Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Analisa Luke dan Harry


__ADS_3

Pagi yang terlihat mendung disebuah cluster perumahan, disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang terlihat masih sepi dari aktifitas penghuninya. Disebuah kamar tidur dan menjadi satu - satunya kamar yang ada dirumah itu, terlihat Jester yang terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka dan mendapati Naomi masih tertidur tepat didepan matanya, wajahnya pun memerah dan teringat kalau semalam mereka untuk pertama kalinya tidur berdua dalam satu kamar secara suka rela. Pagi ini Jester terbangun dengan perasaan lega dan yakin keberadaan Naomi akan membuat hatinya tidak rapuh dengan kehadiran Luna, terlebih lagi perasaannya untuk Naomi mulai jelas bisa dia rasakan. Perlahan Jester beranjak dari kasur agar tidak membangunkan Naomi dan segera berjalan keluar kamar menuju kamar mandi, disana aktifitas Jester dimulai seperti biasanya. Mencuci muka, mengosok gigi, dan merapihkan rambutnya lalu segera berjalan menuju ruang keluarga.


"Jester!!!" agak berteriak Naomi mengatakannya sembari keluar dari kamar dengan panik, Jester terkejut melihat kepanikan Naomi saat itu


"Kenapa?!! kamu kenapa Naomi?!" tanya Jester ikutan panik, Naomi menoleh menatap Jester dengan mata yang berkaca - kaca.


"Aku pikir kamu pergi lagi tanpaku!!" dengan bentakan Naomi menjawab


"Eeh engga, aku tadi cuma gak mau kamu terganggu aja. Maaf ya" timpal Jester dengan suara lembut dan seketika Naomi memeluk Jester begitu erat, walau terkejut namun Jester hanya terdiam untuk beberapa saat sembari mengulus rambut Naomi.


"Aku takut kamu masih terbiasa tidak bersamaku dan melakukan semuanya sendiri" Naomi mengatakannya dengan penuh kekhawatiran, Jester pun tersenyum lalu sedikit tertawa sebelum merespon perkataan Naomi.


"Tidak lagi, aku bahkan ketakutan saat kamu terlihat akan meninggalkanku..." timpal Jester dan sejenak dia menghela nafasnya


"Kamu tahu Naomi... dulu aku mengira aku terkena kutukan menjadi jomblo seumur hidupku, tapi sepertinya aku hanya sedang dipersiapkan bertemu dengan wanita sebaik dirimu" ucap Jester dengan lembut dan terdengar lega, Naomi menatap wajah Jester dengan senyuman manisnya.


"Kamu terlalu berlebihan, aku tidak sebaik itu...." celetuk Naomi manja sembari melepaskan pelukannya, perlahan Jester berlutut didepan Naomi dan tersenyum menatap wajahnya.


"Naomi... maukah kamu menjadi pacarku? maaf aku tidak punya apapun untuk diberikan padamu saat ini, tapi aku tulus menyatakan perasaanku padamu" tanya Jester terlihat penuh harap, senyum Naomi pun menghilang saat itu namun tatapan matanya masih menatap Jester.


"Aku tidak bisa Jester...." dengan nada yang datar Naomi mengatakannya, jawaban itu membuat Jester terkejut dan jantungnya pun berdetak kencang.


"Ke...kenapa...?" Jester bertanya dengan terbata, Naomi pun tersenyum dengan sedikit tertawa


"Gimana caranya aku jadi pacarmu sedangkan orangtua kita saja sudah mau menikahkan kita? apa kamu lupa tahun depan kita akan menikah? hubungan kita ini lebih dari sekedar pacaran" tanya Naomi lagi dengan suara yang terdengar senang, tawa kecil Naomi terdengar sangat jelas ditelinga Jester dan membuatnya lemas seketika.


"Kamu membuatku hampir mati gagal jantung tahu" terdengar kesal Jester mengatakannya, Naomi pun tertawa dan perlahan menempelkan dahinya ke dahi Jester lalu memejamkan matanya.


