
Taburan bintang dilangit yang cerah dengan hembusan angin yang tenang pada malam hari di tengah labirin yang terdapat sebuah air mancur dan sebuah kursi taman dengan hiasan lingkaran bunga berbentuk hati tepat dibelakang kursi itu, Naomi dan Jester bertemu dengan wajah yang terlihat kaget seakan tidak percaya mereka akan bertemu di tengah taman labirin. Wajah Naomi memerah saat itu menahan malu dan Jester masih dengan wajah kaget seakan tidak percaya Naomi ada disana juga.
"Lah kok... kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Jester yang masih terkejut melihat Naomi berada di tengah taman labirin itu, namun saat itu Naomi hanya terdiam menatap Jester dengan wajah yang masih memerah.
"Kamu sama siapa kesini? katanya kamu dan Daniel pergi keluar kota?" tanya Jester lagi karena Naomi hanya membatu menatapnya, Naomi terlihat kesulitan untuk berbicara. Terlihat dari bibir Naomi yang sedikit bergerak namun suaranya tidak keluar sedikit pun, Jester heran menatap Naomi sembari terus berjalan mendekatinya.
"Aaa..Eeh... aa.. aku kesini sama Daniel... ka.. kamu sendiri sama siapa?!" terbata Naomi mengataknnya dan wajahnya masih memerah karena malu, Jester dengan santai menatap Naomi seakan tidak ada hal yang membuatnya gugup.
"Aku sama Selena, tadi dia masuk lebih dulu. Tapi yah... untunglah kamu bukan orang lain, aku tadi merasa bakal canggung jika ketemu sama orang asing ditempat seperti ini" jawab Jester merasa lega, mendengar kalimat Jester itu membuat Naomi semakin terkejut dan seakan tidak percaya Jester mengatakan hal itu dengan tenangnya.
"Apa... apa kamu tidak tahu... mitos tempat ini?" tanya Naomi terbata dan dengan mimik wajah yang heran menatap Jester
"Engga, tadi Selena juga mengatakan sesuatu tentang mitos tapi dia tidak menjelaskan detailnya" jawab Jester yang masih terlihat santai tanpa beban, Jester menatap heran Naomi yang terlihat panik, malu, dan gugup.
"Jadi kamu gak tahu kenapa Selena memaksamu masuk kedalam labirin ini?" tanya Naomi lagi memastikan Jester benar - benar tidak tahu tentang mitos ditempat itu, suara Naomi mulai terdengar tenang.
"Gak tahu, jadi gini loh. Hari ini aku berjanji berkencan dengannya dan akan menuruti apapun keinginannya di tempat ini jadi yah disinilah aku sekarang" jawab Jester kembali tanpa beban
"Kalau begitu pergilah! aku tidak ingin Selena tahu aku dan kamu bertemu disini" perintah Naomi agak dengan bentakan, mendengar Naomi yang tiba - tiba marah membuat Jester semakin heran.
"Haah? bukannya malah bagus kalau Selena tahu kamu disini? ini juga sekaligus jadi kesempatanmu kan mengatakan yang sebenarnya pada Daniel" Jester seperti ingin meluruskan semua kesalahpahaman diantara mereka semua, namun kalimat Jester membuat Naomi bertambah emosi.
"Kamu itu bodoh tahu, Pergilah!!" Naomi kembali membentak dan kakinya sampai menghentak tanah, Jester menggaruk dahinya sejenak dan berbalik hendak pergi dari tempat itu namun baru beberapa langkah Jester berhenti berjalan.
"Bisa beritahu aku mitos apa yang ada disini?" tanya Jester menoleh menatap Naomi, namun Naomi terdiam dan hanya menatap Jester dengan wajah yang mulai memerah kembali
"Yaah baiklah... aku juga tidak percaya pada mitos" Jester kembali akan berjalan namun tiba tiba Naomi berlari mendekati Jester dan menarik lengan Jester untuk menahan langkah Jester.
