
Malam hari yang cerah disebuah kafe tengah kota yang cukup ramai dengan pengunjung, diantara orang - orang yang menjadi pengunjung kafe itu terlihat Daniel dan Camilla sedang duduk berhadap - hadapan. Tidak lama seorang waiters datang menghampiri dan menaruh segelas minuman yang dipesan Camilla sebelumnya, keduanya terdiam untuk waktu yang agak lama sembari saling menatap. Pertemuan untuk kesekian kalinya demi membahas rencana mereka terhadap Naomi dan Jester, sepasang mantan kekasih ini begitu terlihat bersemangat dan kompak setiap kali membahas rencana mereka yang didominasi oleh rencana licik Camilla.
"Kamu... tahu darimana?" tanya Daniel pada Camilla, dengan senyum sinis Camilla memandang Daniel.
"Dari pengamatan setiap gerak gerik mereka" jawab Camilla singkat
"Kamu orang yang... mengerikan ya..." celetuk Daniel merespon jawaban Camilla dengan sedikit terbata, Camilla tertawa mendengar celetukan Daniel saat itu.
"Kamu bukan orang pertama yang mengatakannya" timpa Camilla sembari tertawa, sejenak keduanya kembali terdiam dan menikmati minuman mereka masing - masing.
"Tapi ada satu hal yang tidak aku mengerti" celetuk Camilla terdengar bingung, kebingungan Camilla menarik perhatian Daniel.
"Tentang apa?" tanya Daniel dengan nada yang terdengar penasaran.
"Band... kenapa Naomi repot - repot bermain band untuk memberontak dari kedua orangtuanya?" tanya Camilla terdengar bingung
Informasi tentang rencana Naomi bermain band untuk memberontak kepada kedua orangtuanya adalah satu - satunya informasi yang luput dari pantauan Camilla, dengan Daniel yang menyampaikan berita ini membuat Camilla merasa Daniel pun mulai bersiap melancarkan aksinya karena mulai menggali beberapa informasi tentang Naomi.
"Mungkin itu ada hubungannya ketika kami masih kelas dua SMA, saat Naomi tertarik bermain gitar dan belajar dariku" jawab Daniel menduga - duga
"Memang kenapa?" tanya Camilla mencoba mencari tahu apa hubungan semua informasi itu dengan cerita Daniel.
"Saat kami SMA kelas dua, waktu itu kebetulan kami berkencan di mall pusat kota. Kebetulan ada band perform dan gitarisnya bermain dengan sangat baik, saat itu aku melihat mata Naomi berbinar menatap gitaris itu seakan dirinya terpesona. Karena cemburu aku pun bertanya, kenapa begitu terpaku menatap gitaris itu. Lalu Naomi hanya menjawab.... aku ingin bisa seperti gitaris itu" jawab Daniel menceritakan masa lalunya bersama Naomi
"Ooh.. lalu? apa hubungannya dengan memberontaknya Naomi?" tanya Camilla lagi penasaran
"Kamu tahukan aku juga seorang gitaris? aku melatihnya dan...." belum selesai Daniel berkata, Camilla memotong.
"Kamu melatihnya di rumahmu atau di kosanmu?" tanya Camilla lagi menimpali cerita Daniel yang Camilla putus.
"Aku melatihnya.... dirumah Naomi..." jawab Daniel terbata, Camilla pun menatap Daniel dengan heran.
"Itu benar, aku sering mengunjungi rumah Naomi" tegas Daniel mengatakannya, Camilla pun tertawa mendengar perkataan Daniel saat itu.
"Kenapa tertawa?" tanya Daniel heran
"Kamu sering bermain kerumahnya tapi kenapa ibunya menolak dirimu?" tanya Camilla penasaran dan sedikit tertawa.
"Itu karena aku kesana dengan status sebagai teman sekelasnya, ditambah dulu sering kali ada tugas berkelompok waktu kelas satu SMA dan dari situlah aku sering mengunjungi rumah Naomi" jawab Daniel terdengar kesal
"Oke... lalu?" tanya Camilla
"Lalu aku melatihnya selama tiga bulan dengan gitar milikku dan dia memang berbakat menjadi seorang gitaris, hingga suatu saat kurang lebih bulan keenam tiba - tiba dia mengajakku untuk membeli sebuah gitar listrik untuknya. Namun semua itu menjadi awal tragedi yang mungkin akan membekas bagi dirinya..." jawab Daniel menceritakan tentang kisahnya bersama Naomi, sejenak Daniel terdiam dan menenggak minuman miliknya.
