
Malam hari di rumah keluarga Scott, sebuah Mercedes Benz S450 terlihat terparkir didepan pelataran rumah. Supir Jester sedang mengobrol dengan penjaga rumah keluarga Scott didepan pelataran sembari duduk bersama di tangganya. Lebih kedalam dari rumah itu, disalah satu kamar yang menjadi kamar Naomi terlihat Jester dan Naomi duduk di kasur bersebelahan dengan tatapan mata yang sama - sama menatap lantai kamar.
Sesekali Naomi terdengar tertawa mendengar cerita Jester, namun Jester sangat memahami jika tawa Naomi hanyalah topeng yang dia gunakan saat berada didepannya. Mereka dekat namun seperti ada sekat kecil yang sulit untuk mereka berdua singkirkan, saling bersama dengan keadaan yang mulai berbeda, dengan perasaan masing - masing yang memiliki bebannya tersendiri membuat keduanya seperti kesulitan untuk membawa suasana seakan tanpa beban. Hingga beberapa saat cerita Jester pun sempat terhenti, keduanya kemudian saling terdiam untuk waktu yang agak lama.
"Aku tidak menyangka kamu akan berubah pikiran secepat itu..." celetuk Naomi memecah keheningan, perlahan Jester menatap langit - langit kamar mengalihkan pandangannya yang sejak tadi hanya melihat kaki Naomi mengayun maju mundur sambil bergelantungan dipinggir kasur kemudian menghela nafas dalam - dalam secara perlahan.
"Semua karena mu.... aku marah dan kecewa dengan semua yang sudah terjadi, tapi aku ingat jika kamu saja dapat memaafkan maka aku tidak memiliki alasan untuk tidak memaafkan.." timpal Jester
"Jadi... kamu tahu siapa pelaku dibalik tindakan Daniel?" tanya Naomi sembari menatap Jester
"Ya... aku juga tahu tentang alasannya, aku rasa ini masalah klasik keluarga Gates" jawab Jester
"Maksudmu tindakan Camilla adalah kesalahan kakek?" tanya Naomi lagi penasaran, Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi dan terdiam sejenak.
"Izinkan aku menyimpan ini untuk diriku sendiri" pinta Jester pada Naomi, mendengar jawaban Jester membuat Naomi kesal lalu menghela nafasnya.
"Yaah sudahlah.... aku tidak ingin memaksamu" ucap Naomi dengan nada yang terdengar kesal, ucapan Naomi membuat Jester merasa Naomi kini berubah kepadanya namun Jester hanya terdiam dan terus menatap mata Naomi.
Sebuah jawaban yang cukup membuat Jester terkejut saat mendengarnya, terheran Jester dengan perubahan sikap Naomi. Bagi Jester, Naomi yang dulu seharusnya akan memaksa Jester untuk menceritakan alasannya bukan hanya mengiyakan begitu saja. Semakin tak menentu perasaan Jester akan perubahan sikap Naomi padanya.
"Ada apa?" tanya Naomi ketika Jester seakan melamun.
"Eeh tidak... aku rasa... ada yang berubah darimu... aku tidak tahu itu baik atau tidak, tapi... aku masih belum terbiasa dengan dirimu yang baru" jawab Jester terbata, Naomi tersenyum berat lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Jess.... mungkin yang kamu ingin bicarakan adalah tentang ke keegoisan ku..." ucap Naomi dengan nada sedih, mendengar itu membuat Jester merasa bersalah sudah mengatakan hal yang membuat Naomi sedih.
Menyadari dan mengingat keegoisannya sudah mengorbankan banyak orang terdekatnya dan bahkan sampai merenggut nyawa sang ayah membuat Naomi sedih meratapi sikapnya selama ini yang egois. Rasa bersalahnya kepada Jester terasa semakin besar, terlebih dulu dia selalu berhasil membuat Jester tak mampu menolak keinginannya.
"Eeh tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak bermasalah jika kamu bersikap egois kepadaku, aku..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.
"Sampai sekarang keegoisanku sudah memberikan dampak buruk untuk banyak orang, ayah... ibu... papa... mama... dan... kamu...." timpal Naomi yang kini terlihat air mata mengalir di pipinya, Jester termenung menatap Naomi yang masih menunduk itu.
