Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Serangan Camilla


__ADS_3

Pagi hari di sebuah rumah kecil namun mewah dengan aksen - aksen khas jepang, di dalam ruang keluarga yang terbentang tatami terlihat sebuah kasur lipat dengan selimut tebal terbentang. Di dalam selimut itu Jester masih tertidur dengan nyenyaknya, namun ketenangan tidur Jester terganggu saat Naomi menghentakan kakinya dengan keras sembari berjalan mendekati Jester. Naomi duduk disebelah Jester yang masih terbaring di dalam selimut, Naomi menarik selimut Jester untuk membangunkannya dengan kasar. Tiba - tiba Naomi berteriak setelah menarik selimut Jester lalu berbalik sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, wajah Naomi mendadak memerah saat itu.


"Waa!! apa? Ada apa Naomi?! kenapa kamu berteriak?!!" Jester terbangun karena panik mendengar teriakan Naomi


"Mesuuum!! apa - apaan itu dibalik selimut!!" jawab Naomi masih berteriak dan menutup wajahnya, Jester sesaat melihat bagian bawahnya yang menonjol dan kembali menatap Naomi yang memunggunginya.


"Aku ini pria dewasa, jadi tiap pagi pasti bagian itu menonjolkan" dengan wajah dan nada kesal Jester mengatakannya sembari menatap punggung Naomi


"Tidak usah kamu jelaskan!! tutup saja dengan selimut itu!!" Naomi masih berteriak dengan nada panik


"Kan kamu yang narik selimutku, Haah...." Jester pasrah disalahkan oleh Naomi, sembari menarik selimut untuk menutupi bagian bawahnya Jester kembali menatap punggung Naomi.


"Jadi ada apa?" tanya Jester, Naomi tetap tidak mau berbalik menatap Jester saat itu


"Selena gak menjawab teleponku sejak kemarin, sampai sekarang pun dia gak membalas pesanku sama sekali. Mungkin Grece ada benarnya" jawab Naomi dengan nada panik, Jester menggaruk - garuk dahinya mendengar jawaban Naomi.


"Duuh... gak mungkin, paling Selena masih sibuk atau apalah" Jester berusaha menenangkan Naomi dengan nada yang datar, mendengar jawaban Jester yang meremehkan itu membuat Naomi sedikit kesal.


"Terus kenapa sampai jam segini dia belum juga datang kemari? Sejak kemarin juga dia tidak datang menemuimu" Naomi berusaha menjelaskan keresahannya, Jester menatap langit - langit rumah dan terdiam beberapa saat.


"Entahlah, kita pikirkan nanti saja. Aku akan panggilkan orang ya yang bisa membantumu menyamar" jawab Jester dengan santai sembari mengambil handphone yang Jester letakkan disebelah kasur lipatnya


"Tidak perlu, aku bisa lakukan sendiri kok" Naomi menolak dengan tegas, Jester kembali menatap punggung Naomi.


"Kalau hasilnya kayak waktu itu kamu akan ketahuan" dengan nada meremehkan Jester mengatakannya, Naomi yang sejak tadi memunggungi Jester kemudian berbalik dengan wajah yang kesal menatap Jester.


"Waktu itu aku terburu - buru tahu! Huh, sudahlah aku harus mulai bersiap" agak membentak Naomi mengatakannya, Naomi pun berjalan meninggalkan Jester di ruang keluarga untuk segera bersiap - siap. Sedangkan Jester kembali rebahan dan melanjutkan tidurnya, hingga beberapa menit berlalu terlihat Jester dan Naomi sudah siap untuk berangkat menuju kampus. Setelah Naomi mengunci pintu, sejenak Naomi terdiam menatap Jester.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Naomi sembari berputar dan membiarkan Jester menatap dirinya dari bawah sampai atas, Jester terlihat terpesona dan sesaat mengalihkan pandangannya.


"Eeeh... yah, sempurna. Aku hampir tidak mengenalimu" jawab Jester menahan perasaan malunya, Naomi menyadari wajah Jester sedikit memerah saat menatapnya dan membuat Naomi tersenyum.


