Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Rencana Awal Yang Berhasil


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah disebuah perumahan sederhana, beberapa warga perumahan itu terlihat sedang beraktifitas dengan penuh semangat. Ada yang sedang mencabuti rumput, menjemur pakaian, mengobrol antar tetangga, hingga terlihat pula anak - anak kecil bermain dijalanan. Disalah satu rumah terlihat Luke sedang mengangkat barbel dipelataran rumah kontrakannya, dengan barbel seberat lima puluh kilo dia terus memaksakan dirinya untuk mencapai hitungan tertentu.


"...sembilan puluh delapan... hah... hah... sembilan puluh sembilan...hah... Ser..." belum genap hitungan Luke saat itu, terlihat Justin yang mengendarai sepeda motor parkir didepan rumah Luke. Melihat kehadiran temannya, Luke langsung meletakkan barbelnya lalu mengelap keringat ditubuhnya dengan handuk kecil yang sejak tadi dia kalungkan dilehernya.


"Pagi Luke, sudah berapa repetisi hari ini?" sapa Justin terdengar senang, Luke meresponnya dengan senyuman penuh kesombongan.


"Seratus hitungan dengan tiga repetisi, sejak shubuh tadi total aku sudah mengangkat tiga ratus kali" jawab Luke penuh kesombongan sambil memamerkan otot - otot kekarnya itu, Justin pun tertawa melihat kesombongan Luke.


"Seandainya otakmu juga kamu pacu seperti ototmu" sindir Justin dengan sedikit tawa


"Kamu datang kesini mau ngajakin gelut?!" tanya Luke dengan emosi, mereka pun tertawa bersama lalu Luke mempersilahkan Justin untuk masuk. Didalam rumah Justin menghidupkan konsol game dan memainkan game FPS sembari menunggu Luke yang ijin mandi dan sarapan, hingga beberapa menit berlalu akhirnya Luke pun duduk didekat Justin memperhatikan permainan Justin.


"Kamu bisa langsung rush mereka dan membuat squad itu menjadi rata" celetuk Luke sambil memperhatikan permainan Justin yang penuh dengan perhitungan dan jebakan, Justin pun tertawa mendengar saran Luke.


"Aku tidak punya peluru sebanyak itu untuk meratakan mereka, tapi aku akan buktikan padamu kalau mereka yang akan rata" dengan yakin Justin mengatakannya, setelah beberapa menit belalu dan Justin pun membuktikan kata - katanya. Dia berhasil memenangkan permainan itu dengan nilai yang sempurna, hal itu membuat Luke kagum.


"Wow... kamu bermain penuh dengan perhitungan" ucap Luke dengan penuh kekaguman melihat cara bermain Justin


"Luke... kadang kita harus diam dulu sebelum merencanakan sesuatu sambil memperhatikan setiap kondisi dan perubahan yang ada, dengan begitu setiap rencana kita akan berjalan sesuai dengan keinginan kita" dengan sindiran Justin mengatakannya, saat itu Luke tahu kearah mana pembicaraan Justin dan membuatnya tertawa.


"Apa yang kamu dapat dari pertemuanmu dengan Luna?" tanya Luke langsung tanpa basa basi lagi, sejenak Justin terdiam sambil memandangi langit - langit rumah.


"Aku tidak mendapatkan apapun dan aku juga gak tahu rencana apa yang sedang Luna lakukan karena dia menolak untuk memberitahuku, tapi aku yakin apapun itu Luna tidak seperti yang kamu pikirkan" jawab Justin dengan tenang mencoba untuk mendapatkan pengertian Luke, namun Luke menanggapinya dengan suara tawanya yang begitu keras.


"Ahaha... Kamu salah sangka dengan pemikiranku" dengan sindiran Luke mengatakannya, sindiran itu membuat Justin menatap Luke dengan heran.


"Aku tidak pernah peduli dengan apa yang akan Luna lakukan, tapi yang aku pedulikan hati si bodoh itu" suara Luke terdengar sedih saat mengatakannya


"Ada apa dengan Jester?" tanya Justin penasaran, sejenak Luke terlihat berfikir mengatur kata - katanya.


"Udah jadi rahasia umum kalau kita pria itu hanya sok kuat diluar namun rapuh didalam, itu sebabnya kita - kita ini jarang bermain perasaan karena takut untuk hancur, tapi Jester berbeda. Dia selalu main perasaan saat jatuh cinta, baik itu Luna, Camilla dan bahkan Naomi. Itu kenapa dia terpuruk kalau patah hati." jawab Luke, raut wajahnya pun menjadi sangat kesal saat dia mengucapkannya.


