Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Sebuah Janji


__ADS_3

Sebuah pesan terbaca dari 'si gorilla' pada handphone Jester membuatnya segera beranjak dari rumah, membawa Mercedes Benz V260 miliknya melewati jalanan kota yang cukup lengang pada rabu malam dengan suasana hati yang buruk. Komplek rumah yang digunakan sebagai kontrakan, menjadi tujuan Jester malam itu untuk menemui Luke yang mengontrak disana. Tiba masih dengan mood yang kacau, Jester segera memasuki rumah kontrakan sahabatnya itu dengan Lesu. Dia duduk bersadar ditembok tanpa berbicara apapun, membuat Luke dan Harry yang sedang asyik bermain game konsol mengalihkan perhatiannya pada Jester.


"Hei Jester, kenapa mukamu kusut gitu?" tanya Harry dengan sedikit tawa memecahkan keheningan


"Ada sedikit kekacauan dirumah gara - gara keputusan Naomi" jawab Jester dengan nada yang terdengar sedih, mendengar jawaban itu membuat Luke dan Harry menghentikan bermain game lalu menatap Jester bersamaan.


"Sepertinya kita terlambat" celetuk Harry dengan penyesalan, celetukan Harry membuat Jester mengalihkan pandangannya dengan raut wajah keheranan.


"Apanya yang terlambat?" tanya Jester terdengar bingung


"Naomi sepertinya sudah lama mengenal Luna dan mereka termasuk Selena sedang merencanakan sesuatu terhadapmu" jawab Luke terdengar kesal, Jester pun terkejut mendengar perkataan Luke saat itu.


"Rencana... apa?" tanya Jester terbata


"Analisa kami masih belum jelas apa yang sebenarnya mereka rencanakan, tapi dugaan kami yang paling kuat adalah.... mereka sengaja menempatkan Naomi dan Selena disekitarmu agar kamu tidak berpacaran dengan siapapun, jadi ketika Luna kembali dia akan mendapati kamu masih jomblo" jelas Harry, namun Jester tertawa mendengar penjelasan Harry.


"Aku pikir apa, ternyata hanya kebodohan kalian berdua aja. Aku tidak punya waktu buat meladeni kalian saat ini" agak sedikit tertawa Jester mengatakannya


"Kami serius! kemarin saat dikampus aku dan Harry tidak sengaja melihat mereka bertiga sedang berbicara, karena penasaran kami pun mendekat untuk menguping pembicaraan mereka. Benar saja, kami mendengar mereka merencanakan sesuatu tentangmu" ucap Luke mencoba meyakinkan Jester jika mereka tidak sedang bercanda, Jester pun kehilangan senyumnya melihat keseriusan Luke.


"Luke... hatiku sangat kacau sekarang sampai membuat otak ku tidak bekerja dengan baik, jangan bercanda denganku sekarang" tegas Jester mengatakannya, hampir bersamaan Luke dan Harry menghela nafasnya.


"Jester, kami ini sahabatmu sejak kita masih umur enam tahun. Menurutmu aku akan melakukan hal buruk padamu?" tanya Luke menekan Jester, pertanyaan itu membuat Jester membisu namun tatapannya terlihat masih antara marah, terkejut dan juga heran


"Saat itu aku mendengar Naomi bertanya tentang rencana Luna dan dengan jelas aku dengar Luna menjawab dia ingin dekat denganmu lagi, apa lagi artinya kalau bukan mereka hanya memastikan agar kamu tetap dibawah pengawasan Luna?!" tanya Luke lagi dengan emosi, Jester membuang muka ketika dirinya tidak mampu untuk menjawab pertanyaan menekan Luke.


