
Pagi hari yang cerah di perbukitan yang cukup jauh dari pusat kota, berdiri sebuah rumah yang pagarnya menjulang tinggi mengikuti kontur perbukitan. Orang - orang bertubuh kekar dan tegap terlihat berjaga disekitaran area dalam perumahan dengan setelan tuksedo hitam dan kaca mata hitam, tempat itu terlihat sangat tertutup untuk pengunjung.
Disalah satu kamar dari rumah itu, Jester terlihat terbangun dari tidurnya lalu menatap wajah Naomi yang masih tertidur dengan pulas. Sejenak Jester termenung menatap wajah polos Naomi yang masih tertidur cukup pulas itu, wajah polosnya tanpa riasan make up memancarkan aura kecantikan alami Naomi.
Tersenyum Jester memperhatikan wajah kekasihnya itu, Naomi yang selalu tampil begitu ceria dan tangguh dihadapan Jester justru dalam tidurnya seperti sosok yang memiliki kerapuhan yang dia coba sembunyikan. Tiba - tiba dalam benak Jester teringat kata - kata Naoko yang mengatakan kalau Naomi memiliki mental yang rapuh dan semangatnya mudah redup, senyum Jester pun menghilang dari wajahnya.
"Apa tindakanku sudah aman untuknya?" gumam Jester saat itu sembari terus menatap wajah Naomi, tatapan matanya terlihat begitu menampakkan perasaan khawatir.
Perlahan Jester beranjak dari kasur dan segera memulai rutinitasnya setiap pagi dikamar mandi yang ada didalam kamarnya, dimulai dari buang air kecil, gosok gigi, mencuci muka dan yang terakhir adalah bercermin sembari merapihkan rambutnya. Begitu selesai Jester melangkahkan kakinya menuju kasur kembali, tidak lama suara dering handphone Jester terdengar tanda ada pesan masuk. Jester segera mengambil handphone miliknya dan membuka siapa yang mengiriminya pesan, tertulis pesan dikirim oleh 'Selena'
***
"Kak Jester, apa kamu jadi mengajariku untuk ujian seleksi?" diterima
"Tentu saja, aku sangat mengharapkan kamu bisa mengalahkan Camilla" dikirim
"Entahlah, aku tidak yakin. Apa Naomi akan baik - baik saja?" diterima
"Menurutku iya, bagaimana pun Naomi pernah bilang kalau dia lebih tenang jika aku didampingi olehmu" dikirim
"Baik" diterima
***
Naomi pun terbangun saat Jester sedang berbalas pesan singkat dengan Selena
"Jess~ Ohayou darling..." sapa Naomi dengan mata yang masih terlihat berat untuk terbuka, Jester pun tertawa kecil melihat mata Naomi.
"Kenapa tertawa? apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Naomi terdengar kesal
"Tidak, hanya saja aku sulit membedakan apa matamu benar - benar sudah terbuka atau masih terpejam" dengan candaan Jester mengatakannya, Naomi pun terlihat ngambek menatap Jester.
"Maaf ya... nanti aku belikan ice cream deh..." rayu Jester kepada Naomi
"Coklat strawberry dengan taburan biskuit!" agak membentak Naomi mengatakannya, Jester pun tertawa lalu duduk didekat Naomi dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Apa pun, apa pun yang kamu inginkan" dengan lembut Jester mengatakannya, mendengar perkataan Jester saat itu membuat Naomi sedikit heran atas perubahan sikap Jester yang seolah menjadi lebih lembut kepadanya. Sempat terdiam sejenak sampai membuat Jester terlihat heran, Naomi menyentuh pipi Jester.
"Ada apa? kenapa kamu.... sedikit berubah..?" agak terbata Naomi saat bertanya, Jester sedikit terkejut mendengar perkataan Naomi.
Sikap tidak biasa yang ditampakkan oleh Jester membuat Naomi sedikit terheran dan bertanya - tanya kenapa sebenarnya Jester bersikap lebih lembut dan penuh perhatian kepadanya, biasanya di pagi hari mereka selalu bercanda dan saling bersikap kocak. Tetapi pagi ini baik cara bicara dan sikapnya seperti Jester sedang terpikirkan sesuatu, cinta Naomi yang begitu besar kepada Jester membuatnya peka terhadap apapun perubahan yang terjadi pada Jester.
