
Rabu pagi yang cerah, dirumah Jester dan Naomi. Terlihat Jester baru membuka mata saat itu karena tangannya tertindih oleh sesuatu saat ingin mengganti posisi, betapa terkejutnya Jester saat melihat Naomi tidur disebelahnya. Wajahnya pun memerah, perasaannya campur aduk antara malu dan senang melihat wajah polos Naomi yang masih terlelap didepannya. Jester pun terdiam menatap wajah cantik Naomi yang dia rindukan sejak kejadian di hotel Gates. Tidak lama Naomi membuka matanya perlahan, beberapa kali matanya berkedip seakan masih berat untuk bangun.
"O..Ohayou.... Dar...ling..." sapa Naomi saat itu dengan suara yang terbata, dengan mata yang masih berkedip cepat seakan tidak ingin bangun Naomi berusaha menatap Jester. Tanpa kata apapun saat itu Jester langsung memeluk Naomi dengan erat, mendapat pelukan itu membuat Naomi terkejut.
"Jess.. kenapa?" tanya Naomi dengan suara yang terdengar kaget
"Aku rindu.... sangat merindukanmu.... hidupku terasa hampa dalam beberapa hari ini..." ucap Jester terharu, jawaban Jester saat itu membuat Naomi menghela nafas terdengar berat lalu membalas pelukan Jester.
"Maaf... aku membuatmu khawatir ya..." timpal Naomi dengan suara yang lembut, Jester pun menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu gak perlu minta maaf... aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa melindungimu" terdengar penuh penyesalan Jester mengatakannya, mereka pun terdiam beberapa saat dan masih saling berpelukan.
"Kapan kamu masuk keruang ini?" tanya Jester penasaran, dia pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Naomi.
"Sekitar jam satu, saat itu aku mimpi buruk sampai membuatku berteriak dan membangunkan Luna.... Setelahnya aku tidak bisa kembali tidur dan Luna menyarankan aku untuk kesini... entah kenapa aku.... bisa tidur kembali setelah melihatmu...." jawab Naomi terbata, mereka pun bertatapan mata dan terdiam.
"Kenapa? apa wajahku jelek saat bangun tidur?" tanya Naomi saat itu melihat Jester yang tertegun memandangi wajahnya, pertanyaan Naomi membuat Jester terkejut.
"Bukan!! bukan gitu... aku cuma..." belum selesai Jester menjawab, Naomi memotong.
"Kamu mau menciumku?" tanya Naomi terdengar menggoda, wajah Jester pun memerah dan mendadak panik untuk duduk dikasur lipat itu.
"Tidak! bukan gitu... aku itu cuma..." belum selesai Jester menjawab, Naomi lagi - lagi memotong.
"Ya sudah kalau gak mau... aku gak maksa kok..." terdengar kesal Naomi mengatakannya, dia pun berdiri hendak meninggalkan ruangan itu namun tangannya ditahan oleh Jester.
"Naomi!! tunggu..." ucap Jester panik, namun Naomi tidak membalikkan badannya.
"Tunggu... jangan marah... aku cuma terlalu... malu untuk..." belum selesai Jester berkata, Naomi membalikkan badannya lalu menempelkan kedua tangannya kepipi Jester dan mencium bibir Jester. Tidak lama Naomi melepaskan tautan bibirnya dan nafasnya pun terdengar terengah - engah, Naomi menempelkan dahinya di dahi Jester dan tetap memegang pipi Jester.
"Ahaha... sulit memang... sekilas aku teringat kembali kenangan burukku... maaf Jess" ucap Naomi terbata, nafasnya pun semakin tidak beraturan saat itu.
"Tidak apa, perlahan saja... aku akan berusaha membantumu untuk bangkit..." suara Jester terdengar lembut saat mengatakannya, perlahan Naomi kembali menempelkan bibirnya ke bibir Jester. Karena kuatnya Naomi berusaha menempelkan bibirnya sampai Jester pun terjatuh kebelakang dan Naomi menindih Jester, sesaat mereka kembali melepaskan tautan bibirnya dan saling menatap dengan wajah yang terkejut.