"Entah apa itu benar - benar menjadi pemicunya atau tidak. Naomi membeli gitar jenis Flying V dengan ukiran namanya dan inisial namaku, Naomi memesannya secara khusus karena Naomi memiliki desain coraknya sendiri. Naomi begitu bahagia dengan hasil akhirnya dan mengatakan jika dia sudah menamai gitar itu dengan nama... Naiels yang diambil dari nama depannya dan nama belakangku" ucap Daniel meneruskan ceritanya, pandangannya teralih menatap jendela yang dapat melihat indahnya bintang - bintang malam itu.
Mengenang kembali cerita masa lalunya yang indah bersama Naomi membuat Daniel merasa sedih karena saat ini dirinya begitu jauh dan merasa mulai kehilangan Naomi sepenuhnya, hatinya begitu terluka dengan kenyataan Naomi yang akan menikah dengan Jester dalam waktu dekat. Bagaimanapun Naomi adalah satu - satunya wanita yang begitu Daniel cintai, cintanya yang besar membuatnya begitu takut kehilangan Naomi sampai - sampai membuatnya melakukan cara yang salah saat itu ditengah rasa putus asanya untuk merebut kembali Naomi dari Jester. Cara yang malah membuatnya semakin jauh dan kehilangan Naomi.
"Aku melihatnya seperti anak kecil yang mendapatkan permen setelah lama tidak diperbolehkan makan permen oleh ibunya, kamu tahukan maksudnya? dia begitu gembira ketika memegang gitar itu dan mengatakan padaku jika dia sangat tidak sabar untuk mencobanya dirumah, kami pun pulang kerumah Naomi bersama - sama untuk berlatih gitar berdua lagi. Namun hari itu aku melihatnya seperti seseorang yang menaiki pesawat untuk lalu diterjunkan dari pesawat itu begitu saja" terdengar sedih Daniel mengatakannya
__ADS_1
"Apa maksudnya? perumpamaan mu begitu membingungkan" tanya Camilla dengan sedikit tertawa, Daniel mengalihkan pandangannya menatap Camilla dengan sorot mata yang terlihat sedih.
"Setelah moodnya dalam kondisi yang sangat bahagia namun itu hanya beberapa jam saja... dia langsung mendapatkan kekecewaan" jawab Daniel dengan nada yang terdengar sedih
"Apa yang terjadi? gitarnya rusak atau cacat?" tanya Camilla dengan senyum sinis
"Ketika kami pulang, ibu Naomi mencegat kita di pelataran rumahnya. Saat itu Naomi terlihat bahagia dan ingin menunjukkan gitar itu pada ibunya, namun bukannya ikut bahagia... ibu Naomi malah memandangi Naomi dengan tatapan yang sangat marah..." jawab Daniel dan membuat Camilla terdiam dengan wajah datar, Daniel meminum minumannya lagi sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.
Dengan sabar dan tanpa perasaan Camilla mendengarkan cerita dari sang mantan kekasihnya itu, sambil mencari celah kemungkinan hal itu mampu dia manfaatkan untuk menyerang Naomi. Kelicikan Camilla memang sulit untuk diragukan, dengan rasa sakit yang dia miliki atas Naomi membuat Camilla begitu mencoba memanfaatkan segala momen yang ada untuk memuluskan rencananya.
"Selena kebetulan berada dirumah itu karena dipanggil oleh Naomi, dia ingin pamer gitar barunya... tapi ibu Naomi saat itu malah menyuruh Selena untuk menghancurkan gitar itu didepan Naomi dan aku saat itu juga. Selena sempat membatu dan tidak ingin menuruti perintah ibu Naomi, tapi... pada akhirnya Selena seakan tidak memiliki pilihan lagi. Dia segera mengambil gitar itu dari pelukan Naomi dan dengan kata maaf... Selena menghancurkan gitar itu dengan cara memukulkan gitar kelantai sampai hancur berkeping - keping" ucap Daniel melanjutkan ceritanya
"Ibu yang menakutkan ya" celetuk Camilla, sejenak keduanya terdiam beberapa saat saling menikmati minuman mereka masing - masing.
