
Malam hari yang mendung di restoran keluarga yang terletak di pusat kota, terlihat Jester berdiri diarea parkir restoran itu dekat dengan Mercedes Benz S450 miliknya. Di depan Jester saat itu terlihat Justin, Grece dan Harry nampak bingung menatap wajah Jester yang tiba - tiba terkejut, keterkejutan Jester bukan tanpa alasan karena ketika itu Sarah tiba - tiba meneleponnya dan mengatakan hal yang tidak dapat dipercaya oleh Jester.
***
"Apa kamu tuli?! aku bilang sekali lagi, Naomi akan meninggalkanmu! Selena sudah mengetahui itu dan dia memilih untuk diam!" bentak Sarah dengan penuh emosi
"Aaa... lalu? apa yang harus aku lakukan?" tanya Jester terbata dan terdengar bingung
"Berhenti bersikap bodoh! lakukan..." belum selesai Sarah berkata, Justin mengambil alih handphone Jester
"Sarah, ini aku Justin. Jester terlihat sangat syok, apa yang kamu katakan padanya?" tanya Justin
"Naomi akan meninggalkan Jester, Selena selama ini menyembunyikan kenyataan ini dan berusaha mengambil keuntungan! lakukan sesuatu, bantulah saudaraku itu!" perintah Sarah masih terdengar penuh emosi
"Jadi pertengkaran mu tadi itu karena hal ini?" tanya Justin memastikan sebab pertengkaran Sarah dan Selena.
"Iya! itu tidak penting sekarang! cobalah pikirkan sesuatu..." belum selesai Sarah berkata, Justin memotong.
"Aku akan pikirkan sesuatu, tapi kita harus berkumpul dulu untuk merencanakan sesuatu" timpal Justin tegas
"Dimana? jangan ada Selena, aku masih ingin menghajar dia kalau melihat mukanya" masih dengan nada yang penuh dendam Sarah mengatakannya
"Rumah Jester, minta Luke untuk memutar mobilmu kearah rumah Jester" jawab Justin
"Mengerti. Hei gorila, kita kerumah Jester!" agak berteriak Sarah mengucapkannya, Justin menutup sambungan telepon mereka.
***
Justin mengembalikan handphone milik Jester, namun Jester terlihat melamun menatap aspal. Keadaan Jester saat itu membuat Harry khawatir, ini bukan pertama kalinya baginya Harry melihat Jester bertingkah seperti ini saat patah hati. Kejadian bersama Luna sudah sangat membuat Harry bingung dan cemas, kali ini Harry harus melihat sahabatnya itu akan mengalami kejadian yang sama.
Berbeda dengan Harry yang panik, Justin selalu tampak lebih tenang dibanding sahabat Jester yang lain ketika melihat Jester memiliki masalah apapun. Kehadiran Justin bagi Jester hampir sama dengan arti kehadiran Luna bagi Naomi. Mampu menjadi sosok yang menenangkan dan memberi banyak solusi.
"Tidak perlu dipikirkan, Naomi tidak akan melakukan itu" celetuk Justin masih tetap menyodorkan handphone milik Jester untuk dikembalikan, perlahan tatapan mata Jester menatap Justin.
"Hei Justin! apa yang Sarah katakan tadi?" tanya Harry penasaran
"Sarah bilang kalau Selena tahu jika Naomi berencana untuk meninggalkan Jester" jawab Justin, jawaban itu membuat Grece dan Harry terkejut.
Bukanlah yang pertama Selena membuat masalah diantara hubungan Naomi dan Jester, tentunya hal itu membuat Harry sebagai sahabat karib Jester geram dan emosi. Timbul keinginan bagi Harry untuk segera melaporkan apa yang dia dengar dari Justin kepada Luke agar dengan segera Luke memberi pelajaran pada Selena.
"Benarkah itu sayang?! Naomi tidak mungkin melakukan itu kan" ucap Grece terdengar ragu, Justin mengangkat bahunya merespon pertanyaan Grece.
"Hei Jester! apa kamu tidak ingin menemui Naomi sekarang? serahkan urusan Selena pada kami! dia memang selalu membuat masalah bagi kita!" Harry terdengar sangat marah saat mengatakannya
__ADS_1
"Jester, gimana menurutmu?" tanya Justin sedikit menekan agar Jester mau berbagi pemikiran dengannya.
Jester yang saat itu terlihat linglung sedikit membuat Justin emosi, sikap yang Jester tunjukkan bagi Justin tidak akan membuat Jester mampu untuk menyelesaikan permasalahan dalam hubungan percintaannya. Walaupun Justin memahami untuk urusan cinta Jester memang selalu bodoh, namun dengan kejadian Luna ketika itu Justin berpikir jika seharusnya Jester sudah mengambil sebuah pelajaran untuk menghadapi urusan percintaannya.
