
"Selamat pagi nyonya Marrie!!" sapa Luke dan Harry bersamaan, wajah panik Jester dan Naomi pun terlihat ketika melihat Luke dan Harry datang berkunjung.
Pagi hari menjelang siang, disebuah cluster perumahan yang terlihat mewah. Disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang, terparkir sebuah sepeda motor dan mobil BMW 740Li berwarna hitam tepat didepan rumah. Mobil dan Sepeda motor itu menandakan kedatangan Naoko dan Marrie serta Luke dan Harry, kedatangan yang sangat mengejutkan bagi Jester dan Naomi karena tidak satupun dari mereka yang memberi kabar jika akan datang berkunjung.
"Aaa~ Luke dan Harry, maaf ya Jester dan Naomi mau keluar" sapa balik Marrie seakan tahu maksud kedatangan sahabat Jester itu, namun kedatangan Luke dan Harry membuat Naomi sedikit khawatir. Naomi masih mengira Luke dan Harry marah padanya karena kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
"Ooh tidak apa nyonya Marrie, kami akan pulang saja kalau... " belum selesai Harry berkata, Naoko memotong.
"Kenapa pulang? disini ada teman Naomi bernama Selena, apa kalian mengenalnya? seharusnya kenal kan? dia adik kelas kalian dikampus" dengan tekanan Naoko mengatakannya, pertanyaan Naoko saat itu membuat Jester dan Naomi berkeringat dingin. Seakan Naoko sudah tahu apa yang sedang mereka sembunyikan didalam rumah, membuat Jester dan Naomi seperti maling yang sudah tertangkap basah.
"Da... darimana ibu tahu ada Selena disini?" tanya Jester terbata, Naoko pun tersenyum menatap Jester.
"Mobil Selena terparkir di garasi kalian, aku merasakan kap mobil Selena dingin jadi aku pikir dia menginap disini semalam" jawab Naoko terdengar tenang, namun jawaban tenang Naoko malah membuat Jester dan Naomi semakin panik.
"Jess... panggil Selena dan Luna kemari, biarkan Naoko bertemu dengan mereka" perintah Marrie terdengar seakan ada perasaan bersalah yang tersirat disetiap perkataannya, perintah Marrie saat itu membuat Jester dan Naomi pun semakin terkejut karena ada nama Luna yang disebut.
Sesuatu yang sejak tadi mereka berusaha tutupi tapi semua terbuka karena ada satu celah yang lupa mereka perkirakan. Yaa... mobil Selena yang terparkir digarasi rumah Jester dan Naomi, belum lagi Jester lupa jika dirinya pun sempat curhat masalah Luna kepada William yang tentu saja ada kemungkinan William sudah menceritakan semuanya pada Marrie. Benar - Benar menjadi sebuah pelajaran berharga, berbohong tidak akan selamanya dapat menutupi sesuatu.
"Luna? siapa dia?" tanya Naoko sembari mengalihkan pandangannya menatap Marrie
"Nanti aku ceritakan padamu" jawab Marrie dengan helaan nafas, Naoko pun penasaran saat itu karena melihat raut wajah Marrie yang terlihat sedih.
"Naomi" ucap Naoko menekan, tanpa perkataan apapun saat itu seakan Naomi tahu apa yang harus dia lakukan.
"Baik bu... maaf aku tidak segera bergerak" terdengar ketakutan Naomi mengatakannya, lalu dia segera berjalan menuju kamar untuk memanggil Luna dan Selena.
Suasana ruang keluarga pun mendadak menjadi tegang, kebisuan diantara semua orang yang kebetulan ada disana pun terjadi. Jester terlihat sangat khawatir, Naoko dengan rasa penasaran tinggi seakan tidak sabar menunggu Naomi, Marrie dengan raut wajah penuh rasa bersalah, serta Luke dan Harry yang terdiam menatap Jester masih terlihat bingung dengan situasi yang sedang terbangun saat ini.
Tidak lama Naomi kembali masuk kedalam ruang keluarga lalu mendekati Jester melewati Luke dan Harry yang sejak tadi berdiri didekat pintu masuk ruang keluarga, dilorong utama rumah saat itu Harry dan Luke menatap Luna dan Selena yang berjalan hendak masuk kedalam ruang keluarga. Wajah terkejut Luke dan Harry tidak dapat disembunyikan ketika mereka akhirnya bertemu kembali dengan Luna, mengingat hubungan mereka yang kacau pasca Luna menolak Jester membuat tatapan Luke dan Harry pun sangat sinis terhadapnya.
