
Pagi indah dengan matahari yang bersinar dengan begitu cerah, di jalanan perkotaan yang ramai dan padat. Pertemuan antara Naoko dan Marrie terjadi di sebuah restoran hotel Gates tepat di jam yang sama dengan Jester dan Naomi melakukan kegiatan di kampus. Naoko dan Marrie duduk saling bertatapan mata disalah satu meja restoran itu, aura - aura kebencian sangat terasa disana membuat para waitress enggan untuk mendekat.
"Bisa langsung katakan apa keperluanmu memintaku menemui mu seperti ini, Marrie Chan?" dengan nada sinis Naoko bertanya, Marrie tersenyum manis menatap Naoko
"Seperti biasanya kamu selalu to the point, tidak bisakah kita sedikit bersantai sedikit, Naoko?" tanya Marrie dengan senyuman, Naoko tetap menatap Marrie tanpa senyum sedikit pun.
"Tolong tunjukkan sedikit sopan santun mu, aku seniormu" masih dengan nada sinis Naoko mengatakannya, Marrie tertawa kecil
"Hohoho, itu benar... tapi aku masuk kelas akselerasi jadi kita ini teman sekelas kan Naoko" timpal Marrie santai dengan nada mengejek Naoko, mendengar ucapan Marrie saat itu Naoko tersulut emosi.
"Itu tidak merubah hal yang pasti, aku tetap seniormu!" Naoko mengatakannya dengan sedikit bentakan, Marrie melipat kedua tangannya di meja dan menatap Naoko dengan senyuman.
"Jadi sedikit nostalgia, 26 tahun yang lalu untuk pertama kalinya kita bertemu dan aku menjadi sainganmu saat itu sebagai primadona sekolah" ucap Marrie, Naoko memajukan badannya sehingga mendekati Marrie yang duduk didepannya dengan meja sebagai pemisah.
"Kamu si nomor dua paling populer di sekolah" Naoko membalasnya dengan nada sinis, Marrie tersenyum sinis
"Tapi aku menjadi nomor satu di ranking pararel sekolah menggeser mu" ucap Marrie tidak ingin kalah, Naoko dengan wajah kesal menatap Marrie
"Aku memenangkan banyak penghargaan sebagai ratu kecantikan dan menjadi ratu prom night mengalahkan mu" ucap Naoko membalas, kali ini Marrie yang terpancing emosinya dan mulai menunjukkan wajah kesalnya
"Aku mengalahkan mu di olimpiade sains dan acara tahunan gimnastik yang dulu selalu kamu menangkan" Marrie kembali membalas, wajah keduanya mulai semakin dekat dengan aura permusuhan yang sangat pekat.
"Kamu pengganggu Marrie Chan" suara Naoko agak meninggi
"Kamu tidak memiliki bakat apapun kecuali kecantikanmu itu Naoko" Marrie membalas dengan pedas
Keduanya saling menatap dengan tatapan sinis dan terdiam beberapa saat, namun mendadak mereka tertawa bersama. Hingga beberapa saat akhirnya mereka saling memperbaiki sikap mereka agar terlihat anggun kembali dan Marrie memanggil waitress untuk mendekat. Marrie berbisik ke waitress yang mendekat dan membuat kesan bahwa Marrie sudah menyusun semuanya, Naoko merasa Marrie sedang mempersiapkan sesuatu untuk melakukan negosiasi dengannya.
"Kenapa kamu repot - repot melakukan ini?" Tanya Naoko membuka keheningan keduanya, Marrie kembali menatap Naoko dan tersenyum.
"Aku ingin menjamu mu dengan baik, boleh dikatakan aku menginginkan gencatan senjata dan.... negosiasi" jawab Marrie sembari menyuruh waitress pergi untuk segera menyiapkan pesanan nya, ekspresi wajah Naoko berubah menjadi khawatir.
Naoko mulai terlihat tidak tenang, kakinya mulai bergerak - gerak tidak jelas dibawah meja. Sedangkan Marrie hanya tersenyum menatap Naoko, sejenak keduanya terdiam.
"Ini semua tentang Jester san dan Naomi kan?" tanya Naoko menatap tajam Marrie, dengan helaan nafas Marrie seakan bersiap untuk menjawab pertanyaan Naoko.
"Sepertinya pepatah dunia tak selebar daun kelor itu benar ya, saat aku menikahi Will kamu datang ke pestaku bersama dengan sahabat Will. Saat itu aku kaget setengah mati" ucap Marrie lalu Marrie menenggak segelas wine yang sudah tersedia sejak tadi di atas mejanya, tangan Marrie terlihat sedikit bergetar saat itu.
