Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Berhasilnya Rencana Jester


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang, semua peserta rapat yang mendapatkan undangan dari Jester terlihat sudah berkumpul di salah satu ruang rapat didalam Gates Tower. Wajah mereka terlihat tegang karena mendapatkan panggilan resmi dari salah satu keluarga Gates, meski tertanda Jester langsung yang mengundang mereka namun reputasi keluarga Gates mempengaruhi mental mereka.


Belum lagi ketika para peserta rapat kali ini mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari para karyawan yang masih juga berkumpul di lobby Gates Tower, sesuai janji para karyawan ketika itu bahwa mereka akan memberi yel - yel dan menunjukkan dukungannya kepada Jester.


Tidak lama pintu ruangan terbuka lalu Jester, Sarah dan William masuk kedalam ruang rapat, dibelakang mereka juga terlihat tiga orang pria berbadan tegap dengan setelan tuxedo hitam. Ketiga pria bertuxedo itu kemudian menyiapkan sebuah proyektor, tidak lama proyektor itu menampilkan video call dengan Arthur yang terlihat dibalik layar. Melihat kehadiran Arthur walau hanya dari balik layar membuat peserta semakin tertekan, mereka saling melirik satu sama lain walau masih saling terdiam.


"Aaa... maaf tuan Jester, ini sebenarnya untuk apa?" tanya salah satu peserta rapat, namun ketika Jester ingin menjawab suara Arthur terdengar.


"Aku disini hanya akan melihat jalannya rapat" jawab Arthur dengan nada yang datar, mendengar jawaban itu beberapa anggota rapat terlihat lega meski ada yang masih menunjukkan ketegangan.


"Baik, terima kasih atas kehadiran dan kesediaan kalian untuk datang memenuhi undangan ku. Disini aku akan membeberkan rencana bisnis kita selama satu tahun ke depan" ucap Jester membuka rapat, tiba - tiba ada seorang yang mengangkat tangannya.


"Anda tidak dapat melakukan itu tuan Jester, sebelum berbicara tentang rencana satu tahun ke depan maka lebih baik anda menyelesaikan dulu masalah internal anda" tegas salah satu peserta mengatakannya, para peserta lain mulai bergumam satu dengan lain.


"Itu benar, saham kita sudah paling buruk selama satu dekade ini. Rencana satu tahun ke depan tidak akan terlaksana jika masalah pokok perusahaan tidak segera diselesaikan" timpal anggota rapat lainnya memperkuat opini sebelumnya, gumaman para peserta semakin terdengar memenuhi ruang rapat.


Suasana rapat yang begitu serius dan cukup tegang Jester pimpin dengan begitu tenang, Jester mencoba tidak terintimidasi dengan keberatan dari beberapa peserta rapat. Arthur dari balik layar memperhatikan kepemimpinan Jester dengan serius.


"Aku mengerti, bisnis memang kejam dan jika membuka sedikit celah kelemahan kita kepada publik maka itu akan menjadi senjata lawan bisnis kita untuk menyerang" timpal Jester dengan nada yang terdengar sedih


"Ditambah media Werner sudah mulai memberitakan masalah ini, kita akan semakin tertekan dan terpojok" ucap seseorang didalam ruang rapat itu, gumaman peserta rapat semakin liar tak terkendali. Hal itu membuat Sarah dan William emosi sampai membuat keduanya terlihat bergemetar karena berusaha untuk menahan emosi.


"Itu tujuan aku mengumpulkan kalian semua disini" celetuk Jester dengan suara yang agak keras untuk menghentikan peserta rapat saling bicara sendiri, semua mata kini tertuju pada Jester yang berdiri menatap mereka.


"Aku ingin merubah paradigma tentang bisnis, merubah aturan - aturan yang tidak baik dan menunjukkan jalan yang lebih baik. Memberikan manfaat bukan hanya berfikir pada profit, menciptakan sebuah jaringan bisnis yang sehat dan memberikan jejak sejarah yang baik pada penerus kita siapapun nanti yang akan duduk disini menggantikan kita!" ucap Jester dengan penuh semangat berapi - api


Ucapan Jester saat itu membuat para peserta rapat terlihat menahan tawanya, jika saja tidak ada sosok Arthur bisa saja mereka sudah tertawa terbahak -  bahak mendengar ide Jester yang mereka anggap konyol. Sampai akhirnya Jester mulai kembali menjabarkan visi misinya dan membuat mereka dengan tenang mulai mendengarkan setiap perkataan Jester.


