Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Arthur Gates


__ADS_3

Malam dengan bulan sabit yang bersinar terang dilangit pada hari itu, langit terlihat cukup cerah dengan hanya sedikit awan. Disebuah perbukitan dipinggiran kota terdapat sebuah rumah dengan pagar tinggi menjulang yang mengikuti kontur perbukitan, rumah yang terkesan seperti kastil itu terlihat begitu mewah dengan banyaknya penjaga yang berkeliling disekitaran area rumah.


Didalam rumah, tepatnya diruang makan yang terlihat mewah dengan meja makan dan kursi - kursi makan berdesain gaya eropa kuno serta berbagai hiasan - hiasan dinding yang terlihat mahal dan antik. Jester dan Naomi duduk bersebelahan disalah satu kursi makan menghadap meja yang sudah tersaji berbagai makanan mewah nan menggugah selera, mereka berdua terlihat berdiam diri menantikan penghuni rumah lainnya untuk bergabung dengan mereka melaksanakan makan malam bersama.


Naomi malam itu terlihat begitu cantik dengan dress terusan berwarna merah, begitu juga dengan Jester terlihat begitu tampan dengan setelan tuxedo berwarna biru dongker. Untuk waktu yang cukup lama keduanya menunggu namun tidak satupun penghuni disana yang terlihat akan datang bergabung dengan mereka, sampai pada akhirnya setelah satu jam berlalu Julius datang menghampiri Jester dan Naomi. Julius langsung sedikit membungkuk menghadap Jester dan Naomi, walau heran namun Jester dan Naomi berusaha tetap bersikap tenang.


"Selamat malam tuan muda Jester Gates dan nona muda Scott, apa makanan yang tersaji malam ini tidak berkenan bagi tuan dan nona?" tanya Julius terdengar begitu sopan, Jester terdiam sejenak menatap Julius yang masih menundukkan badannya.


"Apa ada yang salah tuan muda?" tanya lagi Julius karena baik Jester dan Naomi tidak ada satupun yang merespon pertanyaannya.


"Kemana yang lain?" tanya Jester agak menekan, Julius terdiam beberapa saat lalu menghela nafasnya.


"Tuan besar Arthur Gates tidak dapat datang malam ini" jawab Julius dengan penuh penyesalan


"Lalu papa dan mama?" tanya lagi Jester sedikit emosi yang tersirat dari setiap ucapannya


"Tuan William dan Nyonya Marrie masih tidak diperkenankan untuk menemui tuan muda" jawab Julius masih terdengar penuh penyesalan


"Lalu untuk apa kami datang kemari jika semuanya tidak ada yang dapat menemui kami?" tanya Jester semakin emosi, Naomi menatap Jester lalu mengelus lembut punggung Jester berusaha untuk menenangkannya.


"Maafkan Julius tuan muda, sebenarnya tuan besar Arthur Gates tidak berkenan untuk bertemu dengan nona muda Scott dan memerintahkan kepada semuanya agar membiarkan kalian makan malam terlebih dahulu lalu...." belum selesai Julius berkata, Jester memotong sambil berdiri dari duduknya.


"Jika memang tidak ingin menemui kami, tidak perlu sampai menculik kami seperti ini!!" bentak Jester terdengar begitu emosi


"Jess!!" bentak Naomi kepada Jester, mendengar Naomi yang membentak membuat Jester kembali duduk dengan penuh kekesalan.


"Maafkan kami Julius, tapi kami tidak akan makan jika memang keluarga Gates tidak berkenan dengan kehadiran kami disini" dengan lembut Naomi mengatakannya, namun tiba - tiba Jester langsung mengambil piring dan kemudian mengambil setiap makanan yang tersedia dimeja makan lalu segera memakannya dengan begitu lahap. Perbuatan Jester membuat Naomi dan Julius tercengang memandang Jester, begitu lahapnya Jester memakan setiap lauk yang dia ambil sampai terlihat seakan Jester sedang kelaparan parah.


"Jess... kamu..." Naomi seakan kehabisan kata - kata dan terus memandangi Jester yang seakan tidak mempedulikan apapun.


"Makan Naomi, kita sudah gak makan sejak tadi siang gara - gara diculik kan? kesehatan lebih penting daripada aturan orang kaya yang gak berguna itu" timpal Jester tanpa beban, Naomi dan Julius tiba - tiba tertawa sampai membuat Jester berhenti makan lalu menatap Naomi dan Julius secara bergantian.


