
Pagi hari yang mendung disebuah pemakaman umum yang terlihat cukup ramai dengan orang - orang, Suasana berkabung sangat kental disana. Tangis keluarga dan para sahabat mengiringi prosesi pemakaman Luna, diantara orang - orang itu terlihat Naomi, Luke, Sarah, Harry, Selena, Justin, Grece, William, Marrie, John, dan Lisa yang begitu berduka. Perlahan tubuh Luna pun semakin tertutupi dengan tanah diiringi isak tangis semua yang hadir disana, sosok Luna yang memberi banyak kenangan indah kepada orang - orang terdekatnya membuat hati mereka sakit saat menghadiri pemakaman Luna. Semakin tak terlihat peti jenazah Luna semakin membuat Selena dan Lisa tidak mampu lagi untuk berdiri, kaki mereka terkulai lemas. Mereka berdua bersimpuh dengan tangis yang begitu pilu, hingga beberapa saat acara pemakaman mulai ditinggalkan oleh orang - orang yang sedang berduka.
Naomi, William, Marrie, Justin, Grece, Luke, Sarah, dan Harry hendak pulang, mereka berpamitan dengan John dan Lisa dan menyampaikan bela sungkawa yang begitu mendalam kepada mereka. Diparkiran pemakaman umum Naomi, William dan Marrie berpisah dengan Luke, Sarah, Harry, Justin dan Grece. Setelah mobil Sarah yang dinaiki oleh Luke, Sarah dan Harry pergi, terdengar suara seseorang memanggil nama Naomi. Menyadari ada yang memanggilnya saat itu membuat Naomi pun mencari sumber suara, dari kejauhan Naomi melihat Lisa dan John yang berlari mendekati Naomi, William, dan Marrie.
"Maaf tuan dan nyonya Gates, kami menghentikan anda" ucap John yang nafasnya terengah - engah karena sehabis berlari
"Tidak apa, ada apa?" tanya William penasaran, John menyerahkan sebuah amplop surat dan sebuah note kecil berwarna pink.
"Ini... Istri saya menemukan surat dan note kecil didalam tas Luna dan kami yakin Luna menginginkan note kecil ini dimiliki oleh tuan muda Gates, jika nona muda Scott tidak keberatan..." belum selesai John berkata, Naomi memotong sembari menerima surat dan note kecil itu.
"Aku pasti akan sampaikan pada Jester" tegas Naomi mengatakannya walau air mata masih saja menetes dipipinya, John dan Lisa pun tersenyum menatap Naomi.
"Terima kasih, sekali lagi terima kasih... kami sangat yakin Luna bersyukur bisa bertemu dengan kalian dihidupnya yang singkat ini" terdengar haru saat John mengatakannya, dia dan Lisa pun membungkukkan badannya memberi hormat pada Naomi, William dan Marrie lalu kembali berbalik hendak menuju makam Luna kembali.
Naomi yang saat itu berangkat kepemakaman bersama William dan Marrie terlihat masuk kedalam BMW 740Li bersamaan dengan masuknya William dan Marrie, didalam mobil seorang supir yang mengendari mobil langsung melajukan mobil menuju rumah Jester dan Naomi. Mereka terdiam karena Naomi masih menangis terisak - isak, Marrie yang duduk disebelahnya hanya bisa menangkan Naomi dengan cara mengelus kepala Naomi dengan lembut.
"Apa Jester sudah bangun ya? panas tubuhnya sangat tinggi, aku khawatir dia kenapa - kenapa" tanya Marrie memecahkan keheningan diantara mereka
"Jester hanya sedang syok berat, ini sama seperti saat dia patah hati kan. Jester akan baik - baik saja" jawab William terdengar tenang
"Aku rasa Jester mengalami guncangan mental lebih berat dari sebelumnya, bagaimana kalau kita minta Jester pulang kerumah Will? Naomi juga bisa tinggal dirumah kita untuk sementara" terdengar sangat khawatir saat Marrie mengatakannya, William pun menghela nafasnya.
