
Siang hari di jalanan perkotaan yang padat, sebuah Mercedes Benz V260 terlihat melintas dengan kecepatan sedang. Jester dan Naomi yang menaiki mobil itu sedang dalam perjalanan pulang setelah satu hari yang melelahkan dan penuh dengan pergolakan emosi. Beberapa menit sudah mereka lalui dan akhirnya mereka pun tiba di depan rumah, Jester memasukkan mobil kedalam garasi lalu turun dari mobil. Langkah Jester terhenti saat Jester melihat Naomi yang masih diam tidak bergerak sedikit pun dari dalam mobil itu, Naomi hanya memandangi tembok garasi dari dalam mobil. Jester yang bingung menggaruk - garuk dahinya beberapa saat dan kembali masuk lalu menutup pintu mobil.
"Kamu mau kemana?" tanya Jester memecahkan keheningan
"Pulang" jawab Naomi singkat dan suaranya masih terdengar emosi, Naomi tidak memalingkan wajah menatap Jester dan masih terus menatap tembok garasi dari balik jendela mobil.
"Kerumah ayah?" tanya Jester lagi berusaha memahami keinginan Naomi
"Rumahku!" bentak Naomi, mendengar bentakan itu malah membuat Jester tersenyum.
"Baiklah...." Jester mengatakannya sembari mengeluarkan mobil dari garasi dan memacunya kembali menuju keluar dari cluster perumahan, Naomi terkejut sembari menatap Jester dengan mimik wajah marah.
"Apa yang kamu lakukan?! aku mau pulang!!" ucap Naomi dengan emosi, Jester menatap Naomi dengan senyuman.
"Temani aku ya, aku ingin menghirup udara segar" jawab Jester dengan lembut, namun Naomi hanya membuang mukanya lalu kembali terdiam menatap jendela penumpang depan.
Disepanjang perjalanan keduanya tidak terlibat dalam percakapan apapun, Naomi hanya terdiam menatap keluar dari balik jendela mobil sedangkan Jester fokus melajukan mobilnya dengan santai saat itu. Hingga satu jam perjalanan sampailah mereka berdua di perbukitan yang terletak tidak jauh dari pusat kota, Jester memarkirkan mobilnya dekat dengan ujung tebing curam yang menghadap kesebuah hutan. Naomi bingung memandangi sekitar tempat itu yang hanya terlihat ujung tebing dan pepohonan, beberapa saat Naomi pun ikut turun mendekati Jester yang lebih dulu berdiri diujung tebing dekat dengan jurang.
"Kenapa kesini?" tanya Naomi dengan heran sembari menatap punggung Jester, Naomi saat itu tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan Jester di ujung tebing seperti ini.
"Menghirup udara segar" jawab Jester singkat, Jester menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan. Jester melakukannya berulang - ulang dan mengabaikan Naomi yang sudah tepat berdiri disebelahnya, Naomi semakin heran dengan tingkah Jester.
"Aku tidak mengerti" Naomi kembali heran melihat tingkah Jester, Naomi terus menatap Jester namun Jester tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dan terus melanjutkan aktifitasnya.
"Memang tidak perlu kamu pahami, kamu hanya perlu berdiri di sebelahku dan lakukan hal yang sama denganku" jawab Jester dan melanjutkan aktifitasnya lagi, dengan wajah bingung Naomi mengikuti aktifitas Jester di ujung tebing itu. Setelah beberapa kali Naomi menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mendadak senyumnya kembali merekah.
Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi yang mulai tersenyum, Jester pun tersenyum memperhatikan Naomi yang masih mengikuti anjurannya. Sadar sedang di perhatikan oleh Jester, Naomi mengalihkan pandangannya menatap wajah Jester. Jester dan Naomi bertatapan mata, saat itu jantung Naomi berdetak kencang dan wajahnya mendadak merona menatap Jester.
"Berbeda dengan di laut, disini kamu akan merefresh emosimu. Biasanya kalau aku sedang marah aku akan kesini menghirup udara segar sedalam - dalamnya, lalu entah mengapa mood ku mendadak langsung membaik" Jelas Jester, sesaat Jester mengalihkan pandangannya menatap hutan dibawah tebing yang curam itu.
"Ii.. iya... aku juga merasakan hal yang sama" timpal Naomi terbata dan masih menatap Jester, wajah Naomi masih terlihat merona dan detak jantungnya semakin berdetak kencang.
"Kata papa hidup itu memang selalu seperti itu, kadang kala menjadi menyebalkan kadang juga menyenangkan. Tapi di posisi manapun kamu sedang melaluinya tetap berpegang pada prinsip aku harus bahagia bagaimana pun caranya, karena hidup terlalu singkat untuk larut dalam kondisi yang tidak menyenangkan" Jelas Jester sembari menatap Naomi, perkataan Jester membuat Naomi tertegun.
"Papa orang yang... bijak ya" ucap Naomi terbata sembari mengalihkan pandangannya ke bawah, Naomi memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.
