
Pada malam hari di sebuah cluster perumahan, bulan purnama bersinar cukup terang malam itu. Angin pun berhembus cukup keras membuat suara tangisan seseorang terdengar sayup - sayup, ya... tangisan Naomi di rumahnya. Diruang makan itu Jester dan Naomi terlihat sedang duduk berhadapan dan makan malam bersama sembari menceritakan masa lalu Naomi, Jester terlihat mengelus - elus tangan Naomi diatas meja dan berusaha menenangkannya.
"Maaf... aku begitu emosional jika mengingat kejadian itu..." ucap Naomi memecahkan keheningan sesaat mereka berdua, Jester pun terdiam beberapa saat setelah mendengar cerita Naomi.
"Aku tahu, rasa bersalahmu tidak akan bisa hilang bagaimanapun caranya" timpal Jester yang mulai memahami sosok Naomi, semua tentang ketakutannya dan beban perasaan bersalahnya serta alasan tentang keadaan Evans yang harus hidup bersama dengan sebuah kursi roda.
"Sejak saat itu aku selalu menuruti perintah ibu, aku terus menanamkan prinsip pada diriku bahwa aku harus membahagiakan ayah dan ibu dengan cara menuruti semua perintah ibu. Style pakaian, model rambut, gaya bicara, ikut kelas kepribadian, memilih jurusan kuliah dan hobi, bahkan.... pasanganku" Naomi kembali melanjutkan ceritanya, beberapa saat Naomi tersadar akan ucapannya lalu menggenggam balik tangan Jester yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Maaf bukan maksudku aku tidak suka denganmu... tapi pertama memang itulah yang aku pikirkan sampai akhirnya aku tersadar kamu ternyata sangat baik padaku" Naomi mengatakannya dengan lembut penuh perasaan bersalah sembari menatap mata Jester, Jester tersenyum melihat Naomi yang tiba - tiba merasa bersalah padanya.
"Yaah gak masalah, lagian kalau dilihat kebelakang memang aku yang seenaknya menarikmu" timpal Jester dengan santai, Naomi kembali menundukkan kepalanya.
"Itulah cerita antara aku dan keluargaku... aku seperti terpenjara oleh ketakutanku sendiri atas ibu, tapi aku tidak ingin terus hidup dengan ketakutan ini" ucap Naomi dengan nada yang sedih, Jester melepaskan genggaman tangannya sembari menyadarkan punggung di kursi lalu menatap langit - langit rumah.
"Aku mengerti, aku rasa kita bisa memulai dengan menerima tawaran Grece" Jester mengatakannya lalu kembali memakan sisa makanan yang sempat dia tinggalkan, Naomi menatap Jester dengan penuh keraguan dalam sorot matanya.
"Begitu menurutmu?" tanya Naomi ragu, Jester sesaat mengabaikan pertanyaan Naomi dan terus melanjutkan makan sampai piringnya bersih.
"Bermain band tidak akan memberikan bahaya pada ayah kan?" tanya Jester mencoba memastikan pada Naomi, lalu Jester meneguk minumannya yang sudah tersedia diatas meja itu. Naomi terlihat berfikir dengan keras mencari kemungkinan tindakannya akan membahayakan Evans, namun tidak ada satu pun kemungkinan nyawa Evans akan terancam.
"Aku juga berfikir seperti itu, ayah tidak akan dalam bahaya saat aku bermain band" jawab Naomi yang masih ragu, Jester sedikit menggebrak meja dengan kedua tangannya sampai mengagetkan Naomi yang terlihat agak melamun ketika itu.
"Benar! paling ibu hanya akan memarahi kita habis - habisan" dengan semangat Jester mengatakannya dan sorot matanya mencoba memberikan semangat pada Naomi, dengan tatapan yang masih dipenuhi keraguan Naomi menatap Jester.
"Apa.... apa kamu mau... membantuku untuk lepas dari belenggu ini?" tanya Naomi terbata, Jester tersenyum saat merespon pertanyaan Naomi.
