
Siang hari di Gates Tower, Mercedes Benz S450 terlihat melaju pelan dan berhenti didepan lobby gedung. Dengan segera supir keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk penumpang belakang, begitu pintu terbuka Jester keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam gedung. Disana Jester banyak mendapat ucapan selamat siang dari para karyawan, Jester membalas sapaan mereka dengan gestur tangan dan senyuman.
Didalam lift Jester terdiam menatap wajahnya yang terpantul dari pintu cermin lift, terlihat wajah Jester yang sangat marah baik dari sorot mata dan ekspresi wajahnya. Namun suara Naomi yang tidak ingin dirinya menjadi seperti Arthur terngiang didalam otaknya, kedua tangannya langsung menepuk kedua pipinya untuk menguatkan tekadnya agar tetap menjadi Jester yang seharusnya.
"Redam amarahmu Jester! Jangan buat Naomi sedih" gumam Jester dan tidak lama pintu lift terbuka
Jester melangkahkan kakinya dengan mantap untuk menuju ruangan miliknya dimana teman - temannya sedang menunggu, hatinya sudah dia kuatkan untuk berhadapan dengan Daniel yang sudah membuat semuanya berantakan. Namun Jester juga memahami jika perbuatan Daniel merupakan hasutan dari Camilla, setelah mendengar cerita Camilla kini Jester dapat mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.
Di depan pintu ruangannya, Jester membuka pintu dan melihat Sarah, Luke, Harry, Justin, Selena, Grece dan Daniel duduk di sofa dalam ruang presiden direktur. Tatapan mata Daniel terlihat begitu tajam menatap Jester, sedangkan Jester dengan berwajah datar terus berjalan mendekati Daniel lalu duduk di sofa berhadap - hadapan langsung dengan Daniel.
"Gimana kabarmu?" tanya Jester memecah keheningan, pertanyaan Jester mematik emosi semuanya sampai membuat Luke menggebrak meja.
"Apa - apaan pertanyaan mu itu?!! ini bukan saatnya berbicara santai Jester!!" tanya Luke dengan bentakan, Sarah menepuk pundak Luke cukup keras.
"Jaga emosimu, Luke!" bentak Sarah, mendapat bentakan itu membuat Luke menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan emosinya yang meletup - letup.
"Jadi.. gimana kabarmu?" tanya Jester lagi setelah Luke terlihat lebih tenang
"Baik" jawab Daniel singkat
"Tinggalkan kami berdua" perintah Jester, lagi - lagi perkataan Jester mematik emosi teman - temannya.
Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan Jester lakukan kepada Daniel, tetapi Luke merasa sedikit menyesal meminta Jester untuk menahan amarahnya untuk Daniel. Jika saja tidak ada perintah dari Naomi agar Jester tidak mengulang kesalahan Arthur, Luke pasti membiarkan Jester untuk menghabisi Daniel.
"Hei Jester, kami juga ingin dengar apa alasan dia melakukan ini dan siapa aktor dibelakangnya. Biarkan kami tetap disini" ucap Harry memaksa
"Ini sudah keterlaluan Jester! apa kamu..." belum selesai Luke berkata, Jester memotong
"Aku sudah belajar untuk mengendalikan emosiku sesuai katamu di restoran keluarga beberapa hari yang lalu" timpal Jester dan perkataan itu membuat teman - temannya terdiam.
"Kami memang mengatakan itu, tapi kamu terlalu santai Jess" ucap Justin terdengar kecewa, Jester menghela nafasnya dan menatap Justin.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang bisa membuat Naomi sedih, tolong tinggal kan kami berdua" Jester kembali memberi perintah kepada teman - temannya, Sarah menjadi orang pertama yang berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu disusul teman - temannya yang lain. Pintu tertutup rapat, tersisa lah Jester dan Daniel yang terus saling menatap.
"Aku tidak akan bicara siapa yang..." belum selesai Daniel berkata, Jester memotong.
"Aku sudah tahu siapa dan tentang alasan dibalik tindakannya" timpal Jester dengan tegas, Daniel pun dibuat terkejut dengan perkataan Jester.
