
Malam hari yang cerah di sebuah restoran seafood dekat dengan pantai, keindahan pantai itu bertambah dengan pantulan binar - binar lampu restoran yang sangat sayang jika dilewatkan oleh pengunjung pantai maupun pengunjung restoan seafood tersebut. Diantara ramainya pengunjung restoran saat itu, terlihat Jester dan Camilla yang sedang melangsungkan makan malam bersama. Jester yang menatap Camilla masih memberikan gestur tangan agar Camilla berhenti untuk berbicara, disaat itu Camilla pun terlihat berhenti berbicara dan tetap menatap mata Jester dengan tajam menunjukkan keseriusannya.
"Sudah lupakan saja" ucap Jester yang memecahkan keheningan diantara mereka
"Tapi kamu ingin melakukannya kan?" tanya Camilla masih menekan Jester, perlahan Jester menurunkan tangannya namun tatapan matanya masih menatap Camilla
"Ya tentu saja, tapi aku akan menunggu" jawab Jester dengan santai, keduanya terdiam sesaat sambil saling memandang satu sama lain. Perlahan Camilla mengambil sendok dan garpunya dan mulai melahap kembali hidangannya beberapa suap sampai tiba - tiba Jester menggenggam tangan Camilla yang berada diatas meja sembari memegang sebuah garpu, Camilla kembali menatap Jester dengan terkejut.
"Tapi aku tidak akan menyatakan perasaanku padamu lagi, kamu juga terlalu memaksakan diri untuk menarik perhatianku akhir - akhir ini" ucap Jester sembari menggenggam tangan Camilla saat itu, Camilla pun tertunduk dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Aku tidak bermaksud mengerjaimu sampai membuatmu marah dan dimarahi oleh dosen seperti itu, bahkan teman - temanmu juga marah padaku" timpal Camilla dengan suara yang terdengar menyesal
"Aku sudah lelah terus merasa gugup saat berinteraksi denganmu, jika kamu benar - benar menyukaiku maka akan adil kalau kamu juga merasa terombang - ambing olehku" Jester melanjutkan kalimatnya saat itu sampai membuat Camilla mengangkat kepalanya dan menatap Jester dengan wajah yang terkejut, perlahan Jester melepaskan genggaman tangannya dari tangan Camilla dan kembali bersandar dikursi dengan tetap menatap Camilla.
"Jester... kamu benar - benar menyukaiku ya?" tanya Camilla yang terlihat terpesona pada Jester
"Apa kurang jelas kalau aku benar - benar menyukaimu?" tanya balik Jester, Camilla pun tersenyum mendengar pertanyaan Jester sampai membuatnya sedikit tertawa
"Aku mengerti, baiklah... mulai hari ini aku yang akan menyatakan perasaanku padamu, aku tidak tahu kapan namun aku akan melakukannya dan aku harap kamu mau untuk bersabar. Jester, apa kamu mau menungguku?" tanya Camilla dengan senyuman yang merekah diwajahnya, wajahnya pun memerah saat itu menatap Jester.
"Tidak... Aku tidak tahu, siapa tahu nanti aku jatuh cinta pada seseorang kedepannya" sedikit menahan perasaan malu dan suara yang terdengar mengancam Jester mengatakannya, wajahnya pun sedikit merona.
"Jadi cintamu padaku cuma sebatas itu?" tanya Camilla terdengar sebal wajahnya pun terlihat jutek, Jester mulai sedikit panik ketika ancamannya malah membuat Camilla terlihat marah padanya.
"Tidak... maksudku bukan gitu..." jawab Jester dan membuang muka sesaat terlihat kesal, Camilla tertawa melihat tingkah Jester ketika itu.
"Baiklah, aku sudah menyatakan perasaanku. Bukankah sekarang giliranmu mengatakan sesuatu padaku?" tanya Camilla, mendengar pertanyaan itu membuat Jester mengalihkan pandangannya menatap Camilla dengan heran
"Hah? tentang apa?" tanya Jester terdengar heran
__ADS_1
"Aku tahu kamu paham apa yang sedang aku tanyakan, aku rasa aku tidak perlu penjelasan apapun kecuali satu hal itu" jawab Camilla terdengar sedih, Jester pun tersadar tentang yang Camilla katakan.
