Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kegagalan


__ADS_3

***


"Semua foto - foto itu adalah editan, aku tidak terlalu mengenal Naomi secara pribadi karena aku hanya mengenalnya ketika aku dan dia sama - sama menyandang status sebagai seorang selebgram" ucap Daniel saat konferensi pers dihadapan beberapa wartawan dari berbagai media, kecuali media dibawah naungan Werner Grup yang terlambat datang.


"Apa maksudnya editan? apa benar itu bukan kamu dan Naomi?" tanya salah satu wartawan, Daniel sedikit tertawa


"Tidak... tidak... semua itu tidak benar" jawab Daniel


"Tapi..." belum selesai wartawan lain bertanya, pengacara Daniel memotong.


"Klien saya kaget dengan berita yang beredar karena klien saya baru saja pulang dari liburan di itali, ini adalah bukti tiket penerbangan keberangkatannya dan juga bill hotel - hotel yang klien saya punya" sembari menunjukkan bukti - bukti jika Daniel memang baru pulang dari luar negeri


"Seperti yang teman - teman wartawan lihat, saya sangat terkejut ketika pulang dan disuguhi berita seperti ini. Saya memohon maaf kepada Jester Gates dan Naomi Scott karena atas ketidaktahuanku saat berita ini bergulir liar, sangat memalukan memang namun itu memang hanyalah sebuah foto editing" ucap Daniel melanjutkan penjelasan pengacaranya.


***


Pagi hari yang cerah di cluster perumahan mewah, disalah satu rumah dengan aksen khas jepang nampak Jester, Luke, Harry, Justin, Selena dan Sarah menatap layar televisi yang menampilkan tayangan konferensi pers Daniel yang membantah berita tentangnya dan Naomi. Semua terdiam dengan pikirannya masing - masing, namun Jester sedikit tersenyum setelah mendengar perkataan Daniel.


Grece sendiri sibuk dengan handphone miliknya, dia terlihat sedang berbicara sangat intens dengan tim medianya untuk menyusun rencana setelah Daniel melakukan konferensi pers yang sangat mengejutkan itu. Bagi Grece ini adalah kesempatan tepat untuk segera memframing agar nama Naomi kembali bersih dari berita - berita negatif


"Aku sudah menyusun rencana untuk membersihkan nama Naomi!! Aaa~ senangnya... semoga Naomi mendengar berita ini" celetuk Grece setelah menutup sambungan teleponnya, Sarah tersenyum sinis menatap Grece. Sementara Justin penasaran dan mulai khawatir tentang tindakan yang akan Grece lakukan.


"Sepertinya Daniel ingin menjadi pahlawan untuk Naomi" timpal Sarah dengan sinis, perhatian Luke, Harry, Justin, Selena dan Grece pun beralih menatap Sarah.


"Apa maksudnya sayang?" tanya Luke bingung, Sarah menatap Luke dengan wajah sinisnya.


"Dia mengatakan jika itu foto editan, artinya akan ada orang yang akan dia korbankan sebagai pelaku yang akan menanggung semua beban bahkan sampai hukuman. Aku yakin ini bukan rencana Jester" jawab Sarah


"Hei Jester, ini bukan rencana mu? aku pikir Daniel melakukannya karena perintah mu" tanya Harry terdengar bingung

__ADS_1


"Aku rasa Sarah benar, ini bukan rencana ku karena apa yang dia lakukan melebihi apa yang aku harapkan" jawab Jester lalu berdiri hendak keluar dari ruang keluarga


"Kamu akan biarkan dia mengambil peran sebagai pahlawan?" tanya Sarah ketika kaki Jester baru melangkah beberapa kali, pertanyaan Sarah seperti menyadarkan Luke, Harry, dan Grece tentang kekhawatiran mereka akan kemungkinan Naomi salah paham.


"Itu benar!! hei Jester, kamu harus segera beri tahu Naomi jika..." belum selesai Harry berkata, Jester memotong.