"Cintai aku apa adanya, aku banyak kekurangan yang mungkin kamu tidak sadari saat ini... tolong jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi..." ucap Naomi dengan lembut, Jester tersenyum menatap mata Naomi yang begitu dekat dengannya.


"Aku khawatir kamu yang akan meninggalkanku" dengan tawa kecil Jester mengatakannya, Jester berdiri dan mengelus lembut pipi Naomi


"Kamu tahu kan Naomi kotak pandoraku telah terbuka, mungkin kamu akan melihat beberapa perubahan dari sikapku. Jika itu terjadi... aku berharap kamu akan menolongku, ingatkan aku kalau aku sudah punya kamu..." dengan lembut Jester mengatakanya namun matanya terlihat kembali murung seakan tidak ada semangat dalam hidupnya, tiba - tiba Naomi mencubiti perut Jester bertubi - tubi.


"Aaw aaw Awww!! Naomi!! apa - apaan?!!" agak berteriak Jester mengatakannya, Naomi pun menghentikan cubitannya dan tersenyum menatap Jester.


"Ingat - ingatlah cubitan itu, aku akan menyadarkanmu dengan cara itu" Naomi mengatakannya dengan tawa, Jester kesal dengan perkataan Naomi saat itu.


Suara tawa dan sedikit bumbu pertengkaran kecil terdengar dirumah itu, Jester dan Naomi pun melanjutkan aktifitas paginya dengan sarapan, bergantian mandi, bersiap menuju kekampus untuk kuliah, bertengkar karena pemilihan baju yang Naomi berikan kepada Jester, memaksa Jester untuk merubah model rambut namun Naomi masih juga gagal, lalu segera menuju garasi untuk memulai perjalanan mereka menuju kampus.


Diperjalanan keduanya pun terlihat bahagia dengan obrolan ringan penuh canda tawa, tidak terasa mereka pun sampai diparkiran kampus yang menjadi tujuan utama mereka saat tiba disana. Jester dan Naomi turun dari mobil dan hendak berpisah seperti biasa, namun saat itu Jester menarik lengan Naomi lalu mencium dahi Naomi dengan lembut. Setelah ciuman didahi itu Jester langsung berlari tanpa kata menuju kelasnya, Naomi tertawa melihat tingkah Jester yang seperti anak kecil. Tingkah Jester membuat Naomi yakin Jester sudah mencintai dan menerima kehadirannya dalam hidup Jester, sebuah perjuangan yang tidak mudah namun memiliki hasil yang setimpal.


Jester berjalan menuju kelas pertama pada hari itu, agak jauh dari posisinya Jester melihat Selena keluar dari ruang dosen. Saat keduanya bertatapan mata dari kejauhan, mendadak Selena hendak masuk kembali namun Jester melihat Selena seperti menabrak seseorang dipintu itu. Selena seperti memaksa seseorang yang sebelumnya dia tabrak agar masuk kembali, terlihat ada sedikit keributan walau Jester tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika sudah dekat dengan Selena, Jester pun terlihat heran Selena malah membuang muka.


"Selena, ngapain kamu?" tanya Jester penasaran, saat itu Jester melihat Luna yang muncul dari balik pintu masuk ruang dosen.

__ADS_1


"Kak Jester!" terdengar antusias Luna menyapa Jester, terkejutlah Jester melihat Luna berada di kampusnya. Agak berlari Luna mendekati Jester dan berhadapan langsung dengannya, keduanya bertatapan mata namun saling terdiam.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi kak" ucap Luna dengan nada yang terdengar menyesal, namun saat itu Jester kembali berjalan meninggalkan Luna begitu saja tanpa kata. Mata Luna berkaca saat mendapati sikap Jester kepadanya, walaupun dia sangat memahami alasan Jester bersikap dingin seperti itu kepadanya.


"Dia akan mengerti suatu saat nanti" celetuk Selena sembari berjalan mendekati Luna


"Akan memakan waktu menunggu kak Jester mengerti, tidak ada pilihan lain selain aku harus menemui Naomi" timpal Luna, perlahan tangannya menyeka air mata yang masih terbendung dimata. Setelah beberapa saat terdiam, Luna dan Selena pun melangkah kan kaki menuju kelas pertama mereka.


