
Malam yang cerah disebuah rumah sakit pinggiran kota, di salah satu koridor terlihat Daniel yang marah - marah kepada Jester, Naomi, Luke dan Harry karena tak mampu menahan perasaan malunya setelah sempat merasa menang akan kebodohan Jester. Tapi tiba - tiba terbantahkan dengan sikap yang justru Jester tampakkan didepannya terhadap Naomi, namun mereka berempat tidak mempedulikannya dan terus berjalan menuju parkiran rumah sakit. Setelah keributan yang sempat terjadi dengan kedatangan Sarah yang terkesan mengejek Daniel, diantara mereka tidak terjadi percakapan apapun lagi. Jester, Luke dan Harry seperti sedang melamunkan sesuatu sedangkan Naomi terlihat mengkhawatirkan Jester, sesekali Naomi memperingatkan Jester yang sedang menyetir tentang keberadaan mobil lain dijalan yang sedang mereka lalui.
Empat puluh menit mereka berempat melakukan perjalanan dalam kesunyian malam, Luke dan Harry pun langsung berpamitan pulang setelah mobil terparkir sempurna digarasi rumah Jester dan Naomi. Malam itu Three Musketeers tidak terlihat seperti biasanya, mereka berpisah tanpa kehebohan apapun. Saat Luke dan Harry menaiki sepeda motor hendak pulang, Jester hanya mengangkat dan melambaikan tangan beberapa kali lalu segera berjalan masuk kedalam rumah. Melihat kondisi Jester membuat Luke, Harry dan Naomi pun merasa khawatir, Luke menghela nafasnya cukup keras sebelum memulai pembicaraan dengan Naomi.
"Naomi, kami masih belum kepikiran cara apapun untuk mengembalikan semangatnya. Bisa kami titipkan dia padamu?" tanya Luke dengan nada yang terdengar khawatir, mengingat betapa susahnya dulu mereka berusaha membuat Jester move on dari Luna.
"Tentu, aku pasti akan lakukan yang terbaik. Eeemh... Luke, sebenarnya Luna sosok yang seperti apa?" tanya Naomi yang nada bicaranya terdengar sedih karena ikut mengkhawatirkan keadaan Jester.
"Seperti apa ya? cuma pikiranku atau memang iya... cara dia bicara, sikap dan ekspresinya saat bertemu Jester sangat mirip dengan Selena" jawab Luke terdengar ragu - ragu, Harry sampai menoleh menatap Luke yang berada dibelakangnya seakan terkejut dengan pemikiran Luke.
"Aku juga berfikiran seperti itu, sejak awal ketemu Selena... aku merasa dia itu mirip Luna" timpal Harry, Naomi pun terlihat bingung dengan jawaban Luke dan perkataan Harry saat itu.
"Kalian kakak kelas Selena kan? apa kalian ingat Selena yang dulu?" tanya Naomi dengan suara yang terdengar kebingungan, Luke dan Harry kembali saling menatap dan menggelengkan kepalanya hampir bersamaan.
"Katanya begitu, tapi aku tidak ingat ada adik kelas bernama Selena" jawab Luke yang terdengar kebingungan
"Yang menjadi sahabat Luna saat itu kalau tidak salah namanya Parker, aneh sih wanita bernama seperti itu" timpal Harry lagi, Naomi sedikit terseyum mendengar ucapan Harry.
"Nama belakang Selena kan Parker" Naomi mengingatkan Luke dan Harry tentang nama lengkap Selena, mendengar ucapan Naomi membuat Luke dan Harry tertawa bersama seakan malu akan kebodohan mereka.