"Tentu, besok kita akan atur rencana dengan Grece dan Justin, cuma aku kepikiran bagaimana dengan Selena" jawab Jester yang terlihat bingung, mendadak wajah Naomi menjadi sebal ketika mendengar nama Selena.
"Dia hanya akan mendengarkan perkataanmu, jadi aku gak bisa membantu untuk masalah Selena" Naomi mendadak terdengar seperti marah karena Jester menyebut namanya, Jester pun sedikit tertawa mendengar Naomi yang tiba - tiba terkesan marah padanya.
"Kalau begitu kita gunakan saja rencana B" agak menahan tawa Jester mengatakannya, namun Naomi tidak merespon tawa Jester itu dan terus menatap Jester dengan sorot mata yang terlihat sedih.
"Maaf aku merepotkanmu lagi Jester, seharusnya aku yang membantumu. Tapi... akhir - akhir ini malah aku yang selalu merepotkanmu dan melibatkan kamu dalam masalahku" ucap Naomi dengan penuh penyesalan, sesaat Jester terdiam karena kesulitan untuk membangun suasana nyaman dimalam itu bersama Naomi. Jester merasa kelelahan dan belum lagi ciuman Selena tadi membuat Jester semakin kacau, dia pun berdiri dan hendak meninggalkan ruang makan.
"Jangan dipikirkan, kita harus saling mendukung" Jester mengucapkannya sembari berjalan hendak meninggalkan Naomi diruang makan, Naomi terdiam di meja itu untuk beberapa saat dan tidak lama mulai merapihkan meja makan, mencuci piring dan kemudian berjalan menuju ruang keluarga dimana Jester biasa tidur ketika berada dirumah. Di ruang itu Jester terlihat sedang menggelar kasur lipatnya dan bersiap untuk tidur, sesaat Naomi masuk ke ruangan itu dan menatap Jester dengan sorot matanya yang masih tampak sedih.
"Ada apa?" tanya Jester yang heran melihat Naomi berdiri di pintu masuk namun tidak mendekatinya dan berbicara padanya, keduanya terdiam beberapa saat dan saling menatap.
"Kalau tidak keberatan, kamu bisa tidur bersamaku dikamar. Aku gak enak melihat kamu terus - terusan tidur dengan kasur yang keras seperti itu" jawab Naomi dengan suara yang lembut, Jester menepuk dahinya agak keras mendengar jawaban Naomi saat itu.
"Aku gak bisa Naomi.... Haah, gimana ya aku katakan" Jester mencoba menata kalimat sebelum mengatakannya, aktifitasnya terhenti sesaat dan terdiam sembari terus berfikir mencari kalimat yang dapat mudah dipahami oleh Naomi namun tidak terkesan mesum.
"Kenapa? apa aku mendengkur kalau tidur? atau aku terlalu banyak bergerak jadi kamu terganggu?" tanya Naomi kembali terdengar panik, Jester mengatakan tidak dengan gestur tangannya.
"Bukan itu... ayolah Naomi kamu paham apa yang sedang aku pikirkan" jawab Jester agak menghela nafas lalu kembali menatap Naomi dengan serius, sesaat Naomi tersadar apa yang dari tadi Jester coba untuk katakan padanya namun dia telat untuk memahami.
"Ooh... benar, iya... aku paham...." Naomi mengalihkan pandangannya ketika Jester terus menatap matanya mencoba memberitahu kekhawatirannya lewat sorot matanya, Jester kembali melanjutkan menata kasur lipatnya.
"Yaah... kalau sudah paham jangan memaksaku, untung saja aku tidak berbuat hal - hal aneh saat kita tinggal satu atap seperti ini" celetuk Jester ketika itu, keduanya terdiam beberapa saat tanpa saling menatap.