Keduanya saling bertatapan mata dan terlihat malu - malu, tidak lama Naomi dan Jester menaiki Mercedez Benz v260 yang terparkir digarasi dan Jester mulai memacu mobilnya menuju kampus. Setelah beberapa menit perjalanan yang tenang dan dengan sedikit obrolan diantara keduanya, akhirnya Jester dan Naomi pun sampai di parkiran kampus. Keduanya berpisah di parkiran kampus dan menuju kelas masing - masing namun di tengah perjalanan Jester menuju kelasnya, Jester terkejut dan mendadak bersembunyi diantara tiang penyangga gedung sembari menoleh menatap pintu masuk kelasnya.


"Hah?! kenapa Camilla ada di depan kelasku?!" tanya Jester pada dirinya sendiri, dibelakang Jester terlihat Luke yang berjalan sembari menatap heran tingkah sahabatnya itu.


"Hei Si Nomor satu! kamu ngapain disini?" tanya Luke saat sudah tepat dibelakang Jester, Jester sedikit terkejut sembari menoleh menatap Luke.


"Camilla, dia tidak satu kelas dengan kita kan?" tanya Jester dengan nada panik sambil berbalik menatap Luke


"Tentu, dia sekelas dengan Harry di mata kuliah yang sama. Ada apa?" Luke menatap Jester dengan penuh keheranan


"Dia... ada di depan kelas kita" jawab Jester sambil menunujuk kebelakang, namun Camilla saat itu sudah berdiri dibelakang Jester dengan tersenyum manis menatap Luke.


"Haai haiii~ Selamat pagi Jester... Luke..." sapa Camilla kepada keduanya dengan nada manja seperti biasanya, Jester berbalik dengan perasaan terkejut karena Camilla sudah tepat berada dibelakangnya.


"Waaa! pa... pagi Camilla.... Cerah ya hari ini" sapa balik Jester yang mendadak kikuk


"Kenapa kamu ada disini? bukannya kamu ada di kelas yang berbeda?" tanya Luke dengan penuh kecurigaan


"Aku minta transfer kelas, aku gak suka sama dosen di kelasku sebelumnya jadi aku memutuskan untuk pindah" jawab Camilla masih terdengar manja, tapi saat itu Luke menatap Camilla dengan sinis.


"Itu benar, kita tidak bisa paham pelajarannya kalau tidak suka dengan dosennya kan? ahahaha" celetuk Jester tiba - tiba, Camilla sedikit tertawa mendengar celetukan Jester.


"Kamu merencanakan sesuatu ya?" tanya Luke sembari memandangi Camilla dengan penuh curiga, Jester dan Camilla bersamaan mengalihkan pandangannya menatap Luke

__ADS_1


"Tidak tidak... tolong jangan terlalu nethink padaku Luke" jawab Camilla dengan manis lalu meninggalkan keduanya, Camilla berjalan masuk kedalam kelas. Jester berbalik lalu meremas pundak Luke sambil memandangi Luke dengan wajah yang gembira, Luke yang melihat ekpresi Jester itu malah terlihat kesal namun tidak mengatakan apapun.


"Ini adalah kelas terbaikku sepanjang aku kuliah disini" dengan bahagia Jester mengatakannya, Jester sedikit berlari mengejar Camilla yang lebih dulu masuk kedalam kelas dengan perasaan yang bahagia. Luke mengikuti Jester masuk kedalam kelas namun Luke benar benar tidak bisa menghilangkan kecurigaannya saat itu.


Saat Jester telah masuk kedalam kelas, terlihat Camilla yang sudah duduk di salah satu kursi melambaikan tangannya memanggil Jester sambil memberi gestur agar Jester duduk di sebelahnya. Jester pun dengan malu - malu berjalan mendekati Camilla, Hampir sampai di kursi yang disediakan oleh Camilla tiba - tiba tangan Luke meremas pundak Jester dan membuat Jester memalingkan wajahnya ke arah Luke.


"Duduk disebelahku bro?" tanya Luke masih meremas pundak Jester


"Apa kamu bodoh? tentu aku memilih duduk disebelah Camilla" bisik Jester sembari menatap Luke dengan wajah kesal


"Aah sudahlah terserah kamu saja" Luke terlihat ingin marah saat mengucapkannya, namun Luke memilih untuk meninggalkan Jester dan membiarkannya duduk bersebelahan dengan Camilla.


