Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Semakin Mesra


__ADS_3

"Becca Jess...." ucap Naomi dengan tangisnya yang terisak - isak


Siang menjelang sore ketika itu, disebuah cluster perumahan dimana Jester dan Naomi tinggal. Disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang, terlihat Naomi memeluk Jester begitu erat dengan air mata yang mengalir deras dari matanya dan membasahi pipi. Jester pun menyadari apa yang membuat Naomi menangis seperti itu, dengan lembut tangan kanannya membelai rambut Naomi dan tangan kirinya melingkar erat dipinggul ramping Naomi untuk memberikan dukungan moral.


"Kamu yang sabar ya... aku turut berduka atas..." belum selesai Jester berkata, tiba - tiba Naomi memotong dan mendongakkan kepalanya menatap Jester dengan wajah kesal.


"Operasi Becca berhasil, kenapa kamu bicara seperti itu?!" tanya Naomi terdengar kesal, Jester pun mendadak merasa kesal karena Naomi yang menangis begitu pilu membuat Jester salah paham.


"Lalu kenapa menangis seperti itu? kamu buang - buang air mata tahu" dengan penuh kekesalan Jester mengatakannya, Naomi pun melepaskan pelukannya dan menatap Jester dengan amarah.


"Aku kan terharu!! kenapa kamu jadi kesal seperti itu sih?! berperasaan sedikit donk!!" timpal Naomi dengan bentakan


"Ya karena aku ini berperasaan makanya langsung merasa berduka cita melihat kamu menangis sampai seperti itu" ucap Jester agak membentak, Naomi pun tiba - tiba mencubit perut Jester begitu keras.


"Jangan membentak seperti itu!!" bentak Naomi penuh amarah, Jester pun merintih kesakitan.


"AAAAAA!! iya iya maaf!!!!!" teriak Jester sambil menahan sakitnya cubitan Naomi, tidak lama Naomi melepaskan cubitannya dan membuang muka.


"Gara - gara kamu moodku buruk! belikan aku ice cream!" perintah Naomi dengan sedikit bentakan, walau kesal namun Jester tidak dapat menolak permintaan Naomi dan dia pun balik masuk mobil hendak pergi kembali untuk membelikan Naomi ice cream.


Setelah perjalanan singkat untuk membelikan Naomi ice cream, Jester dan Naomi terlihat berkumpul diruang keluarga dan duduk disofa sembari menonton televisi. Sambil menikmati ice creamnya, Naomi menyandarkan kepalanya dibahu Jester terlihat begitu manja.


"Tadi Luke nembak Sarah didepan banyak orang" celetuk Naomi ditengah keheningan mereka, Jester yang mendengar celetukan Naomi pun langsung tertawa terbahak - bahak.


"Puas sekali kamu tertawa ya, tidak teringat sesuatu?" sindir Naomi dengan menatap Jester seakan mengejek


"Iya aku ingat kok, aku hanya tidak menyangka Luke akan melakukannya" dengan sedikit tawa Jester mengatakannya, Naomi pun heran dengan perkataan Jester.


"Maksudmu kamu tahu Luke akan melakukannya?" tanya Naomi terdengar heran, Jester pun kembali tertawa terbahak - bahak.


"Itu sebenarnya ideku, lewat handphone Harry aku memberinya saran yang memalukan itu" jawab Jester sambil mencoba untuk menahan tawanya, Naomi mencubit pelan perut Jester saat itu.


"Nakal~" celetuk Naomi terdengar manja, Jester pun menggenggam erat tangan Naomi untuk menahan cubitan Naomi.


"Lalu bagaimana akhirnya?" tanya Jester penasaran, Naomi terdiam sejenak sambil menikmati ice creamnya.


"Disaat itu ada ayah dan ibu Daniel, Becca dan Beccy lalu tiba - tiba entah darimana Luke mempunyai satu tangkai mawar merah dan berlutut didepan Sarah, Luke nembak Sarah dengan romantis namun Sarah malu dan marah - marah" jawab Naomi datar sambil terus menikmati ice creamnya, Jester pun kembali tertawa terbahak - bahak seakan puas mengerjai Luke.