"Kadang emang begitu walau lebih sering membuatku kesal" mendadak Jester menunjukkan wajah kesal menatap Naomi sembari mengatakannya, Jester kembali menatap langit dan mengambil nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Keduanya terdiam dan tidak lagi saling memandang, mereka berdua memandangi langit sore di tepi tebing curam itu. Naomi terlihat sedang memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepada Jester namun sepertinya dia ragu, dia menarik - narik rok nya beberapa kali seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk berbicara. Jester menoleh dan melihat Naomi yang mendadak terlihat tidak nyaman berada ditempat itu, didalam pikirannya saat itu hanyalah Naomi membutuhkan kamar mandi dan saat ini Naomi sedang berusaha menahannya. Tanpa pikir panjang Jester mencoba untuk bertanya
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jester sambil menatap Naomi, nada bicara Jester terdengar santai untuk memberikan rasa nyaman pada Naomi.
"Aaah... eeh tidak tidak, aku cuma... sedang berfikir" jawab Naomi terbata tanpa menatap wajah Jester, disaat itu Jester merasa Naomi ingin bertanya sesuatu padanya dan bukan seperti awal yang dia pikirannya.
"Kalau mau curhat boleh kok, aku akan jadi pendengar yang baik dan kalau mau minta saran juga boleh" ucap Jester dengan nada bicara yang terdengar santai, Naomi menatap Jester dengan raut wajah yang masih merona saat itu.
"Apa yang kamu suka dari Camilla?" tanya Naomi, Jester sedikit terkejut mendengar pertanyaan Naomi.
"Apa ya? hmm.... boleh aku cerita sedikit tentangku?" tanya Jester dengan sedikit menahan tawanya, Naomi terheran melihat Jester hendak tertawa namun Naomi mengabaikannya.
"Boleh..." jawab Naomi singkat dan terus menatap Jester dengan rasa penasaran
"Aku ini dari SMA sampai sekarang bisa dibilang terkena kutukan menjadi jomblo abadi, tidak pernah punya pacar ataupun teman wanita yang dekat. Karena itu papa sampai bilang aku ini kelainan" tertawa sebelum melanjutkan ceritanya, Naomi pun saat itu sampai tersenyum mendengar Jester tertawa sendiri.
"Saat SMA untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta, seorang adik kelas yang ternyata adalah teman Selena. Aku terlalu terpesona padanya sampai - sampai aku gak sadar kalau Selena juga adik kelasku dan selalu ada disamping wanita yang aku sukai itu" Jester melanjutkan ceritanya namun kali ini senyum diwajahnya menghilang, wajahnya berganti menjadi terlihat sedih sembari menatap langit.
Seketika Jester terdiam beberapa saat, Naomi heran kenapa Jester terdiam namun Naomi hanya bisa menunggu Jester meneruskan ceritanya. Jester kembali menghirup udara segar sore itu lalu menghembuskannya dengan keras dan seperti bersiap untuk melanjutkan ceritanya.
"Pada saat festival perpisahan sekolah dimana itu menjadi satu - satunya kesempatan terakhirku untuk bisa mengungkapkan perasaanku padanya, namun pada akhirnya aku di tolak mentah - mentah. Saat cinta pertamaku muncul disaat itu juga rasa sakit hati pertama aku dapatkan, aku bahkan menjadi sangat terpuruk saat itu. Hingga sampailah aku disini, aku mencintai Camilla dan terpesona olehnya. Rasanya seperti De Javu, kamu tahu?" Jester menceritakannya datar seperti hal itu bukan terlalu masalah bagi Jester, namun Naomi memahami ada sesuatu yang masih Jester sembunyikan darinya.
"Lalu? kamu belum menjawab pertanyaanku" Naomi mulai tidak sabar dengan jawaban Jester, sesaat terdiam kembali Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi.
"Apa... menurutmu jodoh yang diatur itu benar - benar ada?" tanya Naomi terbata, Jester menatap langit dan berusaha berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Naomi.
"Hmm.... entahlah, menurutku sih ada" jawab Jester dengan keraguan, mendengar keraguan Jester itu membuat Naomi sedikit kesal pada Jester.
"Tapi kalau menurutmu ada, bukannya kamu dan Camilla atau bahkan dengan teman Selena itu seharusnya punya perasaan yang sama?" tanya Naomi agak meninggikan nadanya bicaranya, Jester kembali menatap Naomi.
"Benar juga sih, tapi jangan lupa juga dengan ungkapan yang mengatakan rezeki sudah diatur. Kalau kita tidak bekerja bagaimana rezeki itu bisa kita dapatkan?" tanya balik Jester kepada Naomi dengan nada yang terdengar santai merespon kekesalan Naomi, disaat itu wajah Naomi merah merona namun Naomi tetap berusaha keras agar tidak membuang muka menatap Jester.
"Apa menurutmu.... petemuan kita pun telah.... diatur?" Naomi terdengar malu - malu saat menanyakannya, mendengar pertanyaan Naomi membuat Jester panik dan wajahnya pun memerah.
