
Sore yang cerah disebuah mall pinggir kota, disalah satu cafe dalam mall yang sepi karena William menutup cafe itu untuk acara private secara mendadak. Terlihat Andrews duduk berhadap - hadapan dengan Sarah sembari kedua tangannya menyodorkan satu buket bunga mawar medium pink, namun untuk beberapa saat Sarah hanya terdiam dan menatap buket bunga itu. Perasaan campur aduk yang masih Sarah rasakan membuatnya bingung harus seperti apa bersikap, dalam hatinya masih meyimpan amarah terhadap Andrews.
Sebutan 'nak' yang keluar dari mulut Andrews terasa begitu asing bagi Sarah, entah harus marah atau bahagia untuk menerima sebutan itu dari ayahnya. Dalam hati kecilnya Sarah memiliki impian untuk dipanggil nak oleh sosok yang harusnya menjadi cinta pertamanya, namun kenyataan yang harus dia hadapi membuatnya sulit untuk memaafkan ayahnya.
Perlahan Sarah menundukkan kepalanya dengan tangan yang masih terus meremas tali sling bag miliknya begitu kuat, seakan enggan untuk menerima buket bunga mawar medium pink itu dan membuat Andrews terlihat sedih. Belum selesai rasa bersalah Andrews kepada Sarah, sekarang Andrews dihadapkan oleh penolakan yang terlihat dari sikap Sarah kepadanya sore itu.
"Mama pernah menceritakan seberapa kejamnya keluarga Gates, tuan William sudah menegurku jika segala kesuksesan dan kerja kerasku selama ini hanya semu karena kenyataannya semua ada campur tanganmu, Jester mengatakan padaku jika takdirku sebagai salah satu anggota keluarga Gates tidak dapat dihindari sejauh apapun aku berlari untuk menghindarinya.... aku sekarang... dapat memahami itu, tapi...." Sarah menggantung kalimatnya sembari mengalihkan pandangannya menatap Andrews
"Aku masih tidak mampu memahami caramu untuk membuang dan meninggalkan aku... meninggalkan mama... tidakkah ada sesuatu yang terluka dari harga dirimu sebagai seorang pria? aku tidak mampu untuk memahami itu" Sarah melanjutkan perkataannya dengan nada yang terdengar menekan
Saat memiliki kesempatan untuk bertemu Sarah, Andrews sudah mempersiapkan hatinya untuk mendengarkan segala keluhan Sarah termasuk jika Sarah mempertanyakan tentang mengapa Andrews meninggalkan Jessica juga Sarah. Ketika pertanyaan itu terlontar Andrews menyadari betapa besar luka yang telah dia torehkan untuk Sarah. Mendengar pertanyaan itu juga membuat Andrews menyadari betapa pengecutnya dirinya saat itu karena tidak mampu mempertahankan hubungannya dengan Jessica.
"Aku tahu, aku sangat memahami seberapa pengecutnya diriku ini. Semua aku sadari ketika melihat Will pergi dari rumah agar dapat terus bersama dengan Marrie, dalam hatiku berfikir... kenapa aku tidak memiliki keberanian itu dalam diriku... tapi semua itu hanya masalalu, saat ini aku hanya dapat meminta maaf padamu" terdengar penuh penyesalan Andrews saat mengatakannya
"Seperti kataku tadi.... aku sudah memahami jika aku tidak dapat lari dari takdirku sebagai anakmu dan memiliki darah Gates meski aku sangat membencinya. Aku bisa menerimamu sebagai ayahku, namun mungkin aku tidak tahu kapan aku bisa memaafkanmu...." Sarah menggantung kalimatnya sejenak sembari menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, perkataan Sarah saat itu membuat Andrews terkejut.
"Kedepan aku akan memanggilmu papa" ucap Sarah melanjutkan kalimatnya sembari mengambil buket bunga mawar medium pink dari tangan Andrews lalu berdiri dan hendak meninggalkan Andrews, namun baru beberapa langkah berjalan meninggalkan Andrews tiba - tiba Sarah menghentikan langkahnya sembari menoleh kembali menatap Andrews.