"Kamu.... sampai segitu tidak inginnya ya... menyentuhku?" tanya Naomi dengan nada terbata, Jester menatap Naomi dengan wajah terkejut. seketika itu Naomi sadar akan perkataannya yang terkesan menawarkan dirinya untuk disentuh oleh Jester, wajah Naomi mendadak memerah dan menjadi panik sendiri.
"Aah.. Eeh... bukan begitu maksudku!! maksudku itu kamu berusaha sangat kuat ya agar tidak menyentuhku kan?! itu maksud dari pertanyaanku sebenarnya!!" dengan panik Naomi bertanya kembali merubah pertanyaan sebelumnya, Jester menyentuh dadanya yang berdetak sangat keras dan berjalan mundur beberapa langkah agak menjauhi Naomi.
__ADS_1
"Aku sempat memikirkan hal lain tadi gara - gara pertanyaanmu, dasar bodoh. Jadi gini loh, bohong kalau aku kadang tidak tergoda padamu seperti yang aku katakan. Tapi aku tidak ingin melakukannya bersama orang yang tidak aku cintai, aku tidak tahu bagaimana pria diluaran sana. Tapi ya inilah aku, aku memang berusaha keras untuk tidak tergoda oleh hasutan - hasutan setan" jawab Jester berusaha menjelaskan dengan tenang walau hatinya sempat berdegup kencang, wajah Jester pun terlihat memerah.
"Begitu ya... Aku jadi tenang kalau begitu. Baiklah, selamat malam Jester" ucap Naomi lalu Naomi meninggalkan Jester di ruangan itu dan berjalan menuju kamar, namun langkahnya tiba - tiba terhenti dan bersandar disalah satu tembok lorong utama rumah. Raut wajah Naomi mendadak berubah menjadi sedih kembali, tangannya meremas baju di dadanya.
"Apa itu artinya? apa dia tidak ada sedikitpun perasaan cinta padaku? aku harus bagaimana untuk mengejar cintamu, Jester...." gumam Naomi dan terdiam sesaat, tidak lama Naomi terlihat sadar dari lamunannya lalu kembali berjalan menuju kamar.
Malam dingin berganti pagi yang tampak mendung hari itu, hujan pun turun dengan sangat deras. Awan gelap menutup sinar matahari pagi yang biasanya menyinari cluster perumahan dengan sangat indah, di pelataran salah satu rumah terlihat Naomi yang sudah siap dengan penyamarannya menatap langit dengan wajah yang sedih. Tidak lama Jester keluar dari rumah dan mengunci pintu rumah lalu berjalan mendekati Naomi, Jester menatap langit bersama Naomi.
"Pagi - pagi malah hujan, jadi gak semangat buat kuliah nih" celetuk Jester memecahkan keheningan, Naomi menatap Jester yang masih fokus melihat awan mendung hari itu.
"Iya... tapi kita ada misi hari ini" timpal Naomi dengan suara yang lembut seperti biasa, Jester pun mengalihkan pandangannya menatap Naomi lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Semua sudah siap?" tanya Jester sembari memberikan kunci rumah, Naomi hanya mengangguk merespon pertanyaan Jester kala itu dan tangannya menerima kunci dari Jester lalu memasukkan kedalam tasnya. Keduanya mulai melakukan perjalanan dari rumah menuju kampus dengan Mercedes Benz V260 mereka, perjalanan mereka berjalan sangat lancar namun tanpa percakapan berarti.
Beberapa menit pun berlalu dan mereka pun sampai di kampus, tempat parkir kampus menjadi tujuan utama mereka berdua. Setelah mobil terparkir dengan sempurna diparkiran kampus, Jester dan Naomi turun dari mobil dan berpisah menuju kelas masing - masing. Jester terlihat berjalan menuju kelasnya dan melihat Harry, Luke dan Camilla sedang mengobrol bersama didepan kelas dimana Jester akan berada dikelas pertamanya hari ini, Jester yang terkejut pun langsung bersembunyi dibalik tembok sambil terus memperhatikan ketiganya dari kejauhan.