"Sayang, Jester itu sudah punya Naomi yang akan menjaga dan mengembalikan semangatnya. Kenapa tidak kita serahkan saja Jester pada Naomi?" tanya William dengan tekanan
"Tapikan..." belum selesai Marrie bicara, William memotong
"Jester akan baik - baik saja bersama Naomi, papa benarkan nona Naomi?" William mengatakannya sembari membalikkan badan menatap Marrie dan Naomi yang duduk dikursi belakang
"Iya, Jester akan baik - baik saja... maaf membuat mama dan papa khawatir, tapi aku yang akan membantu Jester untuk bangkit" jawab Naomi dengan tegas walau suaranya masih terdengar serak karena menangis
"Tapi kalau ada apa - apa kamu harus segera hubungi mama, Jester yang patah hati sulit buat ditangani" timpal Marrie, Naomi pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk merespon perkataan Marrie.
Kecemasan yang begitu beralasan bagi Marrie mengingat dulu dia menjadi saksi ketika putra semata wayangnya terpuruk atas penolakan Luna, tetapi saat ini bukan hanya penolakan yang Jester terima melainkan kepergian Luna untuk selamanya ditambah kenyataan bahwa Jester akhirnya tahu alasan Luna menolak putranya dulu karena sakit yang dia derita. Marrie hanya tidak ingin Jester kembali hanyut dalam keterpurukan.
Beberapa menit berlalu dan mobil BMW 740Li terlihat berhenti didepan rumah Jester dan Naomi, Naomi saat itu turun dari mobil sembari memberikan salam kepada William dan Marrie yang akan segera kembali berangkat untuk pulang. Setelah mobil BMW 740Li pergi menjauh, Naomi berbalik dan segera melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Didalam rumah, perlahan Naomi melangkahkan kakinya mendekati ruang tengah membawa rasa khawatir akan keadaan Jester. Disana Naomi melihat Jester berdiri bersandar pada kusen pintu menatap kolam renang, menyadari keberadaan Naomi membuat Jester memutar kepalanya menatap Naomi lalu tersenyum.
"Sudah pulang?" tanya Jester terdengar lembut, Naomi pun menampakkan wajah penyesalan saat itu
"Maaf... aku tadi terpaksa pergi karena papa dan mama menjemputku..." penuh penyesalan Naomi mengatakannya, namun Jester sedikit tertawa sembari kembali menatap kolam renang.
"Tidak apa, kamu sudah menemaniku sampai aku tertidur... terima kasih" timpal Jester yang nada suaranya masih terdengar lembut, lembutnya suara Jester membuat Naomi heran.
"Kamu... baik - baik saja Jess?" tanya Naomi khawatir
"Aku baik - baik saja... tadi aku sempat ingin menyusul ketika kamu tidak ada disampingku tapi..." Jester menggantungkan kalimatnya dan terlihat berfikir sejenak, Naomi pun berjalan mendekati Jester.
__ADS_1
"...Aku tidak sanggup... bodoh sekali, aku bahkan tidak bisa merelakan kepergiannya... pria macam apa aku ini, menangisi wanita lain padahal aku sudah memilikimu..." terdengar sedih Jester mengatakannya, Naomi kembali melangkahkan kakinya mendekati Jester lalu memeluknya dari belakang begitu erat.
Dalam keadaan seperti ini hanya tindakan itu yang mampu Naomi lakukan untuk mencoba memberi kenyamanan dan ketenangan pada Jester, Naomi hanya ingin menunjukkan pada Jester bahwa dalam keadaan apapun dirinya akan tetap setia dan berada disisi Jester untuk mendukung dan menguatkan Jester. Bukan berarti tidak ada kecemburuan namun rasa cinta dan percayanya terhadap Jester mampu meruntuhkan rasa cemburu Naomi, terlebih sebelum kepergiannya Luna memberi keyakinan pada Naomi bahwa hanya ada dirinya dihati Jester.
