Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Ujian Seleksi Kedua


__ADS_3

Pagi cerah di kediaman besar Gates. Jester dan Naomi terbangun dari tidurnya dengan pikiran yang campur aduk karena urusan perlombaan antar universitas, mereka memulai hari dengan membawa harapan yang sama akan kemenangan Selena dalam mengikuti ujian seleksi penentuan pendamping untuk Jester dalam lomba nantinya.


Hari ini adalah hari penentuan bagi Jester, Naomi dan Selena. Hari dimana akan diadakannya seleksi untuk memilih siapa yang lebih pantas untuk mendampingi Jester sebagai wakil universitas, kandidat tersisa dua orang yaitu Selena dan Camilla yang pada ujian seleksi sebelumnya memiliki nilai yang sama.


Jester yang merupakan mahasiswa terpintar dari fakultas ekonomi selalu membawa pulang medali emas di setiap lomba antar universitas yang dia ikuti, sehingga universitas sangat berusaha dengan keras untuk memilih pendamping Jester agar tidak membuat repot dia ketika lomba telah di mulai.


Naomi yang saat itu tidak rela membiarkan Jester pergi bersama dengan wanita lain hanya bisa pasrah karena Naomi gugur lebih dulu pada ujian pertama, terlebih ketika dirinya mengetahui antara Jester dan pendampingnya akan disediakan mess tersendiri di universitas yang menjadi tuan rumah maka hati Naomi semakin tidak tenang karena dirinya tidak bisa leluasa menjaga Jester. Yang lebih membuat Naomi kesal adalah keberadaan Camilla yang mempunyai kemungkinan besar akan lolos sebagai pendamping Jester.


Pagi itu wajah Naomi terlihat pucat saat berjalan berdampingan dengan Jester di koridor kediaman besar Gates, Jester hanya bisa senyum kecut melihat Naomi yang berjalan tanpa semangat sembari melingkarkan kedua tangannya di lengan kanan Jester. Bagaimana pun Jester sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meloloskan Naomi dengan memberikannya contekan, namun percuma saja karena Naomi takut untuk membukanya.


Di koridor itu William terlihat berjalan berpapasan dengan Jester didepan dua orang wanita berpakaian maid yang sedang mendorong troli makan, di atas troli makan itu tersedia berbagai macam jenis makanan yang sempat dilihat Jester ketika sarapan bersama di ruang makan. Jester tiba - tiba teringat tentang kejadian semalam dimana Marrie begitu ketakutan sampai menangis seperti anak kecil, dalam benaknya pun berfikir 'Mama masih tidak mau keluar kamar ya'.


"Pagi papa, buat mama?" tanya Jester ketika berhadapan langsung, kedua wanita berpakaian maid dibelakang William langsung menundukkan kepalanya saat bertemu Jester dan Naomi.


"Mama masih tidak mau keluar kamar, mungkin ini akan berlangsung lama" jawab William terdengar sedih, Jester dan Naomi tertawa mendengar jawaban William.


"Tapi mama hebat berani mengutarakan keresahannya yang selama ini mama pendam, aku juga pingin punya keberanian seperti itu" timpal Naomi yang terdengar bangga kepada Marrie


"Kalau begitu gimana jika dimulai dari kamu berhenti bersembunyi dibalik ketiak ku?" tanya Jester dengan nada suara yang terdengar menggoda Naomi, dengan kuat Naomi mencubit perut Jester. Teriakan Jester menggema di koridor itu, begitu pula suara tawa William.


"Nak tahu tidak, aku dengar ini dari beberapa pelayan disini kalau kakek mu tidak keluar kamar sejak mama membentaknya" celetuk William dengan suara yang terdengar serius, celetukan William membuat kaget Jester dan Naomi.


"Kakek.... kena mental gara - gara mama?" tanya Jester terbata karena masih tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar, William pun tertawa kembali dengan bangganya.


"Itulah istriku, Wahahaha...." tawa William terdengar begitu puas, namun suara deham Arthur terdengar menggema di koridor saat itu dan membuat Naomi tersentak dan bersembunyi dibelakang Jester. Sedangkan suara tawa William langsung terhenti dengan wajah yang terlihat begitu tegang, Jester kembali menunjukkan wajah kesalnya ketika mendengar dehaman Arthur.


"Aku tidak akan kena mental oleh wanita yang menangis setelah berdebat denganku" celetuk Arthur dengan suara berat yang begitu menekan, Jester dan William menoleh menatap arah suara Arthur terdengar.


Terlihat Arthur dengan badannya yang masih tegap diusianya yang bukan lagi paruh baya berdiri dengan gagah dan wajahnya yang menampakkan keangkuhan menatap William, Jester juga Naomi seperti tidak berkedip. Aura ketegangan kental terasa kecuali bagi Jester yang selalu bisa bersikap biasa saja walau sang kakek begitu menyeramkan bagi banyak orang.