"Tapi aku hanyalah remaja yang tidak memiliki pengalaman apapun, aku sedang berjalan sendiri dalam mimpi - mimpi indah tak berdasar. Disini aku ingin mengajak kalian semua yang berada disini untuk bersama - sama merubah pandangan orang kepada perusahan ini, merubah semua stigma negatif yang melekat pada kita, dan menjadi dasar dari mimpi - mimpi indah ku. Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri, jadi aku memohon kepada kalian semua untuk membantuku!" begitu selesai Jester mengucapkannya, Jester menundukkan badannya dihadapan para peserta rapat.


Tindakan Jester membuat ruangan itu menjadi sunyi senyap, suara angin AC kini terdengar kencang karena sunyi nya tempat rapat itu. Mereka semua syok melihat Jester yang menundukkan kepala untuk mereka semua, memohon bantuan kepada mereka bahkan ketika Arthur berada diantara mereka lewat proyeksi. Tidak lama suara tepuk tangan satu orang terdengar dan memecah keheningan, Jester mengangkat badannya mencari suara sumber suara tepuk tangan itu.


"Aku tidak menyangka hari ini akan tiba, hari dimana Gates menundukkan kepala kepada orang lain" ucap pria yang bertepuk tangan itu, pria itu pun berdiri dan menatap layar monitor dimana Arthur juga menatapnya.


"Tuan Bowman...." celetuk Arthur menyebut nama pria yang bertepuk tangan itu

__ADS_1


"Tuan besar Gates... bukankah ini hari kemenangan ku?" tanya Bowman kepada Arthur, mendapatkan pertanyaan itu membuat Arthur mengernyitkan dahinya.


"Tidak dapat menjawab pertanyaan ku? hah... besar kepalamu tidak berubah meski usiamu sudah sangat renta" sindir Bowman kepada Arthur


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Arthur


"Aku sengaja mendukung pemberontakan ini untuk menyingkirkan cucumu agar taruhan kita tentang suatu saat keluarga Gates akan menundukkan kepalanya kepada keluarga Bowman terjadi dan aku menang setelah tiga puluh tahun lebih aku menunggu" jawab Bowman ketika itu, jawaban itu membuat William sampai berdiri untuk membantah ucapan Bowman namun Jester memberi kode tangannya agar William diam.


Pembicaraan antara Arthur dan Bowman yang merupakan rival bisnis dengan sejarah yang kelam pada masanya menarik perhatian seluruh orang yang hadir dalam rapat tersebut. Dunia pria yang sudah senior dalam dunia bisnis seolah mengenang masa lalu mereka, Jester dan Sarah yang menyaksikan percakapan antara kakeknya dengan Tuan Bowman pun memperhatikan dengan teliti tentang kejadian saat itu.


"Jester, keluarga Bowman adalah salah satu keluarga besar yang ditundukkan oleh kakek mu dengan cara paksaan. Kami tidak terima atas perlakuan itu dan menuntut balas dendam" ucap Bowman kepada Jester, namun tiba - tiba Bowman membalikkan badannya dan berjalan hendak keluar dari ruang rapat.


"Tapi secara resmi aku sebagai pemimpin keluarga Bowman telah mengugurkan keinginan balas dendam itu, aku secara resmi menarik dukungan untuk menjatuhkan presiden direktur Jester Gates" ucap Bowman dengan senyum yang terlihat


"Tuan Bowman! tunggu!" ucap Jester, Bowman pun menoleh menatap Jester dengan garis senyumnya.


"Tunjukkan kepadaku bisnis yang bermanfaat bagi banyak orang, aku mempercayakan dan memberikan dukungan untuk itu" ucap Bowman lagi lalu dia pun keluar dari ruangan, gumaman peserta rapat kembali terdengar.


"Bagi para investor dan pemilik saham, dengan ditariknya dukungan tuan Bowman maka kalian tidak mencapai target untuk menjatuhkan Presiden Direktur Jester. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya William kepada para peserta, mereka semua terdiam mendengar pertanyaan William.


"Aku tetap akan membiarkan kalian menentukan pilihan ketika sudah mendengar rencana bisnis kita untuk satu tahun ke depan" ucap Jester ditengah rapat itu, semua peserta pun menatap Jester.


"Tapi nak.." belum selesai William berkata, Jester memotong.


"Aku ingin mendapatkan dukungan penuh karena ide dan kemampuanku diakui, bukan karena tekanan dan ancaman. Papa, tolong dukung pilihanku" timpal Jester sembari menoleh menatap William, dengan segera William kembali duduk di kursinya sembari melipat kedua tangannya.


"Aku mengerti nak!! kamu membuat papa bangga!!" penuh kebanggaan saat William mengatakannya


Jester memulai rapat itu dengan membeberkan semua rencananya selama satu tahun kedepan untuk mempertahankan nilai saham yang terus menurun, saling tanya jawab pun tidak terhindarkan dan diantara mereka terlihat semakin antusias mendengarkan rencana Jester. Semakin lama mereka rapat, semakin tinggi rasa antusias mereka semua namun rencana Jester juga mendapatkan beberapa interupsi dan revisi dari para anggota.