Jester duduk disebelah Camilla dengan perasaan tegang dan jantung yang berdetak kencang, Jester berusaha menguatkan mentalnya agar tetap tenang. Seakan tak percaya wanita disebelahnya adalah sosok yang dia sukai, Jester terlihat perlahan mengalihkan pandangannya pada Camilla yang tepat berada disebelahnya. Diperhatikannya sosok yang sedang menunduk terlihat sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya, hingga kemudian sepasang mata indah dan senyuman manis dari wajah cantik Camilla membuat Jester salah tingkah dan segera membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Bagaimana tidak, wajah wanita yang dia sukai itu nampak begitu cantik sedang berbalik memandangi dirinya.


"Argh sial!! memang bukan mimpi ternyata!!" dalam hati Jester mengatakannya


Beberapa saat berlalu dosen pun tiba di kelas, seperti biasa para mahasiswa dan mahasiswi mempersiapkan diri masing - masing untuk memperhatikan dosen mereka dengan serius dan tenang. Semua terlihat memperhatikan dosen yang sedang mejelaskan di depan kelas namun tidak dengan Camilla, Camilla lebih memilih fokus memperhatikan Jester yang sedang menatap dosen. Pandangan mata indah Camilla seakan menembus otak Jester dan berhasil memecah konsentrasinya hingga Jester memutuskan untuk memberanikan diri balik menatap Camilla, tatapan Jester disambut oleh Camilla dengan senyum manisnya.


"Wajahmu memerah loh, apa kamu merasa malu berada di dekatku?" agak berbisik Camilla mengatakannya sembari tetap tersenyum


"Aaa tidak tidak... ini efek aku kepanasan, kelas ini panas sekali ya" Jester menjawab dengan agak terbata, Camilla tertawa mendengar jawaban Jester.


"Tapi ini ruangan ber ac, aku aja kedinginan" timpal Camilla lagi sembari menahan tawanya, Jester menyadari alasannya tadi sangatlah konyol dan itu membuatnya semakin malu.


"Aaa iya ya kamu benar juga, berarti ini efek bajuku yang tidak nyaman dan terasa panas" Jester berusaha mencari alasan lain dengan nada yang terbata


"Aku bosan nih, gimana kalau kita bermain game?" tanya Camilla mengalihkan pembicaraan, mendengar permintaan Camilla saat itu membuat Jester sedikit bengong


"Game? ditengah kelas begini?" tanya Jester dengan heran, Jester tidak menyangka Camilla tipe mahasiswi yang tidak memperhatikan dosen ketika berada di kelas. Nilai Camilla sangat baik walau tidak sesempurna nilai - nilai Jester, namun untuk ukuran mahasiswi yang tidak memperhatikan dosen tentu nilai Camilla terlalu tinggi.


"Apa?!! mana mungkin aku bisa menang?!!" Jester mendadak teriak karena panik, saat itu seisi kelas menatap Jester bersamaan.


"Jester! aku tahu kamu anak yang pintar, tapi kamu harus tetap memperhatikan dosenmu!!" bentak dosen yang sedang mengajar, Jester menundukkan kepalanya.


"Maaf pak" ucap Jester penuh penyesalan, Camilla terlihat menahan tawanya ketika Jester dimarahi oleh dosen.


"Hei Jester, ayo kita mulai. tatap mataku" bisik Camilla kepada Jester, Jester pun mulai berusaha sekuat mungkin menatap wajah wanita yang dia sukai hingga saat ini. Bagi Jester ini merupakan perasaan yang campur aduk, antara senang, malu, kesal, dan tentu saja membuatnya grogi setengah mati.


"Ternyata kamu tampan juga ya" celetuk Camilla memuji Jester saat keduannya bertatapan mata agak lama, wajah Jester kembali memerah saat mendengar celetukan Camilla ditengah keheningan mereka saat bertatapan mata.


"Aaa Apa?! kenapa tiba - tiba kamu mengatakan itu?!!" Jester yang malu bercampur salah tingkah tiba - tiba berdiri sambil berteriak menatap Camilla, seisi kelas kembali menaruh perhatian pada Jester dan tidak terkecuali dosen yang terlihat sangat marah.


