
Malam hari disebuah cluster perumahan yang terlihat sepi dari aktivitas warganya, disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang terlihat empat orang sedang berkumpul diruang keluarga sedang mengobrol. Jester yang duduk bersebelahan dengan Naomi berhadapan dengan Luna dan Selena yang terpisahkan sebuah meja, Naomi saat itu masih terlihat cemburu menatap Jester karena permintaan Luna. Belum lagi seakan Jester menyetujui permintaan Luna, sudah hampir gosong rasanya hati karena terbakar api cemburu.
"Ya sudah kalau kalian maunya begitu... biarkan saja aku disini bersama pikiranku yang kemana - mana!" ucap Naomi, suaranya terdengar marah namun terbesit dia malu untuk mengungkapkan isi hati yang sebenarnya.
"Eeh... eeh... tapi aku punya tugas untukmu dan Selena" ucap Luna seperti mengabaikan perkataan Naomi sambil memberikan sebuah catatan kecil kepada Selena dan Naomi, sejenak Jester, Naomi dan Selena terdiam membaca catatan itu yang berisi tentang bahan kue, aksesoris pesta rumahan, dan surat undangan pesta untuk Luke, Harry, dan Justin.
"Apa ini?" tanya Naomi kebingungan, mendengar pertanyaan itu Luna menatap Naomi dengan senyumnya.
"Empat puluh dua hari lagi kak Jester ulang tahun" dengan nada yang terdengar sedih Luna mengatakannya, mendengar jawaban Luna membuat Naomi terkejut dan kemudian menatap Jester.
"Benarkah? kok aku gak tau?" tanya Naomi dengan suara yang terdengar kesal, Jester membuang muka dan menggaruk dahinya.
"Karena kamu gak tanya... lagian pria itu tidak pernah memamerkan hari ulang tahunnya, terdengar gak pria" jawab Jester datar, namun jawaban Jester membuat Naomi marah dan mencubiti perut Jester bertubi - tubi
"Kalau memang seperti itu, kenapa Luna tahu ulang tahunmu?!!" penuh amarah Naomi mengatakannya, Jester tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.
"AAww!! Naomi!! aku bisa jelaskan!!" teriak Jester kesakitan
"Hihihihi... aku tahu dari biodata di keanggotaan osis" timpal Luna dan jawaban itu membuat Naomi berhenti mencubiti perut Jester.
Luna yang tahu banyak tentang Jester sering kali membuat Naomi cemburu, bagaimanapun dia ingin menjadi satu - satunya yang terbaik bagi Jester. Tapi kalau mengingat kehadiran Luna memang lebih dulu daripada dirinya ditambah lagi Luna adalah sosok yang mencintai Jester membuat Naomi sadar hal itu bukanlah aneh, dirinya malah menyesalkan kenapa malah dia luput mencari tau hal kecil tentang Jester.
"Karena masih empat puluh dua hari lagi... aku tidak akan sempat untuk merayakannya bersama kalian, jadi jika kak Jester berkenan... aku ingin pesta ulang tahunmu di majukan" tiba - tiba suara Luna terdengar sedih dan terkesan menyesal
"Aku gak peduli sih... kalau itu bisa membuatmu senang dan memberikan kenangan bersama, aku gak keberatan" Jester pun menyetujui permintaan Luna, perkataan Jester membuat Luna terlihat terkejut senang karena Jester menyetujui idenya.
"Terima kasih" jawab Luna dan tersenyum manis menatap Jester, menjadi hari yang membahagiakan untuk Luna karena sikap Jester yang mulai menerima kehadirannya membuat Luna bersemangat ingin menciptakan momen kebersamaan yang indah sesuai yang dia impikan.
"Luna! jangan menggoda Jester terus!! kamu mau tebar pesona ya?!" timpal Naomi kesal, namun Luna meresponnya dengan menghela nafas sambil tersenyum sinis lalu menggelengkan kepala beberapa kali yang terkesan sedang mengejek sifat cemburuan Naomi. Keributan terjadi lagi dirumah itu, antara Naomi dan Luna yang sudah seperti dua ekor kucing sedang berebut wilayah kekuasaan. Lagi - lagi pertengkaran itu hanya dilihatin oleh Jester dan Selena yang sama sekali tidak tertarik untuk melerai keduanya, seakan keduanya menikmati adu mulut antara Naomi dan Luna.
