Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Masa Lalu Naoko (2)


__ADS_3

***EPISODE INI MASIH MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI NAOKO***


Naomi...


Nama yang diberikan Evans kepada anak perempuanku yang saat itu baru lahir...


Evans mengatakan jika dia berharap Naomi akan tumbuh sepertiku agar pantas untuk menjadi pendamping bagi Jester, entah mengapa kata - kata Evans saat itu menganggu diriku.


Menjadi seperti.... diriku...


Sebuah kalimat indah seolah seperti pujian dan kebanggaan Evans terhadapku dengan jelas aku dengar dan tertanam dengan indah dalam pikiranku.


Seakan menjadi perintah Evans kepadaku, aku pun menanamkan dengan baik untuk mendidik Naomi agar dia akan seperti diriku. Melihat betapa tenangnya Naomi ketika bayi membuat kekhawatiranku sebelumnya berangsur - angsur menguap, aku senang dengan perkembangan masa batita Naomi... semua berjalan dengan baik sampai suatu ketika...


"Huuuaaaaa!!!" tangis seorang anak laki - laki berusia enam tahun begitu keras terdengar, aku keluar dari rumah dengan berlari cukup cepat dan melihat apa yang sedang terjadi saat itu di taman depan pelataran rumahku.


"Ahahaha... laki kok lemah?" tertawa Naomi mengejek anak laki - laki didepannya yang terkelungkup di tanah


Aku pandangi anak perempuanku yang kini sudah berusia lima tahun itu, dia tumbuh menjadi liar dan seperti anak laki - laki pada umumnya. Tidak ada satupun keanggunan yang pernah Naomi tunjukkan kepadaku dan Evans selama ini, aku kembali berlari dan meneriaki Naomi agar berhenti untuk merundung anak laki - laki itu. Dengan segera aku memeriksa apakah anak itu terluka dan benar saja, pelipis matanya robek mungkin karena bebatuan yang ada di tanah.


"Masuk ke kamarmu Naomi!!!" bentak ku pada anak perempuanku itu, aku menatap kedua matanya yang tidak menunjukkan penyesalan dan ketakutan sama sekali mendengar bentakanku.


Naomi hanya berlari masuk kedalam rumah begitu saja, aku pun mengantarkan anak laki - laki ini kerumahnya. Kebetulan orangtuanya adalah tetangga kami. Disana aku hanya bertemu dengan pengasuhnya saja, aku menitipkan pesan padanya untuk menyampaikan permohonan maaf kami atas nama keluarga lalu aku pun kembali pulang.


Sesampainya dirumah, Naomi kembali membuat ulah dengan memecahkan beberapa pot bonsai milikku yang saat itu aku letakkan di taman depan untuk aku rawat. Disana aku melihat Naomi terluka kakinya karena potongan tajam pot bonsai menggores kaki, aku pun panik dengan banyaknya darah yang keluar namun semua kepanikan itu berbanding terbalik dengan Naomi... dia hanya tertawa menatapku seakan meminta belas kasihku agar tidak memarahinya.


Belum selesai lelahku berjalan dari rumah menuju rumah anak laki - laki yang Naomi usik, kini aku harus menahan rasa lelah hatiku melihat kondisi Naomi yang kakinya berlumur darah. Aku gendong dia dan membawanya ke kamarnya lalu mengobati lukanya disana, aku tidak dapat berkata - kata lagi saat itu. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah.


Malam harinya, aku mendapatkan kunjungan dari tetanggaku yang meminta pertanggungjawaban karena ulah Naomi. Evans yang baru pulang dari kerjaannya dan terlihat begitu lelah, harus menghadapi tetangga kami yang begitu cerewet. Mereka membentak - bentak dan kami hanya bisa menundukkan kepala sembari memohon maaf, sejumlah uang pun kami berikan sebagai bentuk kompensasi.

__ADS_1


"Haah... bagaimana cara menjinakkan anak satu itu?" tanya Evans terdengar kesal, aku mengambil tas genggamnya yang sedari tadi digenggam oleh Evans.