"Eeeh.... apa maksudnya?!" Jester yang terkejut bertanya balik pada Naomi, keduanya saling bertatapan mata tanpa sepatah kata pun untuk waktu yang agak lama. Setelah terdiam beberapa saat bibir Naomi mulai terlihat bergerak perlahan, Naomi mencoba berbicara lagi untuk memecah kebisuan diantara mereka.
"Aa... Aku.... Aku merasa..." belum selesai kalimat Naomi tiba - tiba handphone Naomi berdering dengan sangat keras, suasana romantis itu mendadak rusak oleh nada dering.
Dering handphone Naomi benar - benar membuat Jester dan Naomi terkejut dan tersadar dari suasana romantis yang menghanyutkan itu, Naomi yang terlihat panik mengeluarkan Handphone nya dari dalam tas lalu melihat siapa yang meneleponnya dan dilayar handphone itu tertulis panggilan masuk dari "my love". Jester terlihat memunggungi Naomi berusaha menata kembali nafas dan emosinya agar wajahnya kembali normal dan tidak memerah, detak jantung Jester saat itu pun berdetak kencang.
"Daniel...." gumam Naomi terlihat terkejut ketika menatap layar handphonenya, namun Naomi terlihat tidak ingin mengangkat telepon dari Daniel.
__ADS_1
"Hah? apa yang tadi kamu bilang?" tanya Jester sembari berbalik lagi menatap Naomi
"Aah.. Eeeh tidak... ini telepon dari Daniel" Naomi menjawab sambil terus memandangi handphonenya, Jester heran kenapa Naomi tidak segera mengangkat telepon itu.
"Kenapa tidak diangkat saja?" tanya Jester heran, Naomi terdiam memandang wajah Jester beberapa saat lalu mengangkat telepon itu.
***
"Ya, Hallo..." ucap Naomi dengan lembut
"Naomi kamu dimana? suara anginnya keras banget" tanya Daniel
"Maaf, aku tidak bisa kasih tau aku dimana" jawab Naomi
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Daniel
"Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu, aku yakin kamu tahu jawaban dari pertanyaanmu" jawab Naomi ketus
"Kamu berubah ya! dulu kamu tidak seperti ini, apa karena pacar setinganmu itu?!" Daniel membentak Naomi hingga membuat Naomi agak sedikit menjauhkan handphone dari telinganya
"Aku hanya capek, ijinkan aku berhenti sejenak. Aku ingin menaruh beban - bebanku dan beristirahat walau hanya sekejab" jawab Naomi dengan suara yang terdengar lembut
"Capek? aku juga capek!! tapi lihat aku, aku masih tetap bertahan denganmu!! kamu gak pantas berkata seperti itu!" bentak Daniel, Naomi lagi - lagi menjauhkan handphone dari telinganya
"Daniel.... aku mohon, biarkan aku beristirahat untuk sejenak" pinta Naomi dengan suara yang masih lembut
"Terserah kamu!!" bentakan Daniel di iringi terputusnya telepon
***
Tidak terasa air mata mulai menetes di pipi Naomi, Naomi yang masih menggenggam handphonenya berusaha mengusap air matanya yang semakin deras mengalir dari matanya saat itu. Jester memahami Naomi berusaha untuk tidak menangis namun semakin Naomi mengusap air matanya semakin deras pula air mata itu keluar, sejenak akhirnya Naomi membiarkan air matanya terus mengalir.
"Aku lelah...." ucap Naomi sambil memandangi Jester dengan suara yang terdengar lirih, Jester menatap iba Naomi saat itu.
"Aku paham perasaanmu, memang sulit...." timpal Jester dan Jester tidak dapat memikirkan kalimat apa lagi yang harus dia katakan disaat itu, Jester sangat ingin membantu Naomi namun Jester sadar dirinya tidak pernah punya pengalaman yang cocok untuk memberi masukan kepada Naomi.
Naomi menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis dengan terisak - isak, Jester berjalan mendekati Naomi sembari memeluknya dengan lembut dan erat lalu mengusap - usap kepalanya berusaha menenangkan tangisan Naomi. Pelukan hangat Jester mengagetkan Naomi namun itu membuatnya semakin hanyut dan merasa nyaman untuk meluapkan perasaannya saat ini, yah.... pergolakan batinnya terhadap Daniel yang selama ini selalu dia pendam sendiri, hingga beberapa saat tangisan Naomi berangsur - angsur berhenti. Jester memastikan bahwa Naomi benar - benar berhenti menangis dengan sedikit menjauhkan wajahnya dan memperhatikan Naomi yang masih membenamkan wajahnya didada Jester, menyadari tangis Naomi mulai reda dan hanya tertunduk sambil memejamkan matanya membuat Jester perlahan melepaskan pelukannya.
"Maaf.... aku tadi terpaksa memelukmu, aku tidak bermaksut melanggar kontrak kita tapi..." kalimat Jester terputus karena Naomi tiba-tiba mencium bibir Jester dengan lembut, Jester terkejut namun Jester tidak dapat berfikir apa yang seharunya dia lakukan dan hanya berdiam diri menikmati tautan bibirnya dengan Naomi walau saat itu Jester hanya dapat mematung.
__ADS_1