"Apa kalian pikir Naomi sebodoh itu? aku yakin Naomi tahu aktor dibalik konferensi pers hari ini" timpal Jester dengan yakin lalu kembali berjalan meninggalkan teman - temannya di ruang keluarga menuju kamar mandi untuk melakukan aktifitas rutinnya setiap pagi


Pembahasan tentang tindakan Daniel saat itu berakhir tanpa jawaban yang pasti, sikap Jester yang seolah biasa saja membuat yang lain geram karena spekulasinya terhadap tindakan yang Daniel lakukan tidak ditanggapi dengan serius oleh Jester yang malah memilih pergi meninggalkan mereka semua disaat yang penting itu.


Selena pun keluar dari ruangan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Luke dan Sarah keluar menuju area kolam renang dan melakukan peregangan serta olahraga kecil, Grece sibuk dengan handphone miliknya, Harry dan Justin kembali merebahkan tubuhnya diatas tatami dalam ruang keluarga itu.


Dua puluh menit berlalu dan sarapan hasil tangan Selena selesai, dengan segera Selena memanggil Jester, Sarah, Grece, Luke, Harry dan Justin untuk berkumpul bersama menikmati sarapan. Terjadi sedikit keributan diruang makan karena Luke nampak kelaparan dan mengambil porsi sarapan dengan sangat banyak tanpa mempedulikan apakah itu cukup untuk semua atau tidak, Jester yang kesal pun tanpa segan mengambil makanan yang ada di piring Luke. Suara tawa terdengar hingga keluar rumah, semua nampak bahagia dengan kebersamaan mereka.


Disisi lain disalah satu kamar sebuah apartemen mewah ditengah kota, terlihat Camilla menatap layar televisi yang menampilkan Daniel sedang melakukan konferensi pers. Wajahnya terlihat terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar pagi itu saat menyiapkan segelas kopi untuk dirinya, namun ekspresi terkejutnya mendadak berganti dengan senyuman tulus yang terlihat dari garis bibirnya.


Ditempat berbeda yang cukup jauh, dirumah keluarga Scott terlihat Naomi sedang memegang dan menatap handphone milik Naoko yang menampilkan cuplikan konferensi pers Daniel. Tangannya yang lain terlihat memegang sebuah piring berisi makanan dan dihadapannya Naomi melihat Naoko duduk bersandar pada dipan kasur menatap dirinya dengan tajam, wajah terkejut Naomi menarik perhatian Naoko.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naoko dengan suara yang terdengar sangat serak, Naomi tersentak mendengar pertanyaan Naoko.


"Aah.. Eeh.. ini..." Naomi terbata dan terdiam beberapa saat sembari meletakkan handphone Naoko pada sebuah meja didekatnya, tangannya meraih sendok di piring lalu hendak menyuapi Naoko.


"Jujur pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naoko kembali menekan Naomi, suara serak nan pelan itu membuat Naomi kesulitan untuk bernafas karena dadanya begitu terasa sesak.


"Aku... aku tidak tahu... yang dikatakan Daniel pagi ini.... tidak masuk akal..." jawab Naomi terbata, Naoko pun menghela nafasnya lalu menatap jendela yang terbuka.


"Benarkah kamu sudah pernah melakukannya dengan pria itu?" tanya Naoko, pertanyaan yang semakin menghujam jantung Naomi ketika mendengarnya. Tangan Naomi terlihat bergemetar sampai menyebabkan bunyi bergemeretak pada sendok dan piring yang Naomi pegang, namun Naomi hanya terdiam sampai suara helaan nafas berat Naoko begitu terdengar ditelinga Naomi.


"Ibu tidak tahu harus berkata apa padamu disaat seperti ini, ibu merasa sudah sangat ketat untuk menjagamu namun kejadian ini membuat ibu merasa jika ibu adalah seorang ibu dan istri terburuk di dunia" ucap Naoko dengan nada yang begitu terdengar sedih, Naomi meneteskan air matanya begitu deras dan perlahan kepalanya menunduk.

__ADS_1


Ucapan Naoko membuat hati Naomi seakan tersayat sebuah silet yang begitu tajam dan meninggalkan bekas perih yang begitu luar biasa sakit, terlalu banyak kesalahan yang Naomi lakukan dan akhirnya membuat Naomi sadar bahwa seharusnya dia hanya mengikuti keinginan sang ibu agar semua hal buruk yang terjadi karena tindakannya tidak pernah terjadi.