"Maaf Evans san... aku tidak tahu..." jawabku terbata, aku merasakan kekecewaan Evans saat itu


"Kamu kan ibunya, lakukanlah sesuatu!" agak membentak Evans saat itu kepadaku, aku tersentak mendengar bentakannya.


Sudah sangat lama aku tidak pernah mendapatkan bentakan itu, bentakan terakhir yang aku dapatkan sebelum malam itu adalah bentakan Evans saat dia memintaku untuk menjauhinya dulu ketika kami masih berpacaran. Hari ini untuk pertama kalinya, aku mendapatkan bentakan yang sama.


Waktu berlalu dan aku mulai keras kepada Naomi meski Naomi seakan tidak takut sama sekali kepadaku, aku pun kerepotan mengurus tingkah nakal dan liar Naomi. Hingga umur Naomi saat itu telah menginjak sebelas tahun, Naomi tidak juga kunjung menunjukkan tanda - tanda dia menjadi lebih baik. Evans saat itu terlihat putus asa, aku pun merasakan kekecewaannya meski sikap itu tidak pernah ditunjukkan pada Naomi.


Suatu malam ketika aku menyambut Evans setelah lelah pulang bekerja, di pelataran rumah aku melihat wajahnya begitu kusut menatapku. "Ada sesuatu dalam pekerjaannya" dalam benakku pun berfikir demikian, aku berlari mendekatinya dan mengambil koper miliknya.


"Ada apa?" tanyaku khawatir


"William ingin mempertemukan Jester dengan Naomi, aku tidak memiliki alasan tepat untuk menolaknya" jawab Evans terdengar sedih, aku pun terkejut dengan jawaban Evans.


"Apa yang akan William katakan jika melihat Naomi seperti itu? aku tidak punya muka untuk mempertemukannya!" ucap Evans lagi terdengar begitu malu dan marah yang menjadi satu, aku hanya bisa terdiam memikirkan caranya.


Aku membatu di pelataran rumah, hanya bisa menatap punggung Evans yang terus berjalan masuk kedalam rumah meninggalkanku di pelataran rumah. Kekecewaan Evans begitu menusuk jantungku, aku kecewa pada diriku dan juga pada anakku sendiri. Bagaimana bisa ini terjadi? aku dan Evans sama - sama memiliki ketenangan dalam bersikap, namun Naomi seakan menjadi kontradiktif dari sifat kami.


Aku meningkatkan intensitas kerasnya didikanku pada Naomi, aku sampai harus mematikan naluri keibuanku untuk membentuk Naomi menjadi pribadi yang diinginkan Evans. Memasukkannya ke kelas - kelas kepribadian, mengajarinya lemah lembut dengan mengajarinya piano dan biola, sampai aku harus menghubungi Marrie untuk mengajaknya bertemu.


Disebuah coffee shop pinggir kota, aku dan Marrie bertemu empat mata untuk pertama kalinya sejak kami berpisah ketika kelulusan SMA. Sebuah pertemuan yang tidak menyenangkan harus aku lakukan demi menjaga martabat Evans dihadapan William, semua aku lakukan demi Evans...


"Ada apa? kamu mengundangku ketempat seperti ini? apa kamu sudah bangkrut? Yaah uang William yang membuatmu kaya sih, tapi mengundangku ketempat seperti ini? itu sebuah penghinaan" sindiran pedas Marrie tidak pernah berubah sejak kami SMA, aku menahan semua emosiku demi satu tujuan penting.


Aku menundukkan kepalaku dihadapan Marrie untuk pertama kalinya, aku yakin dia terkejut melihatku seperti itu. Mungkin tidak pernah akan dia bayangkan, seorang Naoko Kanade... pemenang ratu kecantikan sekolah, nomor dua paling pintar setelah Marrie, nomor satu paling berbakat dalam hal tata krama, dan nomor dua dalam bidang atletik dibawah Marrie itu kini menundukkan kepalanya dihadapan musuh bebuyutannya itu.