"Hah? kenapa?" Jester menoleh menatap wajah Naomi dengan heran
"Aku.... aku ada dua permintaan, aku mohon padamu" Pinta Naomi menahan perasaan malunya, nada Naomi mulai terbata - bata kembali.
"Oke... selama itu tidak memberatkanku" ucap Jester menerima permintaan Naomi, Jester membalikkan badannya dan menatap Naomi.
"Pertama kamu harus rahasiain ini kepada siapa pun, kamu gak boleh katakan pada siapapun kamu bertemu denganku di tengah labirin, aku mohon dengan sangat padamu" pinta Naomi dengan nada yang lembut, keduanya bertatapan mata saat itu.
"Ooh tentu, aku juga gak tertarik buat menceritakannya pada siapa pun. lalu yang kedua?" tanya Jester dengan nada yang penasaran, wajah Naomi sangat memerah dan membuatnya enggan untuk menatap Jester secara langsung. Naomi menundukkan kepalanya dan terdiam beberapa saat, Naomi mengepalkan kedua tangannya dan berusaha memberanikan diri untuk berbicara.
"Yang kedua... sampai lonceng itu berbunyi... mau kah kamu disini menunggu sebentar saja, disini.... bersamaku..." pinta Naomi terbata dan tata bahasanya menjadi kacau, Naomi menatap Jester dengan wajah yang memerah.
"Aku pikir aku harus segera keluar, aku khawatir Selena atau Daniel menunggu kita atau malah lebih parah dari itu, Daniel menemukan kita berduaan disini" jawab Jester yang mendadak panik memikirkan kemungkinan yang tidak - tidak, Naomi tidak merespon kepanikan Jester dan malah semakin membuatnya tersipu malu.
"Tidak apa.... tidak apa jika memang ada yang mengganggu... aku sudah siapkan hati jika ada yang mengganggu kita. Tolong... tunggu disini sebentar sampai... lonceng itu berbunyi" wajah Naomi benar benar memerah dengan tatapan yang penuh harap dan tiba tiba tangan Jester menyentuh di dahi Naomi, Jester memastikan suhu tubuh Naomi.
"Kamu demam ya? wajahmu agak memerah" tanya Jester tanpa beban dan membuat Naomi kesal
"Bodoh!!!" Naomi menepis tangan Jester yang berada di dahinya lalu berbalik dan memunggungi Jester
"Jika kamu keberatan aku tidak akan memaksamu untuk tetap di tempat ini!!" dengan bentakan Naomi mengucapkannya sembari berjalan beberapa langkah menjauhi Jester, namun saat itu Jester merespon kemarahan Naomi dengan tertawa keras sampai membuat Naomi heran dan kembali menoleh menatap Jester
"Kenapa kamu menertawakanku?!" Tanya Naomi dengan nada yang kesal, Jester masih belum bisa berhenti tertawa
__ADS_1
"Saat kamu marah seperti itu aku jadi teringat wajahmu ketika aku tiba tiba menarikmu dan mengakuimu sebagai pacarku, Aku rasa sejak saat itu hidupku berubah penuh warna" jawab Jester masih dengan tertawanya, Naomi perlahan membalikkan badannya menghadap Jester.
"Apa maksudmu?" tanya Naomi heran dan mulai tertegun menatap wajah Jester yang tersenyum padanya, Jester mengambil nafas dan berusaha untuk berhenti tertawa sebelum kembali menjawab pertanyaan Naomi.
"Sejak kejadian itu aku mulai terlibat hal hal yang tidak aku pikirkan sebelumnya akan terjadi padaku, memang tidak semuanya menyenangkan namun sejak kehadiranmu aku rasa hidupku semakin menyenangkan. Terima kasih ya sudah mau hadir di hidupku" jawab Jester tersenyum menatap Naomi, wajah Naomi nampak merona kembali dan membuatnya menunduk.
"Dasar bodoh..." gumam Naomi dan tiba tiba lonceng berbunyi cukup keras saat itu, ditengah labirin bunyi lonceng seperti menggema, lampu lampu di Festival Squere pun mulai menyala membuat suasananya menjadi lebih indah.