"Ibu tolong jangan berkata seperti itu.... ini semua salahku...." dengan bergemetar Naomi mengatakannya


"Evans memintaku untuk mendidik mu agar menjadi seperti diriku... namun aku gagal memenuhi permintaan suami yang sangat aku cintai itu, kamu menjadi anak liar yang tidak terjangkau oleh tanganku... kegagalan sebagai seorang ibu pun harus aku tanggung secara bersamaan" celetuk Naoko terdengar pilu


"Maafkan aku... ibu...." timpal Naomi begitu menyesal, perlahan Naoko menatap Naomi yang tertunduk itu.


"Sebagai seorang ibu dan istri yang gagal.... aku sudah tidak memiliki apapun lagi untuk aku ajarkan kepadamu, sekarang kamu bebas memilih bagaimana kamu hidup kedepannya" ucap Naoko, mendengar perkataan Naoko itu membuat Naomi terkejut dan segera menatap wajah ibunya itu.


"Tolong.... jangan katakan itu... tunggulah beberapa saat lagi... izinkan aku untuk membuatmu bangga ibu..." terbata Naomi mengatakannya dan penuh ketakutan


"Ibu lelah Naomi.... sangat lelah... bahkan air mata ini sudah tidak mampu lagi keluar ketika aku teringat kenangan ku bersama Evans namun hatiku terasa sesak akan kehilangan... aku sudah tidak tahan..." ucap Naoko terbata, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu bersimpuh disebelah Naoko.


"Tolong beri aku waktu.... aku masih tidak dapat memutuskan... ini sangat berat untukku bu...." pinta Naomi


Naoko hanya terdiam lalu merebahkan tubuhnya di kasur dan memunggungi Naomi, melihat respon Naoko membuat Naomi pun sadar diri. Dengan segera Naomi berdiri dari bersimpuhnya dan membawa kembali keluar piring - piring yang di tatanya diatas trolley dari kamar Naoko, dengan derai air mata yang tidak terbendung itu Naomi berjalan di lorong rumah keluarga Scott hingga sampai di dapur.


Naomi mencuci semua peralatan makan lalu menatanya di rak - rak yang sudah tersedia, tidak lupa Naomi membersihkan kabinet dapur dari berbagai sisa - sisa proses memasaknya. Begitu selesai, Naomi keluar dari dapur dan berjalan menyusuri lorong menuju pelataran rumah. Di taman depan pelataran rumah itu Naomi menyirami tanaman, merawat bunga - bunga, dan tidak lupa untuk menyapu taman itu dari dedaunan kering.


Rumah keluarga Scott kini terlihat sepi dari segala aktifitas para pekerja yang biasanya bekerja disana, kini hanya Naomi sendiri yang merawat rumah itu karena semua pekerja sudah diberhentikan oleh Naoko. Bagi Naomi ini adalah salah satu cara untuk melewati hari - harinya yang suram penuh kesedihan sepeninggal ayahnya, namun air mata Naomi tidak dapat berbohong jika hatinya memang sedang tidak baik - baik saja.


Disebuah gudang tempat peralatan kebun diletakkan, disalah satu sudut meja terdapat sebuah botol yang berisi cairan racun rumput. Naomi memandangi botol itu dengan tatapan mata kosong, perlahan kakinya melangkah mendekati botol itu diletakkan. Tangan putihnya pun perlahan mengambil botol itu, wajahnya menunjukkan keraguan namun tangannya terus berusaha meraih botol racun.


Satu persatu kejadian buruk yang menimpanya mulai menghantui pikiran Naomi, bayangan ketika Ayahnya meninggalkan Naomi untuk selamanya dan juga kesalahan fatal yang dia lakukan hingga membuatnya harus kehilangan Evans dan melihat kehancuran sang ibu membuat Naomi semakin terpuruk dengan rasa penyesalannya.


Dengan kuat Naomi menggenggam botol berisi cairan racun rumput dan menatapnya begitu lama, air matanya tiba - tiba menetes meski ekspresi wajahnya terlihat datar.


"Aku juga... sudah lelah...." gumam Naomi dengan pilu

__ADS_1


__ADS_2