Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Tantangan Arthur


__ADS_3

Sesosok wanita berdiri ditengah - tengah ruangan dan tersorot langsung sinar matahari dari sebuah kubah kaca yang menjadi langit - langit ruangan itu, Jessica Arielle terlihat berdiri dan menundukkan pandangannya dihadapan Arthur Gates, Andrews Gates, William Gates, Phillips Gates, Marrie Gates, dua istri Andrews dan satu istri Phillips. Dibelakang Jessica terlihat Jester menatap punggung Jessica sembari duduk memangku Naomi yang saat itu terlihat sedikit menoleh menatap punggung Jessica.


Sepasang mata dengan tatapan yang tajam dan penuh kebencian tidak berhenti menatap sosok Jessica Arielle. Dia adalah  Arthur yang terlihat penuh amarah terhadap Jessica, sedangkan Jessica sendiri nampak tidak berekspresi sama sekali seakan menjadi wadah kosong tanpa emosi. Disisi lain  Andrews yang terlihat panik hanya dapat menundukkan pandangannya seakan sudah tahu akan kearah mana persidangan hari ini, namun diantara semuanya Marrie lah yang paling terkejut melihat teman masa SMA nya itu dihadirkan ditengah keluarga yang menyeramkan ini.


"Jessica..." gumam Marrie tidak percaya dengan apa yang dia lihat pagi ini


"Siapa dia?" tanya Jester berbisik pada Naomi, Jester terlihat bingung dengan kehadiran seseorang yang tidak dia kenal.


"Ibunya... Sarah..." jawab Naomi terbata lalu kembali menyembunyikan wajahnya didada bidang Jester.


"Jessica Arielle... membangun perusahaan Arielle Corp dan menjadi pesaing ketat dari salah satu cabang perusahaan milikku, mampu mengalahkannya dengan kemampuannya sendiri... namun ternyata itu semua adalah kebohongan publik, aku di khianati oleh anakku sendiri" terdengar sedih Arthur mengatakannya, semua kembali terdiam dan tidak ada satupun yang mampu untuk berkata dan membelanya.


Pernyataan Arthur membuat semua yang hadir dalam ruangan itu mulai menerka - nerka tentang tujuan dari pertemuan ini diadakan, walaupun masih menjadi sebuah tanya bagi Jester dan Naomi yang tidak dapat memahami apa hubungan antara keberadaan Jessica Arielle dengan rencana pernikahan mereka. Belum lagi keterkejutan Marrie akan kehadiran teman masa SMA nya itu yang ternyata berkaitan dengan bisnis keluarga Gates, sungghuh kenyataan yang masih sulit untuk diterima.


"Apa ada hal yang mau kamu ucapkan?" tanya Arthur dengan suara yang terdengar menekan


"Tidak ada" jawab Jessica singkat dan tegas


"Keberanianmu meningkat sejak terakhir kita bertemu... sembilan belas tahun yang lalu... kamu tidak berani menjawabku ketika itu, namun sekarang kamu..." belum selesai Arthur berkata, Jessica memotong.


"Aku tidak pernah berfikir aku bisa lolos dari cengkramanmu dan sejak saat itu aku selalu menganggap diriku sudah mati, aku tidak punya apapun untuk melawanmu dan tidak sekejap pun aku berfikir akan melawanmu... kamu boleh menghancurkanku, bahkan nyawaku pun aku rela kamu ambil sekarang juga tapi aku mohon satu hal kepadamu..." timpal Jessica lalu berlutut dan memohon dihadapan Arthur, melihat Jessica yang berlutut mendadak Andrews berdiri dan melangkahkan kaki beberapa kali ingin mendekati Jessica.


Ketegangan mulai terjadi ketika Jessica berlutut dihadapan Arthur, terlihat raut wajah sedih dari Andrews atas tindakan Jessica namun dibelakangnya ada dua istrinya yang mencoba menahan langkah Andrews dengan wajah penuh emosi. Namun tidak dapat disembunyikan kedua wanita itu seperti tidak tahan untuk menahan tawanya akan ketidakberdayaan Jessica, Marrie yang juga tidak diterima dengan baik oleh keluarga Gates pun seperti mampu merasakan apa yang Jessica rasakan saat itu.


"Sarah adalah cucumu.... dia sudah cukup menderita karena tidak pernah mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya... ampuni dia dan biarkan dia hidup tenang... aku mohon padamu..." terdengar memelas Jessica mengatakannya, air matanya pun jatuh begitu deras membasahi lantai marmer.


