Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Cemburu


__ADS_3

Malam pun telah berlalu dan mentari mulai menampakkan wajahnya, pada hari itu terlihat sangat cerah. Di rumah Jester dan Naomi yang tenang pada pagi itu, terdengar sedikit keributan kecil di dapur mereka. Jester pun terbangun dari tidurnya karena penasaran dengan suara - suara yang asing baginya sejak tinggal di rumah baru bersama Naomi, Jester memutuskan untuk beranjak dari kasur lalu merapihkan kasur lipatnya dan segera menuju dapur untuk melihat asal suara itu. Dengan terkejut Jester melihat Naomi yang sedang asyik memasak sambil sedikit bersenandung, Naomi yang sadar Jester sedang memperhatikannya mendadak tersenyum.


"Eeh... selamat pagi Jester" sapa Naomi sembari tersenyum manis menatap Jester


"Kamu... demam? sejak kapan kamu bisa masak? itu bisa dimakan kan?" dengan raut wajah yang menatap kesal dan suara yang meremehkan Jester bertanya, senyum Naomi hilang dan terlihat sebal dengan pertanyaan dan mimik wajah Jester ketika itu.


"Kamu meremehkanku? aku ini jago masak loh karena ibu yang langsung mengajariku" jawab Naomi dengan nada kesal, tetapi Jester masih tidak percaya pada Naomi dan tetap terlihat meremehkan.


"Benarkah? aku gak pernah liat kamu masak sebelumnya sejak disini" timpal Jester masih meragukan yang dikatakan oleh Naomi, mendadak wajah Naomi memerah sebelum menjawab pertanyaan Jester.


"Yaah... yang perlu kamu tahu, aku memasak hanya untuk orang yang spesial bagiku. Ayah, ibu dan.... kamu" jawab Naomi menatap Jester dengan malu - malu, mendengar perkataan Naomi membuat Jester memerah dan menjadi salah tingkah.


"Kita kan sudah punya perjanjian, kamu gak boleh memaksakan diri!" dengan sedikit bentakan Jester mengatakannya untuk menutupi perasaan malunya, Naomi malah tertawa melihat tingkah Jester saat itu dan mengalihkan pandangannya untuk fokus memasak.


"Aku tidak memaksakan diri kok, aku senang memasak. Lebih baik kamu duduk dan tunggu sarapan dari hasil tanganku langsung, Ok?" dengan senyuman Naomi mengatakannya tanpa menoleh, Jester berjalan mendekati meja makan dan duduk sembari memandangi Naomi yang terlihat asik memasak sambil bersenandung. Tidak lama mata Jester menatap bahan - bahan yang sedang digunakan Naomi untuk memasak, Jester penasaran darimana bahan - bahan itu Naomi dapatkan.


"Darimana kamu dapat bahan - bahan masakan?" tanya Jester untuk memuaskan rasa penasarannya, namun Naomi tidak mengalihkan pandangannya dan tetap melanjutkan aktifitasnya.


"Online, sekarang apa saja bisa didapat tanpa harus kemana - mana. Tidurmu cukup pulas ya sampai tidak mendengar aku membuka pintu" jawab Naomi yang terlihat sibuk memasak, wajah Jester mendadak menjadi kesal menatap Naomi.


"Tapi kamu kan gak punya handphone untuk memesan online?" tanya Jester lagi masih dengan nada kesal, saat itu Naomi sedikit tersentak karena Jester menyadarinya.


"Hihihi... iya ya... aku lupa, tadi pagi sekali aku menelepon taksi dan pergi ke swalayan... maaf ya" jawab Naomi terdengar manja, Jester malah tersipu malu melihat senyum manis Naomi. Walau hatinya kesal saat itu Jester tidak bisa marah dan hanya membuang muka mendengar jawaban Naomi, sedangkan Naomi kembali fokus memasak sembari kembali bersenandung.


Beberapa saat masakan Naomi mulai disajikan diatas meja makan dan tepat dihadapan Jester, semua masakan Naomi saat itu tercium aroma lezat dan terlihat mewah. Jester terkejut seakan tidak percaya wanita seperti Naomi pandai memasak, Jester mulai menatap wajah Naomi yang sedang menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya di depan Jester.


