Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Hati Yang Sudah Damai


__ADS_3

Siang hari yang terlihat cerah, dirumah keluarga Gates yang nampak begitu ramai oleh para pekerja yang sedang berkaktifitas diarea rumah. Terlihat Jester masuk kedalam BMW 740i bersama supir pribadi William, dengan senyuman Jester berpamitan kepada Willian dan Marrie yang berdiri dipelataran rumah melepas kepergian Jester. Setelah mendapatkan nasihat dari William membuat Jester mulai dapat mengendalikan dirinya kembali, kesedihan dan amarahnya yang tidak terkontrol paska pertemuannya dengan Luna kini luntur.


"Tuan muda langsung kerumah?" tanya supir pribadi William yang hendak mengantar Jester


"Tidak, ada satu toko yang ingin aku datangi" jawab Jester sambil memberikan alamat toko itu di gps mobil, supir pun mengikuti arahan gps.


Lima belas menit berlalu dan Jester pun sampai ditoko bunga yang terlihat mewah, Jester turun lalu segera membeli satu bucket bunga mawar merah dan sekotak coklat berbentuk hati. Tidak lupa Jester menulis surat yang dia tempelkan dicoklat itu, sebuah pesan permintaan maaf yang tulus. Jester yang saat itu lupa kalau dirinya tidak membawa dompet dan handphone pun akhirnya meminjam uang pada supir William, dengan wajah yang tanpa dosa dia meminta supir untuk menagihnya langsung pada William dengan tambahan harga yang dia tulis disebuah nota.


Perjalanan dimulai kembali menuju rumah Jester dan Naomi, didalam perjalanan itu Jester menatap gedung dan pertokoan dari jendela mobil sembari merenungkan setiap kata dan nasihat William. Perasaan campur aduk yang awalnya membebaninya pun kini berangsur menghilang, Jester terlihat lebih iklhas untuk menerima apapun hasil dari pertemuannya dengan Naomi nanti. Baginya Naomi masih seperti sosok yang dipikirkan oleh Luke dan Harry, belum lagi ditambah dirinya sudah membuat Naomi menangis sehingga tidak ada alasan Naomi akan menerima kehadirannya lagi. Dengan helaan nafas, semua pemikiran itu dapat Jester redam dengan baik.


Tiga puluh menit berlalu Jester pun sudah tepat didepan rumahnya, perlahan dia keluar dari mobil dan segera melangkahkan kakinya masuk. Walau terlihat ragu namun Jester terus memaksakan kakinya untuk melangkah hingga sampai didepan kamar tidur, disana Jester menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya yang memegang bucket bunga pun mulai mengetok pintu secara perlahan, untuk beberapa saat akhirnya ada yang membukakan pintu kamar itu. Namun yang membuka saat itu adalah Selena, dengan tatapan tajam penuh amarah dia menatap Jester.


"Eeh... Selena... apa Naomi tidur?" tanya Jester terbata, Selena saat itu menatap Jester dari ujung kaki sampai ujung kepala dan terdiam beberapa saat.


"Iya... dia tidur, dia menangis begitu sedih sampai membuatnya tertidur" jawab Selena dengan ketus, Jester pun menghela nafas saat mendengar jawaban Selena yang ketus kepadanya.


"Baiklah... kalau dia sudah bangun, katakan aku ingin berbicara dengannya" dengan perasaan bersalah Jester mengatakannya, tidak merespon apapun Selena langsung menutup pintu kamar. Jester yang saat itu terlihat bersalah pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga untuk menunggu Naomi bangun.


Diruang tengah itu Jester menaruh bucket bunga dan coklatnya di atas meja, dirinya pun merebahkan badan disofa sembari memejamkan mata untuk menghilangkan rasa capeknya setelah sebelumnya berjalan selama satu jam lebih menuju rumah keluarga Gates. Jam demi Jam pun berlalu, Jester masih juga rebahan disofa itu sambil melamun menatap langit - langit ruang keluarga.


Ditengah keheningan rumah, Jester mendengar suara langkah kaki mendekat keruang keluarga. Dengan sigap Jester berdiri dan mengambil bucket bunga dan sekotak coklat lalu berdiri menatap pintu masuk ruang keluarga, tidak lama pintu itu pun terbuka dan Jester melihat Naomi dengan mata yang sembab menatapnya dengan raut wajah yang sedih. Perasaan bersalah Jester pun semakin menggerogoti hatinya, namun Jester langsung menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menguasai hatinya kembali.


"Kamu.... mencariku...?" tanya Naomi terbata, mata sembabnya saat itu terlihat terkejut melihat Jester yang membawa satu bucket mawar dan sekotak coklat.


