Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Pertanyaan Selena


__ADS_3

Sore hari dirumah keluarga Scott, sebuah Porsche 911 terlihat parkir di depan pelataran rumah itu. Kedatangan William dan Marrie di rumah keluarga Scott sangat mengejutkan Naomi, bahkan setelah menerima masuk keluarga Gates saat itu pun Naomi kembali dibuat terkejut.


Ucapan William yang mempertanyakan tentang pernikahan antara Jester dan Naomi membuat Naomi tidak tahu harus menjawab apa, pernikahan yang seharusnya akan dilaksanakan kurang dari tiga puluh hari dengan persiapan yang terhenti itu sudah nyaris akan kandas dengan semua kasus yang ada.


Namun perkataan William seakan membuka kembali asa Naomi untuk tetap menjadi istri bagi Jester, garis senyum Naomi terlihat sedikit terangkat. Perlahan Naomi menundukkan kepalanya tanpa merespon perkataan William, untuk beberapa saat mereka bertiga kembali terdiam.


Dengan semua masalah yang menimpa Naomi, dirinya tidak menyangka jika William dan Marrie masih memperhatikan tentang rencana pernikahannya bersama Jester. Sempat terbersit dalam benak Naomi bahwa tidak ada harapan akan pernikahannya itu, nama Gates pasti memburuk karena berita yang tersebar walau Daniel sudah melakukan klarifikasi.


"Papa tahu kamu bingung untuk merespon perkataan ku, karena itulah papa sengaja datang tanpa pemberitahuan seperti ini agar tidak ada alasan bagi Naoko untuk menolak kedatangan kami" tegas William mengucapkannya, Naomi terkejut mendengar perkataan William dan dengan segera kembali mengangkat kepalanya menatap William.


"Aah... Eeh... tidak papa... ibu tidak akan pernah menolak kedatangan papa dan mama" ucap Naomi terdengar panik


"Naomi.... apa kamu ingin membatalkan pernikahan kalian?" tanya Marrie dengan nada yang terdengar sedih, Naomi mengalihkan pandangannya menatap Marrie.


"Aa...aku... tidak... tahu..." terbata Naomi saat mengucapkannya, kepalanya kembali menunduk seakan tidak kuat untuk terus menerus menatap ekspresi wajah William dan Marrie yang begitu sedih.


"Pulanglah untuk sehari saja kerumah kalian, temukan jawabannya disana" ucap William dengan tegas, lalu William berdiri diikuti Marrie.


"Jester pasti sangat menantikan kehadiranmu, bangun lagi puing - puing cinta kalian lalu putuskan mana yang benar - benar kamu inginkan" ucap Marrie menimpali perkataan William


Perkataan Marrie membuat Naomi seketika begitu merindukan kebersamaan dengan Jester, disebuah rumah yang mereka tinggali bersama. Disana lah awal dari drama yang mereka perankan menjadi kenyataan, dirumah itulah Naomi dan Jester menumbuhkan perasaan mereka masing - masing hingga begitu kuat. Ujian berat apapun yang mereka hadapi, rumah itu selalu menjadi tempat untuk pulang bagi keduanya. Namun kini Naomi memilih untuk menemani ibunya yang berada dalam masa terburuknya, sebuah keadaan yang membuat Naomi dalam dilema besar.


"Kami pamit dulu, sebenarnya ini adalah pembicaraan antar orang tua yang harus memikirkan masa depan anaknya. Sampaikan salam kami pada Naoko" dengan lembut Marrie mengatakannya, Naomi berdiri hendak mengantar William dan Marrie ke pelataran rumah.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju pelataran rumah, di pelataran itu Marrie memeluk Naomi dan Naomi membalas pelukan itu untuk beberapa saat. Keluarga Gates pun pulang meninggalkan rumah keluarga Scott, Naomi saat itu masih terdiam berdiri di pelataran rumah menatap mobil Porsche 911 keluar dari area rumah.


Naomi berbalik ketika melihat William keluar dari mobil untuk menutup gerbang, kakinya melangkah menuju kamar Naoko yang tertutup rapat. Tangan Naomi menggenggam ganggang pintu lalu hendak membukanya, namun pintu terkunci sehingga Naomi mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar Naoko.