"Hah? berubah apa?" tanya balik Jester dengan heran, Naomi mengerutkan dahinya sembari terus menatap Jester.
"Kamu... lebih lembut padaku... apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" dengan penuh kecurigaan Naomi mengatakannya, Jester tersadar akan perasaan khawatirnya terhadap Naomi yang semakin tinggi setelah mendengar pesan dari Naoko.
"Eeh.. engga, cuma... kamu tahu... ini tentang pernikahan kita..." jawab Jester terbata dan sedikit panik
"Oo.. oke... lalu?" tanya Naomi lagi seakan menekan Jester untuk mengungkapkan semua isi hatinya.
"Ini tentang tantangan kakek.... aku khawatir jika.... aku kalah dalam pertaruhan ini, maka aku akan...." belum selesai Jester berbicara, Naomi memotong.
"Kamu pasti menang" timpal Naomi dengan tegas, Jester termenung menatap Naomi yang begitu yakin dengan perkataannya. Tidak ada keraguan dari tatapan Naomi, seakan Naomi sudah pasrah apapun yang akan dilakukan oleh Jester.
__ADS_1
"Aa... kenapa kamu.... seyakin itu?" tanya Jester terbata, Naomi tersenyum lalu memejamkan matanya sejenak.
"Tidak tahu... tapi aku yakin kamu akan memenangkan pertaruhan ini, lalu kita akan menikah, dan semua akan baik - baik saja... itu yang aku yakini sampai detik ini, aku percaya padamu kalau kamu... akan membahagiakan aku..." jawab Naomi dengan tersenyum manis menatap Jester, senyuman dan perkataan Naomi membuat Jester tertegun memandangi cantiknya wajah Naomi.
"Meski nanti tidak berjalan mulus setelah bekerja keras itu pasti karena diluar kendali kita, kita hanyalah manusia jadi tidak semua hal akan berjalan mulus sesuai keinginan kita. Aku yakin akan perkataan diri kita sendiri penentu kebahagiaan kita, yang terpenting adalah bagaimana cara kita melangkah dan menentukan yang terbaik" senyum Naomi pun hilang dan mendadak matanya menampakkan kekhawatiran saat Naomi mengatakannya, perlahan Naomi menggenggam tangan Jester begitu erat dan kuat
"Jess... ayo kita menatap kedepan bersama -sama dan lakukan yang terbaik, ayo kita berjuang bersama" penuh semangat Naomi mengucapkannya, Jester tersenyum lalu tertawa kecil.
"Aku dulu pernah bilang padamu kalau aku mungkin tidak bisa diandalkan dan mungkin juga aku tidak bisa melakukan apa - apa, tapi aku berjanji akan selalu ada di sampingmu bahkan ketika kamu menganggap aku sebagai pengganggu sekalipun. Kemanapun kamu pergi dan menghilang, aku akan menemukanmu. Aku berjanji untuk itu" Jester menimpali perkataan Naomi, mereka pun saling balas senyuman lalu berciuman dengan mesra.
Tiga puluh menit berlalu, Jester dan Naomi keluar dari kamar dengan wajah yang masih memerah setelah obrolan hangat dan serius yang terjadi diantara keduanya. Seperti biasa Naomi langsung melingkarkan kedua tangannya di lengan Jester dan menyembunyikan wajah dibalik bahu Jester, berjalan berdampingan di lorong kediaman besar Gates.
Disepanjang perjalanan Jester dan Naomi bertemu dengan beberapa wanita yang mengenakan pakaian maid sedang bekerja dirumah itu, juga bertemu dengan pria dengan tuksedo berbadan tegap yang akan langsung menundukkan kepala ketika Jester dan Naomi melewati mereka.
"Mereka ini harus setiap hari menunduk seperti itu ya?" tanya Jester pada Naomi dengan suara agak berbisik, Naomi mencubit lengan Jester agak keras.
"Itu memang pekerjaan mereka, jangan ganggu mereka yang lagi bekerja Jess..." jawab Naomi dengan nada yang terdengar sebal pada Jester, mereka berdua kembali terdiam dan terus berjalan sampai didepan pintu utama kediaman Gates.