"Masakan dari tangan selebgram terkenal... betapa beruntungnya aku" dalam hati Jester katakan itu sambil menangis terharu dalam pikirannya, saat Naomi masih sibuk mempersiapkan peralatan makan tidak lama terdengar suara bel rumah berdering. Jester dan Naomi kompak menoleh arah pintu penghubung dapur dan lorong rumah, Jester hendak berdiri namun Naomi tiba - tiba menyuruh Jester untuk tetap duduk dengan gestur tangannya.


"Aku saja" ucap Naomi sembari berjalan menuju pintu utama, Naomi membukakan pintu dan terlihat kurir paket yang datang pagi itu kerumah mereka.


"Paket untuk nona Naomi Scott" ucap kurir paket dengan nada yang ramah, namun saat itu Naomi terlihat bingung.


"Hah? tapi aku tidak pesan apapun" tanya Naomi heran, kurir itu pun terlihat heran mendengar perkataan Naomi dan kembali melihat alamat dan nama pemesannya.


"Wah saya tidak tahu, tapi pesanan ini masuk pukul sembilan malam kemarin dan diminta segera diantar dengan kiriman super kilat khusus atas nama Naomi Scott dan alamatnya tepat dirumah ini" jawab kurir dengan nada kebingungan, Naomi menerima paket yang diberikan oleh kurir itu dan melihat sendiri alamat dan nama pemesan yang tertulis untuk dirinya.


"Dimana aku harus tanda tangan?" tanya Naomi sembari menatap kurir, dengan senyuman kurir itu menyodorkan sebuah kertas dan ballpoint kepada Naomi.


"Disini dan.... Boleh minta tanda tangan di baju ini dengan spidol ini? saya penggemar beratmu" pinta kurir memberikan sebuah spidol, Naomi sedikit tertawa mendengar permintaan kurir.


"aaa oke... disini untuk paketnya... dan disini kan... Terima kasih" ucap Naomi dengan ramah sembari memberikan tanda tangannya


"Terima kasih Naomi!!! Wuhuuu.... ini hari paling indah!!" ucap kurir yang terdengar bahagia sembari meninggalkan rumah Jester dan Naomi, melihat tingkah kurir itu membuat Naomi tertawa.


Naomi menutup pintu perlahan sambil terus memperhatikan paket yang diterimanya lalu berjalan menuju ke dapur sambil membawa paket yang ditujukan padanya, di ruang makan itu Naomi melihat Jester sudah melahap semua masakan Naomi dan hanya tersisa yang ada dimulut Jester. Naomi tersenyum melihat Jester, dalam hatinya merasa lega dan senang karena Jester menyukai masakannya.


"Ooog maafh... haku kelafharan" ucap Jester sembari berusaha mengunyah makanan yang masih penuh dimulutnya, Naomi sedikit tertawa melihat Jester begitu lahap memakan masakannya.Naomi berjalan mendekati Jester dan duduk di salah satu kursi makan sembari menunjukkan paket yang dia terima.


"Ada paket untukku tapi aku tidak merasa membeli apapun" ucap Naomi terdengar heran, Jester melihat paket itu sebentar dan mengalihkan pandangannya menatap Naomi.


"Ooh... itu aku" timpal Jester lalu segera mengambil minum, Naomi terdiam menatap Jester.


"Kenapa kamu atas namakan aku?" tanya Naomi terdengar heran, beberapa saat setelah minum Jester mengambil nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Naomi.


"Karena itu memang untukmu, isinya handphone buat ganti yang kamu lempar kemarin" jawab Jester singkat, Jester menyandarkan badannya di kursi dan terlihat kekenyangan.


"Kenapa kamu belikan? aku akan beli sendiri, lagian aku tidak butuh..." ucap Naomi sedikit marah namun Jester memotong perkataan Naomi sembari menatap matanya.

__ADS_1


"Gak mungkin seorang selebgram sepertimu gak butuh handphone, lagian akan sulit kalau tiba - tiba aku harus menghubungimu" jawab Jester dengan santai, Naomi terdiam beberapa saat menatap wajah Jester.


"Kamu benar.... terima kasih" Naomi terlihat senang mendengar perkataan Jester, tidak butuh waktu lama Naomi mulai unboxing handphone barunya dan melakukan penyetelan hingga handphone itu benar - benar sudah siap dipakai, Naomi memberikan handphonenya kepada Jester.


