Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Awal Dari Semuanya


__ADS_3

"Tidak perlu malu - malu, aku tahu seberapa bejat dirimu. Hei, apa kamu sudah mendapatkannya dari Naomi?" tanya Camilla dengan nada yang menekan, senyumnya sinis dengan gerak tubuh yang semakin condong kedepan dan tangannya dia silangkan lalu dia letakkan diatas meja.


Siang hari disebuah cafe yang terlihat cukup ramai oleh pengunjung, disalah satu kursi terlihat Camilla sedang duduk disana sambil tersenyum menatap Daniel yang terlihat masih dengan raut wajah terkejut. Sebuah pertanyaan yang sangat sensitif dilontarkan oleh Camilla membuat Daniel seakan tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar, sempat terdiam sesaat Daniel menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Buat apa aku menjawab pertanyaanmu itu?" tanya balik Daniel ketika dia mulai dapat menata kembali emosinya, Camilla tertawa kecil lalu menopang kepalanya diatas tangan yang dia sandarkan diatas meja.


"Untuk menentukan apa yang harus aku lakukan, bukankah dia pacarmu yang paling berharga? kenapa tidak mengambil kesempatan untuk merebutnya kembali?" masih terdengar menekan Camilla mengatakannya


"Jika tidak, apa yang akan kamu rencanakan? dan jika iya, apa yang akan kamu rencanakan? aku akan menjawab ketika sudah tahu semua rencanamu" Daniel berusaha untuk tetap tenang didepan Camilla, dia sangat mengetahui bagaimana liciknya Camilla ketika dia menginginkan sesuatu dan bersikap tenang adalah salah satu cara agar Camilla tidak dapat memegang kendali saat melakukan negosiasi dengannya.


"Jika tidak maka kamu harus katakan selamat tinggal pada Naomi" Camilla tertawa setelah mengucapkan kalimatnya


"Kamu tidak memiliki rencana apapun jika aku tidak mendapatkannya?" tanya Daniel dengan nada yang terdengar bingung, Camilla kembali tertawa mendengar pertanyaan Daniel.


"Ayolah Daniel, kamu tahukan Naomi itu anak dari keluarga terhormat? dengan kekayaan yang keluarganya miliki, tentu hanya keluarga Gates yang pantas menjadi pendampingnya. Lalu aku dengar mereka akan dinikahkan dalam beberapa bulan kedepan ini, mungkin enam bulan lagi aku rasa. Lalu rencana apa lagi yang bisa menggagalkan penikahan mereka kecuali memberitahu pada dunia kalau Naomi sudah pernah dijamah oleh pria lain sebelumnya?" dengan nada yang terdengar sinis Camilla mengatakannya, Daniel terpaku menatap Camilla dan tidak dapat mengucapkan apapun.


"Hei... benarkah selama hampir tiga tahun kamu berpacaran dengannya kamu tidak meminta dia untuk tidur denganmu? kamu saja memintaku untuk tidur denganmua saat kita berpacaran selama enam bulan" tanya Camilla dengan sedikit suara tawa yang terdengar dari setiap kalimatnya


"Aku tidak memintanya untuk melakukannya denganku, kamu jangan berfikiran bodoh tentang itu" timpal Daniel dengan nada yang terdengar tenang, Daniel berusaha untuk tidak terpancing dengan perkataan Camilla.


"Ya sudah, aku pulang dulu dan nikmati saja pernikahan pacarmu itu dengan orang lain yang akan kamu lihat langsung hampir diseluruh media" ucap Camilla dan segera berdiri hendak meninggalkan Daniel, namun tiba - tiba tangan Daniel menahan Camilla yang sudah berdiri saat itu.


"Katakan rencanamu" celetuk Daniel, Camilla pun tersenyum lebar mendengar celetukan Daniel.


Siang itu antara Camilla dan Daniel terlihat sedang merencanakan sesuatu untuk membuat pernikahan antara Jester dan Naomi dibatalkan, dua orang yang memiliki tujuan yang sama membuat perencanaan mereka berjalan sangat mulus dan tidak terlihat ada perdebatan. Hingga beberapa saat keduanya sudah menyepakati sesuatu lalu mereka berpisah, siang hari yang telah berganti dengan senja menandai kesepakatan jahat antara Camilla dan Daniel.