"Ahaha... maaf, apa itu sakit?" tanya Naomi dengan senyuman merekah diwajahnya yang merah merona menatap Jester
"Ti.. tidak kok..." terbata Jester mengatakannya dengan wajah yang terlihat sangat memerah, perlahan Naomi kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Jester dalam posisi Naomi mendindih Jester.
Namun suasana romantis itu terganggu dengan suara nada dering handphone Jester yang berdering tanda telepon masuk, Jester dan Naomi pun terkejut lalu menoleh menatap sebuah meja dimana Jester meletakkan handphonenya. Naomi pun menjatuhkan badannya kekasur dan membiarkan Jester merangkak menuju meja untuk mengambil handphonenya, disana Jester melihat Marrie yang menelepon. Tidak lama Jester pun mengangkat telepon dari Marrie.
***
"Hallo mama..." sapa Jester dengan suara yang terdengar kesal, Naomi pun tertawa kecil mendengar Jester kesal.
"Jess... hari ini kita fitting baju pernikahan ya" ucap Marrie
"Hah?! sekarang? aku ada kuliah!!" tolak Jester dengan panik, kepanikan Jester saat itu membuat Naomi penasaran. Naomi pun merangkak mendekati Jester dan berusaha menguping pembicaraan.
__ADS_1
"Kamu itu jenius, sekali dua kali gak masuk kuliah juga pasti kekejar nilaimu... lagian mama sudah menuju rumah Naoko ini" terdengar senang Marrie mengatakannya, Naomi pun terkejut menatap Jester saat berhasil menguping pembicaraan. Dengan gestur tangan Naomi meminta Jester untuk berusaha menolak, wajahnya pun terlihat panik dan ketakutan saat itu.
"Mama... bisakah ditunda? aku benar - benar tidak bisa hari ini, ada kuis dikampus dan Naomi juga sedang ada tugas yang harus dikumpulkan" ucap Jester berusaha mencari alasan
"No No No sayang... big No, mama gak mau tunda ini... bye bye Jess, sampaikan hal ini pada Naomi" jawab Marrie lalu menutup teleponnya.
***
Jester sejenak menatap handphonenya lalu menatap Naomi yang masih terlihat panik dan ketakutan, saat itu Jester berusaha menenangkan Naomi dengan menggenggam tangannya dan menatapnya dengan lembut.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Jester
"Aku... masih takut untuk bertemu seseorang, saat bersentuhan denganmu pun terkadang tubuhku reflek untuk menghindarinya dan membuatku bergemetar...." jawab Naomi terdengar ketakutan, saat itu Jester langsung berfikir mencari cara untuk menghindari rencana Marrie dan Naoko.
"Aku tahu!!" celetuk Jester saat itu, dia pun langsung kembali scroll handphonenya untuk mencari nomer Sarah dan langsung meneleponnya.
***
"Ya Jester... Sarah disini" sapa Sarah datar
"Sarah, apa mama atau ibu Naomi meneleponmu?" tanya Jester dengan panik
"Tidak, belum ada telepon dari mereka. Ada apa?" tanya Sarah
"Mama mau melakukan fitting baju hari ini tapi keadaan Naomi masih tidak baik, bisa kamu tunda permintaan mama buat fitting hari ini?" pinta Jester saat itu
"Tapi kamu tahukan keadaan Naomi seperti apa?" tanya Jester menekan Sarah, saat itu untuk beberapa saat Sarah terdiam.
"Boleh aku berbicara dengan Naomi?" tanya Sarah, Naomi yang saat itu menguping pun menganggukkan kepala menyetujui permintaan Sarah. Jester langsung memberikan handphonenya kepada Naomi
"Sarah, ini Naomi..." sapa Naomi saat itu
"Hai Naomi... aku tahu keadaanmu tidak baik, tapi bisakah kamu juga memikirkan kredibilitas perusahanku? aku tentu tidak bisa menolak permintaan keluarga Gates dan Scott secara bersamaan, tolonglah Naomi..." pinta Sarah terdengar tertekan saat itu, Naomi pun menghela nafasnya.