"Hei Jester, mungkin kami terdengar konyol saat ini karena kamu baru saja menerima Naomi dihatimu dan itupun juga atas saran kami. Tapi ini adalah kenyataan, dia tidak mencintaimu dan hanya bersandiwara menjadi kekasihmu" timpal Harry terdengar ikutan emosi


"Tapi Naomi... tidak mungkin melakukan hal itu... Dia begitu terluka karena Daniel, dia memintaku untuk menemaninya, dia juga menyatakan mencintaiku" ucap Jester terbata, dalam hatinya berusaha untuk tidak mempercayai cerita kedua sahabatnya itu.


"Sarah dan Naomi juga terlihat begitu saling membenci diluar sana, tapi kamu liat sendiri kan saat dirumah sakit mereka terlihat begitu akrab ketika tidak ada sorot kamera. Dunia selebgram memang penuh sandiwara!" timpal Luke masih terdengar emosi


"Tapi Naomi tidak seperti itu!!" bentak Jester terdengar marah karena ucapan Luke yang seperti menyudutkan Naomi, mereka bertiga pun terdiam beberapa saat.


"Baik kita singkirkan dulu masalah ini, sekarang aku tanya masalah apa dirumahmu yang disebabkan oleh Naomi?" tanya Harry dan membuat Jester tersentak, sorot mata Jester kembali menunjukkan kekecewaan dan kembali menatap lantai.


"Dia... mengizinkan Luna tinggal bersama kami dirumah dan membiarkan Luna dekat denganku, tapi dia mempunyai alasan kuat melakukan itu dan itu demi kebaikanku. Yaaah walau sebenarnya aku ingin menolak" terdengar sedih Jester mengatakannya, Luke dan Harry pun menepuk dahi mereka nyaris bersamaan.


"Setelah mendengar cerita kami, Apa kamu masih tidak curiga?! apa itu bukan sebuah tanda kalau mereka sesuai dengan dugaan kami?" tanya Luke dengan emosi, Jester pun berdiri dengan sempoyongan hendak meninggalkan tempat itu.


"Aku akan minta penjelasan Naomi tentang ini" jawab Jester, semangatnya tiba - tiba hilang dan seperti orang yang hidup segan mati pun tak mau.


"Percuma! jika semua maling mengaku maka penjara akan penuh!!" bentak Luke berusaha menyadarkan Jester


"Lalu aku harus gimana?!!" Jester balik membentak Luke


"Kamu harus mengacaukan rencana mereka, jangan biarkan skenario mereka berjalan mulus tanpa hambatan" timpal Harry dengan serius.


"Entahlah... aku lelah, aku tidak ingin memikirkan apapun saat ini" dengan suara yang terdengar patah semangat Jester mengatakannya

__ADS_1


"Kami punya rencana yang mungkin bisa mengacaukan rencana mereka, mau ikut?" tanya Harry tegas, Jester menoleh menatap Harry.


"Aku saat ini tidak bisa berfikir jernih, aku butuh satu orang lagi untuk membantuku berfikir" jawab Jester, Harry dan Luke terlihat penasaran dengan jawaban Jester.


"Siapa?" tanya mereka bersamaan


"Justin" jawab Jester singkat, Luke dan Harry saling menatap dan tersenyum.


Luke dan Harry pun menyetujui ide Jester, tidak membuang waktu Luke segera menelepon Justin dan mengatakan ada hal penting yang harus mereka bicarakan. Saat itu Justin mengatakan akan kesana bersama Grece namun Luke memaksa Justin untuk datang sendiri, walau berat hati namun pada akhirnya Justin setuju untuk datang sendirian.


Beberapa menit berlalu dan Justin pun tiba di kontrakan Luke, Justin yang masuk kedalam rumah dengan senyum langsung kehilangan senyumnya melihat raut wajah Jester yang sedih. Wajahnya mendadak serius sambil mencari kursi untuk duduk didekat mereka, setelah duduk dengan nyaman Justin pun memulai pembicaraan.


