
Pagi mendung dan hujan di taman pinggir kampus, sebuah gazebo terlihat berdiri kokoh ditengah - tengah taman dan menjadi tempat untuk berteduh juga menikmati indahnya bunga - bunga dan tanaman hias yang diguyur hujan disekitar taman sembari menunggu hujan reda. Didalam gazebo itu terlihat dua orang sedang berdiri dan saling menatap, mereka adalah Jester dan Camilla.
Bunyi air jatuh karena hujan kala itu seakan menutupi pembicaraan keduanya, Camilla masih tidak dapat menghentikan tawanya sedangkan Jester hanya terdiam dan terus menatap tajam wajah Camilla yang seakan menunjukkan kepuasannya telah menghancurkan hidup Naomi dan juga Jester. Saat itu Jester merasa dugaan sahabat - sahabatnya terhadap Camilla memang benar.
"Haah... perutku sakit karena terlalu banyak tertawa" celetuk Camilla sembari berusaha menahan tawanya
"Kenapa kamu lakukan ini? apa karena janjiku yang aku ingkari itu?" tanya Jester ketika Camilla sudah berhenti tertawa.
"Jester... Jester... sampai kapan kamu menjadi bodoh seperti itu? aku tidak peduli dengan janjimu, karena tujuanku adalah menghancurkan semua yang bisa membuatmu bahagia semampuku. Seakan takdir memberiku kesempatan itu, aku sudah melakukannya dengan sangat baik" terdengar senang Camilla mengatakannya dengan tatapan yang menunjukkan kebencian, Jester semakin heran dibuatnya.
Kalimat yang Camilla ucapkan begitu tertata dengan baik, nada bicaranya tenang dengan suara yang terdengar sedikit berat. Matanya tajam menatap Jester seakan menampilkan rasa benci dan amarah, tidak ada lagi suara bergemetar seakan ketakutan seperti yang sempat Camilla tunjukkan sebelumnya. Badannya tegap dengan kedua tangan yang dia lingkarkan diperutnya.
"Aah sudahlah~, aku juga sudah tahu apa yang akan kamu lakukan padaku jadi aku akan bongkar apapun yang ingin kamu ketahui. Aku mulai dari mana?" tanya Camilla dengan senyum manisnya menatap Jester. Ekspresinya dengan begitu cepat mudah berubah begitu saja.
"Apa alasanmu?" tanya Jester dengan singkat
"Alasan ya? hmm.... balas dendam~" jawab Camilla dengan manja, dahi Jester pun mengernyit ketika mendengar jawaban Camilla.
"Kepadaku? atau Naomi? apa karena Daniel mantan pacarmu?" tanya Jester lagi menekan Camilla, namun lagi - lagi Camilla tertawa terbahak - bahak.
"Hahahaha... Aaah~ Jester, tentu saja aku ingin balas dendam padamu. Kamu satu - satunya obsesi ku untuk meluapkan semua kegilaan ku di dunia yang busuk ini, kamu juga satu - satunya alasan bagiku agar berhenti untuk berfikir tentang bunuh diri" jawab Camilla
__ADS_1
Kembali Jester dibuat bingung dengan sikap terlebih jawaban Camilla yang menyebutkan kata bunuh diri, selama ini Jester mengenal Camilla dengan sosok yang berbeda dari sosok yang dia hadapi saat itu. Tidak ingin terpancing emosi dan terbawa suasana, Jester mencoba tetap tenang menghadapi Camilla.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? apa yang aku lakukan kepadamu?" Jester kembali dibuat bingung dengan jawaban Camilla, seakan sedang berbicara dengan orang yang memiliki gangguan kejiwaan membuat Jester harus terus bersabar untuk mendapatkan jawaban yang pasti.
"Secara pribadi aku dan kamu tidak memiliki masalah, tapi keluargamu yang telah menciptakan monster sepertiku Jester~" jawab Camilla dengan nada yang terdengar manja
"Kakekku ya... apa dia membunuh keluargamu?" tanya Jester
"Sayangnya tidak, aku berharap kakek mu bunuh saja iblis itu... kenapa kakek mu biarkan dia tetap hidup? aku sudah dengar reputasi keluargamu dengan semua kasusnya... tapi kenapa? kenapa kalian biarkan iblis itu tetap hidup!!!" bentak Camilla begitu marah, kemarahan Camilla membuat Jester semakin tidak dapat memahami Camilla.
"Ceritakan padaku" dengan singkat Jester meminta Camilla untuk mengatakannya, namun Camilla tiba - tiba tertawa terbahak - bahak kembali.
"Ahahaha... buat apa? dengan semua yang aku lakukan, kamu akan segera memisahkan aku dari dunia busuk ini kan? aku menunggu itu Jester~" tolak Camilla dengan nada manjanya, Jester menghela nafas sebelum merespon perkataan Camilla.
"Aku begitu ingin menghancurkan mu, rasanya sampai membuatku bergemetar!" begitu emosi Jester mengatakannya, melihat ekspresi wajah Jester membuat Camilla kehilangan senyumnya. Wajah ketakutan kini terlihat diwajahnya, namun Jester menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Naomi memintaku untuk bisa menyelesaikan masalah ini seperti diriku yang dia kenal, jadi sekarang aku ingin menyelesaikannya sesuai dengan yang Naomi katakan. Aku ingin tahu, apa alasanmu dibalik semua tindakan bodoh ini" dengan nada yang datar Jester mengatakannya, Camilla kembali tersenyum.