"Beri aku waktu untuk mempertemukan Jester dengan Naomi!! aku tidak bisa beri tahu alasannya, tapi aku mohon pengertianmu!" pintaku padanya

__ADS_1


"Apa? kamu mengundangku hanya untuk itu?" tanya Marrie yang suaranya terdengar begitu bingung


"Aku cuma minta pengertianmu Marrie, apapun akan aku lakukan asal kamu memberikan aku waktu" pintaku lagi memaksa Marrie


"Kenapa? kamu tidak perlu repot - repot melakukan ini, kamu cukup menjauhkan anakmu dari anakku. Aku tidak sudi menjadi besanmu" tanya Marrie menekan ku


"Aku tahu, aku juga tidak sudi tapi.... ini tentang Evans, semua aku lakukan demi Evans yang begitu berharap Naomi akan menjadi menantu keluarga Gates. Kamu tahu seberapa cintanya aku pada Evans... kamu tahu apa saja yang aku korbankan untuk mendapatkannya.... bahkan kamu sampai memandangku rendah karena aku sudah merendahkan diri dihadapan seorang pria..." aku begitu memohon iba darinya agar mau menerima permintaanku


"Baik~ begini saja... anggap aku menerima permintaanmu tapi...." Marrie menggantung kalimatnya seakan menungguku untuk mengangkat kepalaku menatap matanya, aku pun menatap wajah Marrie yang tersenyum itu meski tidak tahu apa yang dia sedang pikirkan.


"Tapi apa?" tanyaku penasaran


"Katakan pada Evans, anak sekarang sangat tidak suka jika dijodohkan. Biarkan mereka bertemu satu sama lain dengan alami, jika mereka bertemu suatu saat nanti... apapun keadaannya, kita akan menerima kekurangan dan kelebihan masing - masing anak dan menjadikannya menantu tanpa banyak protes. Aku juga akan katakan hal yang sama pada William, dengan begitu kita hanya bisa berharap pada takdir" jawab Marrie mengutarakan idenya yang sangat masuk akal bagiku


"Setuju!" timpal ku tanpa pertimbangan apapun


Tidak aku sia - siakan waktu yang ada, aku semakin keras kepada Naomi demi mencapai tujuanku. Bahkan aku memaksanya untuk menjadi seorang selebgram, agar aku dapat memantaunya lewat mata netizen. Aku juga sudah mengatakan hal yang Marrie minta kepada Evans dan Evans pun setuju dengan mengatakan jika William juga mengatakan hal yang sama, aku merasa lega mendengar Evans menyetujui usulan itu.


Setahun berlalu dan Naomi kembali berulah.... Naomi jatuh dari pohon dan Evans berusaha menangkapnya...


Aku ingat ketika darah Evans bercucuran keluar dari kepalanya dan membasahi tanganku... pandanganku kabur, hatiku hancur, benakku terbayang - bayang hidup tanpa Evans dan aku pun merasa hancur...


Sebuah pelajaran berharga bagi Naomi dengan bayaran yang teramat mahal...


Naomi lebih dapat dikendalikan sejak kejadian itu, namun aku masih tidak mempercayainya. Aku terus memantaunya dan benar.... bibit - bibit pemberontakan mulai ditunjukkan Naomi ketika dia masuk SMA, selama ini aku memang memasukkan Naomi disekolah tingkat dua untuk menghindari kemungkinan Naomi akan bertemu dengan Jester.


Namun itulah kesalahanku.... Dia bertemu dengan orang yang tidak sebanding dengannya, masa SMA adalah masa dimana cinta bisa tiba - tiba muncul dan berkembang kepada siapapun dengan alasan yang tidak masuk akal pula. Daniel.... aku akan mengingat nama itu selamanya.... seseorang yang membangkitkan bibit - bibit pemberontakan Naomi.


Entah bagaimana cara Naomi masih bisa terus berhubungan dengan pria ini, aku sudah menjaganya dengan sangat ketat namun sepertinya aku terlalu naif.... aku dikhianati oleh anakku sendiri...

__ADS_1


Kelulusan SMA pun menjadi ajang bagiku untuk segera menjauhkan Naomi dari pria ini, aku tidak punya pilihan selain memasukkan Naomi ke universitas mahal agar pria ini tidak dapat mengikuti jejak Naomi. Namun baru juga mendaftarkan dan Naomi dinyatakan diterima... aku lupa jika Jester juga berada di kampus yang sama... takdir kadang memang lucu.


__ADS_2