"Aku.... Aku mungkin memang tidak bisa diandalkan, aku juga tidak bisa apa - apa. Tapi, aku akan selalu ada... aku akan selalu disisimu bahkan jika kamu anggap aku pengganggu... aku akan tetap berada didekatmu..." Jester menggantungkan kalimatnya kemudian dia berlutut dihadapan Naomi, tindakan Jester saat itu membuat Naomi semakin terkejut.


"... Aku berjanji untuk itu... Maafkan aku Naomi..." dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya


"Jester..." Naomi pun semakin heran, setelah apa yang terjadi diantara mereka berdua tentu hal seperti ini sangat tidak disangka oleh Naomi.


"Maaf aku jatuh cinta padamu, Kamu... hanya menganggapku sebagai temankan? kenapa kamu begitu baik padaku? kenapa juga kamu begitu peduli padaku? kenapa seakan kamu memberiku harapan? aku tidak mengerti maumu, beritahu aku yang sebenarnya... katakan kamu hanya menganggapku sebagai teman..." Jester kembali melanjutkan kalimatnya


"Bodoh!!! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai temanku!! aku sudah katakan aku mencintaimu!!! sampai kapan kamu akan bersikap bodoh seperti ini terus!!!" dengan teriakan dan bentakan Naomi mengatakannya, walau terkejut namun Jester hanya menundukkan kepalanya merespon bentakan Naomi.


"Kalau benar yang kamu katakan... berikan aku bukti yang nyata bahwa kehadiranku bukan sebuah gangguan untukmu... bahwa aku penting dalam hidupmu, agar aku bisa meyakinkan hatiku kalau pemikiranku tentang itu salah..." terbata Jester mengatakannya dengan suara yang penuh kesedihan, Naomi pun berlari mendekati Jester yang saat itu berlutut dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Baru saja menyadari bahwa dia begitu mencintai Naomi membuat Jester takut untuk kembali patah hati, terlebih Naomi pun meyakinkan dirinya bahwa Naomi juga mencintai Jester. Kesabaran dan kelembutan Naomi saat menemaninya melewati beberapa kali masa sulit membuat Jester merasa bersyukur karena cintanya bersambut dan diterima dengan istimewa oleh Naomi.


"Jester!!! aku baru saja mimpi buruk!!! kenapa lama sekali kamu datang untuk menyelamatkanku dari mimpi burukku!!! Aku kesepian.... aku kehilangan semangatku... aku.... aku... takut tidak terbangun dari mimpi burukku karena kamu tidak datang menolongku..." air mata Naomi pun pecah seketika, nada bicaranya yang semula membentak karena ketakutan mendadak terdengar pilu karena menangis dan membuatnya sesegukan.


"Tolong aku.... aku tidak ingin bertemu dengan Jester dalam mimpi burukku lagi...." terisak - isak Naomi mengatakannya, seketika hati Jester saat itu merasakan kehangatan cinta tulus Naomi. Perlahan Jester meletakkan bunga dan coklatnya di tatami dan kemudian dia memeluk Naomi, untuk sesaat keduanya pun hanyut dalam pelukan saling menguatkan hati masing - masing.


Perkataan Jester yang ingin berpacaran dengan Camilla membuat Naomi syok, dia selalu memaksakan diri untuk percaya bahwa ucapan Jester hanya sebuah mimpi buruk. Bahkan setelah kejadian itu Naomi takut untuk tidur, dia tidak ingin mimpi buruk itu datang. Naomi hanya bisa menangis untuk tetap menyadarkan dirinya hingga tamparan Selena yang membuatnya pingsan yang mampu membuatnya tertidur. Namun kehadiran Jester dengan permintaan maafnya melunturkan ketakutan Naomi, hatinya bahagia karena Jester kembali pulang untuk dirinya.


Dilorong utama rumah dekat dengan pintu masuk ruang keluarga, Luna dan Selena terlihat mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Luna pun menyeka air matanya yang keluar dari kedua matanya sembari tersenyum menatap Selena, namun Selena tahu kalau tangisan itu bukan hanya sekedar tangisan haru... yaa, Selena tahu jika hati Luna masih untuk Jester dan air mata itu menunjukkan kecemburannya.


"Tidak apakah jika terus begini?" tanya Selena sambil menatap Luna dengan iba, dengan tawa kecil Luna merespon pertanyaan Selena.


"Ya... tidak apa, meski aku bilang aku masih mencintainya... itu hanya akan membuatnya tertekan. Kalau itu bisa merusak rencanaku dalam satu bulan ini, maka lebih baik jika tetap seperti ini" dengan suara yang terdengar sedih Luna mengatakannya, walau senyumnya terus dia tampakkan didepan Selena namun Selena memahami jika itu hanyalah senyum palsu untuk menutupi beban hatinya.