"Aku tidak tahu harus berkata apa saat tahu Evans san dan William san bersahabat baik, sepertinya kamu tidak menceritakan kepada William san jika kita bermusuhan" ucap Naoko lalu meminum wine yang ada didepannya, Naoko pun terlihat bergetar saat mengangkat gelas itu.
"Saat SMA jiwa mudaku sangat membara, melihatmu menjadi nomor satu dan mendominasi sekolah aku merasa tertantang untuk menjatuhkan mu" ucap Marrie kembali mengenang masa lalu, kali ini nadanya terdengar penuh dengan penyesalan.
Naoko terkejut mendengar nada suara Marrie tiba - tiba berubah, Naoko menaruh gelasnya dan tertunduk. Naoko lalu menarik nafas untuk menenangkan dirinya, sedangkan Marrie seakan sudah tidak berani menatap mata Naoko.
"Aku mengerti memang seperti itulah darah muda, aku juga tahu kamu melakukan cara curang untuk mengalahkan ku. tapi jangan pikir aku melakukan cara bersih, aku sering menyabotase mu saat itu" timpal Naoko terdengar sangat menyesal, keduanya mulai terdiam beberapa saat.
Kebisuan itu terus berlangsung sampai waitress datang menyajikan hidangan khas jepang yang komplit dan mewah, Naoko kembali menatap Marrie namun Marrie hanya tersenyum menatap Naoko yang terlihat heran. Sepertinya Marrie dengan sengaja merencanakan menu yang dia pesan adalah hidangan khas jepang untuk menghargai Naoko yang berdarah Jepang.
"Gencatan senjata?" tanya Marrie mengatakan itu dengan senyum seperti ingin membuat kesepakatan, Naoko akhirnya tersenyum menatap Marrie.
"Tentu" dengan singkat Naoko menjawab dan tiba - tiba mereka berdua saling menundukkan kepala hingga sedikit membenturkan dahinya ke meja didepan mereka, kelakuan mereka sampai membuat waitress yang sedang menyajikan makanan sedikit tersentak.
__ADS_1
"Tolong ijinkan anakku berpacaran dengan anakmu, mereka sebenarnya sangat cocok sebagai sepasang kekasih" keduanya mengatakan hal yang sama dan kemudian saling mengangkat kepala dan saling menatap, seakan sama - sama tidak percaya mereka akan mengatakan hal yang sama secara bersamaan.
"Hah? kamu berfikiran yang sama denganku?!" keduanya kembali mengucapkan hal yang sama secara bersamaan, agak terdiam beberapa saat mereka pun tertawa bersama.
Acara makan bersama antara Marrie dan Naoko yang awalnya terasa tegang dan penuh dengan aura - aura permusuhan mendadak mencair begitu saja, mereka berdua menikmati hidangan dengan senyum yang merekah lebar, obrolan ringan, saling lempar candaan dan terlihat akrab satu sama lain.
Disisi lain pada saat bersamaan, di kampus pada hari dan jam sama. Naomi berhasil mengetahui jika Grece hanya merekamnya dan bukan melakukan live stream seperti yang ditakuti Naomi sedari tadi, Selena melepaskan kuncian nya dan mulai berdiri mendekati Naomi. Naomi dapat bernafas lega namun Grece terlihat marah saat itu, beberapa kali Grece terlihat memukul lantai.
"Heei kuncian yang bagus, darimana kamu belajar itu?" tanya Jester dengan nada kagum menatap Selena
"Aku kan belajar darimu, saat masih SMA aku ikut ekstrakurikuler judo" jawab Selena malu - malu, Jester bangga mendengar jawaban Selena
"Waah benarkah? aku lupa, jadi kamu semakin kuat sejak saat itu ya?" tanya Jester kagum pada Selena
"Aaah biasa aja... aku hanya menguasai dasar - dasarnya kak" Selena masih malu - malu menjawab pertanyaan Jester
Seakan dicuekin membuat Naomi kesal karena Jester dan Selena malah jadi asyik sendiri sampai melupakan keadaan Naomi.
"Heeiiii!! bisa kan gak cuekin aku?!!" Naomi kesal pada Jester dan Selena, tidak lama Grece duduk dan menatap Naomi dengan tatapan yang sangat marah.
