Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Lagu Terakhir


__ADS_3

Pagi buta di Paris Prancis, disalah satu rumah sakit yang terlihat masih sepi dari aktifitas. Seseorang terlihat keluar dari sebuah mobil taksi dan begitu terburu - buru untuk masuk kedalam rumah sakit itu, seseorang itu adalah Jester. Sesampainya didepan pintu kamar Luna, tangan Jester pun terlihat bergemetar seakan dirinya takut untuk membuka dan menatap Luna. Hari ini merupakan hari pertamanya bertemu Luna dalam keadaan dia tahu apa yang selama ini coba Luna sembunyikan darinya, setelah terdiam beberapa saat didepan pintu Jester pun membukanya perlahan.


Di kasur Jester melihat Luna duduk bersandar sembari menonton televisi, beberapa kali Jester melihat Luna tertawa melihat siaran humor di televisi. Tidak lama Luna pun menyadari kehadiran Jester dan pandangannya pun beralih menatap Jester yang masih terdiam di pintu masuk sedang menatapnya, sempat terdiam dengan wajah datar Luna pun tersenyum manis menatap Jester seakan tidak pernah terjadi apapun diantara mereka.


"Hai kak Jester.... aneh ya melihatku tanpa rambut? sampai menatapku begitu!" celetuk Luna memecahkan keheningan diantara mereka, wajah sedih Jester tidak dapat dia sembunyikan. Untuk pertama kalinya Luna melihat Jester dengan penampilannya yang sebenarnya, hatinya terasa sesak. Kesedihan begitu dia rasakan dihatinya namun dengan keras hati dia coba tutupi agar tidak membuat Jester semakin sedih, Luna menyadari keadaannya sekarang membuat Jester sedih yang terlihat jelas dari raut wajah yang Jester tampakkan.


"Masuklah kak... mau sampai kapan kamu berdiam diri disana?" tanya Luna lagi ketika Jester hanya membatu menatap Luna, saat itu Luna kembali menatap televisi dan Jester pun berjalan menarik kursi dan duduk didekat Luna dalam diamnya.


"Kamu jenguk aku cuma buat diam - diaman seperti ini?" terdengar menyindir Luna mengatakannya


"Kenapa... kamu tidak katakan lebih awal?" tanya Jester terdengar sedih kepalanya tertunduk seakan tak mampu untuk menatap Luna, Luna pun menghela nafasnya


"Karena dulu kamu mencintaiku...." jawab Luna, jawaban Luna membuat Jester terkejut.


"Apa... maksudmu?" tanya Jester terdengar bingung lalu memberanikan diri untuk menatap wajah Luna.


"Cintamu yang membuatku tidak berani berkata jujur padamu.... aku pun telah jatuh cinta sangat dalam padamu dan ketika aku memikirkan umurku yang tidak panjang.... hatiku terasa sesak...." belum selesai Luna berbicara, Jester berdiri dan terlihat sangat marah menatap Luna.


"Lalu kamu berfikir aku tidak akan sakit hati dengan caramu meninggalkanku dulu?!! kenapa kamu kembali padaku jika memang kamu berfikir seperti itu?!!! kenapa kamu tidak katakan sejak awal ini akan terjadi?!! kenapa?!!!" dengan bentakan Jester mengatakannya, Luna pun menatap Jester dengan wajah datarnya.


"Maafkan aku" tersenyum Luna saat mengatakannya, senyuman Luna saat itu membuat Jester tersentak dan membatu menatap Luna. Bibir Jester sudah tidak tahu harus bagaimana menanggapi permintaan maaf Luna, senyumnya Luna juga seakan mengatakan semua akan baik - baik saja.


"Dulu aku berfikir jika kamu segera membenciku maka kamu tidak akan terlalu dalam jatuh cinta padaku dan membawamu semakin terpuruk bersamaku... aku ingin kamu segera meninggalkanku yang semakin tenggelam dalam palung cinta kita yang terpisahkan oleh keadaan, itu yang membuatku berfikir untuk membuatmu agar membenciku" ucap Luna masih terlihat tersenyum menatap Jester, hanya terdiam yang mampu Jester lakukan ketika itu.