"Si bodoh itu... dia tidak pantas mendapatkan wanita dengan hati busuk, tapi Jester terlalu polos untuk bisa melihat mana yang berhati busuk dan mana yang baik. Jadi aku hanya ingin melindunginya dari wanita - wanita seperti itu" dengan penuh emosi Luke mengatakannya, Justin hanya tersenyum menatap Luke.


Luke masih mempercayai bahwa Luna, Naomi dan Selena seperti yang dia fikirkan. Hal itu membuat dia bersikeras untuk menjauhkan Jester dari ketiga wanita itu, wajar saja Luke melakukannya jika mengingat dialah yang menemani Jester saat terpuruk sampai bangkit kembali karena Luna dan Luke tahu persis bagaimana hancurnya Jester saat itu. Sebenarnya dia hanya ingin melindungi sabahatnya karena dia tau betul bagaimana Jester jika dihadapkan dengan urusan percintaan.


"Jadi menurutmu.... Luna dan Naomi berhati busuk?" tanya Justin, Luke menggebrak lantai untuk meluapkan emosinya.


"Aku tidak terima dengan sikap Naomi yang menghadirkan Luna dikehidupan Jester!! dia tidak tahu seberapa keras aku dan Harry membantu Jester untuk bangkit dan dia seenaknya menghadirkan penyakit lagi dikehidupan Jester!!" bentak Luke dengan sorot mata yang terpancarkan kebencian saat menyebut nama Luna dan Naomi


"Kalau aku mengatakan kamu salah paham terhadap Naomi, kamu mau dengar alasannya gak?" tanya Justin dengan tenang, Justin sangat memahami Luke yang begitu meledak - ledak ketika berurusan dengan sahabat - sahabatnya.


"Tidak ada kesalahpahaman!" bentak Luke, Justin pun menghela nafasnya menghadapi keras kepalanya Luke.


"Oke, tidak ada kesalahpahaman. Tapi bisa kamu jelaskan kenapa Naomi menjadi pacar setingan Jester?" tanya Justin memancing Luke, mendengar pertanyaan itu membuat Luke tersentak.

__ADS_1


"Katakanlah kamu Luna dimana saat itu papa Jester datang mendadak ke kampus dan membuat keributan, bagaimana cara kamu mengatur Naomi agar bertemu dengan Jester untuk pertama kalinya ditengah kacaunya situasi saat itu?" tanya Justin mencoba memancing logika Luke agar dia sadar jika dia hanya salah paham terhadap Naomi, Luke menatap Justin dengan kesal.


"Sial, kamu ada benarnya juga" Nada bicara Luke mulai merendah karena mengakui kekalahan logikanya, sejenak mereka berdua terdiam.


"Apa tujuan Naomi menghadirkan Luna? aku gak bisa menebak motifnya dari tadi" tanya Luke yang mulai tenang


"Tujuan Naomi... agak sulit buat ditarik kesimpulan kalau bukan dia sendiri yang menjawabnya" jawab Justin tanpa beban, jawaban itu kembali menyulut emosi Luke.


"Mana mungkin dia akan mengaku?!! jika semua maling mengaku penjara akan penuh!!" bentak Luke penuh emosi, namun Justin tertawa merespon bentakan Luke saat itu.


"Kalau begitu berarti Naomi akan berbicara jujur padamu tentang tujuannya, kenapa kamu tidak tanyakan langsung padanya dan cari kebenarannya sendiri" dengan sindiran Justin mengatakannya


"Ooi Luke, pria sejati tidak pernah bertele - tele. Kalau ada sesuatu yang mengganjal maka pria sejati akan langsung bertanya pada yang bersangkutan" Justin terus menekan Luke agar dirinya bertanya langsung kepada Naomi agar kesalahpahaman mereka dapat segera selesai. Perkataan Justin itu membuat Luke kesal, namun yang dikatanyannya itu benar hanya saja Luke malu untuk mengakuinya.


Disisi lain dirumah Jester dan Naomi setelah momen sarapan yang penuh dengan drama antara Naomi dan Luna, akhirnya Jester merasakan ketenangan di ruang keluarga dengan kesendiriannya. Naomi, Luna dan Selena terlihat berkumpul di kamar sedang mengobrolkan hal - hal yang tidak penting, berbagi tips berdandan, membahas trend fashion kedepan, dan hal - hal lain yang berkaitan dengan persiapan ulang tahun Jester.


Jester yang saat itu sedang bermain game di handphonenya dengan tenang akhirnya terganggu dengan suara ketokan pintu utama rumah, dengan berat hati Jester berdiri dari rebahannya dan melangkahkan kaki untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka Jester dikagetkan dengan kedatangan Marrie dan Naoko yang tersenyum menatapnya, Jester pun diselimuti perasaan panik melihat kehadiran Naoko. Yaah... bagaimana pun dengan adanya Luna dirumah pasti akan menimbulkan kesalahpahaman.