"Mereka akrab ya" celetuk Jester pada Selena
"Iya... sifat mereka mirip" timpal Selena datar
Setelah beberapa menit bertengkar, mereka pun bubaran dan beranjak kekamar masing - masing... yaah, hanya Jester yang tetap berada di ruang keluarga karena dirumah itu hanya ada satu kamar yang tersedia. Malam pun berganti pagi yang cerah, Jumat pagi lebih tepatnya dimana hanya mahasiswa semester atas yang memiliki jadwal perkuliahan. Kecuali Jester yang saat itu ada satu jadwal kuliah, semua karena kejeniusan si kutu buku itu yang membuatnya dapat mengambil mata kuliah semester atas. Bangun dengan semangat untuk memulai hari dengan jadwal kuliah tanpa Luke dan Harry, dengan segera Jester bergegas untuk bersiap - siap lalu menuju ruang makan untuk sarapan.
Berkumpul diruang makan bersama Naomi, Selena dan Luna sepertinya akan menjadi pemandangan bagi Jester sebulan kedepan, menikmati sarapan pagi dengan toast dan segelas susu hangat sembari berharap pagi itu akan menjadi hari yang tenang... tapi itu hanyalah sebuah harapan. Naomi dan Luna kembali bertengkar hanya karena mereka berdua sama - sama membuatkan sarapan untuk Jester, sebuah pemandangan yang mulai tidak asing bagi Jester dan Selena.
"Bagaimana kalau kamu sarapan dengan ini saja? kamu bisa terlambat kalau menunggu mereka berdamai" celetuk Selena sambil memberikan toast buatannya kepada Jester, tanpa banyak bicara Jester langsung mengambil toast itu lalu memakannya.
"Selena!! kenapa kamu mencuri kesempatan lagi?!!" bentak Naomi dan Luna bersamaan, namun Selena lagi - lagi meresponnya dengan juluran lidah seperti biasa untuk mengejek mereka dan akhirnya mereka bertiga pun bertengkar saling adu mulut. Setelah selesai sarapan dengan pemandangan pertengkaran tiga wanita dihadapannya, Jester kemudian berdiri hendak pergi ke kampus. Namun saat itu tiba - tiba Luna sedikit berlari menahan Jester agar tidak berangkat lebih dulu, Jester yang terkejut pun menoleh menatap Luna dengan heran.
__ADS_1
"Tunggu, aku ikut kak... pulang ngampus kita langsung ke festival squere" ucap Luna, mendengar perkataan Luna membuat Naomi dan Selena terdiam sejenak dari pertengkaran mereka.
"Kalau begitu aku dan Selena akan bersiap ke mall, tapi..." Naomi menggantungkan kalimatnya dan terlihat wajah sedihnya menatap Jester dan Luna, saat itu Jester sangat memahami Naomi sedang cemburu dan tidak ingin dia pergi berdua dengan Luna namun Naomi terjebak oleh kata - katanya sendiri.
"Tidak perlu khawatir, aku hanya akan selesaikan hal yang mengganjal dihatiku dengannya. Cintaku tetap milikmu dan selamanya akan akan tetap seperti itu" Jester mengatakannya dengan tegas dan tersenyum menatap Naomi untuk meredakan api cemburunya, memerahlah wajah Naomi karena kalimat gombal Jester saat itu.
"Aah.. Eeh... aa.. awas aja kalau bohong... aku tidak akan memaafkanmu..." terbata Naomi mengatakannya karena tersipu malu sambil membalik badannya menghindari Jester menatap wajahnya yang memerah itu, Jester pun tertawa melihat respon Naomi lalu segera melangkahkan kakinya untuk berangkat menuju kampus bersama Luna.
Diperjalanan Jester dan Luna hanya terdiam, Jester juga tidak terlihat ingin memecahkan keheningan itu dan seakan membiarkan suasana hening tetap hening. Sesampainya di kampus, seperti biasa Jester mengarahkan Mercedes Benz V260 ke parkiran kampus. Disana Jester dan Luna berpisah, Jester menuju kelas sedangkan Luna menunggu Jester ditaman kampus dekat dengan parkiran.
Tidak jauh dari taman itu terlihat Justin dan Grece yang sedang berjalan berdampingan, Justin yang saat itu melihat Luna dari kejauhan sampai mengabaikan Grece yang bercerita tiada habisnya. Mengetahui sedang dicuekin membuat Grece ngambek dan mencari tahu apa yang mampu mengalihkan pandangan Justin saat itu, matanya pun tertuju pada Luna yang sedang duduk membaca buku disebuah taman.
"Kamu kenal?" tanya Grece penasaran, seorang wanita asing yang selama ini tidak pernah Grece lihat dikampus memancing rasa penasarannya.
"Kamu ingat ceritaku tentang cinta pertama Jester?" tanya Justin
"Jangan bilang kalau dia itu..." belum selesai Grece berbicara, Justin langsung melangkahkan kakinya mendekati Luna. Tanpa pikir panjang dan banyak bertanya seperti biasanya, Grece membuntuti Justin dan matanya terus menatap Luna dari kejauhan. Setelah berdekatan, Justin pun langsung menyapa Luna tanpa keraguan sedikitpun.