Didalam salah satu kelas di kampus, terlihat Jester dan Luke berada diantara mahasiswa dan mahasiswi lainnya sedang mengkuti perkuliahan pada pagi itu. Sesekali Jester terlihat melamun menatap jendela yang menghadap langsung ke sebuah taman, melihat Jester yang murung seperti itu membuat Luke mengerutkan dahi.


"Camilla tidak terlihat dikelas, kamu tidak penasaran kenapa?" tanya Luke mencoba menarik perhatian Jester agar berhenti melamun, Jester hanya menghela nafas merespon pertanyaan Luke.


"Wah wah, ada apa nih? kamu sudah bisa melupakan Camilla? lupakan Luna juga donk" dengan sindiran Luke mengatakannya


"Dia ada di kampus ini" celetuk Jester dengan suara yang terdengar pasrah, walau Luke terkejut dengan perkataan Jester namun dia berusaha tetap tenang sembari mengeluarkan handphonenya dari saku celana. Luke mengirim pesan singkat kepada Harry agar dia tidak mengikuti kelas pada jam perkuliahan kedua, Luke terlihat memiliki rencananya sendiri.


Sembilan puluh menit berlalu, Jester dan Luke keluar kelas dan berpisah saat itu. Jester berjalan menuju kelas selanjutnya sedangkan Luke hendak pulang, namun semua itu hanya untuk mengelabui Jester. Luke pun segera mengalihkan langkahnya menuju cafetaria kampus, disana Luke bertemu dengan Harry yang sedang makan disalah satu kursi dalam cafetaria.


"Hei Luke, makan dulu" sapa Harry saat melihat Luke mendekatinya, dengan raut wajah kesal Luke duduk didepan Harry.


"Melihat wajah kesalmu aku jadi semakin meyakini kamu adalah reinkarnasi gorilla" sindir Harry dengan sedikit tawa, tidak terima dengan ejekan Harry saat itu membuat Luke mengambil daging ayam goreng di piring Harry lalu memakannya.


"Tidaakk!! Dasar gorilla bodoh!!" bentak Harry penuh amarah, namun Luke menunjukkan sikap tidak peduli dan terus mengunyah daging ayam goreng itu sambil membuang muka.


"Aku mencurigai kehadiran Luna yang tiba - tiba, kata Jester dia ada dikampus ini sekarang" celetuk Luke dengan suara yang terdengar marah namun terbesit perasaan khawatir, Harry terdiam sambil melanjutkan makannya.


"Gorilla bodoh!! itu satu - satunya laukku untuk makan siang!!" bentak Harry penuh amarah


"Kita sedang membahas sesuatu yang penting! kenapa kamu malah meratapi ayam goreng ini!!" Luke balik membentak Harry dan keduanya pun bertengkar hebat saling balas pukulan.


Setelah aksi berantem itu, keduanya pun berpidah tempat untuk mengobrol. Disalah satu taman kampus yang jarang Jester datangi, mereka memilih tempat itu agar tidak ada kemungkinan Jester bertemu mereka. Keduanya pun duduk berhadapan disalah satu kursi taman, terdiam sejenak keduanya seakan sedang menata teka teki tentang kehadiran Luna.


"Coba kita kilas balik saat kita naik kelas tiga, ketika Jester terpuruk dan tidak pernah masuk sekolah lagi. Ingat Parker yang ternyata adalah Selena? dia beberapa kali ke kelas kita untuk mencari Jester" celetuk Harry memecahkan keheningan diantara mereka, Luke menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Aku gak ingat, saat itu aku terlalu mengkhawatirkan si bodoh itu" jawab Luke singkat, Luke memejamkan matanya berusaha mengingat momen yang dibicarakan Harry. Seakan sedang mengingat semua momen dulu mereka di SMA, Harry menaruh tangannya didahi dan menopangnya di sandaran tangan kursi.


