
Hari Sabtu pagi yang cerah di sebuah rumah minimalis yang indah dan mewah, seseorang terlihat sedang menurunkan barang barang dari bagasi mobil Mercedes Benz s400 hitam dan meletakkannya di dalam rumah depan pintu masuk. Di garasi terlihat Porsche 911 merah dan BMW 235i putih mutiara terparkir rapih dan seorang wanita mengenakan baju maid hitam sedang berdiri menunggu.
Di dalam rumah itu Jester nampak sangat yakin melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan menemui keluarga Scott yang menunggunya, Jester tiba - tiba tersenyum dengan perasaan penuh kemenangan menatap Evans. Dalam bayangan Jester, Naomi akan dengan tegas menolak keputusan William dan dia akan memenangkan pertarungan Ego dengan papanya. Jester pun duduk didepan Evans dengan sombongnya seakan kemenangan sudah ada di genggaman, Naoko memandangi Jester dengan tatapan tajamnya seperti biasa.
"Waah, ada apa ini? melihat senyum mu itu semakin menegaskan kamu darah daging Will, aku ingat ketika Will hampir memenangkan sesuatu maka senyum itu akan muncul" Evans diatas kursi rodanya merasa nostalgia menceritakan tentang Willam, namun Jester hanya tersenyum sinis mendengar cerita Evans.
"Tuan Evans... aku sudah dengar apa yang terjadi. Maaf ini adalah permintaan egois papaku, Pernikahan tahun depan itu tidak akan pernah bisa terlaksana" ucap Jester dengan tegas.
"Loh? kenapa?" Evans tampak sedih mendengar perkataan Jester, namun disaat bersamaan Naoko malah tersenyum sinis menatap Jester.
"Karena Naomi tentu akan menolaknya! benarkan Naomi?!" Jester menatap Naomi dengan senyum kemenangan, Jester sangat yakin Naomi akan sependapat dengannya. Mendengar jawaban Jester membuat Evans dan Naoko menatap Naomi bersamaan dan Naomi memandangi ayah dan ibunya secara bergantian, Naomi menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Tidak... aku tidak menolaknya" jawab Naomi lembut sembari menatap Jester tampak malu - malu dan wajahnya mulai memerah.
"Haaaahhgggkkk.. gak gak..." Jester membatu dan tidak dapat berkata - kata mendengar jawaban Naomi, merasa di sambar petir disiang bolong dan mulutnya pun jadi sulit untuk ditutup karena terlalu terkejut.
"Ahahaha... Jester, kamu benar - benar mirip dengan Will. Itu benar benar wajah ketika keyakinannya akan kemenangan runtuh seketika" Evans tertawa terbahak - bahak melihat Jester bertingkah aneh dan mengingatkan dirinya atas William, Naoko menepuk lembut punggung Evans dengan tatapan yang khawatir akan kesehatan Evans.
"Evans san... jangan tertawa seperti itu... ingat kesehatanmu..." dengan lembut Naoko berusaha menghentikan Evans yang ketawa keras dan tidak henti - henti, Jester menatap Naomi dengan wajah tidak percaya namun Naomi membuang muka.
"Jester san... aku melihat sepertinya kamu keberatan untuk menikahi Naomi, apa benar begitu?" Naoko menatap Jester dengan wajah sedih, mendengar pertanyaan Naoko membuat Jester menoleh menatap Naoko dengan panik.
"Tidak tidak... bukan seperti itu Naoko san, hanya orang bodoh yang keberatan menikahi Naomi" Jester semakin panik saat itu, pikirannya sedang kacau karena terlalu terkejut dengan segala rentetan peristiwa yang dia alami.
"Lalu kenapa kamu sepertinya bersikeras untuk menolaknya?" tanya Naoko lagi menekan Jester
"Aah itu... gimana ya..." jawab Jester terbata, Jester menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari menunduk berusaha mencari jawaban yang terbaik.
"Apakah Naomi kurang cantik menurutmu? atau perilaku dia kepadamu buruk? kadang Naomi memang agak kasar namun aku pasti akan mendidiknya lebih keras lagi agar dia bisa pantas menjadi Istrimu" Naoko terus menekan Jester dengan pertanyaan - pertanyaan yang memaksanya untuk berbicara jujur, saat itu Naomi menatap Naoko dengan sorot mata yang ketakutan.