"Camilla lagi?! apa lagi yang dia rencakan kali ini?!" celetuk Jester terdengar agak panik sembari terus memperhatikan ketiganya dari kejauhan, Jester berusaha menenangkan hatinya dan mengatur nafas agar lebih siap saat bertemu ketiganya. Seperti sudah paham apa yang akan terjadi padanya ketika Harry, Luke dan Camilla melihat Jester. Keributan... ya pasti hanya akan ada keributan seperti biasanya saat mereka berkumpul bersama, namun ditengah ketegangan Jester menatap Luke, Harry dan Camilla tiba - tiba ada tangan yang menepuk pundak Jester dengan agak keras.
"Pagi kak!!" sapa Selena dengan manja dan dengan sedikit teriakan seperti biasanya, yah... Selena tetaplah Selena dan cara menyapa Jester disetiap kesempatannya selalu seperti itu kan.
"Wuuuaaa!! apa - apaan kamu? dan kenapa kamu ada disini?!" dengan teriakan karena terkejut Jester mengatakannya, ditengah ketegangan karena melihat Camilla, Luke dan Harry yang berada dikelasnya tiba - tiba Selena mengagetkannya begitu saja.
"Lagi gak ada dosen dikelasku, jadi aku putuskan saja untuk ke kelasmu" jawab Selena dengan tenang merespon kepanikan Jester kala itu, Selena pun tersenyum manis menatap Jester.
"Keputusan macam apa itu?! berhenti mengagetkanku seperti itu!!" tanya Jester dengan sedikit bentakan kepada Selena, namun lagi - lagi hanya tertawa mendengar Jester memarahi dirinya.
"Hai hai~ kalian ini selalu ada ditempat yang tidak wajar ya" sapa Camilla yang mendadak muncul dibelakang Jester, Jester kembali terkejut membalikkan badannya menatap Camilla. Dengan wajah yang panik itu jelas bukan wajah yang ingin Jester tampakkan didepan wanita yang sedang dia sukai, Jester tetaplah menjadi Jester kikuk kita ketika berhadapan dengan Camilla.
"Tapi kan kak Jester duluan yang ada disini sebelum aku datang" celetuk Selena dengan nada kesal, mendengar celetukan Selena membuat Jester kesal karena kesan yang muncul adalah Jester sedang menghindari Camilla.
"Heii! kamu ngomong apa sih?! haha..." Jester mengatakannya dengan nada kesal sambil menatap Selena, namun Selena membuang muka merespon kekesalan Jester.
"Kamu menghindariku ya Jester? apa kamu benci padaku?" tanya Camilla dengan nada yang terdengar sedih, sesuai dugaan Jester bahwa Camilla akan menganggapnya begitu. Jester pun kembali panik dan berusaha agar Camilla tidak salah paham terhadap dirinya, namun otaknya terlalu beku untuk sekedar mencari alasan dan menghindari pertanyaan Camilla.
"Tidak! bukan gitu, aku tidak pernah membencimu! aku tadi... aku tadi.... aaaa..." jawab Jester yang panik karena Camilla menunjukkan kesalahpahamannya, ditengah ketegangan itu Luke dan Harry yang terlihat berjalan muncul dibelakang Camilla dan langsung menatap Jester dengan kesal.
"Katakan saja yang jujur, kamu itu milik Naomi dan dihatimu hanya ada Naomi" timpal Luke yang melihat Jester kesulitan untuk mencari alasan didepan Camilla, namun celetukan Jester malah memperburuk suasana. Camilla terlihat marah menatap Jester dan Selena pun menepuk punggung Jester agak keras untuk meluapkan kemarahannya.
"Arrgh!! kenapa selalu seperti ini sih?!" Jester terlihat mulai tidak dapat mengendalikan kekacauan itu, kedua tangan Jester memegangi kepalanya yang menatap langit - langit gedung.