"Kalian pasangan terbodoh yang pernah aku tahu, Baik~ aku akan ceritakan kenapa aku seperti ini" Camilla kembali tersenyum manis menatap Jester saat mengatakannya
***UNTUK BEBERAPA EPISODE KE DEPAN, ALUR CERITA MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI CAMILLA***
__ADS_1
Namaku Camilla McBride, anak tunggal dari keluarga McBride. Konon katanya ketika aku dilahirkan, ayah dan ibuku sangat senang. Mereka berdua sering memuji kecantikan ku, kepintaran ku, dan semua hal - hal yang aku lakukan, terdengar seperti keluarga harmonis yang bahagia bukan? namun itu dulu dan aku sudah lupa kapan terakhir ayah dan ibuku melakukannya lagi untukku.
Semua dimulai ketika ayahku bekerja untuk keluarga Gates, dia bekerja sebagai ahli keuangan di perusahaan induk Gates family Grup dan merupakan salah satu orang penting disana. Meski hanya pegawai, namun kedudukannya sangat tinggi dan satu dari sekian orang yang pendapatnya selalu didengar oleh presiden direktur disana. Sejak saat itu aku merasa seperti seorang putri bangsawan dengan semua kemewahan yang selalu mengikuti, sebuah kehidupan yang banyak didambakan oleh kebanyakan orang.
Sejak sekolah dasar aku sudah terbiasa bersekolah bersama anak - anak para pejabat, pengusaha - pengusaha sukses, dan tidak ada satupun yang memandang rendah diriku. Aku sangat menikmati itu, seakan aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Namun semua itu tidak pernah membuatku terbang, aku hanya menikmati hidupku dengan datar karena aku memang tidak menyukai semua kemewahan itu.
Tragedi ku dimulai ketika awal aku menginjak kelas satu SMA, semua berubah total. Ayahku terbukti melakukan penyelewengan dana perusahaan, semua asetnya disita oleh perusahaan dan ayahku dipecat dari pekerjaannya. Tak hanya itu keluarga ku harus pindah ke perumahan pinggir kota, tidak ada satu pun yang tersisa dari semua kemewahan kami kecuali kenyataan aku tetap dapat bersekolah di sebuah SMA ternama karena prestasi dan beasiswaku.
Apa aku dendam karena itu? tidak, aku pun turut mengecam apa yang sudah ayahku lakukan walau itu hanya ada didalam hati. Ketamakannya yang menghancurkan dirinya sendiri dan keluarga, ketamakan yang seharusnya dapat dia redam namun dia memilih untuk terus dan terus mengambil yang seharusnya bukan miliknya. Ketamakan yang membuatku marah, benci, dan tidak sudi memiliki darah yang sama dengannya... Ya... aku membencinya.... aku benci memiliki darahnya...
Bukan aku tidak tahu berterima kasih, bukan pula aku ingin menjadi anak tidak tahu diri.... tapi sejak itu.... semua berubah... aku sudah tidak mengenal lagi sosok yang seharusnya aku panggil ayah ini... sosok yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang anak gadisnya... sosok pelindungku dan menjadi benteng pertama untukku menghadapi kejamnya dunia... Dia... menghancurkan ku...
Ketika mendapatkan pemecatan, ayah mengatakan padaku dan juga ibu jika dia akan bangkit kembali. Namun kebanggaannya terhadap kemampuan menjadi ahli keuangan hancur ketika keluarga Gates selalu ada dibelakang perusahaan - perusahaan yang menolak ayahku untuk bekerja disana, setelah banyak perusahaan yang menolak ayahku di satu titik dia menjadi frustasi dan selalu pulang dalam keadaan mabuk berat.
Entah sejak kapan ayahku memiliki hobi untuk memukuli aku dan ibuku ketika dia sedang kesal, mungkin pengaruh dari setiap alkohol yang dia tenggak... namun itu bisa dia lakukan setiap harinya seakan kami adalah tempat untuk melampiaskan seluruh kekesalannya. Aku masih bisa bertahan untuk itu, walau sering kali aku kesulitan untuk menutupi bekas - bekas pukulan ayahku ketika aku akan berangkat sekolah.
Itu bukanlah bagian terburuk yang pernah terjadi padaku, bagian terburuknya adalah ketika keluarga kami benar - benar dalam keadaan terdesak. Keuangan kami benar - benar sudah menipis... tepat pada hari kamis pada malam harinya, ayah mengajakku ke sebuah cafe dimana kata ayah aku bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu di cafe milik temannya itu.
Ketika aku sampai disana, teman ayahku menyambut kami dengan baik. Aku dan ayah diajak berkeliling di cafe yang luas itu untuk diajarkan bagaimana cara bekerja disana, tapi entah sejak kapan hingga disebuah ruangan dengan sofa dan karaoke set ayah tidak lagi berada disekitar kami. Pria itu menutup pintu ruangan itu, mengetahui kini aku dan dia hanya berdua membuatku ketakutan.... tatapan matanya juga seakan menggambarkan apa yang sedang dia pikirkan tentangku....
"Tuan... apa ini? tolong buka pintu itu..." pintaku dengan suara yang bergemetar
__ADS_1
"Loh, kamu belum diberitahu ayahmu jika aku akan mempekerjakan mu dengan syarat aku boleh merasakan tubuh indah mu ini" jawab pria itu kepadaku dengan tangannya yang mulai menggerayangi pundak hingga turun ke dadaku