"Jester diamlah!! jangan mengganggu kelasku!" dosen kembali membentak Jester, Jester kembali duduk sembari menundukkan kepalanya.


"Maaf pak" Jester meminta maaf penuh penyesalan, Camilla terlihat menahan tawanya lagi dengan sekuat tenaga. Jester yang kesal langsung membuang wajahnya dan tidak mau lagi menatap Camilla, namun saat itu Camilla terus menatap Jester.


"hei Jester, karena kamu kalah kamu harus di hukum" bisik Camilla kepada Jester


"Tadi tidak masuk hitungan, kamu curang" ucap Jester kesal dan tetap membuang muka menghindari kontak mata dengan Camilla, mendengar Jester kesal malah membuat Camilla semakin senang.


"Aku kan gak bilang kalau gak boleh bicara, kamu tetap harus dihukum. Jadi aku putuskan hukumannya adalah...." Camilla menggantungkan kalimatnya dan membuat Jester penasaran, Jester kembali mengalihkan pandangannya menatap Camilla. Terdiam beberapa saat dan saling bertatapan mata membuat jantung Jester berdetak sangat kencang, senyuman manis Camilla saat itu juga membuat Jester sangat terpesona padanya.


"Cium aku" ucap Camilla dengan tenang ditengah keheningan sesaat mereka, Jester terkejut dengan perkataan Camilla dan mendadak Jester kembali berdiri sembari terus bertatapan mata dengan Camilla.


"Hah!! gak mungkin aku lakukan itu!!" Jester kembali berteriak dan wajahnya memerah, seisi kelas kembali menatap Jester dan dosen didepan kelas juga sampai berdiri lalu menunjuk Jester dengan sangat marah.

__ADS_1


"Jester keluar dari kelasku sekarang!!" bentak dosen saat itu, Jester membungkukkan badan kearah dosen.


"Maaf pak" Dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya dan segera merapihkan mejanya lalu keluar dari kelas itu namun Camilla masih terlihat menahan tawanya sekuat tenaga, Camilla terlihat sangat bahagia.


Luke memperhatikan yang terjadi pada sahabatnya dan terlihat sangat marah menatap Camilla, setelah beberapa saat akhirnya kelas pertama pun usai. Luke keluar dari kelas itu langsung mencari keberadaan Jester, di tengah taman kampus akhirnya Luke menemukan Jester sedang duduk termenung sendirian. Wajah Jester sangat kesal saat itu namun sepertinya Jester tidak bisa melampiaskannya, Luke kembali menunjukkan wajahnya kesalnya ketika melihat Jester.


"Sudah aku katakan jangan duduk di sebelahnya" ucap Luke agak berteriak karena posisinya masih sedikit berjauhan dengan Jester, mendengar suara Luke membuat Jester mengalihkan pandangannya menatap Luke yang berjalan mendekatinya.


"Aku gak nyangka jadi begini akhirnya" jawab Jester dengan nada yang terdengar kesal, Luke melempar sebuah buku kearah Jester.


"Nih catatan kelas tadi, aku tidak pernah mencatat tapi kali ini khusus untukmu aku melakukannya" ucap Luke kesal kepada Jester, Jester menangkap buku yang dilempar oleh Luke.


"Aku sudah gak ada kelas, habis ini kamu akan sekelas dengan Harry kan?" tanya Luke sambil terus berjalan melewati Jester dan meninggalkannya, pandangan mata Jester terus mengikuti arah jalan Luke yang semakin menjauhinya


"Ya dan terima kasih untuk catatan ini Luke!" jawab Jester dan Luke hanya melambaikan tangannya merespon ucapan terima kasih Jester, beberapa saat termenung Jester berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kelas selanjutnya.


Setelah sampai di dalam kelas, Jester mencari keberadaan Harry namun Harry belum masuk kelas dan hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain. Jester berinisiatif untuk mencari tempat duduk disebelah jendela yang langsung dapat melihat indahnya taman kampus dari dalam kelas. Jester menarik satu kursi lagi agar Harry bisa duduk disebelahnya, setelah duduk Jester menatap jendela menikmati keindahan taman kampus sembari menunggu Harry datang.