Naomi yang mendengar perkataan Jessica langsung meremas pundak Jester begitu erat, begitu pula dengan Jester dan William yang terlihat menahan emosi namun mereka berdua tahu tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukan disaat seperti ini. Membantah dan menolong Jessica sekarang hanya akan menambah buruk keadaan, walau bertentangan dengan hati nurani mereka namun baik Jester maupun William hanya bisa terdiam.


"Sarah... aku sudah mendengar etos kerjanya, sikapnya, dan cara berfikirnya. Memang pantas mengalir darah Gates didalam tubuhnya, tapi itu tidak akan merubah niatku untuk menghancurkan kalian yang sudah menentangku!" bentak Arthur menolak permintaan Jessica


"Kakek! ini sudah keterlaluan!" bentak Jester tiba - tiba menimpali bentakan Arthur, sontak bentakan itu membuat semua yang berada disana mengalihkan pandangannya menatap Jester.


Keberanian Jester menimpali kakeknya dengan bentakan mengagetkan semuanya, Marrie dan Naomi adalah dua sosok wanita yang begitu cemas akan tindakan Jester karena mereka merasa semua putra Arthur saja hanya mampu terdiam akan apapun tindakan yang dilakukan oleh kakek Jester itu. Mereka takut tindakan Jester akan memperparah keadaan yang sudah terjadi saat ini, sedangkan William tidak menyangka putra semata wayangnya itu mempunyai keberanian untuk menentang kakeknya. Hal yang selama ini William hindari dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan keluarga besarnya itu, sementara itu baik Andrews, Philips dan para istri mereka hanya bisa diam dengan ekspresi terkejutnya melihat apa yang sudah Jester lakukan.


"Apa katamu?!" tanya Arthur kepada Jester dengan suara yang menekan, William sampai menoleh menatap Arthur karena instingnya sebagai ayah untuk melindungi anaknya.


"Aku bilang ini keterlaluan!" jawab Jester kembali terkesan tidak takut dengan tekanan Arthur


"Kamu tahu apa yang baru saja kamu ucapkan Gates muda?" tanya Arthur lagi


"Apa aku terlihat sedang mabuk didepan kakek?" tanya balik Jester dengan sindiran, Arthur tersenyum menatap Jester.


"Tidak, tapi aku merasa kamu tidak memahami situasinya Gates muda" jawab Arthur dengan senyum menatap Jester


"Aku paham situasinya, aku juga paham apa yang kakek ingin aku lakukan. Jangan bertele - tele lagi, tugaskan saja segera kepadaku" timpal Jester dengan sedikit bentakan, tangan Naomi meremas pundak Jester lagi lalu kembali berbisik.

__ADS_1


"Jess... kamu mau menghancurkan Sarah? dia teman kita.... dia juga teman Luna.... jangan lakukan ini... tolong..." bisik Naomi terbata dan bergemetar, namun Jester bergeming dan terus menatap Arthur dengan tajam.


"Hancurkan Arielle Corp dan aku akan beri restu padamu untuk menikahi nona muda Scott" ucap Arthur dengan tegas


"Baik, kakek tidak boleh..." belum selesai Jester berkata, Andrews memotong perkataan Jester dengan penuh emosi.


"Kamu tidak boleh menghancurkan Arielle Corp!! anakku ada disana!!" bentak Andrews dengan penuh emosi


"Ooh... akhirnya pamanku ini bebicara juga, sejak kapan paman tiba - tiba berani untuk bicara?" tanya Jester dengan sindiran, Andrews pun semakin emosi dibuat Jester.


"Anak muda! kamu terlalu sombong!!" bentak Andrews kepada Jester


"Kakek, aku akan berhadapan dengan Sarah yang jadi temanku lalu aku juga akan menghadapi pamanku sendiri dan juga ibu dari Sarah. Mana mungkin aku bisa melaksanakan tugas darimu melawan orang yang punya kuasa di keluarga Gates?" tanya Jester sedikit menekan, Arthur terdiam beberapa saat namun tetap terus menatap Jester dengan tajam.


"Kamu...!!" bentakan Andrews pun dipotong oleh Arthur.


"Apa yang kamu inginkan Gates muda?" tanya Arthur terdengar tenang dan datar, Jester tersenyum menatap Arthur dengan senyum penuh arti.


"Aku memerlukan papa dan mama untuk membantuku" jawab Jester dengan tegas, William dan Marrie pun terkejut dengan permintaan Jester namun keduanya tetap terlihat tidak berani untuk berkata apapun didepan Arthur.


"Kenapa mereka?" tanya Arthur penasaran, senyum Jester membuat Arthur mengerutkan dahinya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya Jester pikirkan.