"Aku pun mengejar mimpiku yang pernah aku katakan padamu dulu... aku ingin menjadi seorang penyanyi dan fokus mengejar impianku itu agar aku dapat melupakanmu dan aku berhasil... aku menjadi finalis ajang pencarian bakat dan itulah pencapaian terbesar dalam hidupku... aku seharusnya sangat senang ketika aku mencapai final dan hanya harus mengalahkan satu orang pesaing lagi, namun...." Luna menggantung perkataannya dengan helaan nafas berat, Luna pun mengalihkan pandangannya menatap layar televisi yang sejak tadi menyala dan ingatannya saat berada dibalik layar televisi pun seakan terputar kembali.


"Di ribuan mata penonton yang melihatku saat itu, sorak sorai mereka memanggil namaku, suara gemuruh penonton menanti ku keluar menuju panggung... semua ketenaran itu... semua tabur bintang yang menyelimuti ku saat itu... aku... merasakan kehampaan.... hatiku hampa dan perasaan senang yang seharusnya aku dapatkan... semua kosong... aku kesepian ditengah keramaian... pencapaian itu terasa semu di hatiku..." Luna mengatakannya dengan penuh penyesalan dan kembali menatap Jester yang terlihat masih tertegun memandangi wajah Luna


"Berpisah darimu membuatku mengerti betapa indahnya saat aku bersamamu dan selalu aku ingat semua kenangan - kenangan itu..." Luna menggantungkan kalimatnya untuk menarik nafas dalam - dalam seakan bersiap mengutarakan sesuatu kepada Jester.


"Saat itulah aku menyadari ternyata yang aku butuhkan dalam hidupku itu cuma kamu.... sekalinya dicintai dan mencintai seseorang, membuat tidak mungkin lagi untuk melupakannya... hatiku selalu memikirkan mu dan cintaku padamu malah semakin dalam... maafkan aku karena telah mencintaimu sedalam ini..." tersenyum Luna saat mengatakannya pada Jester, perkataan Luna saat itu membuat Jester menundukkan kepalanya.


"Lalu aku harus gimana? apa yang seharusnya aku lakukan sekarang disaat kamu seperti ini?!! aku bingung harus melakukan apa untukmu, sekarang katakan saja dengan jujur.... kamu mau aku bagaimana disaat seperti ini? katakan saja... aku pasti akan melakukannya untukmu..... jangan ada rahasia - rahasia lagi diantara kita.... aku tidak ingin terus hidup dalam penyesalanku..." nada suara yang takut untuk Luna dengar akhirnya terpaksa harus dia dengar dari bibir Jester, suara Jester serak dan bergemetar saat mengatakan semuanya pada Luna. Hati Luna seperti teriris harus melihat Jester sedih karena keadaannya, itulah mengapa dulu Luna memilih untuk membuat Jester membencinya dan menghilang dari Jester.


"Aku... ingin istirahat... bisa tinggalkan aku...." celetuk Luna saat itu, perkataan Luna membuat Jester terkejut lalu dia kembali menatap Luna yang tersenyum menatap dirinya.


"Kamu... mengusirku..?" tanya Jester terlihat kaget


"Tidak kak... aku hanya sedang tidak enak badan, mungkin efek obat yang aku terima dan sekarang... aku sangat merasakan ngantuk..." jawab Luna dengan senyuman yang masih terlihat diwajahnya, Jester pun menyeka air mata yang masih tersisa diwajahnya lalu berbalik hendak keluar dari kamar.


"Kak..." celetuk Luna saat Jester sudah membuka pintu kamar untuk keluar, Jester pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh menatap Luna.


"Bisa... kamu bawakan gitar kemari saat kamu menjengukku lagi?" pinta Luna, permintaan Luna saat itu membuat Jester heran.


"Iya" jawab Jester singkat lalu kembali melangkahkan kakinya keluar kamar itu dan menutup pintu secara perlahan, ketika itu Luna masih menatap pintu yang tertutup itu dalam diamnya. Air matanya pun menetes seketika, tangannya meremas selimut yang menyelimuti sebagian tubuhnya, dan tubuhnya terlihat bergemetar hebat.

__ADS_1


"Maafkan aku...." ucap Luna di keheningan kamar, Luna pun menutup wajah dengan kedua tangannya dengan tangisan yang terdengar begitu memilukan.


Matahari pun terbit begitu cerah di langit Paris Prancis hari itu, Jester terlihat masih duduk di kursi tunggu lobby rumah sakit sejak keluar dari kamar Luna. Tidak lama setelahnya terlihat William berjalan masuk kedalam rumah sakit itu dan melihat Jester yang duduk termenung menatap lantai, William pun menghela nafas lalu berjalan mendekati anaknya dan duduk disebelahnya.