"Itu karena kak Jester bodoh, kamu harusnya langsung saja pilih aku jadi pacarmu" celetuk Selena merespon kepanikan Jester, celetukan itu membuat Luke dan Harry terlihat marah menatap Selena.
"Heii Selena! Jester itu milik Naomi tahu?!" timpal Harry yang terlihat kesal pada Selena, Selena membuang muka merespon perkataan Harry dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
"Apa sih kak Harry, kamu gak tahu apa - apa" jawab Selena dengan nada yang terdengar marah, ditengah ketegangan itu tiba - tiba Camilla berjalan mendekati Jester.
"Tapi Jester hanya mencintaiku, yakan Jester?" tanya Camilla sambil merangkul tangan Jester dan menempelkan kepalanya ke bahu Jester, wajah Jester memerah dan menatap Camilla saat itu yang terlalu dekat dengannya. Jester sampai membatu dan tidak dapat berkata apa - apa, wangi rambut Camilla seperti menghipnotis Jester.
"Camilla!!" bentak Selena yang terlihat marah melihat Camilla menempel pada Jester, teriakan itu menyadarkan Jester dari lamunannya.
"AAAAAAA Tolong!!!" Jester berteriak sambil berlari menjauhi mereka semua menuju kelas, melihat sahabatnya kabur membuat Luke dan Harry berlari mengejar. Tersisalah Camilla dan Selena yang masih terdiam saling menatap, Camilla tersenyum menatap Selena namun tidak dengan Selena yang hanya menatap Camilla dengan wajah datarnya.
"Bagaimana kencan kemarin? apa kamu berhasil?" tanya Camilla memecah keheningan diantara keduanya, Selena membuang muka sebelum menjawab pertanyaan Camilla seakan dirinya malu untuk menjawabnya secara langsung kala itu.
__ADS_1
"Ya, kami bersenang - senang sampai malam" jawab Selena singkat dan terkesan seperlunya, melihat respon itu membuat Camilla tertawa. Seakan dirinya sedang mengahadapi remaja kemarin sore yang baru mengenal percintaan, Camilla tidak menyangka Selena akan sepolos ini.
"Tidak tidak, bukan itu yang aku tanyakan" dengan menahan tawa Camilla mengatakannya, Selena mengalihkan pandangannya menatap Camilla.
"Apa lagi? apa yang mau kamu dengar dariku?" tanya Selena dengan nada yang terdengar bingung, namun respon Selena kembali membuat Camilla tertawa.
"Hihihi... kamu ini ya~ baiklah aku ganti pertanyaannya, apa kamu berhasil mencium bibir Jester kemarin sesuai saranku?" tanya Camilla dengan nada menggoda dan terdengar gemas, Selena hanya terdiam menatap Camilla lalu mengalihkan pandangannya dengan wajah yang memerah.
"Sepertinya sudah ya, senangnya~ bagaimana perasaanmu setelah mendengarnya?" tanya Camilla dengan nada yang agak keras dan masih dengan nada manjanya, Selena terlihat bingung dengan pertanyan Camilla kali ini sampai membuatnya perlahan mengalihkan pandangannya menatap wajah Camilla yang masih tersenyum menatapnya.
"Hah? apa maksudmu?" tanya Selena dengan keheranan, Camilla kembali tertawa melihat wajah kebingungan Selena.
"Tidak tidak~ aku bukan bertanya padamu kok, tapi pada Nao... ups maksutku Aoi" jawab Camilla, Selena terkejut dan membalik badannya mencari keberadaan Naomi. Namun ketika itu Selena tidak melihat Naomi dibelakang, setelah yakin bahwa Naomi benar - benar tidak ada disekitar mereka Selena kembali menatap Camilla dengan wajah bingung.
"Tidak ada Naomi disini" Selena heran, wajah Camilla terlihat sinis sembari menunjuk sebuah tiang dibelakang Selana.