"Naomi!! kamu jahat!! aku akan sebarkan berita ini pada semuanya!!" bentak Grece ditengah obrolan Naomi, Jester dan Selena. perlahan Naomi menatap Grece dengan penuh perasaan bersalah
"Aku tidak bisa membiarkan Video ini tersebar, maaf kalau caraku kasar seperti ini" ucap Naomi sembari menghapus vidio itu dan mengembalikan handphone milik Grece, dengan kasar Grece menarik handphone nya dari tangan Naomi.
"Padahal kemampuan mu itu luar biasa, kenapa tidak boleh disebar?" tanya Jester heran, Naomi menunduk mendengar pertanyaan Jester.
"ini tentang ibuku... jadi tolong... akhir - akhir ini aku sudah melakukan sesuatu yang tidak dapat di maafkan ibu, jika ibuku menyampaikan ke ayah.." agak terbata sambil menarik nafas dalam - dalam Naomi mengatakannya, kata - kata Naomi yang menggantung membuat Jester terlihat bingung
"Tampil sempurna itu seperti apa?" tanya Jester masih bingung, Naomi terlihat kesal dengan pertanyaan Jester.
"Selayaknya seorang putri raja, harus bersikap anggun, berkata yang sopan, dan lain - lain seperti itu" jawab Selena berusaha menjelaskan namun Jester masih bingung
"Cukup, percuma kamu jelaskan. Aku dan dia berada di keluarga yang sangat bertolak belakang" ucap Naomi agak membentak.
Naomi merangkak sedikit lalu duduk bersandar tembok terdekat dengan perasaan lega karena masalah video yang Grece rekam sudah teratasi, di duduknya Grece menatap Naomi dengan penuh perasaan bersalah.
"Sebenarnya aku penggemar beratmu, tapi aku tidak tahu kalau itu bisa membuatmu dalam masalah. aku minta maaf untuk itu Naomi" ucap Grace dengan nada menyesal karena melihat Naomi yang tidak nyaman dengan tindakannya, Naomi tersenyum menatap Grece.
"Aku juga minta maaf, aku panik... huuft... tolong rahasiakan ini ya, please..!" pinta Naomi kepada Grece
"tentu, tapi ada syaratnya dong!" ucap Grece sembari merangkak mendekati Naomi, saat itu Grece mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Naomi yang sudah menempel di tembok
"Bisa agak menjauh? wajahmu terlalu dekat denganku" ucap Naomi terdengar agak panik karena Grece seperti ingin mencium Naomi saat dia terpojok, Jester terkejut menatap Naomi dan Grece.
"Waaa!! ini yang disebut percintaan sesama jenis!!!" agak teriak Jester mengatakannya, Naomi melempar sepatunya ke arah kepala Jester dan tepat mengenai wajahnya.
"Apa - apaan sih Jester?!! jangan teriak seperti itu!!" bentak Naomi kesal, Grece agak menjauhkan wajahnya dari wajah Naomi lalu menatap Jester.
"Kamu Jester yang di video itu kan? jadi kalian bener pacaran ya?" tanya Grece begitu penasaran, Jester terkejut dengan pertanyaan itu lalu menatap Naomi
"Eeee gimana ya? susah buat dijelasin" jawab Jester singkat sembari mengambil kembali sepatu Naomi dan memberikannya pada Naomi, perlahan Grece kembali menatap Naomi dan berharap Naomi segera menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kita berteman ya! aku bisa kok jadi seperti temanmu yang tadi menjegal ku itu, aku juga akan lindungi privasimu dari netizen" bujuk Grace pada Naomi, dengan genggaman tangan yang begitu erat Grece mencoba untuk memaksa Naomi menerima permintaannya.
"Hah? tapi aku tidak mengenalmu" Naomi kaget dengan permintaan Grece, bagi Naomi Grece adalah orang asing yang bisa saja akan membongkar apapun tentangnya.
"Ooh iya aku harus perkenalkan diriku dulu, maaf ya! Namaku Grece Werner anak ke dua dari Turner Werner pemilik jaringan televisi dan media terbesar di negara ini" dengan bangga Grece memperkenalkan dirinya, Jester dan Selena terlihat antusias menatap Grece
"Waah anak pemilik stasiun televisi, bukan kah itu keren? berarti bisa mengorbitkan artis ya" ucap Jester spontan, Selena menatap Jester dengan antusias
"Benar benar, dia juga bisa membuat acaranya sendiri kan" Selena menimpali perkataan Jester, namun Grece terlihat bingung untuk menimpali perkataan Jester dan Selena.