"Ooh iya... satu lagi, warna pink bukanlah warna yang aku suka meski aku seorang wanita. Aku lebih menyukai warna ungu" celetuk Sarah saat itu lalu kembali berjalan meninggalkan Andrews yang bergemetar dan terlihat menahan tangisnya meski air mata terus mengalir dari matanya.
"Papa... mengerti..." timpal Andrews terbata
Sore itu menjadi sore yang mengharukan bagi Andrews karena pada akhirnya Sarah menerima keberadaannya yang selama ini sudah meninggalkan anak perempuannya berjuang sendiri dan menutupi kebenaran tentang siapa sosok ayahnya, namun hari ini seakan apa yang menjadi beban seumur hidup Andrews mendadak terasa lebih ringan dari hari - hari sebelumnya. Andrews berharap pada pertemuan berikutnya dia bisa memeluk putrinya dan meluapkan kerinduan juga rasa sayangnya kepada Sarah yang sudah lama dia pendam. Rasa bangga pada Sarah begitu besar dihati Andrews, Sarah putrinya bertumbuh menjadi wanita yang cantik mewarisi kecantikan ibunya, juga kepribadiannya yang Tangguh seperti dirinya begitu terasa.
Sedangkan bagi Sarah ini hanyalah sebuah awal baru setelah mengetahui siapa ayahnya yang selama lebih dari dua puluh tahun ini tidak dia ketahui, sebagai seorang anak perempuan tentu sosok ayah adalah sosok yang sangat penting baginya. Sarah yang berjalan mendekati Jester dan William dipintu keluar cafe saat itu terlihat berusaha menyeka setiap air mata yang keluar dari matanya, perasaan haru itu sampai membuat Jester dan William juga merasakan kebahagiaan dan kesedihan Sarah saat itu.
"Seberapapun besarnya kesalahan orangtuamu tapi kamu harus selalu ingat jika mereka sebenarnya menyayangimu, mungkin kakakku itu terlihat seperti pengecut dihadapanmu namun jika kamu mau melihat dari sudut pandang yang berbeda maka kamu akan mengetahui jika kakakku itu juga memiliki keberanian sudah bergerak dibelakang papa kami untuk dirimu" celetuk William ketika Sarah berdiri tepat didepan Jester dan William, hanya dengan anggukan kepala Sarah merespon perkataan William.
"Aku punya satu permintaan lagi padamu Jester" pinta Sarah pada Jester
"Katakan saja" ucap Jester
"Aku ingin berbicara dengan orang yang seharusnya aku panggil sebagai kakek" tegas Sarah mengatakannya, permintaan Sarah saat itu sedikit membuat Jester dan William terkejut namun keduanya sangat memahami kenapa Sarah ingin melakukannya.
"Aku mengerti, tapi itu hanya akan terjadi saat kamu menyelesaikan tugas dariku" ucap Jester kepada Sarah, tiba - tiba tangan kanan Sarah seakan meminta sesuatu pada Jester.
Dengan penuh semangat Sarah menerima tugas dari Jester, seakan tidak sabar untuk bertemu dengan Arthur sang kakek. Terlihat dengan jelas oleh Jester dan William jika Sarah seperti ingin meluapkan semua tanya yang selama ini dia pendam tentang masalalu sang ayah yang meninggalkan dirinya karena ulah Arthur.
"Berikan padaku, aku akan segera melakukan pembelian barang - barang milik Exo sesuai arahanmu" tegas Sarah mengucapkannya, Jester lalu memberikan sebuah map kepada Sarah.
"Kita akan segera bertemu lagi presdir" ucap Sarah lalu berjalan hendak meninggalkan cafe itu
"Aku tahu kamu merasa bahagia.... jangan terlalu berlama - lama untuk menjaga gengsimu agar bisa akrab dengan ayahmu" celetuk William saat Sarah baru berjalan beberapa langkah, celetukan William itu sampai membuat Sarah berhenti berjalan namun masih tetap memunggungi William dan Jester.
"Darimana papa tahu dia bahagia? air matanya saja deras mengalir sejak tadi" tanya Jester heran
__ADS_1
"Itu hanya insting seorang ayah nak, kamu akan memahami ini kelak saat kamu mempunyai anak" jawab William dengan senyum penuh keyakinan, Jester pun terlihat kesal mendengar jawaban tanpa dasar William namun suara tawa kecil Sarah terdengar seketika.