"Benar kah? tapi Selena yang di SMA itu tidak sama dengan yang kami lihat sekarang" dengan sedikit tertawa Luke mengatakannya, Naomi menghela nafas dan masih tersenyum
"Iya, waktu SMA memang penampilannya seperti pria. Dengan rambut pendek dan baju yang selalu kebesaran, Selena berubah sejak masuk kelas dua SMA" timpal Naomi terdengar sedikit tertawa
"Bukan, Selena yang kami kenal tidak hanya berubah secara penampilan tapi..." Harry menggantungkan kalimatnya dan seperti sedang berfikir mencari kata yang tepat untuk di ucapkan, Naomi pun terdiam dengan wajah penasaran menunggu kalimat Harry tuntas.
"Dia bukannya gak suka ya sama pria ya? kenapa tiba - tiba dia suka sama Jester?" tanya Harry melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong, Naomi seakan tersadar akan suatu hal saat mendengar perkataan Harry.
"Iya... kamu benar, Selena juga pernah bilang kalau dia benci anak laki - laki saat kami masih kecil dulu" jawab Naomi merasa heran, mereka bertiga pun mendadak terdiam saling menatap dan berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi sepertinya gak penting, gak ada hubungannya juga sama Jester kan" Celetuk Luke memecahkan keheningan diantara mereka, Luke dan Harry pun berpamitan pada Naomi lalu segera tancap gas meninggalkan rumah Jester dan Naomi.
Naomi masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu utama rumah, perlahan Naomi berjalan menuju kamar dan sempat menghentikan langkahnya tepat didepan ruang keluarga yang pintunya tertutup rapat. Naomi terdiam beberapa saat sembari menoleh menatap ganggang pintu dan ingin membukanya, perlahan tangan Naomi menyentuh ganggang pintu itu namun Naomi membatalkan niatnya dan kembali berjalan menuju kamar.
Sesampainya dikamar, Naomi menghapus riasan wajahnya didepan meja rias. Setelah selesai, Naomi pun melangkahkan kakinya menuju kasur hendak segera tidur. Merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut, Naomi mematikan lampu kamar lalu memejamkan matanya perlahan untuk tidur. Tidak lama terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, Naomi menatap pintu kamar sambil menghidupkan lampu kembali.
"Jester?" tanya Naomi penasaran dengan seseorang yang mengetok pintu kamar, namun tidak ada jawaban sama sekali. Naomi beranjak dari kasur dan berjalan mendekati pintu lalu membukanya, didepan pintu itu terlihat Jester berdiri dan menundukkan kepala.
"Jester? ada apa?" tanya Naomi khawatir, untuk beberapa saat Jester hanya terdiam tanpa menatap Naomi sama sekali.
"Kamu ingin berbicara denganku?" tanya Naomi lagi karena Jester hanya terdiam, tiba - tiba Jester membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju ruang keluarga tanpa kata.
"Jester! kamu kenapa? kemarilah kalau memang mau ngobrol denganku" ucap Naomi lagi sedikit berlari mengejar Jester, mendengar perkataan Naomi saat itu membuat Jester menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Aku tadi.... takut kamu akan pergi meninggalkanku...." celetuk Jester terbata dengan suara yang terdengar khawatir, mendengar perkataan Jester saat itu membuat Naomi menghela nafas.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tadi aku cuma.... kecewa. Maaf kalau sikapku membuat kamu berfikir aku akan meninggalkanmu" timpal Naomi terdengar menyesal, Jester kembali terdiam untuk beberapa saat.
"Kemarilah, kita ngobrol yuk.... aku rasa kamu perlu seseorang untuk mendengarkan keluh kesahmu" ucap Naomi lagi berusaha mencairkan suasana, namun Jester bergeming dan terus terdiam ditempatnya. Perlahan Naomi berjalan mendekati Jester dan menatap wajahnya, saat itu Naomi pun terkejut melihat Jester meneteskan air matanya dan terdiam melamun.
"Jester?! kamu kenapa?!!" tanya Naomi panik, dengan sigap Naomi ingin menyeka air mata Jester yang menetes itu namun tangan Jester menahannya.