Rasa waspada dan ketakutan mulai mengganggu Daniel, sejenak dia melupakan bahwa lawannya adalah Gates dengan segala kekuasaan terbesar di kotanya.
"A.. apa Camilla yang mengatakannya padamu?" tanya Daniel mencoba memastikannya, Jester hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Daniel.
"Sial! dia memang tidak bisa dipercaya!!" penuh emosi saat Daniel mengatakannya
__ADS_1
Tidak ingin memperdulikan kemarahan Daniel, dengan segera Jester mengajukan pertanyaan yang selama ini ingin Jester ketahui terhadap Daniel.
"Aku hanya membutuhkan alasan dari tindakanmu menerima perintah Camilla, apa yang ingin kamu tuju?" tanya Jester menekan Daniel
"Aku ingin memiliki Naomi dan merebutnya darimu" jawab Daniel dengan tegas, Jester menghela nafasnya sejenak sebelum merespon jawaban Daniel.
Jawaban Daniel memicu emosi Jester, namun Jester berusaha keras untuk menahan amarahnya. Bagaimanapun tindakan Daniel membuat kondisi Naomi sangat hancur. Keadaan yang begitu sulit saat ini sedang Jester hadapi, sikap Daniel yang menyiratkan tidak ada penyesalan membuatnya ingin sekali meluapkan kemarahannya kepada Daniel, namun terhalang oleh permintaan Naomi.
"Apa kamu tahu kondisi Naomi atas tindakanmu?" tanya Jester, Daniel hanya terdiam sembari membuang mukanya.
"Jadi kamu tidak tahu ya? baik, akan aku beri tahu. Dia kehilangan ayahnya, kehilangan statusnya sebagai selebgram, dan mentalnya sudah sangat jatuh" terdengar sedih saat Jester mengatakannya, walau terlihat kaget dengan kondisi Naomi namun Daniel berusaha untuk tetap tidak peduli dengan yang Jester katakan tentang Naomi.
"Aku tahu kamu peduli" celetuk Jester, mendengar perkataan Jester membuat Daniel emosi.
Sebuah pernyataan yang membuat Daniel salah tingkah, dalam hati kecilnya terdapat penyesalan namun Daniel bersikeras untuk menutupi perasaannya dihadapan Jester.
"Tahu apa kamu tentangku?!!" tanya Daniel dengan bentakan, Jester menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Daniel.
"Aku memang tidak banyak tahu tentangmu kecuali fakta jika kamu selalu menyakiti Naomi" jawab Jester, jawaban Jester kembali mematik emosi Daniel.
"Aku melakukan itu semua untuk merebutnya kembali darimu!! kamu pengganggu hubungan..." belum selesai Daniel berkata, Jester memotong.
"Sikapmu yang membuat Naomi pergi darimu!!" timpal Jester dengan bentakkan juga, keduanya terdiam dan saling menatap untuk beberapa saat.
"Jujur aku ingin menghajar mu, membalaskan semua dendam ku dan melampiaskan semua kemarahan ku padamu. Tapi aku tidak bisa lakukan itu karena Naomi memintaku untuk terus menjadi diriku apapun yang terjadi. Apa yang Naomi pesankan kepadamu ketika kalian masih bersama?" tanya Jester dengan tekanan namun nada bicaranya kembali tenang, mendengar pertanyaan Jester membuat Daniel sejenak terdiam seakan sedang mengingat pesan Naomi kepadanya.
"Buatlah konferensi pers untuk meluruskan semuanya karena apapun yang Camilla janjikan padamu semua bohong" perintah Jester pada Daniel, penyebutan nama Camilla ditengah - tengah pembicaraan mereka membuat Daniel terkejut.
"Aku...." belum selesai Daniel berkata, Jester memotong
"Kamu tidak memiliki pilihan, Camilla membohongimu karena kamu pernah menyakitinya ketika kalian masih berpacaran dulu" timpal Jester dan membuat Daniel terkejut, namun Daniel seakan membantah perkataan Jester dengan merubah ekspresi terkejutnya dengan senyum sinis.