"Gini gini... Selena itu gak suka pria dan Naomi kemarin sudah mempertegasnya, jika dirunut berarti ada kemungkinan Selena suka Jester saat Luna menolak Jester kan?" tanya Harry mencoba memancing Luke agar berfikir kemungkinan alasan Luna menolak Jester adalah karena Selena, walau masih bingung Luke menganggukkan kepalanya beberapa kali merespon Harry.


"Sekarang Selena melakukan segala cara bahkan bekerja sama dengan Camilla untuk merebut Jester dari Naomi, apa kamu gak kepikiran kalau Luna menolak Jester karena Selena?" tanya Harry kembali memancing logika Luke yang terlihat tidak terpancing sama sekali, Luke pun hanya menganggukkan kepalanya merespon perkataan Harry dengan tatapan kosong.


"Gorilla bodoh!! isi otakmu sebenarnya apa?!!" bentak Harry terdengar kesal karena Luke tidak juga bisa mengerti analisa Harry


"Aku ini banyak pikiran rubah bodoh!!" Luke balik membentak Harry, keduanya pun kembali berantem dan saling pukul untuk beberapa saat. Pertengkaran itu berhenti saat Luke menjatuhkan Harry dan menduduki punggungnya sambil berfikir.


"Berat" celetuk Harry singkat, namun Luke seakan tidak peduli

__ADS_1


Melihat keadaan Jester sejak kehadiran Luna membuat Luke dan Harry begitu berfikir keras mencari segala kemungkinan alasan mengapa Luna kembali, keduanya tidak ingin Jester kembali terpuruk apalagi dengan sosok wanita yang sama. Diselingi perdebatan kecil namun serius mereka berdua berusaha memecahkan misteri tentang kehadiran kembali sosok Luna dalam hidup Jester.


"Tapi ada yang janggal, kalau memang Luna menolak Jester karena Selena... kenapa sekarang Selena malah menghadirkan Luna lagi dikehidupan Jester?" tanya Luke sembari berdiri dan kembali duduk dikursi taman. Dengan berjongkok dan menatap langit, Harry mencoba mencari jawaban.


"Itu masih jadi misteri, kalau mau menang harusnya Selena mengurangi saingan dan bukan menambahnya. Tapi kalau kamu ingat, apa kamu merasa Luna akan menolak Jester saat itu?" tanya Harry


"Tidak. Senyumnya saat Jester datang menemuinya, tawanya saat Jester berbicara gagap didepannya, gerak geriknya yang terlihat bahagia saat Jester melakukan hal bodoh.... semuanya, aku tidak kepikiran dia akan menolak Jester" jawab Luke dengan tegas, Harry berdiri dan menatap Luke dengan serius.


"Luna menyembunyikan 'sesuatu' dan 'sesuatu' itu saat ini sudah tidak ada lagi dikehidupan Luna, ada kemungkinan dia ingin mengejar Jester kembali" ucap Harry dengan meyakinkan, raut wajah Luke kembali menunjukkan kebingungannya.


"Kamu muter - muter, tadi bilang Luna menolak Jester karena Selena dan sekarang Luna mengejar Jester padahal 'sesuatu' yang kamu sebut tadi kemungkinan adalah Selena kan?" tanya Luke terlihat kebingungan


"Itu semua cuma analisa dan kemungkinan yang bisa saja adalah kebenaran, begini Luke... saat itu tidak ada satupun yang mengira Luna akan menolak Jester kan?" tanya Harry mencoba memancing logika Luke


"Yap" jawab singkat Luke


"Setelah Luna menolak Jester, saat itu sahabatnya yaitu Selena tiba - tiba sering mencari Jester. Maka ada kemungkinan Selena lah faktor penyebab Luna menolak Jester, benar?" tanya Harry lagi, Luke mengangguk beberapa kali merespon Harry.