"Bucket mawar yang berada di tong sampah rumah sakit... itu kamu yang membuangnya kan?" tanya Jester datar, dengan heran Naomi menatap Jester karena pertanyaannya itu. Naomi tidak menyangka Jester memperhatikan bucket bunga mawar pemberian Daniel yang dia buang saat dirumah sakit.
"Iya... itu pemberian Daniel, aku tidak suka..." belum selesai Naomi menjawab, tiba - tiba Jester menatap Naomi terlihat marah.
"Apa kamu buang bunga itu didepannya?! kenapa kamu tega melakukan itu?! apa kamu tidak menghargai perasaannya?! kamu pikir seberapa mudah dia mengumpulkan keberanian untuk memberikan bunga itu padamu?!" Jester bertanya dengan sedikit emosi, Naomi pun sampai tersentak mendengar pertanyaan Jester yang begitu banyak.
"Jester!" sedikit membentak Naomi mengatakannya untuk menyadarkan Jester, tatapan mata Jester kosong saat menghujani Naomi begitu banyak pertanyaan.
"Begitu caramu?! saat kamu rasa dia mengecewakanmu, tiba - tiba seenak hati kamu mempermalukannya?! apa kamu akan melakukan hal yang sama saat aku membuatmu kecewa?!! kamu akan pergi begitu saja kan kalau aku..." belum selesai Jester bertanya, Naomi memotong
"Jesteer!!" Naomi membentak Jester begitu keras, Jester terlihat tersadar dari lamunannya dan menatap Naomi penuh penyesalan.
"Maaf.... aku berkata seperti itu padamu, selamat malam Naomi" Jester hendak kembali berjalan meninggalkan Naomi dilorong utama rumah, namun tangan Naomi menggengam lengan Jester dan menghentikan langkahnya.
"Jester! aku bukan Luna, berhenti menganggap aku akan bersikap seperti dia!!" dengan bentakan Naomi mengatakannya
"Kemarilah, kita bicarakan ini baik - baik ya" dengan helaan nafas Naomi mengatakannya, Naomi menarik Jester menuju kamar dengan paksaan.
Didalam kamar Naomi mengarahkan Jester untuk duduk dikursi meja rias, Naomi menghidupkan semua lampu kamar agar terlihat terang untuk membangun suasana yang menyenangkan. Kemudian Naomi duduk di pinggiran kasur dekat dengan Jester, menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan... Naomi siap untuk memulai pembicaraan dengan Jester yang masih terlihat murung.
"Baik Jester... bicaralah, aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu" celetuk Naomi dengan suara yang terdengar lembut, Jester melirik menatap Naomi.
"Tidak ada keluh kesah apapun" timpal Jester datar, Naomi menghela nafas lalu tersenyum karena jawaban Jester.
"Dasar bodoh, apa ini tentang hidup seperti papa?" tanya Naomi sedikit tertawa, mendengar pertanyaan Naomi membuat Jester kembali menatap lantai kamar.
"Kamu jadi murung sejak bertemu dengan Luna dan kamu tidak sampai seperti ini saat kita berseteru dengan Camilla dulu, boleh aku tahu kenapa kamu sampai seperti ini?" tanya Naomi kembali dengan suara yang lembut
"Aku selalu menutupi luka hati dengan sikapku yang spontanitas dan terlihat bahagia, berusaha membangun suasana meriah disekitarku dan membuatku bersenang - senang" jawab Jester datar, Naomi pun terdiam mendengar perkataan Jester.
"Kehadiran Luna membuat aku membuka kembali kotak pandora yang telah lama aku simpan baik - baik disudut hatiku yang paling dalam" Jester melanjutkan kalimatnya dengan suara yang terdengar sedih
"Kotak pandora?" tanya Naomi terdengar bingung
"Semua hal yang dulu aku anggap sebagai sesuatu yang begitu berharga, tapi nyatanya itu adalah sebuah kutukan" jawab Jester dengan suara yang semakin terdengar berat dan sedih, begitu terasa Jester enggan untuk mengingat kembali semua kenangan yang telah dia kubur dan telah mati - matian berusaha untuk melupakan semuanya. Bahkan ketika kehadiran Luna kembali tidak membuat Jester ingat siapa sosok yang dia hadapi saat itu, benar- benar momen yang membuat Jester takut untuk kembali terpuruk karena luka yang dia simpan.