"Apa Camilla juga yang menceritakan itu?" tanya Daniel dengan nada yang terdengar menyindir
"Apa ada yang salah?" tanya balik Jester
"Tidak, itu terserah kamu saja untuk menjadi pria yang suka bergosip dengan seorang wanita" jawab Daniel kembali menyindir Jester, dengan sedikit suara tawa Jester merespon sindiran Daniel.
"Aku semakin paham kenapa kamu menjadi alat Camilla untuk balas dendam kepadaku" sindir balik Jester kepada Daniel, mendapatkan sindiran itu membuat Daniel sedikit terpancing emosi namun Daniel menyadari posisinya yang berada ditempat Jester.
"Kita mencintai satu orang yang sama, namun dengan cara pendekatan yang berbeda. Aku tidak merasa aku memperlakukan Naomi lebih baik darimu tapi seperti yang sudah pernah aku katakan padamu bahwa... kamu telah diberi kesempatan dan kamu gagal" ucap Jester dengan sedikit tekanan, Daniel mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Jester dan tidak terima dengan apa yang Jester katakan.
"Kita sama - sama seorang pria, kita ditakdirkan untuk menemani wanita yang kita cintai dan membuatnya bahagia. Tentu tidak selamanya kita bisa membuatnya bahagia tapi... itulah takdir kita sebagai seorang pria yaitu berusaha keras untuk kebahagiaan orang yang kita cintai, apa kamu sepakat denganku?" tanya Jester, mendengar perkataan Jester membuat Daniel merasa malu lalu membuang muka menghindari bertatapan mata dengan Jester.
__ADS_1
"Naomi dalam keadaan terpuruk dan jatuh dalam kegelapan, dia menyesali dirinya yang hidup dan berpikir jika mati lebih baik saat ini" ucap Jester meneruskan kalimat sebelumnya, perkataan Jester membuat Daniel terkejut sampai kembali mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"A..apa maksudmu?" tanya Daniel dengan nada yang terkejut
"Ada satu momen dimana dia jatuh dari pohon dan ayah menyelamatkannya, dia merasa jika itu adalah momen paling dia sesali dalam hidupnya.... jika dia bisa memilih maka... Naomi menginginkan mati disaat itu" jawab Jester dengan nada yang terdengar sedih, Daniel pun terkejut mendengar jawaban Jester.
"Bi.. bisakah aku bertemu dengan Naomi?" tanya Daniel terbata, mendengar permintaan Daniel itu sedikit membuat Jester terpancing emosinya.
"Buat apa?" tanya Jester menekan
"Maaf saja tapi aku katakan secara terus terang, aku tidak mempercayaimu" jawab Daniel dengan penuh keraguan, Jester terdiam menatap Daniel.
"Bisa saja kamu mengarang cerita tentang Naomi, aku ingin melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri" ucap Daniel memberikan alasannya kepada Jester, tiba - tiba Jester berdiri dan hendak pergi dari ruang presiden direktur. Melihat Jester yang tiba - tiba berdiri dan hendak meninggalkannya, dengan sigap Daniel juga berdiri dari duduknya dan menatap punggung Jester.
"Mau kemana kamu?!" agak membentak Daniel bertanya, Jester berbalik dan menatap Daniel
"Memenuhi permintaanmu untuk bertemu Naomi" jawab Jester datar lalu kembali berbalik dan kembali berjalan keluar dari ruangan, Daniel melangkahkan kakinya mengikuti Jester.
Diluar ruangan terlihat Luke, Harry, Justin, Grece, dan Selena berdiri menatap Daniel yang baru saja keluar dari ruangan Jester, dengan tatapan tajam dan penuh kebencian mereka semua kompak menatap Daniel. Tatapan itu berhasil membuat nyali Daniel menciut namun dia berusaha untuk tidak mempedulikan, terlebih kenangan buruknya bersama Luke membuatnya takut akan sosok tinggi besar itu.