"Aku mengerti... tuan William..." dengan sedikit suara tawa kecil yang terdengar dari Sarah saat mengucapkannya, Sarah kembali berjalan keluar dari cafe meninggalkan Jester, William dan Andrews disana.
"Hei heii... aku ini pamanmu" terdengar kesal William mengatakannya namun Sarah tidak mempedulikannya dan terus berjalan keluar cafe. Tepat diluar cafe, Luke terlihat menunggu kedatangan Sarah lalu segera memberi sebuah tissue saat Luke melihat Sarah berlari keluar dari cafe yang tertutup itu.
"Jangan sedih... semua akan baik - baik saja..." ucap Luke sembari memberikan tissue kepada Sarah, mendapatkan sambutan itu membuat Sarah tertegun memandangi wajah Luke.
"Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menghiburmu, aku tidak pandai dalam hal seperti ini... tapi aku hanya ingin kamu terus dapat tersenyum seperti hari - hari yang selama ini kita lalui bersama.... jadi tolong jangan sedih lagi" ucap Luke lagi meneruskan kalimatnya karena Sarah hanya tertegun memandangi wajahnya, tiba - tiba Sarah tersenyum lalu berjalan mendekat dan memeluk Luke dengan sangat erat.
Luke adalah sosok pria pertama yang berhasil meluluhkan hati Sarah, hubungannya dulu dengan Daniel hanyalah sebatas hubungan kerja dan tanpa ada perasaan apapun. Kehadiran Luke yang membuat Sarah jatuh cinta pada pandangan pertama berhasil membuatnya merasa nyaman, terlebih sikap yang ditunjukkan oleh Luke begitu lembut walau dari wajah dan postur tubuh malah sebaliknya.
"Terima kasih..." ucap Sarah, mendapatkan pelukan sangat erat ditengah keramaian mall saat itu membuat wajah Luke memerah.
"Heii Heii!! jangan begini, disini ramai!" terdengar panik Luke mengucapkannya namun Sarah hanya tertawa tepat didekat telinga Luke.
"Yuk pulang, aku ada kerjaan" ucap Sarah lalu melepaskan pelukannya dan kembali berjalan menuju parkiran mall
Dari balik tirai cafe yang tertutup untuk private itu, Andrews dan William mengintip lalu memperhatikan tingkah Luke dan Sarah yang tiba - tiba berpelukan, wajah Andrews terlihat marah namun William malah terlihat senyum - senyum sendiri. William menepuk pundak Andrews dengan cukup keras sampai membuat Andrews mengalihkan perhatiannya menatap William, dengan senyum penuh perasaan bangga William menatap Andrews.
"Selamat datang di klub pemberontak keluarga Gates kakak pertama!" terdengar bahagia William mengucapkannya, Andrews hanya tersenyum lega mendapatkan ucapan selamat dari William. Perlahan Andrews berbalik dan menatap Jester yang kembali sibuk menyantap sisa makanan yang sempat dia pesan tadi, seakan tidak memiliki beban.
"Aku tahu kamu sudah memiliki rencanamu sendiri namun kamu harus ingat jika kakekmu itu bukanlah tipe orang yang mudah untuk dikalahkan" celetuk Andrews saat itu
"Aku mengerti paman, tapi semua sudah sesuai dengan rencanaku" timpal Jester dengan tenang
"Kamu terlalu meremehkan seorang Arthur, lebih baik kamu untuk segera bersikap lebih serius lagi. Itu saranku anak muda" tegas Andrews mengatakannya, William menepuk pundak Andrews dengan cukup keras.
"Serahkan pada Jester, meski terlihat berotak kosong seperti itu namun sebenarnya dia seorang yang jenius" dengan meyakinkan William mengatakannya, perkataan William membuat Jester tersinggung.