"Kenapa kalian tertawa?" tanya Jester terdengar heran


"Maaf tuan muda, Julius hanya kagum dengan ketenangan tuan muda ditempat asing yang penuh tekanan ini" dengan sedikit tawa Julius mengatakannya, Naomi mengambil piring lalu mengambil beberapa lauk untuk kemudian ditaruh diatas piringnya.


"Kamu benar Jess... kita tetap harus menjaga badan supaya gak sakit" timpal Naomi sembari melahap makanan yang dia ambil, Jester pun kembali fokus untuk makan dengan lahap.


Hingga beberapa saat berlalu, Jester dan Naomi selesai makan dan terlihat Jester begitu kekenyangan sampai dia duduk bersandar dikursi makan. Sedangkan Naomi tersenyum menatap Jester, dalam benaknya merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Jester karena seolah Jester bukan dari keluarga terpandang yang selama ini Naomi tahu dan pelajari dari Naoko dengan penuh aturan.


"Yuk balik kamar, aku tidak ingin penghuni dirumah ini menahan lapar terlalu lama" celetuk Jester lalu berdiri dari duduknya dan segera pergi meninggalkan ruang makan itu


"Jess! tunggu!" ucap Naomi lalu berdiri dan mengejar Jester.

__ADS_1


Julius menempuk kedua tangannya ketika Jester dan Naomi pergi meninggalkan ruangan itu, dengan segera enam pelayan wanita masuk kedalam ruangan dan segera membereskan meja dan piring - piring yang digunakan oleh Jester dan Naomi. Disela para pelayan wanita itu membereskan, tiba - tiba mereka semua berhenti bekerja lalu menundukkan badannya memberi hormat pada orang yang mendadak masuk kedalam ruang makan. Dengan sigap Julius membalikkan badan dan menatap orang yang masuk itu dan segera membungkukkan badannya memberi hormat.


Sosok pria tua dengan badan tegap dan rambut putih cepak, wajahnya terlihat maskulin dan terlihat begitu kejam dan berdarah dingin yang terasa dari tatapan matanya. Sosok itu berjalan dengan tegap dan hentakan kakinya begitu mengintimidasi mendekati Julius yang menundukkan tubuhnya memberi hormat, tangannya yang besar menggenggam pundak Julius lalu dengan sigap Julius mengangkat tubuhnya dan beridiri dengan tegap menghadap pria tua itu.


"Bagaimana menurutmu putra William?" tanya pria tua itu, suara berat maskulin yang terdengar sedikit serak membuat sosok itu semakin kental dengan hati dinginnya.


"Tuan muda sosok yang berhati lembut dan tegas, tuan muda begitu mirip dengan tuan William namun lebih memiliki keberanian. Mungkin tuan muda adalah sosok yang selama ini anda cari tuan besar Arthur" jawab Julius dengan tegas dan sopan, Arthur berjalan melewati Julius lalu duduk disalah satu kursi makan.


"Aku tidak melihatnya sebagai sosok yang aku cari sebagai penerusku" tegas Arthur menolaknya, Julius kembali menundukkan badannya namun tidak menghadap Arthur.


"Maafkan Julius jika salah" penuh penyesalan Julius mengatakannya


"Nona muda Scott terlalu mengatur putra Will, aku tidak suka melihat yang seperti itu. Bagaimana mungkin penerusku bisa dikendalikan oleh seorang wanita?" terdengar sedikit kemarahan saat Arthur mengatakannya, Julius terdiam beberapa saat lalu menghela nafasnya sejenak.


"Hati lembut tuan William yang mempengaruhi tuan muda, mungkin terlihat sebagai kelemahan namun dengan adanya kasih sayang mungkin akan membawa angin segar dikeluarga besar ini secara keseluruhan. Maaf jika Julius terlalu mengatur dan sok tahu, namun itu yang Julius pikirkan" jawab Julius terdengar tegas


"Bagaimana menurutmu tentang nona muda Scott itu?" tanya Arthur sedikit menekan


"Nona muda Scott dididik sangat ketat dengan aturan - aturan kesopanan oleh kedua orangtuanya, begitu terasa nona muda yang menjunjung tinggi kesopanan itu dan juga sikapnya yang angun dalam berbagai kesempatan membuat Julius berfikir demikian. Sungguh bertolak belakang dengan didikan dari tuan William kepada tuan muda, namun itu akan menjadi balance untuk tuan muda" jelas Julius dengan tegas tanpa keraguan, suara helaan nafas Arthur begitu terdengar ditelinga Julius.