"Tadinya aku mau menyapa dengan heboh, tapi sepertinya tidak tepat ya. Ada apa sebenarnya?" tanya Justin penasaran


"Kami akan ceritakan pokok permasalahannya secara terpisah, mungkin dimulai dari Jester" jawab Harry


Tidak ingin membuang waktu, Jester pun mulai menceritakan semuanya pada Justin. Dimulai dari pertemuan pertamanya kembali dengan Luna, sampai pada keputusan Naomi membawa Luna dan Selena kerumah mereka. Penjelasan yang memakan waktu sekitar sepuluh menit dari Jester, membuat Justin terkejut. Lebih - lebih tentang kehadiran Luna yang sudah lama hilang dan tanpa kabar, ditambah lagi mendengar penjelasan Luke dan Harry tentang yang mereka dengar dikampus. Suasana serius semakin terasa disana, wajah Justin terlihat tidak mempercayai yang ketiganya katakan.


"Analisa kami adalah mereka sengaja membuat Naomi atau Selena menjadi pacar Jester agar ketika Luna kembali hadir, baik Naomi ataupun Selena dengan mudahnya meminta putus dari Jester" ucap Harry meneruskan cerita dengan analisanya, Justin masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Itu benar, jika yang jadi pacar Jester adalah Camilla maka rencana Luna akan berantakan" timpal Luke mempertegas analisa Harry


"Ada dua hal yang sulit aku percaya, pertama kehadiran Luna dan kedua keterlibatan Naomi" ucap Justin lalu terlihat berfikir keras mencerna semuanya secara perlahan dan hati - hati


"Tapi itu benar - benar terjadi" Harry berusaha meyakinkan Justin, mereka pun terdiam beberapa saat. Justin terus terlihat berfikir sampai mengerutkan dahinya, lalu sejenak mengalihkan pandangannya menatap Jester yang terlihat tidak memiliki semangat sama sekali.


"Lalu apa yang ingin kalian rencanakan? apa Jester yang merencanakannya?" tanya Justin lalu mengalihkan pandangannya menatap Harry dan Luke secara bergantian


"Camilla itu orang yang licik, dia akan mengacaukan rencana mereka agar tidak berjalan dengan mulus" timpal Luke


"Maaf tapi aku menolak rencana itu" tegas Justin mengatakannya, mendengar penolakan itu membuat Luke, Harry dan Jester terkejut.


"Aku juga mengenal Luna dengan baik, karena kami pernah menjadi teman masa kecil saat SD sampai SMP dan aku sangat yakin dia bukan tipe orang seperti itu. Jester ijinkan aku untuk menemuinya dan berbicara dengannya, dia juga ingin aku hadir di momen yang dia sebut kan?" tanya Justin, sejenak Jester terdiam menatapnya.


"Tadi aku sudah bilang dia ada dirumah, jadi kapan pun kamu mau temui saja dia disana" jawab Jester datar


"Luke Harry, aku ingin kalian tunda rencana kalian. Biarkan aku mencari tahu lebih dalam dulu tentang apa yang terjadi" tegas Justin mengatakannya, melihat Jester yang seakan mendukung Justin membuat Luke dan Harry tidak memiliki pilihan lain. Walau berat hati yang terlihat dari raut wajah keduanya, tapi mereka mengangguk menyetujui permintaan Justin.


"Hubunganmu dengan Naomi gimana?" tanya Justin sambil menatap Jester


"Aku tidak punya masalah berarti dengannya, aku sudah menyetujui untuk mengikuti sarannya dan selama aku bisa menahan rasa kecewaku aku pikir hubungan kami akan baik - baik saja" jawab Jester


"Itu hanya berlaku sampai Naomi akan meninggalkanmu lalu menyerahkanmu pada Luna secara tidak langsung" celetuk Harry menimpali jawaban Jester, celetukan itu membuat hati Jester terasa sakit sampai membuatnya mengarahkan tangan memegang dadanya. Jester pun terlihat kesulitan untuk bernafas normal, mengetahui itu membuat Justin menepuk pundak Jester.