"Tidak ada lagi yang bisa aku percayai untuk membantuku, bagaimanapun orang tua adalah satu - satunya sandaranku sebagai anak" dengan tenang Jester menjawab pertanyaan Arthur, mereka berdua terdiam saling menatap dengan ekpresinya masing - masing. Arthur mengetahui ini adalah jebakan namun dia tidak dapat berfikir dan menerka apa yang Jester inginkan, Jester benar - benar tidak dapat di prediksi oleh Arthur.


"Aku akan beri tambahan orang untukmu" celetuk Arthur memecahkan keheningan seketika, senyum Jester berganti dengan raut wajah yang terlihat heran. Arthur mengambil sebuah lonceng yang berada dimeja kecil tepat disebelah kanannya, Arthur menggoyang lonceng itu lalu bunyi lonceng pun bergema diseluruh ruangan. Tidak lama seseorang masuk dari pintu dimana Andrews, William, dan Phillips tadi masuk kedalam ruangan, Julius terlihat berjalan mendekati Arthur dan berdiri tepat disebelahnya menatap Jester dan Naomi.


"Kakek!! tunggu!" agak berteriak Jester memanggil Arthur, Arthur langsung menghentikan langkahnya tanpa menoleh menatap Jester.


"Tugasku hanya untuk menjadikan perusahaan keluarga ini menjadi yang nomor satu kan?" tanya Jester memastikan perintah Arthur


"Arielle Corp memiliki kontrak jangka panjang dengan berbagai merk fashion terkenal, tidak ada cara lain yang bisa kamu lakukan selain menghancurkannya agar perusahaan keluarga yang bergerak dibidang yang sama menjadi nomor satu. Apa itu tidak cukup jelas untukmu Gates muda?" dengan tekanan Arthur mengatakannya


"Aku hanya ingin mempertegas perintahmu saja" dengan santai dan tanpa beban Jester mengatakannya, Arthur tersenyum kembali mendengar jawaban Jester yang tanpa beban itu.


"Kejutkan aku Gates muda... aku menaruh harapan besar kepadamu, Putra William" gumam Arthur lalu kembali berjalan meningalkan ruangan itu, Phillips langsung berdiri dan mendekati istrinya yang sejak tadi berdiri dibelakang lalu segera berjalan meninggalkan ruangan itu.


Tersisalah Jester yang memangku Naomi, Jessica yang masih berlutut ditengah - tengah ruangan, Andrews dan kedua istrinya yang masih membatu disana, William yang berdiri lalu berjalan mendekati Jester diikuti oleh Marrie, dan Julius yang masih berdiri ditempatnya semula.


"Naomi... sudah aman" celetuk Jester kepada Naomi dengan suara yang terdengar lembut, perlahan Naomi melepaskan lingkaran lengannya dibahu Jester dan beranjak dari pangkuan Jester.


"Penampilan yang keren nak!" ucap William dengan antusias dan kebanggaan tinggi kepada Jester, namun Jester menatap William dengan wajah kesal.


"Apa itu tadi? kenapa jadi ayam sayur?" tanya Jester dengan sindiran, William langsung merangkul Jester dengan erat


"Ayolah anakku, papa tidak mungkin membantah kakekmu kan? papa ini anak yang berbakti" timpal William dengan suara yang terdengar sangat senang melihat penampilan Jester disidang pagi ini, Jester terdiam menatap William yang berada disebelahnya masih terlihat kesal.

__ADS_1


Tiba - tiba terdengar bunyi "Plak!!" yang cukup keras sampai menggema diseluruh ruangan dan membuat semua orang menatap sumber suara itu. Terlihat Jessica menepis tangan Andrews dengan cukup keras seakan dia menolak uluran tangan Andrews untuk membantunya berdiri, tindakan Jessica saat itu mengagetkan Marrie.


"Cukup... kamu gak usah pedulikan aku lagi..." celetuk Jessica lalu dia berdiri namun masih menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan Andrews.


"Aku..." belum selesai Andrews berkata, Jessica memotongnya.


"Aku tidak ingin dengar apapun dari mulutmu mulai sekarang, sudah cukup kamu membuatku menderita Andrews Gates. Jangan kamu buat Sarah ikut menanggung dosa kita!!" bentak Jessica penuh emosi, dia pun segera berbalik dan meninggalkan Andrews lalu mendekati Jester yang masih duduk dikursinya.


"Tuan muda Jester Gates aku..." belum selesai Jessica berkata, Jester langsung memotong.


"Panggil aku Jester saja nyonya Arielle" timpal Jester datar, Jessica pun terdiam beberapa saat menatap Jester.


