Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Tentang Sebelas Bulan Kedepan


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah, semua kegiatan formal kampus pun libur. Di saat inilah Jester biasanya masih tidur untuk menikmati hari liburnya, setelah rentetan kejadian yang tidak menyenangkan baginya, penuh drama, dan tentu saja penuh pergolakan batin bagi Jester yang selalu hidup dengan damai. Pagi itu Jester memilih untuk tetap menyelimuti dirinya dan lanjut untuk tidur, sampai tiba - tiba Naomi membuka pintu ruang keluarga dengan keras sampai membuat Jester terkejut.


"Waa!! apa?!" tanya Jester dengan nada yang terdengar kaget sembari menatap wajah Naomi yang tersenyum menatapnya


"Pagi Jester!" sapa Naomi dengan penuh semangat dan terdengar senang, Jester pun menatap kesal Naomi saat itu.


"Kamu... demam?" tanya Jester terdengar kesal, Naomi menghela nafas mendengar pertanyaan Jester


"Bangun, aku sudah siapkan sarapan untukmu" Naomi merespon Jester dengan sedikit tertawa, Jester kembali menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya


"Tidak, aku mau tidur sampai siang" ucap Jester sembari berbalik memunggungi Naomi dan kembali akan tidur, Naomi berjalan mendekati Jester dan tiba - tiba tidur dibelakang Jester dan tangannya langsung memeluk tubuh Jester yang tertutupi selimut.


"Aku ikut tidur deh kalau kamu memutuskan seperti itu" celetuk Naomi sembari memeluk semakin erat, Jester terkejut dan matanya sampai melotot ketika tangan Naomi memeluknya dengan erat dalam posisi tidur bersama. Sontak Jester bergulung keluar dari selimut dan langsung berbalik menatap Naomi dalam posisi duduk, wajah Jester memerah dan terus menatap Naomi yang bangun dari tidurnya.


"Aa... apa apaan kamu?!!" tanya Jester terdengar panik, namun Naomi tertawa terbahak - bahak menatap Jester yang begitu panik karena Naomi tadi memeluknya.


"Ahahaha.... akhirnya kamu keluar juga dari selimut, ayo sarapan dulu" ucap Naomi sembari berdiri lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga, Jester pun menatap pintu keluar ruang keluarga itu dengan raut wajah kesal.


"Setelah keluar kemarin dia benar - benar berubah total" ucap Jester kesal sembari berdiri lalu merapihkan ruang keluarga


Setelah Jester merapihkan tempat tidurnya dan ruang keluarga itu, Jester berjalan keluar dan menuju ruang makan dimana Naomi sudah menanti Jester. Senyum Naomi pun merekah bersamaan dengan kedatangan Jester diruang makan itu dan membuat Jester terheran, Jester berjalan mendekati kursi makan dan berhadapan dengan Naomi dipisahkan sebuah meja makan yang muat untuk enam orang.


"Ada apa? kamu terlihat senang" tanya Jester untuk memuaskan rasa penasaran dan herannya


"TIdak ada, hatiku cuma lagi senang aja" jawab Naomi sembari memberikan piring dan perlengkapan makan kepada Jester, Jester menerima peralatan makan itu namun matanya tetap menatap Naomi.


"Jarang - jarang kamu seperti ini" celetuk Jester masih terdengar heran, dengan senyum yang terlihat menggoda Naomi memajukan badannya mendekati Jester.


"Emang aku seperti apa biasanya?" tanya Naomi dengan nada yang terdengar genit, wajah Jester pun memerah menatap mata Naomi.


"Aaah yah... kamu itu... aah sudahlah, lupakan aja" Jester membuang muka saat mengatakannya, Naomi pun tertawa kecil mendengar jawaban Jester.


"Tapi..." Naomi menggantungkan ucapannya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Jester yang penasaran langsung mengalihkan pandangannya menatap Naomi.


