
Pagi menjelang siang di taman pinggir kampus, hujan terus mengguyur sebuah gazebo yang terletak tepat ditengah taman itu. Terlihat dua orang saling bertatapan, ya... itu adalah Jester dan Camilla. Suara hujan saat itu seakan memberikan ruang khusus kepada Jester dan Camilla untuk berbicara berdua tanpa ada satupun yang dapat menguping pembicaraan keduanya, Camilla terlihat tertawa terbahak - bahak ditengah suara hujan.
"Ahahahaha.... takdir lucu kan Jester~? dengan satu langkah aku dapat membalaskan dendam ku kepada kalian semua! aku berhasil menghancurkan nama baik Naomi, aku berhasil menghancurkan hati Daniel, aku berhasil membuatmu menderita, aku berhasil membalaskan dendam ku pada keluargamu, dan sekarang aku yakin kamu akan membunuhku... dengan begitu ayah dan ibuku tidak akan dapat mengambil keuntungan apapun dari aku!! Ahahahaha" ucap Camilla terdengar begitu bahagia, Jester menghela nafasnya setelah mendengar semua cerita Camilla.
"Aku turut sedih dengan apa yang terjadi padamu, aku tidak dapat berkata apapun selain itu" timpal Jester terdengar menyesal, perkataan dan ekspresi wajah Jester membuat Camilla terdiam memandangi wajah Jester.
"Apa kamu sudah puas?" tanya Jester kepada Camilla dengan tekanan, Camilla terdiam sejenak lalu kembali tertawa.
"Ha... ahahaha... tentu saja aku puas, sekarang jangan buang waktu. Antar aku kepada kematian ku Jester!!" teriak Camilla menjawab pertanyaan Jester
"Luke mengatakan padaku jika apapun yang akan aku lakukan kepadamu maka tidak akan dapat mengembalikan apapun yang sudah kamu renggut dariku, kepuasanku hanya semu" dengan tenang Jester mengatakannya, tawa Camilla kembali terhenti dan terdiam menatap Jester.
"Aku tanya sekali lagi, apa kamu puas dengan hasil yang sudah kamu capai sekarang?" tanya Jester lagi kembali dengan tekanan, namun Camilla hanya terdiam mematung menatap mata Jester. Tidak lama air mata Camilla menetes walau ekspresi wajahnya masih datar, Jester menghela nafasnya ketika melihat air mata Camilla yang menetes itu.
"Sudah aku duga kamu tidak menemukan kepuasan apapun setelah semua yang kamu lakukan" ucap Jester datar, perkataan Jester membuat Camilla emosi hingga tubuhnya bergemetar.
"Berhenti omong kosong!!! kamu hanya ingin aku tetap menderita kan?!! kamu tidak perlu merencanakan apapun!!! kemari lah dan ambil nyawaku!! balas kan dendam mu!!!!" bentak Camilla kepada Jester
"Aku memaafkan mu" timpal Jester dengan tulus, ketulusan Jester seakan menikam hati Camilla sampai membuat Camilla menyentuh dadanya dan meremas baju yang dia kenakan.
"Apa katamu? berhenti berbicara yang tidak perlu.... aku tahu kamu sedang mempersiapkan rencana untuk membalaskan dendam mu padaku... aku tahu itu Jester!!!" ucap Camilla, namun tiba - tiba Jester membungkuk meminta maaf pada Camilla.
"Maafkan keluargaku, efek domino dari yang keluargaku lakukan sangat berdampak kepadamu... kakekku tentu tidak menginginkan ini, namun semua sudah terjadi dan tidak dapat kembali ditarik... aku hanya dapat mewakili keluargaku untuk meminta maaf kepadamu secara pribadi dan mewakili keluarga besar ku. Aku minta maaf Camilla" dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya
"Tidak... aku tidak akan termakan sandiwara mu... aku tidak akan terjebak Jester!!! ini bagian dari rencana mu kan?! aku tahu... ha... ahahaha... aku tahu Jester!!" ucap Camilla
"Kamu boleh tidak mempercayaiku, tapi aku harap ini selesai sampai disini" Jester kembali mengangkat tubuhnya dan berbalik hendak meninggalkan Camilla disana, baru beberapa langkah berjalan Camilla langsung menarik tangan Jester untuk menghentikan langkahnya.
"Apa ini? kenapa kamu seperti ini?!!" tanya Camilla dengan bentakan, Jester menghela nafasnya.
"Jika aku balas dendam, maka rantai kebencian ini tidak akan selesai. Tidak hanya kamu, kakekku juga melakukan hal jahat kepada beberapa orang termasuk keluarga Naomi. Tapi mereka semua memaafkan semua perbuatan itu, kamu menjadi satu dari sekian yang mungkin sedang merencanakan balas dendam padaku atas perlakuan buruk keluarga besar ku, aku terlalu berfikir naif jika menganggap semua orang akan memaafkan keluarga ku" jawab Jester, sejenak Jester terdiam lalu menatap langit mendung yang sedang terus menurunkan air hujannya.