"Tidak apa... kehilangan seseorang itu memang berat... tidak ada satupun manusia yang rela begitu saja jika terpisah oleh kematian... kamu tidak harus bersikap kuat didepanku.... aku sangat memahami perasaanmu Jess" dengan lembut Naomi mengatakannya, air mata Jester yang yang mengalir deraspun mampu Naomi rasakan pada tangannya yang memeluk erat Jester.
"Terima kasih atas pengertianmu selama ini" ucap Jester yang suaranya terdengar serak.
Setelah Jester terlihat lebih tenang, mereka berdua bersama mempersiapkan makan siang. Didapur Jester mulai terlihat dapat berbicara dengan tenang, hal itu membuat Naomi pun senang. Bagaimanapun Naomi sudah mendengar baik dari William, Marrie, Luke dan Harry kalau Jester akan terpuruk dengan kejadian meninggalnya Luna, namun melihat Jester yang dapat beraktifitas seperti biasa walau kadang - kadang wajahnya menunjukkan kesedihan membuat hati Naomi merasa lega.
Tiga puluh menit masakan untuk makan siang pun selesai, Jester dan Naomi menikmati hasil masakan mereka berdua. Diselingi dengan obrolan ringan diantara mereka berdua, semua nampak berjalan baik. Setelah selesai makan, Naomi menyuruh Jester untuk tetap ditempatnya dan dia pun berlari menuju ruang keluarga untuk mengambil note kecil berwarna pink dan sebuah surat. Ketika kembali ke ruang makan, Naomi menyerahkan note dan surat itu yang Naomi letakkan diatas meja dekat dengan tangan Jester.
"Itu milik Luna, ibu dan ayah Luna yang memberikannya padaku... katanya kamu yang seharusnya memiliki note itu dan tentang surat... katanya Luna menulisnya saat kami baru sampai di paris" ucap Naomi sembari berjalan kembali menuju kursinya dan duduk berhadapan dengan Jester, dengan tatapan yang terlihat sedih Jester memandangi note itu.
"Kamu tidak harus membukanya sekarang... aku tahu kamu butuh waktu, untuk sementara izinkan aku menyimpannya sampai hatimu siap" celetuk Naomi memecahkan keheningan, tatapan mata Jester pun beralih menatap Naomi yang memandanginya begitu khawatir.
"Aku baik - baik saja, kamu tidak perlu terlalu khawatir seperti itu.." ucap Jester dengan nada yang terdengar kesal, Naomi pun tersenyum sambil menghela nafasnya.
"Gimana aku gak khawatir, kamu terlihat sangat sedih..." timpal Naomi dengan suara yang lembut
"Surat dan note ini.. aku titipkan dulu padamu, sebelum itu... aku ingin mencet ak foto - foto saat aku di Paris" ucap Jester sembari membuka handphonenya, saat itu Jester menelepon Luke yang tertulis dengan nama 'si gorilla'
***
"Halo Jester!! apa kamu butuh aku?! aku akan segera kesana!!" ucap Luke terdengar sangat panik, kepanikan itu membuat Jester nampak kesal.
"Hah?! gak mungkin, kamu saja gak datang dipemakaman..." belum selesai Luke berkata, terdengar suara keributan dari balik telepon. Luke terdengar sedang adu argumen dengan seorang wanita dibalik telepon.
"Halo Jester... apa kamu membutuhkan Luke? aku yakin kamu lebih membutuhkan ku saat ini, temanmu ini terlalu bodoh untuk membantumu disaat seperti ini" terdengar suara Sarah yang mengambil alih handphone Luke, saat itu terdengar suara Luke yang seperti sedang berusaha merebut handphone.