"Aku... tidak tahu... apa aku berhak untuk... menahan Nao..." belum selesai Jester berkata, Justin tiba - tiba menampar Jester dengan keras.
"Hei Justin!! apa - apaan kamu?!" bentak Harry sembari berlari dan mendorong Justin dengan kuat, Harry dan Grece nampak terkejut dengan sikap Justin
"Jester!! apa yang kamu inginkan?!!" bentak Justin kepada Jester seakan tidak memperdulikan tindakan Harry kepadanya
"Aku... tidak tahu... Naomi menginginkan untuk mening...." jawaban Jester kembali dipotong oleh Justin
"Jester!! tanya pada hatimu!! apa yang kamu inginkan?!" bentak Justin semakin keras, air mata Jester tiba - tiba menetes. Seketika Justin, Harry dan Grece yang melihat Jester menangis itu terdiam, mereka bertiga hanya mematung menatap Jester.
Untuk beberapa saat Justin dan Harry membuang muka mengalihkan pandangannya menghindari menatap Jester yang terdiam namun dengan air mata yang mengalir membasahi pipi dan dagunya, Grece juga merasakan sakit hati yang sedang Jester tanggung sampai - sampai tangannya dia arahkan ke dadanya yang tiba - tiba terasa sesak.
"Benarkah Naomi akan melakukan itu? aku tidak yakin... dia orang yang baik dan selalu memikirkan perasaan orang lain..." celetuk Grece terdengar sangat meragukan kemungkinan Naomi akan meninggalkan Jester
"Aku juga tidak bisa mempercayai itu, Selena pasti sedang berbohong kan? Hei kalian! ini bukan pertama kalinya Selena melakukan hal seperti ini!" timpal Harry memperkuat keraguan Grece tentang kemungkinan Naomi ingin meninggalkan Jester.
"Naomi pergi atau tidak, itu tidak penting sekarang" ucap Justin, sontak ucapan Justin mematik emosi Harry dan Grece secara bersamaan.
"Hei Justin!! apa maksudmu?!" bentak Harry
"Sayang! ngertiin Jester donk!!" bentak Grece bersamaan dengan Harry, sedangkan Jester hanya menoleh menatap Justin masih dengan air mata yang terlihat membasahi wajahnya.
"Apa... maksudnya...?" tanya Grece terbata
"Pria adalah kapten dalam sebuah armada kapal, bagaimana jika seorang kapten bahkan tidak tahu kemana dia akan berlayar? dia hanya akan menjerumuskan awak kapalnya menuju kehancuran" jawab Justin tegas, seketika itu Harry dan Grece terdiam seakan menyetujui perkataan Justin tanpa sanggahan.
"Kamu membiarkan Naomi sendiri, menyetujui semua keinginannya tanpa pernah bertanya apa itu benar - benar yang diinginkannya, tidak menghubunginya, tidak menemuinya, kamu tidak memberikan tanda yang sangat jelas jika kamu memang menginginkan dia" masih dengan nada tegas Justin mengucapkannya sembari menatap Jester dengan tajam
"Kamu itu mencintainya apa tidak?!!" bentak Justin sampai membuat Grece dan Harry terkejut, sosok yang selalu tenang itu kini tiba - tiba terlihat begitu emosional. Justin berjalan mendekati Jester, tangannya lalu menarik kerah Jester.
"Berhenti bersikap seperti ini!! kamu itu pria!! apa kejadian Luna tidak cukup memberi kamu pelajaran?!!" tanya Justin dengan bentakan
Seperti sebuah pukulan telak yang membuat Jester akhirnya tersadar dari kesalahannya selama ini, Jester sadar selama ini dia hanya takut untuk semakin membuat Naomi merasa tidak nyaman. Namun Jester seakan melupakan bahwa dirinya adalah alasan bagi Naomi merasa nyaman dan bahagia. Rasa trauma akan kehilangan membuat Jester kalut dan gamang, namun perkataan Justin akhirnya membuka kembali nuraninya yang sempat tertutup penuh dengan rasa takut itu.
"Aku mengerti..." ucap Jester sembari mengambil handphone miliknya ditangan kiri Justin, perlahan Justin melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Jester.
Jester terdiam lalu membuka kunci handphone miliknya lalu melakukan panggilan, Justin, Grece dan Harry heran dengan apa yang dilakukan Jester. Untuk sejenak mereka bertiga merasa bahwa Jester sedang menelepon Naomi, namun ketika seseorang yang ditelepon Jester mengangkat... mereka bertiga terkejut.