"Apa maksud papa dengan aku seperti berotak kosong?!!" terdengar emosi saat Jester mengatakannya
"Nyatanya memang kamu sering kali bersikap bodoh, dasar anak bodoh!!" jawab William juga terdengar penuh emosi
"Apa piala - piala akademik ku kurang banyak dirumah?!! bagaimana bisa aku berotak kosong dengan kenyataan itu?!! dasar papa bodoh!!" bentak balik Jester kepada William
"Hidup itu tidak selalu tentang akademik, ada juga perasaan peka terhadap orang lain!!" bentak balik William pada Jester, kemudian ayah anak itu terlibat dalam adu fisik.
Pemandangan yang membuat Andrews tidak dapat berkata apa - apa lagi, bagi Andrews yang selama ini selalu ada jarak diantara dirinya dan Arthur terlebih lagi hubungannya dengan anak - anaknya yang selama ini selalu kaku dan formal membuat Andrews tidak kuasa untuk menahan tawanya. Suara tawa Andrews membuat Jester dan William untuk sejenak berhenti saling piting dilantai, perhatian keduanya kini beralih menatap Andrews yang tidak juga kunjung berhenti tertawa.
"Paman sudah gila?" tanya Jester heran
"Jangan berkata seperti itu pada pamanmu!! meski terlihat bodoh, tapi dia itu tetap pamanmu!!" bentak William menegur Jester
"Ahahaha... dasar kalian ini, benarkah ada darah Gates ditubuh kalian? Jester, paman akan menjadi pendukungmu untuk menggeser posisi kakekmu. Katakan saja jika ada hal yang bisa paman bantu, paman pasti membantu dengan sekuat tenaga" ucap Andrews kepada Jester, mendengar perkataan Andrews membuat Jester dan William pun tersenyum senang. Tiba - tiba Andrews menggulung lengan kemejanya, lalu menatap William dengan tatapan seram.
__ADS_1
"Will, kamu tahukan seberapa kuat diriku?" tanya Andrews terdengar mengancam, William pun berkeringat dingin memandang Andrews.
Ketiganya terlibat sparing bersama, keributan yang membuat pekerja kafe tidak mempercayai mereka akan kedatangan pelanggan seaneh dan sebrutal ketiga orang yang mereka saksikan membuat kegaduhan disana. Namun setelah mengetahui nama keluarga ketiganya, membuat semua pekerja disana tidak ada satupun yang berani untuk menghentikannya.
Sore berganti malam dan disaat itu mobil Mercedes Benz S450 melaju pelan masuk kedalam area parkiran gedung kantor dimana perusahan Exo berada, dari mobil Mercedes Benz S450 itu Andrews keluar lalu segera berjalan mendekati sopir pribadinya untuk bersama - sama pulang menuju kediaman besar Gates. Satu jam lebih berlalu dan mereka bertiga sampai didepan pelataran kediaman besar Gates, disana sosok Andrews menjadi lebih terbuka kepada Jester dengan adanya sebuah candaan yang saling bersahutan.
Suara gelak tawa dan keakraban yang hangat antara Andrews, William juga Jester membuat dua orang penjaga didepan pintu masuk utama menjadi heran namun keduanya tidak memberikan respon apapun karena takut, dimalam itu lagi - lagi semua pekerja yang berada disana dibuat keheranan dengan suara tawa yang kembali terdengar namun lebih meriah. Sesekali pekerja disana menoleh seakan mencoba memastikan bahwa yang tertawa malam itu benar - benar sosok Andrews yang mereka kenal. Nyaris tidak pernah mereka lihat dan dengar seorang Andrews sebahagia itu, bahkan hampir semua penghuni dirumah ini seperti enggan untuk menampakkan ekspresi bahagia mereka.
Malam berlalu dan berganti dengan pagi yang cerah, di gedung perkantoran terlihat Jessica, Sarah dan Luke sudah bersiap untuk melakukan transaksi dengan Exo dibawah pimpinan Jester. Bukan tanpa alasan pagi itu Jessica, Sarah dan Luke sudah mempersiapkan semuanya, ketiganya ingin menghindari campur tangan dari mata - mata Arthur yaitu Jeremy dan Burgess.