__ADS_1
"Jika aku bisa memilih... aku lebih memilih untuk mati menggantikan ayah..." ucap Naomi, perkataan Naomi memancing emosi Jester.
"Naomi!! jangan bicara seperti itu!!" agak membentak Jester mengatakannya
"Lebih baik aku tiada saat aku terjatuh dari pohon.... aku berkali - kali berfikir seperti itu... aku berfikir kenapa ayah dan ibu diberi anak sepertiku, kenapa aku harus hidup..." ucapan Naomi terpotong ketika Jester memeluk Naomi dengan erat
"Jangan bicara seperti itu aku mohon... tidak ada satupun orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, kamu harus kuat menghadapi ini semua... aku ingin kamu singkirkan pemikiran mu itu" dengan lembut Jester mengatakannya, derai air mata Naomi semakin deras keluar dari matanya.
"Jess.... maafkan aku...." ucap Naomi dengan suara sesenggukan yang terdengar diantara kalimatnya, Jester pun semakin erat memeluk Naomi dan tangan kanannya mengelus lembut rambut bagian belakang Naomi.
Sedangkan Naomi membiarkan dirinya larut dalam pelukan Jester, sejak mengenal Jester dan mulai mencintainya, hanya pelukan Jester lah yang mampu menenangkan Naomi. Seakan takut untuk kehilangan pelukan itu, Naomi semakin deras meneteskan air matanya.
Jauh disudut pinggiran kota, disebuah komplek perumahan pada salah satu rumah yang terlihat kecil dan sedikit kumuh. Camilla terlihat bertengkar dengan ayah dan ibunya didepan pelataran rumah, beberapa kali terlihat tangan ayah Camilla yang begitu ringan melayangkan tamparan dengan begitu keras pada pipi Camilla. Namun sikap Camilla yang tidak gentar dan menunjukkan keberaniannya terhadap sang ayah semakin membuat ayah Camilla membabi buta memukul Camilla, sedangkan ibu Camilla terdiam menatap anaknya yang mulai berani untuk melawan mereka.
"Puas?!! atau kamu ingin melakukannya lagi?!!" bentak Camilla kepada ayahnya
"Anak kurang ajar!!" ayah Camilla kembali membentak lalu hendak menampar lagi, namun tangannya dihalau oleh ibu Camilla. Seketika tatapan tajam mata ayah Camilla menoleh kepada istrinya dengan penuh amarah
"Kenapa kamu melindungi anak kurang ajar ini?!!" bentak ayah Camilla, mendapatkan perlindungan dari ibunya membuat Camilla terkejut.
"Cukup!! semua ini memang karena kesalahanmu!! sampai kapan kamu akan sadar?!!" bentak ibu Camilla kepada ayahnya
"Ibu... kenapa membelaku?" tanya Camilla yang masih terkejut dengan tindakan ibunya itu, namun tanpa berkata apa pun saat itu tiba - tiba ibunya menarik lengan Camilla untuk pergi dari tempat itu.
"Ya bagus!! pergilah kalian berdua, wanita tidak berguna!!!" teriak ayah Camilla begitu marah, namun baik Camilla maupun ibunya tidak menghiraukannya.
Mereka berdua berjalan sampai ditempat Camilla memarkirkan mobil Mazda 2 milik Camilla, untuk sejenak keduanya terlihat terdiam disebelah mobil itu lalu ibu Camilla berbalik menatap wajah anaknya yang sudah memar - memar itu.
"Sebenarnya ibu ingin kamu menggunakan mobil ini untuk pergi dari rumah, tapi jika kamu merasa jijik menggunakan mobil ini karena ini adalah pemberian ayahmu... maka..." belum selesai ibu Camilla berkata, Camilla memotongnya.
"Ini mobil memang pemberian ayah, namun bukankah ini hasil dari menjual ginjal ibu?" tanya Camilla kepada ibunya, ibu Camilla pun tertawa kecil mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Ayahmu memintaku untuk menjual salah satu ginjal ku demi memuluskan rencananya agar kamu bisa menikahi cucu Gates.... bodohnya aku mengiyakan rencananya itu..." jawab ibu Camilla terdengar sangat menyesal
"Ibu.... kenapa ibu melakukan ini?" tanya Camilla penasaran
"Maafkan ibu, selama ini ibu hanya mengikuti perintah ayahmu karena ibu takut akan siksaan ayahmu.... aku yakin kamu tumbuh dengan cara pandang yang buruk mengenai dunia ini namun.... Camilla, tidak semua yang ada di dunia ini adalah hal buruk... masih ada hal yang baik dan kamu perlu temukan itu diluar sana" ucap ibu Camilla terdengar sedih, lalu ibu Camilla memeluk Camilla dengan sangat erat.