Disaat bersamaan ketika itu disebuah cluster perumahan yang terlihat sepi dari aktifitas warganya, disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang terlihat Jester dan Naomi baru sampai dirumah itu. Mereka berdua terlihat bahagia dengan suara tawa yang terdengar diselingi dengan obrolan ringan, melakukan aktifitas bersama didalam rumah dengan penuh kebahagiaan.


Ditempat lain Luke dan Sarah yang masih berada disebuah perkantoran terlihat sibuk dengan segala dokumen - dokumen yang menumpuk dimeja Sarah, Luke terlihat membantu Sarah dengan menyuapi makanan untuk Sarah. Sesekali Sarah tersenyum menatap Luke yang begitu perhatian padanya, tapi wajah Luke terlihat kesal karena melihat Sarah yang workholic dan sampai melupakan kesehatannya sendiri. Pasangan baru ini begitu romantis walaupun mereka menjalani hubungan tidak hanya sebagai sepasang kekasih tetapi juga partner kerja.


Sementara itu diwaktu yang juga sama, Justin dan Grece terlihat belajar bersama disebuah kamar yang berada didalam rumah keluarga Werner, keduanya terlihat cukup serius ketika belajar. Sesekali Grece putus asa karena tidak mengerti yang sedang dia pelajari lalu Justin mengajari Grece secara perlahan, kelembutan Justin mengajar saat itu membuat Grece terpesona dan menatap Justin dalam - dalam. Merasa Grece tidak konsentrasi membuat Justin menatap balik Grece dengan wajah kesal, Grece tertawa menatap wajah sewot Justin lalu mereka pun tertawa bersama.


Masih diwaktu yang bersamaan Harry belajar dengan sangat tekun dikosnya, dia begitu serius untuk menghadapi ujian semester kali ini dan berharap dapat mendekati perolehan nilai Jester atau setidaknya menjadi nomor dua terpintar diantara teman - temannya. Mematikan handphone dan mendengarkan musik klasik untuk menjaga konsentrasinya membuat Harry menjadi yang paling serius dalam ujian kali ini, semangatnya pun begitu membara.


Selena tidak kalah dengan Harry, dia terlihat serius belajar dikamarnya. Sesekali tatapan matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak dimeja belajarnya, sebuah foto dimana Selena dan Luna berangkulan dengan senyum yang terlihat bahagia. Senyum Selena terlihat berat lalu dia kembali menatap buku untuk belajar, dengan suasana kamar yang sunyi membuat konsentrasi Selena semakin membaik.


Begitulah kegiatan mereka masing - masing untuk menghadapi ujian semester yang akan mereka jalani minggu depan. Semua nampak bersiap untuk memberikan yang terbaik pada ujian mereka.


Malam pun tiba dirumah Gates yang terlihat sunyi dan hanya beberapa orang sedang beraktifitas disekitarnya, dua mobil Mercedes Benz G63 berwarna hitam tiba - tiba hendak masuk kedalam rumah keluarga Gates. Petugas keamanan rumah keluar dari pos nya dan mendekati dua mobil yang hendak masuk itu, tidak lama jendela supir mobil paling depan terbuka. Seorang pria dengan tubuh kekar tegap menggunakan tuxedo hitam menatap petugas keamanan rumah keluarga Gates, namun petugas keamanan itu terlihat tidak gentar walau ditatap begitu tajam.


"Selamat malam, ada keperluan apa?" tanya petugas keamanan rumah


"Kami ada keperluan dengan tuan William Gates" jawab supir mobil dengan tegas


"Sudah ada janji? jika tidak..." belum selesai berbicara, empat orang dengan setelan tuxedo lengkap keluar dari mobil kedua.


"Buka pintunya!!" bentak salah satunya, semua orang - orang itu mengancam petugas keamanan rumah. Mendapatkan ancaman itu membuat petugas yang merasa akan terjadi keributan langsung berlari kembali masuk kedalam pos lalu menyalakan bel tanda bahaya.

__ADS_1


Suara berisik dari bel itu membuat keadaan menjadi semakin panas, beberapa orang yang bertugas mengamankan rumah keluarga Gates pun berbondong - bondong keluar dari rumah dan menghadang dua mobil yang tiba - tiba berjalan menerobos dengan paksa pagar rumah dengan cara menabrakkan mobil hingga pagar terbuka dengan paksa. Dari balkon terlihat Marrie dan William sedang melihat semua keributan itu, tangan Marrie langsung menggenggam erat lengan William dengan wajah yang penuh ketakutan.