__ADS_1
"Kenangan dengan Luna ya... apa itu sebabnya kamu kesulitan untuk mengingat momen bersamanya?" tanya Naomi pelan, Naomi tahu betul kejadian ini begitu sensitif bagi Jester dan sebisa mungkin Noami mengatur kalimatnya agar tidak membuat Jester semakin sedih.
"Benar... satu per satu kenangan bersamanya tergambar jelas didalam pikiranku sekarang, itu seperti sebuah kutukan yang berniat menggerogoti kewarasanku dan saat ini aku sangat mengingat semua hal tentangnya. Suaranya, wajahnya, senyumnya dan.... kemarahannya saat itu" jawab Jester lalu sorot matanya beralih menatap Naomi, dari sorot mata itu Naomi memahami Jester mengkhawatirkan akan sesuatu.
"Melihatmu tiba - tiba akan meninggalkanku... ketakutanku seketika menguasai seluruh otak, aku begitu takut kamu pergi karena kebodohanku dan mengulang kembali apa yang pernah aku alami" ucap Jester melanjutkan perkataannya, Naomi kembali mengehela nafas.
"Aku sudah katakan, aku tidak..." ucapan Naomi dipotong Jester yang mendadak marah, emosinya meluap seketika.
"Apa kamu pernah katakan hal yang sama pada Daniel?! pasti pernah kan?!" tanya Jester terdengar sangat emosional sampai membuatnya berdiri dari duduknya
"Jester!!" bentak Naomi, bentakan itu kembali menyadarkan Jester dari emosi sesaatnya.
"Maaf... lagi - lagi aku tidak dapat mengendalikan diriku..." dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya, Jester kembali duduk dan membuang muka menghindari bertatapan mata dengan Naomi.
"Lalu aku harus gimana biar kamu percaya padaku?" tanya Naomi berusaha meminta kepercayaan Jester
"Tidak ada yang harus kamu lakukan, ini hanya masalah ketakutan dan kekhawatiranku yang berlebihan" jawab Jester terdengar pasrah, Naomi menghela nafas sebelum merespon jawaban Jester.
"Hei... kamu takut dan khawatir tentang apa?" tanya Naomi lembut, Jester kembali menatap Naomi dengan tatapan yang sedih.
"Aku tidak akan selamanya membuatmu senang, ada kalanya sikapku akan membuatmu kecewa. Lalu apa jaminanku mengatakan kamu tidak akan pernah pergi dariku? tidak akan ada orang yang setia, mereka setia pada yang mereka butuhkan dari orang lain dan begitu kebutuhan mereka berubah... kesetian mereka juga akan berubah" jawab Jester menekan Naomi
"Pemikiran yang berlebihan tidak akan menyelesaikan masalah jester, kamu terlalu banyak khawatir dan itu tidak akan menuntunmu menuju jalan keluar dari rasa sakit hatimu. berpikirlah secukupnya, khawatir seperlunya, dan bertindaklah secepatnya" timpal Naomi sembari berdiri kemudian berlutut didepan Jester, lalu menggenggam tangannya begitu erat, Naomi tersenyum menatap Jester yang terlihat terkejut.