"Pergilah putriku.... terbangkan sayap mu menjauh dari sini... ibu hanya dapat memberimu mobil ini dan sisanya aku berharap kamu bisa bertahan walau sendiri, tapi ibu yakin kamu tidak akan sendiri... kamu akan bertemu orang - orang baik yang akan menyayangimu suatu saat nanti..." ucap ibu Camilla seakan memberikan pesan terakhirnya, Camilla yang mendengar perkataan ibunya itu pun akhirnya menangis.
"Jangan menangis... sudah cukup kamu membuang air matamu itu, pergilah dan jangan kembali lagi" ucap ibu Camilla lalu melepaskan pelukannya dan mendorong Camilla menjauh dari dirinya hingga terjatuh, mendapat perlakukan kasar itu membuat Camilla kembali terkejut dan menatap wajah ibunya itu.
"Pergilah anak brengsek!!! jangan sampai aku melihatmu kembali kemari meski ketika aku mati!!!" bentak ibu Camilla dengan begitu marah sembari menendang kaki Camilla, dengan segera Camilla berdiri lalu masuk kedalam mobil itu dan melajukan mobilnya menjauh dari rumah.
Untuk sejenak ibu Camilla hanya terdiam memandangi Mazda 2 yang dikendarai Camilla menjauhinya, air mata ibu Camilla pun tiba - tiba menetes membasahi aspal begitu deras. Air mata yang ia bendung bahkan ketika melihat putrinya dianiaya oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindung bagi keduanya, memar di wajah sang putri membuat pedih hatinya. Merelakan Camilla untuk mencari kebahagiaannya, dengan berat hati ibu Camilla merelakan jika tidak bisa lagi menemui putri satu - satunya itu.
"Maafkan ibu nak.... semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu sendiri..." gumam ibu Camilla terdengar pilu, tidak lama ibu Camilla pun berbalik hendak masuk kembali kedalam rumah.
Malam yang panjang pun berakhir dengan semua kemelut yang terjadi, malam itu pun berganti pagi. Disebuah cluster perumahan mewah, sebuah rumah dengan aksen khas jepang terlihat sepi dari aktifitas. Didalam rumah itu, lebih tepatnya disebuah kamar yang menjadi satu - satunya kamar yang tersedia disana. Terlihat Jester terbangun dari tidurnya, dengan segera Jester beranjak dari kasur dan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Wajah Jester terlihat sedih saat menatap sekitar, walau sudah berjalan lebih dari satu bulan namun Jester masih tidak terbiasa dengan tidak adanya Naomi didalam rumah itu. Tidak lama melamun, Jester pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk memulai aktifitas rutinnya setiap pagi. Tidak lama setelah Jester keluar dari kamar mandi, suara dering bel rumah berbunyi.
Jester mengalihkan langkahnya untuk membuka pintu utama rumah, begitu Jester membukanya terlihat supir pribadi Jester berdiri didepan pintu itu.
"Selamat pagi tuan Jester" sapa supir pribadi Jester ketika Jester sudah membuka pintu
"Ooh iya selamat pagi, ada apa? tumben kamu menekan bel" tanya Jester heran
"Saya sebenarnya tidak berani untuk melakukannya tetapi...." jawab supir itu sembari sedikit menyorongkan badannya sampai seseorang terlihat berdiri dibelakang supir.
"Wanita bernama Camilla ini ternyata sudah ada didepan pintu sejak semalam, karena saya mencurigainya sebagai wartawan... saya memutuskan untuk memberanikan diri menekan bel rumah" ucap Supir itu, Jester pun terkejut melihat Camilla berdiri dibelakang supir pribadinya sembari menundukkan kepala.
"Camilla?!!" terkejut Jester saat mengucapkannya.
__ADS_1