
Malam hari yang cerah, disebuah rumah sakit yang agak jauh dari pusat kota. Ditempat itu terlihat sepi dan hanya ada beberapa orang yang sedang duduk menunggu dengan wajah yang terlihat cemas dan sedih, orang - orang disana sedang menunggu anggota keluarga mereka yang sedang tidak beruntung karena sakit. Pada jam yang bersamaan dengan makan malam antara Jester dan Camilla, terlihat seseorang dengan menggunakan jaket hodie untuk menutupi kepalanya, menggunakan kacamata netral dan sebuah masker untuk sedikit menutupi wajahnya sedang berjalan menuju tempat informasi di rumah sakit itu.
"Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" tanya petugas informasi dengan ramah
"Malam, aku ingin bertanya pasien rawat inap bernama Liam Becca" jawab Naomi
"Liam Becca... oke, tunggu sebentar ya" timpal petugas informasi itu, petugas pun langsung mengoperasikan komputernya untuk mencari pasien rawat inap yang dimaksut.
"Pasien ada dikamar nomor 1103, kondisinya tidak baik jadi tidak dapat ditemui hari ini. Apa ada anggota keluarga yang bisa anda hubungi?" tanya petugas informasi itu
"Tidak apa, aku hanya akan melihatnya dan terima kasih" jawab Naomi sembari berlalu meninggalkan bagian informasi itu.
Naomi berjalan dengan perasaan yang campur aduk, langkahnya terlihat sangat ragu dan kadang - kadang Naomi pun menghentikan langkahnya beberapa saat lalu kembali berjalan ketika dirinya dapat meyakinkan diri sendiri lagi. Hingga tibalah Naomi di kamar nomor 1103, didepan kamar itu terlihat Liam dan Blenda sedang duduk didepan kamar yang tertutup itu. Naomi berhenti berjalan dan nampak meremas jaket hodienya sebelum akhirnya kembali berjalan kembali, begitu sudah dekat dengan keduanya Naomi mulai menyapa.
"Selamat malam...." sapa Naomi dengan suara yang lembut, Naomi pun melepaskan maskernya bersamaan dengan sapa yang dia ucapkan. Liam dan Blenda menoleh dan terlihat terkejut dengan datangnya Naomi saat itu, mereka berdua tahu bahwa hubungan Daniel dan Naomi sedang tidak baik - baik saja. Blenda yang saat itu sedang menangis langsung berdiri dan berlari memeluk Naomi, Liam pun juga berdiri dan mendekati Naomi dengan tatapan yang penuh kesedihan.
Sebuah pesan di Ingram Naomi yang dikirim oleh Daniel baru saja terbuka ketika Naomi login kembali atas saran Justin dan pesan itu sudah Daniel kirim dua hari yang lalu. Sebuah pesan yang mengabarkan bahwa Becca sedang berada dirumah sakit karena terindikasi memiliki tumor di otak dan sebuah vidio yang memperlihatkan Becca meneriakkan nama Naomi agar menemaninya dirumah sakit, sebuah pesan yang menyayat hati Naomi ketika membukanya.
"Maaf aku datang tanpa pemberitahuan, bagaimana kondisi Becca?" tanya Naomi dengan nada yang terdengar sedih, dirinya pun ingin menangis mendengar Blenda yang menangis begitu pilu.
"Kondisinya tidak kunjung membaik... kami sangat mengkhawatirkannya, terima kasih sudah datang untuk berkunjung nak. Becca sering menyebut namamu ketika dia sadar" jawab Liam yang terdengar sedikit panik dan penuh kekhawatiran, Naomi menatap Liam dengan rasa bersalah.
"Maaf, aku tidak datang lebih cepat" timpal Naomi dengan nada yang terdengar sedih, Blenda yang masih memeluk Naomi saat itu menepuk - nepuk punggung Naomi beberapa kali.
"Tidak apa Naomi, terima kasih sudah berkenan untuk datang" ucap Blenda sembari melepaskan pelukannya, Naomi dan Blenda saat itu bertatapan mata dengan mata yang berkaca - kaca.