"Ada... dia ada di belakang tiang itu kok" celetuk Camilla dengan nada yang terdengar sinis, Selena membalik badannya lagi dan tidak lama Naomi keluar dari balik tiang lalu menatap Selena dan Camilla bergantian.
"Apa yang kamu lakukan disini?!" tanya Selena dengan nada marah, Naomi tersenyum sinis melihat kedekatan antara Selena dan Camilla.
"Aku hanya kebetulan lewat" jawab Naomi dengan tenang, jawaban Naomi membuat Camilla tertawa.
"Hihihi kamu benar ya tentangnya, dia tidak pandai berbohong" celetuk Camilla masih dengan nada yang terdengar ramah, namun Selena masih terlihat marah menatap Naomi. Kebencian Selena itu sangat tergambar dari sorot matanya saat menatap Naomi, namun Naomi tidak gentar dan terus menatap Selena dengan sorot mata yang sedih melihat sahabatnya seperti itu.
"Hmp... jadi kalian bersekongkol ya untuk mengalahkanku" dengan nada yang terkesan meremehkan Naomi mengatakannya, Selena melangkah mendekati Naomi dengan hentakan kaki yang keras seperti sedang menggertak.
"Kenapa? takut kalah hah?!" dengan nada yang terdengar sangat marah Selena mengatakannya, namun Naomi hanya terdiam merespon kemarahan Selena.
"Selena~ gak baik loh kalau berteriak - teriak seperti itu" Camilla berusaha menenangkan Selena dan menarik lengannya agar dia tetap memberi jarak pada Naomi, Naomi tidak terlihat gentar sedikitpun mendapat tekanan dari Camilla dan Selena.
"Jester akan sangat kecewa padamu Selena" ucap Naomi yang berusaha menyadarkan Selena atas tindakannya, namun perkataan Naomi malah terdengar seperti sebuah ancaman ditelinga Selena.
"Kamu mengancamku?" tanya Selena dengan nada yang masih terdengar bertambah marah dan kembali mendekati Naomi, Camilla kembali menarik lengan Selena untuk memberi jarak pada Naomi.
"Dia tidak akan berani, rahasianya juga kita pegang" timpal Camilla mengingatkan Selena agar tidak terpancing
"Selena aku tahu kamu sangat marah padaku, tapi yang kamu perbuat saat ini... bukankah itu terlalu jahat?" tanya Naomi yang nadanya mulai merendah mencari simpati dari Selena, Selena hanya terdiam menatap Naomi.
"Kamu bilang itu jahat? lalu saat kamu merebut Jester, kata apa yang pantas untuk kamu sematkan pada dirimu?" tanya Camilla dengan nada sinis
"Dia tidak akan membantumu Selena, dia hanya memanfaatkanmu... percaya padaku" Naomi masih berusaha mempengaruhi Selena
"Sepertinya tuan putri kita mulai takut tersaingi, menyedihkan ya..." sindir Camilla dengan nada sinis
"Sadarlah Selena!!" dengan tekanan Naomi mengatakannya
"Jangan dengarkan dia, dia hanya berusaha membuatmu ragu. Perjuangan kita selama ini akan sia - sia kalau kamu mulai ragu karena ucapannya" Camilla juga berusaha mempengaruhi Selena
"Naomi... dulu sudah pernah aku katakan padamu, aku tidak akan mampu untuk bersaing denganmu dan kamu dengan tegas mengatakan kamu tidak menyukai kak Jester" ucap Selena sambil menunduk ditengah saling balas perkataan antara Naomi dan Camilla, Naomi terlihat sangat menyesal menatap Selena.
"Aku tahu aku salah... maafkan..." ucapan Naomi dipotong
"Sudahlah, antara kamu dan aku sudah berakhir" ucap Selena sembari berjalan meninggalkan Naomi dan menabrakkan bahunya ke bahu Naomi, Camilla tersenyum sinis menatap Naomi lalu pergi berjalan menuju kelasnya.
__ADS_1