
***EPISODE INI MASIH MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI NAOKO***
Pagi itu Naomi berpamitan untuk mengenal kampusnya meski sebenarnya aku yang memintanya, Evans pun mengizinkan Naomi tidak datang di acara ulang tahun pernikahan William dan Marrie agar Naomi lebih mempersiapkan study nya terlebih dahulu. Jujur saja pagi itu aku merasa sedikit lega karena Naomi tidak datang di acara yang pasti akan Jester hadiri, namun ketenangan ku terkikis mengetahui Jester dan Naomi akan satu universitas dan fakultas.
Melepas kepergian Naomi menuju kampusnya, aku pun bersiap - siap untuk mempercantik diriku demi Evans yang akan menghadiri acara ulang tahun pernikahan William dan Marrie. Aku sungguh tidak tahu dengan apa yang terjadi.... semua seakan menjadi takdir yang tidak mungkin bisa dihindari....
Ketika kami sampai di hotel Gates.... aku berjalan sembari mendorong kursi roda Evans untuk masuk kedalam hall tempat pesta pernikahan dilangsungkan, disudut lorong luar hall saat itu aku mendengar suara yang sangat aku kenal... aku mencoba untuk mengabaikannya namun tidak bisa karena aku khawatir jika suara itu benar - benar Naomi.
"Bagaimana bisa dia ada disini?" gumamku sambil berjalan menuju sebuah pilar untuk melihat siapa orang dibaliknya
"Naomi..." ucapku terkejut, Naomi terlihat sangat kaget dengan keberadaan ku disana.
"Ada apa? kamu mengenalnya Naomi?" tanya pria yang sepertinya baru saja terjatuh itu, aku menatapnya dengan tajam
"Siapa dia? kenapa pemuda culun ini bisa ada di acara seperti ini?" tanyaku dalam hati
"Ibu.. kenapa ada disini?" tanya Naomi dan pertanyaan itu membuatku kembali mengalihkan pandanganku kepada Naomi.
Aku sampai tidak dapat berkata - kata saat itu, aku terlalu syok melihat Naomi berada di acara yang sudah dengan susah payah tidak aku hadirkan Naomi didalamnya. Belum lagi kenyataan jika pemuda yang aku lihat di hadapanku itu ternyata adalah Jester, bagaimana bisa aku menduga kejadian seperti ini?
Didalam hall semua semakin jelas, Jester memperkenalkan Naomi dihadapan kami semua jika mereka adalah sepasang kekasih dan tentang keberadaan Naomi disana karena William langsung yang membawanya. Aku pun menatap Marrie ketika itu, namun Marrie hanya tersenyum nampak senang dengan kejadian ini. Aku tidak mengerti mengapa dia begitu senang dan aku tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk berbicara berdua dengan Marrie, aku mulai memikirkan cara lain agar bisa berbicara dengannya.
Masih di hall itu, aku melihat gelagat aneh Jester dan Naomi dan aku sangat mencium bau kebohongan mereka. Namun entah mengapa aku merasa jika mereka ini pasangan yang serasi, mungkin intuisiku sebagai seorang ibu. Tanpa sadar aku berharap jika Naomi tidak membohongiku, meski aku sangat tahu jika Naomi dan Jester sedang berbohong.
Satu hari setelahnya, Jester datang kerumah dan aku menginterogasinya. Semakin nyata kebohongan itu meski kemarin di pelataran rumah Naomi membantahnya, namun aku tidak dapat marah ketika Jester dengan berani menjadi tameng untuk Naomi. Sosok ini... pria yang seperti inilah yang pantas menjadi pendamping untuk anak perempuanku...
Sebagai ibu dari anak perempuan satu - satunya di keluarga kami.... aku pasti akan melakukan hal yang terbaik meski dia akan membenciku
__ADS_1
Karena aku yakin... suatu saat kamu akan mengerti....
***NAOKO MENGAKHIRI CERITANYA***
Disebuah kabin pesawat jet pribadi yang masih mengudara, terlihat Naoko dan Naomi saling bertatapan. Naoko menyelesaikan ceritanya lalu menenggak air mineral botolan untuk menyegarkan tenggorokannya, sedangkan Naomi hanya terdiam menatap Naoko dengan wajah yang begitu terkejut.
"Kembali lah jika kamu ingin... ibu baik - baik saja, disana ibu tidak sendiri karena ada kakek dan nenekmu" ucap Naoko setelah selesai menenggak minumannya, Naomi menundukkan kepalanya perlahan.
"Aku tidak bisa.... setidaknya... aku ingin membuatmu bangga walau itu cuma akan terjadi satu kali disepanjang hidup ibu...." timpal Naomi dengan nada yang terdengar sedih, Naoko kembali menghela nafasnya ketika mendengar perkataan Naomi.
Mereka pun terdiam sampai beberapa jam berlalu, di bandara internasional Narita Tokyo jet pribadi keluarga Scott pun mendarat dengan selamat. Setelah melewati segala prosedur pemeriksaan, Naomi dan Naoko terlihat berjalan menyusuri padatnya bandar udara Narita itu. Diarea jemput Naomi dan Naoko melihat dua orang tua melambaikan tangannya kearah mereka, disanalah untuk pertama kalinya Naomi bertemu dengan kakek dan nenek dari pihak ibu.
***Huruf miring menggunakan bahasa jepang***
"Aaah Naoko... aku turut berduka atas kematian suamimu Evans, maaf kami terlalu tua untuk melakukan perjalanan ke negaramu" ucap kakek
"Tidak apa ayah, aku paham. maaf membuat kalian khawatir" timpal Naoko
"Naomi... ucapkan salam pada kakek dan nenekmu" perintah Naoko, perlahan Naomi pun membungkukkan badannya
"Selamat sore... senang bisa berjumpa kakek dan nenek" sapa Naomi dengan sopan, kakek dan nenek Naomi pun terkejut mendengar Naomi berbicara bahasa Jepang.