"Berbagi kontak denganku" pinta Naomi, Jester tersenyum sembari melakukan scan barcode ChatMe


"Lihat, biasanya ada banyak kontak disini tapi sekarang hanya ada kamu" Naomi agak tertawa saat mengatakannya, mendengar perkataan Naomi saat itu membuat Jester tersipu malu.


"Lalu bagaimana dengan yang lain?" tanya Jester mengalihkan pembicaraan dan menutupi perasaan malunya, Naomi terdiam beberapa saat sembari menundukkan kepalanya.


"Aku tidak ingin nomorku tersebar, aku ingin menghindari kemungkinan Daniel menemukan kontak ku" jawab Naomi yang terdengar tenang, mendengar jawaban Naomi membuat Jester terkejut.


"Kamu serius tentang itu?" tanya Jester dengan raut wajah yang terkejut menatap Naomi, keduanya bertatapan mata tanpa sepatah katapun untuk beberapa saat.


"Jadi kamu pikir kemarin aku hanya bercanda?" Naomi memalingkan wajahnya dari Jester dan suaranya terdengar serak karena menahan tangis, mendengar suara Naomi yang terdengar akan menangis membuat Jester panik.


"Waaa... engga gak gitu, tolong jangan nangis lagi Naomi" ucap Jester yang panik, Naomi kembali menatap Jester tanpa sepatah katapun namun tatapan Naomi berubah sedih.


"Duh duuuh... gimana ya? aku tidak mengangap kemarin itu kamu bercanda, cuma aku masih tidak percaya" Jester bingung menata kata - katanya agar tidak menyakiti hati Naomi yang saat itu terlihat sangat rapuh, Naomi melihat Jester yang kebingungan saat itu.


"Kamu perlu bukti apa kalau aku serius?" tanya Naomi ditengah keheningan keduanya, Jester menatap Naomi dengan raut wajah yang serius.


"Tidak ada, aku tidak perlu bukti apapun... agak sulit buat dijelaskan" jawab Jester singkat, Naomi terlihat sedikit emosi mendengar jawaban Jester yang cenderung ingin menggantung pembicaraan mereka pagi itu.


"Kalau kamu takut aku akan mengganggu pendekatanmu dengan Camilla aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan sedikit pun menghalangimu dan Camilla. Jangan pikirkan aku" ucap Naomi sedikit membentak, Jester terdiam menatap Naomi.


"Itu masalahnya" celetuk Jester sembari beranjak pergi dari ruang makan dan menuju kamar mandi, Naomi masih terdiam beberapa saat membiarkan Jester meninggalkannya.


Pada pagi yang indah itu setelah Jester dan Naomi bersiap untuk menuju kampus, keduanya terlihat memasuki mobil mereka dan segera berangkat untuk memulai aktifitas kampus. Perjalanan mereka cukup lancar ditengah padatnya jalanan perkotaan, dengan obrolan kecil antara Jester dan Naomi membuat beberapa menit perjalanan mereka tidak terasa lama. Diparkiran kampus sebuah Mercedes Benz V260 terlihat terparkir, Jester dan Naomi berpisah disana dan berjalan menuju kelas masing - masing. Jester yang terlihat sedang berjalan mendadak melihat Luke dan Harry menunggunya didepan pintu kelas, dengan wajah kesal Jester mendekati mereka


"Masalah lagi" dengan nada kesal Jester mengatakannya pada diri sendiri, Luke dan Harry menatap Jester dan langsung berlari mendekati Jester lalu melakukan pengawalan selayaknya presiden yang dikawal oleh pengawalan ala militer.


"Kami tidak akan biarkan Camilla mengganggumu lagi!!" jawab Luke dengan tegas ala militer


"Sudah cukup kamu dipermainkan olehnya, sekarang kita berdua sudah sepakat akan terus mengawalmu!!" timpal Harry yang juga tegas ala militer


"Aku tidak butuh pengawalan kalian bodoh!!" Jester sangat kesal melihat tingkah kedua sahabatnya yang terlihat berlebihan namun Luke dan Harry bergeming


"Haah... kemarin aku mengalami hal yang berat, jadi sekarang biarkan aku kuliah dengan tenang. Lagian Camilla tidak ada dikelas kita kan" ucap Jester dengan nada yang terdengar lelah


"Haii haii~ three musketeers...." sapa Camilla yang suaranya tiba - tiba muncul dibelakang ketiganya, Jester terkejut mendengar suara Camilla dari belakangnya hingga bulu kuduknya berdiri.