Luna hanya menundukkan kepala saat melewati Luke dan Harry untuk masuk kedalam ruang keluarga, ketika mereka masuk Selena langsung sedikit menarik pundak Luna agar menundukkan badannya saat menghadap Naoko. Mendapat kode itu, Luna tanpa basa basi langsung menundukkan badannya.
"Selamat pagi nyonya Scott... nyonya Gates..." sapa Selena dengan sopan, Luna pun terlihat bergemetar saat berhadapan dengan dua orang yang begitu terkenal sangat kaya dinegara itu.
"Pagi Selena, lama tidak bertemu. Dia temanmu?" tanya Naoko menekan
"Di.. dia temanku bu!" jawab Naomi terdengar panik, Naoko langsung menatap Naomi dengan tatapan tajamnya yang membuat Naomi langsung menundukkan pandangannya lagi.
"Naomi, sopankah seperti itu?!" agak dengan bentakan Naoko mengatakannya, tiba - tiba Marrie menggandeng tangan Naoko saat itu.
"Naoko... ayolah..tidak perlu sampai seperti itu, anakmu bergemetar loo.." dengan candaan Marrie mengatakannya agar Naoko tidak emosi, mendengar candaan Marrie membuat emosi Naoko mereda.
__ADS_1
"Ma... maaf... aku ti...tidak ingin mengganggu... aku cuma... ingin berteman dengan Naomi..." terbata Luna mengatakannya, tubuhnya pun semakin bergemetar karena ketakutan. Marrie berjalan mendekati Luna dan mengangkat badannya agar menatap wajahnya, raut wajah ketakutan Luna saat menatap Marrie tidak dapat disembunyikan lagi. Bagaiman tidak, Luna sangat mengetahui bahwa Jester pernah terpuruk karenanya dan tentu Marrie mengetahui hal itu.
"Ma...maaf nyonya Gates... aku..." belum selesai Luna berkata, Marrie memotong.
"Lama tidak bertemu Luna.... tidak usah takut seperti itu, tidak apa - apa kok" timpal Marrie, seketika gemetaran ditubuh Luna pun mereda. Senyuman Marrie saat itu melunturkan ketakutannya, dengan tatapan penuh rasa bersalah Luna menatap Marrie.
Jester yang melihat Marrie mendekati bahkan berbicara kepada Luna membuat jantungnya berdegup kencang, rasa takut muncul dihati Jester. Dia takut kekecawaan ibunya membuat suasana tidak kondusif, tetapi saat reaksi yang ditujukkan Marrie sangat biasa membuat Jester tenang dan menghela nafas cukup panjang.
"Naoko, yuks berangkat... aku sudah tidak sabar!" dengan penuh semangat Marrie mengatakannya sembari berbalik menatap Naoko, seakan memahami Marrie yang tidak ingin memperkeruh suasana Naoko pun menyetujui perkataan Marrie dengan anggukan kepala.
"Luke Harry!" panggil Marrie dengan penuh semangat, ucapan penuh semangat Marrie membuat Luke dan Harry terkejut.
"Siap nyonya Marrie!" jawab Luke dan Harry bersamaan, seakan mereka siap menerima apapun tugas yang diberikan oleh Marrie untuk mereka.
"Kalian disini saja, Jester dan Naomi tidak lama kok. Ok?" perintah Marrie, Luke dan Harry pun hanya mengangukkan kepalanya menerima perintah Marrie.
"Ayoo pergi!!!" dengan penuh semangat Marrie berkata sambil sedikit berlari menuju keluar rumah, diikuti oleh Naoko yang berjalan dengan anggun seperti biasanya.
Saat itu Naomi dan Jester langsung bergegas bersiap untuk ikut dengan Naoko dan Marrie pergi, Jester berpesan pada Luke dan Harry agar mereka tidak pulang dan menunggu kepulangan mereka. Luke dan Harry menyetujui dengan anggukan kepala, segera Jester berlari mengikuti Naomi yang lebih dulu keluar rumah. Saat itu Jester menjadi supir untuk Naomi, Naoko dan Marrie menggunakan BMW 740Li milik Marrie.
Setelah kepergian Jester, Naomi, Naoko dan Marrie dari rumah Jester dan Naomi, terlihat Luke, Harry, Selena dan Luna terdiam diruang keluarga tanpa sepatah katapun dan masih bediri ditempat awal mereka. Tidak ingin terus berdiri yang membuatnya capek, Harry melangkahkan kakinya menuju salah satu sofa diruang keluarga itu lalu duduk dengan santainya. Suasana tegang, kaku dan canggung jelas terlihat disana. Luke dengan amarahnya dan Harry dengan curiganya terhadap Luna dan Selena semakin membuat suasana terasa tidak tenang.
