
Suasana canggung pada malam hari terasa diruang makan rumah Jester dan Naomi, terlihat Luna dan Selena saling menatap dengan makanan yang tersaji dihadapan mereka masing - masing. Rabu malam yang dingin sehabis hujan membuat percakapan yang terjadi juga terasa dingin, keduanya terlihat terdiam saling menatap untuk waktu yang agak lama dengan pikiran masing - masing. Tidak lama Selena mengalihkan pandangannya menatap makanan dipiringnya, lalu segera memakannya kembali.
"Aku mengerti, aku juga sudah menduga kamu akan mengatakannya" ucap Selena memecahkan keheningan disuasana yang canggung itu, Luna menundukkan pandangannya.
"Maaf Selena... aku harap kamu mengerti tentang pilihanku" timpal Luna terdengar menyesal, Selena pun menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Inti perjanjian kita untuk membahagiakan kak Jester, kamu juga katakan cuma khawatir dia mendapatkan wanita yang gak baik. Jadi saat kamu melihat Naomi yang menjadi pacar kak Jester, tentu kamu lebih merasa tenang daripada aku yang mendampinginya" dengan tenang Selena mengatakannya, namun perkataan itu membuat Luna terkejut dan kembali menatap mata Selena.
"Bukan gitu!" bantah Luna dengan tegas, Selena pun tertawa melihat wajah Luna yang mendadak marah padanya.
"Iya aku paham, kamu melihat kuatnya ikatan kak Jester dan Naomi makanya akan lebih tenang bagimu membiarkan mereka menjadi sepasang kekasih" agak sedikit tertawa Selena mengatakannya, Luna menghela nafasnya terlihat lega melihat respon Selena yang terkesan baik - baik saja.
"Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, Jika pada akhirnya aku tidak bisa memikat hatinya... setidaknya aku pernah terikat dalam hari - hari bersamanya. Aku akan dekat dengannya sebagai Selena Parker dan bukan Selena Luna" Selena pun kembali tertawa setelah mengatakannya, mendengar tawa itu membuat Luna ikutan tertawa.
"Keras kepalamu tidak pernah berubah, aku pasti mendoakan yang terbaik untukmu dan aku berharap kamu akan bahagia. Maaf aku tidak bisa menemani dan menolongmu berjuang" suaranya terdengar serak ingin menangis dan matanya pun berkaca - kaca
"Jangan katakan hal menyedihkan begitu" timpal Selena yang juga terdengar ingin menangis
Malam itu tidak terasa suasana haru tercipta, keduanya melanjutkan makan malam bersama dengan sesekali menyeka air mata yang akan jatuh namun mereka berusaha untuk saling tersenyum dan sedikit tertawa. Setelah selesai makan, mereka berdua pun mencuci piring - piring dan merapihkan dapur serta ruang makan lalu melanjutkannya berjalan masuk kedalam kamar.
Didalam kamar Luna dan Selena melihat Naomi duduk bersandar pada dipan kasur melipat kedua kakinya dan terlihat termenung, kedatangan Luna dan Selena tidak membuat Naomi mengalihkan perhatiannya. Dengan perasaan khawatir Luna berjalan mendekati Naomi sedangkan Selena duduk di kursi rias memandangi Naomi.
"Ada apa?" tanya Luna dengan rasa khawatir, Naomi merespon dengan gelengan kepalanya.
"Cerita sini... aku akan mendengarkan dan beri solusi jika kamu membutuhkannya" ucap Luna lagi namun Naomi kembali menggelengkan kepalanya
"Aku lelah, aku akan tidur lebih dulu. Kalian lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, anggap rumah sendiri" terdengar kecewa Naomi mengatakannya, Naomi pun merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut dan mulai memejamkan matanya menghadap tembok. Melihat Naomi yang terlihat kecewa membuat Luna menghela nafas, dia tersenyum lalu merebahkan tubuhnya disebelah Naomi dan menghadap langit - langit kamar.
"Dulu kak Jester juga sering ngambek karenaku, saat ngambek dia bertingkah seperti anak kecil. Dia tidak berbicara padaku namun saat aku meninggalkannya maka dia akan bertingkah aneh untuk menarik perhatianku" celetuk Luna memecah keheningan dengan sedikit tawa, Naomi yang saat itu pura - pura tidur pun kembali membuka matanya mendengar cerita Luna.