Jester menerima pendapat mereka dan menjadikannya bahan pertimbangan yang membuat para anggota rapat itu senang, suasana rapat menjadi sangat aktif dan hidup sampai membuat Arthur merasa sudah tidak ada lagi tempat untuknya ikut rapat bersama para anggota itu. Arthur mematikan video call nya dan tidak satupun diantara mereka yang menyadarinya, hanya Sarah yang melihat Arthur mematikan video call itu lalu dia pun tersenyum menatap punggung Jester.


Rapat itu berlangsung hingga waktu menunjukkan pukul 16.00, para peserta kemudian membubarkan diri dengan perasaan puas terhadap kinerja Jester dan mempunyai kepercayaan bahwa Jester dapat membalikkan keadaan. Jester, William dan Sarah berkumpul didalam ruang presiden direktur, mereka semua terlihat senang dan bersulang atas keberhasilan Jester membalik keadaan.


"Kamu hebat nak!! papa benar - benar bangga terhadapmu!! Wahahaha..." ucap William sembari menepuk punggung Jester sangat keras

__ADS_1


"Papa!! sakit tahu!!" bentak Jester, ayah dan anak itu pun terlibat adu fisik lagi.


Melihat ayah dan anak sedang beradu fisik didalam ruang kantor presiden direktur membuat Sarah ingin segera mengakhiri tindakan mereka. Sarah mengkhawatirkan akan ada karyawan yang melihat Presiden Direktur mereka bertingkah seperti anak kecil dan membuatnya kehilangan wibawa.


"Jester, apa ada yang kamu lupa untuk segera kamu selesaikan?" tanya Sarah kepada Jester, untuk sejenak Jester dan William berhenti saling banting didalam ruangan.


"Naomi ya..." gumam Jester menjawab pertanyaan Sarah, dengan anggukan kepala Sarah merespon gumaman Jester.


"Benar juga, bagaimana kondisi nona Naomi nak?" tanya William, Jester menghela nafasnya sejenak lalu menatap langit - langit ruangan.


"Aku tidak tahu, kadang aku melihatnya baik - baik saja dan kadang aku melihatnya terpuruk dalam kegelapan..." jawab Jester dengan nada yang terdengar sedih, mereka bertiga pun terdiam untuk beberapa saat.


"Aku berjanji pada ayah untuk selalu menjaga Naomi tapi... jika melihat keadaannya seperti ini seakan aku tidak bisa memenuhi janjiku kepada ayah" celetuk Jester memecah keheningan diantara mereka


"Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi, jalani saja tanpa mengeluh dan tetaplah berusaha untuk memenuhi janjimu pada Evans" timpal William, Jester menoleh menatap William dan termenung sejenak lalu tersenyum.


Memang William lah sosok yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk Jester, itu mengapa Jester begitu menyayangi ayahnya dan hubungan mereka begitu erat terjalin dengan baik. Walau tingkah kekanak - kanakan dari keduanya memang sulit untuk dihilangkan, tapi begitulah mereka sebagai anak dan ayah yang memiliki ikatan begitu kuat.


"Ayah benar, aku pergi dulu!!" dengan penuh semangat Jester mengucapkannya, Jester berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu.


"Heii! mau kemana kamu?!" tanya Sarah, Jester menoleh tersenyum menatap Sarah.


"Aku ingin menemui cintaku!" dengan antusias Jester menjawab pertanyaan Sarah lalu kembali berlari keluar ruangan


"Haah... dasar Jester, padahal masih ada hal yang belum selesai disini" terdengar kesal Sarah mengatakannya


"Maaf merepotkan mu Sarah, ayo kita kerjakan hal - hal kecil ini untuk membantu Jester. Biarkan dia mengejar cintanya untuk sementara" ucap William meminta tolong pada Sarah untuk membantu Jester


"Tidak perlu kamu minta paman... aku memang ada disini untuk terus mengawasinya karena...." Sarah menggantung kalimatnya sejenak, William penasaran dengan pernyataan Sarah.


"Karena?" tanya William


"Naomi memintaku untuk menemaninya.... dia meneleponku tengah malam dan memohon padaku untuk selalu membantu Jester dalam keadaan apapun, aku tidak tahu kenapa dia mengatakan itu..." jawab Sarah, kemudian William menatap keluar kaca jendela yang ada didalam ruangan.


"Jatuh cinta tidak akan selalu membuatmu bahagia, karena dalam cinta akan selalu saja ada rasa sakit dan luka. Tapi karena kedua hal itulah yang membuat kita menjadi dewasa dari hari ke hari... semoga Jester memahami itu..." celetuk William

__ADS_1


__ADS_2