"Kenapa? bukannya seharusnya kamu senang Luna sudah bangun dari komanya?" tanya William dengan santai, Jester masih terdiam dan sedikit menoleh menatap William dengan tatapan sedih.


"Kenapa wanita selalu tidak bisa jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" tanya Jester sedikit menekan, William pun terdiam dan menatap Jester.


"Kenapa mereka selalu memaksa kita untuk mengerti kode - kode dari mereka?! kenapa mereka tidak langsung jujur saja pada kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?!" tanya Jester terdengar begitu emosi, melihat anaknya yang mendadak emosi itu membuat William berfikir mencari jawaban yang mungkin dapat diterima oleh anaknya.


"Papa juga tidak paham kenapa wanita selalu melakukan hal itu, dia selalu merasa bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan kita para pria ini tapi... memang sering kali mereka berhasil melakukannya... nak, dengarkan papa..." jawab William terdengar tenang lalu kembali menatap Jester yang kembali menunduk menatap lantai


"Bertemu dengan seseorang kemudian berpisah dengannya itu sudah menjadi hal yang wajar dalam hidup, tidak ada seseorang yang mampu mempertahankan janji selamanya. Menderita, sakit hati, dan sengsara itu juga bagian dari hidup, hidup ini berat ya..." William menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, perkataan William saat itu membuat Jester kembali menatap mata William.


"Pokoknya bertahanlah hari ini dan kamu suatu saat akan menemukan titik kebahagiaanmu sendiri, sama seperti papa yang akhirnya bertemu dengan mama mu dan kamu yang hadir dalam hidup papa" ucap William lalu mengelus kepala Jester dengan lembut


"Kata - kata papa membuat aku semakin terpuruk" timpal Jester terdengar kesal


"Yah mau gimana lagi, memang itu adanya dan karena kamu sudah dewasa maka kamu harus menyadari pahitnya hidup ini" William pun terdengar berat hati mengatakannya lalu kembali menatap langit - langit rumah sakit sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Aku mengerti, terima kasih nasihatnya papa..." ucap Jester lalu berdiri hendak pergi dari tempat itu


"Mau kemana kamu?" tanya William menatap Jester dengan heran


"Aku mau beli gitar, Luna minta aku membawa gitar saat datang menjenguknya lagi" jawab Jester, mendengar jawaban Jester membuat William pun tersenyum lalu berdiri dari duduknya sambil menepuk pundak Jester dengan cukup keras.


Disalah satu toko peralatan musik, Jester dan William terlihat sedang memilih berbagai jenis gitar. Mulai dari gitar akustik hingga gitar listrik berbagai merk, Jester dan William pun terlihat mencoba beberapa gitar untuk mendengarkan kualitas suara dari setiap gitar yang ditawarkan. Setelah cocok dengan salah satu gitar, Jester pun membeli gitar itu dan hendak membawanya bertemu Luna. Didepan toko peralatan musik, Jester dan William berpisah karena William memutuskan untuk kembali ke hotel menunggu Jester disana.


Tidak lama Jester pun sampai dirumah sakit dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar Luna, dia mengetuk pintu kamar dan tidak beberapa lama suara Luna menyahut ketukan Jester untuk mempersilahkan Jester masuk. Dengan segera Jester membuka pintu dan menatap Luna yang ternyata sedang menikmati makanan yang disediakan oleh rumah sakit, di kasur itu Luna memperhatikan tas gitar yang Jester bawa dibelakang punggungnya dan matanya pun berbinar. Garis senyum Luna pun terlihat dan memberi gestur tangan mengucapkan terima kasih pada Jester, melihat senyum Luna saat itu membuat hati Jester merasakan lega.... ya.. lega untuk apa saat itu Jester pun tidak dapat memahaminya.


"Aaaa terima kasih! tunggu... aku harus bersiap dulu" terlihat antusias Luna mengatakannya, dia pun mendorong meja yang menjadi bagian dari kasurnya saat itu lalu segera mau merapihkan rambutnya. Namun saat menyentuh kepalanya... mendadak Luna pun kehilangan senyumnya.


"Eee Luna... tidak usah dipikirkan..." celetuk Jester saat melihat Luna kehilangan senyumnya karena tersadar dia tidak memiliki rambut


"Aaaa~ dokter gak ngizinin aku pake wig... aku kan jadi jelek kalau seperti ini di penampilan terakhirku..." terdengar sedih Luna mengatakannya, Jester pun tersenyum melihat sifat manja Luna yang mengingatkan dia tentang Luna saat masih di SMA.