"Disaat seperti itu biasanya aku hanya duduk disebelahnya dan diam namun tetap tersenyum padanya, lama kelamaan dia akan salah tingkah dan akhirnya rasa marahnya pun hilang" jelas Luna terdengar tenang dan mencoba memberi saran pada Naomi, raut wajah Naomi menjadi sedih setelah mendengar saran Luna.
"Kamu sangat memahami Jester... apa tidak pernah terpikir olehmu untuk kembali kepadanya?" tanya Naomi dengan suara yang terdengar sedih, mendengar pertanyaan Naomi membuat Luna kembali menghela nafas cukup keras.
"Dari sudut manapun kita semua tahu kalau kak Jester sangat mencintaimu dan sangat membenciku, aku tidak akan mampu bersaing denganmu" jawab Luna tegas, mendengar pernyataan tegas Luna saat itu tidak mampu membuat hati Naomi tenang. Dalam pikirannya masih terbayang - bayang Luna akan merebut Jester darinya, tangannya yang memegang bantal pun mulai meremas bantal itu dengan kuat.
"Kenapa kamu menerima permintaan egoisku, Naomi?" tanya Luna, pertanyaan itu membuat Naomi tersentak
"Apa alasanmu menerimaku? kalau kamu setakut ini denganku, kamu bisa mengusirku sejak awal" tanya Luna lagi mempertegas pertanyaan sebelumnya, namun Naomi masih juga terdiam dengan raut wajah yang masih terlihat menyesal. Untuk beberapa saat mereka bertiga terdiam, Naomi terlihat tetap hanyut dalam gejolak pikirannya sendiri.
"Aku menerima permintaanmu karena aku merasa hanya dengan cara ini Jester akan mampu berdamai dengan hatinya" setelah agak lama terdiam, Naomi pun mulai berbicara. Ucapan Naomi saat itu menarik perhatian Selena yang sejak tadi terdiam menatap lantai kamar, Selena tertawa mendengar perkataan Naomi.
"Konyol.... kamu hanya membuka pintu untuk pesaingmu" celetuk Selena dengan sedikit tawa, celetukan itu membuat Luna memelototi Selena dan terlihat marah padanya. Mengetahui Luna tidak senang dengan celetukkannya, Selena kembali menatap lantai dengan perasaan bersalah.
"Aku tahu aku konyol, aku sudah katakan kalau aku wanita terbodoh yang mungkin sudah dilahirkan didunia ini!" agak emosi Naomi menimpalinya, perlahan tangan Luna mengelus punggung Naomi dengan lembut mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu merasa seperti itu?" tanya Luna dengan tenang
"Aku juga pernah diposisi Jester, hatiku begitu tersakiti oleh cintaku pada seseorang. Sampai tidak ingin rasanya melihat wajahnya lagi, yang terasa hanya perasaan muak dan hati semakin sakit. Tapi Jester tidak pernah memintaku untuk menghindari Daniel, dia justru menemaniku melewati semuanya hingga akhirnya sekarang aku dapat berdamai dengan hatiku, melihat Daniel pun hatiku mati rasa. Semua berjalan normal seakan aku tidak mengenalnya" jawab Naomi, lagi - lagi jawaban Naomi membuat geli Selena sampai membuatnya kembali tertawa.
"Tapi kamu tidak menghadirkan Daniel ditengah kalian kan? apa hubungannya dengan kondisi kak Jester?" tanya Selena menyindir pola pikir Naomi, pertanyaan Selena kembali memancing emosi Luna dan dia memelototi Selena lagi.
"Selena" agak dengan tekanan Luna mengatakannya, emosi Naomi pun terpancing sampai membuatnya duduk dan menatap Selena dengan marah.
"Iya aku tahu aku bodoh!!" agak membentak Naomi mengatakannya
" Aku hanya berfikir, jika Jester mampu membuat hatiku berdamai dengan caranya maka aku yakin cara yang sama juga akan membuat Jester mampu berdamai dengan hatinya tanpa harus memiliki kotak pandoranya" lanjut Naomi menjelaskan jalan pikirannya
"Itu tidak bodoh, nyatanya menghadapi masalah secara langsung terbukti menjadi cara paling ampuh untuk menyelesaikannya" timpal Luna menyetujui pemikiran Naomi, perlahan Luna duduk bersebelahan dengan Naomi.
"Aku paham rencanamu, kamu ingin agar kak Jester yakin kalau dihatinya sudah tidak ada aku dengan menghadirkan aku didekatnya. Karena secara psikologis orang yang membenci seseorang maka semuanya akan dianggap salah dan akan terus membenci, kamu licik Naomi" dengan sedikit tawa Luna mengatakannya, Naomi pun tersentak mendengar perkataan Luna saat itu.