Terjadi keheningan diruang keluarga saat itu, Evans dan Naoko menatap Jester dengan raut wajah yang sedih setelah mendengar penolakan dari Jester. Bersamaan dengan itu, Naomi menatap Naoko dengan sorot mata yang menampakkan ketakutannya. Sedangkan Jester masih menunduk menutup wajahnya dan terus berusaha mencari cara agar tidak menyakiti hati Evans dan Naoko, setelah beberapa saat Jester kembali menatap Evans dan Naoko sembari menarik nafas panjang dan menghembuskannya agak keras.
"Tidak, aku tidak pernah bertemu gadis secantik Naomi hingga sampai sekarang. Bagiku Naomi nyaris sempurna menjadi sosok wanita dan untuk perilakunya dia sangat manis terhadapku, tegas namun tetap lembut, aku suka segalanya dari Naomi" Jester katakan itu dengan senyuman yang merekah menatap Evans dan Naoko, Naomi terkejut mendengar jawaban Jester dan wajahnya memerah lalu secepat mungkin menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Anak ku langsung seperti kepiting rebus, Ahahaha... benar - benar pasangan yang serasi, benarkan Naoko?" Evans tertawa lagi tidak henti - hentinya hingga membuatnya batuk beberapa kali, Naoko menepuk - nepuk punggung Evans sembari menatap wajah Jester yang khawatir karena melihat Evans batuk - batuk.
"Terima kasih Jester san... aku senang mendengar pujian itu darimu, Aku harap Naomi benar benar bisa menjaga hatinya hanya untukmu. katakan padaku jika ada sedikit saja keraguan dalam hati dan perilakunya yang menunjukkan ketidak setiaannya padamu" ucapan Naoko saat itu benar benar menekan
"Ahahaha... ada apa ini? kenapa tiba tiba suaramu menekan? Jester, mulai sekarang kamu harus memanggil kami Ayah dan Ibu dan Naomi kamu harus memanggil William dan Marrie dengan kata Papa Mama, kamu paham?" tanya Evans menatap Naomi yang masih menunduk malu
"Ii...iya... ayah..." jawab Naomi terbata namun masih tertunduk
"Baiklah... ayah pamit, barang barangmu sudah supir keluarkan semua kan Naomi?" tanya Evans lagi pada Naomi
__ADS_1
"Su.. sudah ayah..." jawab Naomi masih terbata
"Jester ayah titipkan Naomi padamu, dia putri semata wayangku. tidak ada satupun harta ku yang lebih berharga daripada kebahagian Naomi, tolong jaga hartaku ya" Evans tersenyum menatap Jester, Jester tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Ibu sangat menghargai ketulusan dari setiap ucapanmu tentang Naomi, Ibu juga menitipkanya padamu" timpal Naoko, Jester menatap Naoko sembari mengangguk dan tersenyum.
Naoko berdiri dan mendorong Evans menuju pintu keluar disusul oleh Naomi dan Jester dibelakangnya, tidak lama Evans dan Naoko pergi dari rumah itu meninggalkan Jester dan Naomi. Jester dan Naomi nampak membatu dan tidak saling bicara untuk beberapa saat didepan pintu utama rumah setelah melepaskan kepergian Evans dan Naoko, Jester menatap Naomi dengan tatapan kesal namun Naomi terlihat cuek saat itu.
"Hei kenapa kamu lakukan itu?" tanya Jester dengan nada penuh kekesal, Naomi tidak mempedulikannya dan langsung masuk kedalam rumah. Merasa di cuekin Jester mengejar Naomi dengan penuh emosi
"Heii!! ada apa denganmu?!" Jester agak membentak sampai membuat Naomi berhenti berjalan di lorong utama rumah
"Sudah aku katakan, aku tidak bisa lakukan apapun jika ada ibu didekatku" jawab Naomi yang memunggungi Jester, mendengar kalimat yang terkesan tidak bertanggungjawab itu semakin menambah emosi Jester.
"Tapi kita tidak bisa seperti ini kan?! hubunganmu dengan Daniel bisa berantakan jika dia tahu kamu ada disini bersamaku!!" ucap Jester masih membentak, Jester melihat Naomi mulai mengepalkan kedua tangannya sampai bergemetar karena emosi.