"Camilla... aku sangat ingin membalas apa yang telah kamu lakukan pada Naomi, dia kehilangan ayahnya karena kasus ini walau semua tidak dapat aku limpahkan kepadamu. Kesehatan ayah Naomi memang sedang memburuk saat itu, tapi ada satu hal yang sangat berpengaruh terhadap keputusanku" Jester melanjutkan kalimatnya lalu berbalik menatap wajah Camilla yang berlinang air mata.
"Aku tahu semua dimulai dari keluarga besar ku yang membuat ayahmu menjadi pemarah seperti itu sehingga kamu menjadi korbannya, tapi... kamu salah menembakkan peluru dendam mu itu. Naomi yang paling tersakiti dari aksimu kali ini, karena itu.... jika Naomi saja memaafkan mu, kenapa aku tidak" ucap Jester
Perkataan Jester saat itu membuat Camilla seakan kehabisan tenaga untuk tetap berdiri, kakinya melemas dan membuatnya terduduk. Kepalanya tertunduk seakan dalam keadaan syok berat, namun Jester meninggalkan Camilla begitu saja ditempat itu.
__ADS_1
Sesuatu yang diluar perkiraan Camilla, setiap perkataan Jester seperti sebuah pedang yang menghunus perlahan tepat di jantung Camila namun berkali - kali. Kembali terjadi sesuatu yang menghancurkan hatinya dengan kondisi hujan yang begitu deras, hujan yang seakan menghadirkan petir dengan sambaran mengerikannya namun pada kenyataannya tidak.
Air matanya mengalir deras namun tidak bisa dia artikan mengapa, hatinya terasa sakit namun dia bingung untuk apa rasa sakit itu hadir. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya hingga seakan ada rasa yang tak bisa dia jelaskan sedang mengganggu benaknya. Camilla dengan tawanya yang lantang dan berdirinya yang kokoh kini hanya mampu bersimpuh karena tak mampu lagi menopang tubuhnya, suaranya yang sejak tadi terdengar keras hingga mampu lebih tinggi dari suara hujan dengan seketika menghilang berganti dengan tangisnya yang pilu.
Meninggalkan Camilla yang masih berada di gazebo, Jester terus berlari menuju lobby kampus dimana supir Jester seharusnya sedang menunggunya, benar saja diujung lobby Jester melihat supirnya sedang duduk terlihat ketiduran. Dengan tepukan dipundak, Jester membangunkan supirnya. Supir Jester pun terbangun dan langsung berdiri untuk kembali mengantarkan Jester menuju tempat yang diinginkan, Jester mengatakan pada supirnya untuk mengantarkannya menuju Gates Tower karena ingin menuju kediaman besar Gates menggunakan helikopter.
Supir mengatakan pada Jester jika didepan kediaman besar Gates para wartawan sudah tidak ada yang berani menunggu Jester, dengan heran Jester bertanya mengapa. Supir Jester menjawab jika telah beredar broadcast yang mengatakan jika Arthur dan Julius akan kembali mengambil alih kepemimpinan, sehingga penjaga rumah atas perintah Arthur mengusir dengan kasar para wartawan dan reporter.
Mendengar perkataan supir membuat Jester terkejut, Jester lalu memerintahkan supir agar segera membawanya ke kediaman besar Gates. Dengan segera supir Jester pun berlari mengambil mobil Mercedes Benz S450 diparkiran kampus lalu melajukannya menuju depan lobby kampus, disana Jester masuk kedalam mobil dan dengan cepat mobil Mercedes Benz S450 menuju ke kediaman besar Gates.
Kini Jester memahami apa yang terjadi pagi ini ketika para karyawan yang bekerja di Gates Tower memberikan dukungan kepadanya, namun dalam pikirannya sekarang penuh pertanyaan tentang mengapa hal seperti ini tidak dikonsultasikan dulu dengannya. Jester kemudian mencoba menelepon William selama dalam perjalanan, tapi William tidak menjawab telepon itu.
Tujuh puluh menit perjalanan yang Jester butuhkan untuk sampai di kediaman besar Gates, mobil pun berhenti didepan pelataran rumah dan Jester segera turun lalu berlari masuk kedalam rumah itu untuk menemui Arthur. Di kamar Arthur saat itu Jester melihat dua orang sedang berjaga di pintu, melihat kedatangan Jester membuat kedua penjaga menahan Jester agar tidak masuk.
"Aku ingin bertemu kakek, minggir" perintah Jester kepada dua penjaga pintu
"Maaf tuan besar Jester, kami harus mengkonfirmasi dulu apa tuan besar Arthur ingin menemui anda atau tidak" timpal salah satu penjaga, namun Jester tidak sabar untuk segera bertemu dengan Arthur. Dengan kekuatan tubuhnya, Jester mendorong kedua penjaga itu untuk mendobrak pintu kamar Arthur.