"Tapi itu dipatahkan ketika saat ini Luna hadir kembali bersama Selena, bisa jadi kemungkinan pertama itu salah namun kalau kita mengingat Selena adalah orang yang penuh tipu daya... maka kita tidak boleh mengesampingkan kemungkinan ini adalah rencananya untuk menyingkirkan Naomi, paham?" Harry masih mencoba mendikti logika Luke


"Bisa... bisa... lalu?" tanya Luke lagi penasaran


"Kalau ternyata kemungkinan pertama seratus persen salah, berarti sesuatu terjadi pada Luna dibelakang kita yang memaksa Luna menolak Jester. Luna meminta Selena untuk mengawasi Jester agar ketika dia kembali ke kehidupan Jester, dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan Jester" jawab Harry agak menekan, Luke tertawa mendengar perkataan Harry.


"Dasar rubah bodoh, apa untungnya Luna meminta Selena mengawasi Jester?" agak tertawa Luke bertanya, namun Harry meresponnya dengan tepukan di dahinya.


"Ayolah Luke, Selena merubah penampilannya ketika kelas dua SMA bertepatan saat Luna juga menghilang dari sekolah. Aku rasa Selena sengaja berpenampilan dan bersikap seperti Luna juga agar Jester tidak melupakan kenangannya bersama Luna" jawab Harry, Luke pun tersadar lalu berfikir keras.


"Jadi ketika Luna kembali, Jester akan terbiasa dengan kehadiran Luna dan membuat Jester akan jatuh cinta lagi sama Luna walau dia pernah melukai hati Jester" gumam Luke mencoba menarik kesimpulan


"Cinta hadir karena terbiasa, Selena mendapat tugas dari Luna agar Jester tetap terbiasa dengan kehadiran Luna meskipun Luna menjauh dari Jester!!" dengan antusias Harry menimpali kesimpulan Luke, namun Luke kembali terlihat bingung menatap Harry.


"Bukankah itu beresiko kalau Jester malah jatuh cinta pada Selena?" tanya Luke kembali meragukan kesimpulannya, Harry terdiam dan kemudian dia berjalan menuju kursi taman lalu duduk disana.


"Aku pernah membaca tentang kotak pandora, apa kamu tahu tentang mitologi yunani ini?" tanya Harry, mendengar pertanyaan Harry membuat Luke semakin bingung.


"Ya, sebuah kiasan yang menggambarkan sesuatu yang berharga namun ternyata adalah sebuah kutukan saat kita mengingatnya" jawab Luke masih terlihat bingung


"Saat ditaman aku pernah bertanya tentang Luna kepada Jester dan dia mengatakan kalau dia masih merasa sakit hati jika mengingatnya, tapi ketika dia bertemu langsung dengan Luna.... bukannya dia sempat lupa wajah Luna itu seperti apa" ucap Harry


"Kamu ada benarnya, pertemuan dengan Luna seakan membuat Jester membuka kotak pandora itu dan kutukannya perlahan membuat hati Jester kembali terluka lalu membuatnya sering murung seperti sekarang ini" timpal Luke


"Entah terlalu percaya diri atau memang Luna sudah memprediksinya, Luna sudah memperhitungkan jika dia kembali suatu saat nanti maka Jester akan tetap mencintainya seperti saat mereka SMA dulu" ucap Harry menarik kesimpulan, mata Luke tertuju pada salah satu sudut taman didekat mereka saat Harry berbicara.


"Kesimpulannya yang pertama, Selena yang membuat Luna menolak Jester. Kesimpulan kedua, ada sesuatu yang terjadi pada Luna dan Luna meminta Selena untuk menjadi dirinya agar Jester tidak melupakan Luna begitu saja..." belum selesai Luke berkata, Harry memotong.

__ADS_1


"Benar, ada dua kemungkinan itu, kita harus cari tahu mana yang benar" timpal Harry, Luke tiba - tiba berdiri lalu berjalan mendekati Harry walau tatapan matanya masih menatap jauh didepan.


"Atau ketiga, Selena, Luna dan Naomi terlibat sesuatu" ucap Luke sambil menunjuk belakang Harry, penasaran dengan apa yang dilihat Luke membuat Harry berbalik dan mendapati Selena, Naomi dan Luna jalan bersama melewati taman dimana Luke dan Harry sedang berbicara berdua.


__ADS_2