"Kamu juga berhak bahagia... jika kamu izinkan, biar aku yang menjelaskannya pada Naomi" ucap Selena, namun Luna menggelengkan kepalanya lalu menatap langit - langit rumah.


"Tidak, aku sudah puas seperti ini. Naomi sudah berkorban banyak untukku dan aku sudah tidak punya muka lagi untuk meminta lebih" tolak Luna lalu berjalan menuju dapur, Selena pun membuntuti Luna dengan berbagai pikiran tentang cara untuk membantu Luna. Ketika Selena larut dalam pikirannya, tiba - tiba Luna menghentikan langkah yang membuat Selena hampir menabrak Luna.


"Wanita akan sangat egois ketika dia jatuh cinta..." Luna menggantungkan kalimatnya dan terdiam beberapa saat seakan menunggu Selena merespon perkataannya.


"Iya... aku tahu, walau begini juga aku masih seorang wanita" sindir Selena saat itu dengan suara yang terdengar kesal, Luna pun tertawa merespon perkataan Selena sembari menoleh dengan senyuman menatapnya.


"Kamu sejak kapan jadi cenayang yang bisa membaca pikiranku?" dengan kesal Selena bertanya, namun Luna hanya tertawa merespon pertanyaan Selena.


Dirumah itu dua suasana berbeda tercipta didua tempat berbeda secara bersamaan, diruang keluarga Jester dan Naomi sedang bermesraan sedangkan didapur Luna dan Selena terlihat memasak bersama saling bercanda berbagi cerita. Diruang keluarga Jester terlihat duduk disofa dan tangannya membelai rambut Naomi dengan lembut yang saat itu sedang tiduran dipaha Jester sembari menikmati coklat dan tangan kirinya memeluk bucket bunga mawar merah pemberian Jester, sesekali Naomi menyuapi Jester dengan coklat yang sudah dia gigit sebelumnya. Sedangkan didapur Luna dan Selena saling membantu untuk membuat makan malam bersama, dengan penuh canda tawa dan obrolan ringan.


Tidak terasa tiga puluh menit berlalu dan makan malam buatan Luna dan Selena pun selesai, hampir bersamaan Jester dan Naomi terlihat memasuki dapur menatap Luna dan Selena yang sedang menyajikan makan malamnya diatas meja makan. Jester memandangi Luna dengan tatapan penuh perasaan bersalah, sedangkan Luna tersenyum menatap Jester seakan tidak terjadi apapun diantara mereka.


"Luna... aku..." belum selesai Jester berkata, Luna memotong dengan gestur tangannya yang seakan menyuruh Jester untuk tidak meneruskan kalimatnya.


"Tidak perlu minta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Kita lupakan semuanya, satu bulan ini aku ingin kita membangun momen bersama yang menyenangkan" tegas Luna mengatakannya, namun Naomi terlihat kesal menatap Luna ketika mendengar perkataannya.


"Aku tetap tidak akan biarkan kamu merencanakan apapun untuk merebutnya dariku" timpal Naomi dengan suara yang sedikit menyimpan amarah, Luna merespon marahnya Naomi dengan senyum sinis.


"Kata pepatah cinta tumbuh dari makanan turun keperut dan menyebar kehati, kamu tidak bisa mengganggu rencana pertamaku untuk merebutnya darimu" dengan nada sinis Luna mengatakannya, Naomi kembali emosi melihat Luna sudah menyiapkan makan siang untuk mereka semua.

__ADS_1


"Jester jangan makan dulu!! aku akan masak dan kamu harus tunggu masakanku selesai!!" dengan bentakan Naomi mengatakannya sambil menatap Jester dengan raut wajah jutek, namun Jester terlihat berat hati untuk menerima permintaan Naomi.


"Eeeh... gini, aku lapar Naomi... jadi tidak bisakah..." belum selesai kalimat Jester, Naomi memotong.


"Tidak!! sekali tidak ya tidak!!" tolak Naomi dengan bentakan, Luna pun tertawa terbahak - bahak melihat respon Naomi saat itu.


"Hohoho... tapi semua bahan sudah aku pakai habis, tidak ada lagi yang bisa kamu masak" terdengar mengejek Luna mengatakannya, tidak habis akal Naomi langsung mengambil beberapa lauk dan dia bawa kembali kedapur untuk dimasak ulang.


"Loh.. Loh!! Naomi!! Engga boleh!! itu harus dimasak persis lima belas menit!! kalau tidak cita rasanya..." belum selesai Luna berbicara, Naomi memotong dengan senyuman sinis menatap Luna.


"Rasa gosong itu akan menjadi cita rasa yang akan Jester ingat dari masakanku" timpal Naomi dengan perasaan menang, Luna yang emosi pun langsung menganggu Naomi memasak dan terjadilah keributan didapur. Keributan itu pun disaksikan langsung dengan wajah datar oleh Jester dan Selena, keduanya terlihat tidak tertarik untuk melerai keduanya yang ribut seperti dua ekor kucing sedang bertengkar.