"Hei Jester!" sapa Harry tidak lama saat Jester termenung menatap taman kampus, Jester menoleh menatap Harry yang sedang bersebelahan dengan pacarnya.


"Ooh hai bro, sial aku hanya menyiapkan satu kursi" sapa balik Jester sembari mencari kursi yang mungkin bisa ditarik untuk jadi tempat duduk pacar Harry


"Aku lihat ada dua kursi kosong didepanmu, memang agak jauh sih tapi aku rasa kamu baik - baik saja" ucap Harry sembari menahan tawanya


"Ahaha sial, dosen kali ini terkenal suka membuat kuis dadakan. kamu harusnya mengkhawatirkan dirimu kalau jauh dari aku" balas Jester dengan tawaan


Keduanya pun saling tertawa dan Harry duduk di dua baris depan Jester, Jester kembali menatap luar jendela dan termenung sendirian. Ditengah lamunan Jester mendengar ada suara seseorang yang duduk disebelahnya, karena penasaran Jester pun menoleh dan melihat siapa yang duduk disebelahnya. Betapa kagetnya Jester melihat Camilla kembali satu kelas dengannya, Camilla tersenyum menatap Jester.


"Cium aku Jester" ucap Camilla ketika mereka saling bertatapan mata, wajah Jester langsung memerah saat itu dan membuatnya terkejut.


"Waaa!! kenapa kamu sekalas lagi denganku?!!" Jester terlihat panik, namun Camilla hanya tertawa melihat kepanikan Jester saat itu.


"Hmmm... aku tidak suka dengan dosenku sebelumnya" jawab Camilla dengan santainya sembari mengeluarkan beberapa barangnya dari dalam tas, Jester terlihat kesal mendengar jawaban Camilla.


"Itukan alasamu dikelas pertama, lagian ini dosen yang paling dihindari!" dengan nada kesal Jester mengatakan itu, Camilla menatap Jester dengan senyuman manis.


"Baik, ayo bermain game lagi. Kalau kamu berhasil menebak kenapa aku pindah kelas maka hukumanmu harus menciumku gugur dan kalau kamu salah hukumanmu akan bertambah. Gimana?" tantang Camilla


"Kalau aku menolak?" tanya Jester dengan tegas, Jester tidak ingin kembali terjebak oleh Camilla dan memilih untuk tidak bermain - main lagi dengan Camilla


"Kamu harus menciumku disini" jawab Camilla tanpa beban, mendengar jawaban Camilla membuat Jester tidak memiliki pilihan lain. Dengan wajah yang memerah Jester memalingkan muka dan terus berfikir kenapa Camilla kali ini pindah kelas, kelas yang bagaikan neraka bagi para mahasiswa tentu adalah hal yang paling dihindari.


"Batas waktumu sampai dosen datang dan kamu hanya memiliki satu kali kesempatan" ucap Camilla ditengah keheningan diantara mereka, Jester semakin panik mencoba berfikir kenapa Camilla pindah kelas ke dosen yang paling dihindari banyak mahasiswa dan mahasiswi.


"Waah disini anak - anaknya terlihat kompetitif ya, semuanya sedang berdiskusi sebelum dosen datang. aku senang dengan situasi belajar begini" celetuk Camilla, mendengar celetukan Camilla membuat Jester menoleh kembali menatap Camilla. Jester terdiam dengan wajah kesal menatap Camilla yang tersenyum manis menatap dirinya.


"Heei.... kamu memberiku bocoran jawaban untukku?" tanya Jester dengan kesal


"Oooh~ benarkah? terus apa jawabanmu?" Camilla terdengar terkejut


"Kamu suka kelas ini karena suasana belajarnya" jawab Jester dengan yakin, Camilla tertawa mendengar jawaban Jester.


"Salah~ aku pindah kelas karena ingin bertemu denganmu" dengan senyum manis dan nada yang menggoda Camilla mengatakannya, Jester terkejut saat mendengar jawaban Camilla dan wajahnya pun kembali memerah sampai membuat Jester berkeringat deras.


"Hei Camilla, bisa aku meminta sesuatu darimu?" tiba - tiba Harry mengatakannya sembari berjalan mendekati Jester dan Camilla, Jester dan Camilla bersamaan mengalihkan pandangannya menatap Harry.

__ADS_1


__ADS_2