"Naomi?!" suara Daniel tiba - tiba terdengar dari belakang Naomi, mendengar suara Daniel membuat Naomi berbalik perlahan dan menatap wajah Daniel dengan ekspresi wajah yang datar. Keduanya terdiam walau sudah bertatapan mata, sesaat Daniel pun melangkah mendekati Naomi dan tangannya langsung menyentuh pipi Naomi dengan lembut.
"Kemana saja kamu? aku kesulitan menghubungimu" tanya Daniel menatap Naomi dengan sedih, namun tatapanĀ Naomi masih datar terhadap Daniel seakan sudah tidak ada tempat dihatinya untuk Daniel.
"Aku tidak kemana - mana" jawab Naomi singkat dan terdengar dingin
"Aku kehilanganmu" timpal Daniel merespon Naomi, sesaat Naomi menghindari bertatapan mata dengan Daniel sembari melepaskan tangan Daniel yang menyentuh pipi Naomi.
"Aku tidak pernah menghilang, tapi kamu yang tersesat untuk menemuiku" ucap Naomi sembari membuang muka menghindari bertatapan dengan Daniel
__ADS_1
"Ada apa? kenapa kamu menghindariku seperti ini?!" agak dengan bentakan Daniel bertanya
"Daniel!!" Liam membentak Daniel saat emosi Daniel terlihat mulai tidak terkontrol, sesaat itu Blenda menarik tangan Naomi untuk menjauhi Daniel. Naomi yang mengikuti arah tarikan tangan Blenda saat itu mengalihkan pandangannya menatap Daniel yang terlihat sedang dimarahi oleh Liam, namun Naomi terlihat tidak peduli dan kembali menatap punggung Blenda yang sedang menariknya menjauhi tempat itu.
Disebuah kursi yang agak jauh dari kamar Becca, Blenda dan Naomi terlihat duduk berdua ditempat itu. Blenda terlihat menggenggam erat tangan Naomi dan menatap Naomi dengan sedih, keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama saat itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Blenda memecahkan keheningan diantara keduanya, Naomi menggelengkan kepala beberapa kali merespon pertanyaan Blenda.
"Tidak ada apa - apa bu, kami baik - baik saja" jawab Naomi mengalihkan pandangannya, Blenda menghela nafas sejenak sebelum kembali merespon jawaban Naomi
"Naomi... ibu ini pernah muda sedangkan kamu belum pernah tua, Jadi ibu tahu kamu sedang tidak baik - baik saja dari pengalam ibu selama ini dan mungkin kamu berfikir dapat membohongi ibu" ucap Blenda terdengar sedih mendengar respon Naomi, sesaat Naomi menatap Blenda dengan mata yang berkaca - kaca.
"Aku gak tahu harus berkata apa, antara aku dan Daniel sudah sangat berantakan. Aku pun tidak tahu harus memulai darimana untuk memperbaiki hubungan ini, aku....aku.... bingung bu..." dengan sedikit tetesan air mata dan nada yang lirih Naomi mengatakannya
"Kamu sudah lelah sama Daniel?" tanya Blenda perlahan, sebuah pertanyaan yang membuat air mata Naomi mengalir lebih deras dan sulit terbendung. Naomi menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan Blenda memeluk Naomi sembari mengelus kepalanya beberapa kali, ditengah suasana haru itu terdengar seseorang berlari mendekati mereka.
"Ibu!! Becca sadar!!" Daniel berteriak ketika posisinya agak dekat dengan Naomi dan Blenda, dengan segera keduanya berdiri dan ikut berlari kembali menuju kamar Becca.