"Hah?! Camilla? jangan bilang kamu pindah kelas lagi!!" dengan terkejut Jester mengatakan sembari membalikkan badan, Luke dan Harry dengan wajah khawatir menatap Camilla.


"Ding... Dong... kamu benar!" Camilla sedikit tertawa mengatakannya


"Harry! kode satu!!" teriak Luke pada Harry, mendengar teriakan Luke membuat Jester dan Camilla sedikit tersentak.


"Diterima!!" Harry berlari memasuki kelas dan mencari kursi untuk tiga orang didalam kelas, Camilla dan Jester terlihat hanya bengong menatap Harry berlari.


"Maaf Camilla, hari ini kami tidak akan membiarkan kamu mendeakti raja kami" ucap Luke dengan penuh keyakinan


"Kalian ini kerasukan apa sih?" tanya Jester dengan nada yang kesal menatap Luke, saat itu Camilla tertawa sampai membuat Jester dan Luke terkejut.


"Hihihi.... sampai segitunya menjaga Jester dariku" sedikit menahan tawa Camilla mengatakannya, Jester terkejut Camilla terbawa sikap berlebihan kedua sahabatnya.


"Tentu saja, aku sudah belajar dari kesalahan kemarin" dengan yakin Luke mengatakannya, walau keringat mulai menetes dari dahi Luke dan hatinya dipenuhi rasa khawatir. Camilla hanya tersenyum sinis menatap Luke, tidak lama menatap senyuman sinis itu Luke seperti tersadar akan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak! kamu tidak akan berani melakukan itu!!" Luke tiba - tiba panik dan membuat Jester bingung, Camilla mendekati Jester dan menatap Jester dengan tatapan yang manja meminta belas kasihan pada Jester.


"Jester~ duduk sebelahku ya... aku tidak punya teman di kelas ini kecuali kamu~" pinta Camilla dengan manja sembari menggenggam tangan Jester, namun saat itu wajah Jester hanya datar menatap Camilla.


"Tidak!!! tidak, kamu tidak boleh lakukan itu Camilla!! Jester, kamu harus menolaknya bro!!" bentak Luke sembari meremas pundak Jester agar tersadar dari hipnotis kecantikan Camilla, Jester tersenyum sinis memandang Luke seakan paham bahwa Camilla sedang menjebaknya.


"Aku mungkin akan mati hari ini tapi aku tidak menyesal asal bisa terus melihat wajah Camilla seperti ini" dengan penuh keyakinan Jester mengatakannya, Camilla menarik tangan Jester dan Jester hanya mengikuti arah tarikan tangan Camilla meninggalkan Luke di luar kelas.


"Sial!! aku lupa Jester itu bodoh" Luke menyesal di pojokan lorong kampus, Harry terlihat berlari mendekati Luke


"Luke!! kenapa Jester duduk disebelah Camilla?!" tanya Harry dengan panik, Luke masih meratap di tembok dengan penuh penyesalan.


"Kita lupa kalau Jester itu bodoh" jawab Luke singkat, Harry terkejut dan tersadar mereka melupakan kalau Jester itu bodoh. Untuk urusan percintaan Jester memang sosok yang bodoh tidak seperti dalam bidang akademik yang selalu menjadikannya bintang karena prestasi yang mampu dia raih.


"Kalau begitu kode dua!!" ucap Harry tegas, Luke kembali bersemangat


"Kamu benar Harry!" Luke langsung berlari bersama dengan Harry menuju suatu tempat


Didalam kelas, Jester terlihat seperti kepiting rebus karena wajahnya yang sangat memerah dan dipenuhi dengan keringat. Camilla menaruh kepalanya dibahu Jester dan mengalungkan kedua tangannya ke lengan Jester membuat Jester sangat bahagia sekaligus malu, tiba - tiba lengan lain Jester ditarik dan membuat kepala Camilla hampir membentur meja. Jester dan Camilla terkejut melihat Selena ada didalam kelas sembari menarik lengan Jester, Luke dan Harry berdiri di belakang Jester dan Camilla dengan senyum kemenangan.