"Tidak ada manusia yang sempurna, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan sebaik - baiknya manusia adalah dia yang bisa belajar dari kesalahan" ucap Naomi dengan lembut dan menatap Jester penuh kehangatan
"Jester... tentang bunga yang aku buang itu bukan karena aku kecewa pada Daniel, namun karena dia tidak pernah belajar dari kesalahannya. Memang benar tadi aku kecewa padamu, kalau boleh aku katakan... aku sangat malu saat kamu tidak bisa tegas mengatakan kalau kamu mencintaiku didepan Daniel. Namun kamu sudah belajar dari kesalahanmu dengan cara meminta maaf padaku saat itu juga, itulah kenapa aku tidak akan meninggalkanmu seperti aku meninggalkan Daniel" jelas Naomi dengan lembut, kelembutan Naomi saat itu membuat mata Jester berkaca
"Aku cuma wanita biasa yang akan menjadi bodoh ketika berhadapan dengan cinta, saat ini aku memahami kenapa ibu tidak mengijinkan aku berpacaran dengan Daniel dan seakan membiarkan aku berpacaran denganmu. Karena sebodoh - bodohnya aku kepadamu, kamu tidak akan menginjakku bagaimana pun caranya" ucap Naomi dan salah satu tangannya menyentuh pipi Jester dengan lembut, saat itulah air mata Jester pecah. Jester menundukkan kepalanya dan mencium tangan Naomi yang sedari tadi menggengam tangannya, tidak terasa air mata Naomi pun menetes kala itu.
"Terima kasih... Terima kasih kamu berkenan hadir dihidupku..." dengan suara yang serak Jester mengatakannya, suasana haru pun terasa dirumah itu. Untuk beberapa saat Naomi yang terlihat terharu sampai meneteskan air matanya pun membiarkan Jester menangis saat itu.
Detik demi detik pun berlalu, Jester kembali bisa menguasai emosinya dan dia terlihat malu karena menangis didepan seorang wanita. Dengan cekatan tangannya menyeka air mata yang masih tersisa di pipi dan dagunya, Naomi tertawa melihat tingkah Jester yang kembali seperti biasa. Jester pun berdiri dan hendak pergi dari kamar itu menuju ruang keluarga, dengan tiba - tiba Naomi menahan langkah Jester yang hendak pergi.
"Tidurlah disini.... denganku..." ucap Naomi, Jester yang memunggungi Naomi saat itu hanya terdiam beberapa saat tanpa menoleh.
"Tidak apa kalau kamu masih tetap menolak... aku me..." belum selesai kalimat Naomi, Jester memotong.
"Aku mau ambil handphone ku diruang keluarga dan akan segera kembali" timpal Jester dan membuat Naomi tersenyum lalu melepaskan tangannya dari lengan Jester, perlahan Jester melangkah kan kakinya kembali dan berhenti lagi saat dia membuka pintu kamar.
"Kamu gak keberatan?" tanya Jester penuh keraguan, namun Naomi merespon pertanyaan Jester dengan sebuah tawa dan gelengan kepala.
Malam itu untuk pertama kalinya Jester dan Naomi tidur dalam satu kamar tidak dalam keterpaksaan, Jester dan Naomi pun tidur dan saling memunggungi satu sama lain. Dengan obrolan ringan keduanya mengisi malam dikamar itu untuk menghilangkan perasaan gugup mereka, perlahan keduanya mulai hanyut dalam obrolan sampai hampir bersamaan keduanya berganti posisi terlentang menatap langit - langit kamar. Jester dan Naomi bercerita banyak hal yang membuat keduanya kadang tertawa bersama, tidak terasa mereka pun kembali mengganti posisi tidurnya saling berhadapan. Jester terlihat masih bercerita panjang lebar dan sesekali Naomi tertawa, keduanya saling bertatapan mata dan tersenyum.
__ADS_1
Tidak terasa Naomi pun tertidur ketika cerita Jester masih berlangsung, mengetahui Naomi yang tertidur didepan matanya membuat Jester tersenyum. Tangannya perlahan menyentuh rambut Naomi dan mengelusnya perlahan dengan lembut, dengan suara yang pelan Jester pun seakan bergumam "Terima Kasih".