Jester terdengar mulai putus asa, Naomi masih menundukkan kepalanya.
"Izinkan aku... hanya itu..." jawab Naomi masih dalam tangisannya dan suaranya terdengar lirih, Jester memukul tanah dengan keras untuk meluapkan gejolak emosinya yang mulai tidak terkontrol.
"Baik!! baik Naomi! tapi aku memiliki syarat untukmu!" dengan keterpaksaan Jester menyetujui permintaan Naomi, nada Jester terdengar membentak saat mengatakannya namun Naomi bergeming dan tetap menundukkan kepalanya sembari bersimpuh.
"Apapun Jester.... apapun akan aku lakukan untukmu...." ucap Naomi
"Kamu tidak boleh memaksakan dirimu, Kamu gak boleh bersikap berlebihan dan yang terakhir aku ingin kamu berbaikan dengan Selena secepat mungkin" ucap Jester memberikan syarat kepada Naomi, nada Jester saat itu terdengar sedikit kesal.
"Ya, hanya itu dan kamu harus berjanji untuk itu!" Jester memaksa Naomi untuk menerimanya dan tidak menawar yang telah diajukan oleh Jester, Naomi mengangguk beberapa kali menerima syarat dari Jester.
"Aku bilang aku akan lakukan yang kamu perintahkan" jawab Naomi tegas sembari menatap Jester
"Haah... kenapa jadi begini sih? bisa kita pulang Naomi?" tanya Jester yang terlihat capek, Naomi hanya mengangguk dan mengikuti Jester berjalan ke mobil mereka.
Perjalanan pulang kerumah mereka pun berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun namun keduanya masih membisu, ketika sampai dirumah pun mereka masih saling membisu namun ada yang mulai berubah yaitu sikap Naomi yang menjadi lebih sopan dan manis didepan Jester. Jester saat itu sangat lelah dan akhirnya membiarkan Naomi bertingkah apapun yang dia inginkan walau tatapan Jester seperti kesal padan Naomi, Jester pun langsung menuju ruang tengah dan menggelar kasur lipatnya dan segera tidur diruang tengah itu. Namun baru memejamkan mata, Naomi mendekat lalu duduk disebelah Jester dan terdiam.
"Ada apa?" tanya Jester dengan nada yang terdengar lelah
"Kalau kamu mau, kamu bisa tidur dikamar dan biar aku yang tidur disini jika kamu tidak izinkan aku tidur bersamamu dikamar" jawab Naomi
"Apa aku punya pilihan?" tanya Jester
"Semua keputusan mu akan aku lakukan" jawab Naomi
"Kalau begitu tidurlah dikamar dan aku akan tetap disini" perintah Jester dengan nada yang datar
Naomi hanya memandangi Jester beberapa saat lalu pergi tanpa sepatah katapun menuju kamarnya, Jester mulai menarik selimutnya lagi dan berusaha untuk tidur namun kata - kata Naomi terngiang-ngiang di telinganya. Jester pun mulai gelisah dan tidak dapat tidur
"Argh!! siall!!" teriak Jester saat itu
Jester beranjak dari kasurnya dan langsung berjalan menuju kamar dimana Naomi berada, Jester membuka pintu kamar dengan keras sampai membuat Naomi terkejut. Diatas kasur itu Naomi duduk dan melipatkan tangannya di atas lututnya sambil memandangi Jester, Jester terlihat kesal menatap Naomi saat itu.