"Lalu apa yang dilakukan Naomi setelahnya?" tanya Camilla
"Setelah memastikan jika gitar itu benar - benar hancur ditangan Selena, tidak lama ibu Naomi meninggalkan kami bertiga didepan pelataran rumah itu. Naomi hanya terdiam dengan tubuh yang bergemetar menatap sisa - sisa gitar yang hancur itu, tidak lama dia pun berlari masuk kedalam rumah... aku yakin dia sedang menangis saat itu" jawab Daniel
"Oke... aku paham" celetuk Camilla terdengar tenang
"Paham apa?" tanya Daniel
"Paham jika kamu memang benar - benar bodoh" dengan suara tawa Camilla menjawab pertanyaan Daniel, mendengar ejekan itu membuat Daniel kesal pada Camilla karena sejak tadi Camilla terus mengejeknya.
"Kamu tahu... jika itu Jester, maka dia tidak akan membiarkan Naomi berlari menangis sendiri" celetuk Camilla saat itu dan membuat Daniel heran.
"Aku mengenalnya dan itulah yang membuat aku menyukainya, nantikan arahan ku selanjutnya. Ooh iya, bayarin ya~" ucap Camilla lalu meninggalkan Daniel ditempat itu dengan senyum manis, walau terlihat kesal namun Daniel tidak berniat menolak permintaan Camilla.
Malam berganti pagi dan Jester terlihat membuka matanya didalam sebuah kamar yang sangat mewah di kediaman besar Gates, perlahan Jester beranjak dari kasur untuk bersiap melakukan rutinitasnya sehari - hari. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada didalam kamar itu, memulai dari buang air kecil, menggosok gigi, membasuh muka, lalu merapihkan rambutnya. Begitu yakin penampilannya sudah rapih, Jester kembali hendak menuju ke kasurnya namun langkahnya terhenti ketika handphone miliknya yang berada di atas meja berdering.
Jester menatap layar handphonenya dan melihat siapa yang meneleponnya pagi - pagi seperti ini, tertulis nama "Sarah". Jester segera mengangkat telepon itu
***
"Ya Sarah" ucap Jester ketika mengangkat telepon
"Saham Arielle Corp sudah habis terjual, kini langkah selanjutnya. Kamu harus segera bertemu perwakilan kami yang akan segera menuju kantor utama Exo" ucap Sarah terdengar semangat
"Tentu, katakan pada perwakilan mu untuk menemui aku jam sembilan ini" ucap Jester serius
"Baik presdir Jester" ucap Sarah dengan candaan
"Ayolah... kamu tidak harus menyebutku seperti itu" dengan kesal Jester mengatakannya, Sarah pun tertawa.
"Tidak apakan, lagian sebentar lagi kamu memang akan menjadi presdir ku" timpal Sarah dengan suara tawa, Jester pun tertawa terbawa oleh tawa Sarah.
"Kamu... tidak lupa janjimu kan?" tanya Sarah dengan terbata
"Tidak, aku akan segera atur pertemuan mu" jawab Jester dengan tegas, suara helaan nafas lega Sarah pun terdengar dari balik telepon.
__ADS_1
"Baiklah... terima kasih Jester" ucap Sarah kemudian memutus saluran teleponnya.
***
Jester kembali menatap layar handphone miliknya dan tidak lama suara ketukan pintu terdengar, pandangan mata Jester pun teralihkan menatap pintu itu dan kakinya segera berjalan untuk membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, Jester melihat William yang tersenyum penuh semangat menatap Jester.
"Ada apa? senyuman itu membuat aku merinding" celetuk Jester dengan wajah yang sedikit takut menatap William.
"Mama mendapat kabar dari nyonya Jessica jika anggaran mereka sudah siap untuk dibelanjakan, list belanja mereka juga sesuai dengan barang - barang milik Exo yang tersimpan di gudang. Kamu bisa segera memulai tahap kedua dari rencana mu" jawab William terdengar senang dan penuh semangat, dengan senyum sombong penuh rasa bangga Jester menatap William.
"Sudah aku duga, rencana ku ini akan berjalan dengan sangat baik. Aku memang jenius sejati" dengan sombong Jester mengucapkannya, Jester dan William pun tertawa bersama hingga menggema di seluruh koridor rumah dan mengagetkan dua wanita berpakaian maid yang selalu berdiri didepan kamar Jester.