"Aah... eeh... tidak aku tidak mengatakan seperti itu!" terdengar panik Naomi mengatakannya, namun kepanikan Naomi direspon dengan tawa Luna.
"Lalu apa donk? sini cerita..eh tunggu, kamu bilang kotak pandora? maksudnya apa Naomi?" dengan sindiran dan nada yang menggoda Luna mengatakannya lalu mengajukan pertanyaan pada Naomi, Naomi pun menatap Luna dengan tatapan kesal.
"Jester pernah bilang kenangan denganmu seperti kotak pandora yang terbuka ketika kalian bertemu lagi, aku jadi berfikir kalau pun aku berhasil meredamnya sekarang tapi selamanya kotak pandora itu akan tersimpan dihatinya dan suatu saat akan kembali terbuka" jawab Naomi mencoba menjelaskan apa yang dipikirannya saat itu, Naomi pun mengalihkan pandangannya menatap kedua kakinya yang dia tekuk diatas kasur itu.
"Setiap terbuka maka dia akan bersikap seperti sekarang, dia trauma berlebihan dan selalu overthinking kepadaku. Aku yang tinggal bersamanya seperti ini akan selalu merasa sedih melihatnya terpuruk seperti itu. Melihatnya bahagia merupakan satu hal terindah yang aku punya saat ini, asal bisa membuatnya kembali seperti dulu... berkorban apapun aku siap" Naomi melanjutkan apa yang sebenarnya dia pikirkan ketika menerima permintaan Luna, mendengar penjelasan Naomi membuat Selena merasa bersalah karena berpikir Naomi melakukan hal bodoh tanpa melihat kondisi Jester.
"Begitu ya... jadi itu alasan kenapa kak Jester sempat melupakan aku saat di mall, semua dia simpan dalam kotak pandora dihatinya" Luna mengatakannya dengan sedih, mendengar Luna yang mendadak sedih membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Luna.
"Selena sedikit menceritakan tentangmu dan pria bernama Daniel itu, jika aku menyandingkannya dengan perbuatanku pada kak Jester, tidak ada perbedaannya antara aku dengan Daniel. Kami sama - sama menggores hati begitu dalam, kami adalah sekumpulan orang jahat yang tega melukai cinta suci dari orang tulus" dengan penuh penyesalan Luna mengatakannya
"Luna! gak seperti itu, antara kamu dan Daniel sangat berbeda!" agak marah Naomi mengatakannya, namun Luna hanya tertawa kecil merespon perkataan Naomi.
"Terima kasih sudah membelaku... jika ada kehidupan kedua, aku akan segera mencarimu dan menjadikanmu sahabatku" dengan suara yang agak berat Luna mengatakannya, Naomi merasa Luna akan menangis saat itu namun dia memilih diam dan kembali memeluk kedua kaki yang dia sandarkan pada dadanya.
Obrolan hangat dari hati ke hati yang tercipta oleh tiga wanita yang sedang dekat dengan Jester begitu terasa, tidak ada aroma permusuhan bahkan persaingan didalamnya. Seperti saling menghargai perasaan masing - masing, ketiga wanita ini hanya ingin dekat dengan Jester atas tujuan masing - masing tanpa ingin ada rasa menyakiti. Yaah walaupun mau tidak mau pasti ada yang tersakiti.
Malam itu terasa syahdu dengan angin yang berhembus cukup keras, dirumah Jester dan Naomi yang semakin ramai oleh kehadiran Luna dan Selena seakan tidak dapat membuat suasana menjadi lebih meriah. Naomi, Luna dan Selena yang terlihat tidur dikamar yang sudah gelap tanpa lampu pun masih membuka mata dengan pikiran mereka masing - masing, sedangkan Jester yang berada diruang keluarga terlihat tidur disofa dengan memegang pelipis matanya seperti sedang berfikir dan menata hatinya yang kacau malam itu.
Malam berganti pagi, Jester yang membuka mata langsung terbangun dari tidurnya. Semalaman dia tertidur disofa dengan posisi yang masih sama, sejenak meregangkan tubuhnya lalu segera beranjak menuju kamar mandi. Ketika Jester membuka pintu, didepan pintu sudah terlihat Naomi yang hendak mengetok pintu.