"Luna" sapa Justin dengan nada yang seakan tidak percaya dirinya akan bertemu kembali dengannya, mendengar seseorang menyapa Luna pun mengalihkan pandangannya menatap Justin sembari menutup buku yang dia pegang.
"Kak Justin? lama tidak bertemu, kamu gak banyak berubah" terdengar senang Luna saat itu bertemu dengan Justin, senyumnya pun merekah ketika mata mereka bertemu. Tidak terasa Justin tertegun memandangi wajah Luna untuk waktu yang agak lama, sampai cubitan tangan Grece di lengan Justin yang menyadarkannya.
"Pacarmu kak? cantiknya~" puji Luna sambil memperhatikan penampilan Grece dari atas sampai bawah, mendengar pujian itu membuat Grece terlihat senang lalu segera menjabat tangan Luna dengan erat.
"Werner Grece! anak kedua dari Werner Turner pemilik jaringan televisi dan media terbesar dinegara ini, kamu bisa memanggilku Grece ditambah yang cantik juga gapapa! aku pacar Justin yang paling cantik!" antusias Grece mengatakannya dan membuat Luna tertawa
"Luna Lincoln... gak ada yang bisa dijelaskan tentangku, senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa berteman dengan baik" dengan nada yang terdengar senang Luna memperkenalkan dirinya, tangan Justin tiba - tiba menepuk pundak Grece untuk menarik perhatiannya.
"Grece, aku ingin berbicara berdua dengan Luna. Bisa tinggalkan kami dulu?" pinta Justin tegas seakan tidak memberi Grece pilihan selain menuruti keinginannya, Grece yang selalu penasaran dengan apapun terlihat marah menatap Justin.
"Apa sih rahasia - rahasiaan? aku gak suka ya!" agak membentak Grece mengatakannya
"Ini penting, tolong tinggalkan kami sebentar" tegas Justin mengatakannya, walau berat hati Grece pun pergi meninggalkan Justin dan Luna begitu saja. Ketika Justin sudah memastikan Grece pergi jauh, dia pun duduk didepan Luna dengan tatapan serius.
"Luna..." belum selesai Justin berbicara seakan Luna tahu apa yang akan dikatakan Justin padanya, dengan apa yang sudah pernah diceritakan Selena kepadanya tentu membuat Luna paham ada dipihak siapa Justin saat ini.
"Aku tahu apa yang akan kamu tanya kak, tapi aku tidak akan menjawabnya" dengan senyuman Luna mengatakannya, Justin pun menghela nafas lalu membalas senyuman Luna.
"Tidak, aku yakin kamu salah paham dengan apa yang ingin aku tanyakan. Aku cuma mau bertanya, apa yang merubah pikiranmu sampai melakukan ini?" tanya Justin dengan tatapan iba kepada Luna, senyum Luna pun menghilang bersamaan dengan tatapan Justin kepadanya.
"Aku.... cuma ingin menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan dari dulu... lari dari masalah tidak akan membuat hati menjadi damai, namun waktuku juga sudah tidak banyak... aku merasa beruntung yang menjadi pacar kak Jester adalah orang sebaik Naomi, jadi aku bisa berlari untuk mencapai tujuanku" jawab Luna terdengar sedih, Justin kembali menghela nafas mendengar jawaban Luna.
__ADS_1
"Sebagai orang yang tahu tentangmu sejak awal... aku tidak menyangka kamu akan mengambil langkah ini didetik -detik terakhir" penuh penyesalan Justin mengatakannya, Luna kembali tersenyum menatap Justin.
"Maaf membuatmu khawatir kak dan maaf.... dulu aku pernah menolak cintamu" walau tersenyum namun nada Luna terdengar penuh penyesalan dan perasaan sedih
"Tidak apa, dulu aku cuma ingin menemanimu. Tapi aku terkejut karena kamu juga menolak Jester, aku tidak paham apa yang kamu pikirkan saat itu. Boleh aku tahu?" tanya Justin penasaran, keduanya pun terdiam saling menatap dengan wajah yang terlihat serius.
"Tidak" dengan tawa Luna mengatakannya, merasa dikerjai Justin pun ikutan tertawa.
"Tidak usah membahas masa lalu, aku sekarang cuma punya waktu tidak lebih dari tiga puluh hari dan tidak akan aku sia - sia kan lagi dengan pemikiranku yang bodoh. Mau kah menemaniku sampai saatnya aku akan pergi? aku ingin menciptakan kenangan bersama kalian" pinta Luna, senyum tulusnya saat menatap Justin membuat Justin seakan enggan untuk menolak permintaan Luna.