Didepan sebuah kaca besar yang langsung dapat melihat pasien didalam kamar dari lorong rumah sakit itu, Liam, Daniel, Naomi dan Blenda berdiri menatap Becca yang terlihat berteriak kesakitan meronta - ronta saat ditangani dokter dan perawat. Naomi terlihat termenung merasakan kesakitan Becca yang saat itu tubuhnya dipenuhi oleh selang - selang medis, Liam dan Blenda saling berpelukan seakan tidak tega melihat penderitaan yang dialami oleh Becca saat itu, Daniel pun terlihat ingin menangis melihat adiknya yang begitu tersiksa dengan sakit yang Becca derita. Seorang perawat kemudian berjalan mendekati pintu masuk lalu membuka pintu itu dan sedikit mengeluarkan kepalanya menatap keluarga pasien yang hadir saat itu, Naomi dan Daniel berjalan mendekati perawat itu.
"Ada yang bernama Naomi?" tanya perawat dengan ramah
"Ini kak Naomi datang, apa kamu fans beratnya? dia datang loh" ucap dokter untuk menenangkan Becca yang menangis dan meronta - ronta itu, Naomi melepaskan hodie yang sedari tadi menutupi kepalanya dan mendekatikan wajahnya menatap Becca. Melihat Naomi berada tepat didepannya, Becca mendadak berhenti menangis dan meronta sehingga memudahkan dokter untuk melanjutkan pemeriksaannya.
"Kak Naomi....." ucap Becca dengan suara yang begitu pelan nyaris tidak begitu jelas terdengar, tidak terasa air mata Naomi pun pecah melihat keadaan Becca.
"Iya... kakak disini, Becca yang kuat ya sayang...." timpal Naomi dengan suara yang lembut memberi semangat pada Becca, saat itu Becca mengangkat tangannya mencari tangan Naomi dan Naomi pun langsung menggenggam tangan Becca
"Sakit kak...." ucap Becca kembali menangis dengan pilu, Naomi pun mengangangukkan kepalanya beberapa kali merespon ucapan Becca
"Iya kakak tahu, tapi sebentar lagi dokter ngobatin Becca biar cepat sehat. Becca yang sabar ya..." suara serak Naomi membuat Becca semakin menangis, Becca pun menggengam tangan Naomi semakin erat
"Jangan pergi kak... temani aku disini.... pegang tanganku terus kak...." agak menggelengkan kepala Becca mengatakannya, Naomi mengelus kepala Becca beberapa kali saat itu agar Becca tidak menggerakkan kepalanya.
"Iya, kak Naomi akan terus berada disini sampai Becca sehat..." ucap Naomi saat itu, walau Naomi merasa itu adalah janji yang sulit untuk Naomi penuhi.
__ADS_1
"Janji?" tanya Becca, pertanyaan itu membuat Naomi tiba - tiba merasa bersalah pada Becca namun Naomi meresponnya dengan menganggukkan kepalanya. Beberapa saat genggaman tangan Becca pun melemah dan Dokter menepuk pundak Naomi, mendapat tepukan itu Naomi perlahan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Becca yang semakin melemah itu.
"Dia sudah tertidur, anda bisa meninggalkannya sekarang" ucap dokter dengan nada yang lembut, Naomi mengalihkan pandangannya menatap dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Naomi terlihat sangat khawatir, dokter saat itu menghembuskan nafas agak keras
"Keadaannya sangat tidak baik, perkembangan kesehatannya juga semakin memburuk dan solusinya adalah melakukan operasi dan melakukan kemoterapi. Tapi melihat umur pasien yang masih terlalu muda maka banyak pertimbangan yang harus dilakukan, saya pamit dulu" jawab dokter sembari berbalik berjalan meninggalkan ruangan itu, seorang perawat pun meminta Naomi untuk meninggalkan ruangan dengan gestur tangannya dan Naomi langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana tadi? apa Becca membaik?" tanya Blenda saat Naomi sudah berada diluar dan dikelilingi Blenda, Liam dan Daniel, Naomi menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan Blenda.
"Becca dalam kondisi yang tidak baik" jawab Naomi terdengar sangat sedih, mendengar jawaban Naomi membuat Blenda menangis dan langsung memeluk Liam dengan erat. Liam pun membawa Blenda menuju kursi didekat sana dan keduanya duduk bersama untuk saling menguatkan satu sama lain.