"Tenang, Luke dan Harry sangat mencurigai Naomi dan Luna. Belum tentu juga Naomi akan melakukannya, dia terlihat sangat mencintaimu" dengan tenang Justin mengatakannya, Jester hanya tersenyum kecil merespon perkataan Justin.


"Pulanglah dan temui Naomi, mungkin disana kamu bisa kembali merasakan cinta Naomi kepadamu dan melunturkan perasaan gelisahmu" Justin memberikan saran pada Jester dengan suara yang menenangkan, tanpa menjawab Jester seakan menyetujui perkataan Justin.


Jester pun mulai melangkahkan kaki keluar rumah kontrakan Luke lalu melanjutkan perjalanan pulang, didalam perjalanan itu Jester terlihat termenung dan melamun. Dalam benaknya terlintas semua momen - momen bersama Naomi dan seakan mencari kemungkinan Naomi sedang bermain hati dengannya, namun tidak ada satupun tanda Naomi terlihat seperti itu.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu dan Jester pun sampai dirumah, saat akan memasukkan mobil kegarasi Jester melihat Mercedes Benz C200 sudah terparkir didalam garasi itu juga. Jester menghela nafasnya sejenak karena merasa rencana Luna tentang tinggal bersama mereka selama sebulan benar - benar akan dilakukannya, Jester pun mulai memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan mobil Selena.


Tidak lama Jester turun dan Naomi sudah menyambutnya di pelataran rumah, dengan senyuman yang terasa hangat menatap Jester. Wajah lusuh Jester berangsur menghilang untuk menyambut senyuman Naomi, dengan antusias Naomi berlari kecil mendekati Jester dan langsung memegang kedua tangannya terlihat senang.


"Jess... kamu udah makan malam? makan yuk... hari ini ada menu spesial dari Luna" ucap Naomi terdengar senang, mendengar perkataan Naomi saat itu membuat Jester terkejut.


"Menu Luna? tapi.... bukankah kamu bilang makanan favoritku harus dari cita rasa masakanmu?" tanya Jester sedikit terbata, namun Naomi terlihat heran mendengar pertanyaan Jester.


"Iya, tapi gak ada salahnya kan mencoba menu pilihan Luna. Aku juga sudah mempelajari cara membuatnya jika kamu suka" jawab Naomi terdengar tanpa beban, Jester pun terdiam memandangi wajah Naomi yang terlihat bingung dengan respon Jester.


"Kenapa kamu... berubah?" tanya Jester terbata dengan suara yang kecil seakan sedang bergumam, Naomi pun terdiam sejenak terlihat bingung apa dia telah mengatakan hal yang salah.


"Jess... apa maksudnya aku berubah?" tanya balik Naomi kebingungan, Jester tidak menjawab dan langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan menuju ruang keluarga, menutup pintu dengan keras dan kemudian menguncinya. Naomi yang berusaha mengejar Jester saat itu tidak dapat menahannya agar tidak mengunci pintu, Naomi pun terlihat terdiam menatap pintu yang terkunci itu.


"Kak Jester kenapa?" tanya Selena terdengar heran sambil berjalan mendekati Naomi, namun Naomi terlihat syok sampai membuatnya tidak dapat menjawab pertanyaan Selena.


"Naomi, masakanmu hampir gosong. Kamu tidak mengizinkan kami ikut campur untuk mempersiapkan bagian kak Jester, jadi segera kembali atau makanan itu akan gosong" celetuk Selena ketika Naomi tidak merespon perkataannya


"Biarkan saja gosong, Jester tidak ingin makan malam ini" ucap Naomi terdengar sedih lalu melangkahkan kakinya langsung menuju kamar dan menutup pintunya begitu saja, Selena pun merasa bersalah dan dalam benaknya terfikir jika kekacauan malam ini diakibatkan kehadiran dirinya dan Luna. Tidak lama Luna muncul dari dapur menatap Selena yang terpaku memandangi pintu kamar tidur, setelah mereka berdekatan Luna menepuk pundak Selena dengan lembut.