"Aaa Sarah, ahaha... kamu benar, mungkin aku lebih butuh kamu saat ini" timpal Jester dengan suara tawa kecil yang menyertainya
"Katakan saja, aku akan usahakan semampuku" dengan tegas Sarah mengatakannya
"Aku ingin mencetak foto - fotoku saat berada diparis, sebenarnya hal sederhana tapi aku ingin foto yang mampu tahan dari air, warnanya tahan lama dan... tidak cepat rusak" ucap Jester, sempat terdiam sejenak Sarah pun terdengar menghela nafasnya.
"Baik, itu mudah... aku akan segera kerjakan, kamu kirim saja foto - foto itu padaku" ucap Sarah
"Terima kasih, Sarah" timpal Jester lalu dia menutup saluran teleponnya
***
"Kenapa tidak kamu minta tolong padaku saja?" tanya Naomi terdengar sebal pada Jester, melihat Naomi yang sebal kepadanya membuat Jester tertawa.
"Aku membutuhkanmu untuk selalu disisiku, apa tidak boleh?" tanya Jester dengan nada yang menggoda
"Setelah apa yang menimpamu, aku harap kamu tidak pernah merasa sendiri. Aku akan jadi malaikat pelindung dan menemanimu selamanya, jadi kamu bisa tenang" jawab Naomi sembari tersenyum manis menatap Jester, senyuman Naomi saat itu dibalas dengan tawa Jester.
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Naomi dengan nada terdengar sebal melihat respon Jester
"Aku juga akan menjadi malaikat pelindungmu dan menemanimu untuk selamanya, masalahnya... apa hukuman bagi yang melanggar?" tanya Jester terdengar menantang Naomi, mendapat pertanyaan itu membuat Naomi terdiam sejenak sembari berfikir.
"Yang melanggar akan...." Naomi menggantungkan kalimatnya lalu terdiam untuk beberapa saat, tiba - tiba Naomi menepukkan kedua tangannya seakan dia memiliki ide.
"Bagi yang melanggar, dia akan dikutuk menjadi orang paling kesepian disepanjang hidupnya sampai dia kembali untuk menepati janjinya!" terdengar antusias Naomi mengatakannya, Jester terlihat heran menatap Naomi.
"Kenapa? apa itu kurang kejam? kesepian disepanjang hidup itu sangat membuat menderita loh" celetuk Naomi karena Jester terlihat tidak setuju dengan idenya, Jester pun tersenyum.
"Itu benar, aku hanya heran saja dengan beratnya hukuman yang akan dijatuhkan sama si pelanggar" timpal Jester lalu menghela nafasnya
"Ayo ikatkan janji kita ditempat ini!" penuh semangat Naomi mengatakannya, Jester pun mengajukan jari kelingkingnya kehadapan Naomi.
"Janji jari kelingking?" tanya Jester, Naomi terdiam menatap jari kelingking Jester untuk beberapa saat.
"Kenapa? apa kamu takut untuk mengikrarkan janji?" tanya Jester terdengar sebal, Naomi pun tertawa kecil mendengar nada bicara Jester lalu dengan segera mentautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jester.
"Aku tidak percaya akan melakukan ini lagi di umurku saat ini" celetuk Naomi terdengar sedikit menahan tawanya
"Kamu pernah mengikat janji seperti ini pada siapa lagi?" tanya Jester penasaran, Naomi kembali tertawa
"Saat aku masih berumur tujuh tahun, aku dan ayah sedang menonton sebuah film tentang cinta sejati yang harus terpisah oleh kematian. Aku lupa apa judul filmnya namun yang aku ingat... mereka diterpa berbagai masalah dalam pernikahannya, namun keduanya mampu menjalani semua dengan baik sampai maut yang memisahkan" jawab Naomi dengan senyum yang terlihat merekah saat mengatakannya
"Pemeran wanita difilm itu sangat membuatku kagum, keanggunannya, sifatnya, caranya menyelesaikan masalah dan membuka komunikasi... semuanya membuatku kagum. Disaat itu aku janji pada ayah kalau aku akan menjadi wanita yang setiap pada pasanganku seperti pemeran wanita itu... bukankah janji kita ini akan berkaitan dengan janjiku pada ayah?" ucap Naomi yang terlihat bahagia akan mengikatkan janji dengan Jester
"Sekali kamu ucapkan, aku tidak akan mengizikanmu untuk menariknya" tegas Jester mengatakannya
"Ayo ayo cepat ucapkan!" penuh semangat Naomi mengatakannya
"Kami berjanji akan menjadi malaikat pelindung dan akan menemani pasangan kami sampai maut yang memisahkan" ucap Jester dan Naomi, senyum Naomi terlihat merekah seketika saat mengucapkan janjinya. Senyum Naomi saat itu berbanding terbalik dengan Jester yang terlihat sedih menatap Naomi, tatapan sedih Jester membuat Naomi penasaran.