"Baik... aku bisa mengerti permintaanmu, tapi aku minta diruanganku hanya ada wanita... aku masih trauma jika melihat.... pria lain..." jawab Naomi dengan terpaksa, nafas panjang Sarah terdengar lega pun terdengar.
"Jika itu permintaanmu, sangat mudah untuk aku lakukan... baiklah, akan aku persiapkan semua yang kamu butuhkan. Sampai ketemu di kantor" timpal Sarah terdengar lega lalu menutup teleponnya.
***
"Maaf aku gak bisa membantu..." celetuk Jester dengan suara yang penuh penyesalan, raut wajah Jester pun menatap Naomi dengan penuh rasa khawatir.
"Tidak apa Jess... aku tadi sempat berfikir egois dan memikirkan diriku sendiri, tapi... Sarah sepertinya sudah sangat mengenalmu dari caranya berbicara, dia sampai keberatan untuk menolakmu secara langsung" timpal Naomi dengan heran, Jester pun heran dengan perkataan Naomi.
"Apa maksudnya?" tanya Jester kebingungan, Naomi hanya tersenyum menatap Jester.
"Entahlah apa yang dipikirkan Sarah, tapi nama Gates memang sangat kuat pengaruhnya di negara ini dan itu yang membuatku juga.... ketakutan menghadapi pernikahan denganmu..." jawab Naomi sambil menundukkan kepalanya, suaranya pun terdengar ketakutan saat itu. Jester menggenggam tangan Naomi dengan erat sampai kembali membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester, wajah serius Jester saat itu membuat Naomi seakan mendapatkan keyakinan atas keseriusan Jester tentang hubungan mereka.
__ADS_1
"tak ada jarak diantara kita, aku belum pernah sedekat ini dengan seorang wanita manapun... kita juga tidak memiliki batasan. Sebenarnya kadang aku juga pernah merasa takut akan hal itu, apa aku bisa melakukan sesuatu untukmu? apa aku bisa membuatmu selalu tersenyum?" ucap Jester dengan lembut, saat itu Naomi tertegun memandangi Jester.
"Aku dulu mengenalmu sebagai sosok yang kuat, tapi sekarang aku merasakan kamu begitu lemah... mudah hancur dan rapuh.... aku kini semakin takut untuk mencintaimu karena aku pun bukan pria baik... aku selalu dihantui perasaan aku tidak akan mampu untuk membahagiakanmu dan melindungimu..." Jester pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Tapi aku begitu mencintaimu, aku tetap mencintaimu dalam ketakutanku. Sulit menjelaskan kenapa aku mencintaimu, aku hanya ingin orang yang kucintai bisa hidup bahagia. Begitu menginginkannya aku tak bisa berhenti, aku tak bisa menghentikan hasratku dan karena itu pula.... aku takut suatu saat akan menyakiti orang yang aku cintai" ucap Jester dengan lembut, Naomi pun tertawa kecil mendengarkannya.
Perkataan Jester membuat Naomi terharu, sempat dia berfikir Jester akan berubah setelah kejadian yang dialaminya bersama Daniel serta pengakuan jujurnya tentang keadaannya yang sudah tidak perawan lagi. Tetapi yang Naomi dapatkan adalah perilaku yang sama dari Jester, bahkan Naomi merasakan cinta Jester semakin kuat untuknya. Namun kalimat Jester itu juga membuat Naomi tertawa geli, yaah... bagaimanapun sosok Jester sepanjang yang Naomi ingat adalah sosok yang dikenal kutu buku dan selalu bodoh dalam urusan percintaan, ternyata kebucinan Jester semakin menjadi - jadi hingga membuat Naomi sulit untuk menahan tawanya.
"Kamu... sedang merayuku?" dengan suara tawa kecil Naomi mengucapkannya, wajah Jester pun kembali memerah.