"Lalu kamu pikir aku harus apa tadi?!!" tanya Naomi membentak
"Kamu harusnya menolak dan katakan kamu tidak menginginkan ini! aku tadi sudah mendukungmu untuk menolak kan? kenapa aku tidak dapat dukungan balasan?" tanya Jester masih dengan bentakan namun suaranya agak merendah
"Kamu berharap aku yang menolaknya didepan ibuku?! kenapa kamu jadi egois seperti itu?!" Naomi masih membentak dengan nada tinggi
"Tapi bagaimana kalau sudah seperti ini?" tanya Jester yang nadanya mulai merendah namun terkesan Jester sudah pasrah dan putus asa, Naomi tiba tiba bersimpuh dilantai, menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis.
"Jika kamu katakan itu ibu akan semakin menekanku.... ayahku akan kecewa padaku...." ucap Naomi dengan nada lirih dan terus meneteskan air mata, Jester menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Naomi.
"Maaf Jester!! maaf!!" ucap Naomi dengan teriakan dan membuat suaranya bertambah lirih, Jester terkejut dengan perkataan Naomi.
"Waa! kenapa kamu yang minta maaf? aku yang bersalah, kamu..." belum selesai Jester berkata Naomi memotong
"Maaf aku akan semakin memperburuk hubunganmu dengan Selena dan Camilla... maaf aku tidak bisa membantumu mengejar cintamu dan malah menyusahkanmu... maaf kamu harus terlibat kemelut antara aku dan ibuku... maafkan aku Jester..." Naomi menangis dengan lirih dan penuh perasaan bersalah, Jester membatu mendengar permintaan maaf Naomi.
"Kenapa.... Kenapa malah memikirkanku?" tanya Jester dengan heran dan terbata, seakan dirinya tidak percaya Naomi malah lebih memikirkannya daripada dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu.... pikiranku dipenuhi rasa bersalah padamu... apa kata Selena jika dia tahu kita tinggal berdua seperti ini? apa kata Camilla jika dia tahu dan lalu menjauhimu? hatimu pasti akan sangat sakit saat Camilla mejauhimu... aku tidak bisa bayangkan rasa sakit hatimu kalau Camilla pergi menjauhimu..." jawab Naomi, lalu Naomi berbalik menatap Jester dengan wajah yang dipenuhi dengan air mata.
"Katakan... katakan padaku... apa yang bisa aku bantu untukmu dalam keadaan seperti ini?" air mata Naomi bertambah deras menetes di pipinya sampai jatuh ke lantai melewati dagunya, melihat Naomi menangis sampai seperti itu tiba tiba Jester bersujud dihadapan Naomi. Naomi terkejut dan langsung merangkak mendekati Jester.
"Kenapa kamu bersujud?!" tanya Naomi sembari berusaha membangunkan Jester namun Jester bersikeras tetap bersujud dihadapan Naomi
"Aku yang bersalah!! ini semua bermula dari tindakanku mengakuimu sebagai pacaraku saat itu!! aku yang menyeretmu dalam masalah ini!! Maafkan aku Naomi!!" masih bersujud Jester katakan itu dengan tegas dan keras, Naomi sedikit tersentak saat mendengar permintaan maaf Jester.
"Tidak apa.... jangan begini Jester... berdirilah..." ucap Naomi masih terus berusaha mengangkat kepala dan tubuh Jester
__ADS_1
"Kamu tidak harus merasa bersalah untuk ini! ini adalah kesalahanku dan aku yang melibatkanmu dalam pusaran masalah ini!! jika ada yang harus disalahkan itu adalah aku Naomi, aku mohon berhenti menyalahkan dirimu!!" masih terus bersujud Jester mengatakannya, perlahan tangan Naomi yang tadi berusaha mengangkat Jester dengan sekuat tenaga melemah.
"Jester... katakan padaku..." ucap Naomi terbata
"Hah? apa?" tanya Jester sembari mengangkat kepalanya dan menatap wajah Naomi yang menunduk menatap lantai dan bersimpuh didepan Jester
"Katakan padaku... bagaimana perasaanmu... padaku?" tanya Naomi terbata, Jester terkejut dengan pertanyaan Naomi
"Haaah??! kenapa kamu bertanya seperti itu?!" Jester nampak panik, Naomi hanya membuang muka mendengar pertanyaan Jester.