"Hmm? tapi apa?" tanya Jester penasaran, Naomi membuka celah jarinya dan menatap Jester dibalik celah - celah itu dengan malu - malu.


"Tapi... kamu lebih suka aku yang seperti ini kan?" tanya Naomi terdengar malu - malu, Jester pun sedikit terkejut mendengar pertanyaan Naomi dan membuat wajahnya memerah. Dengan menggaruk dahinya beberapa kali dan mengalihkan pandangannya menatap langit - langit, Jester terlihat berfikir untuk menata kalimatnya.


"Yaah... ya... begitulah, ahaha... iya benar aku lebih suka kamu yang seperti ini" jawab Jester terbata, Naomi tertawa mendengar jawaban Jester lalu perlahan melepaskan kedua tangan dari wajahnya. Keduanya lalu tertawa bersama dan melanjutkannya dengan sarapan bersama, diselingi dengan obrolan ringan dan canda tawa.


Beberapa menit pun berlalu, Jester selesai dengan sarapannya sedangkan Naomi terlihat membereskan meja makan dan membawanya kedapur untuk kemudian mencuci piring. Tidak lama handphone Jester pun berbunyi tanda ada pesan masuk, Jester menatap layar handphonenya dan mendapati Justin mengirimi Jester sebuah pesan singkat.


***


"Nanti jam 12 kita latihan band buat mencocokan nada" diterima


"Ok, aku kabarin Luke dan Harry" dikirim


***


"Justin mengajak kita untuk latihan band hari ini jam dua belas siang di kampus" ucap Jester menatap Naomi, sesaat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester sembari terus mencuci piring


"Hmm... kita gak ada jadwal kan, aku juga kosong sampai nanti jam enam sore" timpal Naomi kemudian kembali fokus mencuci piring, Jester berfikir ada apa dengan jam enam sore.


"Kamu ada acara apa jam enam sore?" tanya Jester penasaran, sesaat Naomi mematikan air keran lalu menatap Jester nampak serius.

__ADS_1


"Eeh... aku pikir kamu sudah tahu aku akan kemana" jawab Naomi terdengar heran, Jester pun menepuk kedua tangannya seperti teringat akan sesuatu.


"Ooh iya, jenguk adik Daniel ya?" Jester bertanya untuk memastikan, raut wajah Naomi pun terlihat memelas untuk meminta izin pada Jester. Setelah kejadian kemarin, Naomi berfikir Jester akan berubah pikiran tentang izin Naomi.


"Iya... apa aku tetap boleh kesana?" tanya Naomi memelas, Jester menaruh tangan dimeja lalu menopang kepalanya sembari menatap Naomi.


"Tentu, ini hari pertama kan aku izinkan, tapi ingat ya, aku sudah susah - susah membuatmu tersenyum, aku harap kamu pulang juga dengan senyuman" jawab Jester dengan tegas, wajah Naomi pun memerah mendengar jawaban Jester. Naomi kembali menghidupkan keran air dan melanjutkan mencuci, senyumnya mendadak merekah.


"Jester bodoh, kamu gak seharusnya mengatakan itu" gumam Naomi dengan suara yang pelan sampai Jester tidak dapat mendengarkannya, tidak lama handphone Jester kembali bedering tanda telepon masuk. Jester melihat layar dan mendapati Luke meneleponnya dengan nama "Si Gorilla"


***


"Heei bodoh, aku di chat Justin katanya nanti latihan band" ucap Luke ketika Jester mengangkat teleponnya


"Aku akan datang sama Naomi, kamu sama Harry gimana?" tanya Jester


"Harry juga akan datang, cuma dia agak terlambat katanya ada janji kencan sama Anna. Haah sial, rubah itu bikin aku pingin punya pacar lagi" jawab Luke


"Aku juga berfikiran seperti itu" timpal Jester


"Kamu sudah ada Naomi, dasar bodoh. Gak ada alasan buatmu untuk iri" ucap Luke sedikit membentak