"Gates muda" ucap Arthur dari lantai dua yang bisa langsung menatap pintu utama rumah, langkah Jester dan Naomi terhenti ketika mereka mendengar suara Arthur menggema hampir di seluruh ruangan itu. Genggaman tangan Naomi meremas kuat lengan Jester, perlahan Jester berbalik dan mencari keberadaan Arthur.
"Bisakah tidak mengagetkan begitu? kasihan Naomi selalu ketakutan saat mendengar suara kakek" celetuk Jester dengan nada suara yang terdengar kesal sambil menatap Arthur yang berdiri dengan tegapnya dilantai dua memandangi keduanya, dibelakang Arthur saat itu Jester melihat Julius.
"Kali ini mau kemana lagi kamu?" tanya Arthur sedikit menekan
"Aku mau ke kampus, ada urusan serius yang harus segera aku selesaikan" jawab Jester tanpa beban, Arthur menghela nafasnya.
"Kamu benar - benar menganggap tantangan ku adalah angin lalu yang tidak perlu kamu pikir secara serius?" tanya Arthur terdengar penyesalan dari setiap kalimat yang keluar dari bibirnya
"Apa aku bisa mempercayai itu?" tanya Arthur terdengar meremehkan Jester, mendengar dirinya diremehkan seperti itu membuat Jester tertawa kecil.
"Kita lihat saja kakek, aku akan membuat Exo menjadi nomor satu di negara ini dalam waktu satu bulan" sambil menunjuk kearah Arthur dan penuh keyakinan Jester mengatakannya, Arthur berbalik dan meninggalkan tempat itu tanpa kata diikuti Julius.
"Jess... kamu terlalu menantangnya" celetuk Naomi dengan suara yang terdengar bergemetar, Jester membelai lengan Naomi yang melingkar di lengannya
"Aku harus lakukan ini agar kakek lengah kepadaku, akan bahaya jika kakek mewaspadai ku" timpal Jester dengan suara yang kecil dan terdengar seperti gumaman, Naomi menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Aku paham... bisa pergi sekarang?" ucap Naomi sedikit menarik lengan Jester, tanpa merespon pertanyaan Naomi dengan segera Jester berbalik dan hendak keluar dari rumah itu. Dua orang pria dengan tuksedo dan berbadan tegap yang bertugas sebagai penjaga pintu membukakan pintu utama untuk Jester dan Naomi, di pelataran rumah saat itu Jester melihat Porsche Taycan melaju cukup cepat meningal kan rumah itu.
"Papa sudah melakukan tugasnya" gumam Jester, Naomi yang saat itu mendengar perkataan Jester langsung mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Papa mau melakukan apa?" tanya Naomi
"Dia akan bertemu dengan tuan Turner Werner" jawab Jester, mendengar jawaban Jester membuat Naomi sedikit terkejut.
"Ayah Grece? ada urusan apa?" tanya Naomi kembali namun kini suaranya terdengar kaget, Jester tersenyum menatap Naomi.
"Sesuatu yang menggemparkan dan kamu juga akan terkejut jika rencana itu sudah terlaksana, mungkin kamu akan senang atau malah akan marah padaku" jawab Jester yang sedikit tertawa karena mengingat rencana William yang sempat disampaikan tadi malam diperjalanan pulang dari rumah keluarga Scott
"Mana mungkin aku bisa marah padamu jika itu untuk kelancaran urusanmu dengan kakek, aku bersedia dimanfaatkan dengan cara apapun jika itu untuk dirimu" timpal Naomi yang terdengar sedikit sebal karena Jester tidak memberitahu tentang rencana yang akan William kerjakan, tiba - tiba Jester memeluk Naomi begitu erat dari belakang dan menempelkan pipinya dekat dengan telinga Naomi.
Wajah Naomi memerah karena pelukan erat Jester dan juga karena merasakan geli saat nafas Jester begitu terasa didekat telinga Naomi, dengan sedikit berontak Naomi berusaha melepaskan pelukan Jester.
"Jester!!" teriak Naomi, wajahnya begitu memerah karena disana mereka tidaklah sedang berduaan.
__ADS_1
"Aku sedang memanfaatkan mu saat ini, demi kelancaran rencana ku Naomi..." bisik Jester didekat telinga Naomi, mendengar perkataan Jester membuat Naomi sadar lalu Naomi pun berhenti memberontak.