"Heii Heii kak... rekam penampilanku donk pakai handphone mu" pinta Luna saat itu, dengan helaan nafas Jester menuruti permintaan Luna.


Jester pun mengeluarkan handphonenya dan menyandarkan handphone itu disebuah vas bunga agar kamera menangkap gambar Luna, setelah memastikan layar merekam Jester pun kembali mendekati Luna dengan membawa sebuah kursi yang tersedia dikamar itu. Jester duduk sembari mengeluarkan gitar dari dalam tas, Luna pun tersenyum menatap Jester yang masih sibuk menyiapkan gitarnya. Berat bagi Jester untuk memenuhi keinginan Luna, terlebih saat Luna mengatakan ini merupakan penampilan terakhirnya. Terasa menyesakkan dada bagi Jester namun tekadnya untuk memenuhi impian Luna lah yang menjadi penyemangatnya.


"Di penampilan terakhirku... aku sudah menyanyikan dua lagu dan tinggal satu lagu lagi yang tidak dapat aku nyanyikan saat itu..." celetuk Luna ditengah persiapan Jester, perkataan Luna saat itu menarik perhatian Jester.


"Lagu apa itu?" tanya Jester penasaran


"Adele... All I Ask ..." jawab Luna terbata, mendengar jawaban Luna saat itu membuat Jester berhenti sejenak dan menatap Luna dengan wajah terkejut.

__ADS_1


"Nama panggung yang aku gunakan saat itu adalah Lunar karena aku selalu merasa sebagai bulan yang terlihat indah ketika malam namun aku tidak bisa terlihat indah jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri, aku membutuhkan matahari agar terlihat indah pada malam hari namun sayang aku sudah kehilangan matahariku.... aku mengatakan itu pada mentorku dan dia langsung memilihkan aku lagu itu dengan alasan aku akan dapat menyanyikan lagu ini dengan sangat baik jika melibatkan perasaan.... cinta... pada matahariku..." terdengar sedih Luna mengatakannya, Jester pun membuang muka saat melihat tatapan Luna yang menjadi sedih itu.


"Kak... apa kamu bisa mengiringiku dengan gitar itu?" tanya Luna lalu kembali menatap kamera


"Aku akan lakukan yang terbaik" jawab Jester


🎵🎵🎵


I will leave my heart at the door


I won't say a word


They've all been said before, you know


So why don't we just play pretend?


Like we're not scared of what's coming next


Or scared of having nothing left


Look, don't get me wrong


I know there is no tomorrow


All I ask is


If this is my last night with you


Hold me like I'm more than just a friend


Give me a memory I can use


Take me by the hand while we do what lovers do


It matters how this ends


'Cause what if I never love again?


🎵🎵🎵


Ditengah lagu Jester pun berhenti memainkan gitarnya, air mata membasahi pipinya dan tangannya terlihat bergemetar hebat. Luna hanya terdiam menatap kamera handphone Jester lalu perlahan Luna menatap Jester yang menangis terisak - isak saat itu, bibirnya terlihat berat untuk untuk berkata melihat Jester yang tertunduk dan menangis.


"Cukup... aku tidak mampu meneruskannya... maaf..." terisak Jester saat mengatakannya, Luna pun menghela nafasnya sejenak lalu kembali menatap kamera dan melanjutkan lagu tanpa dampingan suara gitar Jester.


Tidak pernah terbayangkan bagi Jester akan berada di situasi yang begitu menyiksa batinnya, menyaksikan dan mendengarkan sosok yang dulu pernah begitu dia cintai dan memberikan kebahagiaan dalam kehidupan masa lalunya menyanyikan sebuah lagu tentang perpisahan yang Jester yakini bahwa lagu itu adalah suara hati Luna untuk Jester.

__ADS_1


Suara indah Luna begitu mampu membangun suasana dikamar itu membuat Jester tidak dapat menahan tangisannya, membawakan setiap bait lagu dengan penuh penghayatan dan menyampaikan isi pesan dengan sepenuh hati semakin membuat Jester hanyut dalam kesedihan. Dalam hatinya berharap ini semua hanya mimpi buruk yang tidak akan menjadi kenyataan, cintanya mungkin sudah hilang untuk Luna tetapi kenangan dan kebahagiaan yang pernah mereka lalui masih bisa Jester rasakan.


__ADS_2