"Apa yang terjadi?" tanya Luna dengan perasaan khawatir, Selena menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak tahu, Kak Jester tiba - tiba membanting pintu dan menguncinya sedangkan Naomi mendadak sedih lalu sekarang dia dikamar" jawab Selena terdengar heran, Luna pun tersenyum lalu berjalan kembali ke dapur untuk melanjutkan masakan Naomi yang dia tinggal begitu saja. Selena mengikuti Luna menuju dapur dan duduk disalah satu kursi makan, mereka berdua terdiam untuk beberapa saat sampai Luna menyelesaikan masakannya dan duduk berhadapan dengan Selena sambil bersiap menyantap makan malam.


"Jika kamu jujur, maka masalah ini tidak akan menjadi serumit ini" celetuk Selena memecahkan keheningan, Luna terdiam sambil memakan suapan pertamanya.


"Ini enak... Naomi memang berbakat, hanya aku beri resep dan dia bisa membuatnya dengan sempurna" ucap Luna mengalihkan pembicaraan, Selena terlihat kesal mendengar Luna yang mengalihkan pembicaraan.


"Luna! aku serius!" agak sedikit membentak Selena mengatakannya, namun Luna kembali tersenyum.


"Aku tidak bisa jujur sekarang, aku tidak ingin merusak momen kita" ucap Luna tenang, mendengar jawaban Luna yang terdengar sangat egois membuat Selena membuang muka.


"Perjanjian kita terdengar seperti mission imposible mengingat betapa eratnya hubungan kak Jester dan Naomi, maaf ya aku membebanimu seperti itu" Luna melanjutkan kalimat sebelumnya, keduanya pun terdiam kembali untuk beberapa saat sambil melahap makanan yang sudah Luna siapkan.


"Aku cuma bersyukur satu hal" celetuk Luna terdengar lega, hal itu membuat Selena penasaran.


"Apa itu?" tanya Selena, Luna kembali tersenyum menatap Selena.


"Aku bersyukur kamu bergerak karena perjanjian kita, jika tidak aku yakin kamu sudah melukai hatimu sangat dalam mengetahui kak Jester dan Naomi menjadi sepasang kekasih sekarang. Rasa bersalahku akan semakin besar kepadamu" jawab Luna dengan sedikit tawa, namun Selena terlihat tidak merespon tawa Luna sama sekali sehingga membuat Luna menghentikan tawanya dan menatap Selena dengan serius.


"Selena... jangan bilang kamu..." terlihat terkejut Luna mengatakannya, matanya terbelalak seakan tidak mempercayai reaksi Selena.


"Saat mengikat janji aku memang bergerak atas janjiku padamu, tapi saat ini.... aku jatuh cinta padanya" ucap Selena terdengar sedih, Luna menggenggam tangan Selena yang berada diatas meja.


"Hentikan Selena... kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri" tegas Luna mengatakannya, namun Selena menepis tangan Luna.


"Aku merubah penampilanku, merubah caraku bersikap, dan merubah cara bicaraku agar seperti dirimu dengan sangat terpaksa dan berat hati. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku terbiasa untuk menjadi dirimu. Kelembutannya saat menatapku, caranya bersikap didepanku, dan ketika berbicara padaku... aku jadi memahami kenapa kamu begitu mencintainya" jelas Selena


"Tapi aku sadar kenapa dia menerimaku begitu saja, kak Jester hanya merasa terbiasa dengan sikapmu padanya dulu yang kembali dia dapatkan dariku. Tidak ada sama sekali sosok Selena didalam hatinya, aku sadar itu tanpa harus kamu peringatkan" lanjut Selena dengan sedih, keduanya pun terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Maaf Selena.... aku akan dipihak Naomi..." agak terbata Luna mengatakannya.


__ADS_2