"Benarkah? untuk apa ini Jess?" tanya Naomi dengan suara yang begitu pelan membalas bisikan Jester.
"Untuk menambah semangatku" jawab Jester datar dan terlihat begitu menikmati memeluk Naomi dari belakang, jawaban Jester membuat Naomi begitu emosi hingga urat di dahinya keluar.
"Jester!!!!" bentak Naomi yang salah tingkah sembari melepaskan pelukan Jester dan berbalik lalu mencubit perut Jester bertubi - tubi
Terjadi aksi kejar - kejaran antara Naomi dan Jester yang begitu seru di taman tengah, Jester terlihat begitu ketakutan menatap Naomi yang menampakkan raut wajah penuh kemarahan dan kekesalannya. Jester berteriak meminta ampun pada Naomi namun Naomi tidak menghiraukannya dan terus mengejar Jester untuk mencubit perutnya secara brutal.
Dari balik kaca kamar lantai dua, kelakuan Jester dan Naomi dilihat langsung oleh Arthur. Dengan hembusan nafas yang terdengar begitu keras, Arthur berbalik dan kemudian menatap Julius dan Marrie yang berada didalam kamar.
"Seperti itukah calon penerus ku?" tanya Arthur kepada Marrie, begitu tertekan Marrie saat itu yang sangat terlihat dari raut wajahnya.
Nadanya begitu menekan, tatapan matanya sangat tajam menatap wajah Marrie. Kemarahan seorang Arthur Gates yang dulu pernah Marrie terima saat dirinya ditolak sebagai pendamping William beberapa tahun lalu kembali harus Marrie terima. Detak jantung Marrie mulai tak beraturan, gemetar rasanya sekujur tubuhnya tetapi keadaan itu harus Marrie hadapi untuk membela Jester putranya.
"Papa tidak harus melakukan ini... lepaskan saja Jester dan Naomi, mereka berhak untuk bahagia dengan cara mereka sendiri" jawab Marrie dengan suara yang terdengar bergemetar, Arthur menggebrak meja begitu keras sampai membuat Marrie tersentak.
"Kamu tahu sedang berbicara dengan siapa kan Marrie Gates atau seharusnya aku memanggilmu Marrie Ferdinand? aku tidak ingat sudah menerimamu di keluarga ini!" bentak Arthur kepada Marrie, tubuh Marrie semakin bergemetar karena bentakan itu.
"Bagaimana caramu membesarkan anak itu? aku menaruh harapan tinggi pada Gates muda dan inilah yang aku lihat? seperti itu sikapnya?!!" Arthur kembali membentak Marrie dengan penuh emosi, mata Marrie pun berkaca - kaca karena sudah tidak tahan dengan tekanan itu.
"Dia... dia tumbuh seperti William, anakmu... darah daging mu dan... didikan mu... jika memang sikap Jester itu salah, maka kamu lah biang kesalahan itu! Kami mendidiknya dengan penuh cinta dan kasih sayang... tidak sepertimu membuat anak - anakmu kehilangan hatinya, kehilangan empatinya, dan kehilangan emosinya!!" Marrie balik membentak Arthur dengan nada yang bergemetar karena emosi, walau tubuhnya juga bergemetar ketakutan dan matanya pun berkaca - kaca.
"Dia memperlakukan wanita dengan baik, dia bisa merasakan sakit yang diderita oleh orang lain, dan dia juga selalu dengan senang hati membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan. Apa itu buruk? apa menjadi manusia itu buruk di matamu?!!" ucap Marrie melanjutkan perkataan sebelumnya. Ucapan yang keluar dari seorang ibu yang membela putranya ketika merasa bahwa putranya diremehkan.
Kalimat menyakitkan dari Marrie terdengar jelas oleh seorang Arthur Gates yang memang nyaris tidak memiliki empati dan menjadikan pebisnis dengan tingkat otoriter tinggi didalam hidupnya, sebuah perkataan pedas yang membuat Arthur tertegun namun semakin membangkitkan amarahnya. Ada sedikit rasa tidak percaya dalam diri Arthur dia akan menerima kalimat itu dari menantu wanita yang tidak dia sukai karena telah membuat putranya dengan berani menentangnya dan meninggalkan keluarga besar Gates.