"Tidak ingin melerai mereka kak?" tanya Selena datar


"Aku terlalu lapar untuk melerai mereka" terdengar sedih Jester menjawabnya, suara perut Jester pun sampai terdengar oleh Selena. Dengan senyuman yang manis, Selena mengambil piring yang berisi lauk buatannya dan hendak menyuapi Jester yang berdiri disebelahnya.


"Ini buatanku... kalau kamu lapar, kamu bisa makan ini dulu" terdengar malu - malu Selena mengatakannya, namun tanpa pikir panjang Jester langsung melahap suapan Selena dan terlihat begitu menikmatinya. Selena terlihat senang melihat Jester langsung menerima sarannya begitu saja, dia pun tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah.


"Selena!!! beraninya kamu mencuri kesempatan!!!" serentak Naomi dan Luna mengatakan hal yang sama terdengar sangat marah, tapi Selena menjulurkan lidahnya mengejek keduanya.


Keributan pun terjadi dirumah Jester dan Naomi saat itu sampai Jester kembali tidak dapat melanjutkan makan karena masakan Selena pun direbut oleh Naomi dan Luna, ketiganya pun terlibat keributan yang sangat memekakkan telinga sampai mengacaukan hidangan makan siang itu. Tidak ada yang mau mengalah saat itu dan mengakibatkan Jester menjadi korban, dia terlihat rebahan dilantai dapur terlihat sangat kelaparan.


"Lapaaar....." terdengar menderita Jester mengatakannya namun ketiga wanita ini tidak juga kunjung berhenti bertengkar didapur


Akhirnya makan siang pada hari itu diselesaikan dengan Jester memesan makanan online yang dimakan bersama - sama, dengan obrolan ringan dan canda tawa menghiasi makan bersama. Naomi, Selena dan Luna terlihat saling berebut untuk menyuapi Jester, sungguh makan siang yang tidak tenang bagi Jester saat itu. Namun untuk pertama kalinya dirumah itu kembali terdengar suara tawa sejak kedatangan Luna yang berhasil membuka kotak pandora dihati Jester. Jester terlihat sudah dapat berdamai dengan hatinya, tidak nampak sama sekali kegundahan yang biasa dia perlihatkan ketika berhadapan dengan Luna.


Setelah semua keributan itu membuat tidak terasa malam pun datang, matahari sudah terbenam dan berganti dengan indahnya bulan dilangit yang cerah pada hari itu. Diruang keluarga rumah itu terlihat Jester, Naomi, Selena dan Luna duduk disofa dengan lebih tenang tidak seperti saat mereka berada didapur tadi. Menghiasi malam itu dengan obralan ringan dan canda tawa, mereka berempat terlihat cukup akrab dengan pergolakan batin mereka masing - masing.


"Naomi... aku minta izin padamu untuk besok, aku mau pinjam kak Jester" tanpa beban Luna mengatakannya, wajah cemburunya tidak dapat dia sembunyikan ketika hendak menjawab permintaan Luna.


"Kamu... mau bawa dia kemana...?" terdengar tidak ikhlas Naomi bertanya, Jester dan Selena pun terlihat penasaran dengan permintaan Luna kali ini.


"Aku mau ajak dia ke festival squere... ada yang harus kami selesaikan berdua disana... tapi kalau kamu tidak mengizinkannya, aku tidak akan memaksamu" jawab Luna, mendengar jawab Luna membuat Naomi menghela nafasnya.


"Aku.... gak mau ijinkan kamu... tapi kalau mengingat janjiku, aku jadi gak punya pilihankan..." dengan berat hati Naomi menerima permintaan Luna, tangan Jester membelai rambut Naomi mencoba memadamkan rasa cemburunya.

__ADS_1


"Agak samar tapi sepertinya yang dikatakan Luna ada benarnya, ada yang mengganjal antara aku dan dia disana. Aku meminta izin juga" lembut Jester meminta izin padan Naomi, perlahan tatapan mata Naomi beralih menatap Jester dengan jutek.


Naomi pun terdiam menatap Jester dengan semua jenis pikiran tentang apa yang terjadi diantara Jester dan Luna, dia pun teringat tentang cerita Jester yang mengatakan kencan pertama mereka adalah di festival squere. Apakah ada janji yang harus mereka penuhi disana? atau mereka hanya ingin mengingat - ngingat kencan pertama mereka? atau mereka hanya ingi berdua tanpa gangguan? semua terlintas dipikiran Naomi yang sebenarnya menyimpan api cemburu yang membara.


__ADS_2