"Benarkah yang seperti itu bisa mempertahankan keluarga Gates untuk tetap selalu berada diatas? aku telah membangun dan mengembangkan keluarga Gates dengan banyak keringat dan darah, aku telah menghancurkan semua pengkhianat dan semua penjilat, aku tahu semua kebusukan - kebusukan hati manusia yang ingin menggerogoti kejayaan keluarga Gates. Hanya dengan hati kuat sekeras baja dan tangan dingin yang bisa mempertahankan kejayaan ini" ucap Arthur dengan suara yang terdengar sedih, dia pun berdiri dari duduknya dan kembali berjalan mendekati Julius.


"Dari sekian banyak temanku, hanya kamu yang masih bertahan menemaniku. Bantu aku untuk memilih dengan benar, siapa yang pantas untuk duduk disinggasana keluarga Gates" dengan tegas Arthur mengatakannya lalu menepuk pundak Julius beberapa kali dan meninggalkan Julius dan enam pelayan wanita diruang makan. Setelah Arthur keluar, barulah para pelayan wanita kembali melakukan tugasnya dan Julius mengangkat badan lalu menatap pintu dimana Arthur keluar.


"Na... Naomi.... kamu begadang?" tanya Jester dengan khawatir, Naomi hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Kenapa? nanti kamu sa...." belum selesai Jester berkata, Naomi bangun lalu duduk dikasur dan menempuk - nepuk kasur dengan cukup keras.


"Aku panik!! aku panik!! aku panik!!!" agak berteriak Naomi mengatakannya, tindakan Naomi membuat Jester terkejut.


"Waa!! kenapa Naomi? kamu kenapa?!" tanya Jester dengan panik, Naomi kembali menatap Jester dengan wajah cemberutnya.


"Kok bisa kamu tidur disaat seperti ini?!!" bentak Naomi sambil memukul - mukul Jester, Jester hanya dapat menahan setiap pukulan Naomi.


"Ya gimana donk, aku kan ngantuk!" jawab Jester tanpa beban, Naomi kembali memunggungi Jester dan wajahnya terlihat begitu kesal.


"Kita harus siap - siap kekampus" celetuk Jester lalu beranjak dari kasurnya untuk menuju kamar mandi


"Jess!! emang kita boleh pergi dari rumah ini?" tanya Naomi heran, Jester menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Naomi dengan senyuman.


"Ntahlah... kita coba aja" jawab Jester dengan tawa


Jester kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, disana seperti biasa Jester buang air kecil, mencuci wajah, mengambil sebuah sikat gigi baru yang tersedia dan segera menggosok giginya, dan merapihkan penampilan serta rambutnya. Setelah keluar Jester melihat Naomi yang sudah berdandan untuk menutupi kantung matanya yang menghitam karena begadang semalaman, dengan senyum Jester menatap Naomi yang masih terlihat kesal.

__ADS_1


"Cemberut terus nanti cepat tua loh" celetuk Jester, Naomi menggebrak meja lalu menatap Jester dengan tajam penuh amarah. Mental Jester pun mendadak menciut lalu segera melangkahkan kaki meningalkan Naomi, baru beberapa langkah Naomi kembali membuka pembicaraan.


"Jess... kira - kira apa yang sebenarnya kakekmu inginkan dari kita?" tanya Naomi penasaran, Jester menghentikan langkahnya lalu menatap Naomi kembali.


"Kalau benar apa yang dikatakan pak Julius berarti kakek mencari penggantinya sebagai pemegang keluarga Gates kan?" jawab Jester dengan bertanya kembali, Jester pun sebenarnya tidak paham dengan maksud dari Arthur yang bahkan bertemupun Jester belum pernah.


"Dengan cara menahan kita disini? kenapa juga kita gak dipertemukan dengan papa dan mama?" tanya Naomi kembali sembari membalik badannya menatap Jester, dengan mengangkat kedua bahunya sejenak Jester merespon perkataan Naomi.