Bias dan pendaran lampu lampu yang menerangi taman labirin itu membuat kagum Jester, pantulan warna warni lampu dari banyaknya wahana disana semakin menampilkan keindahan, sebuah bianglala besar semakin nampak indah dengan lampu lampu yang membentuk pola lingkaran sempurna. Jester nampak terpesona oleh lampu dan memandang Naomi yang masih terdiam sejak lonceng mulai berbunyi. Tidak ingin menikmati keindahan itu sendiri, Jester kembali mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Naomi mengobrol.
"Heeii Naomi! ternyata ketika lonceng itu berbunyi akan muncul keindahan seperti ini ya? apa karena ini kamu menyuruhku untuk tetap tinggal?" tanya Jester yang terdengar sangat kagum oleh keindahan taman labirin itu, Naomi menatap Jester yang jaraknya agak jauh darinya.
"Kenapa.... kamu menyiksaku seperti ini..." Naomi bergumam sembari menatap Jester dengan mata yang berkaca - kaca, Jester tidak dapat mendengar gumaman Naomi saat itu.
"Haah? kamu bilang apa?" tanya Jester dengan senyuman sembari sedikit berjalan mendekati Naomi, disaat bersamaan Naomi berjalan mendekati Jester hingga keduanya berdekat dan tiba tiba Naomi berjinjit lalu mencium bibir Jester. Jester terkejut ketika itu sampai tidak dapat berfikir apa yang harus dia lakukan, hingga beberapa saat Naomi mulai melepaskan tautan bibirnya dari bibir Jester secara perlahan.
"Na...Naomi..." Jester terbata masih dengan wajah yang tidak percaya menatap Naomi, Naomi perlahan menundukkan kepalanya
"Maa...maaf... aku terbawa suasana!! maaf!! lupakan semuanya!!" Naomi mendadak panik, Naomi berbalik dan kemudian dia berlari menjauh meninggalkan Jester disana, Jester masih termenung dan bengong hingga beberapa saat.
Malam itu menjadi malam yang tidak pernah dibayangkan oleh Jester, ditengah taman labirin yang indah bersama seseorang yang sebenarnya masih terasa asing baginya. Naomi menjadi ciuman pertama bagi Jester si jomblo abadi, terdiam dan membeku untuk sejenak Jester di taman itu sampai lamunannya terhenti karena suara teriakan seseorang yang sedang bermain wahana yang berada di festival squere itu.
Jester pun mulai berjalan mencari jalan untuk keluar, Hingga beberapa saat berjalan akhirnya Jester sampai di pintu keluar timur dan segera melanjutkan berjalan menuju ke tampat penitipan barang. Didekat penitipan barang Jester melihat Selena duduk sendirian termenung sambil memeluk bonekanya yang sedari tadi dia peluk, Jester terhenti menatap Selena agak lama dari kejauhan hingga akhirnya Selena menyadari bahwa Jester sedang menatapnya. Selena membuang mukanya ketika melihat Jester dan kembali terdiam dengan wajah yang sedih, Jester menggaruk dahinya beberapa kali sebelum berjalan kembali mendekati Selena.
"Selena... ada apa?" tanya Jester yang khawatir karena Selena mendadak membuang muka
"Apa kak Jester berhasil sampai tengah?" tanya Selena dengan ketus, Jester sedikit tersenyum kecut menatap Selena yang masih membuang muka.
"Apa kakak bertemu seseorang disana?" tanya Selena menatap mata Jester dengan tatapan penuh kecurigaan, merasa ditatap seperti pencuri yang ketahuan basah sedang mencuri membuat Jester mendadak panik dan matanya mulai tidak fokus menatap Selena.