"Kamu tidak memahami seberapa kejamnya dunia ini jika..." belum selesai Arthur berkata, Marrie menyela perkataan Arthur.
"Aku tahu !! aku tahu dunia ini memang penuh rasa sakit dan penderitaan, tapi aku tetap menanamkan empati dihatinya dan aku tetap mengajarkan pada Jester agar dia menjadi orang yang berguna juga dicintai banyak orang tidak sepertimu yang ditakuti oleh banyak orang! Aku menyuruhnya hidup dengan saling tolong menolong, apa menurutmu itu salah?" tanya Marrie, lalu Marrie menarik nafasnya sejenak untuk menenangkan hatinya yang sedang penuh emosi
"Arthur.... kamu ingin manusia yang seperti apa untuk menjadi penerus mu?! jika memang harus menjadi manusia dingin sepertimu untuk menjadi kaya raya, maka aku sudah menanamkan agar Jester tidak menjadikan kekayaan sebagai patokan sebuah kebahagiaan!!" begitu emosional Marrie saat mengatakannya, dengan air mata yang mulai terlihat di pelupuk matanya dan mulai terlihat tak sanggup terbendung.
"Apa kamu bahagia dengan kekayaan dan kuasa mu? apa kamu merasa puas dengan hidup kesepian seperti sekarang? Kamu bahkan kehilangan satu - satunya orang yang sudah mau mencintaimu dan melahirkan anak - anak untukmu, itu semua karena dirimu yang begitu terobsesi pada kekayaan semata. Kamu perlu kehilangan apa lagi agar kamu sadar jika hidup tidak selalu tentang materi?!!" ucap Marrie menekan Arthur, Julius langsung berdiri diantara Arthur dan Marrie yang saling menatap.
"Tolong tahan emosi, nyonya Marrie silahkan untuk keluar dari kamar tuan besar Arthur" celetuk Julius dengan suara yang terdengar tenang, tanpa pikir panjang Marrie langsung berbalik dan meninggalkan kamar itu.
"Dia tahu apa tentang diriku? dia hanya bocah kemarin sore yang sok tahu tentang kehidupan" ucap Arthur ketika Marrie sudah keluar dari kamar itu, Julius membalik badannya dan menatap Arthur sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Tuan besar Arthur, mohon untuk lebih bersabar untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh tuan muda Jester. Percayakan saja padanya, anda hanya harus menunggu hasil" pinta Julius pada Arthur
"Sejak kapan kamu menundukkan kepala untuk orang lain?" tanya Arthur dengan sedikit keheranan yang terdengar
"Sejak aku merasakan ada angin segar yang akan merubah keluarga ini menjadi lebih baik lagi" jawab Julius datar
"Kamu akan mengkhianati ku?" tanya Arthur penuh kecurigaan
"Tidak, bahkan aku yang melaporkan kepadamu jika ayahku akan mengkhianatimu dan aku juga yang mengeksekusi rencana mu untuk menghabisi seluruh keluarga Arielle. Tidak ada alasan untukku mengkhianati keluarga Gates, tapi jika anda merasa terancam dengan keberadaan ku maka aku siap untuk menyerahkan nyawaku saat ini juga" jawab Julius dengan datar, Arthur berjalan mendekati sebuah kursi kerja yang berada dikamar itu dan termenung menatap langit - langit.
"Aku ingat saat aku kehilangan Guinevere... aku sedang membereskan pemberontakan keluarga Arielle sampai - sampai aku tidak dapat datang tepat waktu di saat didetik - detik terakhir Guinevere yang sedang menderita sakit keras. Ketika aku kembali... semua terlambat, aku sudah kehilangan istri tercintaku" ucap Arthur terdengar begitu sedih saat mengingat kematian istrinya dan ibu dari Andrews, William dan Phillips.
"Seketika itu aku melihat tatapan kebencian dari anak - anak kepadaku, aku bisa memahaminya mengapa mereka marah padaku. Tapi satu hal yang mereka tidak pahami adalah... aku meninggalkan Guinevere karena permintaannya agar masa depan anak - anak tidak suram" ucap Arthur meneruskan perkataannya.
__ADS_1