"Eeehh eee.... bagaimana... aku rasa..." belum selesai Jester berkata tiba tiba ada yang membuka pintu utama dengan keras, kedatangan tamu tidak di undang itu mengagetkan Jester hingga pandangannya teralihkan. Jester berbalik melihat Selena dari balik pintu dengan wajah marah menatap Jester, Naomi pun tidak kalah terkejut karena Selena bisa tahu rumah mereka berdua.
"Waaaaa!!! Selena!!!" ucap Jester kaget, Naomi mengusap air matanya dengan cepat sembari berbalik memunggungi Selena
"Apa - apaan kalian berdua ini?" tanya Selena sambil menatap keduanya dengan tatapan penuh kemarahan, Naomi menoleh menatap Selena
"Tunggu!! tunggu!! ini tidak seperti yang kamu pikirkan" jawab Naomi panik
"Kenapa kalian bisa berdua dalam satu rumah seperti ini!!" Selena teriak pada keduanya saat itu, namun keributan itu berhasil diredam dengan segelas teh dan duduk bersama di ruang keluarga. Di ruang keluarga itu Naomi dan Selena meneguk segelas teh dan mereka berdua sudah mulai tenang, berbeda dengan Jester yang menghabiskan satu poci teh namun tidak kunjung membuatnya tenang. Jester terlihat semakin panik dan membuat Naomi tersenyum menatap tingkah Jester saat itu.
"Kamu bisa bolak balik kamar mandi habis ini" celetuk Naomi, Jester berhenti minum dan menatap Naomi dengan kesal
"Kak Jester kenapa sih? panik banget, padahal teh buatan Naomi selalu memberikan perasaan tenang. tapi sepertinya tidak berlaku buat kak Jester" celetuk Selena menimpali celetukan Naomi, Jester yang kesal menaruh kepalanya di meja
"Bukankah ini canggung? aku kira kalian berdua akan bertengkar" tanya Jester dengan nada kesal, Jester lalu menegak lagi teh nya agar mendapatkan ketenangan.
"Iya siih... rentetan kejadian dari kupon makan malam dan di taman labirin festival Square benar benar membuatku cemburu buta" jawab Selena, Jester tersedak teh yang dia minum saat mendengar jawaban Selena.
"Aa... ada apa... dengan di taman labirin?!" tanya Naomi yang tiba - tiba panik menatap Selena
"Mendadak di baju kak Jester ada aroma jeruk khas mu loh Naomi padahal sebelumnya tidak ada, seperti kalian habis berpelukan" jawab Selena yang terlihat bingung menatap Naomi
"Benarkah? waah bisa seperti itu ya?" tanya Naomi lagi sambil menahan perasaan paniknya, Selena mengangguk beberapa kali menatap Naomi
"Aku waktu itu berfikir kamu dan kak Jester bertemu di tengah labirin tapi kan gak mungkin... hihihi..." jawab Selena dengan menahan malunya
"Ya tentu saja gak mungkin, yakan Naomi!! ahaha" Jester menimpali perkataan Selena dengan nada panik sembari menatap Naomi, namun Naomi hanya membalas dengan teersenyum kecut.
"Haah... lalu sekarang aku harus melihat kalian berdua dalam satu rumah, kalau saja hatimu bukan milik Daniel aku sudah bunuh diri menabrakkan diriku ke mobil di depan" ucap Selena terdengar pasrah sembari menyandarkan kepalanya ditangan, Jester dan Naomi terkejut dengan perkataan Selena.
"Waaa kenapa sampai seperti itu?!" Jester bertambah panik karena perkataan nekat Selena sampai membuatnya berdiri dan menggebrak meja, Selena mengangkat kepalnya dan menatap Jester dengan wajah yang serius.
"Aku sudah katakan pada kalian berdua, siapa pun wanita yang akan menjadi sainganku, aku akan lawan dia sekuat tenaga. tapi kalau itu Naomi, aku tidak yakin bisa menang... tapi..." jawaban Selena terputus dan wajahnya penuh dengan perasaan curiga, Jester dan Naomi menatap Selena dengan perasaan penuh kekhawatiran
__ADS_1
"Benarkah kalian tidak memiliki perasaan suka satu sama lain?" Selena menatap keduanya dengan curiga, pertanyaan Selena saat itu membuat Jester dan Naomi saling menatap.