"Engga, aku sendirian sampai lonceng berbunyi. aku berharap bertemu denganmu disana tapi kamu tidak kunjung datang" jawab Jester dengan nada panik, Selena berdiri dan menatap penuh dengan kecurigaan
"Kakak... bohong kan?" Selena semakin menekan Jester saat itu, Jester berkeringat dan semakin terpojok dengan tekanan Selena
"Apa maksudmu aku bohong?" jurus terakhir Jester telah dilepaskan, membiarkan Selena untuk menerka kebohongannya agar lebih mudah meminta maaf setelahnya adalah startegi yang saat itu Jester pikirkan.
"Kakak pasti bohong mengatakan kakak berharap bertemu aku di tengah!" jawab Selena dengan sedikit berteriak, Jester mendadak membatu namun ada perasaan lega didalam hatinya.
"Ti... Tidak kok... aku tidak bohong..." ucap Jester terbata dan nadanya terdengar seperti maling yang berhasil lolos karena alibinya, Selena terlihat sangat menyesal karena tidak bisa sampai tengah sampai lonceng berbunyi
"Aaaa~ kenapa aku tidak bisa mencapai tengah tadi~ aku kesal kesal!!" Selena sangat kesal saat itu namun Jester justru terlihat lega, sedikit mengelus dada Jester menatap Selena dengan senyuman.
"Sudahlah gapapa kan, apa kamu bersenang senang hari ini?" tanya Jester, Selena tersenyum manis menatap mata Jester lalu menaruh bonekanya di sebuah meja didekat sana dan tiba - tiba berlari memeluk Jester
"Heii.. Heii... apa apaan ini?" Jester terkejut karena Selena tiba - tiba memeluknya, namun senyuman Selena mendadak hilang dan menatap wajah Jester dengan raut wajah yang menyimpan amarah.
"Haah? apa apaan wajahmu itu?!" tanya Jester panik, Selena terlihat kembali memastikan dengan menempelkan hidungnya di tubuh Jester dan menghirup aroma yang berbeda dari parfum yang Jester gunakan saat itu.
"Aroma ini... Naomi... jangan katakan kakak bertemu Naomi" mendadak Selena menatap Jester dengan penuh amarah sembari melepaskan pelukannya, Selena dan Jester saling bertatapan mata dan dari sorot mata Jester itu Selena tahu bahwa dugaannya benar.
"Ma.. mana mungkin? katamu dia keluar kota! kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Jester panik, Selena masih menatap Jester dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Aku kenal aroma ini... aroma jeruk khas ini hanya dimiliki Naomi dan.... aroma ini tidak pernah ada sejak awal kita bertemu kak" jawab Selena terbata, Selena mulai terdiam sembari menoleh kanan kiri lalu berlari mencoba mencari keberadaan Naomi disekitar taman labirin. Jester mengejar dan memegang lengan Selena agar berhenti mencari, namun Selena tidak menatap Jester saat itu dan hanya tertunduk.
"Selena! tidak ada Naomi disini, aku juga tidak tahu aroma apa yang ada dibaju..." belum selesai Jester berkata, Selena memotong
"Tidak!! aku tidak bisa percaya padamu!! aku sangat hafal aroma ini!!" Selena berteriak sambil menatap wajah Jester, matanya mulai berkaca - kaca ketika menatap Jester.
"Selena...." Jester kehabisan kata - kata, mendadak Selena berjalan mendekati Jester dan menempelkan kepalanya ke dada Jester lalu menangis
"Jangan Naomi.... tolong.... aku tidak akan mampu bersaing dengannya...." ucap Selena dengan suara lirih sambil terus menangis, Jester hanya terdiam membatu saat itu dengan perasaan sangat bersalah pada Selena.
Di tengah kerumunan orang yang lalu lalang di festival squere, Jester dan Selena menjadi pusat perhatian orang - orang. Jester tidak mempedulikan dirinya menjadi pusat perhatian karena otaknya dipenuhi bagaimana cara agar Selena tidak tersakiti oleh dirinya, hatinya pun di penuhi rasa bersalah mendengar suara tangisan Selena yang muali terisak - isak. Di tengah kemelut pikiran Jester yang membuatnya membatu, tiba tiba Handphone Selena berdering. Selena mengusap air matanya dan melihat handphonenya sembari masih menempelkan kepalanya di dada Jester dan ternyata Naomi yang meneleponnya, Selena mengangkat telepon itu dengan emosi.