"Jess... selamat pagi... sarapan sudah siap, ayo kit..." belum selesai Naomi berkata, Jester melewati Naomi begitu saja.
"Tidak usah, terima kasih" ucap Jester cuek, jawaban Jester saat itu membuat Naomi terkejut. Agak jauh Jester melangkah dilorong utama rumah, Naomi pun mengalihkan pandangannya menatap punggung Jester dengan amarah.
"Jester!! kamu kenapa?! kalau kamu marah padaku, katakan alasannya dan jangan seperti ini!!" agak membentak Naomi mengatakannya, langkahnya terhenti namun Jester tidak berbalik menatap Naomi dan masih memunggunginya.
"Katakan saja kapan kamu akan meninggalkanku" jawab Jester dengan suara datar, perkataan Jester saat itu membuat Naomi bingung.
__ADS_1
"Apa maksudmu? aku tidak pernah terpikirkan akan meninggalkanmu" nada bicara Naomi masih terdengar bingung dengan perkataan Jester pagi itu, Jester tertawa merespon perkataan Naomi.
"Luke dan Harry melihat kalian bertiga ditaman kampus, sepertinya memang kalian bertiga saling mengenal ya sampai merencanakan sesuatu bersama" agak terdengar emosi Jester mengatakannya, Naomi pun terkejut mendengar perkataan Jester saat itu. Naomi berjalan mendekati Jester lalu menarik lengannya agar Jester berbalik menatapnya, namun Jester menolak dan terus menghindari kontak mata dengan Naomi.
"Jester dengarkan aku, maaf aku membohongimu tapi aku baru mengenalnya dihari itu juga. Dia menemuiku dikelas bersama Selena dan dia mengatakan kalau dia ingin menyelesaikan masalahnya denganmu, aku yang juga ingin membantumu pun akhirnya setuju. Aku rasa Luke dan Harry tidak mengetahui semuanya dari awal" bantah Naomi dengan tegas
"Jika maling mengaku, penjara akan penuh" celetuk Jester menyindir Naomi, mendengar celetukan itu membuat emosi Naomi pun terpancing
"Jester!! aku tidak pernah terpikirkan untuk meninggalkanmu!! kamu cuma sedang kacau jadi overthinking kepadaku!!" dengan bentakan Naomi mengatakannya, Jester pun menepis tangan Naomi yang sejak tadi memegang lengannya.
"Aku yang kacau?!! aku katamu?!! pikiranmu yang kacau!! aku tidak membutuhkan Luna dikehidupanku tapi kamu memaksakan kehendakmu menghadirkan Luna!!" bentakan Jester membuat Naomi tersentak, matanya pun mulai berkaca - kaca mendapatkan bentakan itu.
"Aku hanya mencarikan jalan terbaik... terbaik untuk hatimu..." belum selesai Naomi mejelaskan, Jester berbalik dan menatap Naomi dengan penuh amarah.
"Kamu si paling mengerti hatiku, bagaimana kalau aku berpacaran dengan Camilla hari ini?!! Apa yang akan kamu katakan mengenai hatiku jika aku memutuskan untuk berpacaran dengannya?!!" bentak Jester terdengar sangat marah pada Naomi, dengan gelengan kepala Naomi merespon perkataan Jester.
"Aku akan buktikan padamu, aku akan berpacaran dengannya dan kamu harus memberikanku alasan karena kamulah yang paling mengerti tentang hatiku!! Kamu harus jelaskan kenapa aku mengkhianati cintaku padamu!!" bentak Jester lagi, air mata Naomi pun menetes deras saat itu.
"Kamu... tidak akan lakukan itu... aku yakin kamu tidak akan lakukan... kamu hanya sedang emosi Jess, duduklah dulu..." lagi - lagi Jester memotong perkataan Naomi
"Aku akan buktikan padamu hari ini aku akan berpacaran dengannya!!" ucap Jester dengan bentakan dan kemudian dia berbalik hendak berjalan menuju kamar mandi, namun tangan Naomi langsung menggenggam tangan Jester sangat erat.
"Baik... Baik Jester aku paham, lakukanlah....!!" Naomi pun semakin menangis terisak - isak, Jester berbalik menatap Naomi yang menunduk. Air mata Naomi pun jatuh menetes begitu deras kelantai dan ketangan Jester yang digenggam oleh Naomi, saat itu Jester merasakan sesak didadanya sampai membuatnya kesulitan untuk bernafas. Melihat Noami menangis karena ulah Daniel saja membuatnya sakit, tapi kali ini justru dia yang membuat Naomi menangis sampai terisak - isak. Rasa menyesal berkecamuk dihati Jester namun dia tidak bisa dengan mudah menepis cerita Luke dan Harry begitu saja.