"Pagi Jester" sapa Naoko dan Marrie bersamaan


"Waa... mama? Ibu? Kenapa pagi - pagi datang ke...." belum selesai Jester bertanya, tangan Marrie langsung mencubit perut Jester dengan sangat keras.


"Mana sopan santunmu Jess?!!" tanya Marrie memarahi Jester


"AAaaww!! iya iya mama!! Selamat pagi mama ibu! duuh...." sapa balik Jester dengan rintihan kesakitan, Naoko tertawa melihat perlakuan Marrie pada Jester saat itu.


"Aaa itu... Naomi ya... dia sedang.. dikamar, jadi mungkin gak dengar ada ketokan pintu... yaa, begitu lah ibu" terbata Jester menjawab pertanyaan Naoko, namun jawaban Jester membuat senyum Naoko menghilang.


"Begitu... dia tidak menemanimu ya..." dengan suara yang terdengar sedikit marah Naoko mengatakannya, hal itu membuat Jester bertambah panik dan bertanya pada diri sendiri apa dia salah bicara. Tidak lama Naomi pun keluar dari kamar dan langsung berlari mendekati pintu utama rumah setelah mendengar suara Naoko, ketika sudah dekat Naomi langsung menundukkan badan memberi hormat kepada Naoko dan Marrie.


"Selamat pagi ibu... mama... maaf tidak menyambut dengan baik" suara Naomi pun tersirat ketakutan saat mengatakannya.


"Naomi... kenapa tidak berada disebelah Jester? apa kamu ada kesibukan dikamar?" tanya Naoko dengan tekanan, mendengar nada bicara Naoko yang berubah membuat Jester memahami kesalahannya saat menjawab pertanyaan Naoko.


"Maaf ibu.., aku tadi..." belum selesai Naomi berkata Jester pun memotong.


"Tadi Naomi aku suruh berdandan!! iya.. tadi karena wajahnya kusam sehabis masak dan mandi, aku suruh dia segera berdandan! benarkan Naomi?!" timpal Jester sedikit terbata karena kepanikannya sendiri, Naomi yang saat itu masih menundukkan badannya sedikit menoleh menatap Jester.


"Aah.. Eeh.. iya ibu, tadi Jester..." belum selesai Naomi bicara, Marrie kembali mencubit perut Jester


"AAAAAA!! mama!!" Jester pun berteriak kesakitan lalu mengelus perut bekas cubitan Marrie, dengan tatapan penuh amarah Marrie menatap Jester.


"Apa - apaan permintaanmu itu?! berdandan itu ribet tau, lagian kalian gak mau keluarkan?!" bentak Marrie, bentakan Marrie membuat Jester berkeringat dingin karena ketakutan.


"Itu bukan permintaan yang sulit, kita memang harus tampil cantik didepan suami. Justru Naomi yang tidak tahu diri sampai harus disuruh Jester untuk berdandan" bantah Naoko dengan suara yang menekan, Marrie pun menatap Naoko masih terlihat marah.

__ADS_1


"Tapi kita juga gak bisa terus - terusan harus berdandan! itu permintaan egois dari pria!!" Marrie pun membantah perkataan Naoko


"Aku tidak tahu bagaimana kamu bersikap kepada William san, tapi aku sudah menanamkan prinsipku pada Naomi" dengan sindiran Naoko mengatakannya, Jester dan Naomi pun dibuat bingung mendengar pertengkaran Marrie dan Naoko karena hal sepele. Seakan mereka anak yang tertukar, Naoko terlihat membela Jester sedangkan Marrie membela Naomi.


Ditengah perdebatan antara Naoko dan Marrie terlihat kepanikan dari raut wajah Jester dan Naomi, mereka cemas tentang keberadaan Luna yang bisa saja diketahui oleh ibu mereka. Dalam hati mereka masing - masing berharap Luna tetap berada didalam kamar. Mereka belum siap kalau harus menjelaskan tentang Luna, kemarahan Naoko menjadi momok yang paling mereka berdua takutkan. Tetapi Jester dan Naomi berusaha sebisa mungkin untuk tenang agar Naoko dan Marrie tidak curiga.


"Aaa.. mama, ibu... haruskah bertengkar sep..." belum selesai Jester berkata, Naoko dan Marrie menatap Jester dengan penuh amarah.


"Diam!!" serentak Marrie dan Naoko mengatakannya, mental Jester pun mendadak menciut.


"Maaf mama... ibu... masuklah dulu, tidak enak jika ribut diluar seperti ini..." ucap Naomi terdengar ketakutan, mendengar perkataan Naomi saat itu membuat Marrie dan Naoko terdiam beberapa saat.