"Ayo lah Luke, kamu tau apa yang sebenarnya terjadi kan!!" balas Jester dengan sedikit bentakan


"Lalu bagaimana dengan tuan Will dan nyonya Marrie? apa kamu sudah katakan yang sebenarnya pada mereka?" tanya Luke


"Mama sepertinya sudah sadar dengan yang terjadi, cuma aku tidak tahu bagaimana sama papa" jawab Jester


"Jadi masih ada kemungkinan tuan Will tidak tahu ya, lalu bagaimana dengan pernikahan kalian?" tanya Luke


"Kamu tidak bisa menghindarinya kan?" tanya Luke


"Aku masih bisa mengusahakan sesuatu" jawab Jester


"Bagaimana dengan Naomi? apa dia akan menerima keras kepalamu?" tanya Luke agak menekan


"Kenapa kamu bicara begitu?" tanya balik Jester terdengar heran


"Masih ingat kejadian ditaman saat Camilla membongkar semuanya? dia berusaha melindungimu kan? apa kamu sadar Naomi berusaha menunjukkan rasa cintanya padamu?" tanya Luke kembali, Jester pun terdiam beberapa saat sembari menatap Naomi yang terlihat baru selesai mencuci piring. Jester dan Naomi bertatapan mata saat itu, Naomi sampai heran melihat Jester yang terdiam menatap dirinya saat sedang menelepon.


"Entahlah Luke, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu" jawab Jester sedikit melamun menatap Naomi


"Kamu harus segera putuskan, aku tahu kamu bukan pria brengsek tapi jika kamu terus termakan arus, maka itu akan membuat keadaan semakin buruk" timpal Luke dengan suara yang terdengar tegas


"Tidak tidak... aku pasti akan memikirkan mereka agar tidak..." ucapan Jester dipotong Luke


"Aku berbicara tentangmu dan bukan tentang tiga wanita itu bodoh" timpal Luke kembali


"Aku? kenapa jadi aku?" tanya Jester terdengar heran


"Haah.... dasar bodoh, sudahlah nanti kita bicara lagi" jawab Luke sembari memutuskan sambungan teleponnya


***


Naomi terlihat berjalan mendekati Jester dan kemudian duduk didepannya sembari terus menatap Jester yang masih fokus menatap layar handphone nya, wajah heran Naomi jelas terlihat saat itu karena Jester nampak melamun.

__ADS_1


"Dari Luke kan? ada apa? tadi tiba - tiba kamu melihatku seperti itu" tanya Naomi mencoba menyadarkan Jester dari lamunannya, Jester perlahan mengalihkan perhatiannya dan menatap Naomi.


"Dia berbicara hal aneh" jawab Jester singkat, namun tatapan mata Jester membuat Naomi menjadi penasaran


"Kenapa memandangiku?" Naomi pun bertanya lagi untuk memuaskan rasa penasarannya, Jester meletakkan handphonenya di meja makan lalu melipat kedua tangannya sembari menatap Naomi dengan serius.


"Tentang sebelas bulan lagi, bagaimana menurutmu?" tanya Jester terdengar serius, sebuah pertanyaan yang membuat Naomi sedikit tersentak. Naomi pun terdiam menatap Jester agak lama dan kemudian kepalanya perlahan menunduk, sembari terus berfikir tentang sebelas bulan lagi pernikahan mereka.


"Aku gak tahu, ini semua tidak pernah aku duga sebelumnya dan aku juga bingung harus gimana" jawab Naomi terdengar sedih, Jester menghela nafas sejenak.