"Ayo segera berangkat ke kantor Exo!" penuh semangat William mengucapkannya, Jester pun segera berjalan keluar kamar dan mengikuti William menuju pelataran rumah.
Langkah dari dua orang yang penuh dengan semangat untuk menjalankan aksinya begitu terasa, hubungan ayah dan anak yang begitu kompak itu semakin terasa dengan kerjasama diantara keduanya. Untuk pertama kalinya Jester bekerjasama dengan ayahnya dalam urusan bisnis karena selama ini hidupnya hanya fokus pada perkuliahan dan kisah cintanya. Satu hal yang membuat William bangga karena merasa putranya mampu untuk menangani dunia bisnis.
Perjalanan Jester dan William menuju kantor pusat Exo Fashion and Style memakan waktu hampir dua jam perjalanan menggunakan Mercedes Benz S450 milik Arthur, didepan lobby sebuah gedung perkantoran yang memiliki lantai lima puluh itu Mercedes Benz S450 yang dinaiki Jester dan William berhenti. Tidak lama Jester dan William turun dari mobil dan disambut oleh satpam kantor, melihat keberadaan William saat itu satpam kantor langsung menundukkan kepalanya.
"Selamat pagi tuan William Gates" sapa satpam, William hanya menepuk pundak satpam itu lalu berjalan masuk kedalam gedung melewati penjaga begitu saja. Sedangkan Jester yang tepat berada dibelakang William tiba - tiba dihentikan langkahnya oleh satpam, hal itu membuat Jester heran.
"Ada apa?" tanya Jester kepada satpam
"Maaf tuan, silahkan ketempat pemeriksaan barang - barang bawaan" jawab satpam itu dengan sopan
"Hah? kenapa cuma aku?" tanya Jester heran, satpam itu hanya menoleh menatap William yang masih berjalan masuk lalu kembali menatap Jester.
"Karena beliau pemilik sedangkan anda adalah tamu yang bersama beliau, jadi silahkan untuk mendekat ketempat pemeriksaan" jawab satpam itu
"Aku ini anaknya orang yang kamu biarkan didepan itu, apa wajahku tidak terlihat mirip dengannya?!" dengan kesal Jester mengatakannya, keributan itu membuat William menoleh menatap Jester.
"Woi nak, ngapain berbicara dengan satpam?! cepat masuk!" agak berteriak William mengatakannya, mendengar ucapan William membuat satpam yang menghentikan Jester pun berkeringat dingin.
"Maaf... saya tidak tahu, silahkan masuk tuan muda" ucap satpam itu terdengar bergemetar ketakutan bagai disambar petir disiang bolong, Jester pun berjalan meninggalkan satpam itu begitu saja.
"Apa yang terjadi nak?" tanya William dengan tertawa
"Yang terjadi membuatku kesal, lebih baik lupakan saja" ucap Jester dengan kesal, William tertawa terbahak - bahak.
"Nak... cobalah rubah style mu, mungkin kamu memang memiliki masalah disana" celetuk William, mendengar perkataan William membuat Jester tiba - tiba teringat Naomi yang selalu bermasalah dengan style yang selalu Jester gunakan. Senyumnya tiba - tiba merekah dan membuat William heran menatap Jester, sejenak William mengalihkan pandangannya untuk menekan tombol lift.
"Papa tebak kamu tiba - tiba teringat nona Naomi" celetuk William lagi, Jester pun terkejut mendengar celetukan William.
"Hah? papa jadi cenayang sekarang?" tanya Jester dengan nada yang terdengar terkejut, William pun tertawa.
"Tidak perlu jadi cenayang jika itu hanya sekedar ekspresi wajahmu, nak" jawab William, jawaban William membuat Jester kesal.
"Bagaimana akhirnya merasa jatuh cinta dan dicintai?" tanya William sembari menatap Jester, mendapat pertanyaan itu membuat Jester terdiam sejenak lalu tidak lama pintu lift terbuka. Jester dan William pun masuk kedalam lift, dengan segera William menekan angka empat enam.
"Aku merasa... bahagia setiap bertemu dengannya dan sangat sedih ketika berpisah seperti ini. Aku senang dengan pengalamanku untuk mencintai dan dicintai olehnya..." jawab Jester kemudian pintu lift pun tertutup bersamaan dengan tawa William yang terdengar begitu senang mendengar jawaban Jester.
__ADS_1