"Kamu terlalu dekat dengan kak Jester!" bentak Selana pada Camilla dengan wajah marah, Camilla hanya tersenyum sinis memandang Selena.


"Waa... kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Jester yang tiba - tiba panik


"Hee~ kamu terlalu kecil untuk sampai di kelas ini, Junior" timpal Camilla dengan nada yang terdengar menyindir


"Hah! dugaan kami benar, Selena akan menjadi penghalangmu Camilla!" ucap Luke dengan senyum kemenangan sembari menunjuk Camilla


"Selena yang menyukai Jester tidak akan rela berbagi denganmu di kampus ini!!" Harry menimpali perkataan Luke


"Dasar bodoh!! kalian hanya membuat keributan di kelas!!" Jester membentak Luke dan Harry, disaat itu Camilla berdiri dan menarik lengan Jester dan berniat merebut Jester dari Selena.


"Jester akan tetap bersamaku disini!!" dengan bentakan Camilla mengatakannya, Selena kembali menarik Jester


"Kamu menjauhlah dari kak Jester!!" bentak Selena tidak mau kalah dari Camilla, Selena dan Camilla saling tarik tangan Jester.


"Lagi donk!! baru kemarin aku terlibat keributan!!" teriak Jester namun Selena dan Camilla terlihat tidak mempedulikan Jester dan terus saling tarik, melihat kondisi Jester membuat Luke dan Harry merasa iba.


"Heei kalian berdua jangan ribut disini!!" perintah Luke kepada Selena dan Camilla, mendengar ucapan tanpa dosa Luke membuat Jester semakin kesal.


"Kan ini hasil ulahmu gorilla bodoh!!" Jester membentak Luke dengan penuh emosi, namun Luke mengabaikan Jester dan berusaha menenangkan Selena yang semakin emosional.


"Heei kalian gak malu ya ribut ditengah kelas begini" celetuk Harry sembari berusaha menenangkan Camilla, Jester semakin marah mendengar celetukan Harry.


"Kalian yang tidak tahu malu dasar rubah bodoh!!!" bentak Jester kepada Luke, keributan terjadi dikelas itu dan menjadi tontonan mahasiswa dan mahasiswi dikelas. Jester yang kedua tangannya ditarik ke kanan dan ke kiri oleh Selena dan Camilla hanya bisa pasrah. Luke dan Harry berusaha menenangkan Selena dan Camilla saat itu namun semua sia -sia, Selena dan Camilla tidak ada yang mau mengalah.


Dipintu masuk kelas saat itu, terlihat Naomi berdiri terdiam sembari memandangi Jester yang berada ditengah keributan. Jester merasakan Naomi memandanginya dan seketika Naomi tersenyum manis lalu meninggalkan kelas itu begitu saja, Jester merasakan sesuatu yang mengganjal dan segera melepaskan lengannya dari genggaman Selena dan Camilla secara perlahan agar mereka semua tidak sadar Jester pergi dari kelas itu. Jester segera mengejar Naomi keluar kelas hingga sampai di koridor kampus, Disana Jester melihat Naomi yang bersandar pada tembok sambil memeluk sebuah buku sembari menatap kebawah, Jester perlahan berjalan mendekati Naomi.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Naomi yang sadar Jester mengejarnya, mendengar ucapan Naomi membuat Jester menghentikan langkahnya mendekati Naomi.


"Aku gak tahu, senyum mu tadi yang menggerakkan kaki ku untuk mengejarmu" jawab Jester singkat, keduanya masih tidak memandang satu sama lain.


"Aku hanya ingin menyapamu" ucap Naomi dengan suara yang terdengar tenang


"Aku tahu, tapi entah kenapa tiba - tiba aku ingin mengejarmu. Apa kamu baik - baik aja?" tanya Jester dengan nada yang lembut, Naomi terkejut mendengar pertanyaan Jester sampai membuatnya mengalihkan pandangannya menatap Jester. Terlihat wajah Jester yang sangat khawatir, Naomi mendadak tersenyum dan mulai mengalihkan pandangannya kembali menatap langit - langit kampus.


"Jadi benar kamu tidak baik - baik saja?" tanya Jester lagi karena Naomi hanya terdiam, Naomi kembali memandangi wajah Jester dan kemudian dia tersenyum

__ADS_1


"Aku.... Cemburu...." jawab Naomi saat itu


__ADS_2