"Hey Luke! mau sampai kapan berdiri seperti itu?" tanya Harry memecahkan keheningan, suara Harry saat itu seakan menyadarkan Luke, Selena dan Luna dari lamunannya.
"Mau kemana? kami datang kesini untuk berbicara dengan kalian" ucap Luke dengan tekanan, Selena pun berbalik menatap Luke dengan tatapan penuh amarah.
"Kalau kamu mau menekan Luna, aku tidak akan tinggal diam!" jawab Selena sedikit membentak, namun bentakan Selena saat itu ditanggapi dengan suara tawa Luke dan Harry.
"Kalian akan tertekan atau tidak itu tergantung dari jawaban kalian sendiri, kami disini cuma mau mencari tahu kebenarannya" dengan sedikit tertawa Luke mengatakannya
"Tidak apa, kita lebih baik segera selesaikan ini" ucap Luna terdengar tenang, namun Selena tidak menerima permintaan Luna saat itu.
"Tidak! mereka ini tidak seperti yang kamu pikirkan! mereka akan menekanmu..." belum selesai Selena berkata, Luna memotong.
"Tidak apa, aku sudah menyiapkan hati untuk ini" dengan senyuman Luna mengatakannya, dia pun berjalan mendekati salah satu sofa dan duduk berhadapan langsung dengan Luke dan Harry yang dipisahkan oleh sebuah meja didepan mereka.
"Ceritakan lah, kami akan mendengarnya dan kami berharap kamu jujur" ucap Harry terdengar tenang, Luna pun menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskan perlahan untuk memulai menceritakan semuanya.
Beberapa menit pun berlalu dengan cerita lengkap dari Luna tentang alasan dia kembali hadir dikehidupan Jester, rencananya, dan segala sesuatu yang juga telah disampaikan kepada Jester maupun Naomi. Mendengar cerita Luna tidak serta merta membuat Luke dan Harry percaya, beberapa pertanyaanpun mereka ajukan kepada Luna dan dia menjawab semua pertanyaan itu dengan meyakinkan. Pertanyaan Luke dan Harry juga adalah pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Jester dan Naomi selama ini sehingga Luna hanya mengalir saja menjawab pertanyaan - pertanyaan itu, semua berjalan lancar tanpa emosi.
"Jadi begitu... duuh jadi gak enak sama Naomi" celetuk Harry saat mereka berempat terdiam ketika mendengar cerita lengkapnya dari Luna, Harry dan Luke terlihat menyesal telah berfikiran buruk tentang Naomi.
__ADS_1
"Makanya jangan asal menarik kesimpulan, tanyakan dulu pada yang bersangkutan" sindir Selena, sindiran itu membuat emosi Luke naik.
"Kamu pikir karena siapa kami jadi begini?! coba saja kamu dan Camilla gak berbuat aneh - aneh!" bentak Luke kepada Selena, namun Selena hanya membuang muka merespon amarah Luke kepadanya.
"Sudah kak Luke... Selena memang salah, tapi dia sampai seperti itu juga karena aku. Aku minta kalian untuk memaafkan Selena..." sembari memberi gestur tangan meminta maaf Luna mengatakannya, dengan helaan nafas Luke merespon permintaan Luna.
"Haah... ya sudahlah, untuk sementara ini aku akan mengikuti maumu. Lagian kamu juga akan pergi lagi" ucap Luke terdengar pasrah, Luna pun tertawa kecil mendengar perkataan Luke.
"Tapi ini yang terakhir" sedikit dengan bentakan Luke mengatakannya, suara berat Luke saat itu menarik perhatian Selena dan Luna.
"Ini terakhir aku akan membiarkanmu dekat dengannya, aku harap kamu tidak menghancurkan hatinya lagi. Karena kalau tidak, aku tidak akan pernah memaafkanmu" ancam Luke pada Luna
Ketegangan dirumah Jester dan Naomi pada pagi menjelang siang itu tidak jauh berbeda dengan suasana yang dirasakan oleh Jester dan Naomi didalam mobil BMW 740Li yang mereka naiki, sedangkan Marrie dan Naoko yang duduk dibelakang sedang asyik berdiskusi tentang bentuk cicin pernikahan untuk Jester dan Naomi. Setelah menentukan beberapa bentuk cincin pernikahan, Marrie dan Naoko pun tampak terdiam memandangi layar disandaran kepala kursi depan. Terlihat Naoko seperti sedang menata kata - kata untuk bertanya tentang Luna yang sedari tadi sangat menganggu pikirannya.