"Jahatnya~ dia sahabatmu loh" timpal Naomi ditengah tawa jahat Jester


"Iya - iya aku jahat, lalu gimana?" tanya Jester masih terdengar ingin tertawa


"Kamu pasti lebih senang jika Sarah menolak kan?" sindir Naomi dengan sebuah pertanyaan, Jester pun terkejut mendengar perkataan Naomi. Dengan senyuman seakan tidak percaya, Jester menatap Naomi begitu dalam.


"Walau Sarah marah sama Luke, tapi dia menerima mawar pemberian Luke kemudian pergi dari kamar Becca. Aku yakin dalam hati Sarah sangat senang" jawab Naomi terdengar senang, Jester pun kembali tertawa terbahak - bahak.

__ADS_1


"Sial! gorilla itu, beruntung sekali bisa mengikuti jejakku mendapat pacar selebgram" ucap Jester dengan tertawa bahagia, Jester sangat senang dengan berita yang Naomi katakan.


"Tapi Luke lebih beruntung daripada kamu, Sarah itu cantik, sikap profesionalnya juga menawan, aku juga tidak pernah mendengar dia sudah berpacaran dengan siapapun dan Luke menjadi pacar asli pertama Sarah... Sarah juga...." belum selesai Naomi berkata, Jester memotong.


"Aku mendapatkan wanita sempurna dan tidak ada satupun wanita yang bisa mengalahkan kesempurnaan wanitaku ini" puji Jester sambil memegang dagu Naomi dengan kedua jarinya dan mengarahkan pandangan Naomi ke wajahnya, raut wajah Naomi pun merah padam mendengar perkataan Jester.


"Jess!!!!" teriak Naomi terdengar sangat malu, Jester pun tertawa puas melihat Naomi yang memerah seperti itu lalu membopong Naomi dan membawanya menuju kamar.


"Jess!! apa yang kamu lakukan?!!" tanya Naomi dengan teriakan, dengan wajah yang masih merah padam Naomi nampak kesal menatap Jester.


"Mengajak istriku untuk cuddling" jawab Jester dengan senyuman, Naomi membuang muka mendengar perkataan Jester.


"Kita belum resmi jadi suami istri dan kalau mengajak artinya kamu butuh persetujuanku aku mau atau tidak!" terdengar kesal Naomi mengatakannya, namun Jester hanya tertawa merespon perkataan Naomi.


Bersama Naomi, Jester kini menjadi sosok yang berbeda. Dia yang selalu kesulitan mendapatkan pacar karena sering kali gugup ketika bertemu dengan orang yang dia suka, mendadak menjadi sosok pria yang romantis. Tingkah konyolnya yang menjadikan dia terlihat bodoh ketika berhadapan dengan cinta benar - benar hilang saat ini, Jester bahkan menjelma menjadi sosok pria yang expert dalam dunia percintaan yang bisa membuat pasangannya sering kali tersipu malu dibuatnya. Belum lagi kebucinannya terhadap Naomi, membuatnya sering melontarkan kalimat yang terdengar gombal agar Naomi senang sampai membuat Naomi sering salah tingkah.


Jam demi jam pun berlalu, hingga malam tiba dan hari pun berganti. Jumat pagi yang cerah, Jester dan Naomi terlihat sedang memasak bersama untuk mempersiapkan sarapan mereka. Keduanya masih saja terlihat mesra walaupun berada didapur, dibumbui dengan canda tawa nampak Naomi sangat menikmati momen - momen bahagianya bersama Jester. Yaah tentu saja beberapa hari kebelakang mereka mendapatkan masalah silih berganti, hingga membuat mereka sempat merasakan keterpurukan mental.


Beberapa menit berlalu dan sarapan pun selesai, mereka menikmati sarapan hasil tangan mereka dengan bahan seadanya saat itu. Mereka pun sudah lupa kapan terakhir belanja untuk memenuhi isi kulkas dan dapur, sehingga pada hari ini mereka akhirnya memutuskan untuk berbelanja setelah jadwal perkuliahan Jester selesai. Ditengah sarapan itu, Naomi beberapa kali menatap pintu keluar dari ruang makan.


"Ada apa?" tanya Jester melihat gelagat aneh Naomi


"Aah.. eeh... tidak, apa kamu merasakan sepi?" tanya Naomi terdengar sedih, Jester terdiam sejenak dan menatap langit - langit dapur.


"Kalau yang dikatakan Luna benar, maka ini tidak lebih dari delapan belas hari lagi kita bisa bersama...." dengan penuh penyesalan Naomi mengatakannya, penyesalan Naomi saat itu menarik perhatian Jester.