Pagi itu ketiganya berhasil mengelabui Jeremy dan Burgess untuk segera melakukan transaksi tanpa memberitahu dengan siapa Arielle Corp akan bertransaksi, begitu tergesa - gesa Jessica, Sarah dan Luke untuk segera berangkat ketika Jeremy dan Burgess baru saja sampai didepan kantor. Mereka bertiga berangkat begitu saja meninggalkan Jeremy dan Burgess, mengetahui ada sesuatu yang tidak beres membuat Jeremy dan Burgess mengikuti mobil yang dinaiki Jessica, Sarah dan Luke.
Sampai ditujuan yaitu kantor utama Exo, terlihat Jessica, Sarah dan Luke turun dari mobil. Dibelakang mereka Jeremy dan Burgess begitu tergesa - gesa untuk turun dari mobil untuk menghentikan Jessica dan Sarah, mereka berdua meminta penjelasan kepada Jessica dan Sarah kenapa Arialle Corp harus bertransaksi dengan saingan mereka yaitu Exo. Namun alasan Sarah yang mengatakan bahwa Exo sedang cuci gudang dan menawarkan bahan - bahan mentah dengan harga diskon menarik minat mereka, alasan itu membuat Jeremy dan Burgess tidak dapat mencari alasan agar Jessica dan Sarah menghentikan rencana mereka.
Didepan lobby kantor Exo, Jessica, Sarah dan Luke meninggalkan Jeremy dan Burgess. Merasa akan ada sesuatu yang tidak beres membuat keduanya pun ingin segera meminta pendapat Arthur, dengan segera Burgess menelepon Arthur melalui handphonenya.
***
"Ya" jawab Julius ketika mengangkat telepon dari Burgess
"Tuan Julius, kami mendapat masalah. nyonya Jessica akan melakukan transaksi dengan Exo" terdengar panik Burgess mengucapkannya
"Kenapa?" tanya Julius
"Kata nyonya dan nona, Exo sedang melakukan cuci gudang dan membuat margin keuntungan akan menjadi meningkat. Apa kami bisa bertanya kepada tuan Arthur tentang apa yang seharusnya kami lakukan sekarang?" ucap Burgess masih terdengar panik
"Tuan besar Arthur sedang sibuk, kalian ini dipilih untuk bisa bergerak mewakili tuan besar Arthur... kenapa sedikit - sedikit harus bertanya? apa kalian ingin aku mengatakan kepada tuan besar Arthur jika kalian tidak kompeten sama sekali dan mengirim kalian lagi menjadi gelandangan dijalan?!" tegas Julius mengatakannya
"Maafkan kami tuan Julius..." ucap Burgess, Julius pun menutup telepon itu
***
Setelah menutup telepon di handphone milik Arthur, dengan segera Julius berbalik dan kembali masuk kedalam kamar Naomi. Dimeja makan dalam kamar Naomi saat itu Julius melihat Arthur tertawa mendengar Naomi sedang bercerita, garis senyum Julius terlihat melihat pemandangan itu. Perlahan Julius berjalan mendekati Arthur dan Naomi yang sedang duduk berhadapan, mengetahui Julius telah kembali masuk kedalam kamar membuat Arthur mengalihkan pandangannya menatap Julius yang masih berdiri disebelah Arthur.
"Siapa yang menelepon?" tanya Arthur, Julius menghela nafasnya lalu tersenyum menatap Arthur
"Laporan keuangan seperti biasa tuan besar Arthur" jawab Julius dengan santai dan tenang
"Kamu tahu awal pertemuan Jester dan Naomi? itu sebuah ketidaksengajaan karena Will tiba - tiba membuat kekacauan di kampus Jester" dengan semangat dan sedikit suara tawa Arthur berkata, Naomi pun ikut tertawa kecil melihat Arthur yang terlihat menyukai cerita awal mula Jester dan Naomi bertemu.
"Maaf nona Naomi, bisa anda ceritakan lagi? Julius tadi harus terputus ditengah cerita" terdengar antusias Julius memintanya, Naomi tersenyum kecil lalu menatap Arthur.
"Tidak apa ceritakan lagi dari awal, aku suka cerita bagian akhirnya kalian bersama - sama membangun kebohongan itu bersama - sama untuk mengelabui Will dan Evans" timpal Arthur dengan nada yang terdengar senang
"Baiklah... semoga kakek tidak bosan mendengarnya" terdengar lembut suara Naomi saat mengucapkannya
__ADS_1