"Luna... siapa dia?" tanya Naoko ditengah keheningan, pertanyaan yang langsung membuat Jester dan Naomi berkeringat dingin.
"Cinta pertama Jester, tapi mereka gak berpacaran kok... atau lebih tepatnya belum sempat berpacaran" jawab Marrie terdengar mencoba meyakinkan Naoko kalau Luna bukanlah ancaman, Marrie terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Naoko. Sejenak terdiam, Naoko menepuk pundak Naomi yang duduk didepannya.
"Kenapa dia ada dirumah kalian?" tanya Naoko menekan, Jester dan Naomi pun tersentak bersamaan.
"Aah.. Eeh.. itu... Luna...." belum selesai Naomi menjawab, Jester pun memotong.
"Dia ternyata teman Selena dan kebetulan Selena datang kerumah membawa sahabatnya yang ternyata adalah cinta pertamaku!" dengan panik Jester menimpali perkataan Naomi, mendengar jawaban itu membuat Naoko tertawa cukup keras.
"Marrie, kenapa ya mereka suka membohongi kita seperti ini?" tanya Naoko dengan sedikit tertawa, mendengar pertanyaan Naoko membuat Marrie pun tertawa.
"Entahlah... mungkin mereka merasa kita ini bodoh" jawab Marrie dengan sedikit tertawa
Jester dan Naomi yang merasa tersindir akhirnya mengatur nafas untuk berkata yang sejujurnya, sejenak sebelum mereka mulai bercerita nampak keduanya saling bertatapan mata menguatkan tekad mereka jika cerita yang akan mereka sampaikan akan membuat Naoko marah.
Jester mulai bercerita semuanya kepada Naoko dan Marrie, sesekali Naomi menimpali cerita itu dan juga memberitahu alasan kenapa Naomi mengijinkan Luna berada didekat mereka. Disana pun Naomi secara terang - terangan mengatakan bahwa dia cemburu, namun dengan alasan demi kebaikan Jester dia berusaha keras untuk menahan rasa cemburunya sampai satu bulan kedepan. Mendengar perkataan Naomi membuat Jester akhirnya mengutarakan perasaan dia yang sesungguhnya, keberatan Jester atas ide Naomi, dan alasan diamnya dia atas keputusan yang Naomi ambil secara sepihak.
"Bagaimana pun Luna bukan ancaman bagi pernikahan mereka, Naoko... kamu tenang aja" celetuk Marrie saat cerita Jester selesai, Naoko menatap Marrie terlihat tidak peduli.
"Tidak masalah jika itu adalah ancaman, yang membuka pintu Naomi dan jika Jester berpaling hati maka Naomi yang harus menanggung akibatnya" timpal Naoko terdengar tenang, mendengar perkataan Naoko membuat emosi Marrie naik.
"Aku yang akan bertindak jika Jester sampai berpaling hati! tidak akan aku maafkan anak ini!" bentak Marrie dengan penuh emosi
"Itu adalah ujian cinta Naomi, dia yang membuka pintu dan dia juga yang harus bertanggungjawab. Aku juga tidak akan memaafkan Naomi jika tiba - tiba dia menyerah mempertahankan cinta Jester, kamu mengerti Naomi?" dengan tekanan Naoko mengatakannya, Naomi pun menundukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Naoko.
"A.. aku... meng..." belum selesai ucapan Naomi, Jester memotong.
__ADS_1
"Tidak akan pernah terjadi... maaf bu. Aku bukan orang yang mudah berpaling hati, aku juga bukan orang yang akan mengorbankan komitmen yang sudah aku ucapkan pada Naomi hanya karena hadirnya seseorang, aku hanya akan pergi ketika posisiku sudah tergantikan oleh orang lain karena pilihan Naomi" timpal Jester dengan tegas, perkataan Jester saat itu membuat Naomi tersipu malu dan tertegun menatap Jester dengan wajah yang terkejut.
Seketika perasaan marah Marrie dan Naoko pun sirna, keheningan pun terjadi didalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan yang cukup cepat dilenggangnya jalan perkotaan pada siang itu. Marrie dan Naoko pun saling menatap dengan senyumnya yang terlihat senang, usaha mereka berdua terbayar lunas melihat kuatnya ikatan cinta antara Jester dan Naomi yang dimulai dari sebuah kebohongan.