Begitu pintu terbuka, Jester melihat Arthur sedang duduk disebuah kursi menghadap meja. Tidak hanya ada Arthur di ruangan itu, disana juga ada William, Julius, Sarah dan Turner Werner. Mereka semua begitu terkejut dengan tindakan Jester kala itu, namun Jester seakan tidak mempedulikan itu lalu segera berjalan mendekati meja Arthur.
"Jester, aku harus melakukan ini karena perusahaan benar - benar sedang dalam keadaan kritis" jawab Arthur mencoba memberi pengertian kepada Jester
"Semua masih dalam kendaliku!! aku..." belum selesai Jester berkata, Sarah memotong.
"Ini demi kamu Jester!" timpal Sarah dengan bentakan
"Demi aku?!! aku tidak butuh, aku..." belum selesai Jester berkata, Sarah kembali memotong.
"Rencana penyingkiran saingan mu akan dilakukan oleh kakek Arthur dan kakek Julius untuk menjaga namamu agar tetap bersih!! kamu seharusnya berterima kasih kepada kakek!!" bentak Sarah
Jester yang kesal karena semua orang yang berada disana saat itu seakan mengetahui rencana Jester membuatnya menggebu - gebu ingin agar Arthur tetap mengijinkan dirinya menjalankan apa yang sudah dia rencanakan.
"Aku tidak ingin menyingkirkan mereka!! aku punya caraku sendiri jadi biarkan aku bekerja dengan caraku!!" bentak balik Jester kepada Sarah, jawaban Jester membuat William dan Sarah terkejut.
"Nak, disaat seperti ini rencana bodoh tidak akan pernah bekerja" timpal William
"Aku tahu itu, karena itulah aku tidak melakukan tindakan bodoh untuk menyingkirkan sainganku. Percayakan masalah ini padaku" pinta Jester, untuk sejenak mereka semua terdiam sampai suara hembusan nafas berat Arthur terdengar.
__ADS_1
"Jester, aku dengar besok kamu akan mengumpulkan semua investor dan pemegang saham. Untuk apa?" tanya Arthur
"Ada yang harus aku bicarakan pada mereka semua" jawab Jester dengan tegas
"Bicara tidak akan memberikan dampak kepada para investor dan pemegang saham, mereka menginginkan kestabilan perusahaan Jester" timpal Julius terdengar khawatir dengan apa yang ingin Jester lakukan
"Aku yakin aku bisa meyakinkan mereka semua jika badai ini akan berlalu" penuh keyakinan Jester mengatakannya, setelah mendengar perkataan Jester saat itu hampir bersamaan William dan Julius menggelengkan kepalanya.
"Jester... begini saja, kamu lakukan tugasmu dan Julius akan berada disebelah mu. Ketika rencana mu tidak bekerja dengan baik maka biarkan rencana ku yang bekerja" ucap Arthur datar
"Baik, beri aku waktu..." belum selesai Jester berkata, Arthur memotong.
"Tidak ada waktu, besok adalah penentuannya. Rencana mu atau... rencana ku yang akan bekerja" timpal Arthur dengan tekanan, Jester seakan tidak memiliki pilihan.
"Baiklah, sepertinya aku tidak memiliki pilihan" Jester pun menerima syarat dari Arthur
Melihat Jester yang mulai tenang dan bisa dikendalikan membuat Arthur kembali memulai pembicaraannya, dengan tenang Arthur mulai menjelaskan tentang keberadaan Turner Werner dalam kediamannya saat itu.
"Apa kamu mengenal pria baik ini Jester?" tanya Arthur sembari menunjuk Turner
"Ya... tuan Turner Werner, ayah temanku Grece Werner" jawab Jester
"Dia datang kemari untuk meminta izin mu" ucap Arthur, perkataan Arthur membuat Jester heran.
"Izin?" tanya Jester singkat
"Ehem... pertama senang bertemu denganmu tuan..." belum selesai Turner berkata, Jester memotong.
"Jester saja tuan Turner" timpal Jester
"Ehem... baik Jester... senang bertemu denganmu, dan kedua terima kasih sudah mau menjadi teman Grece yang kekanak - kanakan itu. Aku pun sering dibuat repot olehnya, haah..." dengan helaan nafas Turner mengatakannya
"Lalu tentang izin?" tanya Jester penasaran
"Aku bingung harus memulainya dari mana tapi...." Turner terlihat begitu sedih dan menyesal, seketika William dan Sarah menundukkan kepalanya bersama.
"Mungkin kamu tahu jika selama ini media milik Werner tidak pernah memberitakan tentangmu dan tentang nona Scott... tapi semua desakan internal kami sudah tidak dapat dibendung, aku ingin meminta pengertian mu agar... kamu tidak marah ketika media kami ikut memberitakan tentang kasus ini..." pinta Turner kepada Jester.
__ADS_1