"Hah? tidak seperti itu juga, untuk mengorbitkan artis tidak bisa sembarangan. Setidaknya dia adalah orang yang sudah terkenal dan masalah acara aku memang bisa usahakan tapi tentu tidak semudah itu kan?" timpal Grece berusaha menjelaskan kalau perkataan Jester dan Selena tidak sesederhana itu.
"Mengorbitkan artis? orang terkenal? acaranya sendiri?" gumam Naomi saat Jester, Selena dan Grece saling mengobrol, ketiganya asyik mengobrol sampai tidak mendengar gumaman Naomi yang memang sangat pelan. Naomi terlihat sedang berfikir keras
"Heii!! Itu bisa bekerja, kamu beneran mau berteman sama aku kan Grace?!" tanya Naomi yang mendadak antusias sambil menggenggam tangan Grece, sepertinya Naomi merencanakan sesuatu dan membutuhkan Grece untuk mempermudah rencananya.
"Tentu!! aku akan jadi pelindungmu dan kamu boleh memanfaatkan aku apapun itu!! jadikan aku temanmu ya!!" jawab Grece dengan sangat semangat mengatakannya, Jester heran menatap Grece yang terkesan menjadikan dirinya budak padahal Grece merupakan anak dari orang terpandang.
"Yeey teman baru!!" Selena ikutan senang dan segera memeluk Grace bersamaan dengan Naomi
Jester yang sedari tadi seperti kambing congek berada ditengah percakapan perempuan masih terlihat bingung, tidak lama ketika ketiganya saling berpelukan dering handphone Naomi terdengar. Naomi agak menjauhi Jester, Selena dan Grece yang terlihat mengobrol bersama, Naomi mengeluarkan handphone miliknya dari dalam tas sling bag, membuka media sosial ChatMe, dan membuka chating dari Daniel yang tertulis dengan nama "My love"
***
"Aku ingin bertemu denganmu, jadwal dan tempat akan aku segera kabari lebih lanjut" diterima
"Baik, sekalian aku punya rencana untuk mu sayang" dikirim
"Bagus, kabari aku lebih lanjut saat kita bertemu" Diterima
"Iya, aku sayang kamu (emot cium)" Dikirim
***
Naomi terlihat menunggu balasan dari Daniel namun beberapa saat Daniel tidak juga kunjung membalasnya hingga Jester mendekati Naomi.
"Ada apa?" tanya Jester karena penasaran pada Naomi yang tiba - tiba menjauh, Naomi berbalik dan menatap Jester sembari kembali memasukkan handphone kedalam tas nya.
"Ooh enggak... aku ada ide untuk mengejar cintaku, kalau ini berhasil aku akan bantu kamu mengejar cintamu" jawab Naomi tersenyum senang memandang Jester lalu berlari kecil untuk berkumpul bersama Selena dan Grace yang asyik mengobrol.
Disaat bersamaan di lobby Hotel Gates yang terlihat ramai pada saat itu, Naoko dan Marrie selesai berbicara dan mereka akan berpisah setelah makan dan saling mengobrol untuk mencairkan permusuhan diantara mereka berdua. Marrie dengan senyum khasnya menatap Naoko yang duduk didalam mobil membuka kaca Jendelanya menatap Marrie.
"Aku senang dengan rencanamu Marrie San, aku harap rencana ini berjalan dengan baik" ucap Naoko dengan nada senang
"Hohoho... aku sudah merencanakannya dengan matang dan bisakah kamu memanggilku Marrie Chan? itu terdengar lebih akrab bagiku" ucap Marrie, Naoko tersenyum penuh kehangatan.
"Lembaran baruku denganmu akan dimulai dari sekarang, aku akan membakar semua lembaran permusuhan kita dan aku berharap kamu melakukan hal yang sama Marrie Chan, sampai jumpa" jawab Naoko sembari menatap dengan senyuman, Marrie hanya melambaikan tangannya dan mobil Naoko pun meninggalkan hotel itu
"Jester, rasakan lah hasil dari perjuangan mama mu ini!! jangan kamu sia siakan pengorbanan mama!!" mendadak Marrie berteriak di depan lobby hotel dan membuat para staff disana terkejut karena teriakan Marrie.
Disaat bersamaan di dalam mobil yang sedang berjalan ditengah kota, terlihat Naoko juga sedang berapi - api sampai mengagetkan supir pribadi Naoko.
__ADS_1
"Naomi aku sudah melakukan pengorbanan untukmu, jangan sia - siakan pengorbanan ibumu ini!!" teriak Naoko sampai membuat supirnya terkejut.