***
__ADS_1
"Selena... kamu dimana?" tanya Jester
"Jalan..." jawab Selena
"Pertama aku minta maaf jika tadi menyakiti hatimu" ucap Jester terdengar menyesal
"Ooh... iya...dan kedua?" tanya Selena
"Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan malam itu? aku rasa aku telah siap mendengarnya" jawab Jester dengan tegas, mereka berdua terdiam beberapa saat sampai suara hembusan nafas Selena terdengar.
"Aku tidak akan memberitahumu... aku rasa aku tidak ingin lagi terlibat dalam hubungan kalian, kak... cari tahulah sendiri, datangi Naomi..." jawab Selena
"Begitu ya... baiklah..." timpal Jester terdengar sedih
"Maaf aku terlalu memaksakan cintaku... untuk sejenak pikiranku dikuasai perasaan ingin memilikimu, seakan ada kesempatan bagiku untuk mendapatkan mu dan merebut mu dari Naomi... tapi aku salah..." ucap Selena
"Selena... aku mengerti, kamu tidak perlu merasa bersalah untuk itu" timpal Jester, suara tawa kecil Selena terdengar setelah Jester mengucapkannya.
"Kamu memang selalu baik kepadaku, tapi berulang kali aku jahat kepadamu..." ucap Selena, keduanya pun terdiam beberapa saat.
"Kak... temui Naomi, ajak dia bicara... katakan padanya jika kamu membutuhkannya, katakan jika kamu tidak ingin kalian berpisah... yakinkan hatinya jika..." sejenak Selena terdiam dan menggantung kalimatnya
"....Jika kamu sangat mencintainya..." ucap Selena meneruskan kalimatnya
"Aku mengerti, terima kasih sarannya" ucap Jester, lalu Selena menutup saluran telepon mereka.
***
"Semua semakin jelas... ini hanya masalah komunikasi ku, kamu benar tentang aku yang kebingungan tentang caraku mencintainya" ucap Jester sembari memasukkan handphone miliknya kedalam saku celana, Justin tersenyum dengan ucapan Jester.
"Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan Jess?" tanya Justin seakan sedang memastikan sesuatu.
"Aku... menginginkan Naomi, aku ingin dia tetap di sampingku menghabiskan waktu kita bersama - sama. Aku tidak akan peduli jika dia menolak, aku akan paksa dia dan tanyakan tentang keinginannya yang sebenarnya" tegas Jester mengucapkannya
Tersenyum lega Justin melihat Jester saat itu, mata Jester nampak kembali bersemangat. Justin selama ini sadar jika Jester mencoba bahagia dengan berkumpul bersama para sahabatnya, dibalik tawa yang Jester hadirkan saat itu hanyalah untuk menutup kesedihannya agar para sahabatnya tidak terlalu mengkhawatirkan kondisinya. Namun ketika Justin melihat kembali semangat dari binar mata Jester, dengan segera Justin mengajak Jester untuk melanjutkan pembahasannya dalam menghadapi Naomi.
"Sarah dan Luke menuju rumahmu, ayo kita rencanakan sesuatu" ajak Justin
Jester, Harry dan Grece setuju dengan ide Justin, dengan segera Justin dan Grece berjalan menuju mobil BMW 330i milik Grece, sedangkan Jester dan Harry masuk kedalam Mercedes Benz S450 yang dikendarai oleh supir pribadi Jester. Tidak lama kedua mobil itu segera melaju dengan cepat menuju rumah Jester dan Naomi yang terletak di sebuah cluster perumahan mewah, begitu pula dengan mobil BMW 740Li yang dinaiki oleh Luke dan Sarah disisi lain didalam jalan perkotaan.
Tiga puluh menit berlalu dan mobil Mercedes Benz S450 melaju lambat hendak masuk kedalam carport rumah Jester dan Naomi, diikuti oleh BMW 330i dan tidak lama BMW 740Li juga terparkir di depan rumah dengan aksen khas budaya jepang itu. Dengan segera para penumpang mobil pun turun dan berjalan menuju pelataran rumah, kecuali supir pribadi Jester yang saat itu berpamitan untuk mengakhiri tugasnya.
Begitu supir pribadi Jester pergi, dengan segera Jester hendak membuka pintu utama rumah. Namun baru juga tangan Jester hendak menggenggam ganggang pintu, tiba - tiba ganggang itu bergerak dan seakan ada yang membukanya dari dalam.
__ADS_1
Terkejut lah Jester dan teman - temannya yang lain, lalu perlahan pintu terbuka...
"Selamat datang..." ucap Naomi memberi sambutan