"Will... yang kita takutkan akhirnya terjadi, bagaimana ini?" tanya Marrie yang terdengar sangat ketakutan


"Kita harus hadapi dulu ini, kamu disini saja. Biarkan aku yang keluar" tegas William mengatakannya lalu berbalik hendak menyambut semua pengacau itu


"Aku ikut!!!" walau panik namun Marrie terus berjalan dibelakang William untuk ikut turun menghadapi para pengacau


Dipelataran rumah orang - orang William yang berjumlah dua puluhan terlihat kalah oleh delapan orang pengacau yang datang itu, kedelapan orang itu berdiri didepan pintu seakan sedang menunggu William untuk keluar dari rumah. Tidak lama William dan Marrie membuka pintu dan langsung menghadapi para pengacau, pengacau itu langsung menundukkan badan memberi hormat pada William.


"Selamat malam Tuan William Gates!!" serentak delapan orang itu mengatakannya lalu segera kembali berdiri dengan sikap sempurna


"Apa mau kalian?!" bentak William, dengan segera orang - orang penjaga rumah Gates berusaha berdiri dan melindungi William dan Marrie. Salah satu dari mereka maju mendekat beberapa langkah


"Kami diutus tuan besar dan diijinkan melakukan apapun agar kami dapat masuk kedalam rumah anda Tuan William Gates" jawab orang yang maju itu


"Kali ini apa mau pak tua itu?" agak dengan helaan nafas William mengatakannya


"Tuan besar meminta tuan muda Jester Gates dan calon istrinya datang menghadap dan anda diminta untuk menjelaskan semua perihal pernikahan mereka berdua" dengan tegas orang itu menjawab


"Baik, aku akan kesana dalam seminggu ke..." belum selesai William berkata, orang tersebut memotong.


"Maaf!" timpal orang tersebut


"Apa maksudmu dengan maaf?!" agak membentak William mengatakannya


Malam penuh keributan dirumah Keluarga Gates berganti dengan pagi cerah, dirumah Jester dan Naomi masih terlihat sepi dari aktifitas. Jester membuka matanya dan mendapati wajah Naomi yang sangat dekat dengannya sedang tertidur begitu lelap, perlahan Jester beranjak dari kasur lalu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi. Menjalani rutinitasnya sehari - hari dengan menggosok gigi, mencuci wajah, bercermin, dan kemudian kembali berjalan menuju ruang keluarga untuk membuka pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan area kolam renang agar udara segar masuk. Jester menatap langit cerah itu dengan perasaan bahagia, dia pun mengingat wajah Luna lalu tersenyum sejenak.


"Selamat pagi Luna, sesuai janji aku tetap tidak akan melupakanmu" celetuk Jester


"Ohayou darling~" sapa Naomi yang baru masuk kedalam ruang keluarga, Jester berbalik menatap Naomi yang masih terlihat sempoyongan berjalan mendekatinya.


"Ohayou sayang" timpal Jester dengan sedikit berlari lalu memeluk Naomi, suara tawa kecil Naomi pun terdengar.


"Hei... kamu mau sarapan apa hari ini?" tanya Naomi dengan lembut, Jester membopong Naomi dan membawanya kesalah satu sofa sambil berpangkuan.


"Apa ya? kejutkan aku deh" jawab Jester terdengar bingung


"Oke" timpal Naomi singkat lalu berdiri dari duduknya dipangkuan Jester dan menuju dapur, tidak lama Naomi kembali masuk kedalam ruang keluarga.


"Jess, handphone mu berdering" ucap Naomi sembari memberikan handphone milik Jester, Jester langsung berdiri dan mengambil handphone itu dan melihat dekan yang meneleponnya.


"Dekan, ada apa ya?" tanya Jester sembari menatap layar handphone itu


"Mungkin ada yang penting, angkat aja" timpal Naomi, Jester langsung mengangkat telepon dari dekan.