"Kamu akan menerima keputusan itu?" tanya Jester dengan nada yang sedikit menekan, Naomi pun kembali tersentak dan tangannya yang berada diatas meja nampak menggenggam erat. Setelah terdiam beberapa saat, tiba - tiba Naomi berdiri dan hendak meninggalkan Jester diruang makan itu. Jester pun mengejar Naomi dan menggenggam lengannya agar Naomi berhenti berjalan, dengan perasaan takut Naomi marah Jester berusaha mencari tahu apa yang sedang dipikirkan Naomi saat itu.


"Naomi, apa pertanyaanku membuatmu marah? kalau iya aku minta maaf, aku gak maksut melukai hatimu" ucap Jester penuh penyesalan, Naomi bergeming dan tetap memunggungi Jester kala itu.


"Jester, aku sudah bilang kalau aku mencintaimu. Jika memang ada kesempatan aku bisa menikah denganmu, apa mungkin aku akan menolaknya?" tanya balik Naomi tanpa menatap Jester, Jester yang terkejut dengan ucapan Naomi perlahan melepaskan tangannya dari lengan Naomi. Tidak lama Naomi berbalik dan menatap mata Jester yang masih terlihat terkejut, perlahan Naomi menaruh tangan kanannya ke pipi kiri Jester dengan lembut.


"Sebelan bulan lagi Jester.... apa keputusanmu sebelas bulan lagi?" tanya balik Naomi ditengah keheningan keduanya, Naomi memandangi wajah Jester dengan tatapan mata penuh harap. Jester menggenggam tangan Naomi yang berada dipipinya.


"Memiliki istri sepertimu itu bagaikan mimpi, entah akan berapa banyak haters ku setelah penggemarmu tahu kamu akan menikahi pria pecundang sepertiku" jawab Jester, perlahan Jester melepaskan tangan Naomi dari pipinya namun tetap menggenggam erat tangan Naomi. Naomi pun tersipu malu saat itu menatap Jester yang tiba - tiba tersenyum lebar, walau bingung Naomi tetap masih terdiam menatap Jester.


"Ayo kita lihat sebelas bulan lagi dan lihat apa yang akan terjadi" jawab Jester terlihat senang


"Apa itu artinya..." ucapan Naomi dipotong oleh Jester


"Semua masih bisa berubah, tentang perasaanmu, perasaanku, bagaimana kamu dengan Daniel, aku dengan Camilla, nanti akan seperti apa Selena terhadapku da kepadamu. Sebelas bulan kedepan ini aku harap kamu bisa menikmati prosesnya dan berbahagia bersamaku" Jester meneruskan kalimatnya dengan senyum yang masih merekah menatap Naomi, Naomi pun tertawa kecil mendengar jawaban Jester ketika itu.


"Baik... aku paham, ayo kita nikmati hari demi hari sampai sebelas bulan kedepan" Naomi membalas senyuman Jester, keduanya pun tertawa bersama lalu kembali kekamarnya masing - masing. Yah... walau pun Jester tidak memiliki kamar, namun ruang keluarga sudah menjadi kamar bagi Jester dirumah itu.


Keduanya lalu bersiap untuk menuju kampus dimana mereka berdua ada janji bertemu Justin, Grece, Luke dan Harry untuk latihan band. setelah bersiap dengan perdebatan kembali mengenai baju Jester yang kembali dipilihkan oleh Naomi, akhirnya Jester dan Naomi pun bersiap untuk memulai perjalanan mereka menuju kampus. Di jalanan perkotaan yang padat siang hari itu, terlihat Mercedes Benz V260 melaju lambat mengikuti arus, didalam mobil itu Jester dan Naomi terlibat percakapan santai yang terlihat menyenangkan. Sesekali Jester dan Naomi pun tertawa bersama, terlihat keduanya tanpa kecanggungan sama sekali.


Beberapa menit perjalan penuh canda tawa didalam mobil, akhirnya Jester dan Naomi sampai diarea kampus mereka. Jester segera menuju parkiran kampus dan memarkirkan mobilnya disana, Jester dan Naomi turun bersamaan ketika mobil telah terparkir sempurna. Mereka pun langsung berjalan menuju ruang klub musik, didalam ruangan itu Justin dan Grece ternyata telah menunggu kedatangan Jester dan Naomi.