"Haah iya... tentang Naomi, tapi aku tidak pernah menyukai wanita lain selain dirimu selama satu tahun ini" timpal Jester dengan tatapan yang terlihat pasrah, Jester terlihat keberatan untuk membongkar rahasianya dengan Naomi dihadapan Camilla.
"Ya aku tahu itu, aku juga merasa kamu tidak sedang berbohong. Biasanya kalau kamu sedang berbohong matamu akan kemana - mana" ucap Camilla, keduanya pun terdiam beberapa saat tanpa saling menatap.
"Lalu kenapa kamu dan Naomi sampai sedekat itu? orangtua kalian juga sampai merestui hubungan kalian" tanya Camilla lagi menekan Jester, mendengar pertanyaan itu membuat Jester berfikir keras mencari jawaban yang tepat. Dengan sedikit helaan nafas, Jester menatap langit - langit restoran itu terlihat sedang berfikir.
"Semua permulaan pertemuanku dan Naomi sepertinya sudah kamu ketahui dari Selena" jawab Jester, jawaban Jester saat itu tidak membuat Camilla puas.
"Iya aku tahu tentang itu, tapi kenapa bisa sampai sejauh itu?" tanya kembali Camilla sedikit menekan Jester, sesaat Jester kembali mengalihkan pandangannya menatap Camilla.
"Dia adalah anak dari sahabat papaku, sejak saat itu kami malah semakin terbawa arus. Belum lagi aku secara tidak sengaja malah membuat Naomi melewati masa - masa sulitnya, tapi semua itu aku lakukan hanya karena aku merasa kasihan padanya dan juga karena dia anak sahabat papaku" jelas Jester menjawab pertanyaan Camilla, tatapan Camilla pun berubah menjadi mencurigai Jester.
"Kalian berdua... tidak pernah melakukannya kan?" tanya Camilla dengan nada penuh kecurigaan, seketika itu Jester menjadi panik dan merasa malu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Camilla.
"Tidak!! mana mungkin aku melakukannya dengan Naomi?!! lagian aku tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak aku sukai" jawab Jester terlihat berusaha agar tidak panik, Camilla terlihat lega mendengar jawaban Jester.
"Apa maksud dari perkataanmu tadi?!" Jester pun sedikit kesal saat mengucapkannya, Camilla tidak mempedulikan Jester dan kembali melahap hidangannya perlahan. Melihat Camilla yang mulai menikmati makananannya membuat Jester pun kembali mengambil sendok garpunya dan mulai melahap hidangannya kembali dalam kebisuan yang tiba - tiba terjadi diantara mereka.
"Perasaan dan pikiran seseorang itu bisa berubah suatu saat, mungkin hari ini kamu berfikir seperti seakan - akan kasihan pada Naomi tapi bagaimana dengan minggu depan? bulan depan? kalian tinggal dalam satu rumah kan?" Camilla memecahkan keheningan dengan nada yang terdengar seperti sedang berbicara pada diri sendiri, Jester kembali menatap Camilla karena terkejut dengan perkataan Camilla.
"Tidak, sudah aku bilang aku tidak ada rasa padanya" jawab Jester, namun Camilla seperti sedang melamun
"Setiap hari saat bangun tidur hingga tidur kembali kamu akan melihat Naomi, kamu tidak akan pernah menyadari kapan perasaanmu padanya akan berubah. Apa lagi Naomi memiliki daya tarik yang sangat luar biasa sebagai wanita dan kamu tidak akan pernah menyadarinya sejak kapan kamu akan jatuh cinta padanya, hal seperti itu sudah sering terjadi kan?" Camilla kembali melanjutkan kalimatnya masih terdengar seperti sedang berbicara sendiri, tatapan mata Camilla pun fokus pada sebuah piring dihadapannya.
"Camilla" celetuk Jester berusaha menyadarkan Camilla dari lamunannya, namun Camilla yang terlihat melamun saat itu masih seperti ingin meneruskan kalimatnya
"Bagaimana kalau Naomi pada akhirnya benar - benar jatuh cinta padamu? lalu jika kamu hanya terus mengikuti arus apa kamu akan berani untuk menolaknya? aku rasa kamu juka akan semakin terpojok dan sulit untuk menolak jika hubungan persahabatan kedua orangtua kalian yang sedang dipertaruhkan" Camilla terus berbicara, sampai tiba - tiba Jester sedikit menggebrak meja untuk menyadarkan Camilla.