"Kamu... gak cemburu dengannya sama sekali?" tanya Jester penasaran, mendapat pertanyaan seperti itu membuat Naomi sedikit panik. Seakan Jester mencurigai cinta Naomi, Naomi yang tidak cemburu membuat Jester pun bertanya - tanya.


"Aah... Eeh... bukan seperti itu Jess, aku cemburu kalau kamu dekat kembali dengan Selena atau Camilla... bahkan aku akan cemburu jika kamu mendadak dekat dengan wanita lain yang tidak aku kenal, tapi untuk Luna.... entah kenapa keberadaannya disekitarmu seakan tidak memberi ancaman sama sekali untukku" jawab Naomi, sejenak mereka pun terdiam.


"Bagaimana dengan Selena? kamu masih berpikir dia mengancam?" tanya Jester heran, Naomi pun menghela nafasnya.


"Selena ya... keberadaannya kadang membuatku takut, entah kenapa kadang aku merasa kamu dan dia suatu saat akan bersama..." terdengar takut Naomi mengatakannya, namun Jester tertawa kecil mendengar perkataan Naomi.


"Bagaimana mungkin? aku tidak akan melakukan itu karena ada kamu disisiku" dengan sedikit tertawa Jester mengatakannya, Naomi pun seketika menatap Jester dengan raut wajah jutek.


"Kamu bisa saja berselingkuh dengannya dibelakangku, bagaimana pun dia terang - terangan mengatakan suka padamu" terdengar marah Naomi mengatakannya, Jester pun kembali tertawa mendengar perkataan Naomi.


"Itu tidak akan pernah terjadi, aku sih cukup kamu saja yang menemaniku dan selama kamu bersedia maka aku hanya akan mencintaimu saja" rayu Jester mencoba menenangkan amarah Naomi, wajah Naomi pun memerah.


"Gooombaall~" celetuk Naomi, Jester tertawa mendengar celetukan Naomi. Tidak lama handphone Jester pun berbunyi tanda ada pesan masuk, Jester pun segera mengambil handphone yang dia letakkan disebelahnya diatas meja makan. Sebuah pesan masuk dari aplikasi ChatMe yang dikirim oleh 'Justin'


***


"Hei Jess, gimana keadaan Naomi? apa dia sudah baik - baik saja?" diterima

__ADS_1


"Dia baik, tumben kirim pesan. Biasanya langsung kemari" dikirim


"Ini masih pagi dan sebetulnya aku ingin bertanya tentang band kita" diterima


"Aku akan tanyakan pada Naomi" dikirim


"Bagus, aku berharap yang terbaik karena Grece sepertinya sudah mulai frustasi" diterima


"Hahaha, biarkan dia merasakan frustasi. Aku senang akhirnya dia belajar untuk tidak asal tabrak" dikirim


"Jester bodoh!! awas saja kalau kita bertemu!!" diterima


***


Jester pun tersenyum sinis ketika membaca pesan terakhir Justin dan dia sangat mengetahui yang membalas terakhir adalah Grece, senyum sinis Jester saat menatap layar handphone membuat Naomi bertanya - tanya.


"Siapa?" tanya Naomi penasaran


"Justin dan Grece, dia menanyakan tentang rencana band kita. Gimana menurutmu?" tanya balik Jester sambil menaruh kembali handphonenya dimeja


"Ayo kita latihan! tanganku juga mulai gatal ingin bermain gitar denganmu lagi" jawab Naomi penuh semangat, Jester pun tersenyum melihat semangat Naomi. Mereka berdua melanjutkan sarapan dengan canda tawa, Jester yang pada hari itu ada satu jadwal kuliah pun mulai melanjutkan persiapannya untuk berangkat menuju kampus ditemani oleh Naomi yang ingin bertemu Justin dan Grece dikampus. Setelah Naomi sudah siap dengan penyamarannya, mereka berdua pun menuju garasi lalu masuk kedalam mobil.


Dengan semangat dan senyuman yang merekah, Jester dan Naomi pun beranjak pergi menuju kampus. Obrolan ringan yang menyenangkan menemani mereka selama empat puluh menit perjalanan, Jester yang paling terlihat bahagia saat itu. Bagaimana tidak, beberapa hari kebelakang dia sangat merindukan sosok Naomi disebelahnya yang selalu ceria seperti ini dan hari ini kerinduannya pun terobati.