"Entahlah... tapi cepat atau lambat kita pasti akan tahu" jawab Jester lalu tidak lama suara ketukan pintu dikamar Jester dan Naomi terdengar


"Aku memang bilang cepat tapi sepertinya ini terlalu cepat" celetuk Jester dengan nada kesal sembari berjalan mendekati pintu, dengan segera Jester membuka pintu itu. Didepan pintu kamar Jester melihat Julius bersama dua wanita berpakaian maid membawa dua baju santai yang terlihat mewah, wajah Jester kembali menunjukkan seberapa tidak senangnya dia dengan kehadiran Julius yang memaksa Jester menggunakan pakaian yang tidak diinginkan oleh Jester.


"Selamat pagi tuan muda, apa anda sudah tahu acara hari ini? anda terlihat sudah sangat rapih dan hanya tinggal menggunakan pakaian yang saya bawakan untuk anda" sapa Julius dengan sopan, Jester pun menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aku mau kuliah dan bukan untuk datang diacara apapun untuk keluarga ini" datar Jester mengatakannya


"Aku takut keinginan tuan muda tidak bisa terlaksana..." terdengar menyesal Julius mengatakannya, Jester pun tersulut emosi dengan perkataan Julius.


"Apa maksudnya aku tidak bo..." belum selesai Jester berkata, Naomi kembali menyela dengan mencubit perut Jester.


"AAAaaa!! Naomi!!" merintih Jester saat mengatakannya


"Kami akan menghadiri acara itu!" timpal Naomi dengan sedikit panik, Julius pun tertawa kecil melihat tingkah sepasang kekasih ini.


"Nona muda Scott, anda sangat bijaksana. Dua pelayan ini akan mengantar kalian menuju tempat pertemuan, segera bersiap karena ini akan sangat menentukan kearah mana hubungan antara kakek dan cucunya" ucap Julius dengan sedikit suara tawa yang terdengar, Naomi segera menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Apa itu artinya kami akan segera bertemu dengan kakek Jester? apa papa dan mama juga akan bertemu dengan kami? apa yang harus kami lakukan ketika bertemu dengan...." belum selesai Naomi bertanya, Julius memotongnya dengan mendeham.


"Ehem... nona muda Scott, kalian akan segera bertemu tuan besar Arthur kakek tuan muda Jester, tuan William dan Nyonya Marrie juga akan ada dipertemuan itu, dan tentang apa yang harus anda dan tuan muda lakukan saya hanya bisa jawab jadilah diri sendiri" jawab Julius dengan tenang dan senyum yang terlihat dari raut wajahnya menatap Jester dan Naomi begantian.


"Julius undur diri dulu, selamat pagi tuan muda Jester dan nona muda Scott" ucap Julius lalu segera pergi meninggalkan Jester dan Naomi begitu saja, tersisalah dua wanita dengan berpakaian maid menunggu keduanya dengan wajah yang tertunduk.


"Kalian cari tempat duduk dulu saja, kami mungkin agak lama" celetuk Jester kepada dua wanita itu, keduanya kompak sedikit menekuk lututnya sejenak.


"Kami tidak berani tuan muda" timpal keduanya bersamaan, Jester pun menggaruk kepalanya lalu Naomi menarik Jester untuk masuk kedalam kamar.


"Kalian tunggu sebentar ya, kami tidak lama" celetuk Naomi lalu menutup pintu kamar


Didalam kamar Jester langsung melangkahkan kakinya menuju kasur lalu merebahkan tubuhnya disana, tatapan matanya begitu tajam menatap langit - langit kamar sembari melamun. Lamunan Jester pun seketika pecah ketika Naomi berjalan mendekati Jester dan duduk ditepian kasur dengan sangat keras, perlahan Jester beranjak dari rebahannya dan duduk dikasur itu menatap Naomi.


"Ayo lakukan yang terbaik, jadi diri kita sendiri sesuai saran pak Julius kepada kita" celetuk Jester dengan tegas, Naomi menoleh menatap Jester yang menatapnya dengan wajah serius. Sebuah tatapan yang jarang Naomi dapatkan dari sosok Jester yang terbiasa konyol dan tanpa beban, mendadak hati Naomi merasa tenang dan kekhawatirnya meluntur seketika.


"Ayo!" ucap Naomi penuh semangat merespon perkataan Jester.

__ADS_1


__ADS_2