Naomi saat itu hanya tertunduk memikirkan janji yang dia sanggupi pada Becca, sedangkan Daniel hanya menatap Naomi dalam diamnya. Ditengah keheningan itu tiba - tiba Daniel menarik tangan Naomi untuk keluar dari lorong rumah sakit, Naomi terlihat pasrah saja mengikuti arah tarikan tangan Daniel. Hingga sampailah mereka disebuah taman diarea rumah sakit itu, mereka berdua berhenti disana dan Daniel membalikkan badan menatap Naomi yang masih tertunduk sejak tadi.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi selama ini" ucap Daniel dengan penuh penyesalan dan perasaan bersalah
"Iya, tidak apa" timpal Naomi dingin
"Bisa kita berbaikan?" tanya Daniel masih terdengar menyesal, Naomi membuang muka mendengar pertanyaan Daniel.
"Sejauh apa hubunganmu dengan Sarah?" bukannya sebuah jawaban yang Daniel terima tetapi Naomi balik bertanya dan nadanya terdengar meninggi, Daniel sedikit tersentak mendengar pertanyaan Naomi.
"Hah? apa maksutmu?" Daniel tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Naomi
"Kamu tahu apa maksud pertanyaanku!!" jawab Naomi dengan ketus, Daniel menatap langit dan terdiam sesaat
"Kami hanya terikat kontrak dan tidak kurang maupun lebih" jawab Daniel, saat itu Naomi tersenyum sinis mendengar jawaban Daniel
"Kamu masih ingat aku punya penawaran kepadamu? aku punya teman yang dapat mengorbitkanmu menjadi artis dan bukan hanya seorang selebgram, kamu bisa bekerja lebih baik disana dan hubungan kita akan bisa berlanjut tanpa adanya Sarah kembali, bagaimana menurutmu?" tanya Naomi, Daniel terlihat keberatan saat mendengar tawaran Naomi.
"Duuh gimana ya? apa benar itu bisa berjalan dengan baik? lagian kontrak ku masih berjalan" jawab Daniel terbata karena ragu atas tawaran Naomi, mendengar jawaban itu Naomi meremas jaket hodie nya menahan amarah.
"Kenapa ragu? kamu punya rasa sama Sarah?" tanya Naomi menekan Daniel, mendapat tekanan itu Daniel membuang muka.
"Tidak... aku tidak bilang seperti itu..." Daniel kembali terdengar ragu - ragu, Naomi menatap Daniel dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
"Ingat janjimu saat kita pertama kali melakukannya?! kamu bilang kamu hanya akan mencintai aku, aku tetap cinta kamu bahkan ketika kamu katakan padaku kamu akan menjadi pacar settingan Sarah untuk pekerjaanmu. Saat aku mengijikanmu pun aku selalu berharap kamu memiliki pemikiran yang sama denganku, tapi saat ini aku sadar kamu sudah mengingkari janjimu!! ternyata selama ini dugaanku benar, kamu punya pemikiran yang berbeda denganku!!" bentak Naomi kepada Daniel, namun Daniel saat itu langsung menggenggam kedua tangan Naomi dengan erat.
"Maaf aku sudah tidak menepati janjiku, tapi aku dan Sarah benar - benar hanya terikat kontrak. Aku sangat mencintamu dan sampai saat ini pun aku mencintaimu Naomi, ayo kita buat janji baru. Aku berjanji tidak akan mengkhianati janji kita, maukah kamu menikah denganku Naomi. Tinggal sedikit lagi sampai aku benar - benar bisa pantas dimata ibumu, hanya tersisa enam bulan lagi Naomi. Aku mohon" dengan tatapan penuh keseriusan dan penuh harap Daniel mengatakannya, Naomi hanya tertegun mendengar perkataan Daniel. tiba - tiba Naomi menarik tangannya melepaskan genggaman tangan Daniel, tindakan Naomi membuat Daniel tersentak.