"Ehem... iya ya, kenapa kita malah bertengkar seperti ini" celetuk Naoko sambil memperbaiki gestur tubuhnya agar terlihat anggun kembali


"Duuh~ malu harus sampai diingatkan Naomi~" timpal Marrie terdengar malu dengan sedikit tertawa


Keduanya pun masuk kedalam rumah dan segera menuju ruang keluarga, disana Jester, Marrie, Naoko dan Naomi duduk disofa. Dengan segelas teh buatan Naomi yang sudah tersedia dimeja, kedatangan mendadak Marrie dan Naoko saat itu memberi tanda tanya besar dikepala Jester dan Naomi. Tidak lama Marrie pun memberikan Naomi dan Jester beberapa dokumen yang berisi tentang profil wedding planner, terkejutlah Jester dan Naomi melihat Marrie dan Naoko yang sudah menyiapkan pernikahan mereka.


"Kalian pilihlah wedding planner yang sudah kami seleksi dengan ketat itu, semua susunan acara, dan detail - detail lainnya juga sudah mereka jabarkan diproposal. Tapi kami tetap sarankan carilah wedding planner yang juga memiliki kerjasama dengan wedding organizer agar persiapannya lebih sempurna" ucap Marrie saat melihat Jester dan Naomi termenung karena terkejut


"Kenapa melamun? kalian ini mau menikah malah tidak punya semangat sama sekali" celetuk Marrie terdengar kesal melihat respon Jester dan Naomi


"Waa!! kenapa harus dipersiapkan sekarang?!! kan masih sebelas bulan lagi?!!" dengan panik Jester bertanya, namun kepanikan Jester malah direspon dengan suara tawa Marrie dan Naoko.


"Jester, pernikahan kalian tinggal sepuluh bulan lagi. Waktu terus berjalan dan kamu tidak menyadarinya?" tanya Naoko terdengar heran


Banyaknya konflik yang di alami Jester dan Naomi membuat mereka tidak sadar waktu berlalu begitu cepat, sampai tidak sadar waktu pernikahan mereka hanya tersisa sepuluh bulan lagi. Belum sempat memikirkan hubungan yang baru saja terjalin dengan indah, kehadiran Luna diantara keduanya semakin membuat Jester dan Naomi tidak sempat membahas rencana pernikahan mereka.


"Kenapa? kalian tidak ingin segera menikah?" tanya Marrie dengan nada yang terdengar mencurigai mereka, suara Marrie saat itu membuat Jester dan Naomi panik.


"Bukan! bukan gitu, duuh ini pembicaraan yang membuat malu!" jawab Jester masih terdengar panik, Naoko dan Marrie pun sama - sama mengerutkan dahi mereka karena heran dengan jawaban Jester.


"Malu? kenapa malu?" tanya Naoko


"Aaa.. anu... aa duh gimana ya? cuma aku masih tidak menyangka.... akan segera menikah... dengan Naomi..." terbata Jester mengatakannya, wajahnya pun memerah saat mengatakannya. Jawaban Jester ketika itu membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester dengan wajah yang terkejut, tidak terasa wajahnya pun memerah.


"Aku.... bersedia jadi istrimu... kalau kamu tidak keberatan dengan semua kekuranganku..." timpal Naomi yang juga terbata saat mengatakannya, Jester dan Naomi pun saling menatap dengan malu - malu yang membuat Marrie dan Naoko merasa geli sendiri.


"Dasar darah muda! jangan membuat kami iri, kami juga ingin muda kembali dan merasakan jatuh cinta!!" bentak Marrie, perkataan Marrie membuat Naoko tertawa.


"Marrie, bagaimana kalau kita segera berangkat?" tanya Naoko


Sikap Naomi kepada Jester dan juga respon Jester terhadap Naomi membuat Naoko dan Marrie meyakini rencana perjodohan mereka berhasil. Mereka yakin hubungan kontrak diantara kedua anaknya berakhir dan menjadi hubungan pacaran yang sebenarnya, hal itu membuat Naoko dan Marrie semakin bersemangat mempersiapkan rencana pernikahan kedua anak mereka.


"Kemana?" Jester menimpali dengan pertanyaan, Marrie pun tersenyum menatap Jester.

__ADS_1


"Membuat cincin pernikahan kalian, Ayoo kita segera pergi!!" dengan penuh semangat Marrie berdiri, namun tiba - tiba Luke dan Harry muncul hendak masuk kedalam ruang keluarga. Dengan wajah Terkejut Luke dan Harry langsung memberi salam pada Marrie.


"Selamat pagi Nyonya Marrie!" sapa Luke dan Harry kepada Marrie.


__ADS_2