***
"Halo?!" suara Selena masih serak karena baru menangis sebelumnya
"Halo Selena.... duuh maaf ya kamu harus mengisi absenku tadi... aku saat ini sedang perjalanan pulang, bisakah kita bertemu di cafe moonbuck?" tanya Naomi yang terdengar agak panik saat itu
"Kamu... ada dimana?" tanya Selena heran karena mendengar suara mobil dan klakson dibalik suara telepon Naomi
"Aku bersama Daniel dalam perjalanan baru pulang dari rumah orang tuanya, tadi ibu meneleponku karena aku pulang terlambat dari kampus. Jadi aku katakan saja pada ibu aku sedang menemanimu berbelanja, aku membutuhkanmu untuk menemaniku pulang, please~" pinta Naomi dengan memelas, Selena terkejut dengan jawaban Naomi lalu mengangkat kepalanya dan memandangi wajah Jester.
"Kamu.... bohongkan?" tanya Selena lagi dengan nada curiga, Jester dan Selena bertatapan mata saat itu.
"Haah~ kenapa kamu berkata begitu?" tanya Naomi, Selena terdiam mematung menatap Jester yang masih menatapnya dengan penuh perasaan bersalah.
"Haloo? Selena? kamu masih disana?" tanya Naomi lagi karena Selena tidak menjawabnya untuk beberapa saat.
"Iya... aku disini, aku akan segera kesana. tunggu aku Naomi" jawab Selena terbata
"Thank You bestie~ bye bye~" ucap Naomi lalu menutup teleponnya
***
Jester dan Selena saling pandang saat itu, Jester nampak sangat tidak tenang dan berharap Naomi sudah mengatakan sesuatu yang membuat Jester dapat bebas dari situasi itu. Selena kembali menunduk menatap handphonenya dan masih terdiam, Jester menggaruk - garuk dahinya sebelum bertanya alasan Naomi meneleponnya.
"Apa kata Naomi?" tanya Jester dengan cemas
"Dia bilang dia bersama Daniel akan menuju Cafe Moonbuck di mall kota... Naomi bilang kalau dia dari luar kota bersama Daniel..." jawab Selena yang masih menundukkan kepalanya, Jester merasa lega mendengar jawaban Selena dan berfikir Naomi sangat hebat bisa mengantisipasi segala kemungkinan.
"Mau aku antar kamu kesana sekarang?" tanya Jester sembari memberi gestur agar mereka segera beranjak dari tempat itu, Selena memandang wajah Jester dengan tatapan penuh rasa marah.
"Aroma parfum Naomi itu khusus... aku yakin itu aroma Naomi karena ibu Naomi yang membelikannya secara khusus, tapi... jika Naomi saat ini bersama Daniel maka tidak mungkin dia..." Selena dibingungkan sendiri oleh pikirannya dan kembali membuang muka saat Jester menatap wajahnya, Jester masih tidak tahu harus berkata apa saat itu dan hanya memilih untuk diam.
"Maaf.... maafkan aku kak.... aku terlalu cemburu..." ucap Selena terbata dan penuh penyesalan
"Tidak apa, ayo kita segera kesana lebih dulu. akan canggung kalau aku sampai bertemu dengan Daniel" Jester berbalik dan berniat mengambil barang barang yang tadi dia titipkan sebelumnya, namun tiba tiba Selena menarik baju belakang Jester dan menahan Jester agar tidak pergi dari tempat itu.
"Katakan..." perkataan Selena menggantung dan terdiam beberapa saat, Jester tidak berani untuk menoleh saat itu dan terus memunggungi Selena.
"apa lagi?" Jester sedikit panik
__ADS_1
"Katakan... bagaimana perasaanmu pada Naomi?!" tanya Selena menekan Jester, Jester terkejut mendengarkan pertanyaan Selena saat itu