"Haaa... kamu bisa berbahasa jepang, kakek dan nenek khawatir kami kesulitan untuk berkomunikasi dengan cucu kami sendiri" terdengar senang kakek mengatakannya, nenek Naomi pun tertawa bahagia.
Kakek dan Nenek Naomi pun mengarahkan Naoko dan Naomi untuk masuk kedalam mobil Toyota Raize mereka, setelah semua koper juga telah masuk kedalam mobil saat itu kakek Naomi segera berlari menuju kursi pengemudi.
"Kita akan melakukan perjalanan darat, mungkin ini akan lama karena rumah kita sangat jauh" ucap kakek sembari memasang sabuk pengamannya, nenek Naomi menatap Naomi dari pantulan kaca spion.
__ADS_1
"Semoga kalian tidak masalah, karena kakek dengan keras kepalanya memaksa untuk menjemput kalian di Tokyo" timpal nenek terdengar kesal
"Ayah... jangan memaksakan diri" ucap Naoko mencemaskan kakek Naomi
"Haaa tidak apa tidak apa, aku tidak sabar melihat cucuku yang ternyata sudah remaja ini" ucap kakek
Lalu mobil pun melaju meninggalkan badara internasional Narita Tokyo, perjalanan Naomi dan Naoko menuju kampung halaman menghabiskan waktu lebih dari dua hari. Itu karena beberapa kali kakek dan nenek Naomi mampir untuk membeli oleh - oleh dan sekaligus menginap dibeberapa penginapan untuk memperkenalkan negaranya kepada Naomi, meski hatinya masih sedih namun Naomi berusaha keras untuk menikmati perjalanannya itu.
Sesekali Naoko memperhatikan Naomi yang nampak murung disepanjang perjalanan meski beberapa kali kakek dan nenek Naomi mengajaknya untuk bersenang - senang, dibeberapa kesempatan tangan Naoko mengelus kepala Naomi dan membuat Naomi terkejut setiap kali Naoko melakukannya. Meski bingung dan heran, namun Naomi hanya diam saja membiarkan Naoko sesekali mengelus kepalanya dengan lembut.
Sebuah rumah kecil minimalis dengan kebun yang menjulang luas menjadi rumah masa kecil Naoko, setelah dua hari perjalanan saat itu akhirnya mereka semua sampai. Selain pekerja kebun yang dikelola kakek Naomi, tidak ada orang lain lagi yang ada diarea rumah itu. Nenek Naomi saat itu mengantarkan Naomi menuju kamarnya, sesampainya disana Naomi segera memasukkan isi koper kedalam lemarinya.
Di sebuah rumah yang sederhana namun asri dan jauh dari hiruk pikuk penatnya kesibukan ibu kota juga bebas polusi, jauh di pelosok kota Jepang dengan tekad dan harapan baru Naomi seakan bersiap menjalani hari - harinya tanpa Jester. Naomi juga menyiapkan dirinya yang akan kesepian karena kutukan yang dia ucapkan sendiri.
Ketika sampai dirumah pun Naomi terlihat masih murung, Naomi seperti sebuah robot yang akan bergerak jika dipanggil. Seakan tidak ada semangat hidup didalam dirinya kini, Sering kali Naomi melamun disebuah teras rumah menatap hijaunya kebun kakek Naomi. Keadaan Naomi membuat kakek dan nenek Naomi khawatir, belum lagi keadaan Naoko yang buruk paska meninggalnya Evans semakin menambah rasa khawatir kakek dan nenek Naomi.
Sebulan berlalu... Naomi tidak berubah dan masih sering murung, Naoko pun masih terlihat mengkhawatirkan meski sudah terlihat lebih baik...
Dua bulan berlalu... Naomi semakin terlihat depresi karena sesekali kakek dan nenek Naomi melihat Naomi menangis sendiri, namun kali ini Naoko terlihat lebih baik dari sebelumnya meski kondisi fisiknya masih mengkhawatirkan. Setidaknya Naoko kini hanya sesekali teringat dan menangisi meninggalnya Evans, dimasa dua bulan itu Naoko beberapa kali mengajak Naomi untuk berbicara tapi selalu saja Naomi menghindari pembicaraan itu.
Tiga bulan pun berlalu...
Di Suatu pagi yang cerah di perkebunan, sebuah rumah kecil terlihat diarea perkebunan yang menjadi milik kakek Naomi. Pagi itu Naomi keluar dari kamarnya dengan terburu - buru menuju kamar mandi, tingkah Naomi saat itu membuat kakek dan nenek Naomi heran. Tidak lama terdengar suara Naomi yang muntah - muntah dan menarik perhatian kakek dan nenek Naomi, dengan segera mereka berdua berjalan mendekati Naomi yang masih duduk bersandar ditembok dekat pintu toilet.
"Kamu baik - baik saja? apa perlu kita ke dokter?" tanya nenek Naomi terdengar khawatir
"Ti.. tidak nenek... aku hanya merasa pusing dan mual" jawab Naomi dengan nafas yang terengah - engah sehabis muntah, nenek Naomi mulai memijat leher Naomi dengan lembut.
__ADS_1
"Benarkah? tidak apa jika harus ke dokter, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini" ajak kakek Naomi, namun Naomi menolaknya dengan gestur tangan. Perlahan Naoko berjalan mendekati Naomi yang duduk bersandar disebelah pintu toilet, tangannya dengan segera menyentuh dahi Naomi yang berkeringat dingin itu.
"Naomi.... kamu...." dengan terbata Naoko mengucapkannya....