"Ibu.... aku tahu ibu bisa mendengar ku..." ucap Naomi dengan sedikit berteriak agar suaranya menembus kamar Naoko


"Papa dan mama tadi ingin bertanya pada ibu tentang pernikahanku dengan Jester... aku masih tidak tahu harus menjawab apa, tapi...." Naomi menggantung kalimatnya untuk sejenak dan terus menatap pintu yang tertutup itu.

__ADS_1


Dengan tekad yang kuat Naomi mengungkapkan semuanya kepada Naoko, nada bicaranya yang lantang dan ada sedikit rasa bahagia tiba - tiba berubah dengan nada yang sedih. Naomi merasa telah membuat keputusan yang berat karena mempertaruhkan keadaan ibunya.


"Mungkin sudah saatnya aku memutuskan pilihan yang ibu berikan padaku... Ibu... besok pagi aku minta izin untuk.... untuk pulang kerumah ku.... besok aku akan pulang kerumah ku dan aku minta pada ibu... jaga kesehatan ibu..." ucap Naomi, setelah kalimat terakhirnya itu Naomi berbalik dan berjalan meninggalkan depan kamar Naoko untuk menuju kamarnya.


Langkahnya menuju kamar terasa begitu berat, ingin sekali Naomi mendapatkan respon dari Naoko sang ibu. Terlebih yang Naomi bicarakan adalah mengenai pilihan yang diberikan oleh Naoko untuknya. Namun dengan berbesar hati Naomi menerima keadaan jika sang ibu tidak memberikan jawaban apapun untuknya.


Sore berganti malam, disebuah cluster perumahan mewah sebuah Mercedes Benz S450 melaju pelan mendekati salah satu rumah yang memiliki aksen khas budaya jepang. Mobil itu masuk kedalam carport dekat pelataran rumah dan tidak lama setelah mobil terparkir sempurna, sopir pribadi Jester turun dan membukakan pintu penumpang belakang untuk Jester.


Setelah keluar dan menutup pintu mobil itu, supir pribadi Jester pun berpamitan untuk pulang. Tidak lama cahaya lampu berwarna putih dari sebuah mobil terlihat mendekat, Jester berbalik dan melihat siapa yang datang malam itu. Tidak lama pintu mobil terbuka dan Jester melihat Selena turun dari mobil, setelah menutup pintu mobil Selena berjalan mendekati Jester yang masih berdiri di pelataran rumah.


"Malam kak..." sapa Selena


"Malam, ada apa?" tanya Jester


"Ada yang aku ingin bicarakan.... ini tentang... Naomi..." jawab Selena terbata terdengar penuh keraguan


"Kamu sudah bicara dengannya?" tanya Jester lagi sedikit menekan dan terdengar antusias, Selena hanya menganggukkan kepala merespon pertanyaan Jester.


Respon yang ditunjukkan oleh Selena membuat perasaan Jester memburuk, seakan mengetahui bahwa kabar tentang Naomi yang dibawa oleh Selena merupakan kabar buruk.


"Naomi melarang ku untuk bicara ini kepadamu..... tapi aku merasa tidak mampu untuk menyimpannya dan aku rasa.... kamu harus mendengarnya...." jawab Selena


Jester berbalik dan membuka pintu utama rumah lalu mempersilahkan Selena untuk masuk, Selena dan Jester berjalan menuju ruang keluarga dan duduk disebuah sofa saling berhadapan. Raut wajah Jester yang terlihat sedih itu seakan memberi kode kepada Selena jika Jester tidak siap untuk mendengar apapun yang hendak dibicarakan oleh Selena, keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Kenapa tidak bicara? aku menunggumu dari tadi" tanya Jester memecah keheningan diantara mereka


"Kak... wajahmu sedih begitu, gimana bisa aku membicarakan ini begitu saja?" tanya balik Selena, mendengar pertanyaan Selena itu membuat Jester sesak nafas. Perlahan Jester mengarahkan tangannya kearah dadanya dan berusaha untuk mengatur nafasnya kembali, Selena semakin khawatir melihat kondisi Jester malam itu.


"Ini sama seperti.... ketika Luna meninggal.... rasanya begitu sesak... padahal aku belum tahu apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan" terbata Jester saat mengatakannya, tangannya terus meremas baju pada bagian dadanya.