__ADS_1
"Aa... apa?!" tanya Naomi terbata
"Kamu pikir hanya kamu yang bisa mengungkapkan perasaan? aku akan ungkapkan perasaanku" Jawab Jester namun tetap berdiri di dekat pintu
"Hah?! kenapa tiba - tiba?" Naomi semakin terkejut saat itu hingga membuatnya membatu di kasur
"Semuanya berawal dari aku yang seenaknya mengakuimu sebagai pacarku di depan papa" ucap Jester
"Aah.. Eeh itu tidak apa, lupakan saja" timpal Naomi
"Aku yang sudah lama bersamamu ini, bagaimana mungkin bisa melupakan hal yang sudah terjadi denganmu" ucap Jester sedikit dengan tekanan
"La... Lalu apa apa yang mau kamu katakan?" tanya Naomi
"Aku yang mememintamu untuk jadi pacarku, sampai sekarang pun aku menganggap kita ini hanya pacar kontrak dan sejak kamu mengungkapkan perasaanmu, aku jadi kerepotan" jawab Jester
"Aa... Aku tahu... gara - gara aku mencampurkan perasaan pribadiku kedalam hubungan palsu kita kamu jadi kerepotan, maafkan aku" ucap Naomi dengan penuh penyesalan
"Itu benar... aku kerepotan sejak itu...." belum selesai Jester berbicara, Naomi memotong
"Aku minta maaf!" agak dengan bentakan Naomi katakan itu
".... Karena gak mungkin seorang selebgram terkenal sepertimu bisa suka sama orang menyedihkan seperti diriku ini!!" ucap Jester dengan nada yang menekan, Naomi terkejut dengan kata - kata Jester namun Naomi hanya terdiam menatap Jester
"Kamu itu cantik, pintar, terkenal, berkharisma. Kamu dan aku itu bagai bumi dan langit!! karena itulah aku merasa bisa berpacaran denganmu itu hanya sebuah mimpi" ucap Jester
"Aku tahu... aku tahu kamu itu pria yang suram, awal memulai hubungan palsu ini pun aku befikir apa - apaan aku bersama dengan pria seperti ini? namun setelah apa yang sudah kita lalui walau aku tidak ingin tapi perasaan ini muncul" ucap Naomi, Naomi sedikit menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan
"Aku tidak menduga akan mengandalkanmu saat kesulitan dan kamu juga bersikap saangaaat baik padaku. Saat terpuruk pun akhir - akhir ini aku hanya berfikir pasti akan diselamatkan olehmu. Kalau sudah begitu bukankah aneh kalau pada akhirnya aku tidak jatuh cinta padamu" ucap Naomi yang mulai mengalihkan pandangannya
"Jujur aku sangat senang walau aku lebih suka jika perasaanmu itu tidak terus berlanjut, jadi yang aku ingin katakan adalah..." Jester membungkuk dihadapan Naomi, Naomi yang mengalihkan pandangannya lagi ke Jester pun sampai terkejut dan sedikit bergerak mendekati Jester namun terhenti karena Jester mulai berbicara kembali
"Terima kasih!! Aku sangat senang atas perasaanmu Naomi!! walau pada akhirnya aku tetap tidak bisa membalasnya, tapi aku sungguh senang!! hanya itu yang ingin aku katakan" ucap Jester yang masih membungkuk, Naomi terdiam beberapa saat
"Iya aku tahu dalam hatimu mengatakan aku pria brengsek karena kegirangan ada seorang wanita yang menyatakan cinta disaat aku punya wanita lain yang aku suka" ucap Jester memecah keheningan
"Iya... aku berfikiran kamu pria brengsek..." ucap Naomi tiba - tiba
"Argh.. iya maafkan aku Naomi" ucap Jester yang masih membungkuk di depan Naomi
"Terima kasih sudah mengungkapkan perasaanmu, aku tahu itu sulit untukmu. Kamu memang pria yang baik Jester" ucap Naomi sambil berjalan mendekati Jester, Jester mengangkat kepalanya dan menatap wajah Naomi. Naomi menggenggam kedua tangan Jester dengan kedua tangannya
"Mulai sekarang pun sebagai pacar palsumu, biarkan saja terus seperti ini. Kamu tetap fokus pada Camilla dan biarkan aku tetap berada disisimu" ucap Naomi dengan senyuman
"Terima kasih, aku juga berharap yang terbaik untukmu" timpal Jester sambil membalas senyuman Naomi
Naomi balik menuju kasurnya lalu tidur dan mulai menyelimuti dirinya, Jester pun mulai meninggalkan Naomi dikamar itu dan menutup pintunya perlahan. Didalam selimut itu Naomi masih membuka matanya lalu tiba - tiba tersenyum
"Sepertinya aku masih punya kesempatan..." gumam Naomi,
__ADS_1