__ADS_1
"Camilla!!" agak berteriak Jester mengatakannya, Camilla pun tersentak tersadar dari lamunannya dan menatap Jester terlihat agak terkejut.
"Maaf... aku terbakar api cemburuku lagi..." Camilla membuang muka saat mengatakannya, Jester menghela nafas sejenak.
"Iya aku mengerti, tapi itu tidak akan pernah terjadi" dengan tegas Jester mengatakannya, Camilla perlahan mengalihkan pandangannya menatap Jester yang terlihat bersungguh - sungguh mengatakannya.
"Apa kamu berjanji?" tanya Camilla dengan nada yang terdengar sedih, Jester mengajukan jari kelingkingnya dihadapan Camilla.
"Mau melakukan janji jari kelingking?" tanya Jester dengan serius, Camilla kesal mendengar perkataan Jester ketika itu.
"Tidak usah, kamu memperlakukanku seperti anak kecil ya" jawab Camilla terdengar kesal mengatakannya pada Jester, mendengar penolakan itu membuat Jester malu
"Aku tidak befikir seperti itu" terdengar malu - malu Jester mengatakannya, Camilla kembali menatap hidangannya
"Ya sudahlah... aku terbawa rasa cemburuku lagi, Hmm... makanan ini benar - benar terasa lezat" celetuk Camilla sembari memakan kembali hidangannya, Jester pun mulai menyantap kembali hidangannya.
"Benar, masakan direstoran ini memang terkenal lezat" timpal Jester, mendadak Camilla memajukan badannya menempel pada meja dan tangannya menggenggam erat tangan Jester yang berada diatas meja. Tatapan mata Camilla benar - benar menggambarkan kekhawatiran yang sangat tinggi, Jester pun sampai terkejut saat Camilla menatapnya seperti itu.
"Kamu tidak akan pernah tergoda oleh Naomi kan Jester?" tanya Camilla dengan nada yang terdengar ketakutan dan dipenuhi perasaan khawatir, namun Jester merespon Camilla dengan tatapan yang datar.
"Satu tahun...." celetuk Jester menjawab pertanyaan Camilla, Camilla pun heran mendengar celetukan Jester yang tidak jelas itu.
"Hah?" tanya Camilla lagi terlihat heran
"Wanita yang sudah aku sukai selama satu tahun ini telah menyatakan perasaannya padaku, pada saat seperti ini bagaimana mungkin aku bisa tergoda oleh wanita lain?" tanya balik Jester kepada Camilla sembari menjelaskan celetukannya diawal, Camilla pun tersedak mendengar perkataan Jester yang terdengar seperti gombalan.
Sebuah gombalan yang mampu membuat wajah Camilla merah merona dan membuatnya mundur bersandar pada kursi, tatapan Camilla pun mengarah pada langit - langit restoran menutupi perasaan memelehnya mendengar gombalan Jester.
"Uhuk... hmm... Baiklah karena kamu sudah mengatakan seperti itu, aku rasa api cemburu ku sudah padam. Terima kasih Jester" dengan senyuman dan menatap Jester terlihat bahagia Camilla mengatakannya, Jester pun terpesona melihat kecantikan Camilla saat menatapnya seperti itu.
__ADS_1
Keduanya pun menikmati momen - momen makan malam bersama dengan penuh pergolakan di hati mereka masing - masing, namun semua mencair ketika satu gombalan Jester telah dilepaskan dan membuat Camilla merasa meleleh. Malam itu keduanya saling berbagi cerita dan tawa, lebih dari itu terlihat Jester mulai bisa mengatur emosi dan rasa gugupnya saat berhadapan dengan Camilla.
Disisi lain pada jam yang sama saat Jester dan Camilla sedang melaksanakan makan malam bersama, sebuah taksi berhenti didepan lobby sebuah rumah sakit yang jauh dari pusat kota. Seseorang terlihat keluar dari taksi itu dengan hodie yang menutupi kepalanya dan sebuah masker yang menutupi wajahnya, dengan ragu orang tersebut terlihat mulai melangkahkan kakinya secara perlahan menuju tempat informasi didalam rumah sakit.