Melihat kondisi Jester membuat Selena cemas, dia takut keadaan Jester yang dulu hancur karena kepergian Luna untuk selamanya kembali terulang karena kabar yang akan dia sampaikan kepada Jester.

__ADS_1


"Begini saja, aku akan bicarakan ini saat kamu sudah siap" timpal Selena dengan tegas, perkataan Selena membuat Jester terkejut.


"Ini memang buruk tapi... kondisimu jauh lebih buruk dari yang aku duga. Intinya Naomi sangat mencintaimu tapi saat ini kondisinya sangat sulit, jadi kak Jester harus bisa berfikir dengan jernih dan tidak gegabah" ucap Selena lagi melanjutkan kalimatnya, Jester terdiam menatap Selena dan berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Selena.


"Aku harus apa?" tanya Jester sesaat setelah keduanya terdiam dan hanya saling menatap, Selena menghela nafasnya lalu tersenyum.


"Kak Jester tenang saja, aku akan mengusahakan sesuatu. Aku ingin kamu bisa lebih tenang dan tata pikiranmu itu, aku pulang dulu" jawab Selena, Jester pun kesal dengan jawaban Selena.


"Terus kamu ngapain kesini kalau kamu hanya mau bicara seperti itu?" tanya Jester dengan nada terdengar kesal, Selena tertawa namun dia tidak merespon pertanyaan Jester dan hanya langsung berdiri untuk meninggalkan rumah Jester.


Jester juga berdiri untuk mengantar Selena hingga pelataran rumah, namun didepan pintu tiba - tiba langkah Selena terhenti. Jester juga menghentikan langkahnya dan menatap punggung Selena dalam diam, wajah Jester pun terlihat heran dengan Selena yang berhenti berjalan dan terdiam untuk beberapa saat.


"Kak..... sudah beberapa bulan ini aku bersikap seperti diriku yang sebenarnya, aku tidak pernah menunjukkan sisiku sebagai Luna lagi didepan mu...." celetuk Selena, celetukan itu membuat Jester mengernyitkan dahinya.


"Iya, lalu?" tanya Jester dengan nada yang terdengar bingung.


"Tapi sikapmu kepadaku tidak berubah... aku pikir kamu bersikap baik kepadaku karena kamu merasa nyaman dengan perlakuan Luna kepadamu yang kamu dapatkan dariku, tapi kenapa sampai sekarang kamu masih bersikap lembut seperti itu?" tanya balik Selena


"Selena... aku sudah katakan kalau aku tidak bisa...." belum selesai Jester menjawab pertanyaan Selena, tiba - tiba Selena berbalik dan menatap Jester dengan tajam.


"Apa prinsip itu tetap akan kamu pegang walau Naomi meninggalkanmu?!" tegas Selena mengucapkannya dengan sedikit bentakan, Jester terkejut mendengar pertanyaan Selana yang seakan tersirat jika Selena tahu Naomi akan meninggalkan Jester cepat atau lambat.


"Se...lena... maksudmu... Naomi..." belum selesai Jester berbicara, Selena memberi gestur tangan agar Jester diam dan pandangan Selena pun beralih menatap lantai.


"Aku....hanya... berandai - andai..." timpal Selena terbata, namun Jester tidak mempercayai perkataan Selena.


"Kamu tahu Naomi akan meninggalkanku kan?" tanya Jester dengan nada yang terdengar menekan, Selena menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Selena.


"Jujur padaku Selena!! apa yang sebenarnya kamu ketahui?!" bentak Jester memaksa Selena


"Naomi bilang dia ingin tetap bersamamu!! Pernikahan kalian kurang dari tiga puluh hari lagi kan?! nyonya Naoko yang memberitahuku tentang itu! aku... aku..." Selena terdiam beberapa saat menggantung kalimatnya

__ADS_1


"Hatiku terasa sakit mendengar pernikahanmu yang akan segera dilaksanakan.... aku tidak pernah mencintai seseorang seperti ini.... ini untuk pertama kalinya bagiku.... mencintai seseorang begitu dalam dan rasanya... menyesakkan..." ucap Selena lalu menatap Jester dengan mata yang berkaca - kaca


"Jika.... jika Naomi meninggalkanmu.... apa aku... bisa mendapatkan hatimu...?" tanya Selena terbata


__ADS_2