"Tidak!! aku hanya sedang mengutarakan isi hatiku dan ini sungguh - sungguh!!" ucap Jester dengan panik, Naomi pun tertawa terbahak - bahak melihat tingkah Jester yang panik.
"Yuk bersiap, mungkin beberapa saat lagi ibu dan mama sudah sampai" Naomi pun berdiri dan berjalan menuju keluar ruangan hendak kekamar mandi, sesaat Jester merapihkan kamar itu dan membuka pintu serta gorden - gorden agar matahari pagi dapat menyinari. Setelah selesai, Jester kembali berjalan menuju kamar mandi. Saat itu Jester berpapasan dengan Selena yang membawa satu bungkus plastik hitam besar, wajah Selena pun terkesan sangat terkejut menatap Jester.
"Pagi, bawa apa kamu?" tanya Jester penasaran
"Aaa anu... ini.. sampah..." jawab Selena terdengar panik
"Kamu bisa taruh aja itu didekat dapur, seseorang dari divisi kebersihan cluster akan membuangkan sampah itu untukmu" timpal Jester memberi saran
"Aaa iya... kamu benar, tapi aku cuma tidak ingin... merepotkan saja, aku akan bawa ini sendiri" masih terdengar panik Selena mengatakannya lalu dia berlari menuju keluar rumah, Jester pun menatap Selena dengan penuh keheranan. Tidak ingin ambil pusing, Jester kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Namun dilorong saat itu Jester menginjak setetes cairan, Jester pun mengalihkan pandangannya menatap kakinya yang bernoda berwarna merah.
"Apa ini?" tanya Jester sambil mencolek cairan itu, sejenak Jester mencium aroma cairan berwarna merah itu dan ternyata itu adalah darah segar. Sontak Jester pun terkejut dan menatap Selena, dia berlari menuju keluar rumah untuk mengejar Selena. Dipelataran saat itu Jester melihat Selena sedang memasukkan plastik hitam dibagasi mobil, menyadari keberadaan Jester saat itu membuat Selena terkejut dan segera menutup bagasi itu dengan panik.
"Kamu terluka?!" tanya Jester dengan panik
"Hah? kenapa?" Selena pun terkejut dengan perkataan Jester
"Ada setetes darah tadi di lorong! itu masih segar dan pasti bukan dari sebuah luka yang dangkal!!" jawab Jester panik, Selena pun terlihat gelagapan untuk merespon perkataan Jester.
"Aaa anu kak... iya, jariku terkena pisau saat memasak" dengan panik Selena mengatakannya, Jester pun berjalan mendekati Selena sambil memberikan gestur tangan untuk melihat luka Selena.
"Lihat, aku harus tahu sedalam apa luka itu" ucap Jester berusaha tenang, Selena pun semakin panik dan menyembunyikan tangannya dibelakang tubuh.
"Tidak usah kak! aku bisa mengobatinya sendiri!" agak membentak Selena mengatakannya, Jester pun curiga dengan tingkah Selena saat itu.
"Apa yang terjadi? kamu berbohong?" tanya Jester menekan Selena
"Aku mencarimu dari tadi, ternyata kamu disini! nih plaster yang kamu minta" ucap Luna yang berada dibelakang Jester saat itu, Jester dan Selena pun mengalihkan pandangannya menatap Luna yang memberikan sebuah pembalut wanita.
"Sepertinya lebih baik kamu segera mencuci tangan dan kakimu deh kak" ucap Luna lalu dia tertawa terbahak - bahak melihat ekpresi Jester yang malu. Jester pun berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Luna dan Selena dipelataran rumah tanpa kata, namun saat itu Selena terdiam menatap Luna.
"Hahahaha... duuh ya ampun kak Jester..." celetuk Luna setelah puas tertawa
"Puas?" tanya Selena kesal, namun Luna merespon Selena dengan senyuman.
"Maaf ya..." jawab Luna dengan senyuman, Selena pun menghela nafasnya.
__ADS_1
"Sudahlah, asal kamu senang" timpal Selena dan kembali berjalan masuk kedalam rumah diikuti oleh Luna