"Kakek... bisakah datang dengan cara biasa? lama - lama istriku bisa kena serangan jantung" terdengar kesal saat Jester mengatakannya, Arthur tidak bereaksi sama sekali dan terus menatap Jester begitu tajam.


"Ada kemajuan dari tantangan ku, Gates muda?" tanya Arthur menekan tanpa memperdulikan keluhan Jester.


"Tidak, aku masih menyusun rencana untuk memperbaiki keuangan" jawab Jester singkat


"Aku sudah menghentikan pasokan dana Gates Corp untuk Exo Fashion and Style, tugasmu akan semakin berat" timpal Arthur dingin


"Bagus, dengan begitu aku bisa dengan pasti menghitung modal yang tersisa" tanpa beban Jester menanggapi perkataan Arthur


"Kamu terlalu meremehkan tantangan dariku, Gates muda" ucap Arthur dengan sinisnya


"Kakek yang terlalu meremehkan ku" timpal Jester tidak kalah terdengar sinis

__ADS_1


"Aku akan menghancurkan Scott sampai ke akar - akarnya jika kamu kalah dalam pertaruhan ini" ancam Arthur dan ancaman itu membuat Naomi meremas lengan kanan Jester begitu kuat sambil terus membenamkan wajahnya dibalik punggung Jester.


"Kakek akan menyesal sudah repot - repot memikirkan cara menghancurkan keluarga Scott karena aku akan memenangkan pertaruhan ini" timpal Jester datar, diantara Jester dan Arthur pun terdiam sambil terus saling menatap.


Perdebatan yang menegangkan seakan menjadi babak baru perseteruan antara kakek dan cucunya di koridor rumah mewah bak istana milik keluarga Gates, menghadirkan rasa takut dan cemas bagi William, Naomi juga dua orang pelayan yang menyaksikannya. Ketegangan yang sama seperti saat dalam persidangan kembali harus terjadi, namun lagi dan lagi Jester selalu bisa menyikapi sang kakek dengan tenang dan tidak terintimidasi.


Tidak lama Arthur kembali melangkahkan kakinya melewati mereka semua, William pun menghela nafas sebagai respon karena dia lega perdebatan antara ayah dan anaknya sudah berakhir pagi itu. Jester terus menatap punggung Arthur sampai Arthur berbelok di persimpangan koridor didalam rumah itu, dengan wajah masih terlihat kesal Jester kembali menatap William.


"Papa.... kakek memang seperti itu sejak papa masih kecil?" tanya Jester pada William, sejenak William seakan mencoba mengingat bagaimana sosok Arthur ketika dirinya masih kecil.


"Hmm... papa tidak terlalu mengingatnya, namun sepertinya dulu kakek mu lebih hangat...." jawab William terdengar tidak yakin, tiba - tiba ada seseorang yang menimpali jawaban William.


"Papa memang orang yang hangat ketika kita masih kecil dulu, apa kakak kedua melupakannya?" ucap Phillips sembari berjalan mendekati William, Jester dan Naomi.


Philips adalah putra terakhir dari Arthur Gates, sosoknya sebenarnya hangat dan suka bercanda. Merupakan saudara yang paling dekat dengan William sejak kecil sebelum akhirnya mereka terpisah karena pilihan William untuk meninggalkan keluarga besar Gates demi memilih melanjutkan hidup bersama Marrie sang istri, dan membuat keakraban diantara keduanya seperti memiliki jarak. Namun ikatan batin antar keduanya masih sangat kuat walaupun terhalang karena sikap angkuh Arthur.


"Benarkah? kok aku tidak ingat bagaimana hangatnya papa" timpal William dengan nada yang terdengar bingung, Phillips pun berhenti berjalan tepat didepan Jester dan Naomi.


"Hai putra William... aku Phillips pamanmu, adik papamu" sapa Phillips dengan ramah sembari menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Jester, Jester menyambut jabat tangan Phillips.


"Salam kenal paman Phillips, aku pikir paman orang yang dingin dan tertutup" ucap Jester dengan senyuman hangat


"Itu benar, aku orang yang seperti itu ketika ada kakek mu disekitar kita. Jangan terlalu akrab denganku saat itu, karena aku akan bersikap dingin padamu" dengan sedikit suara tawa saat Phillips mengatakannya, suara tawa Phillips kemudian diikuti William dan Jester.


"Hei Jester, aku punya permintaan padamu ketika kamu memenangkan pertaruhan ini dengan kakek mu" celetuk Phillips, Jester menatap Phillips dengan serius.