"Naomi!!" sapa Grece sembari berlari kecil memeluk Naomi


"Hai Grece" sapa balik Naomi dan membalas pelukan Grece dengan hangat


"Kalian datang tepat waktu, tapi sayangnya Luke dan Harry sepertinya akan sedikit terlambat" celetuk Justin bersamaan dengan Grece dan Naomi saling melepaskan pelukannya, Jester tidak terlihat heran mendengar kedua sahabatnya itu datang terlambat


"Aah sudah aku duga mereka akan datang terlambat, kali ini alasan apa yang mereka katakan?" tanya Jester terdengar meremehkan dan sedikit menyindir, Justin tertawan mendengar ucapan Jester.


"Mereka bilang Selena hari ini akan bertemu Camilla di MoonBuck, karena mereka punya tugas mengawasi gerak - gerik keduanya, aku rasa mereka butuh waktu untuk berkumpul bersama kita" jawab Justin, mendengar jawaban itu sorot mata Naomi terlihat sedih dan Jester berusaha tidak terlihat khawatir walau gerak tubuhnya saat itu terlihat sedikit gusar.


"Apa harus seperti itu? aku rasa kita sudah berlebihan" timpal Naomi dengan nada yang terdengar sedih, namun kesedihan Naomi saat itu membuat Grece sedikit emosi


"Kita gak bisa beri mereka ruang sedikitpun sampai rencana ini berhasil, terlalu beresiko kalau mereka sampai tahu apa yang sedang kita kerjakan" jawab Justin memberi penjelasan pada Naomi agar Naomi dapat mengerti kenapa tindakannya begitu berlebihan, Grece menanggukkan kepalanya beberapa kali merespon jawaban Justin.


"Itu benar, kalau Selena dan rubah betina itu tahu, mungkin mereka berdua akan merencanakan sesuatu untuk memberi tahu ibu Naomi" timpal Grece yang terdengar emosi, Naomi pun menepuk lengan Grece sedikit keras untuk menyadarkan Grece.


"Grece, jangan sebut Camilla dengan kata - kata seperti itu" celetuk Naomi terdengar sedikit marah pada Grece, Grece pun menutup mulutnya saat sadar akan ucapan bodohnya


"Maaf Jester, lagi - lagi aku tidak memikirkan hatimu" ucap Grece terdengar menyesal, Jester terlihat tidak peduli dan terus memainkan gitar dengan santai.


"Agak canggung memang saat kamu bilang Camilla seperti itu, tapi yah mau gimana lagi" timpal Jester, jawaban Jester ketika itu membuat Naomi, Grece dan Justin sedikit terkejut


"Kita tetap akan pantau apapun yang akan Camilla dan Selena lakukan, aku berharap Luke dan Harry paham seberapa berat beban yang mereka emban dari tugas mereka" ucap Justin tegas lalu Justin pun segera menuju tumpukan kabel - kabel yang berada di ruang musik itu, Naomi dan Grece terdiam menatap Justin.

__ADS_1


Disisi lain disebuah mall yang terletak ditengah perkotaan, terlihat orang - orang ramai berkumpul di mall itu. Orang - orang tersebut lalu lalang disekitaran mall, sekedar hanya berjalan - jalan, juga ada yang berbelanja, dan sekedar hanya datang ke cafe yang terletak didalam mall tersebut. Disalah satu cafe dalam mall, terlihat Selena yang duduk disalah satu sudut cafe terlihat sedang menunggu seseorang, tidak lama Camilla terlihat berjalan masuk dan langsung duduk berhadapan dengan Selena. Camilla saat itu melipatkan kedua tangannya sembari menatap tajam Selena, sedangkan Selena terlihat sangat marah menatap Camilla.


__ADS_2