***

__ADS_1


"Selamat pagi pak" sapa Jester dengan ramah


"Pagi Jester! ada lomba antar universitas dengan tema ekonomi nasional yang akan diselenggarakan dua bulan lagi, kamu tidak perlu tanya siapa anggota utamanya tapi tanyalah siapa yang akan mendampingimu" ucap dekan dengan penuh semangat


"Aah ya... benar benar... aku pasti jadi anggota utama, dan siapa pendampingku pak?" tanya Jester penasaran, dekan pun tertawa mendengar pertanyaan Jester.


"Hari ini akan dimulai pendaftarannya, siapapun boleh ikut serta dan mereka akan diuji oleh tim. Kamu akan menjadi salah satu tim pengujinya, aku tunggu kamu diruang dekan" jawab dekan


"Baik pak" ucap Jester lalu dekan pun mematikan teleponnya.


***


"Ada apa?" tanya Naomi penasaran


"Akan ada lomba antar universitas dan aku diminta menjadi tim penguji untuk menentukan pendampingku" jawab Jester lalu menatap Naomi yang wajahnya tiba - tiba menjadi cemberut.


"Kenapa kamu berwajah seperti itu?" tanya Jester sedikit panik, Naomi terdiam beberapa saat dan memandangi Jester dengan tajam.


"Dimana lombanya akan dilangsungkan?" tanya Naomi dengan penuh kecurigaan


"Aah ya karena tahun lalu universitas kita yang menjadi tuan rumah jadi kemungkinan itu akan dilaksanakan dikota lain" jawab Jester agak sedikit panik


"Hmm... apa kamu dan pendampingmu itu akan menginap dikota tujuan atau akan langsung pulang?" tanya Naomi lagi dengan nada yang masih sama.


"Ka... karena lombanya akan dilangsungkan tiga hari, biasanya kami akan menginap. Kenapa Naomi?" tanya Jester masih dengan kepanikannya


"Bagaimana kalau pendampingmu itu seorang wanita cantik?" tanya Naomi kini sedikit menekan


"Mana mungkin ada yang lebih cantik darimu kan?!" tanya balik Jester, tiba - tiba Naomi mencubit perut Jester begitu keras


"AAAAAAAaaaa!!! Naomi!! apa - apaan?!" teriak Jester karena sakitnya cubitan Naomi, setelah beberapa saat Naomi melepaskan cubitannya.


"Aku akan ikut seleksi itu dan tidak akan aku biarkan siapapun menjadi pendampingmu!! Bagaimana pun aku yakin Selena akan mengambil kesempatan ini!!" ucap Naomi penuh dengan semangat


"Ya ya bagus! jangan cubit aku karena hal itu donk! duuh..." timpal Jester dengan suara yang bergemetar karena kesakitan, Naomi tiba - tiba menunjuk tepat didepan wajah Jester.


"Kamu harus memberitahu aku kunci jawabannya!" tegas Naomi mengatakannya, Jester pun terkejut dengan permintaan Naomi


"Haah?!! gak mungkin lah!! kamu jangan memintaku melakukan hal - hal seperti itu!!" dengan panik Naomi mengatakannya, Naomi pun berbalik dan memunggungi Jester.


"Duh gimana ini, aku juga gak terlalu pintar..." gumam Naomi, Jester yang saat itu mengetahui Naomi bergumam pun akhirnya berusaha untuk menguping apa yang Naomi katakan. Mendadak Naomi kembali berbalik dan menujuk tepat didepan wajah Jester, wajah Jester terlihat sangat tertekan.


"Kalau begitu kamu harus mengajariku tentang semua materi yang akan diperlombakan!! aku punya keuntungan karena kamu adalah pengujinya, jadi aku akan ambil segala keuntungan itu agar bisa mengalahkan semua pesaingku!!" tegas Naomi mengatakannya, Jester kembali terkejut mendengar permintaan Naomi.


"Haah?! itu namanya curang!!" dengan terkejut Jester mengatakannya, Naomi pun menunjukkan wajah juteknya dihadapan Jester.


"Haah... aku gak punya pilihan kan?" tanya Jester terdengar pasrah, Naomi tertawa mendengar perkataan Jester yang sudah pasrah itu.

__ADS_1


"Benar! ayo kita berangkat ngampus lalu kamu harus menjadi mentorku!!" penuh semangat Naomi mengatakannya, lalu mereka mulai bersiap untuk menuju kampus pada hari itu.


__ADS_2