"Aku punya dua anak yang selama ini bersekolah di luar negeri dengan jurusan hukum dan ekonomi, namun mereka semua tidak menyukainya dan begitu menderita. Jadi jika kamu memenangkan pertaruhan ini, tolong pulangkan kedua anakku dan biarkan mereka bersekolah di sekolah seni. Mereka memiliki jiwa seni yang kuat, tapi aku tidak dapat berbuat apa - apa" pinta Phillips pada Jester, sejenak Jester terdiam memandangi wajah pamannya itu yang baru kali ini mereka terlibat dalam percakapan.


"Tentu... aku akan lakukan" ucap Jester menerima permintaan Phillips, mendengar perkataan Jester membuat Phillips begitu senang dan langsung mengarahkan kedua tangannya menggenggam pundak Jester.


"Bagus! terima kasih Jester!" Phillips terdengar sangat senang, tidak lama Phillips pun kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan Jester, Naomi dan William disana.


"Paman Phillips benar - benar seperti orang berbeda ketika tidak ada kakek" celetuk Jester


"Yah... begitulah, papa jadi teringat satu hal setelah mendengar ucapan Phillips" timpal William, Jester dan Naomi pun menatap William setelah sebelumnya menatap punggung Phillips.


"Kakek mu dulu benar - benar sosok hangat yang penuh cinta, papa ingat sekarang bagaimana cara kakek mu memperlakukan kami dulu. Namun sejak kehilangan nenek mu, kakek berubah menjadi berdarah dingin seperti sekarang ini" ucap William meneruskan kalimat sebelumnya, Jester dan Naomi pun tertegun sembari menunggu cerita William namun suara dering handphone William berbunyi. Dengan segera William mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya


***


"Hallo!! siapa berani - beraninya menelepon William Gates disaat seperti ini?!!" bentak William begitu marah karena ceritanya tentang Arthur harus terpotong.


"INI AKU SUAMI BODOH!! AKU LAPAR DAN KAMU TIDAK JUGA KUNJUNG DATANG!!!" bentak Marrie begitu marah sampai terasa seperti William menghidupkan loudspeaker handphonenya.

__ADS_1


"AAA!! aku lupa!!! maaf sayang!!!" ucap William sembari mengambil alih troli makan dan mendorongnya sambil berlari


***


Jester dan Naomi pun terdiam memandangi William yang panik itu, suara tawa kecil Naomi terdengar dari balik punggung Jester. Mendengar suara tawa itu membuat Jester pun akhirnya tertawa, dengan segera Jester memberi perintah pada dua wanita berpakaian maid yang sedang kebingungan itu untuk segera meninggalkan koridor. Dengan menundukkan kepalanya, kedua wanita berpakaian maid itu pun undur diri.


Keduanya lalu kembali berjalan menuju pelataran rumah untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju kampus, dengan Ferarri 458 milik Arthur yang sudah serasa mobil milik Jester. Tanpa ragu Jester melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang untuk pergi ke kampus, diperjalanan yang memakan waktu satu jam tiga puluh menit itu diisi dengan canda tawa antara Jester dan Naomi.


Di kampus Jester langsung mengarahkan mobilnya menuju parkiran kampus yang terlihat sepi, hanya terlihat dua mobil yang sudah terparkir disana. Sebuah Mercedes Benz E300 milik Selena dan Mazda 2 milik Camilla, Jester langsung mengarahkan mobilnya terparkir tidak jauh dari mobil Selena berada. Begitu mobil terparkir sempurna, Jester dan Naomi segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ruang ujian.


Di koridor kampus Jester dan Naomi melihat Selana duduk didekat kelas sembari membaca sebuah buku, wajah Selena terlihat begitu serius untuk menghadapi ujian ini. Keseriusan Selena saat itu membakar api cemburu Naomi, bagi Naomi saat ini Selena seperti memanfaatkan keadaan agar bisa berduaan dengan Jester. Namun Naomi akhirnya berusaha meredam rasa cemburunya itu, karena Naomi menyadari posisinya bahwa dia tidak dapat berbuat apa - apa.


Menyadari Naomi yang cemburu membuat Jester khawatir, dengan lembut Jester membelai pipi Naomi dan tersenyum manis kepadanya. Wajah sedih Naomi pun tidak dapat disembunyikan lagi, sembari membuang muka Naomi langsung menempelkan kepalanya di bahu Jester sambil terus berjalan mendekati Selena.


Menyadari kehadiran Naomi dan Jester membuat Selena mengalihkan pandangannya menatap dua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu, dengan senyum kecut Selena berusaha menampakkan wajah tidak sukanya melihat Jester dan Naomi yang bermesraan didepannya. Terjadi pertengkaran kecil antara Naomi dan Selena sampai akhirnya Camilla datang dan duduk di kursi depan Jester, Naomi dan Selena.