"Hancurkan aku dan lepaskan Sarah... aku mohon padamu..." pinta Sarah lalu segera berlutut dihadapan Jester, melihat Jessica yang berlutut membuat Jester, Naomi, William, dan Marrie terkejut. Dengan segera Marrie mengangkat tubuh Jessica yang berlutut sambil menangis itu, Jester langsung berjongkok didepan Jessica.


"Nyonya tenang dulu... jangan berlutut seperti itu didepanku" ucap Jester dengan panik


"Sarah tidak tahu apa - apa... ini murni kesalahanku.... tolong jangan libatkan dia.... aku mohon padamu..." terisak - isak Jessica mengatakannya pada Jester, suara pilu Jessica membuat Jester bingung harus seperti apa dia bersikap saat itu. Perlahan sorot mata Jester menatap William tanpa kata, tapi seakan William tahu apa yang diinginkan oleh Jester.


"Ayo kita pergi dari tempat ini" celetuk William dengan tegas


"Tunggu!" agak membentak Andrews mengatakannya, namun suara deham Julius menarik perhatian semuanya.


"Ehem... tuan Andrews, silahkan tinggalkan mereka. Aku ditugaskan untuk memberikan segala fasilitas dan menghilangkan semua gangguan kepada tuan muda Jester" tegas Julius mengatakannya sembari berjalan untuk menghalangi Andrews mendekati Jester.


"Tapi..." belum selesai Andrews berkata, Julius memotong sambil menundukkan badannya didepan Andrews.


"Maafkan Julius tuan, silahkan pergi tinggalkan kami" tegas Julius mengatakannya, Andrews langsung berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Begitu Andrews keluar, Julius berbalik menatap Jester.


"Kita pindah, tidak enak berdiskusi ditempat yang menekan seperti ini" ucap Julius dengan sopan dan tenang


Jester berdiri dari jongkoknya kemudian menggandeng Naomi untuk pergi dari tempat itu, disusul William dan Julius dibelakang Jester, lalu Marrie pun mengikuti dengan merangkul Jessica yang masih menangis untuk pindah tempat. Disebuah ruangan yang terlihat mewah dengan sofa - sofa yang tertata rapih dan juga dekorasi yang begitu aestetik, aura - auranya terasa berbeda dengan ruangan sebelumnya.


Di sofa itu Jester dan Naomi duduk bersebelahan dan Naomi pun terlihat menyandarkan kepalanya dibahu Jester, sedangkan William duduk sendirian menatap langsung wajah anaknya, Marrie dan Jessica duduk bersebelahan, dan Julius terlihat berdiri didekat pintu keluar ruangan itu. Tidak lama empat orang wanita berpakaian maid datang masuk dan menyeduhkan teh hangat kepada mereka semua, begitu selesai keempat wanita berpakaian maid itu pun segera meninggalkan ruangan.


"Apa rencanamu nak?" tanya William membuka pembicaraan, Jester lalu menoleh menatap Julius yang masih terlihat berdiri didepan pintu keluar dengan sikap sempurna.


"Pak Julius.... berada dipihak siapa kamu saat ini?" tanya Jester sedikit menekan, Julius dengan tenang menatap Jester dan terdiam sejenak.


"Aku Julius sudah berkerja untuk tuan besar Arthur Gates selama lebih dari tiga puluh tahun, aku tidak mungkin akan mengkhianati tuan besar Arthur Gates" jawab Julius dengan tenang, Jester menghela nafasnya sejenak.


"Aku membutuhkanmu untuk membantuku, aku punya cara agar bisa memenuhi harapan kakek namun aku masih dapat mempertahankan pertemananku dan tidak menghancurkan keluarga Arielle. Apa itu akan membuatmu melaporkan rencanaku kepada kakek?" tanya Jester dengan sedikit menekan dan berharap Julius mau membantunya, Julius pun terdiam menatap Jester.


Saat itu tidak hanya Julius yang terlihat heran dengan perkataan Jester, namun bahkan William, Marrie, Jessica, dan Naomi pun terlihat heran menatap Jester. Begitu cepatnya Jester mendapatkan cara untuk memenuhi keinginan Arthur, namun dia juga dengan penuh keyakinan tidak akan menghancurkan Jessica dan Sarah.


"Julius tidak mendengar apapun" timpal Julius dengan senyum penuh kebanggan yang tersirat, Jester tersenyum lalu kembali menatap kedepan dan menepuk kedua tangannya.

__ADS_1


"Okee!! ayo kita kalahkan kakek!!" penuh semangat Jester mengatakannya, William pun tersenyum bangga menatap putra semata wayangnya itu.


"Thats my son" gumam William bangga.


__ADS_2