"Kamu... kenapa sedih? apa menyesal sudah mengikatkan janji denganku?" tanya Naomi terdengar sedih
"Sekilas... aku teringat saat aku dan Luna mengikat janji... aku sedikit trauma dengan sebuah janji" jawab Jester terdengar sedih, Naomi pun tersenyum mendengar jawaban Jester.
Saat mengangkat jari kelingkingnya secara spontan, tiba - tiba Jester mengingat kembali momen terakhir dirinya berjanji kelingking dengan Luna disaat terakhir Luna. Sontak saat itu ada kesedihan dihati Jester namun mampu dia tahan, dia tetap mengajak Naomi untuk melakukan janji jari kelingking dan tidak membatalkannya ditengah gejolak batin yang dia pendam.
"Jess.... Luna tidak melanggar janjinya padamu, namun itu semua karena takdir. Kamu gak bisa menyalahkannya karena memang takdir yang berkehendak lain, dia... sangat ingin menemanimu bahkan ketika dia merasa tidak mampu, bahkan Luna memaksa Selena untuk menjadi dia agar menggantikan perannya" Naomi menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, Jester hanya tertegun memandangi Naomi.
"Kamu sudah tahu semua kebenarannya, masih tidak dapatkah hatimu untuk berdamai?" tanya Naomi terdengar begitu sedih, tatapan matanya pun menunjukkan seberapa sedihnya dia melihat Jester yang masih belum juga mampu untuk berdamai.
Ada perasaan bersalah dihati Naomi melihat Jester yang masih belum bisa berdamai dengan hatinya atas kepergian Luna. Tiba - tiba Naomi ingat bagaimana usahanya untuk membuat Jester mampu berdamai dengan kehadiran Luna yang sudah menjadi kotak pandora bagi Jester, Naomi yang tidak mengetahui alasan sebenarnya Luna menolak Jester dengan cara yang kasarpun seakan memaksa Jester untuk mengetahui jawabannya agar Jester mampu berdamai dan tidak lagi menjadikan Luna kotak pandoranya.
Tetapi kenyataan yang sebenarnya benar - benar diluar dugaan Naomi, Luna melakukan semua itu karena sadar usianya tidak lama dan tidak sanggup melihat Jester harus rapuh karena kepergiannya. Naomi merasa menyesal telah memaksa Jester, andai saja dulu dia tidak memaksa Jester untuk mencari jawaban mungkin Naomi tidak akan melihat orang yang begitu dia cintai begitu terpuruk akan keadaan yang dihadapinya, keadaan yang membuat hati Naomi sakit dan penuh perasaan bersalah.
"Yang terjadi pada Luna... membuat aku tidak ingin lagi terlalu cepat menghakimi seseorang, karena aku yakin akan ada alasan dibalik setiap tindakan mereka berbuat sesuatu... mungkin dia sedang bertempur dengan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui. Terima kasih Naomi... aku akan mencoba lebih dewasa lagi untuk kedepannya" dengan senyuman yang merekah Jester mengatakannya, Naomi pun membalas senyum Jester saat itu.
__ADS_1
"Kamu pria paling keren yang pernah aku temui, karena pikiran dewasamu... aku beruntung bertemu denganmu" timpal Naomi terdengar senang.