Diparkiran kampus, Jester dan Naomi berjalan bersama menuju taman tengah. Disana beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat datang mendekati Jester, sesuatu yang tidak pernah Jester bayangkan sebelumnya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi itu bertanya - tanya tentang hubungannya dengan Naomi, melihat Jester kebingungan menjawab semua pertanyaan dan tiba - tiba dikerumuni banyak orang membuat Naomi tertawa. Mereka semua tidak sadar, Naomi yang mereka tanyakan ada didekat mereka.


Disaat itulah Jester tahu bahwa Naomi selama ini selalu memposting kebersamaan mereka di Ingramnya, beberapa mahasiswa dan mahasiswi menunjukkan Ingram Naomi dengan berbagai foto momen kebersamaan antara Jester dan Naomi diberbagai momen. Selama ini Jester tidak menyadari jika Naomi selalu mengambil foto - foto kebersamaan mereka karena dalam foto - foto itu Jester dalam keadaan tidak sadar kamera, setelah melihat foto - foto di ingram Naomi saat itu dia langsung menoleh mencari Naomi yang sudah menghilang dari tempat itu.


Akhirnya Jester berusaha sekuat dan sesabar mungkin menjawab berbagai pertanyaan penggemar Naomi, tidak lama kerumunan pun bubar saat mereka sadar bahwa dari masing - masing memiliki jadwal kuliah. Meski saat ini Jester bisa bebas namun disaat bersamaan Jester sadar kalau keributan ini akan terjadi lagi ketika kelas bubar, kali ini Jester paham mengapa Naomi selalu menyembunyikan idetitasnya ketika berada dikampus.


Dikelas yang biasanya damai, kali ini Jester tidak mendapatkan itu. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi disekitaran Jester beberapa kali mengajak Jester untuk mengobrol sekedar ingin tahu sejauh mana hubungan Jester dengan Naomi. Beberapa dari mereka yang bertanya pun sebagian besar tidak Jester kenal, namun mereka seakan mengenal Jester dengan baik. Jester menanggapi mereka seperlunya saja sambil terus berusaha untuk tersenyum, dia takut merusak image Naomi yang terkenal sangat ramah terhadap penggemarnya.


Setelah selesai kuliah pun Jester masih terus dikerumuni oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya, demi menghindari kerumunan itu Jester sampai harus memohon agar dia diberi ruang untuk privasi. Dengan berat hati kerumunan itu pun mulai membubarkan diri perlahan, merasa ada kesempatan Jester langsung melangkahkan kakinya menuju ruang musik kampus. Disana Jester melihat Naomi, Justin dan Grece yang tertawa melihat dirinya panik masuk kedalam ruang musik, seakan mereka tahu apa yang diderita Jester diluaran sana.


"Bagaimana rasanya jadi selebgram?" tanya Naomi dengan sindiran, tawa Justin dan Grece pun mewarnai pertanyaan Naomi.


"Mengerikan! mereka tidak henti - hentinya bertanya ini itu tentang Naomi, padahal aku tidak tahu apa yang mereka tanyakan" jawab Jester dengan panik, jawaban panik Jester saat itu membuat mereka semua tertawa. Hanya Jester saat itu yang tidak berniat untuk ikutan tertawa, dengan wajah kesal Jester berjalan mendekati salah satu kursi lalu duduk dengan cukup keras.


"Eemmm Jester.... ada informasi yang harus kamu tahu tentang.... Luna..." celetuk Naomi ketika tawanya, Justin dan Grece terhenti. Celetukan Naomi saat itu membuat Jester penasaran, namun dari raut wajah ketiga orang ini membuat Jester yakin kalau itu adalah hal serius.


"Sebenarnya ini informasi yang disampaikan oleh Grece, mungkin lebih baik kalau Grece yang berbicara" ucap Naomi melanjutkan celetukannya


"Ada apa? kenapa kalian serius seperti itu?" tanya Jester penasaran


"Sepertinya aku mengenal Luna lebih lama daripada yang aku duga.... dia pernah menjadi finalis di ajang pencari bakat sebagai penyanyi didalam salah satu acara di televisi, namun ketika dia tinggal satu langkah lagi untuk menjadi pemenang.... dia tiba - tiba mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas" jawab Grece

__ADS_1


__ADS_2