"Aku yang akan menyelesaikan masalahmu dengan Luke dan Harry, semoga kamu bisa berbahagia Luna..." ucap Justin lalu berdiri dan meninggalkan Luna ditaman itu
"Terima kasih..." gumam Luna melepaskan kepergian Justin
Sembilan puluh menit berlalu dan Luna masih berada diposisi yang sama sedang membaca buku yang sejak tadi dia bawa, dari kejauhan Jester menatap Luna dengan tatapan datar sembari berjalan mendekatinya. Menyadari Jester sudah berada didekatnya, Luna kemudian menutup buku itu dan tersenyum menatap Jester.
"Aku berpikir keras sepanjang pagi ini mencari tahu... apa yang sebenarnya mengganjal dihatiku tentang aku... kamu dan.... festival squere" ucap Jester terdengar masih penasaran, sesuatu menggangu pikiran dan hati Jester tentang tiga hal yang dia sebutkan namun dirinya masih bingung apa sebenarnya yang mengganjal itu.
"Kotak pandora yang dikatakan Naomi benar - benar membuatmu lupa ya kak, tidak apakah aku ingin membukanya kembali?" tanya Luna terdengar sedih, Jester menghela nafasnya cukup keras merespon pertanyaan Luna.
"Jujur saja aku ingin menutupnya rapat - rapat dan jika mampu aku juga ingin membuangnya jauh - jauh... tapi Naomi menyadarkanku kalau apa yang aku inginkan hanya pereda sementara rasa sakit hatiku dan tidak menyelesaikan apapun, aku yang sekarang akan berjuang sekuat mungkin untuk melupakanmu sampai keakar - akarnya" jawab Jester lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Luna menuju parkiran kampus, dengan perasaan bersalah dan raut wajah yang menunjukkan kesedihan Luna berdiri dan mengikuti Jester.
Empat puluh menit perjalanan ditempuh untuk sampai ke festival squere, Jester dan Luna turun dari mobil dan saat itu Luna langsung berlari mendekati gerbang masuk festival squere dan melihat sekeliling area itu. Luna terlihat sangat senang yang tergambar jelas diraut wajahnya yang berseri - seri, tingkahnya yang seperti anak kecil membuat Jester teringat tingkah Selena saat mereka pertama kali ketempat ini. Sejenak Jester memegang kepala lalu menggelengkannya beberapa kali, seakan dirinya sedang berusaha sadar dari lamunan.
"Sangat lama aku tidak pernah ketempat ini lagi, sepertinya banyak wahana baru disini" celetuk Luna terdengar sangat senang, Luna pun berlari agak menjauhi Jester lalu dia berbalik menatap Jester dengan senyuman manisnya.
"Kapan kakak terakhir kesini?" tanya Luna
"Entahlah... sepertinya baru - baru saja bersama Selena..." jawab Jester terlihat berusaha mengingat sesuatu, Luna pun terdiam menatap Jester dan kehilangan senyumnya. Tatapan Luna saat itu membuat Jester menyadari sesuatu, dengan helaan nafas Jester seakan teringat apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Aku ingat, dulu saat aku kesini bersama Selena untuk pertama kali... Dia bertanya kapan terakhir aku kesini dan aku jawab aku terakhir kesini bersama Luke dan Harry saat masih SMA lalu mengatakan padanya kalau aku tidak pernah membawa wanita lain ketempat ini" dengan perasaan bersalah Jester mengatakannya, Luna kembali tersenyum menatap Jester.
"Tidak usah merasa bersalah, Selena pasti memahami jawabanmu" ucap Luna masih dengan senyumnya, tapi Jester menatap Luna dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang sedang kamu rencanakan Luna?!" Bentakan Jester kala itu membuat Luna tersentak, namun Luna tetap berusaha untuk terus tersenyum menatap Jester.
"Aku tidak mengerti yang kamu katakan kak" berusaha untuk tetap tenang Luna mengatakannya, Jester berjalan mendekati Luna dan meremas kedua bahunya.
"Kenapa Selena bersikap sepertimu?!" bentak Jester didepan wajah Luna, walau terkejut dan matanya berkaca - kaca namun Luna tetap tersenyum menatap Jester.
Jester kini teringat hal mengganjal di festival squere adalah karena sikap Selena kepadanya, sebuah ingatan tentang Luna yang terbuka kini membuat Jester memahami kenapa dirinya merasa nyaman saat Selena berada disisinya. Sebuah perasaan nyaman yang bahkan dapat membuatnya tidak mau untuk melepaskan Selena dari hidupnya dan membuatnya seakan menjadi pemberi harapan palsu kepada Selena, teka teki hubungan mereka pun semakin mendapatkan titik terang.
__ADS_1