"Tenang saja.... aku masih rumahmu... sejauh apapun kamu akan pergi, aku masih akan menjadi rumahmu" perlahan Naomi melepaskan tangan Jester, dengan sesenggukan Naomi terlihat berusaha untuk meneruskan kalimatnya yang sempat terputus.
"Jika kamu ingin kembali.... aku akan selalu ditempat yang sama, jangan sungkan..." ucap Naomi dengan suara yang terdengar begitu pilu, Naomi pun berlari meninggalkan Jester dilorong utama rumah menuju kamar. Jester yang menatap pintu kamar saat itu hanya dapat terdiam membatu, tidak lama matanya teralihkan menatap Luna dan Selena yang muncul dari dapur dan menatap wajahnya begitu kecewa.
"Kenapa... kenapa kalian menatapku seperti itu? dia jelas - jelas akan meninggalkanku kan? aku terlalu pintar untuk mengetahui sandiwaranya, kamu... kamu tidak akan bisa menghancurkan hatiku untuk kedua kalinya!" agak membentak Jester mengatakannya kepada Luna, tatapan mata Luna pun merasa sangat bersalah menatap Jester.
Kehadiran Luna benar - benar membuka kotak pandora dihati Jester, namun yang tersisa hanya perasaan luka yang kembali menganga. Hatinya merasa akan sulit untuk berdamai dengan kehadiran Luna dan hanya emosi yang bisa Jester tunjukkan jika berhadapan dengan Luna.
"Kak.... bisa kita bicara berdua, aku akan menjelas...." belum selesai kalimat Luna saat itu, Jester memotong.
"Tidak!! tidak ada yang perlu kamu jelaskan padaku!! kamu sengaja mendekatkan Naomi dan Selena disekitarku agar mereka menjadi penghalangku berpacaran dengan siapapun selain dirimu kan?!! aku tahu itu!!" bentak Jester pada Luna, saat itu Luna meneteskan air matanya.
"Maaf kak... maafkan aku...." dengan suara yang serak Luna mengatakannya, air matanya pun mengalir begitu deras menatap Jester.
"Sudah aku duga!! Luke dan Harry benar menilaimu!!" bentak Jester kembali, namun Luna merespon perkataan Jester dengan gelengan kepalanya.
"Kamu salah paham tentang aku, sadarlah kak... aku meminta maaf karena telah menjadikanmu seperti ini... kamu tidak seperti ini sebelum aku melukai hatimu..." dengan suara yang terbata dan terdengar serak Luna mengatakannya, tangisannya membuatnya sulit untuk berbicara normal.
Ditengah perdebatan antara Jester dan Luna tiba - tiba Selena mengatakan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Terbawa perasaan bersalah pada Naomi setelah melihat kejadian yang berat menimpa Naomi sejak kehadirannya bersama Luna membuat Selena mengutarakan pendapatnya.
"Kak, gimana caranya Luna merencanakan pertemuanmu dengan Naomi sedangkan kamu bertemu dengannya karena kamu yang menarik tangannya diparkiran kampus" ucap Selena berusaha menyadarkan Jester, mendengar perkataan Selena membuat Jester seakan tersadar dari emosinya. Matanya menatap Selena dengan penuh perasaan bersalah, namun Selena menatap Jester terlihat marah.
__ADS_1
"Bagaimana caranya Luna mengatur pertemuanku denganmu sedangkan aku saja begitu terkejut bertemu kamu di pintu masuk kampus dan tidak menyangka pria yang diceritakan Naomi saat itu adalah kamu dan bagaimana mungkin Luna mengatur aku dan Naomi bertengkar karenamu, sadarlah kalau kamu baru saja berfikiran bodoh!" bentak Selena masih berusaha menyadarkan Jester, setelah kalimat terakhirnya itu Selena merangkul Luna yang masih menangis dan menuntunnya untuk kembali ke kamar.
"Jujur saja aku kecewa padamu kak, aku rasa Naomi dan Luna juga berfikiran yang sama denganku" ucap Selena sambil berjalan menuju kamar meninggalkan Jester di lorong utama rumah, Jester pun masih membatu disana untuk waktu yang cukup lama ketika Selena dan Luna sudah masuk kedalam kamar menyusul Naomi.