Jester dan Daniel berjalan bersama meninggalkan Gates Tower dan dengan Mercedes Benz S450 yang dikendarai oleh supir pribadi Jester, mereka berdua menuju rumah keluarga Scott. Empat puluh menit yang dibutuhkan mereka hingga sampai didepan pelataran rumah keluarga Scott, tidak lama terlihat pintu utama terbuka disaat Jester dan Daniel masih berada didalam mobil.
Naomi keluar dari balik pintu dengan rambut yang masih sedikit berantakan, kantung mata yang menghitam, wajah yang pucat pasi terlihat tidak memiliki gairah hidup, dan jalannya yang lunglai.
Daniel menatap kondisi Naomi dari balik kaca jendela dan terlihat sangat terkejut, kondisi Naomi membuat Daniel merasa sangat bersalah. Sempat terdiam dan mematung, namun tepukan tangan Jester di bahu Daniel membuatnya tersadar dari lamunan.
"Apa kamu tetap pada pendirian mu jika aku mengada - ada?" tanya Jester, Daniel hanya terdiam menatap mata Jester.
Tidak lama Jester turun dari dalam mobil dan langsung menatap Naomi dengan senyuman, melihat jester yang tersenyum membuat Naomi ingin membalas senyum itu. Dengan berat, garis senyum Naomi pun terangkat perlahan, matanya yang sembab pun mengecil menunjukkan kuatnya usaha Naomi untuk tersenyum saat berhadapan dengan Jester.
"Selamat datang Jess.... maaf aku tidak sempat memperbaiki penampilanku, kamu datang tiba - tiba. Aku tidak ingin kamu menunggu ku terlalu lama disini" terdengar serak Naomi mengatakannya, Jester pun memahami jika Naomi baru saja berhenti menangis sebelum mereka bertemu baru - baru ini.
"Kamu selalu nampak cantik, aku tidak keberatan" timpal Jester sembari berjalan mendekati Naomi lalu kemudian memeluknya dengan erat namun lembut, Naomi perlahan membalas pelukan Jester dan menikmati hangatnya tangan Jester.
"Aku merindukanmu..." dengan lembut Jester mengatakannya, Naomi menganggukkan kepalanya di dada Jester untuk merespon perkataannya. Perlahan Jester melepaskan pelukannya, dengan wajah serius dan tatapan mata yang tajam Jester menatap wajah Naomi.
"Naomi... aku sudah melakukan apapun yang kamu minta, aku bisa menahan amarahku dan menatap semuanya dengan sudut pandang yang berbeda agar tidak menambah buruk keadaan. Sekarang ada yang aku ingin minta darimu" pinta Jester dengan suara yang sedikit menekan, Naomi pun terlihat heran
"Apa itu?" tanya Naomi penasaran, Jester berbalik dan memberi gestur tangan agar Daniel keluar dari mobil.
Daniel keluar dari mobil dan berdiri mematung menatap Naomi dengan wajah penuh rasa sesal, tanpa kata apapun saat itu Daniel hanya terus menatap Naomi.
Sorot matanya tajam menatap sosok yang berada didepannya dengan jelas, degup jantungnya tak menentu dan badannya sedikit bergemetar. Kepalan jari - jemarinya terlihat begitu erat dia genggam, seraut wajah yang sebenarnya tidak ingin Naomi lihat lagi harus berada dihadapannya, wajah yang ditatapnya dengan penuh rasa marah. Sebelum pada akhirnya pandangan matanya kabur dan sosok Daniel semakin samar terlihat olehnya. Pandangan matanya yang sedari tadi tajam tiba - tiba tertutup perlahan lalu badannya yang sempat mampu dia topang akhirnya kini tumbang dan jatuh dalam pingsannya.
__ADS_1
Jester menopang tubuh Naomi dan mencoba untuk menyadarkan Naomi dari pingsannya, namun kesadaran Naomi semakin hilang sampai - sampai suara panggilan Jester kepadanya pun tidak terdengar lagi.
Dibantu oleh beberapa penjaga rumah dan perawat kebun rumah keluarga Scott, Jester pun membopong Naomi untuk menuju kamarnya. Sedangkan Daniel hanya dapat mematung menatap punggung Jester yang semakin jauh memasuki rumah,