Suasana canggung mendadak terbangun di koridor itu sejak kedatangan Camilla diantara mereka bertiga, Jester, Naomi dan Selena pun terlihat terdiam ketika sebelumnya terjadi sebuah percakapan. Hingga beberapa menit berlalu dan panitia ujian seleksi berjalan menuju kedalam ruang ujian kemudian diikuti oleh Selena dan Camilla dibelakangnya.


Ujian pun dimulai dan aura persaingan antara Selena dan Camilla begitu terasa didalam kelas, Jester dan Naomi yang melihat langsung persaingan itu dari jendela kaca luar kelas terlihat cemas. Camilla terlihat tidak kesulitan sama sekali saat menjawab pertanyaan yang ada di lembar soal, berbeda dengan Selena yang terlihat kebingungan.


Sembilan puluh menit berlalu dan ujian selesai dilaksanakan, pengumuman ujian pun akan diumumkan sesegera mungkin dihari yang sama. Didalam kelas Camilla menatap Selena dengan senyum sinisnya, namun saat itu Selena tidak membalasnya dan hanya terdiam lalu segera keluar dari kelas. Diluar kelas Jester dan Naomi pun menyambut Selena yang wajahnya terlihat sedih, melihat ekspresi itu membuat Jester dan Naomi semakin khawatir.


"Selena, gimana tadi?" tanya Naomi dengan perasaan cemas, Selena menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Maaf... aku tidak bisa mengerjakannya dengan baik..." terdengar sedih saat Selena mengatakannya, jawaban Selena membuat Jester dan Naomi terkejut.


"Apa yang terjadi?" tanya Jester penasaran


"Pertanyaannya.... tidak pernah aku pelajari sebelumnya... bahkan saat bersamamu kak, itu bukan materi untuk angkatan muda sepertiku..." jawab Selena saat itu, Jester pun terkejut mendengar perkataan Selena.


Lalu dibelakang Selena terlihat Camilla dengan senyum penuh percaya diri keluar dari kelas dan melewati mereka bertiga begitu saja, dari sana Jester begitu memahami jika Camilla sangat memahami materi yang baru saja dia dan Selena kerjakan. Melihat kemungkinan Selena menang kecil, Jester langsung berlari mengejar Camilla untuk kembali mengajaknya bernegosiasi.


"Camilla!!" ucap Jester untuk menghentikan langkah kaki Camilla, mendengar Jester memanggil saat itu membuat Camilla berhenti berjalan lalu berbalik menatap Jester. Begitu dekat Jester langsung menundukkan kepalanya didepan Camilla, perbuatan Jester saat itu membuat Camilla terkejut.


"Tolong untuk membiarkan Selena menang! Silahkan kamu minta apa saja agar kamu mau menerima permohonan ku ini" pinta Jester pada Camilla, namun Camilla masih terdiam menatap Jester.


"Camilla, aku tahu kamu membutuhkan sertifikat ini untuk CV (Curriculum Vitae) mu, tapi aku tidak bisa membuat Naomi mengkhawatirkan ku karena aku pergi bersamamu. Aku tahu ini kekanak - kanakan, tapi itu yang terjadi dan sedang aku jaga. Jadi aku mohon padamu untuk membiarkan Selena menang" ucap Jester melanjutkan permintaanya


"Ini bukan hanya tentangku... tapi ini juga untuk universitas. Apa kamu paham itu Jester?" tanya Camilla


"Aku tahu, tapi bagaimanapun aku yakin masih bisa membawa hasil terbaik bersama Selena. Jadi aku minta tolong padamu" jawab Jester masih terdengar memohon dengan sangat


"Hmp.... kalau begitu aku minta padamu untuk menyuruh Naomi yang memohon langsung padaku" ucap Camilla terdengar tenang, Jester terkejut mendengar permintaan Camilla saat itu.

__ADS_1


"Apa - apaan ini, dia yang cemburu, dia yang gagal dan malah kamu yang menundukkan kepalanya untuk dia. Kemana harga dirimu sebagai pria? apa kamu sebegitu bucinnya? aku pikir kamu orang hebat yang hanya menundukkan kepala untuk sesuatu yang kamu sebut prinsip" terdengar sinis saat Camilla mengatakannya, namun Jester tidak bereaksi dan terus saja menundukkan kepalanya untuk memohon pada Camilla.


"Kamu sudah dengar permintaanku, jadi lakukan jika memang kamu ingin aku mundur dari kompetisi ini" dengan ketus Camilla mengatakannya lalu pergi meninggalkan Jester disana.


__ADS_2